Mewawancarai Angku Bauk Ihwal "Pakkue Sengkangang"

Sering, para perencana dan fasilitator pembangunan lalai untuk memerhatikan kualitas informasi yang dia peroleh dari lapangan. Mereka, kerap membuat penyederhanaan atas fakta lalu menuangkannya dalam kertas perencanaan atau rencana aksi program. Dalam merumuskan situasi dan urgensi tindakan mereka gagal memilah, yang mana fakta dan yang mana persepsi sebagai alas dalam menyusun perencanaan. read more

Advertisements

Puisi: Menemui Kata Yang Hendak Bunting

Menemui Kata Yang Hendak Bunting

: Ami dan Luna

dini hari tadi

aku mengelusmu dengan cinta

kucangkokkan semangat

dan doa tulus

melepasmu terbang sejauh mungkin

temui padananmu, mungkin di sana

di langit kesekian kau bersua

kata yang sedia bunting

[denun 30032010]

Teknik Wawancara: Angku Bauk Tentang "Pakkue Sengkangang"

Sering, para perencana dan fasilitator pembangunan lalai untuk memerhatikan kualitas informasi yang dia peroleh dari lapangan. Mereka, kerap membuat penyederhanaan atas fakta lalu menuangkannya dalam kertas perencanaan atau rencana aksi program. Dalam merumuskan situasi dan urgensi tindakan mereka gagal memilah, yang mana fakta dan yang mana persepsi sebagai alas dalam menyusun perencanaan.

Lebih ekstrim lagi mereka tidak datang ke desa (sebagai misal) dan dengan bangga menyusun rencana kegiatan berdasarkan ekspektasi dan persepsi mereka atas situasi masyarakat di desa. Oleh karena ingin melatih ketajaman membaca fakta dan menyusun pertanyaan faktual itu maka kami, pada satu hari di bulan Maret 2010 mengunjungi Kampung Padang, Desa Bontosunggu, Kecamatan Bontoharu, Kabupaten Kepulauan Selayar.

****

Pagi berangsur siang saat kami bertandang ke salah satu kios di dekat Pasar Padang, Kecamatan Bontoharu, Selayar. Kami akan berkenalan dengan warga desa dan mencoba membaca fakta dan denyut kehidupan mereka. Saya mengajak Muhammad Harsani (staf perencana pada Bappeda Propinsi Sulawesi Selatan), Yulyvia Purnawarti dan Sultandar Zulkarnaen (staf perencana pada Bappeda Kabupaten Kepulauan Selayar) untuk mulai mewawancarai warga berdasakan entry point (biasanya merujuk pada apa yang faktual, atau apa yang sedang dipegang atau diketahui oleh warga saat ditemui).

Kami mampir di satu kios tidak jauh dari dermaga Padang. Di sana ada Angku Bauk, Dia adalah warga Padang. Di kiosnya tersaji empat gelas jualan yang berisi “tenteng kacang, tenteng kenari, kue serekung (lembaran tipis)”. Di mejanya terdapat satu benda berbahan kayu. Terlihat sebagai kayu keras. Dia terlihat sebagai cetakan kue. Inilah yang akan menjadi pokok masuk wawancara kami, “entry point” kata orang Inggris.

“Apa ini” Tanyaku.

“Ini pakkue sengkangang” Jawabnya.

Menurutnya, ini adalah alat untuk membuat kue, kue Borobudur yang digemari banyak orang itu. Pertanyaan saya itu kemudian diikuti beberapa pertanyaan faktual dari kawan-kawan yang ikut tersebut. Setidaknya terkait 4 W tanpa H, apa, dimana, siapa dan kapan. Pertanyaan persepsi seperti mengapa dan bagaimana kami kesampingkan.

Dari wawancara itu terekam bahwa dahulu, sebelum menggunakan cetakan kue tersebut, warga Padang membuat kue dengan menggunakan alat cabut sengkang (terbuat dari aluminium tipis berbentuk V). Sengkang juga biasa digunakan oleh kaum lelaki untuk mencabut jenggot tapi dengan bentuk yang lebih kecil dan keras. Kue Sengkang atau kerap juga disebut kue Borobudur bentuknya kecil dengan permukaan seperti bergerigi tumpul, layaknya bangunan Borobudur.

Padang terkenal sebagai penghasil kue khas Selayar ini. Angku , mengakui dalam sehari mereka dapat menghasilkan kue hingga 200 biji. “Inne rie’ tussuro buak” Katanya salam bahasa Selayar yang artinya, ini ada yang minta dibuatkan sebanyak 50 biji. Jika tidak ada yang pesan mereka biasanya hanya membuat hingga 100 biji saja.

Kue yang mereka hasilkan selain dipajang di kios juga dibawa ke pasar. Bahan-bahan untuk kue sengkangang adalah telur (tannoro dalam bahasa Selayar sebanyak 10 biji), gula pasir seliter , beras terigu sebungkus (labu’ berasa) , terigu sekilo, dan vanili 2 bungkus. Menurut Angku Bauk, vanili tidak boleh terlalu banyak, kalau terlalu banyak kue bisa pahit. Isi kue, ini yang menarik adalah biji kenari. Biasanya mereka siapkan hingga dua gelas biji kenari. Dengan komposisi bahan seperti diatas, Angku Bauk dapat peroleh 110 biji kue sengkangan.

Bahan-bahan yang disebutkan Angku Bauk ini dapat diperoleh di pasar Padang yang ramai pada hari Ahad, Rabu, Jumat. Isi kenari, biasanya diproses sendiri alias mereka yang jemus dan mengupas kulitnya. Warna kuning pada permukaan kue sengkangan karena diolesi kuning telur. Kue sengkangan yang dipajang di kios harganya seribu satu biji.

Saat saya mengunjungi kiosnya, Angku Bauk menyampaikan bahwa baru saja ada pemesan kue yang akan membawanya ke Makassar.Katanya ada acara kawinan dan mereka mau kue sengkangang. Angku belajar membuat kue setelah belajar dari ibunya. Dahulu masih menggunakan sengkang jadi disebut “kue sengkangan”. Angku Bauk bersaudara 4 orang, satu meninggal. Orang tuanya, bernama Dado adalah tukang jahit, ibunya bernama Salihi. Sudah lama tinggal di Padang.

Beragam informasi mengalir dari mulut Angku Bauk saat kawan-kawan penanya menggunakan kalimat faktual. Angku menjawab dengan tepat dan cepat karena kami tidak membuatnya berpikir dengan pertanyaan persepsi seperti “bagaimana dan mengapa”. Begitulah.

****

Dengan menggunakan “pakkue sengkangang” sebagai entry wawancara setidaknya akan terbaca tiga arah informasi. Pertama, bahan pembuat cetakan kue tersebut, kedua, apa yang dihasilkan dari bahan itu dan ketiga, mau diapakan hasil dari alat itu. Wawancara kami semakin terfokus pada bagaimana dia memproduksi kue, siapa yang membeli, berapa yang diproduksi, bahan-bahan hingga asal pembuat kue sengkangan tersebut.

Jika kita sudah menentukan “konteks” wawancara maka kita dapat fokus apakah hendak menelisik lebih jauh mengenai teknik pembuatan atau jalur-jalur pemasaran kue Borobudur tersebut. Sebagaimana layaknya wawancara pada warga desa atau aktor di desa maka kita dapat menentukan apa yang menjadi entry wawancara. Tergantung apa yang ada di dekat warga yang hendak kita wawancarai. Pada analisis yang lebih jauh kita akan dapat meraba arah wawancara pada “wajah kapasitas” warga yang kita ajak disksusi.

Seorang perencana atau fasilitator dapat merekam informasi terkait tingkat pengetahuan, keterampilan, keuangan, fasilitas atau jaringan usaha warga desa atau komunitas.

Makassar 31032010

Kisah Muhammad Ali, Sisi Lain Nelayan Padang

Padang yang ini bukan Padang di Sumatera Barat tetapi Kampung Padang, satu titik di Desa Bontosunggu, Kecamatan Bontoharu, Kabupaten Kepulauan Selayar, Sulawesi Selatan. Untuk sampai ke sana, kita mesti menempuh perjalanan hingga 6 kilometer ke selatan dari Kota Benteng, ibukota Selayar. Kita mesti melewati ujung landas pacu bandara Aroeppala, Padang. Ada pagar kawat berduri tetapi warga masih tetap melewati jalan itu.

Hamparan pertambakan, pepohonan bakau dan ladang garam tersebar luas. Pemandangan itu menyambut kita saat memasuki Kampung Padang. Padang adalah satu kampung di pesisir pantai. Di sana terdapat obyek wisata berupa jangkar dan meriam raksasa. Konon, merupakan sisa peninggalan penjelajah asal negeri Tiongkok. read more

Cerita Lainnya Setelah Bertemu Pendeta Tawasaku

Satu sore di tanggal 13 Maret 2010. Pada salah satu kios penjaja makanan dan minuman di Bira, Bulukumba. Kami baru saja merapat dalam area pelabuhan, sementara fery yang akan menjemput belum tiba dari Pamatata, Benteng. Seraya menikmati teh susu dan mengisi power pada gadget setiaku, saya menyapa empat orang calon penumpang yang juga sedang menanti.

Yang berbadan tegap bernama Marten. Tinggal di sekitar Jalan Hayyung, Benteng, Selayar. Dia lahir dan besar di Manado. Yang bertubuh kecil dengan kulit putih licin adalah pemuda Nias Selatan yang bermarga Waruwu. Lelaki yang satu diam saja. Dia hanya manggut-manggut saat kami mengobrol. Lelaki bertopi terlihat sudah berumur, namanya Robert Tawasaku. Lahir di Palu dan mengaku pendeta di Gereja Bulukumba.

Pak Pendeta mengatakan bahwa dia sedang mengantar pemuda asal Nias tersebut untuk praktek teologi di Selayar. Si Waruwu adalah lepasan Sekolah Teologi Semarang. “Yaahowu fefu!” Sapaku pada si Waruwu. Dia tersenyum mendengar sapaan bahasa Nias saya. Pendeta Albert sendiri mengaku pernah bertugas di Selayar pada tahun 1977-1984. Jadi dia sudah akrab dengan suasana Selayar.

Setelah memperoleh informasi dari Pendeta Tawasaku, dan setiba di Benteng, keesokan harinya, saat sedang menikmati sarapan di warung nasi santan – ikan bakar khas Selayar di ex pasar lama, saya berkenalan dengan Pak Tunang dan Haji Amir warga dari Kecamatan Bontosikuyu, selatan Benteng. Saya lalu menanyakan ihwal kemajemukan agama di desa-desa bagian selatan Kota Benteng. Mereka membenarkan bahwa, benar adanya jika penganut agama sangat beragam. Ada Islam, Kristen, Hindu bahkan Buddha. Menurut cerita Pak Tunang, antara tahun 70-80an, beberapa desa di kampung di sana sempat marak aliran kepercayaan.

Di Kampung Binanga Benteng, sempat tersiar kabar tentang ajaran “Muhdi Akbar” yang dianggap berbeda dengan ajaran Islam. Ajaran ini, oleh Tunang dipimpin oleh dua orang bernama Tuan Nya’la dan Tuan Maulana. Mereka berdua telah meninggal dan sanak keluarganya telah terpencar ke berbagai kampung dan desa.

“Dalam satu keluarga kerap berbeda keyakinannya” Kata Tunang. Ada yang memilih Islam ada pula yang memilih ajaran lain seperti Kristen.

Lalu keesokan harinya saya berbincang dengan salah seorang warga Lowa, namanya Ilmiawan. Menurutnya, Penduduk asli banyak yang bermukim Kampung Turungan. Ada beberapa praktek ibadah warga persis sama dengan tradisi Hindu. Ilmi juga bercerita pada beberapa kampung bagian dalam ke arah timur terdapat kuburan-kuburan tua. Beberapa tulang manusia masih dijumpai pada beberapa dinding bukit kapur. Kampung tersebut telah ditinggalkan dan mereka menetap di Turungan.

Menurut Pendeta Albert, cerita Muhdi Akbar ini marak pada sekitar tahun 60an hingga 70an. Menurutnya, penganut kepercayaan yang kemudian memilih agama yang dianjurkan pemerintah tersebar di Kampung Binanga Sombayya, Barang Barang yang dulu masuk Distrik Lowa sekitar 40 km dari Kota Benteng.

Seorang aktifias LSM di Selayar yang saya wawancarai mengatakan bahwa pamannya yang pernah bertugas di Kantor Urusan Agama (KUA) di sana membenarkan bahwa memang terdapat beberapa agama di wilayah itu. Mereka adalah penganut aliran kepercayaan yang kemudian memilih “beragama” berdasarkan aturan pemerintah. Pamannya tersebut merupakan inisator terbangunnya Madrasah Ibtidayah Negeri Laiyolo.

Dia juga berkisah bahwa sekaitan pernah maraknya pengikut kepercayaan itu, berdampak pada sikap hati-hati warga Benteng, ketika hendak menikah dengan warga dari desa-desa selatan. “Masih ada warga yang meragukan status keagamaan tersebut” Katanya.

Menurut Ilmiawan, Desa Binanga Sombayya yang penduduknya beragam agamanya, secara administratif terdiri dari dusun Binanga Benteng, di sana terdapat satu gereja, Dusun Bahorea, Dusun Kalepek, dan Dusun Kayu Panda. Gereja lainnya juga terdapat di Kampung Tongke Tongke beberapa kilometer dari Appatanah.

Fenomena di atas sangat menarik, setidaknya memberi kita gambaran bahwa dalam masyarakat berbagai dinamika, baik itu tradisi, keyakinan dan interaksinya dengan berbagai unsur eksternal seperti pemerintah dan “fasilitator” agama mengalir begitu rupa. Begitulah adanya, jika demikian, marilah tetap hidup rukun dan damai selalu.

Jeneponto, 15-03-2010.

Jangan Merokok Di Taksi Saya

Naik taksi bagi warga kota sudah menjadi kebutuhan. Saat kita naik taksi kerap kali pemiliknya melengkapi taksinya dengan berbagai macam pengharum. Aroma jeruk (sitrus), apel dan anggur merupakan aroma favorit. Ada yang menggantungnya di belakang jok ada pula yang meletakkannya di dashboard. Semuanya demi kenyamanan penumpang dan sopir.

Tapi tahukah Anda bahwa rupanya berdasarkan pengalaman seorang sopir bernama Fulan, tidak semua penumpang sepakat dengan aroma yang ditawarkan oleh sang pemilik. “Ada yang mual, ada pula yang pusing saat mencium aroma pengharum itu” Katanya.

Hingga pada suatu hari dia membawa seorang penumpang di sekitar pasar Sentral Makassar. Wanita itu membawa nasi tumpeng yang dialasi daun pandan. “Saat itulah saya mendapat ilham, rupanya wangi daun pandan sangat natural. Saya pun mencobanya. Dan, betul saja, hampir semua penumpang sepakat bahwa aroma daun pandan membuat mereka sedang berada di area teduh dan nyaman” katanya.

Itulah yang disampaikan Takdir, sopir taksi beranak satu yang saya temui saat libur nasional perayaan Nyepi, Selasa lalu. Awalnya, saya menduga dia sedang merayakan hari raya nyepi karena saya melihat daun pandan di bawah joknya. Padahal itu adalah “parfum” alaminya.

“Saya sangat menjaga kenyamanan penumpang saya. Siapa saja. Saya juga tetap menganggap taksi saya adalah “privat” alias milik pribadi yang mesti dibuat nyaman bagi siapa saja” Katanya. Sesuai maunya pemilik. Kerap kali banyak orang dengan seenaknya merokok, dan berakibat pada bau tak nyaman di dalam taksi.

“Saya menolak membawa penumpang dengan durian dan ikan yang terlalu menusuk penciuman” Katanya lagi. “Pernah suatu ketika, saya meminta kepada seorang penumpang yang ngotot merokok untuk pindah taksi saja, padahal taksi sudah bergerak sejauh 200 meter” Katanya. “Maaf pak, jika hendak merokok, carilah taksi lain. Maaf, maaf sekali lagi” Ungkapnya. Dan, Bapak itu pun turun dari taksi dan mencegat taksi lain dengan perasaan dongkol.

Cerita Fulansetidaknya menjadi bukti bahwa masih ada sopir taksi yang berani bersikap atau punya prinsip tentang apa yang disebut, “kenyamanan untuk semua”. “Tidak apa-apa, masih banyak penumpang lain yang butuh kendaraan harum tanpa bau rokok. Itulah gunanya saya meletakkan daun pandan” Katanya yakin.

Sungguminasa, 20/03/2010