Ayo Semarakkan "Indonesia, Pray for Japan" di Gedung Mulo, Makassar

Sejak Juli 2008, saya bekerja untuk satu proyek yang melibatkan beberapa konsultan asal Jepang. Wajar karena proyek merupakan kerjasama antar Pemerintah Indonesia dan Pemerintah Jepang sehingga mereka juga urun di proyek itu. Di proyek yang mengurusi strategi pengembangan kapasitas stakeholder pembangunan daerah se-Sulawesi terdapat empat warga Jepang.

Mereka sangat Indonesia, selain berpengalaman dan memahami situasi pembangunan daerah di Indonesia mereka juga tangkas berbahasa Indonesia. Saya berinteraksi, belajar, menyerap dan mencecap hal baik tentang nilai luhur sejarah kebudayaan mereka dan tentu saja komitmen atas pekerjaan yang digeluti. Semua orang tahu bahwa budaya kerja Jepang adalah kaizen, satu budaya kerja yang totalitas pada pencapaian tujuan yang berdasar pada kolektifitas. Saya belajar banyak hal terkait spirit kerja yang sangat positif.

Sebagai pekerja LSM yang bergelut dengan pasang surut perilaku di organisasi yang konon dikenal “rentan tak disiplin” itu, saya merasakan nuansa yang sangat berbeda dan menginspirasi. Konsistensi dan dedikasi pada pekerjaan adalah dua hal yang berbeda dan saya nikmati selama bekerja dengan mereka.

***

Bersama dua orang dari mereka kami ada di Kendari, Sulawesi Tenggara dari tanggal 14-18 Maret saat orang-orang sejagad mengarahkan pandangan pada belahan utara Jepang, yang sedang diterjang tsunami. Terhebat sepanjang sejarah. Keluarga keempat sahabat kami itu baik-baik saja karena masih jauh dari pusat bencana di Miyagi.

“Terima kasih atas dukungannya, keluarga kami baik-baik saja. Rumah keluarga ada di bagian barat” ujar salah seorang dari mereka. Tiada raut kesedihan di wajahnya. Padahal kampungnya tidak jauh dari pantai. Bukan hanya mereka. Tiga orang yang pernah berkunjung ke Makassar juga memberi kabar melalui akun Facebook dan Twitter mereka bahwa mereka baik-baik saja.

“Kamal san (maksudnya Kamaruddin), all my friends, family and I are fine. thank you for your warmest comments. Although we do not have enough food and electricity, we gonna be fine soon, i hope” kata Noriko Seto dari Tokyo.

Keluarganya baik-baik saja walau makanan dan listirk sangat terbatas. Pesan ini menyiratkan perjuangan dan kekuatan. Tentu saja sangat banyak orang yang menunjukkan kepedulian pada negeri yang baru saja kehilangan 7ribuan jiwa warganya. Ribuan jiwa lainnya masih belum ditemukan. Negeri itu menderita kerugian trilliunan rupiah.

Kata tsunami yang terkenal itu adalah bahasa Jepang. Sebagaimana Jepang, Indonesia juga berada di jalur gempa dan rasanya memang harus mengadopsi budaya a la Jepang dalam menghadapi tantangan alam dahsyat tersebut. Pengalaman gempa bumi dan tsunami Aceh Nias menjadi contoh betapa cara negeri kita menghadapi bencana sangat berbeda dengan Negeri Sakura tersebut. Mereka lebih tangguh dan cekatan dalam menyikapi dampak bencana.

Menggalang Dukungan

Dalam beberapa catatan, Indonesia punya hubungan sosial budaya dan perdagangan yang panjang dengan Jepang. Dan karena hubungan itu maka esensi simbiosis mutualisme dalam artian sesungguhnya rasanya layak ditunjukkan. “Bahagia Bersama, Bangun Bersama”.

Kota Makassar yang telah menjalin hubungan sosial ekonomi yang relatif panjang dengan Jepang, semisal pada bidang teknologi, industri pertanian, perikanan dan hasil bumi lainnya sejak puluhan tahun silam itu tidak mau tinggal diam. Beragam komunitas, organisasi dan perkumpulan profesi menggelar ajang peduli bagi masyarakat korban bencana tsunami Jepang.

Salah satunya adalah dengan menggelar “Indonesia,Pray for Japan”, acara amal untuk menunjukan simpati dan solidaritas kepada para korban bencana pasca gempa dan tsunami di Jepang. Acara ini akan berlangsung pada tanggal 27 Maret 2011 di Gedung MULO, Jl. Jend. Sudirman, Makassar. Acara digelar mulai pukul 09.00 ini akan berakhir pada jam 18.00 wita.

Ada pun jenis kegiatan yang digelar adalah penjualan merchandise INDONESIA ‘Pray for Japan’, Tanabata, pemasangan ‘peace messege’, Flea Market (barang bekas layak pakai), Bazaar makanan Jepang dan umum, pembuatan ‘EMA’, plakat kayu berisi do’a-do’a, penjualan pernak-pernik vlanel, bertema Jepang, pameran photography dan berbagai pertunjukan tari, lagu, teaterikal, puisi, yukata show, cosplay serta yang tidak kalah pentingnya adalah Donor darah dan pelatihan CPR (Cardio Pulmonary Resuscitation).

Sebagai bagian dari komunitas dan pemerhati relasi mutualisme dengan negeri Sakura itu, rasanya kita, facebooker, blogger dan segenap warga Makassar dan sekitarnya layak mendukung acara yang diprakarsai oleh organisasi PERSADA (Persatuan Alumni dari Jepang) dan AMDA (Association Medical Doctors of Asia) dan didukung oleh Nihonjin-Kai (Masyarakat Jepang yang berdomisili di indonesia), komunitas pencinta Jepang, dan organisasi kemasyarakatan lainnya.

Datang yuuuk…

Advertisements

Samalona Part II: Keluarga Daeng Rurung Yang Bertahan

“Minumki’ pak, ” kata wanita paruh baya seraya meletakkan segelas kopi hitam. Dia ditemani suaminya. Saya menarik kursi, mendekatkan diri ke meja. Bersama belasan anggota komunitas blogger Anging Mammiri, Makassar kami berekreasi di Pulau Samalona, salah satu pulau favorit untuk berwisata pantai di Makassar.

Ini kali pertama saya menginjakkan kaki di pulau ini. Selama ini hanya melihatnya dari jauh saat lalu lalang dari dermaga Kayu Bangkoa ke Pulau Barrang Lompo, utamanya saat kuliah dulu antara tahun 1989-1995.

Pagi itu, walau musim barat di bulan Desember, kami datang ke pulau itu untuk menikmati suasana pantai dan melakukan snorkling di rataan terumbu sisi barat. Suasananya sangat nyaman. Saat kami datang cuaca sangat bersahabat.

Pulau yang berpenduduk 70 Jiwa ini, masuk dalam wilayah administrasi kelurahan Mariso. Sepasang suami-istri itu bagian dari keluarga yang mengaku pemilik sah pulau ini, sebagaimana tertulis di pintu gerbang saat kami merapat di pulau.

“Kakek kami adalah petugas keamanan saat masa penjajahan,” Kata Hamja Dg Rurung, 45 thn lelaki yang menemani saya pagi itu. Lelaki berperawakan kekar dan gondrong ini mempunyai nama yang persis sama dengan kakeknya, “Hamja Daeng Rurung”.

Daeng Rurung, lelaki yang beristrikan Daeng Pajja asal Pattallassang, Takalar ini adalah tokoh kunci di Samalona. Dia lulus SD di Barombong dan menjadi tulang punggung keluaga besar di Samalona ini. Dialah yang kerap mewakili warga pulau jika ada pertemuan terkait pengelolaan pulau ini.

Daeng Rurung bersama istrinya mengelola penginapan sendiri yang disewakan antara Rp. 200ribu sampai 300ribu tergantung negosiasi dan lama huni. Dia juga diminta mengelola satu bangunan berpendingin yang dibanderol Rp. 600ribu/malam milik salah seorang kontraktor di Makassar.

“Tarif itu dihitung saat masuk jam 10 dan keluar jam 10, esoknya” Kata istrinya mengenai penginapan bercat putih ukuran 6×12 meter di depan rumahnya. Tapi saat itu, rombongan kami memilih yang tarif 200ribu/paket. Satu rumah, lengkap dengan perabotan, kamar mandi dan ruang istirahat.

***

Saat beberapa kawan sedang menikmati snorkling dan foto pantai, saya bercengkerama dengan keluarga Daeng Rurung.

Menurut Daeng Rurung, saat ini masalah bagi pulau ini adalah semakin hebatnya abrasi pantai di sisi barat. Walau telah dibuat beberapa tanggul namun beberapa sisi lain pulau dirusak gelombang. “Ada satu lapangan bola yang telah terkikis, hiang tak ada lagi” kata Daeng Rurung galau.

Saat ini pulau Samalona, dimata Daeng Rurung adalah milik keluarga besarnya. Menurutnya, saat ini keluarga masih sangat kompak untuk tidak menjual atau memberikan lahan di pulau ini kepada pih
ak lain kecuali kerjasama pengelolaan. Sebagaimana penginapan bercat putih di depan rumahnya.

“Kami hidup dan mempertahankan generasi dengan mengelola penginapan ini. Kami berharap bapak bisa bantu promosikan penginapan kami. Paling tidak jika tertarik wisata pantai datanglah ke Samalona” Katanya

Makna Merdeka, Elite dan Momentum Bulan Suci

nat3Nyayian sumbang dan teriakan serombongan anak muda yang meyisir jalan kompleks perumahan membangunkan kami. Dengan suara yang dikeraskan dan sesekali memukul tiang listrik, mereka berupaya menutup lembaran mimpi malam pada lelap tidur warga. Mereka riang sekali. Saya terbangun namun hanya ke kamar kecil lalu tidur lagi. “Sahur masih lama”. Istri bergegas ke dapur, anak-anak masih lelap. Keluarga kecil kami menunggu sahur pertama Ramadhan di bulan Agustus. Beberapa hari setelah peringatan ulang tahun kemerdekaan bangsa ini.

Kita, seperti warga kebanyakan di negeri ini masih bisa lelap – damai, anak muda menyusun agenda sahuran di malam hari. Para warga bersuka cita di bulan suci. Alhamdulillah! kita menunggu menu sahur tanpa harus was-was. Di pasar akan berjejeran berbagai penganan, kue-kue tradisional, “pallu butung, pisang ijo, roko-roko unti, jalang kotek, panada, bikang doang dan banyak lagi”. Warna-warni jajanan akan mengisi nuansa ramadhan seperti tahun-tahun sebelumnya. read more

Aisyah Daeng Baji

Akhir tahun 70an, saat masih SD, kami selalu bermain di batang sungai Tambakola yang keruh. Setiap pulang pasti wajah kami merah dan bau lumpur. Orang tua kami sebenarnya sangat tidak menyukainya. Kebiasaan yang selalu mereka awasi.

Aturan tetapnya, saat pulang sekolah, segeralah tidur siang jangan pergi mandi di sungai. Tidak boleh tidak. Entah itu di rumah atau di rumah nenek. Ibu biasa datang mengecek.Nenek sangat mengerti setiap pulang mandi di sungai, saya selalu kembali ke tempat tidur dengan mata memerah.

Sore, saat ibu datang, saya sudah punya jawaban, “lebba’ma attinro!” Sudah tidur!

Rumah saya di depan dan rumah nenek di belakang. kami dipisahkan oleh jalan kecil.

Saban pagi, saya selalu menemani nenek membuat putu cangkiri. Bersama anggota keluarga lain kami bercengkerama dan sesekali minta jatah gratis dari nenek. Wanita ini sangat luar biasa produktifnya. Beliau ahli menenun sarung sutra (lipa’ sabbe). Saya masih terkenang peralatan tenunannya.

Di kolong rumah panggung nenek, tergantung benang sutra dan sarung hasil tenunannya yang sedang dianginkan.

Saat siang hari, irama alat tenun menghentak dan memecah keheningan kampung. Kami yang masih kanak-kanak menikmatinya dengan gairah.

Nenek sesungguhnya pekerja aktif, juga ahli membuat kue. Bannang-bannang, baruasa, apam paranggi, se’ro-se’ro. Kue khas Makassar ini juga kerap menemani kakek menghabiskan kopi bikinan nenek.

Nenek memang ahlinya. Paling senang menemaninya saat menyiapkan biji kopi yang dibelinya di Pasar Galesong.

“Kopi disangrai, dicampur dengan daging kelapa tua, disangrai lagi dan aroma kopi merebak ke kepenjuru kampung. Dia menumbuknya dengan “assung” buatan kakek. Tuk Tak Tuk Tak!”

Nenek sangat perhatian. Setiap pagi, kalau bukan pisang goreng atau kue apam kerap menemani kakek plus secangkir kopi pekat.

Di rumah, ada penggilingan jagung kecil. Tepatnya pemecah jagung, pala dan biji-bijian.penggilingan yang biasa digunakan menghaluskan bahan kue. Nenek kerap membuatkan kami bassang, penganan dari jagung dan roko-roko unti. Dia memang ahlinya.

Eh, kerap kali pula, kue apam itu dibuat dari campuran tuak yang sudah difermentasi dengan ragi.

Satu hal yang selalu terkenang darinya adalah setiap ada undangan pesta perkawinan (pabbuntingang atau paggauk-gaukang) saya selalu dibawanya. Nenek kuat berjalan kaki. Saya mengekor.

Akhir tahun 70an, saya selalu menemaninya bahkan berjalan kaki sejauh 3 kilo. Saya memang dekat memang nenek. Setiap pulang dari acara itu, tak luput dibungkuskannya kue-kue untukku. Kerap pula, dia sibuk bercengkerama dengan tuan rumah, saya hanya mengais tanah atau bermain pasir.

Aisyah Daeng Baji, hampir semua cucunya selalu cemburu. Dia memperlakukanku begitu istimewa. Saya memang dirawat dan dijaganya. Darinya, pembelajaran tentang kesederhanaan begitu rupa. Aisyah Dg Baji anak sulung dari Daeng Nangga’.

Wanita ini sangat pengertian walau juga tegas, pada suaminya yang nelayan – pelaut yang kerap bermain-main dengan “ballo ase”. Tapi kakek lelaki yang sopan.

Jika dia “on” pekerjaannya adalah tidur. Tidak akan pernah melawan jika dijewer telinganya oleh nenek.

Aisyah Dg Baji, kerap membawaku ke Pantai Bayowa, bermain pasir, akkare’ karena dengan anak-anak nelayan. Pantai masih lebar dan panjang ke barat, tempat kami bermain.

Mengenang Aisyah Daeng Baji berarti mengenang saat saya duduk di pahanya. Lalu, berbaring memandang Kota Makassar dari kejauhan saat kami dibawa kakek menuju Pulau Lae-Lae dengan perahu balolang layar tanpa mesin.

Kami berkunjung ke saudaranya di sana, Daeng Rangka’. Angin senja memandu kami menuju utara, menikmati perjalanan dan sesekali menyaksikan rembulan yang masih malu-malu muncul.

Mengenang Aisyah Daeng Baji, berarti mengenang betapa baik hatinya, nenekku itu. Tidak pernah terdengar cekcok dengan tetangga, sabar saat tidak punya dan punya cara jitu, memuaskan kami.

Saat beras tidak cukup untuk kami cucu-cucunya, sesekali dicampurnya beras dengan jagung dan kacang hijau.

Ah, saya menyukai saat berbaring di sampingnya. Dia mengusap kepala dan sesekali menarik batang rambutku dengan perlahan. Ya, perlahan. Menggerak-gerakkan jemarinya di kepala dan meninabobokan di paladang (teras rumah panggung).

Wanita tak biasa ini memang mengagumkan. Bahkan saat kuliahpun, niatnya begitu tulus. Pernah suatu ketika, di masukkannya ikan bete-bete kering, ke dalam kantong plastik dan berkata, bawalah ke Tamalanrea.

Saya tidak menampiknya walau baunya minta ampun.Dari Galesong hingga Tello, paket itu masih setia menemani. Walau bau ikan kering itu, begitu mencekik indera pencium. Saya harus bawa ikan ini.

Saat turun di pintu satu Unhas, sang sopir dengan muka “terlipat” bilang, “coba saya tahu, kau bawa ikan bau, saya nda kasih naikki”.

Saya sedih mendengarnya, tapi kemudian tersenyum setelah membayangkan sikap tulus pemberian nenek.

Setahu saya, nenek Baji bersaudara enam orang. Seorang saudaranya telah berpulang lebih dulu. Nenek Baji kakak tertua.

Saudaranya yang lain adalah Daeng Te’ne, Daeng Rampu, Daeng Ngasseng, Daeng Ngasi, Daeng Ella. Saya tidak ingat persis, tanggal meninggal saudaranya yang lain. Seingatku, nenek Te’ne, Rampu dan I Asseng meninggalnya hampir bersamaan.

Lalu diikuti oleh Daeng Ngasseng belasan tahun kemudian. Usia mereka antara 70 hingga 80 tahun. Saat ini, yang masih tersisa adalah Daeng Ngella. Saudara lelaki dan adik bungsu nenek Baji.

Umurnya yang relatif panjang membuat saya yakin bahwa ini juga berkaitan dengan perilaku hidupnya yang sederhana.

Kebiasaannya melakukan perjalanan jauh dan malas dibonceng sepeda atau motor. Menyukai ikan dan terbiasa dengan masakan umbi-umbian. Umbi talas, ubi jalar kerap menjadi menu pagi kami.

Dari nenek Baji pulalah, sawah terakhir peninggalan leluhurnya masih bertahan sementara saudaranya yang lain telah melego miliknya. Nenek Baji, nenek yang taat membayar pajak sawahnya.

Dia selalu menyebut “teako kaluppai abbayara sima tanayya”. Jangan selalu lupa membayar pajak sawah kita, katanya pada anak-anaknya. Tidak jarang dia yang pergi mengurusnya.

“Tea’ laloko balukangi I Seko” Jangan sesekali menjual I Seko.

I Seko adalah sebutan pada sawahnya yang berjarak 5 kilo dari kediamaannya. Sawah peninggalan orang tuanya, Daeng Nagga yang menjadi haknya.

Saudaranya yang lain juga punya sawah sendiri walau banyak yang sudah berpindah tangan. Saya tidak pernah mengunjungi sawahnya karena selama ini sawah itu dibagihasilkan dengan warga di sekitar Kampung Pattinoang, Galesong.

Sawah itu pula yang selalu menjadi bahan godaan, bahan lelucon bagi anak-anaknya. “Kapan kita jual I Seko untuk kita bagi-bagi – untuk anak dan cucu?” Kata anaknya pada beberapa kesempatan. Tentu saja dia marah.

Sebelum rumahnya berubah seperti sekarang ini. Rumah kediamaan nenek adalah rumah panggung yang tidak begitu kokoh walau terlihat luas.

Di bagian teman ada teras (orang Makassar menyebutnya paladang), teras sebelah kiri berukuran 2 x 2, tempat Battu daeng Ngalli suaminya, mengaso dan menikmati kopi dan bercengkerama dengan cucu-cucunya jika datang.

Di teras sebelah kanan, paladang yang lebih luas dan memanjang kiri-kanan adalah tempat kami (anak dan cucunya) menikmati sarapan, bermain dan tidur siang. Lantainya adalah papan. Sebelumnya adalah jalinan bilah bambu.

Di ruang tamu sebelah kanan terdapat satu dipan, sedang di kiri adalah emapt kursi kecil. Agak ke kiri lagi adalah tempatnya menenun. Dulu, sekitar tahun 80an. Pekerjaan yang kemudian tidak dilakoninya sejak akhir 80an.

Saya kira, nenek adalah penenun sarung Makassar (non sutra) sedang anaknya Dahlia adalah penenun sutra walau belakangan juga sudah beralih menggunakan mesin jahit.

Di ruang depan terdapat dua tempat tidur (sebagaimana lazimnya rumah tempo dulu, di dekat ruang tamu tempat tidur memang “diperlihatkan” pada tamu. Di ruang dalam, ini adalah ruang istirahat nenek Baji. Saya selalu tidur di sini. Ruangan seukuran 4 x 3 meter.

Dengan jendela ukuran 30 meter x satu meter. Tidak ada pemisah atau penutup koridor dari ruang tamu dan melewati tempat tidurnya. Kita bisa menyaksikan nenek tidur di sana.

Agak ke dalam adalah ruang dapur yang bersambung dengan satu “anak kamar” tempat menempatkan tungku masak yang dilengkapi dengan tempat meletakkan kayu-bakar, sabut dan batok kelapa kering. Di ruang inilah kami, cucunya kerap menemaninya.

Saat anaknya yang bungsu sibuk menenun, kami bercengkerama dan menemani nenek di dapur.

Dapur bagi warga Makassar di sebut, “dasere” atau “paddaserang”. Umumnya dapat dibangun dengan menggunakan tiang bambu dan dengan lantai dari bilah bambu. Selain untuk memudahkan aliran asap dapur juga memberi kemudahan jika hendak membuang sisa-sisa lauk pauk.

Di kolong rumah, telah siap ayam dan kucing menunggu giliran.

Satu yang kami suka dari kebiasaan dahulu yang menjadi kebiasaan nenek adalah, menghangatkan badan seusai shalat subuh.

Kami menyebutnya a’rimbu atau membakar api unggun. Kemudian tidak lama setelah itu, nenek sudah siap dengan hidangannya, biasanya antara pukul 7-8 pagi.

***

Nenek Baji, kerap memasak ikan pallu kacci, ikan kecil yang dimasak dengan campuran asam atau mangga. Kami menyebutnya, pallu kacci. Ikan-ikan kecil itu seperti bête-bete (kepe), layang dan mairo (teri).

Nenek sangat jarang membeli ikan karena setiap pagi selalu berkunjung ke anaknya di Bayowa yang suaminya nelayan. Ada dua orang anaknya yang bermukin di daerah pesisir Bayowa. Kami sering dibawanya ke sana.

Banyak anak-anaknya menyebut Daeng Baji sangat irit dan “pelit”. Tapi dia memang tidak pernah terlihat punya uang kecuali memiliki simpanan gabah dan keterampilan menenun dan berjualan kue-kue.

Kerajinan dan ketelatenannya, dan tentu saja, ketat mengeluarkan duit. Duit yang saya maksud adalah hasil penjualan gabah, walaupun belakangan ini tidak pernah menjadi “success storynya”.

Beberapa tahun belakangan dia selalu menyimpan hasil panennya alias tidak menjualnya.

Nenek pintar menyimpan. Nenek kerap menjadi tempat kami meminta. Sesuatu yang hampir tidak pernah ditolaknya ketika saya meminta uangnya.

Jikapun tidak, pasti ada saja penggantinya, jika tidak ada uang, kuepun jadi. Pernah sekali, saya dibuat sembelit karena memakan kua “putu cangkiri” yang dibuatnya dan ternyata belum sepenuhnya matang, belum masak. Ini karena, saya terburu-buru meminta untuk saya bawa ke sekolah.

Kuburannya kini ada tidak jauh dari jembatan Tambakola atau sekitar 400 meter dari rumah kediamannya berdampingan dengan saudaranya Huda’ Daeng Ngasi.

Daeng Baji, catatan ini adalah doa untukmu. Semoga tenang dan ditemani cahaya kasih di sana. Saya merasakan kebanggaan teramat sangat saat membisikkan di telingamu, “angngu’rangijaki toh?”

“Syahadatjaki?”

Engkau tidak berkata-kata, tapi hanya satu anggukan manis…

In Memoriam,
Aisyah Daeng Baji / April, 2009

Catatan Pengantar Buku: SEMESTA GALESONG, Senarai Catatan dari Kampung Jempang (Moch Hasymi Ibrahim*)

6171_105200897766_792452766_2043335_107985_n(Ini adalah yang segera terbit, Semesta Galesong, Senarai Catatan dari Kampung Jempang karya Kamaruddin Azis. Buku ini adalah salah satu buku terbitan Panyingkul (www.panyingkul.com) tahun ini, dalam rangka memeriahkan ulang tahun ke-3 media tersebut.)

****
Sastra dan jurnalistik, kata orang-orang, adalah dua hal yang berbeda. Kalau pada sastra sandaran utamanya adalah imajinasi dan karena itu wujudnya adalah fiksi, maka pada jurnalistik, faktalah yang menjadi landasan pokoknya dan karena itu dia berwujud “nyata”, yaitu apa yang diungkapkannya dapat dikonfirmasi di kenyataan. Kata orang-orang lagi, sastra dan jurnalistik sesungguhnya memiliki sumber yang sama yaitu fakta. Meskipun pada yang pertama fakta disebutnya sebagai fakta imajinatif, sementara pada yang kedua fakta yang menjadi sumbernya adalah fakta informatif, karena merupakan sesuatu yang dapat nyata, akurat. read more

Assirondo-rondoang, Kebersamaan Menaklukkan Bukit Cadas

DSC02768Perempuan paruh baya berkacamata tebal dan berjilbab abu abu itu melangkah begitu ringan. Sementara saya yang berjalan bersamanya, beberapa kali berhenti menyeka keringat, memandang ke puncak bukit yang kami tuju dan bertanya setengah putus asa, “Masih jauh?”.

Ia terlihat perkasa dengan sepatu boot karet. Dengan gesitnya ia terus melangkah ke arah kebun di bukit Tandaera, dusun Puawang kelurahan Baruga Dhua, kecamatan Banggae. Kabupaten Majene. Kawasan ini Berbatasan dengan kabupaten Polewali Mandar, Sulbar.

“Bukan main!” Tak habis pikir melihat kelincahannya di medan yang berat ini. Saya sendiri bahkan harus menaruh sendal yang penuh lumpur di bawah pokok pisang, berjalan gontai memandang ibu tadi yang semakin menjauh. Hujan semalam, mengguyur kawasan Puawang dan melicinkan jalan setapak menuju perbukitan. Keringat bercucuran dan napas semakin tersengal. read more

Safitri Yang Tak Lagi Menggendong

3330_73473212766_792452766_1586835_1430961_n“Dengan menjual jamu berarti membuat keluarga saya senang, karena dapat uang,” ujar si Mba dari balik sepeda mininya yang dijejali botol-botol besar. Dia menjawab sambil terkekeh ketika saya bertanya tentang pilihannya menjual jamu.

Seperti biasa pada setiap pagi, demi alasan kebugaran saya selalu memesan satu gelas kecil pada Dwi Safitri. Jamu Safitri adalah jamu pahit dari berbagai campuran tanaman seperti umbi jahe, kencur, gula merah, garam, gula putih, kunyit, ketumbar, adas, daun sirih, buah pinang, asam dan daun sambiroto yang diraciknya sendiri. Ada delapan botol bekas minuman buah markisa yang ditempatkan diboncengan sepedanya. Botol-botol yang sudah hampir setengah isinya habis ini, adalah wadah jamu hasil racikannya. Botol plastik yang satu berisi larutan gula merah sebagai penawar pahit jamu. read more