Candid Menteri Susi, antara Kopi dan Kamera

Guys, ngopi dulu yuk di ketinggian! (foto: K. Azis)

Melihat Menteri Susi berolahraga paddling sudah biasa kan? Di beberapa media cetak dan online penampilannya menjadi terlihat berbeda dan ‘perkasa’ karena kelihaiannya mengayuh paddle sambil berdiri. Dia mampu menjaga keseimbangan serta berani menghadapi gelombang.

Pada satu kesempatan, dia terlihat mengayuh paddle di tepi tebing batu besar dan bisa saja dihempas gelombang utara Pulau Natuna yang dahsyat. Atau pada kesempatan lain dia ber-paddle di tepian Kota Kendari di sela pulau Bokori dengan arus balik yang dikenal kuat.

Setelah beberapa kali ikut misinya ke beberapa titik seperti Natuna, Kendari, Banda Neira, Tegal hingga Bandung, kali ini saya dibuat kagum pada ketenangannya saat berada di atas chopper antara Tegal dan Bandung.

Sepulang dari melihat proses verifikasi kapal cantrang dan berkonsultasi dengan nelayan-nelayan di Tegalsari, Tegal, Menteri Susi tandang ke Bandung. Saya ada di belakangnya, mendapat kesempatan untuk melihat Pantura dari udara. Yes!

Ini kesempatan kedua naik chopper setelah sebelumnya pernah naik dari Meulaboh ke Banda Aceh tahun 2006.

Saya agak kelimpungan dan berkeringat dingin karena perjalanan terhadang mendung tebal di tepi Gunung Tampomas, sementara dia terlihat santai saja. Dia terlihat tenang, bahkan meminta pilot untuk bermanuver melihat jalan tol yang sedang dibangun.

Di sisi lain, saya sibuk mencari pegangan bak mencari mencari pegangan di mobil. Hal yang tak saya temui di chopper.

Membaca kota dengan kamera (foto: K. Azis)

Tak hanya jelang masuk Bandung, di Tegal, saat pesawat berbaling-baling itu merangkak naik, perempuan itu meraih kamera yang acap dia bawa. Kamera yang dijagokannya sebagai pemberi gambar bagus, jernih dengan akurasi maksimum.

Itu adalah kamera putih yang menurutnya telah memberinya beribu-ribu gambar pesisir dan laut Nusantara selama menjadi Menteri Kelautan dan Perikanan.

“Bu, mungkin suatu waktu bisa dipamerkan,” kata wartawan pada suatu ketika.

“Iya, mungkin saja,” katanya sambil mengangkat bahunya.

Di pagi jelang siang itu dia terlihat membidik pantai Cirebon, mengabadikan suasana kapal-kapal kecil menebas ombak dan kembali ke daratan Pantura, Jawa Tengah sebelum memasuki tapal batas Jawa Barat yang terkurung mendung.

Selain kamera, sebuah tas jinjing kulit berisi dua termos, satu bertuliskan teh, satunya kopi menjadi penemannya. Dua pilihan yang bagus disuguhkan untuk sesiapa teman perjalanannya. Selain minuman, Menteri Susi juga tak pernah luput dari buah. Kadang jeruk, kadang semangka, nenas hingga melon. Dia penikmat buah.

“Kopi bagus untuk fisik, asal jangan banyak gula, kalau perlu tak pakai gula,” katanya pada suatu ketika di Natuna.

Menikmati kopi sembari membaca realitas Indonesia (foto: K. Azis)

Terkait kamera, dia acap juga mengingatkan untuk tetap menjadi proporsi gambar. Pada beberapa kesempatan dia memberi masukan untuk foto yang terlihat blur atau ‘bergerak’.

Dalam perjalanan yang mendebarkan itu, lantaran saya tak minum kopi, saya meraih roti dan tak lupa mencicipi semangka bekal dari Tegal. Tak lupa saya candid, untuk dear readers bisa menikmati bagaimana Menteri Susi menikmati perjalanannya, bukan?

Gowa, 25/02

Advertisements

Ibu Susi dan Sampah Plastik di Pesisir Laut Natuna

Jangan biarkan sampah plastik merampas kehidupan laut (foto: Sukarma)

“Katanya orang Takalar, kenapa nggak berani berenang?” godanya. Saya menyengir dan mencebur diri ke laut Natuna dengan pelampung melekat di badan. Cie!

Siang itu, Si Ibu baru saja selesai mengayuh paddle, olahraga kesukaannya. Dia mengaso sembari menikmati segelas kopi. Laut mengalun. Dia bergoyang sembari mencandai kami.

Sebentar lagi Laut Natuna akan bergelora. Angin Utara yang diwaspadai nelayan-nelayan Anambas dan Natuna sebentar lagi tiba.

Sebelumnya, Si Ibu terlihat mengayun paddle-nya dengan cekatan, kami melihatnya mengayun dengan latar pemandangan batu-batu indah khas Natuna. Jika laut relatif tenang biasanya dia berdiri, tapi kali ini duduk, sesekali berbaring.

Bersama tiga orang lainnya, mereka mengarah ke utara, kami menanti di sudut tanjung.

Tak lama, dia menuntun saya dan lima orang lainnya ke tepian. Tak ada kata-kata, dia menepi ke pantai, di antara batu-batu besar. Kami mengikut. Sebagian lainnya masih di sekoci.

“Sampah plastiknya banyak banget,” katanya sembari menyisi tepi pantai.

Itu semacam kode untuk kami agar mulai bahu membahu mengumpulkan sampah yang berserak di tepi pantai. Dia juga memunguti sampah yang berserakan. Saking banyaknya, dasar laut terlihat menghitam penuh kantung kresek, sampah plastik, dan benda-benda asing lainnya.

“Ini bisa sampai setengah ton sampahnya,” imbuhnya.

Botol minuman berbahan kaca dan plastik, kantung kresek, wadah plastik, hingga baju partai berserak di tepi pantai. Di tepian laut, di kedalaman 30 meter, berlembar-lembar kantung plastik tertanam di dasar. Sebagian terlihat melambai mencipta suram.

Angin Laut Utara dan sampah-sampah kiriman dari wilayah lain disebut sebagai penyebabnya.

Kami menghabiskan waktu hingga dua jam di pantai itu sebelum kembali ke Kota Ranai dengan kesimpulan yang sama. “Laut kita telah tercemar sampah plastik yang hebat. Orang-orang harus diingatkan dampaknya.”

Kita harus mengingatkan orang-orang bahwa sampah yang dibuang ke laut telah membuat ekosistem semakin nelangsa. Jangan biarkan sampah plastik merampas dan merusak keseimbangan ekosistem laut Nusantara.

Jangan biarkan penyu makan plastik. Jangan biarkan organisme laut terganggu kehidupannya karena sampah plastik lebih banyak ketimbang lamun atau karang.

Guys, Hari Peduli Sampah Nasional yak, lindungi laut dari serbuan sampah plastik!

Kampus Sana, Kampus Sini

Suasana Universitas Cambridge (foto: unimira.ru)

Didirikan pada 1209, University of Cambridge memiliki sejarah yang panjang. Beberapa alumninya sungguhlah top, tersebutlah Sir Isaac Newton, fisikawan Inggris yang menemukan gravitasi, aktor Ian McKellen, matematikawan Stephen Hawking, aktris Emma Thompson dan redaktur surat kabar Arianna Huffington.

Universitas Cambridge memperoleh penilaian terbaik dalam empat kategori; pada penelitian, inovasi, pengajaran dan spesialisasi keilmuan. Universitas ini merupakan yang terbaik keempat di dunia atau terbaik pertama di Eropa serta masuk ke dalam posisi kelima terbaik berdasarkan potensi penerimaan alumni S2.

Penilaiannya adalah keseluruhan skor yang mencapai 95.6%, reputasi akademik 100%, sitasi per fakultas 78.3%, reputasi alumni yang terserap lapangan pekerjaan 100%, mahasiswa fakultasi 100%, fakultas internasional 97.4% dan mahasiswa internasional 97.7%.

Sementara itu, kampus ilmu Kebumian dan Ilmu Kelautan, ETH Zurich atau Swiss Federal Institute of Technology di Swiss, adalah kampus yang disebut terbaik di dunia pada urusan ilmu kebumian dan kelautan, disusul Harvard University (AS).

Peringkat berikutnya adalah University of California, Berkeley (UCB), University of Oxfaord (Inggris), Massachusetts Institute of Technology (MIT), University of Cambridge (Inggris), California Insttitute of Technology (Caltech) lalu Standford University.

Terbaik di Asia adalah Universitas Nanyang Technological University, Singapore (NTU), disusul National University of Singapore (NUS), Tsinghua Univesity di China, the University of Hong Kong, the University of Tokyo.

Ada apa di kampus sana?

Menarik untuk melihat alasan mengapa ETH Zurich disebut sebagai yang terbaik di urusan ilmu kebumian dan kelautan menurut QS World University Rankings.

Beberapa yang menjadi indikator adalah, kebebasan akademiknya, tanggung jawab, semangat kewirausahaan, dan keterbukaan terhadap dunia – nilai-nilai.

Kampus ini telah menjadi barometer keilmuan sejak tahun 1855 dan menjadi pusat pengetahuan dan inovasi. Berada di jantung Eropa, kampus ini telah menempatkan dirinya sebagai pelopor solusi yang efektif dalam menghadapi tantangan global yang dihadapi umat manusia.

Saat ini, kampus tersebut mempunyai 500 profesor, ada 20.000 siswa yang berasal dari 120 negara. Merupakan kawah candradimuka para peneliti atau ilmuwan yang bereputasi dunia.

Wajar ketika kampus ini berhasil menempatkan alumninya sebanyak 21 peraih Nobel, di antaranya Albert Einstein. Kampus ini menggunakan Bahasa Jerman untuk bidang S1 dan Bahasa Inggris untuk S2. Biaya kuliah persemester sekitar US $ 600).

Kampus lainnya yang bisa menjadi barometer untuk Eropa adalah Universitas Oxford di Inggris. Berada di peringkat 5 dengan raihan maksimun karena kualitas penelitian yang digelutinya, dedikasi dalam pengajaran serta inovasi dalam menawarkan kebaruan dan manfaat bagi dunia.

Kampus lainnya adalah Universitas Harvard. Adalah institusi pendidikan tinggi tertua di Amerika dan universitas terbaik ketiga di dunia menurut QS World University Rankings terbaru dan menempati urutan pertama di antara dua ilmu prestisius; Biologi atau Kedokteran, Ilmu Sosial atau Manajemen. Universitas ini juga termasuk di antara tiga universitas teratas di dunia menurut bidang studi QS berikut ini: Seni dan Humaniora, Ilmu Pengetahuan Alam.

Sosok seperti Mark Zuckerberg, Bill gates, hingga Barak Obama merupakan jaminan kampus ini merupakan yang terbaik.

Di kampus-kampus tersebut, dahaga pada Ilmu Kebumian dan Kelautan dapat dijawab dengan mengikuti kuliah-kuliah terkait evolusi kehidupan, planet, penyebab gempa bumi dan letusan gunung berapi, fenomena samudra dan atmosfer, hingga beragam proses alamiah di atas muka bumi, darat dan lautan.

Khusus untuk ilmu kelautan, bidang-bidang cabang yang bisa dipelajari seperti fenomena laut, dan bagaimana mengelola sumber daya kelautan agar dapat dimanfaatkan secara bertanggungjawan serta ramah lingkungan.

Ilmu Kebumian dan Kelautan menekankan pada telaah isu lingkungan. Pada aspek bagaimana sumber daya di bumi atau lautan dapat digunakan dengan arif di tengah tekanan. Bagaimana cara terbaik untuk mempertahankannya, memahami perubahan atmosfir dan pengaruhnya terhadap kehidupan di bumi, atau bagaimana aktivitas manusia dapat meningkatkan kemungkinan terjadinya bencana alam.

Kampus ini didukung oleh dosen bereputasi internasional yang diterima karena kompetensi dan kompetisi yang ketat, mahasiswa yang masukpun adalah yang memiliki nilai bagus dalam bidang matematika, kimia atau fisika bukan mahasiswa karbitan atau ‘diterima karena hanya mereka yang mendaftar’.

Di dalam, para mahasiswa harus menunjukkan ketertarikan pada sumber daya alam, pada ilmu pengetahuan bumi dan kelautan dan menunjukkan kesungguhan untuk menghidupkan ‘proses ideasi’ yang cerdas, bermoral dan tak takut bicara kebenaran.

Itu adalah cerita kampus-kampus di luar negeri sana.

Tentang kampus sini

Untuk yang di sini, apakah sudah seperti itu prestasinya? Atau paling tidak mempunyai kelengkapan proses belajar mengajar yang memberdayakan mahasiswa? Tidak mengerangkeng dengan regulasi berlapis, apalagi mendakwa dengan segala macam label pemberontak atau kriminal? Semoga tidak.

Jika boleh usul, kampus sini, harusnya lebih getol dalam mendorong mahasiswa untuk menghabiskan waktu dalam membaca subjek pengetahuan secara independen, mengkombinasikan edu-trip, melakukan ekspedisi atau bahkan mendorong untuk bisa bekerja sebagai pemagang atau sukarelawan di lembaga-lembaga kredibel.

Kampus sini harus lebih banyak mengkondisikan mahasiswa untuk fokus pada urusan laboratorium dan lapangan.  Bersiaplah untuk membuat tangan kotor dan benam dalam urusan penelitian lapangan, di gunung, di pedalaman, di pulau dan di palung-palung ilmu. Bagaimana menelaah gejala dan menemukan solusi.

Mahasiwa sini harus juga mampu membuktikan bahwa mereka semakin membaik dalam urusan menulis esai, melaksanakan proyek penelitian dengan jujur, melakukan presentasi lisan maupun ujian praktik yang membanggakan, bukan menjiplak seperti yang banyak dilakukan oleh mahasiswa-mahasiswa di Negeri Antah Berantah.

Kampus sini harus sungguh-sungguh membentuk kompetensi mahasiswanya, bukan kompetensi dosen belaka yang tidak jelas mau di kemanakan kompetensi itu. Mereka harus mendorong mahasiswanya untuk dapat melaksanakan tugas dengan bertanggung jawab, atau mencari tahu apa yang bisa dicapai. Lalu ‘bagaimana’, bagaimana pekerjaan yang akan dikerjakan setelah selesai kuliah.

Bagaimana kampus sini, menjadikan mahasiswanya atau luarannya ‘berbeda’ dalam area kompetensi yang bisa saja disandingkan dengan lulusan lain.

Kampus-kampus sana dikenal selalu menunjukkan tingkat kemahiran yang berbeda dan inovatif, kampus sini harusnya begitu juga.

Kampus-kampus yang disebutkan di atas, baik di sana dan di sini, seharusnya bermuara pada kualitas kompetensi alumni.

Pada bagaimana mengartikulasikan pengetahuan, keterampilan, kemampuan dan perilaku yang penting untuk kesuksesan ketika menjadi alumni. Dan yang pasti mampu mengkreasikan dan memanfaatkan peluang. Kalau tidak, mereka hanya akan jadi pengangguran intelektual.

Kampus-kampus sana dan sini, akan menjadi keren jika sungguh-sungguh pada empat tingkat kemahiran; pada pengetahuan dasar, kemampuan bekerja, keluasan pengetahuan, dan kemampuan memimpin dimana pun dia berada, dia punya leadership yang bisa mengakselerasi pencapaian visi kehidupan, di manapun dia berada.

Bagaimana penjabarannya, orang-orang di kampus sini mungkin sudah tahu.

Dia hanya perlu untuk keluar dari rutinitas yang sesungguhnya sangat membosankan itu.

Rawajati, 16/02

 

10 Negara dengan Angka Perbudakan Terbesar

Negara dan angka perbudakannya (foto: Forbes)

Jurnalis Forbes, Niall McCarthy, menuliskan artikel tentang negara-negara yang divonis sebagai negara dengan jumlah perbudakan terbesar di dunia.

Menurutny, di dunia yang telah sedemikian modern ini, isu perbudakan adalah persoalan, sebuah kenyataan yang brutal dan terjadi di banyak negara. Menurut Indeks Perbudakan Global tahun 2016 yang diterbitkan oleh Walk Free Foundation terdapat sekurangnya 45,8 juta orang yang terjerat tekanan perbudakan di 167 negara.

Sekitar 58% orang dari angka tersebut tinggal di lima negara yaitu India, China, Pakistan, Bangladesh dan Uzbekistan. Disebutkan pula bahwa Korea Utara memiliki prevalensi perbudakan tertinggi di dunia hingga 4,4 persen dari populasi lalu diikuti oleh Uzbekistan (4,0 persen) dan Kamboja (1,6 persen).

Perbudakan paling banyak terjadi di negara-negara yang memproduksi barang-barang konsumsi melalui tenaga kerja berbiaya rendah. Tiada yang bisa mengalahkan India, bahkan Cina sekalipun. Ada sebanyak 18,4 juta budak di India. Bandingkan dengan angka 3,4 juta di Cina dan 2,1 juta di Pakistan.

Negara-negara denga kondisi politik dalam negeri yang kondusif dan mempunyai postur ekonomi yang bagus memiliki sedikit korban perbudakan seperti Kanada, Jerman, Singapura dan Amerika Serikat.

Di mana Indonesia, coba lihat gambar di bagian awal tulisan ini.

 

Dewa Bumi Pan Ko Ong dari Galesong

Di depan Pan Ko Ong (foto: istimewa)

Suatu pagi tanggal 26 Januari 2009 di Kampung Lanna, Galesong. Pada ruas jalan berpasir dengan hamparan tipis kerikil, matahari mulai meninggi. Di lokasi yang hanya berjarak puluhan meter dari tepi pantai itu, saya awalnya hanya bermaksud mampir sejenak, memotret sebuah bangunan yang didominasi warna merah. Bangunan bertingkat dua itu tampak tak lazim.

Saya lalu mencatat nomor telepon yang tertera di pagarnya yang rapat. Terlihat menara mungil setinggi dua meter lebih di depan sebelah kiri bangunan. Warnanya kuning terang.

Setelah bertanya kepada warga di depan bangunan itu dan melihat beberapa anak-anak yang ikut bermain di halaman, saya pun memutuskan untuk masuk. Di dekat pilar bangunan yang dililt naga warna hijau, di samping wastafel dinding, saya jatuhkan pandangan pada tulisan berbunyi: “Gedung ini telah dilaksanakan purna pugar dan diresmikan pada hari Minggu, tanggal 27 Januari 2008. Kelenteng Tri Dharma Pan Ko Ong, Galesong Selatan, Kabupaten Takalar, Sulsel atas nama pengurus, Guru Hartono.”

“Kullejji antama tawwa?”, dalam bahasa Makassar saya bertanya, bisakah masuk?

“Masuk maki!” suara dari dalam menjawab ramah.

Orang tersebut mengenalkan diri sebagai Ramli. Tepatnya, Ramli Gondrong. Ramli dibantu Daeng Buang, sedang merapikan kertas-kertas berwarna merah, namanya buyang pabelo artinya kertas hiasan. Anak-anak yang berkerumun tadi menemaninya dengan sesekali bercanda satu sama lain.

Di dalam ruangan, di sebelah kiri terdapat wadah yang di depannya terdapat tulisan “na mo koang shi im phu sat” yang artinya Phu Sat yang maha penyayang dan pengasih. Di samping wadah ini terdapat buah apel yang tertata di atas nampan. Terlihat pula ada beberapa permen di piring.

Di tengah bangunan terdapat altar yang menyerupai undakan yang di atasnya terpasang dua arca kecil. Di depannya tampak lilin besar. Sementara di depannya lagi berjejer tiga bangku yang lebih menyerupai kursi rendah warna merah.

Tampak dua tingkatan ruang kecil yang terisi arca, diberi kode, 4, 2, 3. Pada bagian tengah duduk tiga arca berbaris ke belakang, itulah arca Pan Ko Ong dalam 3 wujud.

Di tempat lainnya terdapat arca warna putih dan di belakangnya arca menyerupai wanita yang dikelilingi arca anak-anak. Selain itu terdapat pula arca perak, yang di depannya terdapat arca yang terlihat gemuk. Itulah arca Buddha. Di sini tidak ada terjemahan penjelasan dari setiap tulisan dalam bahasa Mandarin.

Di dinding sebelah kanan terdapat daftar nama penyumbang renovasi klenteng, almanak berbahasa Mandari dan koleksi buku-buku bacaan agama Buddha.

Ruangan terlihat terang, karena di atasnya tergantung dua lampu indah menyerupai lampion dengan dua bola lampu besar di atasnya. Di dinding atas terdapat motif naga dua ekor sedang menyemburkan api dari lidahnya ke arah bola bumi yang diapitnya. Perpaduan warna merah dan biru muda terlihat begitu serasi. Tidak jauh dari pintu, tepatnya di bagian barat ruangan terdapat gendang tabuhan dari kulit hewan dan di sampingnya tergantung lonceng tembaga.

Rupanya, saat saya berkunjung, baru saja dilaksanakan upacara pembersihan arca Pan Ko Ong pada tanggal 18 Januari atau 23 Imlek. Adanya kesan bahwa bangunan ini terdiri dari dua lantai seperti yang terlihat dari luar rupanya tidak benar. Bangunan ini hanya satu lantai dengan langit-langit yang sangat tinggi.

***
Saya terkesan dengan keberadaan klenteng di pesisir Galesong ini. Saya penasaran dan akhirnya mengikuti papan penunjuk arah yang dijumpai di sepanjang jalan Makassar – Galesong.

Rupanya di Galesong ada Klenteng. Berbekal informasi dari Ramli dan setelah mengamati tampilan dalam, kemeriahan warna dan asap yang keluar dari hio, menjadi modal awal untuk menelisik lebih jauh. Informasi ini baru saya tahu setelah hampir empat puluh tahun mendengar kiprah para keturunan Tionghoa di Galesong Kota, pusat daerah pesisir selatan, 15 kilometer dari pusat kota Makassar.

Saya mencatat nama Baba Guru Hartono sebagai pengelola kelenteng mungil ini. Dia adalah ayah dari Sung, Gunawan dan Gunalan, teman sekolah saya di Galesong.

Ah, tiba-tiba saja, saya mengenang kakak dan adik kelas selama sekolah di SD Inpres Galesong yang berhadapan dengan kompleks rumah raja balla lompoa. Sung, adik kelas saya, sementara Gunalan dan Gunawan kakak kelas di SMP Galesong. Kami sering bermain bola di lapangan sekolah, walau tidak terlalu akrab saat itu.

Sejarah Tionghoa di Galesong

Hasrat menulis sejarah Tionghoa di Galesong, mengalir deras sejak terjalinnya perkawanan dengan salah seorang teman kelas di SMA Negeri 1 Makassar pada tahun 1986. Namanya Ho Gi Hok. Dari Ho inilah saya mendapat kesan tentang kekerabatan mereka. Saya yang bersekolah dasar hingga menengah pertama di Galesong Kota tahu bahwa di Galesong juga ada marga Ho. Galesong Kota adalah sebutan bagi ibukota Kecamatan Galesong Selatan, termasuk di dalamnya kawasan beberapa radius kilometer dari sentrum Balla Lompoa atau Rumah Kediaman Raja Galesong.

Siapa yang menyangsikan diaspora Tionghoa pada wilayah pesisir Sulawesi atau Indonesia secara umum? Mereka ada di mana-mana, utamanya di perkampungan pesisir. Sejarah dan peran mereka dalam kancah perkembangan ekonomi kawasan, sosial budaya dan politik sangat nyata dan menarik untuk dikaji. Keberanian dalam pelayaran jauh serta kemampuannya beradaptasi dengan komunitas lokal ditambah daya tahan mengarungi hidup jauh dari tanah leluhur, adalah kelebihan yang tak terbantahkan.

Dari teman bermarga Ho saya menyimpan keinginan untuk mengetahui sejarah marga Ho di Galesong. Ho Gi Hok, pernah bilang bawa marga Ho sering melaksanakan acara pertemuan di sekitar Jalan Sangir, Makassar. Sebelum bertemu dengan Baba Guru Hartono, saya berjumpa dengan Teng Niao. Wanita yang masih terlihat muda dengan kulit licin ini adalah istri Baba Guru. Pada tanggal 19 April 2009 saya bertemu di rumahnya yang juga merangkap sebagai bengkel.

Mata saya langsung tertuju pada sepasang foto dinding besar. Potret lelaki berwajah tenang, alis tebal dan mata sipit dengan sinar yang tajam. Saya teringat wajah aktor Bruce Lee. Di sampingnya, potret wanita yang terlihat sebagai wanita lokal. Wajahnya bulat dengan rambut yang tampaknya ikal. Asap dari hio mengepul dan sesekali menutup kedua wajah pasangan itu. Pasangan itu adalah orang tua Baba Guru, menantu dari Teng Niao.

Wanita yang terlihat masih awet muda ini, enggan bercerita banyak tentang sejarah klenteng itu. Dia hanya memperkenalkan anak bungsunya yang bernama Herry, 30 tahun. Saat itu tidak banyak yang diceritakan kecuali anaknya Sung yang kini bernama Suyono yang kini tinggal di Jayapura. Kemudian anak sulungnya, Gunawan, mengelola rumah makan ikan bakar di salah satu ruas jalan Wahid Hasyim di Jakarta.

Akhirnya, pada Minggu sore tanggal 26 April 2009, saya berpapasan Baba Guru yang hendak pulang ke rumahnya seusai membersihkan klentengnya. “Riballa paki accarita,” katanya. Nanti di rumah kita bercerita.

Saya pun memboncengnya menuju rumahnya. Letaknya tidak jauh dari Mesjid Raya Galesong.

Sore itu, Baba Guru Hartono masih sangat kuat dan tampan di balik kacamata tebalnya. Badannya terlihat gempal dengan senyum yang selalu terukir. Lelaki yang ramah.

“Kakek-nenek kami adalah pedagang dari negeri jauh,” katanya. Menurut cerita turun temurun, kedatangan pertama adalah di sekitar kawasan Bontoala, Kota Makassar. Lalu mereka datang dan menetap di Kampung Lanna pada tahun 1912. Tepatnya pada 12 April 1912. “Nenek moyang asal dari Desa Pa Li, kawasan Chang Co atau biasa disebut Hokkian.

“Saat tahun 1923, Oher menikah. Ia menikah dengan wanita Tionghoa setempat yang lebih dulu tinggal,” tuturnya.

Ia menyebut Oher untuk bapak. Semacam sebutan akrab untuk sang kepala keluarga.

Setelah bermukim di Kampung Lanna, yang oleh warga setempat disebut perkampungan China Tau, oleh pihak kerajaan Galesong kemudian orangtua Baba Guru, diminta bermukim di halaman Balla Lompoa, tepatnya di samping kanan bangunan. Namun beberapa tahun kemudian pindah ke depan balla lompoa, yang kini jadi lapangan sepak bola Galesong.

Jamaknya wilayah pesisir di Indonesia, Galesong merupakan salah satu kawasan yang juga dihuni oleh beberapa warga keturunan dari tanah Tiong Kok. Mereka beradaptasi dan berdekatan dengan para tokoh kunci di tanah yang ditujunya. Baba Guru bercerita tentang kedekatan hubungan keluarganya dengan keluarga kerajaan saat itu.

Saat Baba Guru masih dalam kandungan ibunya, bangsawan setempat, Haji Larigau Karaeng Galesong saat itu berjanji akan mengadopsi anaknya dan telah menyiapkan nama untuk si bayi kelak. Kalau lelaki akan diberi nama Baba Guru. Lelaki itu adalah dirinya kini. Pada tahun 1944, walau orangtuanya, memberinya nama Ho Ho Ping, namun Karaeng tetap memberinya gelaran Baba Guru.

Karena itu, walau Ho Ho Ping adalah nama yang disematkan ayahnya namun warga lebih senang memanggilnya Baba Guru. Dalam masa perkembangan kanak-kanaknya, Ho Ho Ping sempat mengecap beberapa pelajaran budaya Galesong dari keluarga Karaeng yang bermukim di Kampung Bentang. Termasuk beberapa nama sebagai kawan akrabnya adalah Razak Daeng Tutu dan Daeng Rurung, keluarga dekat kerajaan Galesong.

Baba Guru juga bersekolah di Sekolah Rakyat bersama anak-anak Karaeng di Galesong, di sekolah rakyat yang diasuh Karaeng Salle, ayahanda Prof Kaimuddin Salle dan Prof Aminuddin Salle. Kedua orang terakhir adalah tokoh penting asal Galesong yang tenar dalam bidang ilmu hukum, baik di tingkat regional maupun nasional.

Selama tinggal di Galesong, ayah Baba Guru yang bernama Ho Kim Tjui dan istrinya Tung Soak Tin atau biasa disebut Nona Tinggi, berdagang dengan membuka usaha toko kelontong kebutuhan nelayan. Belakangan kemudian mereka menggeluti bisnis ikan dan telur terbang serta pengiriman kacang hijau antarpulau.

Keberadaan warga Tionghoa di Galesong dapat ditemui di beberapa kawasan. Menurut Baba Guru Hartono, terdapat beberapa marga Tionghoa yang berdiam di pesisir Galesong. Mulai dari pesisir selatan tepatnya di Kampung Saro dihuni Marga Oey, marga Tung dan Tang di Galesong Kota termasuk kampung Lanna, Marga Yo di Kampung Lanna hingga di Kampung Soreang (Galesong Utara) yaitu marga Phie. Beberapa nama penting dan berpengaruh secara ekonomi di sana adalah Baba Lompo atau Baba Sangkala, Haji Syamsu, dan Haji Mangung di Soreang.

Baba Guru bersaudara sembilan orang. Kedelapan saudaranya sudah meninggal. Dia adalah anak ke-9 dan lahir pada tanggal 8 Agustus 1944. Ia aktif di klenteng sejak orangtuanya meninggal. Komunitas Tionghoa pernah mempunyai kuburan khusus yaitu di Kampung Sampulungan dan Kampong Beru di Kecamatan Galesong Utara namun kemudian dipindahkan ke Makassar.

Jelas sekali terbaca bahwa secara historis mereka telah diterima oleh kerajaan dengan baik bahkan diberi tempat istimewa yaitu dari lokasi kediaman Karaeng. Mereka juga diterima dan berbaur dengan warga lokal. Selama tinggal di Kampung Lanna, mereka merajut hari-hari dengan bergaul dengan warga setempat. Mereka menjalin kerjasama usaha dengan beberapa pihak. Sebagian warga memang menjadi nelayan tetapi lebih banyak yang jadi pedagang.

Sejarah Klenteng Pan Ko Ong

Klenteng ini berdiri pada tahun 1923, sejak orangtua Baba Guru menikah. Tetapi masih dalam wujud sederhana ketika berlokasi di Kampung Lanna. Tahun 1956, klenteng itu dipindahkan ke Kota Sungguminasa, yang berdekatan dengan Kompleks Balla Lompoa kediaman keluarga Raja Gowa. Tepatnya di jalan Wahid Hasyim No. 66 Sungguminasa. Klenteng yang berdampingan dengan toko ini kemudian pindah lagi ke Galesong setelah toko di Sungguminasa itu dijual oleh Baba Guru.

Baba Guru ingat bahwa pada tahun 1975, ayahnya, Ho Kim Tjui mendaftarkan klentengnya dengan nama “Cetya Pan Ko Ong” Cetya, berarti rumah ibadah kecil. Seperti kata musalah untuk tempat salat kalangan muslim. Di masa Orde Baru, penggunaan kata “klenteng” dilarang, sehingga disebut vihara saja. Hingga kemudian di era reformasi, warga Tionghoa utamanya pengikut ajaran Buddha menggunakan istilah klenteng kembali.

Klenteng Pan Ko Ong juga terdaftar sebagai anggota Perkumpulan Tri Dharma yang bermarkas di Kota Surabaya, Jawa Timur. Beberapa perwakilan dari perkumpulan ini juga sudah pernah berkunjung ke Galesong. Menurut Baba Guru Hartono, kebudayaan Tionghoa yang mereka anut bersumber dari ajaran Khonghucu atau Buddha.

Baba Guru mulai fokus dalam mengurus kegiatan ini beberapa tahun terakhir setelah melepaskan beberapa kegiatan bisnisnya. Baba Guru memang pebisnis sejati. Dia pernah berbisnis telur ikan terbang, hasil bumi seperti kacang hijau, kontraktor proyek pemerintah di Takalar dan Makassar, mengelola bioskop dekade 70 hingga 80-an di Galesong hingga mengelola kelompok Barongsai.

Tentang Barongsai, menurut Baba Guru, mulai diaktifkan sejak tahun 2003. Saat Aburrachman Wahid menjadi presiden pertama di era reformasi, warga Tionghoa diizinkan merayakan Imlek secara terbuka dan besar-besaran. Di penanggalan, Imlek adalah hari libur nasional. Di kala itulah, Barongsai marak kembali.

Klenteng Pan Ko Ong atau Klenteng Dewa Pan Ko Ong menurut Baba Guru Hartono adalah dewa bumi. Dewa yang digambarkan sebagai dewa yang memanggul bumi. Dewa inilah yang pertama mewujudkan bumi dengan segala isinya. Menurutnya, dari rambut dewa maka jadilah pohon-pohon, dari matanya kemudian jadi matahari, dari air matanya maka turunlah hujan dan mengalirlah sungai.

Di tempat terpisah, Merlin Herlina, seorang kawan keturunan Tionghoa di Makassar yang gemar menelusuri sejarah nenek moyangnya, membenarkan bahwa berdasarkan cerita dari keluarganya, Pan Ko Ong adalah orang pertama yang ada di dunia, jauh sebelum ras manusia ada dan beranak-pinak. Merlin bahkan menambahkan bahwa di dalam komik berjudul “Origins Of Chinese Festivals”, terbitan Asiapac-Singapore ada salah satu bagiannya yang bercerita tentang penciptaan dunia. Ringkasnya begini:

“Menurut kepercayaan orang Tionghoa, pada awalnya, langit dan bumi menyatu dalam sebuah telur. Di dalamnya juga terdapat seorang pria raksasa bernama Pan Gu (baca: Phan Ku). Suatu hari, Pan Gu bangun. Dia mendorong dari dalam hingga cangkang telur pecah. Bagian atas yang didorongnya menjadi langit, bagian bawahnya menjadi tanah. Pan Gu menahan langit dan memijak tanah selama hidupnya. Setelah puluhan ribu tahun, bumi menjadi lebih tebal dan langit semakin tinggi.

Sepeninggal Pan Gu, mata kirinya menjadi matahari, mata kanannya menjadi bulan. Tubuhnya menjadi gunung-gunung. Darahnya menjadi air. Rambutnya menjadi tanaman. Keringatnya menjadi hujan dan kabut. Intinya, semua tubuhnya telah dipergunakan.”

Kini Dewa itu ada di Galesong, dewa yang menitis dalam Arca Pan Ko Ong. Persis seperti yang diyakini Baba Guru Hartono di Galesong. Baba Guru berbangga karena dari peninggalan leluhurnya, Arca Pan Ko Ong ini menjadi sangat istimewa.

“Dari Makassar hingga daerah Jawa Timur tidak ada satupun Klenteng yang menggunakan Dewa Pan Ko Ong sebagai nama atau kekhasannya,” ujarnya. “Kami punya arca Pan Ko Ong. Arca Dewa Pertama yang hanya ada di Galesong. Dewa-Dewa yang lain memang ada sesuai dengan tugas dan wewenangnya di bumi,” lanjut Guru Hartono.

Klenteng adalah sebutan untuk tempat ibadah penganut kepercayaan kaum Tionghoa di Indonesia pada umumnya. Dikarenakan di Indonesia, penganut kepercayaan tradisional Tionghoa sering disamakan sebagai penganut agama Konghucu, maka klenteng dengan sendirinya disamakan sebagai tempat ibadah agama Konghucu.

Tidak ada catatan resmi bagaimana istilah “Klenteng” ini muncul, tetapi yang pasti istilah ini hanya terdapat di Indonesia karenanya dapat dipastikan kata ini muncul hanya dari Indonesia. Mungkin dari bunyi “teng…teng…teng” yang selalu terdengar setiap ada upacara ritual.

Tahun 1965, ketika perisitiwa G30S pecah, kebudayaan Tionghoa sempat dibatasi bahkan dilarang, termasuk di dalamnya penggunaan kata klenteng. Aturan ini berlaku hingga zaman Orde Baru. Klenteng banyak yang terancam ditutup. Banyak dari mereka kemudian menyebut tempat ibadah itu dengan vihara dan memeroleh surat izin dalam naungan agama Buddha.

Setelah Orde Baru berakhir, fajar Reformasi terbit, banyak vihara yang kemudian kembali ke nama semula yang berbau Tionghoa. Mereka lebih berani menyatakan diri sebagai klenteng.

Dari kunjungan saya ke klenteng Pan Ko Ong, barulah saya paham bahwa klenteng ini ternyata bukan lagi milik dari marga, suku organisasi tertentu, tapi adalah tempat umum yang dipakai bersama. Klenteng adalah juga pusat kegiatan sosial warga Buddha untuk merefleksikan keyakinan mereka. Klenteng dalam bahasa Mandarin disebut miao, dialek Hokkian disebut bio. Sejarah bio sudah sangat lama, hampir sepanjang umur kebudayaan Tionghoa.

Satu pemandangan khas ketika masuk di ruang klenteng adalah warna merah yang sangat menonjol. Itulah ciri utama bagian dalam bangunan itu. Hampir semua klenteng Tionghoa tampaknya memang dicat warna mencolok. Terutama merah terang (jenis vermillion). Orang Tionghoa menganggap warna-warna itu (khususnya merah terang), melambangkan kharisma, keagungan, serta vitalitas yang cocok dengan sosok dewa-dewi yang bersemayam di dalam klenteng.

Beberapa orang Tionghoa percaya, warna merah terang tersebut hanya bisa dipakai di klenteng. Aura ‘chi’ atau hawa dari warna ini terlalu kuat bagi kediaman manusia. Coba amati di daerah Pecinan (atau rumah-rumah orang Tionghoa lainnya), tak ada yang pagar, pintu, tembok atau gentingnya dicat merah terang,” Kata Merlin Herlina lagi.

Lalu tentang dewa bumi Pan Ko Ong, melengkapi penjelasan Baba Guru, Merlin menyebut bahwa tidak banyak yang tahu cerita tersebut, bahkan di kalangan orang Tionghoa sendiri.

Sebenarnya, dewa-dewi Tionghoa juga mengalami evolusi. Pan Gu (dalam ejaan Hanyu Pinyin) atau Pan Ko (dalam dialek Hokkian), merupakan dewa paling awal dalam kepercayaan Tionghoa yang kisahnya telah mengabur pada generasi sekarang. Pun tidak semua orang Tionghoa memuja Pan Ko Ong. “Di Sulawesi Selatan klenteng Pan Ko Ong cuma satu dan terdapat di Takalar. Saya dan keluarga juga belum pernah mengunjungi klenteng itu,” kata Merlin.

Ritual di klenteng biasanya berlangsung pada pagi jam 07.00 dan sore hari pada pukul 17.00. Selain kegiatan rutin, pengurus klenteng juga kerap membagikan sembako dan kebutuhan warga lainnya. Utamanya pada hari-hari raya. “Pemberian ini adalah wujud kepedulian kami. Bukan hanya sekarang tapi sejak puluhan tahun silam,” kata Baba Guru.

Setiap tahun selama bulan Agustus, beberapa lokasi target bakti sosial adalah dusun Tabbuncini, Suli’, Lanna.

“Tapi tahun ini, kita sudah rencanakan kegiatan bakti sosial tanggal 2 Mei”. Makanan yang dibagikan seperti sembako dan mi instan.”

Tidak ada niatan lain selain berbagi bersama, sesama umat manusia., katanya mengenai kegiatan sosial itu. Namun yang pasti wujud, proses dalam kelenteng saat ini adalah mengambil konsep ritual Taoisme, Konfusianisme dan konsep kehidupan setelah mati dari Buddhisme. Seperti yang dibaca dari kitab-kitab yang menjadi rujukan.

Kini, bersama group barongsai yang dipimpinnya, terdiri dari warga Galesong dan Makassar, Baba Guru sudah beberapa kali ikut kegiatan upacara keagamaan hingga wilayah Mamasa di Sulawesi Barat, Tuban di Jawa Timur. Mereka membawa nama Galesong.

“Kadang orang heran juga, rupanya ada Barongsai dari Galesong. Ada yang bertanya, di mana itu Galesong?” Katanya seraya menunjukkan mimik kagum, menunjukkan respons orang-orang yang ditemuinya di beberapa daerah. “Kami bangga karena dianggap mewakili daerah Galesong. Padahal biasanya barongsai hanya ada di kota-kota Pecinan maju seperti Makassar dan Jakarta.”

Sungguminasa, 27 April 2009

Stok Ikan, Tren Pemanfaatan dan Produksi Negara

Ikan untuk kesejahteraan

Pembangunan yang direncanakan harus bertumpu pada data dan informasi faktual. Merujuk pada hasil analisis gap dan arah perubahan yang diinginkan. Di sektor kelautan dan perikanan, terutama pembangunan masyarakat dengan memanfaatkan sumber daya perikanan hal serupa juga harus menjadi acuan; data dan informasi faktual.

Pertanyaannya, bagaimana memastikan bahwa data dan informasi di lautan, seperti ikan serupa atau paling mendekati perhitungan ‘menghitung daging ternak di kandang terkontrol’.

Maksud saya, menghitung stok ikan tak semudah menghitung stok daging sapi, misalnya. Ikan yang mobile dan melanglang lautan dunia adalah persoalan, meski demikian, selalu ada cara untuk mengendalikannya, setidaknya memantau lalu lintas ikan yang didaratkan di pangkalan pelabuhan perikanan dan mencatat tren-nya. Tentu dengan membandingkan jumlah unit alat tangkap, ruang dan waktunya.

Mengenal MSY

Salah satu pendekatan yang digunakan untuk mengkalkulasi potensi kelautan dan perikanan adalah MSY atau Maximum Sustainable Yield. Pendekatan ini telah diterima secara luas sebagai ‘grandmaster’ pengelolaan perikanan meskipun tetap debatable.

Konvensi Bangsa tentang Hukum Laut (UNCLOS, 1982) menorehkan catatan bahwa setiap negara harusnya menetapkan jumlah tangkapan yang diijinkan, berdasarkan informasi ilmiah, yang didesain untuk memelihara atau menempatkan spesies target ke tingkat yang mendukung hasil MSY itu.

Kebijakan ini ditegaskan kembali pada tahun 2002 yang menekankan perlunya mempertahankan atau memulihkan stok ikan ke level yang bisa menghasilkan hasil lestari maksimum (MSY).

Ada banyak kebingungan seputar MSY, terkait penerapannya, khususnya terkait bentuk atau strategi pengelolaan yang tepat. Meski demikian, secara umum disepakati bahwa “Kebijakan Perikanan harus menerapkan pendekatan kehati-hatian terhadap pengelolaan sumber daya ikan agar ikan yang ditangkap sesuai atau di atas tingkat biomassa yang dapat menghasilkan hasil lestari maksimum pada tahun 2015. ”

Di Indonesia, berdasarkan Keputusan Menteri Kelautan dan Perikanan No 45 tahun 2011 telah disiapkan kajian dan menghasilkan peta status stok ikan dengan menggunakan kode “traffic light”, hijau, kuning, dan merah pada beberapa peraitan nasional yang memberikan informasi kepada pengambil kebijakan pembangunan kelautan dan perikanan. Dari situ diperoleh informasi bahwa hampir duapertiga status eksploitasinya berada pada warna kuning (fully exploited) dan merah (over exploited).

Pemerintah Indonesia mengadopsi konsep MSY a la Schaefer yang dikembangkan pada tahun 1950-an. Metode analisis effort data atau “upaya dengan hasil tangkap”. Meski demikian ada diskursus juga bahwa metode ini sudah tidak relevan karena sifat perikanan Indonesia yang variatif (dari ragam alat dan jenis ikan).

Beberapa pihak tak ‘optimis’ dengan metode MSY karena dianggap membutuhkan sampel amat luas, lama, dan membutuhkan peneliti yang banyak. Menduga stok dengan MSY dianggap mustahil.

Isunya adalah keakuratan data dan informasi, berapa stok dan berapa yang bisa dimanfaatkan sesuai kategori masing-masing spesies ikan demi kelestarian jenis-jenis tersebut.

Armada perikanan di Bitung (foto: istimewa)
Armada perikanan di Bitung (foto: istimewa)

Tapi apapun itu, niat yang ingin direalisasikan adalah pengelolaan perikanan yang bijaksana, sebab ini berkaitan dengan selera pemanfaatan, pengalokasian sumber daya melalui alat tangkap, manusia dan sarana prasarana pendukung yang jika dilakukan serampangan akan berdampak pada kian memburuknya potensi perikanan sebagai tabungan generasi.

Di luar sana, negara-negara maritim kian agresif dan sedang mencari celah untuk menyusup ke perairan-perairan kita, diperlukan regulasi yang ketat dengan membaca potensi yang ada.

***

Meski memancing perdebatan, diskursus hingga penolakan, Organisasi Pangan dan Pertanian Perserikatan Bangsa-Bangsa (FAO) sesungguhnya telah lama merilis istilah-istilah perikanan yang bagi sebagian kita mungkin belum sepenuhnya masuk akal dan ‘apa iya?’.

Pengalaman Indonesia dalam menilai stok ikan pasca moratorium dan sepakterjang Menteri Susi di lautan sejak tiga tahun terakhir merupakan contoh tentang ‘diskursus’ atas stok ikan itu. Apakah bertambah, atau sebaliknya. Beberapa ahli perikanan malah dengan terang-terangan menolak data yang dirilis Pemerintah.

Akademisi, praktisi LSM lingkungan atau mahasiswa Kelautan dan Perikanan, misalnya, telah lama benam dalam istilah-istilah yang direproduksi Lembaga seperti FAO itu. Misalnya, apa itu status ‘underexploited’? Mari kita simak satu-satu.

Underexploited dimaknai sebagai potensi yang belum dikembangkan atau dapat menjadi lokasi perikanan baru yang diyakini memiliki potensi signifikan. Hal yang bisa jadi mengundang debat di situasi domestik negara ketika ada pro-kontra dalam penerapan kebijakan pemanfaatan sumber daya perikanan.

Yang kedua adalah ‘dieksploitasi secara moderat’, dimaknai sebagai usaha perikanan yang dapat ditoleransi dan diyakini memiliki potensi terbatas untuk dikembangkan secara intensif.

Istilah ketiga adalah ‘termanfaatkan sepenuhnya’  bermakna bahwa potensi tersebut telah dimanfaatkan atau dieksploitasi pada atau mendekati tingkat hasil optimal, dan diharapkan tidak diperluas lagi.

‘Over fishing’ yaitu situasi ketika suatu kawasan perikanan telah dieksploitasi di atas level yang diyakini berkelanjutan dan telah digarap secara jangka panjang. Pada situasi ini tidak ada ruang untuk selanjutnya dieksploitasi sebab ancaman menipisnya stok semakin dekat.

‘Catch Depleted’ dimaknai sebagai situasi perikanan dimana potensinya telah berada jauh di bawah situasi sejarah potensinya.

Pentingnya pengendalian

Ada baiknya membuka catatan FAO yang pernah meneliti 600 jenis ikan potensial, Menurut mereka, dari angka itu, terdapat indikasi bahwa ada 3% jenis ikan yang tidak dieksploitasi, ada 20% yang dieksploitasi secukupnya, 52% sepenuhnya dieksploitasi, 17% telah dieksploitasi secara berlebihan, 7% telah habis dan ada 1% pulih dari ancaman kepunahan.

Terdapat beberapa jenis yang diperiksa oleh FAO sebagai yang terancam karena eksploitasi yang massif seperti yang terjadi di Perairan Atlantik Barat Laut dimana ikan Cod Atlantik, atau ikan Haddock telah mengalami depleted.

Di Perairan Atlantik bagian tenggara ikan-ikan kakap, Bluefin tuna Atlantik, dianggap telah nyaris kolaps. Demikian pula ikan-ikan seperti Blackfin Icefish dan Mackerel Icefish di Antartika yang sudah mengalami penipisan stok.

Sebenarnya FAO telah melaporkan pada tahun 2004 tentang stok ikan dunia yang dikaji mendalam sejak tahun 2002.

Salah satu lokasi yang disebut mengalami deplesi adalah kawasan Lautan Hindia Timur Jauh atau area FAO-57. Status perikanan di sini beraganm dari sepenuhnya dieksploitasi hingga over eksploitasi dan dilakukan oleh nelayan-nelayan India, Thailand, Indonesia hingga Malaysia.

Penjual ikan di Pasar Bosnik, Biak (foto: NMN)
Penjual ikan di Pasar Bosnik, Biak (foto: NMN)

Beberapa jenis yang diintensif diburu adalah jenis Ponyfish Leiognathidae, Stolephorus anchovies (teri), Mackerels Rastrelliger spp (tenggiri), Banana Prawn Penaeus merguiensis (udang), Giant Tiger Prawn Penaeus monodon (udang). Hal demikian juga terjadi di sekitar wilayah bagian Barat Pasifik di mana di dalamnya ada nelayan-nelayan Thailand, Indonesia, Malaysia, Filipina.

Tuna Albacore atau Thunnus alalungae telah mengalami eksploitasi berlebih oleh nelayan Taiwan, Cina, Spanyol, Afrika Selatan sejak lama dan terancam hilang.

Demikian pula ikan Atlantic Bluefin Tuna, Thunnus thynnus yang telah lama diincar nelayan-nelayan Perancis, Italia, Spanyol dan Maroko. Demikian pula Bigeye Tuna, Thunnus obesusi yang diincar dan dieksploitasi berlebihan oleh nelayan Spanyol, Taiwan, Jepang. Ikan Bluefin Tuna Thunnus maccoyii telah menipis karena tekanan nelayan Jepang, Taiwan dan Afrika Selatan.

Menurut FAO dari sekitar 1500 jenis stok ikan, yang masih melimpah hanya ada 500 dari keseluruhan atau dengan kata lain sebagian besar telah mengalami deplesi stok. Sebagian besar jenis ikan telah dieksploitas sejak lama, di sekitar tahun 1900-an awal. Seperti ikan kod di lepas pantai Norwegia.

Meski masih menjadi perdebatan, penentuan stok ikan merupakan hal penting dalam memandang keberadaan atau masa depan ikan-ikan ekonomis di lautan dunia.

***

Ada asumsi bahwa 56,4% stok ikan telah dieksploitasi berlebih atau habis, bukan 29,9% seperti yang diklaim oleh FAO.

Sebuah laporan yang dirilis oleh unit riset SOFIA, beberapa tahun lalu disebutkan bahwa stok yang telah dieksploitasi berlebihan atau habis telah meningkat dari 10% di tahun 1974 menjadi 29,9% di tahun 2009.

Proporsi stok yang dieksploitasi sepenuhnya naik selama periode waktu yang sama, dari 51% ke 57%.

Stok yang tidak dieksploitasi secara keseluruhan, sebaliknya, telah menurun sejak 1974 dari hampir 40% menjadi hanya 12,7% pada 2009. Ini berarti bahwa meski perhatian pada pengurangan aktivitas berlebih telah semakin intensif namun situasinya tidak membaik.

Ada praktik perikanan yang menerabas dan mengambil banyak dalam sekali operasi seperti trawl. Trawl menjadi sangat massif di tahun 70-an hingga 90-an di banyak lautan dunia. Situasi stok terus memburuk.

Yang menarik dicermati juga adalah total tangkapan ikan tahunan telah berfluktuasi selama sekitar 20 tahun antara 50 dan 60 juta ton. Puncaknya pada 1994 yaitu sebesar 63,3 juta ton.

Pada 2011 dilaporkan ada sebesar 53,1 juta ton ikan yang didaratkan atau empat kali lebih banyak dari tahun 1950 yang hanya 12,8 juta ton.

FAO mencatat bahwa eksploitasi ini tidak hanya ikan tetapi juga udang, kerang dan cumi, belakangan muncul gurita, kekerangan bahkan ikan hiu. Jika jumlah tersebut ditambahkan pada ikan, jumlah tangkapannya jauh lebih besar.

Dengan demikian, selama 20 tahun terakhir, total tangkapan laut mencapai 80 juta ton per tahun. Puncaknya dicapai pada tahun 1996 dengan 86,4 juta ton. Pada 2011 itu 78,9 juta ton.

Telunjuk ke Cina

Berdasarkan paparan di atas, berdasarkan situasi perikanan yang semakin memburuk sejak tahun 90-an, dan ketika membaca bahwa volume tangkapan sebagai tolok ukur, maka Cina adalah negara yang paling bisa dijadikan ‘pelaku paling agresif’ beberapa tahun belakangan. Pertimbangan kebutuhan konsumsi warganya yang sangat besar memaksa Negera Tirai Bambu itu untuk semakin ekspansif.

Pemerintah mereka menggariskan kebijakan proggressif untuk memberi subsidi ke industri perikanannya. Mereka mendorong kapal-kapal ikan yang mencapai 200 ribu untuk bermigrasi ke lautan luas, dari ZEE hingga ke high seas.

Armada cina (sumber: ecns.cn)
Armada cina (sumber: ecns.cn)

Di tahun 2002 dilaporkan bahwa Cina adalah eksportir produk ikan dan makanan laut terbesar di dunia. Lalu di 2005, mereka mengekspor produk ikan dan makanan laut senilai US $ 7,7 miliar.

Saat ini, data terbaru yang diperoleh dari International Trade Centre, ekspor ikan dan makanan laut mereka menghasilkan pendapatan sebesar US $ 14,1 miliar per tahun.

Pada 2013, ekspor unggulan Cina termasuk cumi-cumi dan sotong beku senilai US $ 1,6 miliar, udang sebesar US $ 1,2 miliar, dan ikan beku US $ 1 milyar. Jepang, Amerika Serikat, dan Hong Kong merupakan tujuan ekspor utama ikan Cina.

Jumlah pelaku (nelayan) yang ikut program perikanan intensif Pemerintah pada tahun 2010 dilaporkan sebanyak 14 juta orang.

Setelah Cina, Peru sampai tahun 2009 merupakan negara kedua namun telah merosot ke posisi empat.

Hal ini disebabkan oleh rendahnya tangkapan ikan teri yang dapat dianggap berasal dari perubahan iklim yang ekstrem dan berdampak pada stok ikan terinya. Mereka juga mulai menutup beberapa wilayah perairan demi melindungi stok ikan teri di masa depan.

Indonesia saat ini adalah negara kedua dengan cadangan perikanannya dan sedang pada posisi ‘on fire’ untuk mengelola sumber daya perikanan mereka setelah kebijakan revolusioner perikanan di bawah kendali Presiden Jokowi.

Amerika Serikat sebagai yang ketiga. Belakangan juga Rusia mulai dipertimbangkan.

Sejak tahun 2004, tangkapan nelayan Rusia meningkat sekitar 1 juta ton. Menurut pihak berwenang Rusia, pertumbuhan ini merupakan hasil tata kelola yang mulai intensif.

Rusia berencana untuk memperluas industri perikanan di tahun-tahun mendatang, tujuannya adalah untuk mendaratkan 6 juta ton pada tahun 2020. Angka ini lebih banyak dari gabungan semua negara Uni Eropa, yang berjumlah 5,2 juta ton pada tahun 2010.

Membatasi Ruang Gerak Nelayan Cina

Armada Cina (foto: ecns.cn)

Perairan dingin namun subur itu berada di pesisir timur Jepang. Kaya ikan sarden, tenggiri, teri dan kekerangan. Adalah spot penangkapan ikan paling melimpah di Asia. Dengan itu, Jepang memenuhi kebutuhan industri perikanannya dengan nilai sekira US $ 9 miliar setiap tahun.

Namun, kini, nikmat Jepang tersebut mulai terusik ketika ada bukti nelayan berarmada tidak kurang 200 unit dari Cina, mulai merangsek dan mendirikan camp di tepi Zona Ekonomi Eksklusif Jepang (ZEE).

Kapal-kapal tersebut disinyalir menggunakan alat tangkap yang menguras isi laut karena menggunakan jaring skala besar. Demikian laporan seorang pejabat Jepang kepada TIME, (2016).

“Kawasan itu sangat luas sehingga mereka banyak menangkap spesies laut bahkan yang kecil (juvenile),” kata pejabat tersebut yang tidak bersedia disebutkan namanya.

“Ini berdampak besar pada perikanan Jepang.” sebutnya lagi.

Beberapa kapal Cina disebut memasuki laut teritorial Jepang sehingga menimbulkan ketegangan baru di sekitar wilayah itu. Hal yang kemudian mendorong Menteri Luar Negeri Jepang untuk memanggil duta besar Cina untuk memperoleh penjelasan terkait itu.

Jepang hanyalah salah satu negara yang merasakan berapa ekspansifnya nelayan Cina karena beban industri perikanan yang kian membengkak di Cina. Mereka menjadi eksploitas karena subsidi Pemerintah.

Intinya, industri perikanan Cina yang beraroma ilegal, tak terlapor, tak diatur (IUUF) telah tiba di ‘titik mengkhawatirkan’ pada beberapa wilayah rentan di dunia. Hal ini diperburuk pula oleh kondisi daya dukung laut pedalaman Cina yang sudah tak produktif lagi.

Beberapa waktu lalu, Kementerian Pertanian Cina melaporkan telah meraup 13 juta ton ikan di perairan teritorial Cina setiap tahun dimana 4 juta hingga 5 juta ton lebih diperoleh dari cara-cara berkelanjutan.

Disubsidi pemerintah

Ada perhatian lebih di tingkat Pemerintah setempat untuk mendorong sifat ekspansif nelayan mereka, untuk semakin jauh ke laut jauh. Mereka diberikan subsidi maksimum agar bisa lebih jauh beroperasi.

Data beberapa organisasi lingkungan dunia menunjukkan betapa armada laut lepas atau jauh Cina telah menggunakan praktik IUUF demi menjarah jutaan dolar dari laut. Mereka disebut menyamarkan lokasi sebenarnya, menggunakan alat tangkap merusak dan melabrak batas-batas territorial negara lain yang berdaulat.

Yang ironi bahwa ikan-ikan hasil tangkapan tersebut ditujukan untuk memenuhi pasar Amerika dimana diperkirakan ada 20% sampai 32% datang dari hasil pasar gelap (2011). Cina adalah eksportir makanan laut No. 1 ke dapur-dapur rumah dan restoran orang Amerika.

IUUF adalah musuh bersama sebab mengancam mata pencaharian jutaan orang di seluruh dunia dan mengancam keamanan global. Oleh sebab itu dibutuhkan upaya untuk penegakan undang-undang yang lebih baik, melalui penyediaan alat pelacakan kapal.

Salah satu lokasi yang paling rentan pada praktik IUUF adalah Afrika Barat. Kawasan yang memiliki lokasi penangkapan ikan paling subur dan produktif. Disebut rentan sebab Pemerintah setempat memiliki kemampuan penegakan hukum yang terbatas ditambah perilaku korupsi pejabatnya.

“Saat ini, sepertiga dari semua hasil laut tangkapan di Afrika Barat diperoleh secara ilegal oleh nelayan Cina,” kata Steve Trent, direktur eksekutif LSM Justice yang berbasis di London.

“Ini terjadi pada skala yang mengkhawatirkan dan lebih besar dari yang pernah kita lihat sebelumnya,” tambahnya.

Dengan VMS bisa mendeteksi transshipment (foto: Bloomberg)
Dengan VMS bisa mendeteksi transshipment (foto: Bloomberg)

Kapal penangkap ikan Cina, menggunakan alat tangkap yang oleh PBB disebut dilarang. Dan menyebabkan berkurangnya populasi ikan dengan ekstrem.

Jaring hanyut yang ditemukan oleh pemerhati lingkungan berkisar antara 10 sampai lebih dari 100 mil laut, sedalam 40 feet. Mereka mengambil hiu, penyu dan pesut sebagai bycatch.

“Dengan dua atau tiga kapal ikan mereka menyisir dan mengeksploitasi pesisir laut Sierra Leone, misalnya, dalam waktu yang sangat singkat jika mereka menggunakan alat tangkap yang menambil banyak ikan dan merusak laut,” kata Trent.

Lima tahun lalu, kebanyakan kapal yang datang ke perairan Afrika Barat adalah dari Taiwan dan Korea Selatan dan sekarang hamper semuanya adalah nelayan Cina.

Menyembunyikan identitas

Selain korupsi dan penegakan hukum yang lemah dari negara di sekitar perairan ini, hal ini juga disebabkan oleh kapal-kapal Cina yang menyembunyikan identitas mereka.

Seringkali mereka mengganti nama lambung dan menggunakan bendera negara dimana dia berada atau melarikan diri saat didatangi oleh penjaga pantai.

Mereka juga sengaja menonaktifkan perangkat Sistem Identifikasi Otomatis (AIS). AIS adalah alat yang menunjukkan posisi kapal dengan merujuk ke satelit.

Terkait tren seperti ini, selama beberapa tahun terakhir, SkyTruth, sebuah LSM di Amerika Serikat bersama dengan Google dan kelompok lingkungan Oceana telah mengembangkan sistem pemantauan AIS global, yaitu Global Fishing Watch, yang memungkinkan untuk melacak kapal secara real-time dalam upaya memerangi praktif IUUF.

Nelayan Cina (foto kredit: STR/AFP/Getty Images)
Nelayan Cina (foto kredit: STR/AFP/Getty Images)

Dalam salah satu ujicobanya, peneliti SkyTruth, Bjorn Bergman, dengan membaca AIS, pernah melihat kejanggalan pada satu kapal yang diidentifikasi sebagai kapal Cina di perairan internasional di Selandia Baru.

“Kami memeriksa jejaknya dan melihatnya sesungguhnya ada di pantai Amerika Selatan,” katanya pada TIME.

“Cukup jelas bahwa mereka ada di Selat Magellan, lokasi sebenarnya dari kapal tersebut.”

Meski demikian, seorang juru bicara Departemen Perikanan Cina menambahkan bahwa sistem AIS pada kapal nelayan mereka telah diperiksa dengan ketat, baik saat menginstal dan juga dicek oleh pihak berwenang.

“Alat tangkap nelayan tunduk pada hukum Cina, setiap pelanggaran akan dihukum,” kata sumber tersebut.

Terkait masalah di atas, para pemerhati lingkungan meminta pemerintah Cina untuk mengatur aktivitas kapal mereka dengan lebih baik, mengatur kesesuaian kapasitas dan mengakhiri subsidi negara untuk kapal perikanan tersebut.

Mereka juga meminta Cina untuk mewajibkan penggunaan AIS bagi kapal-kapal mereka. Dengan penerapan AIS ini dapat membantu sistem operasi Global Fishing Watch dari SkyTruth untuk melacak semua kapal di seluruh dunia. Tujuannya agar dapat mengurangi praktik penangkapan ikan yang merusak maupun transshipment di seluruh dunia.

(sumber: TIME/ Zhang Chi/Beijing)