Jejak Berkesan Johannes ‘Pak Bi’ Subijanto

Mengenang seorang Johannes Subijanto seperti mengenang ayah saya. Keduanya seumuran, rendah hati, tanpa bakat pemarah. Sebenarnya saya berkenalan sejak 4 tahun lalu di Wakatobi namun merasa dekat Pak Bi, begitu panggilannya, sejak 6 bulan lalu. Belumlah lama namun sangat mengesankan.

Darinya, saya mencecap pelajaran hidup tentang bagaimana mencintai pekerjaan, berlaku seimbang, konsisten pada yang diyakini benar namun tetap professional. Itulah mengapa, hingga kini, saya belum kehabisan kata-kata menulis tentangnya.

Pria kelahiran Muntilan, Jogjakarta itu berpulang ketika mengemban bertugas mempromosikan strategi konservasi laut Indonesia—pekerjaan yang sungguh diminati dan dicintainya, di Bangkok, pada Sabtu pagi tanggal 26 Agustus 2017. Dia punya pengalaman tidak kurang 25 tahun di ranah perlindungan kawasan hutan, pesisir dan laut.

Sebagai aparatur yang memulai karir di bidang Kehutanan, perannya amat kontributif dalam mendorong, mengelola dan mengembangkan Taman Nasional Komodo. Pun ketika menjadi penasehat untuk organisasi sekaliber Coral Triangle Center (CTC) yang berbasis di Bali.

Sebelum ke Bangkok, dengan bahasa email nan halus, dia meminta saya ikut pertemuan terkait persiapan lokakarya P3D di Gedung BPPT Kemenkomar di Jalan Thamrin, Jakarta (27/08). Dia supervisor untuk posisi saya sebagai Local Government Network facilitator. Sedianya, di hari yang sama, dia harus ke Bogor untuk pertemuan mewakili CTC.

Namun, begitulah ketentuan dan batas garis takdir, Pak Bi, dipanggil menghadap Tuhannya.

***

Selasa, 28/08, saya bertolak dari Kantor CCDP-KKP di kawasan Tebet tujuan Bogor. Saya tiba di Desa Sukamantri setelah sempat dua kali salah arah. Tukang ojek online yang mengantar saya pun kesulitan mencari alamat rumahnya di Desa Sukamantri.

Sukamantri adalah desa kediamannya bersama keluarga. Setelah bertanya pada penjual bensin, kami berputar ke arah kantor desa hingga bertemu rumah dimaksud.

Adalah Kang Engkus (26) dan Bapak Ujang (72) yang menyambut saya ketika tiba di rumah duka, sekitar pukul 1 siang. Rumah yang telah dijejali ucapan belasungkawa, dari keluarga besar CTC di Bali hingga Kementerian Kelautan dan Perikanan di Jakarta.

Pada saat yang sama, istri Pak Bi sedang bersama jenazah setiba dari Bangkok hari itu juga dari ayah pusat Kota Bogor.  Di rumah, masih ada anak sulungnya. Saya menyalami dan menyampaikan rasa belasungkawa.

“Kira-kira jam 3 sampai sini,” ujar perempuan yang menjaga rumah. Perempuan yang mengaku dekat Pak Bi sebab suaminya punya temali keluarga. Sayang, saya lupa tanya namanya.

Sayapun menunggu. Di ruang tunggu hanya ada kami berempat. Ujang dan Engkus di gerbang, saya duduk di kursi plastik biru sembari memandangi karangan bunga di sekitar kediaman.

“Yang mana tempat Pak Bi, biasa leyeh-leyeh di hammock?” kataku ke Engkus.

“Yang gambar di WA ya pak? Sana, sana, yang di belakang karangan bunga, “ seru Engkus sambil memperlihatkan dua pohon besar di balik karangan bunga di kiri rumah.

Saya ke sana dan mendapati dua cantelan rantai anjing. Di sampingnya ada kolam ikan. Beragam jenis ada di dalam. Ukuran relatif besar-besar.  Di akun Whatsaap Pak Bi, dia menggunakan foto sedang leyeh-leyeh di atas hammock, di sampingnya ada seekor anjing abu-abu.

Menurut iparnya, belakangan ini Pak Bi dan keluarga di rumah itu aktif mengelola ‘organic farming’, lokasinya di belakang rumah. Bagi dia, tentu kita semua juga, kepergian Pak Bi amat mengejutkan. “Disebut mengejutkan sebab kondisinya memang sedang sehat-sehat saja,” katanya.

“Ada pesan Pak Bi sama adiknya yang di Bintaro, kita kumpul ya di hari Minggu, gitu katanya. Sudah lama tak sama-sama nih,” tiru sang ipar perihal harapan Pak Bi.

“Bapak itu lahir di Muntilan, ulang tahunnya belum lama lewat, tanggal 7 Mei lalu. Bapak suka Karate,” katanya. Pak Bi bersaudara 11 orang, Dia anak ketujuh, empat lainya sudah meninggal. Putra-putrinya ada 4 orang, Ada yang di Jogja, di Bandung dan di Bogor.

Selama ini, dalam menjalani kesehariannya, Pak BI tinggal di Sukamantri, di tepian Kota Bogor.

Saya lalu membayangkan bagaimana hari-harinya ketika harus ke Jakarta atau ke luar kota berkaitan tugasnya dan berjibaku dengan waktu. Butuh waktu hingga dua hingga tiga jam dari Sukamantri untuk sampai ke pusat Kota Jakarta!

20170829_130945
Di rumah duka (foto: istimewa)

Siang itu, Engkus bercerita kalau dia sudah lama sekali akrab keluarga Pak Bi.

“Pak Bi tinggal di sini sejak tahun 80an kali,” kata Engkus. Menurutnya, Pak Bi suka olahraga, suka jalan pagi bawa anjingnya keliling Sukamantri hingga ke kaki gunung.

“Tapi sejak mulai (kena) jantung, jarang bawa anjing jalan,” ucap Engkus. Di rumah itu ada 4 ekor anjing yang berpostur besar.

“Bapak, baik orangnya. Nggak pernah marah. Suka bercanda juga,” kata Engkus.

Sementara menurut Pak Ujang, Pak Bi sangat baik ke warga Sukamantri.

“Sama masyarakat sini, baik mah. Apalagi kalau hari raya, tiap rumah dikunjungi. Semua. Salutnya di situ. Banyak orang kaya nggak mau begitu,” kata Ujang.

“Kalau di Bogor mah diajak ke mana gitu sama Bapak. Terakhir kali di Yasmin. Bapak paling gak suka nih kalau ada sampah plastik berceceran,” tukas Engkus sembari memungut bungkus permen plastik.

“Terakhir saya diajak ke kebun (Raya) Bogor, sebulan lalu, di sana kerjanya mungutin sampah utamanya sampah plastik,” tambah Engkus.

“Paling nggak suka dia sama sampah plastik,” lanjutnya. Yasmin yang dimaksud adalah spot di sekitar Kebun Raya yang acap dkunjungi pak Bi untuk rekreasi sekaligus mungut sampah.

Dari Engkus dan Ujang saya mencatat pesan penting dari Pak Bi—tentang kesederhanaan, kesungguhan mencintai alam dan menggiatkan silaturahmi kemanusiaan. Dia memberi contoh bagaimana merawat alam dan relasi sesama.

Oh!

 

***

Sore itu, di tengah guyuran hujan deras di Desa Sukamantri. Kala mobil jenazah Yayasan Sinar Kasih memasuki pekarangan kanan rumah, anjing yang tak kedengaran suaranya sejak saya datang tetiba menyalak, menggonggong dari bawah pohon di sisi kanan rumah.

Gonggongannya amat deras mengalahkan derai hujan. Dia menyalak menyambut tuannya, seperti memberi salam perpisahan untuk terakhir kalinya.

Masih di rinai hujan, seekor anjing lainnya lepas berlarian di depan rumah. Putri Pak Bi berlari hendak keluar untuk mengambilnya tapi Engkus dengan tangkas menggamit sang anjing kembali ke tempatnya dengan tenang.

Pak Bi, selamat jalan, kau sungguh inspiratif!

 

Jakarta – Makassar, di atas 35ribu feet, (31/08)

 

Advertisements

Di Langge, Cinta Menyatu di Rerimbun Mangrove

Pagi itu, dua perempuan sedang meniti dermaga. Laut sedang surut. Seutas kabut membentang di bukit jauh. Pemandangan menarik itu jadi latar eksotisme hamparan mangrove yang kini mewujud tracking ekowisata. Bukti cinta dan kesadaran warga Desa Langge pada ekosistem penting mereka. Tak ayal, wahana yang dibangun pun diberi nama ‘Mangrove in Love (MIL)’.

Pagi itu, (Kamis, 24/08), di dalam bilik yang catnya masih baru, Thomas Gabriel (69) duduk menghadap meja. Di depannya ada buku tamu dan berlembar karcis.

Saya lalu memeriksa buku dan membilang. Tertanggal 29 Januari 2017, tamu mulai terdaftar. Hingga Juli 2017 ada 3.000an pengunjung. Salah seorang yang datang khusus ke situ adalah Gubernur Gorontalo, Rusli Habibie.

Thomas, pria nelayan kelahiran Pulau Sangir yang saya sapa menunjukkan naskah Peraturan Desa pengelolaan maggrove bertahun 2017. Pun karcis masuk senilai 2.000/orang.

Thomas adalah anggota kelompok pengelola sarana prasarana bantuan CCDP-KKP yang selama ini menjadi mitra kerja Dinas Perikanan Gorut. Dia mengurus kebersihan tracking dan sesekali melayani tetamu. Selain seksi kebersihan, ada pula seksi perlengkapan, pengelola, keamanan hingga kios.

Bersama Thomas, Kelompok Karya Bersama dan warga Desa Langge secara umum, kita kita lihat cinta yang menggeliat, pada pesona alam pesisir, pada aroma harapan masa depan desa.

DFW_9231

DFW_9338
Bagian dalam MIL (foto: istimewa)
DFW_9367
Penulis bersama tim kerja PIU (foto: KA)

Bukti cinta

Sapta Putra Ginting, Sekretaris Eksekutif kantor pengelola proyek CCDP di Jakarta mengatakan bahwa apa yang dipilih oleh warga Desa Langge itu sangat inovatif sebab mangrove adalah penghasil kayu, produktivitasnya amat penting bagi kelangsungan hidup manusia di pesisir.

“Ikan-ikan, kepiting, dan biota lainnya jadi sandaran ekonomi warga pesisir.  Mangrove adalah pelindung pantai dari terjangan gelombang, kaya karbon dan mengandung tidak kurang 1.000 mg karbon per hektare,” katanya.

Menurut Sapta, mangrove menyimpan karbon 50 – 90 persen, karenanya rentan menjadi target eksploitasi oleh warga di sekitarnya. Sebagai sumber kayu bakar maupun kayu untuk perahu dan rumah.  Mangrove adalah ekosistem penting namun rentan.

Menurut laporan kantor DKP Gorontalo, kondisi mangrove di Provinsi Gorontalo amat mengkhawatirkan. Dari 17.204,84 hektare yang ada, sebanyak 3,084,68 telah rusak. Tersisa 14,220,16 yang masih baik. Di Gorontalo Utara, dari 4.217, 49 hektare yang ada, sebanyak 1,107.93 telah rusak. Ada 3.109,56 hektare yang masih baik..

Khusus untuk Gorontalo Utara, dari 3.109,56 hekatare yang ada, ada tidak kurang 40,5 hektare dapat ditemui di Desa Langge. Kawasan hutan mangrove di Desa Langge, Kecamatan Anggrek adalah kawasan hutan lindung.

DFW_9257
Sekretaris PIU Gorut, Amanda Sunge (foto: KA)

Maka sangatlah beralasan ketika Pemerintah Gorontalo Utara, melalui Unit Pelaksana Kegiatan (PIU) Proyek Pemberdayaan Masyarakat Pesisir (CCDP) sejak tahun 2014 mendukung gagasan warga Langge untuk menjadikan areal mangrove di desa tersebut sebagai spot ekowisata. Dana tidak kurang 200 juta diplot untuk merealisasikan mimpi membangun wahana ekowisata tersebut.

Saat dikunjungi oleh unit kerja Direktorat Jenderal Pengelolaan Ruang Laut KKP dan beberapa jurnalis nasional yang dipimpin oleh Hery Gunawan Daulay, Kepala Sub Bagian Humas Sesditjen PRL pada 24 Agustus 2017 itu, terekam geliat menawan MIL, destinasi wisata yang saat ini mulai mencuri perhatian publik di Provinsi Gorontalo dan nasional itu.

“Di sini ada 6 petak. Ada kios, mushalla, kantor pengelola, tempat makan, ruang souvenir hingga toilet,” kata Sandra, perempuan yang memanfaatkan salah satu bilik untuk menjual souvenir t-shirt khas Langge.

Hingga bulan Agustus 2017, tercatat tidak kurang 3.000 pengunjung telah datang ke MIL Langge. Sebagai contoh, sejak tanggal 29 Januari 2017 hingga April telah ada 1,500an pengunjung. Dari April hingga Juli ada 1.500. jadi ada 3.000 pengunjung sejak dibuka pada Januari 2017.

Jika boleh menyebut, maka capaian kelompok pengelola tersebut adalah bukti cinta yang telah berdampak pada ekonomi desa, para pengunjung telah membayar retribusi desa senilai 2ribu setelah menikmati pemandangan dan menyerap inspirasi dari alam. Sejauh ini telah ada dana terkumpul hingga Rp. 6 juta dari retribusi, dana dari buah cinta pada mangrove.

Peluang ke depan

Menurut Adi Priana Pasaribu, dari Kantor Pengelola Proyek (PMO) Kementerian Kelautan dan Perikanan ketika memberikan sambutan di depan warga Langge dan para jurnalis tersebut, hal yang dibutuhkan saat ini dan nanti adalah kesungguhan untuk menjaga dan menggiatkan kerja-kerja kelompok seperti pada Mangrove in Love ini.

“Kelompok perlu menjaga kegiatan ke depan agar lebih bagus. Harus jalan terus, jangan habis, jangan besoknya gak aktif lagi. Ini harus diupayakan dengan bantuan ayahanda desa,” katanya di depan puluhan warga Langge, (24/08).

Ayahanda yang dimaksud adalah sebutan untuk kepala desa di Gorut.

DFW_9269
Kepala Desa Langge (foto: KA)

 

“Salah satunya merencanakan dan mengembangkan kawasan MIL untuk menggunakan dana desa yang ada,” katanya sembari melirik Kepala Desa Langge, Ato Ali.

Apa yang disampaikan Adi tersebut didasarkan pada pengamatannya sebab di sekitar lokasi MIL telah ada geliat ekonomi selain di bangunan utama. Sebelum pengunjung turun ke lokasi, sebelum gerbang telah ada tempat makan yang dikelola olah warga setempat.

Di kawasan itu telah pula didorong pembesaran kepiting bakau, yang diletakkan di sela tiang pancang dan pokok mangrove, penanaman atau penyulaman mangrove hingga mencuatnya gagasan merintis pusat kajian mangrove desa.

Hal lain yang disampaikan Adi adalah perlunya inisiatif untuk memanfaatkan keunikan mangrove ini dengan usaha ekonomi seperti perlebahan, lebah madu.

“Mangrove di sini bisa dibawakan bibit tawon seperti yang dilakukan di Kubu Raya, Kalimantan Barat. Supaya warga bisa dapat madu dari mangrove. Kalau ada, kan bisa dibawa dan jadi ole-ole,” ujarnya sembari memberi senyum.

Menurut Ato Ali, desanya merupakan pemekaran Desa Tolongio pada  2011 dan dibagi dalam 3 dusun, Palowa, Tengah, Pantai Timur.  Menanggapi harapan PMO, Ato mengatakan bahwa lewat anggaran dana desa, Pemerintah Desa bisa menganggarkan melalui APBDes untuk pengembangan.

“Kami akan menganggarkan melalui dana desa, hadirnya masyarakat ini juga bukti bahwa dukungan kami, sangat tinggi sekali dalam hal membangun Desa Langge ke depan,” katanya. Sebelumnya (di 2016), Pemerintah Desa Langge telah menganggarkan 193 juta untuk membangun dermaga menuju tracking utama MIL.

“Pada 2016, kami dengan CCDP IFAD berkolaborasi anggaran, ada dana desa dan dari CCDP,” tambah Amanda dari PIU Gorut. Dia menambahkan bahwa Pemkab Gorut sangat mendukung kegiatan ini baik melalui APBD kabupaten, provinsi maupun mendorong adanya dana APBN.

Bagi Amanda, kolaborasi pengelolaan sumber daya pesisir seperti ekosistem mangrove di Langge ini telah memadukan sumber daya dari proyek Pemerintah melalui CCDP yang menanggung biaya pembangunan 180 meter jembatan trek dan buah cinta Pemdes melalui Dana Desa pada titian sepanjang 130 meter.

“Apa yang menjadi rencana kami, dalam hal ini untuk pengembangan ekowisata ke depan, lewat bapak dan ibu bisa mediakan. Pada rombongan Kementerian Kelautan dan Perikanan bisa memperhatikan apa yang menjadi keinginan masyarakat,” katanya kepada KKP dan awak media.

Amanda sudah punya skenario ke depan. Dia membayangkan adanya rumah makan, lokasi pemancingan, wisata pantai pasir putih, area untuk mountain bike atau airsoft war games, wall climbing, yang selama ini belum ada di Gorontalo.

“Sasarannya pengunjung anak-anak muda. Insya Allah kami akan coba komunikasikan dengan pihak universitas untuk ide sebagai Pusat Kajian Mangrove di Langge. Siapa tahu bisa dikembangkan. Jadi ke depan pengembangannya bisa betul-betul menjadi wisata edukasi mangrove juga,” katanya.

Apa yang disampaikan Amanda tersebut sungguh amat penting menjadi perhatian bersama. Kalau pakai istilah, sekali mendayung dua-tiga pula terlampau. Pada saat yang sama melindungi mangrove dari ancaman perambahan demi kayu bakar dan balok rumah, dan mendorong menggeliatnya ekonomi warga melalui ekowisata.

Untuk memastikan keberlanjutan gagasan warga Langge melestarikan mangrove dan terbukanya peluang ekonomi desa ini maka Pemdes melalui Ato Ali dan perangkat desa yang ada menyiapkan peraturan desa.

“Kita ada peraturan desa terkait pengelolaan tracking mangrove pada bulan Februari, yaitu Perdes Nomor 1/2017,” pungkas Amanda, yang juga alumni Sekolah Tinggi Perikanan Jakarta ini.

DFW_9273
Adi Priana Pasaribu di depan warga Langge (foto: KA)

***

Begitulah, jika Anda ada di Kota Gorontalo dan ingin melihat eksotime tracking mangrove berbentuk hati ini di Desa Langge, sisihkan waktu untuk berkendara sekira 1,5 hingga 2 jam ke utara. Jalan raya sudah sangat bagus, tak perlu khawatir.

Dengan jumlah pengunjung mencapai ribuan , boleh dibilang MIL merupakan destinasi yang layak anda jajal.

Bukan hanya menikmati sejuk dan semilir angin utara di sela pohon mangrove dan trek ber-konfigurasi cinta atau heart, tetapi bisa juga melihat geliat sosial ekonomi warga setempat. Wisata perahu atau wisata bagang. Atau melakukan kegiatan konservasi seperti penanaman mangrove bersama kelompok masyarakat setempat bisa menjadi pilihan.

Di Langge ada 10 kelompok dampingan CCDP dan Pemkab setempat. Sebagian besar merupakan kelompok nelayan, pembudidaya dan pengolahan. Ada 6 kelompok penangkapan, satu pengolahan, satu sarana prasarana dan dua budidaya. Mereka telah berpengalaman dalam perencanaan dan pelaksanaan program sehingga pantas menjadi mitra ke depannya.

Kelompok prasarana sebagai misal, mereka membangun pondok Informasi dan menyediakan sarana air bersih senilai 120 juta. Dana tersebut digunakan untuk membangun pondok informasi, komputer, meja, kursi, sound system, bak penampungan air, mesin air, dan pipa. Semuanya telah dimanfaatkan dengan baik.

Menurut Nazruddin Maddeppungeng, konsultan CCDP, kelompok prasarana ini digerakkan oleh masyarakat yang mempunyai keahlian sebagai tukang. Sehingga mereka sendiri yang melakukan pekerjaan sarana prasarana untuk di desa.

“Mereka bertanggung jawab, merawat dan selalu mencari ide bagaimana membangun sarana prasarana yang ada termasuk MIL itu. Demikian pula nelayan tangkap atau kelompok pengolah dan pembudidaya rumput laut. Tentu ada koordinasi dengan Dinas dan Pemerintah Desa,” katanya saat ditemui di Langge.

Kepada penulis, Sapta Putra Ginting, kembali memberikan pandangannya bahwa substansi pelestarian ekosistem mangrove ke arah ekowisata dimaksudkan agar masyarakatlah yang merawat ekosisistem mangrove dan bisa mendapatkan insentif dari donasi, penjualan makanan dan.minuman serta biaya parkir.

“Sehingga dalam.jangka panjang, dana operasional dan pemeliharaannya tdak lagi tergantung pada proyek yang akan berakhir di Desember 2017 atau ke Pemerintah Pusat. Dengan demikian, motto ekosistem pesisir sehat, produktivitas perikanan melimpah dan masyarakat pesisir sejahtera akan dipenuhi,” kunci Sapta.

Anda tertarik menjadi mitra, memberi ide atau menyemai cinta mutualistik dengan Kelompok Pengelola MIL di Langge ini?

Mau berinvestasi penginapan atau jadi tour operator destinasi Langge?

Mari…

Tebet, 29/08.

 

Pak Bi: “Mungkin CT Saja Tanpa I”

Sore, sepulang dari acara ShowCase Yayasan BaKTI di Societeiet de Harmonie (26/08), di Jalan Ribura’ne Makassar, secarik kabar masuk ke aplikasi Whatsapp saya. “Johannes Subijanto, meninggal dunia di Bangkok.”

“Oh, no!”

Kabar kepulangan yang amat mengejutkan. Pak Bi, begitu panggilannya, bagi siapapun yang dekat atau pernah bekerja dengannya pasti tak keberatan kalau saya menyebut dia sebagai ‘sosok santun, rendah hati dan pengayom’.

Untuk saya yang newbie di tema LGN, dia pantas disebut sebagai ‘ayah pengayom’. Pengalaman selama berinteraksi, bersama, berkomunikasi, bekerja dengannya sarat tuntunan. Dia telaten.

Salah satunya, bagaimana dia menuntun saya untuk berkomunikasi profesional dengan bahasa Inggris yang santun. Dia mengedit laporan saya yang dalam bahasa Inggris. Dia membetulkan dan membuahkan respek yang tinggi. No doubt!

Pak Bi adalah supervisor saya dalam mendorong menggeliatnya Local Government Network, sebuah upaya mendorong kerjasama Pemerintah Daerah untuk pengelolaan sumberdaya kelautan dan perikanan yang lebih baik pada payung proyek Sustainable Ecosystem Advance (SEA). Sebuah proyek yang didukung oleh USAid untuk WPP 715, di wilayah Maluku, Maluku Utara dan Papua Barat.

***

Pertemuan pertama dengannya berlangsung di Wakatobi, sekira di tahun 2014. Yang kedua adalah ketika berlangsung kegiatan yang difasilitasi Kemenkomar di Makassar untuk pengecekan status P3D di beberapa provinsi dan kab/kota.

Dia mengajak saya bertemu di salah satu hotel di Makassar pada acara yang dihadiri para pihak dari ketiga provinsi di atas. Semacam mediasi perkenalan saya ke mitra dimaksud. Pada hari yang sama saya juga diperkenalkan dengan dua orang dari core team SEA di Jakarta.

Berikutnya ketika saya samperin di GMB II KKP pada hari yang sama, ketika saya mengikuti acara penyerahan penghargaan Wadonna Pinunjul untuk Menteri Susi Pudjiastuti dari masyarakat adat Jawa Barat, (19/08).

Ketika tahu bahwa saya akan bertemu Ibu Menteri sore itu, dia mengatakan bahwa saat ini dia dapat info tentang banyaknya kekuatan politik dan pengusaha yang sedang menggoyang MKP, salah satunya adalah adanya demonstrasi terkait cantrang itu, demonstrasi yang menurut Pak Bi tidak sepenuhnya murni dari nelayan.

Saya membaca komitmennya di sini untuk sebuah pengelolaan perikanan yang lestari dan bertanggungjawab, pada alam, pada manusia dan masa depan bangsa. Dia ingatkan saya bahwa urusan terumbu karang sangat strategis bagi Indonesia dan Pemerintah harus diberi pemahaman secara perlahan.

Saya kira, dia sangat concern upaya mengelola program konservasi dengan pendekatan organisasi yang profesional dan transparan.

“Ingatkan Ibu saja kalau ada banyak kapal-kapal dari Jawa yang sedang berlabuh di Merauke. Kalau perlu fotonya, nanti saya kirimkan via WA,” kurang lebih begitu katanya saat kami bersua. Foto-foto yang kemudian saya tunjukkan ke Ibu MKP perihal kapal-kapal ikan dari luar Papua yang memadati pelabuhan perikanan Merauke.

Beberapa waktu lalu, dia menyapa via WA, menanyakan keberadaan saya sebab dia sedang ada di Makassar untuk acara yang dihelat BPSPL.

“Saya ada di Makassar, bapak posisi mana?” begitu pesannya.

Kemarin siang (25/08) saat saya di Gorontalo, dia mengirim pesan via WA perihal undangan rapat di Jakarta (28/08).

Dia tak lupa menuliskan, “Terima kasih banyak.”

***

IMG-20170805-WA0018
Johannes Subjianto, Hugua, Iswari, penulis (foto: istimewa)

Sore ini, kabar kepulangan pria rendah hati ini sampai. Dia pergi untuk selamanya.

Info saya dapat dari Iswari Subekti, di grup WA yang juga ada dia. Dari info tersebut sampai pula pernyataan kantor Coral Triangle Center (CTC) melalui direktur eksekutifnya, Rili Djohani yang berkabar resmi atas berpulangnya Senior Advisor CTC tersebut.

Terkabar, Pak Bi meninggal di Bangkok, Thailand, pagi ini (07.30 waktu Bangkok) setelah sempat melakukan olahraga renang di areal hotel tempatnya menginap di Hotel Miracle Vibhavadi. Olah raga yang kerap dilakukannya sebagaimana tanggapan sahabat saya salah seorang alumni Kelautan Unhas yang tinggal di Bali dan mengenal Pak Bi, sosok yang sangat dihormati di CTC dan tentu saja organisasi sekaliber TNC dan pejuang konservasi kelautan.

Tak hanya sebagai Senior Advisor CTC sejak 2016-2017, Pak Bi adalah juga Wakil Direktur CTC sejak 2010-2016. Dia adalah juga anggota Dewan Pengurus Yayasan CTC sejak berdiri di 2010.

Menurut Rili, Pak Bi bergabung CTC ketika masih menjadi bagian dari The Nature Conservancy tahun 2000 sebagai Komodo Project Leader dan Senior Policy Advisor. Per 2005, dia mengawasi portfolio situs kelautan di Taman Nasional Komodo, Wakatobi, Derawan, dan Savu, serta mengelola jejaring Kawasan Perlindungan Laut Nusa Tenggara (Sunda Kecil).

Masih menurut Rili, Pak Bi mempunyai pengalaman luar biasa dalam bidang konservasi perairan selama 25 tahun. Sebelum bekerja untuk CTC, dia adalah PNS dan pernah menjabat sebagai Kepala Sub-Direktur Taman Nasional Komodo untuk Konservasi Spesies di bawah Direktorat Jenderal Perlindungan Hutan dan Konservasi Alam di Jakarta.

***

Kesan sederhana, rendah hati dan mengayomi saya simpulkan setelah pertama kali mengenalnya pada satu momen di Wakatobi di tahun 2014 itu hingga kini.

Saya merasa bisa begitu akrab sebab dia memboyong pengalaman sebagai Pamong Konservasi Laut sementara saya datang berbekal pengalaman 20 tahun bekerja untuk pesisir dan laut di Taka Bonerate, Aceh-Nias, Selat Makassar hingga berinteraksi dengan pelaku program terkait KKP dua tahun terakhir.

Di salah satu tanggal di bulan Maret 2017, Pak Bi menelpon saya, lalu berlanjut komunikasi via Skype.

Pertemuan terakhir kami pada malam tanggal 5 Agustus 2017 di Hotel Sari Pan Pacific, Jakarta. Dia mengabarkan akan mengikuti acara yang akan digelar oleh SEAFDEC dan USAid DOI di Bangkok pada minggu ketiga Agustus 2017.

Meski belum diperoleh informasi pasti penyebab meninggalnya, pada saat kami menikmati makan malam, suami dari ibu Katarina Catri Erliana dan ayah dari Matheus Prayogo, Cecilia Wiranti, Elisabeth Astari, dan Albertus Kristanto mengakui kalau ada pengalamannya akan gangguan jantung.

Obrolan jantung ini bermula ketika kami membahas pola makan yang sehat untuk kaum yang tak lagi muda.

“Saya nggak lagi makan daging merah, kalau ikan boleh,” begitu katanya kepada saya, Ir, Hugua dan Iswari.

Malam itu, sebelum saya bertolak ke kawasan Tebet untuk persiapan perjalanan ke Natuna, kami berfoto bareng. Foto terakhir bersama Pak Bi, sosok yang sangat ingin melihat peran signifikan Indonesia dalam mendorong bergeraknya Jaringan Kerjasama Pemerintah Daerah (Local Government Network) secara fungsional di segitiga terumbu karang dunia, Coral Triangle.

Pagi ini, dia masih sempat memberi masukan opsi nama organisasi yayasan yang amat diidamkannya, yang diharapkan dapat mengoperasionalkan dan mengawal gagasannya terkait berjalannya mekanisme LGN dalam pengelolaan terumbu karang di segitiga karang dunia itu.

“Yayasan Masyarakat Maritim Segitiga Karang Dunia – Coral Triangle Maritime Community Foundation,” tulisnya.

Dia melanjutkan. “Atau Yayasan Masyarakat Maritim Segitiga Karang Dunia – Coral Triangle Maritime Society Foundation,”tambahnya.

“Mungkin CT (Coral Triangle) saja tanpa I (Initiatives) agar tidak terikat pada birokrasi CTI,” begitu harap pamungkasnya.

Dia, seperti kita, ingin posisi strategis Indonesia di Segitiga Terumbu Karang Dunia untuk terus menerus kontributif, tak terbelenggu hal bertele-tele.

Pak Bi, selamat jalan, our tears up, we love you, we proud of you

Makassar, 26/08

Moratorium China, antara Niat Baik dan Klaim Wilayah

Niat baik?

Minggu ini, Australia memuji Pemerintah China yang telah menegakkan aturan atas perikanan illegal. Pujian diberikan karena China menghukum pemilik kapal ikan mereka sendiri yang ketahuan mencuri ikan di perairan Benua Kangguru tersebut.

Kapal itu, Yuan Da 19 kedapatan memancing tuna sirip biru dan spesies lainnya. Kejadiannya tahun lalu. Saat itu, tim Australian Fisheries Management Authority dan Australian Border Force mencegat mereka pada September 2016.

Beberapa saat kemudian, otoritas China mendenda pemilik kapal sebesar USD 300 ribu dan mencabut izin operasi serta melarangnya melakukan kegiatan penangkapan ikan di laut lepas.

Menteri Australia untuk perlindungan imigrasi dan perbatasan, Peter Dutton, menyebut hal tersebut sebagai “contoh bagus” dalam memerangi perikanan illegal, tak berizin dan tak terlapor (IUUF).

“Pemerintah Australia mengucapkan selamat kepada pemerintah China yang telah mengambil tindakan dan telah mengirim pesan kuat bagi perusahaan lain yang berusaha melakukan hal yang salah,” katanya.

Bagi Pemerintah Australia, termasuk Indonesia, maupun negara-negara benua dan kepulauan, kemitraan global dalam mencegah kejahatan IUUF sungguhlah amat penting.

China yang selama ini dianggap sebagai pembuat onar di lautan karena armadanya yang besar dan massif, telah menunjukkan hal berbeda. Mereka berkomitmen untuk menangani IUUF di jalur yang benar termasuk menerapkan moratorium penangkapan ikan di wilayah mereka bahkan jauh sebelum Indonesia.

Moratorium a la China

China melakukan moratorium pertama kali pada tahun 1995 setelah adanya indikasi menurunnya hasil tangkapan nelayan mereka.

Tahun ini, moratorium penangkapan oleh Pemerintah China kembali dilakukan. Akibatnya tidak kurang 1.200 kapal nelayan mereka dari Xiangshan, provinsi Zhejiang China Timur, kembali ke pelabuhan karena aturan tersebut. Ini berlaku sejak hari Senin tanggal 1 Mei di Laut Cina Timur.

Dari tanggal 1 Mei, tidak ada penangkapan ikan yang diizinkan di seluruh perairan nasional China termasuk Laut Bohai, Laut Kuning, Laut Cina Timur dan Laut Cina Selatan.

Pelarangan tersebut akan berakhir pada 1 September. Sedangkan untuk Laut Cina Timur dan Laut Cina Selatan, larangan tersebut seharusnya sudah berakhir pada tanggal 1 dan 16 Agustus 2017.

Pilihan tersebut berdampak meningkatnya harga ikan di beberapa bagian China yang selangit. Melonjak dua kali lipat dan sangat sulit untuk membelinya, sebagaimana dilaporkan Xiamen Daily, surat kabar di Provinsi Fujian, China selatan.

China National Radio melaporkan dengan mengutip Wakil Menteri Yu Kangzhen bahwa Kementeriannya melakukan moratorium itu untuk mengurangi tangkapannya menjadi kurang dari 10 juta ton, 3,09 ton lebih rendah dari pada tahun 2015.

Moratorium oleh China mirip-mirip dengan tujuan kebijakan Pemerintah RI yang memberlakukan moratorium melalui Peraturan Menteri Kelautan dan Perikanan RI Nomor 56 tahun 2014 dan Nomor 10 Tahun 2015 tentang Penghentian Sementara (Moratorium) Perizinan Usaha Perikanan di Wilayah Pengelolaan Perikanan Negara Republik Indonesia.

Meski demikian, moratorium yang dipilih Indonesia lebih pada pemberantasan aktivitas perikanan yang justeru banyak dilakukan oleh nelayan-nelayan asing termasuk China. Moratorium yang ditempuh karena maraknya aktivitas melawan hukum melalui masuknya kapal-kapal asing seperti penyelundupan senjata, obat-obatan hingga human trafficking.

Pada beberapa kesempatan, perwakilan resmi kedua negara menyadari bahwa moratorium dapat mengurangi illegal fishing, dapat memulihkan sumber daya ikan yang telah terkuras serta memperbaiki ekosistem laut yang telah berada dalam tekanan sejak lama.

Apapun itu, sejatinya, moratorium dapat meningkatkan kehidupan nelayan, memberi kesempatan kepada nelayan lokal, pengusaha lokal untuk mendapatkan manfaat yang lebih banyak.

Respon tetangga

Moratorium pasti akan berdampak pada internal dan eksternal suatu negara. Indonesia telah melakukan hal yang sama dan tidak lagi membolehkan kapal-kapal asing beroperasi setelah dampaknya yang buruk pada ekonomi nasional.

Bukan hanya itu, masuknya kapal asing berdampak pada kegiatan-kegiatan illegal seperti penyelundupan senjata, obat-obatan hingga human trafficking.

Apa yang dilakukan China ini bisa disebut sebagai langkah bagus dan bisa mendongkrak kepedulian bersama di negara-negara di dunia tentang perlunya pelestarian dan proteksi pada sumber daya ikan. Meski demikian, tetap menjadi persoalan bagi negara yang tidak siap.

Moratorium oleh China adalah cobaan bagi Taiwan yang bisa saja terancam ketika kapal-kapal ikan mereka masuk ke lokasi yang merupakan ‘dispute’ antar kedua negara.

China yang superior sepertinya sedang mengganggu nelayan Taiwan yang kerap nyelonong ke perairan yang diakui China. Taiwan menentang moratorium yang ketat tersebut sebab dapat berisiko pada penangkapan kapal-kapal ikan mereka.

“Badan perikanan kami di masa lalu telah meminta para nleayan untuk waspada masalah keamanan yang terkait dengan moratorium China daratan,” kata Chiu Chui-cheng, juru bicara Dewan Urusan Daratan Pemerintah Taiwan. Nelayan Taiwan dikenal sebagai pemburu ikan tuna biru di Laut Cina Selatan.

Selain Taiwan, moratorium yang  mencakup Laut Cina Selatan berimbas ke pula ke Vietnam, Kamboja, Malaysia dan Filipina, negara-negara yang mengklaim perairan mereka masuk ke dalam zona moratorium. Vietnam mengutuk moratorium tersebut. Filipina lebih sabar untuk mencari peluang pembicaraan terkait perselisihan maritim.

***

Bagi Indonesia, moratorium China tersebut bisa dimaknai sebagai kesadaran baru mereka tentang populasi ikan yang semakin berkurang, atau, semacam warning untuk negara-negara lain, agar berhati-hati saat masuk ke perairan yang selama ini dianggap masih bisa semena-mema untuk dieksploitasi.

Meski demikian, ada yang perlu diwaspadai dan diantisipasi sebab China mengklaim sebagian besar dari 3,5 juta kilometer persegi laut China Selatan adalah miliknya. Rujukannya ke catatan sejarah operasi perikanan mereka sejak lampau, berabad-abad lampu.

Inilah yang harus diantisipasi oleh seluruh instrumen bangsa untuk menebalkan semangat menjaga beranda NKRI, dengan mengelola, membangun dan mengawasinya. Kawasan seperti Natuna harus menjadi urat nadi pengelolaan kelautan dan perikanan nasional.

Bisa dikatakan bahwa pada situasi tersebut, pada kebijakan moratorium, China bermain di antara niat baik melestarikan sumber daya perikanan dan merawat selera berkuasa di Laut China Selatan.

Masih ingat bagaimana mereka senewen ketika Pemerintah RI memberi nama Laut Natuna Utara itu?

Makassar, 23/08

Senoa, Pesona Memukau Beranda Nusantara

Saya ke Natuna via Batam pada 5 Agustus dengan semangat patriotik. Sungguh patriotik. Bukan karena Agustus adalah padang bulan kemerdekaan tetapi karena sentilan dari China.

Lho kok? Iya, tetiba saja saya terkenang ujaran Winston Churchill yang melegenda itu.

Churchill berujar, kita akan mempertahankan pulau kita, berapa pun biayanya, kita harus berperang di pantai, kita akan bertempur di tempat pendaratan, kita akan bertempur di ladang dan di jalanan, kita akan bertempur di bukit; kami tidak akan pernah menyerah.

Ingatan itu hadir sebab Pemerintah China menyampaikan nada protes atas inisiatif dan tekad Pemerintah kita memberi nama Laut Natuna Utara untuk sisi selatan Laut China Selatan yang selama ini disematkan ke wilayah teritori kita. Keputusan yang memicu kritik Beijing. Juru Bicara Kementerian Luar Negeri China Geng Shuang menganggap nama baru itu tak masuk akal.

“Loh, kenapa tidak (berhak)? Kan itu laut Natuna Utara kita,” jawab Menteri Susi.

20170805_164208

Jetty Senoa (foto: KA)

***

Setelah menghabiskan malam pertama di Natuna di Hotel Natuna yang bersih, esoknya, 6 Agustus, saya ikut rombongan pejabat Kementerian Kelautan dan Perikanan berkunjung ke Pulau Senoa. Tipe pulau yang sudah lama menjadi incaran saya sebab terkabar pesona dan keunikannya. Apalagi ini di perbatasan jauh di Utara Indonesia.

20170805_160628

Menikmati hamparan pasir pantai (foto: KA)

20170805_160733

Menggoda untuk direnangi (foto: KA)

Pulau ini sesungguhnya tak begitu jauh dari ibukota Natuna, Ranai. Setelah berkendara sekira 15 menit, saya sampai di dermaga, tempat bertolak ke seberang. Jika yang lain naik pompon, saya waktu itu naik perahu Angkatan Laut, lengkap dengan para prajurit Angkatan Laut, penjaga kedaulatan RI di perbatasan Indonesia – Kamboja dan Vietnam ini.

Sebuah dermaga kokoh menyambut. Dermaga atau jetty baja ini adalah bantuan Pemerintah untuk menjadikan Senoa sebagai pulau layak kunjung. Satu bendera merah putih menjulang di atas bukit batu di sisi kiri jetty.  Pesona Senoa layak dijajal. Untuk snorkeling, diving, maupun untuk olahraga laut seperti berkano.

Di sekitarnya terhampar pantai indah, batu unik serta hamparan pasir yang memukau. Ada pulau satu bangunan yang konon dibangun untuk keperluan pariwisata. Ada pula papan peringatan bahwa pulau ini telah masuk sebagai kawasan konservasi perairan daerah Natuna. Okelah!

Cahaya sore yang berpendar dari tebing batu, dari paras laut hingga percik air laut memberi nuansa indah saat menyambangi pulau tak berpenghuni ini.

20170805_155652

Lekuk indah Senoa (foto: KA)

20170805_161820

Eits…

Nama Senoa, diambil dari kata Senua adata berbadan dua, hamil. Merupakan buah nama dari cerita legenda perempuan hamil yang kemudian dianggap menyerupai bentuk pulau ini. Senoa atau Senua serupa wanita hamil yang sedang berbaring.

Selain pantai pasir dan topografinya yang unik, Senoa juga mempunyai potensi terumbu karang yang lumayan bagus meski tak luas, demikian pula vegetasi darat yang masih perawan. Ada pula sarang-sarang burung walet putih yang menempel di gua-gua pulau.

Tak hanya memeriksa lekuk dan potensi Senoa, tetamu yang datang siang hingga petang ini menjadikan Senoa sebagai tempat rekreasi. Bahkan petinggi nomor 1 Kementerian Kelautan dan Perikanan menghabiskan waktu, dari siang hingga petang dengan ber-paddle board.

20170805_155558

Indah ya? (foto: KA)

20170805_173624

Menteri Susi bermain paddle-board di tepian Senoa. Mau? (foto: KA)

Kami pulang dari Senoa dengan sukacita. Dengan pengharapan, dengan tekad. Bahwa kita semua harus menjaga pulau-pulau di beranda Nusantara itu sebagaimana yang telah ditunjukkan oleh Churchill untuk negaranya.

Tebet, 22/08.

Kilau Cahaya di Atas Ambon Manise

Agus Salman Daeng Nyarrang, telah sedia di Bandara Pattimura pada sore tanggal 5 Juni 2017. Dia memang menjanji untuk jemput. “Kabari saja kalau jadi ke Ambon,” katanya via Whatsapp di akhir Mei.

Bersama manajer di Grup Matahari cabang Kota Ambon itu, kami menyusuri jalan dari bandara ke pusat kota. Kota yang belakangan ini menjadi salah satu destinasi wisata yang menggairahkan di Indonesia bagian Timur.

Kesan ini terbukti ketika kami menyusuri jejalan yang melintasi  jembatan Merah Putih. Jembatan yang merupakan salah satu ikon wisata di kota berjuluk Ambon Manise ini. Pemandangan sungguh indah dari atas jembatan. Melihat ke segala penjuru.

Di jembatan sepanjang 1,140 dan selebar 22 meter dan diresmikan di tanggal 4 April 2016 oleh Presiden Jokowi itu, kami mampir menghangatkan kenangan. Memamerkan rasa gembira. Mengirim gambar ke Path dan Facebook. Kami bersuka cita di jembatan yang terletak di Hative Kecil. Sirimau.

20170606_064432
Merah Putih di Ambon (foto: Kamaruddin Azis)
20170606_065131
Kawasan Galala (foto: Kamaruddin Azis)

Pada sinaran cahaya sore itu, saya melepaskan pandangan ke timur, ke Galala, ke kampung-kampung pesisir di tepian kota. Terkenang saat mendarat di sini di tahun 1994. Saat itu, sempat transit bersama KM Kerinci setelah bertolak dari Kota Bitung di bulan Januari yang berombak.

Setelah check in di Hotel Amaris Kota Ambon, saya diajak Agus ke salah satu café di tengah kota sembari menunggu adzan untuk berbuka puasa dan shalat magrib. Salman bercerita tentang geliat kota Ambon yang semakin menyenangkan. Sebagai professional, Salman mengaku betah dan bahagia.

Pada pagi tanggal 6 Juni 2017 saya menyaksikan keindahan pemandangan kota Ambon yang luar biasa. Menyentuh dan damai. Melihat pucuk Al Fatah dan Gereja Silo Ambon tersapu cahaya, kabut tipis masih bertahta di puncaknya, sungguh indah dari balik jendela hotel. Rumah-rumah membuka jendela, lampu-lampu jalan mulai padam, satu persatu kendaraan mulai memenuhi jalan raya. Dari jendela hotel saya menghirup aroma harapan.

20170606_062350
Pemandangan dari Amaris (foto: Kamaruddin Azis)
20170606_062417
Al Fatah dan Gereja Silo di kejauhan (foto: Kamaruddin Azis)

Sebelum ke kantor Dinas Kelautan dan Perikanan Provinsi Maluku, saya bergegas ke jembatan Merah Putih lagi. Tujuannya ingin menjaring garis-garis cahaya dari sunrise di timur kota. Sungguh tak meleset dari angan-angan sebab pagi itu saya panen pemandangan luar biasa.

Cahaya pukul 6 pagi sungguhlah menawan kali ini. Nyiur melambai, cahaya menyusup di dedaunan, menyinari kampung-kampung pesisir. Pemandangan pagi ini seperti lukisan dari tinta tanah yang menjelma garis-garis.

Kabut tipis masih terlihat di atas Kawasan Galala, di atas laut, pantai dan perumahan warga. Bebilah cahaya yang mengingatkan saya pada jalur perdagangan rempah nun lampau. Pada aroma cengkeh dan pala yang melatari sejarah panjang Maluku dan sekitarnya dimana Kota Ambon sebagai simpulnya.

20170606_065013
Sunrise di Ambon (foto: Kamaruddin Azis)
20170606_065229
Cahaya di Timur Kota (foto: Kamaruddin Azis)

Di Kota Ambon, saya juga beruntung sebab Muhammad Husein Kaplale yang membawa saya menyusur kota memperlihatkan Swalayan Citra, tempat yang pertama saya kunjungi ketika kapal Pelni yang kami tumpangi dari Bitung transit di Ambon. Swalayan ini terlihat imut dan terjepit di antara bangunan-bangunan yang kian padat merapat. Senang saja sebab ini mengantar saya ke kunjungan itu.

Sepulang dari lokakarya yang saya ikuti di kantor DKP Provinsi, saya berjalan-jalan ke Masjid Al Fatah. Suasana sedang ramai. Ada festival seni Islami anak muda. Cara mengisi Ramadhan di Kota Ambon.

Saya berjalan ke utara. Menyusur kota dengan jalan kaki. Setelah saya cek di Google Map, rupanya jarak Al Fatah ke hotel Amaris tidak terlalu jauh. Meski demikian, karena ini Ramadhan saya kepikiran untuk naik becak.

Saya pun memeriksa isi dompet. Masih ada ada uang 10 ribu dan dua lembar uang 100ribu (psssst, jujur saja, saya enggan menukar uang seratusan ini). Dalam hati saya berujar. “Ini tidak jauh, saya kira si tukang becak mau dibayar 10 ribu.” Batinku.

Si tukang becak tidak mau dengan harga 10ribu. Kalau saya lihat mimik wajahnya sepertinya setengah hati juga, dia ingin rehat di sore itu. Seperti saya. Belakangan saya tahu kalau harga ini terlalu murah, apalagi ini bulan Ramadhan. Saat tahu bahwa si tukang becak, enggan dibayar 10ribu ke Amaris, seorang anak berbaju merah merogoh kantongnya dan memberikan ke saya uang 5 ribu.

“Ini om,” katanya sembari menyemburkan senyum persahabatan. Glek!

Anak itu terlihat charming. Dia menggemaskan. Seorang temannya yang lain duduk santai di atas becak sembari mengangkat kakinya. Dia tersenyum.

“Oh seng, tidak apa, saya cukup jalan kaki,” kataku ke mereka dengan perasaan grogi. Tiba-tiba wajah saya bersemu merah. Halah!

20170606_164938
Dua anak itu (foto: Kamaruddin Azis)
20170606_192526
Swalayan Citra (foto: Kamaruddin Azis)

Saya berjalan ke arah Amaris. Belakangan saya sadar kalau jaraknya lumayan jauh tapi karena kadung pede jalan kaki saya terus saja melangkah. Lulut dan betis saya memberi tanda tapi saya tetap jalan.

Saya melangkah, menyusuri jalan ke timur kota, jalan-jalan yang terasa lempang. Saya juga mencatat tentang pengalaman indah dan menyenangkan sehari ini, tentu saja termasuk dari si anak kecil yang menggemaskan itu. Teringat senyum dan sorot matanya.

Tebet, 20/08.

 

 

 

Di Kaki Gamalama, Pesona Nirmala Bisa Kau Panjar

Dari pucuk Gamalama, mari melesat ke titian waktu, pada dahsyat dentuman dan huru-hara rindu. Inilah perjalanan mencari urat kesejatian. Yang menuntun pada kuasa Tuhanmu. Pada lekuk Tolikare yang sejuta rahasia, hingga pesan magis Kei Matubu. Di tepian Gamalama, sesungguhnya kau, bisa memanjar keindahan yang dijanji itu. Sebelum nirmala itu sendiri.

***

SEBAGAI yang mengaku blogger pencinta perjalanan, ke pantai, laut dan pulau, Ramadhan tahun ini telah menawarkan sehimpun godaan. Saya digoda untuk ke Timur di Ramadhan yang tak ringan. Tak  tanggung-tanggung, tiket ke Maluku, Maluku dan Papua Barat sudah sedia melambai. Ikon destinasi utama di Timur adalah Kota Ambon, Ternate, Sorong, Manokwari hingga Raja Ampat!

Dan kesempatan itu datang, pemirsa. Ngiri? Ndak usah.

Ini adalah skenario Tuhan memberi tahu kita semua tentang betapa indah dan menawannya Nusantara. Dengan berjalan, bertebaran dan menorehkannya dengan cinta, Tuhan ingin hasrat cinta berlipat pada kuasanya, pada kemurahannya, pada segala yang sejatinya menguatkan kepedulian dan kesungguhan merawatnya.

Gamalama di belakang penginapan (foto: Kamaruddin Azis)

Gamalama di bekalang penginapan selama di Ternate.

Kei Motubu di sela Falajawa (foto: Kamaruddin Azis)

Mengintip Kei Motubu dari Falajawa.

Kompleks Kerajaan Ternate (foto: Kamaruddin Azis)

Istana Sultan Ternate.

Oh iya, sebelumnya, saya ke Ternate di awal tahun 1994. Kala itu bersama dua puluhan mahasiswa Ilmu dan Teknologi Kelautan dari 6 Universitas di Indonesia, dari UNRI, IPB, Undip, Unstrat, Unhas dan Unpatti.

Yang saya ingat kala itu adalah berjejalan bersama kawan-kawan dari Unri di hamparan pelabuhan laut Ternate. Beberapa nama dari ini masih terhubung saya di dunia maya. Kami ke Ternate pada malam hari yang dihembusi angin musim Barat. Kami ke pantai kala KM Kerinci yang membawa kami mengaso sebelum bertolak ke Kota Bau-Bau, di selatan.

Dua puluh tiga tahun kemudian, peruntungan kedua datang lagi. Kali ini tak hanya berkunjung ke Kota Ternate, di Negeri Kier Raha. Di sela urusan pekerjaan antara tanggal 7 dan 9 Juni 2017, saya melipir ke spot wisata andalan Kota Ternate. Melipir yang mengasikkan karena ajakan para sahabat. Meski tak harus melanglang ke seantero Maluku Utara namun cerita berkut ini sungguh nyaris paripurna dalam menyesap keindahan Maluku bagian utara.

20170609_104453

Di Danau Tolikare bersama Sofyan Ali.

Jujur saja, saya termasuk yang percaya bahwa semua anasir kehidupan adalah wahana rekreasi, semua hal bisa saja memberi inspirasi. Prinsip ini yang saya pegang ketika kemudian menemukan pesona keindahan dan keramahan manusiawi ketika berkeliling, memutar di Pulau Ternate.

Di hari pertama kunjungan, Helmy Harsani, yunior saya di Kelautan Unhas, si makhluk penggemar AC Milan ini datang ke hotel Grand Dafam, tempat saya menginap. Tetiba saja sudah ada di pintu kamar mengetuk. Selain Helmy, ada belasan alumni Kelautan Unhas yang mengabdi di lembaga Pemerintah hingga menjadi dosen dan pedagang. Beberapa dari mereka saya telepon untuk berkabar.

Dengan Helmy, kepala Pangkalan Pendaratan Ikan (PPI) Goto di Tidore ini, saya berkeliling kota, menyigi pesisir kota kemudian mengaso sembari menunggu adzan magrib untuk berbuka puasa. Juni adalah bulan puasa. Betapa mengasikkannya menikmati buka puasa di tepi pantai, memandang ke laut hingga puncak gunung dari titik Kawasan Falajawa.

Pemandangan di tepian kota ini menawarkan keindahan pucuk-pucuk gunung di Tidore, pulau di seberang Ternate. Pun keindahan masjid-masjid yang dijejali pengunjung. Demikian pula refleksi dari paras laut yang terlihat tenang. Bersama Helmy saya menyamabangin Masjid Agung Ternate, Al Munawwar.

Bersama Helmy dan Dr. Najamuddin, menunggu ikan bakar (foto: istimewa)

20170607_184630

Bersama Helmy.

***

Setelah urusan pekerjaan kantor selesai di tanggal 8 Juni, malamnya saya berkabar ke teman SMA yang menjadi kepala Balai Karantina Pertanian Kota Ternate. Dia Andi PM. Yusmanto. Kami seangkatan di SMA Negeri 1 Makassar.

Di tengah kesibukannya, Yusmanto datang ke Grand Dafam dan mengajak menikmati suasana malam Kota Ternate, ke terminal kota dan menjajal ikan bakar khas Ternate. Ikan-ikan kakap, kerapu, beronang, terlihat pasrah untuk dicicipi. Mau?

Keesokan harinya sebelum balik kembali ke Kota Ambon, saya ditemui Sofyan Ali, dia Kepala Perwakilan Ombudsman Provinsi Maluku Utara. Keren ya posisinya? Itu lho, yang memeriksa dan memastikan pelaksanaan birokrasi yang melayanai, efektif dan transparan.

Sofyan adalah sahabat ketika kami sama-sama bekerja di Lembaga Pengkajian Pedesaan, Pantai dan Masyarakat, sebuah LSM cukup terpandang di Makassar di tahun 90an. Kami mengobrol dan tak lupa berkunjung ke titik-titik yang merupakan hot spot destinasi wisata unggulan Kota Ternate.

Bersama Sofyan, di bumi Kier Raha, saya membaui aroma sejarah dan dinamika Ternate dari waktu ke waktu. Dari lekuk Danau Tolire, memandangi dari jauh situs Batu Angus, menatap pucuk Gamalama di utara. Batu Angus adalah pesan dari Gamalama yang meletus di tahun 1673.

Suasana pagi hari di Ternate (foto: Kamaruddin Azis)

Pagi di Ternate dari Grand Dafam.

Tidore terlihat dari Ternate (foto: Kamaruddin Azis)

Sepasang gunung di Tidore.

Malam dan ikan karang bakar (foto: Kamaruddin Azis)

Bersama Andi PM. Yusmanto.

Saya terkesan dengan Tolire, danau yang menawarkan cerita mistis tentang relasi tak sopan seorang ayah dan anaknya. Danau ini terletak 10 km dari pusat kota Ternate. Saya kira dari sekian foto yang saya suka dari Ternate, di danau ini saya terlihat menawan. Plaaak!

Tak hanya melihat Tolire dari dekat, meski dihadang gerimis saya beruntung bisa sampai ke kampung puncak dan melihat Danau Laguna, Gunung Maitara dan Gunung Tidore pada saat bersamaan.

Di tepian Gamalama, sesungguhnya kau,

bisa memanjar keindahan yang dijanji itu.

Sebelum nirmala itu sendiri.

Ngiri? Jangan! Ayo rencanakan ke sana!

Tebet, 20/08.