Tragedi Tanakeke dan Pesan untuk Kita

 

Puluhan orang terhempas ke laut bergolak ketika gelombang menerjang jolloro’ mereka. Dilaporkan 8 orang termasuk dua warga Jakarta yang hendak melakukan perbaikan kapal di Pulau Tanakeke tewas. Terjadi tragedi di awal Februari terjadi di beranda Kampung Topejawa, Takalar, Sulawesi Selatan. Peristiwa ini menambah daftar panjang korban keganasan Perairan Tanakeke di Sulawesi Selatan.

***

Hujan deras di Minggu pertama Februari 2017 merata di jazirah Sulawesi. Di beberapa lokasi seperti Selayar, Bantaeng, Gowa, Makassar, Maros hingga Pangkep ratusan pohon tumbang. Korban jiwa pun ada, belasan bangunan publik dan rumah penduduk rubuh.

Di selatan Kota Makassar, di perairan Tanakeke, puluhan orang yang berharap sampai di dermaga kampung halaman harus dirundung malang. Kapal kayu atau jolloro’ yang ditumpangi, koyak dihantam gelombang, dihempas hingga ke daratan Takalar, (03/02).

Hingga Senin pagi, 6 Februari 2017, dilaporkan sebanyak 36 orang menjadi korban. Beberapa sumber seperti Tribun Timur bahkan menyebut angka 40 orang. Delapan didapati meninggal seperti Sukri (14) yang beralamat Balangloe, H. Mahaseng Dg Kebe (47) alamat Cambang-Cambang dan perempuan Mantang Dg Tarring.

Selain ketiga korban tersebut, Fajaronline menyebutkan empat di antara puluhan penumpang jolloro tersebut berprofesi sebagai teknisi kapal. Mereka datang dari Jakarta dan Bogor. Mereka Sulaeman (45), Wargana (55), Gunawan (32), dan Lalamandala (42). Keempatnya menuju Tanakeke untuk memperbaiki sebuah kapal di sana.

Peristiwa tersebut menandai tingginya kerawanan pelayaran di sekitar Gugus Kepulauan Tanakeke, Takalar. Menandai bahwa bahaya gelombang dan badai tak pernah lepas dari bayang-bayang Tanakeke, pulau yang mempunyai potensi sumber daya alam melimpah namun rentan terpapar bencana.

Tentang Tanakeke

Tanakeke adalah gugusan pulau kaya mangrove di beranda barat Kabupaten Takalar, Sulawesi Selatan. Luas mangrove yang dikandungnya dilaporkan hingga 1,700 hektar meski beberapa sumber menyebutkan telah musnah hingga 70%. Tanakeke di selatan adalah bagian Selat Makassar.  Disebut gugus pulau sebab terkait di dalamnya ada Pulau Bauluang dan Pulau Satangnga. Pulau Tanakeke sendiri mempunyai model tak beraturan dengan lekuk-lekuk pulau yang dipadati pohon mangrove.

Laporan Yayasan Konservasi Laut Indonesia, sebuah LSM pesisir di Makassar menyebutkan bahwa Kepulauan Tanakeke merupakan salah satu lokasi di Sulawesi Selatan yang luasan hutan mangrovenya cukup besar untuk ukuran pulau. Hampir seluruh pulau Tanakeke dikelilingi hutan mangrove yang lebat. Namun luasan mangrove di kawasan ini juga mengalami penurunan akibat alih fungsi lahan dan penebangan.

Untuk sampai ke pulau ini, dalam tahun 2010, penulis menempuh perjalanan dari Dermaga Takalar Lama di Kabupaten Takalar dengan menumpangi kapal kayu berbobot tidak kurang 5 ton. Akses yang relatif jauh dapat ditempuh dari Pantai Galesong atau Makassar tapi tidak dengan perahu atau kapal reguler.

Di Tanakeke terdapat beberapa kampung seperti Tompotika, Cambang-cambang, hingga Balangdatu. Perairan Tanakeke dikenal memiiki pusaran arus dan gelombang hebat saban tahun, baik musim kemarau maupun barat. Letaknya di lekuk perairan Takalar dan merupakan pertemuan arus barat dan timur menjadikannya sebagai momok bagi pelaut Nusantara.

dsc_0062
Di antara pohon mangrove Tanakeke (foto: Kamaruddin Azis)

Tak ayal,  telah terjadi banyak kecelakaan pelayaran di sekitarnya. Tahun 80an terdapat kapal besi yang karam kemudian terhempas ke Pantai Galesong. Beberapa kapal pengangkut beras hingga semen asal Selayar dilaporkan karam atau terantuk batu di sekitardi sekitar Tanakeke. Selama ini warga Tanakeke yang akan ke daratan Takalar memilih mendarat di Dermaga Takalar Lama, dermaga yang berada pada bahu sungai yang mengarah ke beranda Tanakeke.

Meski cuaca sedang bersahabat, alun perairan sangat terasa. Alun yang lahir karena topografi dasar laut yang dalam dan berarus.  Waktu tempuh hingga kurang lebih 1 jam, tergantung cuaca.

Sesuai pengalaman penulis, detik-detik pelayaran dimulai dengan menyisir muara sungai ke selatan kemudian melintasi perkampungan di sisi kiri dan membelah parairan Tanakeke. Salah satu kapal yang acap melintasi rute itu adalah Kapal Cahaya Irna, kapal ini limbung setelah bergerak dari dermaga sejauh 1 kilometer, Gelombang tinggi bulan Februari membuat Cahaya Irna terbalik dan pecah.

Catatan kecelakaan

Selain Cahaya Irna, terdapat banyak musibah pelayaran yang terjadi di sekitar Tanakeke. Tanggal 5 Februari 2011, di ruas musim barat nan hebat, sebuah kapal tradisional berpenumpang 13 orang tenggelam setelah dihantam gelombang laut setinggi 3 meter. 13 orang dilaporkan menjadi korban, ada lima yang belum ditemukan. Kecelakaan terjadi pada pagi pukul 10 saat menuju ke Pantai Lamangkia, Kecamatan Mappakasunggu.

Pada tanggal 16 September 2015, Kapal Layar Motor (KLM).Lafina yang berukuran besar dan membawa semen dari Pelabuhan Paotere tujuan Pulau Sumbawa, karam di Perairan Pulau Tanakeke pada pukul 2 siang. Dilaporkan ada tujuh anak buah kapal yang menjadi korban.

Sementara itu, kapal motor Cahaya Rahmat asal Pulau Rajuni, Taka Bonerate, Selayar yang mengangkut semen dari Paotere juga karam di di pantai Mappakasunggu di dekat Pulau Tanakeke. Menurut Haji Muhlis, nakhoda sang kapal, banyak muatannya yang harus dibuang ketika air telah masuk ke perahunya.

Selain di antara Tanakeke dan daratan Takalar, di perairan bagian dalam Tanakeke peristiwa nahas juga kerap terjadi. Tahun lalu, pada Jumat, 22 Juli 2016, terjadi tabrakan antara perahu sampan dan Jolloro di Tompotana, Pulau Tanakeke. Perahu kecil yang mengangkut anak sekolah ditabrak jolloro ketika menuju Dande-Dandere. Dua siswa SMA terluka dan mengalami patah tangan, kecilnya ruas jalan perahu, di antara rerimbun pohon mangrove merupakan salah satu penyebab mengapa insiden itu terjadi.

Pesan untuk kita

Tenggelamnya kapal Cahaya Irna serta korban yang terenggut jiwanya menegaskan kembali tentang dilema dan kerentanan pesisir laut Takalar, tentang potensi ancaman gelombang dan badai laut bagi kurang lebih 7ribu jiwa warga Tanakeke yang bermukim di sekitarnya.

Peristiwa nahas di Jumat tanggal 3 Februari tersebut menjadi sinyal bagi semua pihak terutama Pemerintah Kabupaten Takalar untuk mengintensifkan dukungan bagi peningkatan kesadaran warga tentang kesiapsiagaan bencana, tentang pentingnya informasi meteorologi dan kenavigasian bagi warga yang memanfaatkan jalur pelayaran tersebut.

Langkah-langkah antisipatif yang bertujuan memberi informasi dan kemampuan menghadapi segala risiko tersebut harus lebih ditingkatkan. Kapal-kapal yang melayari rute tersebut harus dilengkapi dengan pelampung, harganya yang tak mahal tersebut merupakan penolong penting jika terjadi kecelakaan.

Selain itu, sarana komunikasi bagi pelayanan harus dipastikan tersedia bagi pihak-pihak yang mengelola dermaga atau pemilik kapal. Kecelakaan bisa terjadi kapan dan di mana saja, oleh sebab itu, kesiapsiagaan harus selalu diutamakan. Otoritas yang berhubungan dengan kepelabuhanan, navigasi dan keselamatan pelayaran harus ada di garda depan.

Bagi Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kabupaten Takalar dan kabupaten-kota yang rentan bencana di seluruh Indonesia sangat tidak mudah sehingga harus diberi kapasitas lebih dari memadai. Domain tugas mereka pada peningkatan kapasitas kesiapsiagaan bencana para pihak termasuk warga Tanakeke dan penyiapan sarana prasarana pengendalian dan penanggulangan bencana harus didukung penuh, agar bisa lebih maksimal memberikan pelayanan. Harapannya, agar risiko bencana dapat diminimalkan.

Gowa, 05/02/2017.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.