Kentut, Tamparan dari Deddy Mizwar

Kentut (Gambar by Google)

Tanggal 3 Juni 2011, sambil menunggu istri yang ngobrol dengan temannya saya memilih ngacir ke Sinema 21, Mall Panakukang. Ada empat film yang akan tayang saat itu. Kentut jadi pilihan saya.

Kentut? Rasanya, ini kali pertama saya membaca judul film itu. Di posternya pun tidak banyak yang bisa menjelaskan mengenai genre film itu namun setelah melihat bahwa ada Deddy Mizwar sebagai pelakon utama. Saya pun memilihnya.

Selain Deddy, ada Keke Suryo, Cok Simbawa, Ira Wibowo, dan beberapa pelakon tenar.

***

Melihat satu menit pertama saya jadi paham. Film ini ingin mengentuti politik Indonesia. Sosok itu ada Patiwa dan Jasmera. Dua rival yang coba perebutkan kursi pemimpin Kabupaten Kuncup Mekar. Film parodi ini sarkas dan menggelitik.

Benar saja. Adegan dimulai saat Jasmera yang diperankan oleh Deddy Mizwar melakukan kampanyedengan gaya yang nyeleneh. Persis gaya beberapa politisi Indonesia jika mau jadi Bupati atau Walikota. Melamar artis penyanyi sebagai calon wakilnya yang diperankan oleh Iis Dahlia, si penyanyi dangdut.

Film ini cenderung terlihat sebagai “film asal-asalan”, setting lokas tidak terlalu bagus. Mungkin karena melibatkan banyak orang, sehingga banyak adegan yang tidak seirama. Ada sosok yang dipanggil Greg dengan aksen Madura sebagai si tukang kentut. Pada beberapa adegan terlihat secara jelas “pesan sponsor” semisal koran bernama Le Lembut, Kompos, hingga nama Rumah Sehat – Sakit, iklan Promaag, dan lain sebagainya”.

Kata kentut merujuk ke kondisi Ibu Patiwa si calon yang terkena rentetan peluru dari orang tak dikenal dan menurut analisa dia akan sembuh jika telah mengeluarkan angin alias kentut.

Menampar Perilaku Politisi

Banyak dialog yang tanpa perlu penjelasan lanjut membuat kita berkesimpulan film ini menerabas semua sendi dan hal-hal prinsip. Semisal: “Antar penganut agama mengharamkan dzikir bersama”. “Kepercayaan titik langit”, “Setiap rombongan, memperoleh bantuan pulsa, 100ribu, dan ketua rombongan 200”, kata Ira Wibowo, yang berlagak sebagai “master champaign” Ibu Patiwa.

“Wartawan, tidak boleh dimusuhi. Masyarakat butuih info” kata sebagian yang lain yang sudah sangat jelas apa maunya.

“Bupati, tertembak atau ditembak?” dan masih banyak lagi. Memaksakan Kehendak Film menyorot dilema antara politisi baik dan buruk namun kerap berkelindan sebagai satu “sampul baik-baik saja”. Saling curiga dan saling mengintai.

“Bencana!” Kata Jasmera saat mendengar janji Patiwa jika terpilih kelak. Dia mau mengubah daerahnya dengan “positif” dengan tegas memaksakan gagasannya. “Rakyat tidak perlu banyak rencana Bu,” Kata Jasmera terkekeh. “

Rakyat kita mau pesta” katanya.

Program saya, kata Jasmera, adalah melegalkan perjudian.

“Anda keterlaluan” Kata Patiwa yang tersulut emosinya sebagai pemimpin baik-baik.

“Inilah yang selalu saya tentang. Itu namanya munafik” Kata Jasmera ngotot.

“Jika perjudian dilegalkan maka pelacuran pun akan jadi legal?” Kata Patiwa.

“Iya, dari pada mereka ngetem di jalanan” katanya terbahak-bahak.

Dialog dalam film berdurasi 90 menit ini sangat kocak dan norak. Persis gaya sebagian besar politisi kita saat ini.

Advertisements