Menunggu Angin Berhembus Ke Taka Bonerate

Pada suatu pagi di antara pulau Jinato dan Kayu Adi, Selayar 1996. Matahari empat puluh lima derajat di timur. Beberapa warga Bugis pulau Jinato sedang mengamati rumpon mereka. Saat itu, mereka juga melepas mata pancing. Tidak lama, Asape salah seorang dari mereka, lelaki kekar berkulit legam, teriak lantang. “Ajji…tunaaaa…” mengarah pada sang ayah, Haji Syahring, kepala desa setempat. Asape dengan sigap menarik tali nilon besar yang ujungnya disambungkan dengan kawat baja lengkap dengan mata pancing. Air laut membentuk pusaran putih di sekitar rumpon yang dalamnya lebih dari seribu meter, rumpon yang belum seminggu dibenamkan itu.

Ikan tuna berontak di ujung kawat pancing. Seekor yellow fin tuna seberat lebih 50 kilogram menggelepar di geladak perahu kayu berukuran 5 grosston. Kami pulang ke kampung dan membawa dua ekor tuna sirip biru. Kegiatan memancing itu hanya sambilan saja karena mereka memasang rumpon targetnya hanya untuk ikan permukaan kecil. Asape hanya akan mengantongi seratus ribu jika kembali ke kampung, atau ratusan ribu jika dia menjualnya ke Makassar. Mungkin akan lebih mahal jika dijual ke luar negeri. read more

Advertisements

Mengikat Jodoh di Perbukitan Lejja

DSC08482Amparita, 25 Juni 2009. Seusai bersantap siang dengan pemimpin komunitas Towani Tolotang dan komandan distrik militer kabupaten Sidrap di kediaman sang pemimpin, kami memutuskan untuk mengunjungi Permandian Lejja. Satu rencana yang tiba-tiba setelah sebelumnya mendengar cerita dari sang pemimpin penganut aliran kepercayaan di Amparita, Kabupaten Sidrap ini.

“Kawasan Lejja adalah lokasi wisata andalan Kabupaten Soppeng, dan hanya berjarak sekitar 30 kilometer dari Amparita. Lokasinya berbatasan dengan kabupaten Sidrap” Katanya saat saya menanyakan lokasi permandian yang konon sangat terkenal itu. Karena jaraknya itu pula kami putuskan untuk berkunjung kesana. read more

Catatan Pengantar Buku: SEMESTA GALESONG, Senarai Catatan dari Kampung Jempang (Moch Hasymi Ibrahim*)

6171_105200897766_792452766_2043335_107985_n(Ini adalah yang segera terbit, Semesta Galesong, Senarai Catatan dari Kampung Jempang karya Kamaruddin Azis. Buku ini adalah salah satu buku terbitan Panyingkul (www.panyingkul.com) tahun ini, dalam rangka memeriahkan ulang tahun ke-3 media tersebut.)

****
Sastra dan jurnalistik, kata orang-orang, adalah dua hal yang berbeda. Kalau pada sastra sandaran utamanya adalah imajinasi dan karena itu wujudnya adalah fiksi, maka pada jurnalistik, faktalah yang menjadi landasan pokoknya dan karena itu dia berwujud “nyata”, yaitu apa yang diungkapkannya dapat dikonfirmasi di kenyataan. Kata orang-orang lagi, sastra dan jurnalistik sesungguhnya memiliki sumber yang sama yaitu fakta. Meskipun pada yang pertama fakta disebutnya sebagai fakta imajinatif, sementara pada yang kedua fakta yang menjadi sumbernya adalah fakta informatif, karena merupakan sesuatu yang dapat nyata, akurat. read more