Merekam Panorama dan Pesona Tanimbar

Anda pasti setuju kalau saya bilang panorama Maluku selalu menarik, unik dan memesona, apalagi jika membaca kreasi sosial dan ragam budayanya. Keindahan alam darat, laut dan kreativitas manusianya telah lama mendapat pujian. Karena kekayaan sumber daya alam Maluku tersebutlah sehingga para pengelana dari jazirah Arab dan Eropa tergiur untuk bercokol dan menguasainya.

Sebagai kawasan kepulauan, Maluku menaungi ratusan pulau yang menyimpan potensi nan luar biasa. Salah satu kabupaten penting di rongga dalam Maluku adalah Kabupaten Maluku Tenggara Barat (MTB) yang ber-ibukota Saumlaki.

Di tahun 2016, saya mendapat peruntungan baik karena setelah beberapa tahun tak berkunjung ke timur (terakhir ke Ternate dan Ambon di tahun 1994), akhirnya datang lagi, saya dapat tiga kali kesempatan menyambangi Maluku bagian tenggara barat, kawasan yang acap disebut Kepulauan Tanimbar.

MTB mempunyai panjang garis pantai sekitar 1623.27 km. Kabupaten ini memiliki luas wilayah laut sekitar 88.4%, sisanya merupakan pulau-pulau kecil mencapai 174. Ada 122 telah bernama. Yang unik, dia mempunyai 4 pulau kecil terluar yang berbatasan dengan Australia. Itulah mengapa wilayah MTB disebut sebagai salah satu wilayah strategis Indonesia, beranda depan Nusantara. Saat ini tercatat ada 75 desa dan 1 Kelurahan. Warganya sebagian besar berada di pesisir pantai.

20160924_103156-copy

Bersama Nasruddin dan Mahfuzd di PPI Ukurlaran, Saumlaki.

Kota Saumlaki adalah kota tua, seorang Soekarno pun pernah ke sini. Letaknya yang strategis merupakan tumpuan Soekarno dan Pemerintah Republik Indonesia saat itu, pusat pertahanan dan titik tumpu logistik nasional, apalagi beririsan dengan perbatasan ‘hotspot’ Australian dan Papua.

Sebuah patung Soekarno mengangkat tangan, menyambut anda ketika berkunjung ke kompleks perkantoran Pemerintah Kabupaten di timur kota.

Sejak dulu, warga Tanimbar menggantungkan hidupnya pada sumber daya alam daratan dan lautan, perkebunan, kopra, keladi, ubi kayu, hingga hasil perikanan, ikan karang dan pelagis termasuk rumput laut. Mereka diikat oleh norma-norma adat serta organisasi sosial kemasyarakatan adat dan keagamaan yang kuat dan dihormati.

Saat ini, Kota Saumlaki termasuk desa-desa di sekitarnya sedang berbenah apalagi sejak adanya kehendak Pemerintah Pusat untuk menjadikan Kepulauan Tanimbar sebagai salah satu spot pertambangan gas skala raksasa yang akan ditangani oleh PT. Inpex Corporation.

***

Saya berkunjung sebanyak tiga kali ke MTB. Pada bulan Agustus, September 2016 dan November 2016 sekaitan dengan ikhtiar skema ‘social investment’ Inpex, sebagai bukti dukungan pada masyarakat Tanimbar, sekaligus prakondisi sebelum investasi pertambangan gas itu benar-benar beroperasi.

Perjalanan pertama saya dari Makassar via Ambon kemudian mendarat di Saumlaki dalam bulan Agustus 2016, perjalanan kedua dan ketiga melalui dari Bandara Soekarno International Airport di Jakarta pada September dan November 2016.

Di ketiga rentang perjalanan tersebut, saya beruntung bisa menapak kaki di Saumlaki, Desa Lermatang, di Olilit yang eksotis serta Desa Latdalam yang rapi. Tentu dengan beragam cerita, inspirasi dan pesona unik khas alam manusia Maluku itu.

20160814_162200

Suasana di pantai Desa Lermatang, salah satu lokasi program pendampingan ‘Social Investment’ Inpex Corporation. Di sini, warga mencoba peruntungan dengan menanam rumput laut untuk perbaikan ekonomi mereka. Terdapat dua kelompok sedang bersemangat atas fasilitasi DFW Indonesia.

20160814_173423

Dermaga di Desa Lermatang. Banyak kaum muda datang ke sini untuk rekreasi, berwefie hingga foto-foto pre-wedding.

20160815_182827

Gereja di Kota Saumlaki. Terdapat beberapa gereja yang indah di kota ini.

20160817_072933

Masjid di Kota Saumlaki. Sejauh pandangan di Kota Saumlaki, sekurangnya terdapat tiga masjid di kota ini.

20160817_070030

Suasana Kota Saumlaki. Dari kejauhan terlihat pelabuhan laut kota Saumlaki.

20160817_065359

Salam hangat dari Soekarno di Saumlaki.

20160817_070727

Perahu-perahu ini pertanda bahwa kegiatan perikanan menggeliat di Tanimbar.

20160921_164319

Di sekitar Pelabuhan Saumalaki, kita bisa mencicipi coto Makassar. Enak!

20160815_183410

Pelabulah Saumlaki.

20161130_193031-copy

Ikan-ikan dari perairan Tanimbar sangat melimpah, dan warga bisa memasaknya dengan baik.

dsc_0058-copy

Pasar Omele, salah satu pusat ekonomi warga Tanimbar Selatan.

20160921_124425

Jalan menuju Desa Latdalam, sebelum diaspal.

20161129_123751-copy

Suasana pesisir Lermatang Lama.

20161128_072401-copy

Panorama seperti ini akan menyambut anda saat terbang ke Saumlaki.

dsc_0164-copy

Pantai Olilit merupakan salah satu destinasi wisata bahari top di Saumlaki, Rugi jika tak ke sini. Sunset-nya menawan.

dsc_0141-copy

Suasana pantai Olilit.

dsc_0043-copy
Kota Saumlaki dilihat dari Pantai Omele

Melihat Kota Saumlaki dari kawasan Omele.

dsc_0297-copy

Kota Saumlaki dilihat dari pasar kota. Indah ya?

img_6701-copy

Bersama warga Desa Lermatang yang ramah. Siap bersama, membangun desa.

img_6789-copy

Bersama warga Desa Latdalam, menjajaki peluang menjadi bagian dari program PT. Inpex Corporation dan DFW Indonesia.

dsc_0020-copy

Menunggu kabar baik di Latdalam.

20160920_071736-copy

Terima kasih Tanimbar, terima kasih Pemerintah Kabupaten Maluku Tenggara Barat!

Advertisements

Rindu ‘Memulau’ di Kapoposang

Pagi ini, di ujung Januari 2017, ingatanmu meluncur ke barat laut jauh Kota Daeng. Ke satu titik dari ratusan titik berupa sintesa denyut kehidupan dan kelindan nasib orang-orang yang jauh dari pusat keramaian dan tukang perintah. Pada titik kehidupan menakjubkan yang tak butuh pulsa data kecuali kesungguhan menyesap nikmat Ilahi.

Pagi ini, ingatanmu mengembara ke gundukan pasir putih indah berpenghuni, berbentuk memanjang, berlekuk dan tentu saja menenangkan. Gundukan yang menenangkan, menyenangkan, yang sesekali diusik dentum bom nelayan pendatang yang sedang khilaf dan ‘mungkin dia lelah’.

Mereka datang dengan parade dan angkara murka pada nasib dan tega mengusir rasa kantuk. “Laku banal dan dilanggengkan!” serumu.

Kau juga tahu, di pulau itu, entah sudah ada berapa dermaga yang raib, hilang, yang berbiaya APBD atau APBN. Di dermaga yang kau jadikan tempat bermain, menunggui nasib, menunggui jolloro’ jika hendak pulang ke kaki daratan Sulawesi. Jika tak duduk melamun di atas, kau memilih berenang mengganggui ikan sebelah atau ikan-ikan lamun yang pipih lebar.

Pulau yang kau kunjungi pertama kali di tahun 1997 itu enggan hengkang di pikiranmu. Karena dia eksotis? Menantang? Putih? Bersih? Jujur saja kau sering menyambanginya penuh hasrat. Pulau yang kau bisa berbaring di sisi timur. Bergolek dan membiarkan tubuhmu hangat dicumbui hangat mentari timur. Yang seketika kau memilih menepi di sisi batang cemara dan mengais sejarah percintaan dengan umbai-umbi, pernik,  dan riak-riak maritim.

Pulau yang kau bisa melarikan diri ke barat dan menemui tapak-tapak sejarah mercusuar tua, bercengkerama dengan penjaga suar ikal, yang rambutnya meranggas karena dimakan usia atau shampoo yang langka, pun seperti kau. Para penjaga suar yang terbiasa larut dalam rindu dan jarak yang sulit ditebas. Tak seperti kau yang terikat kata pulang. Para penjaga yang kuat iman untuk tak protes saat jatah ransum telat datang karena badai.

Pulau yang kau bisa mampir dengan leluasa, diterima dengan peluk hangat di rumah Pak Nur, Dan kau meminta bilik untuk membaringkan kepala di atas bantal. Lalu kau minta sajian sayur  kelor khas pulau dan dihidangkan cakalang  pallukacci terbaik dari Laut Spermonde, Kepulauan Sangkarang atau jantung Selat Makassar.

Pulau yang masih menyimpan rumah-rumah khas kampung-kampung pesisir, pelaut itu. Pada kenangan rumah panggung yang meluluhlantakkan selera modernitasmu. Kau ingin punya rumah seperti itu, di kota, kelak.

***

Pulau itu, jujur saja, kau pernah bilang sebagai pulau yang mengenyangkan jiwa dan raga, sebab ada persahabatan, kesederhanaan dan kenyang pangan bahari yang murah meriah.Di pulau itu, kau bisa melongok ke pantai, ke pelepah kelapa yang mencium tepian laut, menggoda debur yang menghempas. Atau jelang malam, kau bisa melihat anak-anak muda pulau menabur parutan kelapa dan menunggui ketam kenari pemanjat menghampiri. Kau tertawa saat melihat ketam-ketam itu berdatangan dan melarikan diri ke batang kelapa.

Di Kapoposang, nama pulau gundukan pasir itu, kau bisa memanja mata dan menggerakkan ragamu sembari meliuk di rataan terumbu. Snorkeling boleh, diving boleh, asal kamu punya alat, ‘apparatus’.

Di tubir utara ke barat kau bisa melihat slope yang menjuntai, seperti dinding karst yang dijejali Acropora hingga Fungia, cekung dan berarus, dan di balik itu kau bisa terbius keindahan bawah lautnya. Ada pun tempat selam menggiurkan bernama Januar Point, titik yang ditemukan kawanmu itu.

Di sekitar itu, kau pernah diam-diam memergoki temanmu makan kerang, mengunyah tanpa dimasak, dimakan tanpa khawatir diare. Laut yang asin adalah penangkal penyakit, katanya.

“Itu kan dilarang, ndak bisa dimakan,” hardikmu seperti terlihat serius. “Ini japing,” balas temanmu itu.

Di Kapoposang kau bisa leluasa jalan pagi, hingga petang, di antara pohon-pohon cemara pantai yang indah. Yang pernah suatu ketika dilibas api karena musim sedang paceklik hujan. Di utara ada telaga air asin yang menggenang saat pasang tinggi, tempat yang kau sebut pembeda dengan pulau-pulau lain di Spermonde.

Kau tak menampik, di pulau itu, kau acap mengikat kenangan di pucuk-pucuk pohon aneh di utara, meletakkannya di sana biar dipermainkan angin atau sekalian diuapkan oleh panas musim.  Sebab hidup tak pernah mudah di ujung tahun 90an. Banyak krisis dan paceklik. Di pulau itu, saya tahu kamu menyimpan rindu, ingin datang lagi sebab hasrat dan sukamu telah ‘memulau’, tertahan di sana, memanggil-manggil.

Jadi, kapan ke sana lagi?

Tujuh Solusi Pengembangan Kelautan dan Perikanan di Nunukan

DUA perahu bermesin luar dengan ukuran tak lebih 5 groston ditambatkan pemilikya. Mereka baru saja kembali dari pasar ikan di Tawau. “Kami bawa ikan kerapu dan kakap ke seberang, selalu begitu,” kata Mustakim (12/12/2015).

Mustakim adalah pengusaha ikan berdarah Bugis yang ditemui di dermaga Pasar Ikan Tanah Mereah, Nunukan, pagi itu. Praktik ini sudah berlangsung bertahun-tahun, terutama di Pulau Sebatik, pulau Indonesia berbatasan Malaysia. Namun jalinan tradisional usaha perikanan itu nampaknya bakal terputus. Harapan ratusan nelayan atau pedagang ikan Nunukan dan Sebatik yang selama ini giat berbisnis antar negara itu bisa pupus. Ihwalnya, pertanggal 19 Mei 2016, ada maklumat pelarangan pihak Malaysia untuk kapal atau perahu nelayan yang berbahan kayu dan menjual hasil tangkapan ikan di Tawau.

Meski ada pengecualian untuk spesifikasi kapal yang bisa melintasi perairan Internasional dan patuh pada sistem pelayaran internasional namun ini adalah sinyal bahaya bagi komunitas nelayan di Kabupaten Nunukan.

***

Isu PSKPT

Meski terkesan sepihak namun upaya yang ditempuh Malayasia ini berkaitan dengan keamanan jalur lintas negara meskipun telah ada MoU antar kedua negara tentang perdagangan lintas batas. Ketua DPRD Nunukan Haji Dani Iskandar mencoba menyiapkan langkah-langkah persuasif kepada pejabat Tawau–Malaysia, di antaranya berkunjung ke Tawau untuk meminta klarifikasi dan permohonan penundaan.

Opsi kedua adalah kapal-kapal nelayan atau pedagang ikan kita harus dilengkapi alat-alat navigasi dan komunikasi yang standar. “Kita akan berkunjung ke sana tanggal 16 Mei ini,” kata Ketua DPRD tersebut seperti dikutip oleh awak media di Nunukan.

Itu adalah salah satu isu yang harus mendapat perhatian Pemerintah Jakarta terutama Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP) yang sedang mendorong program pengembangan sentra bisnis perikanan terpadu (PSKPT). Jika ini berlaku untuk jangka waktu lama maka akan berdampak pada pendapatan dan ekonomi Nunukan. Diperlukan mediasi mutualistik namun tidak mengurangi kewibawaan masing-masing negara atau pihak.

Menurut Amrullah AM, manajer kabupaten untuk PSKPT di Nunukan, selain isu itu ada persoalan pelik pada banyaknya oknum yang melakukan penjualan BBM ke Pengusaha (penjual eceran) dalam jumlah banyak.

“Ada SPBU yang tidak memihak nelayan untuk mencukupi kebutuhan bahan bakar untuk berlayar. Ada indikasi tidak meratanya lokasi penempatan SPBU dan SPDN di Pulau Sebatik yang terdiri dari 5 Kecamatan,” kata Amrullah. Menurut Ulla, begitu ia biasa dipanggil, isu lainnya adalah ketersediaan listrik. “Defisit tenaga listrik di Pulau Sebatik dan Nunukan sebagai lokasi PSKPT. Seringnya terjadi pemadaman yang dalam sehari bisa mencapai 3 kali,” katanya.

Selain itu, masih menurut Ulla, kebutuhan air bersih yang merupakan kebutuhan utama masyarakat tak tersedia dengan baik, bahkan air dari PDAM yang teraliri ke masyarakat berwarna kuning. Kadang ada kotoran.

“Kebutuhan air untuk pengelolaan PSKPT akan tidak sesuai harapan jika daya dukung listrik dan air bersih tak terjaga. Berbanding terbalik dengan keberadaan kebun sawit yang membuat cadangan air tanah berkurang drastis,” ungkapnya.

Beberapa isu lain yang didentifikasi oleh Amrullah adalah adanya bantuan kapal yang tidak disertai dokumen kapal dari pihak pemberi bantuan untuk beroperasi. Misalnya bantuan kapal Mina Maritim tahun 2015 yang tidak disertai Surat Ukur Kapal yang merupakan berkas penting untuk mengeluarkan SIPI dan berkas-berkas lainnya.

Ada hal menarik yang ditelisik Amrullah, yaitu adanya praktik relasi bisnis antara pengusaha di Tawau dan Sebatik.

“Ada sistem mengikat antara pihak tokedi Tawau Malaysia dengan para pengusaha pengumpul hasil laut. Mereka memberikan pinjaman modal yang besar dengan syarat seluruh hasil ikan yang ada harus dijual kepada toke di Tawau,” katanya. Ini juga menjadi rumit karena masih banyak nelayan yang belum memiliki kartu nelayan. Menurut Ulla, pihak yang menangani pengadaan kartu telah berupaya maksimal namun setelah data penerima kartu nelayan diinput data tersebut langsung hilang.

Tujuh Solusi

Ada tujuh solusi yang dapat ditawarkan sebagai pendekatan atau solusi atas isu-isu tersebut di atas.

Pertama, Pemerintah Pusat dan Daerah harus proaktif. Pemerintah harus mulai membantu menyelesaikan isu antar negara ini dan menyediakan kapal besi sesuai peraturan yang diberikan Kerajaan Malaysia namun yang mengelola adalah nelayan Nunukan atau Pemerintah sungguh-sungguh menyiapkan infrastruktur dan suprastruktur usaha perikanan di Nunukan dari hulu ke hilir.

Kedua, Perindo dapat mengambil peran untuk menjadi simpul penerima atau penampung ikan yang dihasilkan oleh nelayan Nunukan maupun Sebatik namun harus mengaplikasikan prinsip keadilan, memberdayakan dan membeli dengan harga setara harga Malaysia termasuk nilai pengganti ongkos usaha (transportasi, logistik).

Ketiga, mengaplikasikan pengelolaan sarana prasarana secara efektif. Secara konkret diperlukan penegakan hukum bagi oknum pengelola yang menjual bahan bakar bersubsidi ke pengusaha yang membeli dengan drum dan menjualnya secara eceran. Selain itu perlu pula dibangun SPDN khusus Nelayan yang di kelola oleh badan yang terpercaya, akuntabel dan transparan. Yang lainnya dan mendesak adalah membangun SPDN di wilayah Sebatik Barat untuk memudahkan masyarakat setempat mendapatkan BBM dengan syarat yang telah disepakati.

Keempat, penguatan nelayan dengan identitas kartu nelayan. Ini bisa dilaksanakan dengan tidak menjual BBM bagi nelayan yang tidak mampu menunjukkan Kartu Nelayan atau berkas yang menunjukkan pembeli itu adalah nelayan.

Kelima, penataan hulu-hilir kelistrikan. Adanya pembangkit listrik tenaga air dari Negara Jerman (berita dari Kadis DKP Prov. KALTARA) akan menjadi awal yang baik untuk menjamin ketersediaan listrik di Nunukan. Selain itu, sebenarnya, kebutuhan listrik bisa surplus bila PLTMG Sebaung dapat menyuplai listrik sebesar 7,2 MW sesuai kontrak yang pengerjaannya yang dipihakketigakan kepada PT. BUGAK. Sementara ini cuma bisa menyuplai 5,8 MW.

Pemerintah daerah dapat melakukan koordinasi dengan otoritas penyedia listrik untuk menjamin suplai dan layanan ke pengusaha perikanan di lokasi PSKPT Nunukan dan pada saat yang sama memberikan ketegasan bagi pengguna lisrik untuk taat prosedur dan meyakinkan pengguna utamanya masyarakat kecil untuk produktif dalam penggunaan.

Keenam, pembenahan kebutuhan infrastruktur PSKPT. Ke depan, perlu diinisiasi mesin penjernih air di lokasi PSKPT untuk kebutuhan sehari-hari, baik MCK para pegawai, maupun untuk pembuatan es balok nantinya. Sementara di sisi lain, perlu pula dibuatkan Perda yang mengatur tentang keberadaan kelapa sawit.

Keenam, penguatan data base kelautan perikanan untuk perencanaan dan pengembangan nelayan. Diperlukan pendataan lebih rinci tentang bantuan yang akan turun ke pihak penerima.Keaktifan kelompok calon penerima bantuan harus bisa dibuktikan dengan jenis kegiatan yang telah dilakukan, pembukuan keuangan dan arsip-arsip kelompok lainnya.

Selain itu, perlu pula mendata ulang jenis bantuan dan calon penerima bantuan, agar bantuan yang diberikan bersifat tepat guna dan tepat sasaran. Beberapa nelayan tak lagi memerlukan bantuan kapal, karena nelayan sebagian besar sudah memiliki kapal. Bantuan yang tepat adalah alat tangkap sebab banyak yang telah rusak atau hilang oleh ombak demikian pula beberapa sarana prasarana pendukung seperti mesin pengering rumput laut kapasitas 4 ton, seperti di Binusan atau Mansapa.

Ketujuh, memediasi link dengan perbankan. Perlu diperkenalkan sistem peminjaman untuk kegiatan produktif di bank-bank, misalnya KUR (kredit usaha rakyat) BRI, dengan pinjaman dan bunga yang relatif kecil sehingga nelayan bisa menjual hasil tangkapannya kepada siapa saja yang memberikan harga yang tinggi.

Ini sangat penting untuk menjamin berjalannya usaha perikanan dari hulu ke hilir, dari nelayan kecil hingga eksportir. Pemerintah daerah harus mengajak pihak perbankan untuk giat menyasar kelompok-kelompok di pesisir dan pulau-pulau di Nunukan.

Begitulah, jika ketujuh pendekatan ini dilaksanakan secara perlahan disertai upaya koordinasi yang konstruktif maka meskipun para nelayan atau pedagang tak lagi ke Tawau kondisi sosial ekonomi masyarakat Nunukan atau pengusaha di lingkup PSKPT-KKP akan membaik secara signifikan. Sistem usaha perikanan setempat akan menggeliat dengan tujuan ekspor. Akan semakin baik dan efisien jika bebas melintasi garis batas kedua negara demi bisnis perikanan yang mutualistik.

Tebet, 12 Mei 2016

 

Orang-orang di Sunda Kelapa

Tome Pires seorang Portugis penjelajah menorehkan kesannya tentang tempat kapal bersauh bernama Kalapa di pesisir Java. Menurutnya, Kalapa adalah pelabuhan terbesar di Jawa selain Sunda (Banten). Dia besar dan strategis karena merupakan pelabuhan transit berbisnis rempah-rempah.

Armada Cina, Jepang, India, dan Timur Tengah telah berlabuh di sini dengan membawa barang-barang seperti porselen, kopi, sutra, wangi-wangian, kuda, anggur dan zat pewarna untuk dibarter rempah Nusantara. Pelabuhan itu kini bernama Sunda Kelapa.

Pelabuhan yang menjadi muara perjuangan anak bangsa, menjadi wahana bagi yang membutuhkannya secara berkelanjutan. Kini, Sunda Kelapa dikelola PT Pelindo dan diperuntukkan bagi armada dan kru kapal yang tidak berserfiikat internasional alias hanya melayani pelayanan jasa kapal antar pulau.

Sunda Kelapa memiliki luas daratan 760 hektare serta luas perairan kolam 16.470 hektare. Terdapat dua bagian yaitu pelabuhan utama dan pelabuhan Kalibaru. Pelabuhan utama mampu menampung 70 perahu layar motor (PLM) sedang Pelabuhan Kalibaru menampung sekira 65 kapal antar pulau.

Tulisan berikut bermaksud membagikan setangkup kekisah orang-orang yang memanfaatkannya kini. Orang-orang biasa yang masih menjadi bagian dari sejarah panjang Sunda Kelapa. Tidak mengorek kisah heroik berbumbu perang tetapi kisah para pelaut yang ditemui pada tanggal 7 Februari 2016. Kisah orang-orang biasa.

***

Siang itu Jakarta terik nian, seperti sedang dipanggang bara. Matahari bak bertengger di ubun-ubun ketika saya bersama ratusan penumpang kereta keluar dari underpass stasiun Jakarta Kota. Saya lalu memesan Gojek. Saya sungguh ingin melihat suasana Pelabuhan Sunda Kelapa yang terkenal itu. Yang diceritakan banyak orang tentang kehebatan pelaut-pelaut melayarkan kapal pinisi dari Sulawesi Selatan dan berlabuh di sini nun lampau.

Saya tiba di pelabuhan pukul 13.30 waktu Sunda Kelapa. Sang Gojek rupanya ingin membawa saya ke deretan kapal besi. Dia kira saya ABK yang sedang ingin kembali ke kapalnya.

Saya berbelok ke deretan kapal-kapal kayu yang berukuran sangat besar. Kapal-kapal serupa ini juga ada di Paotere, Makassar namun karena ini Jakarta, rasanya melihat kapal kayu Pinisi masih bertahan di kota metropolitan rasanya sungguh membahagiakan sekaligus membanggakan.

Selain menjadi bukti daya tahan budaya maritim, juga menjadi bukti bahwa tradisi melaut yang dipertontonkan pelaut-pelaut dari Sulawesi Selatan sungguh luar biasa. Saya tak langsung mengambil foto deretan perahu tersebut tetapi menyapa dua orang yang sedang berlindung di sisi bangunan. Serupa gudang.

Saya memperkenalkan diri. Mereka memberi senyum dan menyebutkan namanya, Asdir dan Sandi. Asdir adalah pelaut yang baru saja bergabung dengan KM Berkat Nikmaturrahmah. Sementara Sandi adalah petugas yang dimandat oleh pemilih ekspedisi. Tugas Sandi adalah membuka terpal barang seperti semen dan barang-barang lainnya. Dia nebeng dengan truk pengangkut barang-barang tersebut.

“Baru pulang dari Jambi. Kosong tak ada muatan. Ke sananya bawa semen,” kata Asdir, pria yang duduk di samping saya. Kami duduk di atas papan kemudi kayu yang sudah tak dipakai lagi. Panjangnya sekitar dua meter.  Asdir adalah ABK PLM. Berkat Nikmaturrahmah.

“Kapal ini taksirannya sekitar 700 ton,” jawab Sandi mengenai bobot perahu pinisi tersebut. “Saat ini saya bertugas membuka terpal penutup saat barang akan dipindahkan ke kapal. Tapi dulu saya pelaut juga,”sambung pria asal Lombok Barat ini. Semasa melaut, Sandi pernah ke Jambi dan Aceh. Sedangkan Asdir adalah newbie di Berkat. Kalau Asdir ke Jambi, maka Sandi mengaku hanya ke Kalimantan, tepatnya di Batulicin.

Menurut Asdir, saat ke Jambi beberapa minggu lalu dia membawa semen namun kembalinya tak muat apa-apa. Asdir di kapal itu bersama 8 ABK lainnya. Asdir tak ingat nama pemilik kapal itu.

Saya lalu menunjuk KM. Lamallise’ yang sedang sandar di samping kiri Berkat Nikmaturrahmah. Saya sebut kalau kapal itu pasti pemiliknya orang Bugis, sebab Mallise’ adalah bahasa Bugis. “Saya nggak ingat namanya tapi setahuku orang Bugis, haji apa gitu,” kata Asdir.

“Kalau kapal itu tujuannya ke Pontianak,” katanya seraya menunjuk Lamallise’. Asdir  mengaku berdarah Bima Bugis. Ada darah Bugis Bajoe di raga Asdir. Bajoe adalah satu kampung di timur kota Watampone—Bone, Sulawesi Selatan yang banyak dihuni suku Bajo dan Bugis. Mereka yang datang dari daerah itu dikenal sebagai pelaut ulung.

“Saya lahir di Sumbawa,“ kata pria yang mengaku bersaudara sebanyak delapan orang ini. Asdir lahir di Kampung Jambu, Kecamatan Seranu, Sumbawa.

Bagi Asdir, menjadi ABK bukan rencana awalnya. “Saya melamar ABK karena ditawari seorang teman,” ungkap Asdir. Meski begitu, awalnya dia ke Belitung. Asdir sempat ke Beitung.

“Saya jadi nelayan bagang di Tanjung Binga. Lumayan, 6 bulan di sana sebelum ke sini,” kata Asdir yang enggan mengira berapa gajinya di KM. Berkat karena setahunya ini akan bergantung pada kesepakatan bagi hasil.

Asdir hanya tertawan saat disampaikan bahwa—kalau  tidak bawa muatan dari Jambi, jangan-jangan gajinya gak memuaskan. Asdir nampaknya tahu diri, bahwa sebagai ABK baru dia tak harus komentar mengenai gaji. Tabu bagi mereka membahas gaji jika ini merupakan kesepakatan atas bagi hasil.

***

Asdir dan saya sempat tertawa lepas saat mendengar Sandi mengaku kalau dia sudah menikah dua kali dan kandas. Tertawa karena Sandi seperti menggerutu namun disertai senyum nyengir.

“Udah dua kali nikah. Gagal semua,” ungkap pria kelahiran tahun 64 ini dan mengaku Lombok asli. Sandi mengaku sebagai pelaut, dia pernah menikmati enaknya melaut. Uang ada dan jodoh juga datang, seperti silih berganti.

“Abang pasti punya banyak cewek? Kan pelaut?” godaku. Dia tersenyum. Giginya nyaris kelihatan semua. “Saya ini sudah belasan tahun di Jakarta. Pernah berlayar ke Riau, sempat di sana selama 2 tahun. Lalu ke Batulicin, beberapa bulan,” kata pria yang mengaku tidak punya keahlian khusus. Apapun sepanjang dia mampu lakukan, dia lakukan. Termasuk menjadi pembuka terpal truk barang ini.

“Saya ikut perintah orang dari perusahaan, jadi kalau ada barang datang saya ikut dan mengawasi,” aku pria kelahiran Desa Gapuk, Kecamatan Gerung ini. Sandi terlihat ramah dan mudah bergaul. Suka bercerita pula termasuk tentang kandasnya bahtera rumah tangganya dengan dua perempuan asal Jawa Barat dan Jawa Tengah.

“Istri pertama dari Indramayu, sempat bersama selama 4 tahun tapi cerai,” ungkap Sandi yang mengaku punya satu anak dari istri pertamanya ini.

“Begitulah. Tak bisa dipertahankan lagi. Risiko,” katanya. Sandi kemudian menikah dengan perempuan asal Semarang namun sekali lagi kandas. Menurut Sandi, membina rumah tanggak tidak gampang sebab di situ harusnya ada kesepahaman.

“Nggak boleh menang sendiri,” kata pria yang mengaku menikah di bawah tangan ini.

“Kami dinikahkan sama kiyai dan RT doang,” akunya. “Orang Lombok itu harus kuat iman dan kita gak boleh sepelekan arti perkawinan,” pesannya. Meski begitu, perkawinan keduanya tak seperti rencananya. Banyak hal yang tak sejalan.

“Saya dengar mantan istri saya menikah sama orang Ambon, bodyguard,” katanya sembari melepaskan senyum ke kolam pelabuhan Sunda Kelapa.

Menurut beberapa catatan peneliti, pelabuhan Sunda Kelapa dulunya bernama Pelabuhan Kalapa. Menggeliat sejak abad ke-12, adalah juga pelabuhan utama Kerajaan Pajajaran. Karena strategisnya, Kalapa sempat diperebutkan oleh kerajaan-kerajaan Nusantara dan Eropa. Belandalah yang memenangkan Palapa dan mengangkanginya selama kurang lebih 300 tahun.

Awal tahun 70-an, nama Pelabuhan Kalapa resmi disempurnakan menjadi Sunda Kelapa. Dari sinilah pikiran saya mengembara ke rentang sejarah migrasi, pelayaran dan daya juang para pelaut dari kaki Pulau Sulawesi itu, pelaut Bugis Makassar hingga tiba di pelabuhan ini, dengan lambo dan palari.

Lambo adalah pinisi yang berukuran lebih besar sedang palari berukuran lebih kecil. Di rentang sejarah Pelabuhan Sunda Kelapa merupakan lintasan sekaligus perhentian para pembuat sejarah. Sejak orang-orang Portugis membangun loji pertahanan, penyerbuan Fatahillah, pendudukan Jepang hingga zaman perjuangan kemerdekaan.

Karena pendangkalan, fungsi perdagangan antar negara pelabuhan Sunda Kelapa kemudian diganti posisinya oleh Tanjung Priuk yang lebih lempang dan dalam. Kini pelabuhan ini dikelola PT Pelindo II dan diperuntukkan bagi armada dan kru kapal yang tidak bersertifikat internasional alias hanya melayani pelayanan jasa kapal antar pulau.

***

Setelah ngobrol dengan Asdir dan Sandi, dan tentu saja menyalaminya sebagai tanda terima kasih berbagi cerita dan keceriaan di siang yang terik itu, saya mengarah ke seorang tua yang sedang duduk di tangga kapal. Bertopi rimba, berkacamata, baju dan celananya pun senada, putih yang telah menua. Ada bekas cat yang telah menyatu di celana pendeknya.

Dia terlihat tampan siang itu. Senyumnya pas, gigi-giginya terlihat indah. Dialah Talib, pria yang usianya mendekati 70 tahun. Talib terlihat bahagia sebagai pengarung laut dan berkelana di selat-selat. Talib adalah ABK di KM Lamallise’ tujuan Jakarta – Pontianak. Jalur ini menurut Talib adalah jalur yang telah dilalui selama beberapa tahun.

“Mengangkut barang campuran dari Jakarta ke Pontianak,” katanya. Perjalanan dengan KM Lamallise’ ditempuh empat hari tiga malam.

“Kalau cuaca bagus,” kata pria yang beristrikan perempuan Banten ini.

Talib sudah 20 hari bersandar di Pelabuhan Ratu. Selama itu sebagian besar waktunya ada di kapal. Sesekali ke Banten. “Yah, tidur di kapal ajalah,” kata pria yang lahir di Sengkang, Wajo, Sulawesi Selatan ini.

Talib telah berlayar selama 40 tahun. Dia tinggalkan Bone sejak usia belasan tahun, ikut kapal pinisi. Takdir menuntunnya untuk tetap memilih menjadi pelaut. Dengan pengalaman itu dia tak terlihat gusar meski barang yang mau dibawa ke Pontianak belum naik semua.

“Saya berlayar pertama kali ke Sumatera Selatan. Saya lahir di Doping. Anakku sudah ada tellu,” imbuhnya.

“Kalau sudah datang dari Pontianak, saya ke Banten lagi,” katanya.

Kapal yang ditempati Talib mengarungi nasib sebagai pelaut dinakhodai orang Cirebon bernama Pak Umar.

“Meski tinggal di Cirebon, Umar juga orang Bugis,” katanya tertawa. Giginya terlihat rapi. Tak nampak kalau usianya sudah mendekati 70 tahun.

“Saya juga pernah ke pelabuhan Sulawesi tapi bukan di sini, di lofi lain,” pungkasnya. Lopi disebut lofi oleh lidah Bugis adalah perahu.

***

Matahari terus saja menyebarkan teriknya. Jalan beton yang memisahkan antara tempat bersandar kapal besi dan kapal kayu di Sunda Kelapa sesekali menyeruakkan debu saat mobil truk dan kendaraan roda 4 melintas di depan kami.

Saya kemudian mengarah ke selatan, searah pintu gerbang pelabuhan. Di naung teduh buritan kapal, di lambung depan sebuah kapal pinisi saya menghampiri seorang terlihat sudah tua. Dia bertopi putih lusuh dan berbaju oranye tua. Dia memberi senyum saat saya izin mampir.

Bapak ini sedang bercengkerama dengan seorang wanita tua beraksen Jawa. Wanita tersebut menjajakan pisang serta minuman. Selain itu ada pulau makanan camilan. Sang bapak menggoda si Mpok. Dimainkannya topi caping milik wanita tersebut. Mereka terlihat akrab seperti sudah lama kenal. Bapak tersebut, Baharuddin. Dia sedang duduk santai di naung perahu bercat oranye. Bajunya senada.

Sebagaimana Talib, Baharuddin sedang menanti muatannya. Baharuddin mengaku kelahiran Kampung Bajoe, Bone, Sulawesi Selatan. Bajoe adalah kelurahan sekaligus pelabuhan penyeberangan di Kabupaten Bone. Baharuddin adalah pelaut yang seperti Talib acap ke Kalimantan dan Sumatera. Kalau Talib beristrikan perempuan Banten, Baharuddin beristrikan orang Brebes. Menjadi pelaut bagi Baharuddin adalah panggilan jiwa. Menurutnya, sudah menjadi takdir untuk lebih banyak di atas laut ketimbang di darat.

“Sejak kecil saya sudah dekat dengan laut. Sejak di Bajoe,” katanya. Selang beberapa meter dari kapal Baharuddin, saya menyalami seorang bapak tua yang mengenakan topi berhias tiga bintang.

Insting saya berkata, ini pasti dari Timur. Lelaki itu mengenakan topi hitam lusuh, nampaknya pemberian partai Gerindra. Seperti Talib yang mengenakan t-shirt warna putih, bapak yang satu ini baju putih lengan panjang tapi tak seputih baju putih yang kerap dikenakan Presiden Jokowi. Baju Sarullah, begitu nama bapak tua tersebut sudah lusuh. Saat saya mendekat, Sarullah sedang menanti sesiapa yang hendak menggunakan perahu sampan yang dibawanya. Perahu itu pas untuk 4 orang.

“Mari naik,” katanya. Saya menggeleng.  Perahunya terikat di ban pelabuhan. Tanpa mesin dan hanya bermodalkan dayung. Sudah lama Sarullah menjajakan perahu sampannya untuk dipakai yang hendak ke laut, menyeberang atau diantar ke kapal.

“Sekitar sini saja. Kalau pakai mesin tidak kuat saya,” katanya dengan aksen Makassar. Dugaan saya benar. Sarullah adalah pria yang datang dari Kampung Pallengu’ (sekarang Kelurahan Pallengu, Kecamatan Bangkala—Kabupaten Jeneponto, Sulawesi Selatan).

Sarullah adalah jebolan pelayaran tradisional pinisi tahun 70-80an. Di usia begini dia hanya bisa mengayuh sampan kecil.

“Saya datang ke Jawa sejak tahun 1969,” ungkap pria yang pernah 7 tahun jadi pelaut. Sarullah pernah ke Sumatera dan Kalimantan.

“Saya tinggal di Muara Baru Ujung. Anaknya saya ada 7 tapi sekarang tinggal 4. Yang tiga meninggalmi,” katanya. Dari empat orang anaknya itu, dua sudah berkeluarga, satu telah bekerja, satunya masih sekolah.

“Kalau istri orang Makassarji,” kata pria yang bernama lengkap Sarullah Daeng Tahang.

***

Siang yang panas itu mendadak serius sekaligus menggelitik nalar saat dua orang lelaki paruh baya datang mendekat namanya Edi dan Abdullah. Edi ABK senior asal Sumbawa. Abdullah asal Bima. Keduanya mengaku keturunan Bugis-Makassar.  Mereka mengatakan bahwa banyak hal yang masih harus dibenahi di urusan pelayaran ini.

Mereka merasa bahwa ada beban yang harus ditanggung saat mereka sandar lama di pelabuhan, saat tiada ketidakpastian berlayar, mereka harus merogoh kocek sendiri. Para ABK harus menggunakan uang sendiri untuk makan hari-hari. Belum lagi untuk dibagi ke keluarga mereka harus hutang atau dipotong gajinya jika pulang berlayar. “Apakah ABK ada asuransi?” tanyaku.

“Mana ada asuransi, mati ya mati aja, mana ada,” sergah Abdullah. Abdullah terlihat cekatan dan memahami seluk beluk pelayaran. Dia juga ABK di kapal pinisi Edi dan Abdullah mengeluhkan rendahnya kepedulian para pemilik kapal yang tak memenuhi kebutuhan para ABK. Kebutuhan saat menjaga kapal, saat menunggu muatan dan jika kapal tak ada muatan sepulang dari mengangkut barang.

Mereka merasakan ketidakadilan ketika gaji mereka di kapal pinisi tak seperti kapal besi padahal beban kerjanya lebih berat di kapal pinisi. Mendengar cerita Edi dan Abdullah, saya membayangkan cerita-cerita lain dari perjalanan hidup Talib, Baharuddin dan Sarullah. Membayangkan cerita lain dari bagaimana mereka menambatkan masa depan anak-anaknya dengan perempuan-perempuan yang dipilihnya.

Talib yang menikah dengan perempuan Banten, sementara Baharuddin dengan perempuan Brebes tentu mempunyai kisah asmara, resepsi pernikahan, suka duka menjadi pelaut. Apapun itu, sepanjang mereka masih bertahan di lofi itu pertanda mereka bahagia, mereka nyaman, mereka terus menghebuskan angin tradisi maritim khas dari Timur, passompe, pelaut.

Di siang yang teramat terik itu, saya kembali memesan Gojek. Seperti ingin cepat sampai di penginapan dan menuliskan cerita pendek para pelaut itu, menyampaikan ke teman-teman di pondokan saya di kawasan Tebet.

Di jalan pulang, sebelum sampai ke gerbang pelabuhan, terlihat beberapa kaum muda mengabadikan pinisi, mereka bersuka cita atas pemandangan siang itu, mereka pasti terkesima pada jejeran kapal pinisi hasil karya luhur kebudayaan maritim dari Timur.

Tebet, 7 Februari 2016

Tantangan dari Eretan, Indramayu

Cahaya lembut pukul delapan pagi terpantul dari lekuk sungai Eretan. Menari di lambung peperahu yang keluar masuk muara sungai yang membelah dua tempat pendaratan ikan utama di Indramayu, Eretan Kulon dan Eretan Wetan (Kamis, 19 November 2015).  Eretan merupakan pusat kegiatan perikanan tua di Jawa. Di sini terlahir koperasi pesisir tertua di Indonesia pada 1926, Koperasi Misaya Mina namanya.

***

Pagi tanggal 19 November itu, saya menemukan di dermaga telah nangkring jejeran KM Risky, Mandala dan Mutiara, tiga kapal ikan yang beberapa hari mangkrak karena tidak punya surat izin melaut. Selain ketiganya, masih ada puluhan bahkan ratusan kapal serupa yang tertahan suratnya oleh dinas terkait dengan alasan akan diperbaharui surat izinnya.

Meski begitu, layaknya TPI aktivitas usaha perikanan terus menggeliat. Adalah Asmari dan Sukari, dua nelayan Eretan Wetan yang baru saja merapat di TPI. Perahunya yang ditaksir berbobot 5 ton datang membawa sebaskom besar ikan kecil dasar dan sekeranjang plastik ikan serupa. Dengan modal mesin Tianli berkapasitas 28 PK mereka beroperasi dengan jaring.

Dua orang merapat ke perahu dan membantu mengangkat hasil tangkapan tersebut. “Kalau yang ini namanya ikan jonggor, yang ini belanak,” kata Asmari yang sebentar lagi akan membawa ikan tersebut ke bakul atau pengumpul.

“Saya belum tahu siapa yang mau beli, siapa saja yang mau,” lanjutnya. Menurut Asmari kalau ikan ini dijual harganya bisa mencapai Rp. 2 hingga 2,5 juta. Tergantung negosisasi.

Tidak jauh dari situ seorang ibu menggendong anak balita. Si ibu mengaku bersuamikan nelayan dan sedang menanti suaminya. Dia sedang menggendong anaknya bernama Aliando. Mereka menemani nenek Aliando yang sedang membereskan udang di baskom. Udang-udang pucat dan akan dijajakan sebentar lagi. Di dekat mereka seorang perempuan berbaju merah dengan sigap menyapa kami.

Galau Walim

Untuk mengetahui tentang suasana pengelolaan usaha perikanan di Eretan Kulon dan isu dogol ini, kami merapat ke Haji Walim, salah seorang pendiri koperasi di Eretan Kulon, sekaligus tokoh berpengaruh di sana. Penulis memberi pujian pada sebuah kantor yang berdiri megah di sisi barat TPI. “Itu kantor KUD Mandiri Minabahari, inilah koperasi milik kami di Kulon. Dibangun oleh Dinas Indramayu, belum pasti juga ini menggunakan dana provinsi atau kabupaten,” ujar Walim.

Walim bercerita kalau dia lahir dan besar di Eretan Wetan, meski pernah meninggalkan kampung ini selama 3 tahun karena mencari nafkah di Lampung sebagai nelayan. Walim juga bercerita kalau sejarah nelayan Kulon dan alat tangkap dogol tidak bisa dipisahkan. “Sejak awal kami memang nelayan namun belum punya TPI,” Walim mulai berkisah.

“Nelayan Eretan Kulon masih menggunakan TPI di Eretan Wetan, namun lambat laut karena kampung berkembang, penduduk semakin banyak, nelayan juga banyak, kami mendirikan TPI ini. Kira-kira sejak 30 tahun lalu,” ungkapnya.

“Kalau lihat perahu-perahu di sini maka akan kelihatan kalau ukurannya sangat besar, justeru lebih maju di sini. Di sana tinggal 5 perahu besar. Banyak pemiliknya tinggal di Kulon. Itu bukti bahwa kami maju semua,” paparnya.

Seiring dengan berkembanganya nelayan Eretan Wetan, para tokoh kemudian mendirikan koperasi, tujuannya untuk melayani kebutuhan nelayan dan mengelola dana anggotanya. “Tapi yah, banyak nelayan sini ngeluh, ini surat-surat melaut diambil oleh Dinas mereka tidak bisa operasi,” imbuh Walim. Menurut Walim sejak dilarang beroperasi, sepertinya Pemerintah hendak menyengsarakan rakyat.

“Dogol itu di sini sama saja dengan cantrang di Jawa Timur. Itu bukan pukat harimau.” belanya. Menurut Walim, dogol sudah ada sejak lama dan telah memberikan kontribusi banyak bagi Pemerintah. “Kalau surat melaut dibekukan, yah, nelayan tidak bisa usaha. Kasih solusi yang baiklah. Kalau mau diukur ulang silakan,” katanya dengan suara meninggi.

Haji Walim

Menurut pengamatan penulis dan informasi dari Walim, sekurangnya terdapat 40 unit perahu berukuran 40 ton yang berlabuh di Eretan Kulon pagi itu. Di atas kapal ada 15 hingga 16 ABK. “Bayangkan saja berapa nelayan yang menganggur?” kata bapak dengan anak 6 dan bercucu 6 ini.

Di TPI Eretan Kulon, kapal-kapal yang sandar dan mengangkut ikan umumnya adalah nelayan dengan perahu dogol, perahu jaring dasar yang telah ada sejak 20 tahun lalu. Sudah relatif lama.  Dogol oleh Pemerintah dianggap rakus pada laut, mengambil semua yang ada, besar kecil. Cenderung menerabas seperti layaknya pukat harimau.

Seorang warga Eretan yang tak mau disebutkan namanya menyatakan bahwa beroperasinya dogol merusak jaring-jaring kepiting atau rajungan warga kecil.

“Kadang saya mau menangis kalau pas mau periksa jaring rajungan, ternyata sudah hilang,” kata pria tersebut. Menurutnya itu bukan sekali saja, namun berulang-ulang. Salah satu penyebabnya kalau banyak dogol yang beroperasi mulai mendekati lokasi-lokasi pencari kepiting dan pemancing tradisional.

Kapal-kapal dogol banyak berukuran besar dan dengan ukuran itu bisa dipahami kebutuhan operasionalnya.

“Biaya operasi satu unit kapal besar dogol itu sekitar 40 juta untuk seminggu operasi tapi kalau pulang bisa membawa ikan seharga 70 juta. Jadi untungnya di situ.” tambah Walim.

Bagi Walim, kehidupan nelayan Eretan Wetan ini sudah tergolong bagus dan harus dipertahankan apalagi dengan adanya koperasi yang kini beranggotakan 40 orang ini. Koperasi punya asset 2 miliar dan membagi SHU cukup besar rerata Rp. 6 Juta.

“SHU dibagikan tergantung nilai simpanan dan wajib dan simpanan sukarela.” katanya. Menurut Walim, koperasi beranggotakan pengusaha-pengusaha perikanan di Eretan Kulon seperti Haji Jemblo, Haji Juanda, hingga Haji Siman. Sedangkan pendiri koperasi adalah Haji Darma, Sanudin, Kopral Kota, Pak Kawi. “Semuanya sudah almarhum, sisa saya,” katanya menyungging senyum.

Meski tidak rinci Haji Walim mengatakan bahwa selama ini operasi dan hasil nelayan dogol diatur oleh koperasi atas kesepakatan dengan anggota seperti ada pembagian hasil untuk koperasi, pemilik kapal, pesangon dan lain sebagainya. “Selain dogol nelayan pancing juga ada tapi tidak banyak palingan 40-50 nelayan pancing,” katanya.

Sebelum saya pamit, Haji Walim mengatakan bahwa usaha dogol telah memberikan manfaatkan bagi Eretan Kulon. “Dari hasil melaut, nelayan bisa bangun masjid, bikin yayasan dan pesantren di sini. Kalau tidak menjaring gimana?.” Pungkas pemilik perahu bernama Ekamina ini.

***

Geliat di Wetan

Pukul Sembilan pagi kami berputar jalan dan mengarah ke timur, ke TPI Eretan Wetan.

Suasana hiruk pikuk sangat terasa saat kami memasuki kompleks Balai Pelabuhan Perikanan Pantau yang beralamat Jl. KUD Misaya Mina Desa Eretan Wetan Kecamatan Kandanghaur, Indramayu. Orang-orang masih tetapi menyebut kawasan ini sebagai TPI Eretan Wetan. Ikan-ikan tongkol, layang, cumi-cumi, tenggiri, mendominasi ruang lelang di TPI ini.

Di lokasi TPI kami menyaksikan aktivitas khas kampung nelayan. Para nelayan merapikan dan menisik jaring yang robek. Pagi itu mereka menisik jaring tangkap untuk purse sein. Di sisi utara lokasi lelang ada sehimpunan nelayan mengerjakan jaring, di bagian tengah ada sekumpulan ibu-ibu menjajakan makanan dan minuman.

Di bagian selatan, petugas lelang telah siap di meja lelang, sebagian lainnya merapikan ikan yang hendak dilelang. Para petugas bersepatu bot plastik memberi tanda dengan meletakkan angka. Sekitar pukul 10 suasana di TPI mendadak riuh oleh seruan petugas lelang. Suara yang keluar dari mikrofon terasa nyaring dan tegas. Lelang ikan di sini menggunakan bahasa Jawa yang teramat cepat. Hanya nelayan dan para peserta lelang yang memahaminya.

Sang juru lelang yang berbadan besar, berkumis dan tambun nampaknya sangat berpengalaman. Suaranya yang keras seperti menghentak ruang sadar peserta lelang untuk segera memutuskan; beli atau tidak. Di sini interaksi antara kaum perempuan sangat terasa dan nyata. Saat pelelangan, peserta lelang didominasi oleh perempuan. Sesaat setelah berpindah ke ikan-ikan yang hendak dilelang peserta lelang mengikuti sang juru lelang. Satu persatu ikan dilego, satu persatu ikan berpindah pemilik.

Alat tangkap purse-seine nelayan Eretan Wetan

Jika di Eretan Kulon ada KUB Mina Bahari maka di Eretan Wetan adalah KUD Misaya Mina. Ketuanya H. Mansur Idris SH. Koperasi yang telah lama berdiri, yaitu sejak tahun 1926.

Sebagian besar nelayan di Eretan Wetan menggunakan alat tangkap jaring rampus, jaring klitik/udang, gillnet, purse seine. “Mereka mulai perlahan meninggalkan arad atau dogol,” kata Yuni, mahasiswa S2 IPB yang sedang memfasilitasi penguatan kapasitas TPI di Indramayu.

Selain KUD di Eretan Wetan, fasilitas yang mendukung kegiatan perikanan di antaranya adalah perkantoran, gedung TPI Eretan Wetan, tanggul pemecah gelombang, menara air, SPDN, dermaga, pasar ikan, jalan beraspal, sumber air bersih, depot es dan lain sebagainya. Selain itu di sekitar TPI Eretan Wetan terdapat kantor Unit POSMAT TNI AL, pos kesyahbandaran Eretan, Dit Pol Air, pos pengawasan SDKP Eretan, dan Balai Pelabuhan Perikanan Pantai (BPPP) Unit Pelabuhan Perikanan Pantai Eretan.

Dari sinilah potensi perikanan Indramayu dikerek. Dari hasil rilis Dinas Perikanan Kelautan Indramayu untuk total produksi perikanan tangkap yang didaratkan sampai Oktober 2015 di TPI KUD Misaya Mina Eretan Wetan adalah 1.445.476 kg. Sedangkan produksi yang didaratkan di TPI KUD Mina Bahari Eretan Kulon mencapai 6.580.055 kg.

Selisih perbedaan produksi ini dapat mengarahkan kita pada kemampuan alat tangkap di kedua lokasi TPI ini, antara Eretan Kulon dan Eretan Wetan. Ada perbedaan nilai produksi, di Eretan Kulon lebih tinggi ketimbang Kulon.  Tahu kenapa?

***

Kapal sandar di TPI Eretan Wetan

 

Pelarangan alat tangkap jaring dengan ukuran mata jaring sangat kecil berdampak pada dogol, arad, maupun cantrang. Kementerian Kelautan dan Perikanan melalui Permen KP nomor 2/2015 telah menegaskan aturan ini. Selain itu, sebelumnya, Pemerintah melalui Keputusan Presiden (Keppres) RI Nomor 39/1980 telah melarang jaring trawl karena bisa membahayakan ekosistem laut. Lalu diperkuat di Undang-Undang Nomor 45 tahun 2010 tentang Perikanan. Ada alasan keberlanjutan dan perlindungan ekosistem dan sosial di sini.

Ibu Menteri Kelautan dan Perikanan, Susi Pudjiastuti dan tim kerjanya yang sedang membenahi tata kelola dan usaha perikanan nasional nampaknya harus kerja keras untuk memediasi isu-isu pemanfaatan perikanan seperti di Indramayu ini.

Di tingkat nelayan, terdapat kekayaan pengetahuan, keterampilan dan kerjasama di antara mereka. Potensi sekaligus tantangan sebab gagasan Ibu Susi untuk mengelola sumberdaya perikanan secara lestari bertolak belakang dengan praktik dogol, arad atau cantrang yang dipraktikkan oleh nelayan setempat. Praktik yang bukan saja mengancam pelestarian ingkungan laut karena menerabas ekosistem dasar perairan tetapi juga berpotensi merusak tradisi tangkap tradisional yang masih berlaku di perairan Jawa terutama di Indramayu.  Ada tekanan pada yang nirdaya dan tradisional.

Senarai dari geliat TPI Eretan Kulon dan Wetan ini merupakan informasi penting bagi pengambil kebijakan, perencana, pemerhati lingkungan, fasilitator pembanguan daerah, termasuk kita pembaca realitas ini untuk perlahan memberi pemahaman kepada siapapun untuk menjamin keberlangsungan usaha perikanan, keberlanjutan pengelolaan dan keadilan sosial.

Mengajak nelayan untuk hijrah dari alat tangkap yang berpotensi merusak dan serampangan ke alat tangkap ramah lingkungan butuh waktu, kesabaran, kesungguhan. Seorang peneliti pemberdayaan masyarakat dari Jepang bernama Nobuaki Wada, penulis buku Reaching Out to Field Reality menyatakan bahwa kadang warga atau komunitas tak sadar atas gejala perubahan lingkungan sekitarnya, dibutuhkan partisipasi pihak luar untuk dapat memberi pemahaman kepada masyarakat (termasuk nelayan) untuk menyadari realitas, isu dan risiko pemanfaatan sumberdaya.

Menurut Wada, orang-orang harus paham konteks perubahan sebab di situ ada unsur modernisasi dan industrialiasi. Pada situasi ini, warga atau nelayan seperti di Eretan sudah harus memilah, maju dengan pengelolaan lestari, atau sebaliknya. Saat ini, negara harus hadir. Pengalaman di Eretan termasuk di beberapa lokasi perikanan lainnya di Nusantara, seperti mangkraknya puluhan nelayan cantrang di Kabupaten Maros—Sulawesi Selatan ini menunjukkan bahwa hasil penangkapan maksimal dengan dogol dan sejenisnya bukan jaminan untuk hidup langgeng, lestari dan bersahabat dengan alam.

PR Ibu Susi dan kita semua adalah membantu nelayan-nelayan tersebut agar bisa keluar dari dilema sosial-ekologi perikanan ini atau kita akan kehilangan masa depan di laut karena pengelolaan yang tak berkelanjutan.

Apa yang nampak di Eretan adalah bagian dari dinamika perubahan, dan kita harus membiasakan warga atau nelayan untuk menjadi kreatif dan arif. PR kita, aktivis LSM, Pemerintah, Perguruan Tinggi, maupun pihak swasta untuk mencarikan solusi dan inovasi.

Mungkin saja ada alat tangkap yang lebih ramah lingkungan dan menguntungkan secara sosial, ekonomi dan lingkungan?

Bertemu Hardy di Belitung Timur

Belitung tersohor sejak novel dan film Laskar Pelangi menyihir perhatian publik. Setelah itu, sepak terjang konstruktif Ahok sebagai Bupati Belitung Timur turut menggoda selera pencari hal-hal baru oase birokrasi dan kepemimpinan di Indonesia.

Laskar Pelangi meninggalkan museum kata Andrea Hirata, Ahok melenggang ke Jakarta dengan segala kisah inspiratifnya. Selain itu, Belitung juga menawarkan pantai indah, menakjubkan dan unik seperti Pantai Serdang hingga Pantai Tanjung Tinggi.

Sebelum menulis hal keren itu, saya ingin bercerita tentang pernik perjalanan ke Belitung Timur, teman baru perjalanan serta kesan darinya.

Pulau Belitung, 9 November 2015.

Pesawat Garuda nomor dengan penerbangan GA282 yang membawa saya dari Jakarta melintasi pulau Belitung. Sejak melayang di atas bibir pantai pandangan tersita paras bopeng permukaan pulau.

Cahaya matahari pagi terpantul dari lubang-lubang. Pulau Bangka dan Belitung adalah pusat tambang timah. Selain tambang, paras pulau juga dicekoki pohon-pohon sawit.Hamparannya meluber hingga tepian bandara H. AS Hanandjoeddin.

Bandara yang akan saya jejaki sebelum bertolak ke Manggar, Belitung Timur.

Setelah keluar dari perut Garuda saya menyempatkan selfie di depan ruang kedatangan, sama dengan tetamu yang datang, mereka juga menyempatkan diri untuk mengabadikan bandara di ibukota Kabupaten Belitung ini.
Beberapa dari mereka terlihat berwajah khas timur.

Beberapa orang berpakaian seragam memberi tanda dan menawarkan tumpangan, tak seperti di tempat lain, mereka terlihat sopan dan tak merangsek.

“Ke Beltim bang?” katanya.

Tak ada unsur paksaan. Saya mengelak dengan mengambil jalan lain, ke mesin atm di bahu kanan ruang bandara.

Sekeluar dari ruang atm, seorang pria rambut belah dua mendekat.

“Mau ke mana bang? Ke Belitung Timur?” sapanya datar.

“Iya,” kataku.

Saya menanyakan jarak dan tarif yang saya dengar dari seorang teman di Jakarta.

“Tigaratus ribu?” kataku.

“Daeng dari Makassar ya?
Aku Bugis, Bugis Bone,” katanya menebak.

Lelaki bernama Hardy ini mengaku berdarah Bugis meski lahir dan besar di Pulau Belitung, di Tanjung Pandan.

“Bapak Bone, ibu Sinjai.” lanjutnya saat kami sepakat bersama ke Manggar, Belitung Timur. Menurut Hardy, jarak Tanjung Pandan ke Manggar sekitar 90 kilometer.

“Jaraknya jauh bang, tapi karena abang dari Sulawesi, tak apa harga segitu.” katanya lagi. Aksen khas Bugis tak terdengar darinya.

Lelaki berkulit gelap ini mengaku sudah pernah ke Makassar namun belum sempat ke Bone, kampung ayah kakeknya.

Sebelum menjadi supir bandara, Hardy adalah nelayan.  Pernah setahun bawa perahu namun merasa tak sukses.

“Hasil tangkapan kecil.” ujar pria yang mengaku mempunyai bapak bernama Syamsuddin, asal Salumekko, Bone.

“Sebagai nelayan, saya merasa orang Bugis yang sukses di laut atau berdagang pasti punya sesuatu, tidak semua orang bisa.” katanya. Sesuatu yang dimaksud adalah ilmu kepelautan dan ‘baca-baca’.

Dari perbincangan ini mengarahkan saya pada kesan awal bahwa misi saya 4 hari di Belitung Timur akan menyenangkan sebab akan bertemu nelayan-nelayan Bugis Makssar di perairan pulau penghasil timah ini.

Perbincangan saya dengannya terasa hidup sebab kami membahas tradisi berlayar ‘passompe’ orang Bugis dan kemampuannya beradaptasi di negeri orang.

“Nelayan-nelayan di sekitar pantai Tanjung Pandan hingga Manggar berdarah Bugis-Makassar, sudah bertahun-tahun.” katanya.

Menurut Hardy, orang dari Sulawesi mempunyai kemampuan adaptasi yang baik dan mudah diterima oleh orang Melayu asli Belitung.

“Tallu cappa’ yang menjadi pijakan orang Bugis Makassar, ujung lidah, ujung pena dan ujung kelamin.” kataku perihal kemampuan beradaptasi orang Bugis Makassar.

Bertutur santun, mengabdi dengan pengetahuan serta melanggengkan generasi dengan perkawinan jika sesuai hati.

Hardy terseyum, manggut. Menurut Hardy, orang tuanya, Syamsuddin adalah pedagang, telah berpindah dari beberapa tempat di Bangka Belitung untuk berdagang. Karenanya, ayahnya punya istri lain selain yang sekarang, ibu Hardy. Sanak saudara Hardy ada di Belitung, termasuk kedua kakaknya.

Hardy bercerita bahwa banyak punya teman nelayan Bugis yang berpindah menjadi penggali timah.

Ekonomi membaik sejak booming timah menyeruak di Belitung. Orang-orang punya rumah bagus dan beragam kendaraan.

“Dulu, sekilo timah, seukuran kaleng susu itu berharga 120 ribu hingga 150 ribu.
Timah ditimbang, diekspor, setelah jadi dikembalikan ke kita lagi.” katanya seakan mengeritik aktivitas menambang timah nun lampau.

“Banyaklah lingkungan hutan kita hancur, hanya tersisa lubang,” katanya.

Menurut Hardy, karena itu pula orang tuanya dan beberapa keluarga Bugis menjadi petambang atau pengusaha timah meski tak bertahan lama.
Bagi Hardy, orang Bugis yang bisa eksis di perusahaan tambang, berdagang hingga menjadi nelayan adalah kemampuan yang luar biasa dari pendatang dari Sulawesi itu.

Dalam perjalanan kami ke Manggar, suasana terasa lengang, hanya ada satu dua mobil nampak padahal jalan terlihat rata dan lebar.

“Ini setelah Boediono datang. Pernah sih SBY janji mau datang tapi tak jadi, entah karena apa.” kata pria yang memiliki dua orang anak ini. Menurut Hardy, Belitung Timur yang sekarang mulai menampakkan perubahan, geliat ekonomi berkembang dari sektor pariwisata, mungkin karena ada cerita Laskar Pelangi.

“Pak Ahok juga berperan. Dia mempromosikan Belitung Timur dengan baik,” kata Hardy lagi.

Butuh waktu sejam lebih untuk sampai di Manggar, ibukota Kabupaten Belitung Timur.

Sebelum ke kantor Dinas Kelautan dan Perikanan (DKP), Hardy mengantar saya mencari penginapan di Manggar, dari tiga penginapan yang kami kunjungi tak satupun tersedia kamar kosong.

Semuanya penuh karena rombongan Porwil provinsi yang dipusatkan di Belitung Timur. “Tak enak saya tinggal kalau Daeng belum dapat kamar,” katanya saat saya bilang akan cari hotel sendiri.

Hardy mengoperasikan mobil pemberian seorang pengusaha.

Menurutnya, tidak mudah membawa mobil seperti ini jika tidak ada kepercayaan dari yang punya. Meski begitu dia juga berpikir untuk punya mobil sendiri.

Dia mengaku hanya dia yang berdarah Bugis dari sekian supir bandara.“Harus sabar, sekarang paling sedikit 70 juta untuk bisa keluarkan mobil dari dealer.” ungkapnya.

Tak ada kesan bahwa dia berdarah Bugis, logat bicaranya gaya Melayu, meski demikian dia masih bisa menyebut beberapa kata dalam bahasa Bugis dengan fasih.

Menemukan orang asal Sulawesi di Belitung Timur rasanya sangat menyenangkan, tanpa terasa saya sampai ke tujuan dengan cepat lancar.

Jalan-jalan yang rata dan aspal yang masih baru menjadi pemandangan saat kami melintas membelah Pulau Belitung.

Beberapa monyet berlarian di sepanjang jalan.“Bukan hanya monyet, di sini juga terkenal tarsiusnya,” kata Hardy.

Saya tidak begitu yakin dengan binatang yang dimaksudnya.

“Kalau butuh, telpon saja, siapa tahu bisa jemput saat kembali ke bandara.” katanya setelah kami berfoto berdua di samping kantor Dinas Kelautan dan Perikanan Kabupaten Belitung Timur.

 

Saya, Galesong dan Segala yang Berubah

Tulisan acak ini didedikasikan untuk nenekku almarhumah Aisyah Daeng Baji, bapakku almarhum Azis Daeng Salle dan sanak keluarga di Galesong Raya. Tulisan ini juga didasari dari motivasi yang dihembuskan Darmadi, sahabat serumah di Jakarta. Dia bertitah, “Jika hendak mencari kemurnian datanglah ke hulu, ingin kekayaan segeralah ke muara”.

Iya, kita di Galesong Raya punya kekayaan, setidaknya kenangan dan kebanggaan. Mari menemuinya.

***

Malam ini, setelah sate ayam tandas di piring, setelah bilah-bilah bambu tusuk sate dibuang ke tempat sampah, tiba-tiba saya rindu pada ayam-ayam di kampungnya. Yang meskipun berkeliaran di hutan dan ladang-ladang sembunyian tetap gurih usai digoreng. Rindu pada rumpun pohon bambu di sekitar tanah lapang tempat bermain semasa kanak-kanan. Ribuan kenangan berkelindan.. Namun tak lama.

Sebulan lalu saya sempat berputar di jalan arah selatan di kaki jembatan yang telah berusia 35 tahun. Menemukan rumah-rumah telah semakin memadat, hanya ada beberapa rumpun bambu. Lapangan yang dibelah oleh pematang, tempat saya kerap bermain bola telah diisi 5 rumah bantu.

Pohon lobi-lobi tempat saya menunggu buah ranum tiada lagi. Mangga macan yang meskipun buahnya membuat bibirnya pernah mekar berlebihan pun tiada lagi. Pohon lontar yang dulunya masih ada 3 batang tempat warga mengambil tuak manis hanya menyisakan bongkol yang melapuk.

Bebatang pohon jambu lokal (bukan Bangkok) tempat dia mencari semut merah yang konon cairannya sangat ampuh untuk membantu proses sunat sekarang hanya tinggal bayang-bayang. Di sisi barat, di tanah lapang yang dulunya mewujud kolam ketika musim hujan kini tiada lagi. Tanah seluas 1 hektar itu kita telah ditimbun. Rumah sang pemilik tanahpun kini telah tiada. Entah di mana dia kini. Agak ke barat, lapangan kedua yang selalu dijadikan tempat main voli itu kini tak nampak lagi. 4 rumah mewah telah berdiri di atasnya.

Saya terngiang bunyi kodok saban malam kalau musim barat, musim hujan. Seluruh kampung nyaris mendengarnya ketika hujan reda. Di tengah kolam yang di lain waktu mewujud lapangan voli itu berdiri rumah kakeknya. Seorang pria tinggi dan beristrikan perempuan muda setelah istri pertamanya meninggal dunia. Di rumah itu dia menyimpan kenangan, tentang jaring milik sang kakek, juga bubu yang kerap dipinjam oleh sanak keluarga mencari ikan di sungai.

***

Malam ini, saya sungguh rindu pada kampung halaman, pada Galesong. Pada gelombang musim barat, pada laut yang rakus melumat daratan, juga sebaliknya, pada sungai yang semakin meluaskan daratan karena endapannya di timur.

Ingatanku pada tiang rumahnya yang dilumat gelombang dan hijrahnya keluarga besarnya ke timur. Saya menyadari bahwa gejala perubahan telah dirasakan di kampungnya. Sungai-sungai menyempit, muara mendangkal, laut semakin tak ramah dan menggerus tepi pantai.

Saya tak mau menyalahkan musim, tak jua pada angin. Yang saya pikirkan hanyalah di mana lagi anak-anak bermain saat pantai telah ditanggul, saat pasir pantai yang dulunya halaman bermain nan luas sekarang hanya batu yang dikirim oleh Pemerintah. Tentang pantai dan pasirnya yang luas, di situlah saya kerap menunggu papekang yang datang membawa ikan merah juga hasil bubu.

Wilayah itu namanya Galesong. Dia dikenal dalam timeline sejarah bangsa. Letaknya di selatan kota utama, memanjang dari utara ke selatan. Galesong yang dimaksudkan di tulisan ini adalah jalinan  kampung-kampung di radius 5 kilometer dari pusat pemerintahan di Galesong, atau rumah raja dimana Dia ikut di dalamnya sebagai saksi sebagai bagian darinya.

Sejarah tertentuknya Galesong dimulai oleh kesepakatan anggota tim kerajaan Gowa (Sombaya) untuk membentuk pertahanan di wilayah ini sebagai Tabbala Pabundu, dibentuklah benteng di perairan Galesong. Kawasan yang bagus karena dapat terlindung dari hempasan gelombang musim barat karena adanya Pulau Sanrobengi. Menurut cerita, Kerajaan Galesong pertama kali diperintah oleh Karaeng Mattinroa Ri Bobojangang pada abad ke-16. Beliau adalah kerabat dari I Mallombassi Daeng Mattawang Karaeng Bontomangape alias Sultan Hasanuddin.

Galesong menjadi tenar sejak Karaeng Galesong, I Mannindori Karaeng Tojeng menolak takluk ke Belanda dan meneruskan perlawanan hingga laut dan pesisir Jawa. Di Ngantang, Malang terdapat makam Karaeng Galesong tersebut.

Sejarah tersebut di atas menjadi pijakan sekaligus catatan indah atas kiprah orang-orang dari pesisir selatan Makassar tersebut.

***

Dari sejarah terbentuknya Galesong terbentuk tersebut, warga dan keluarga Karaeng bertahan dengan bercocok tanam dan melaut. Terdapat hamparan perkebunan, persawahan di timur Balla Lompoa atau kompleks permukiman raja-raja atau Karaeng. Balla Lompoa menghadap ke arah timur dan sesiapa, warga biasa yang melintas di jalan raya di depannya haruslah menggigit jari dan menundukkan kepala. Saya pernah melakukan ini sejak tahun 70an bahkan hingga masuk sekolah menengah pertama.

Garis demarkasi antara peninggalan sejarah, nama besar dan kharisma keluarga kerajaan tercermin dari interaksi kami saat merasakan kursi sekolah di tahun 70an. Garis demarkasi itu bergerak ke ruang-ruang komersil, modernitas dan transfer perilaku di bangku-bangku sekolah.

Di pandangan saya, lambat laun praktik menghormati secara gerakan semakin tergerus di masa ini meski nenek saya Aisyah Daeng Baji yang saat itu berusia 60an tahun tetap menyimpan dan menunjukkan semangat menghormati tradisi itu.

Saat kecil kami masih datang ke Ko’banga atau makam Tuanta Salamaka atau Syech Yusuf di Katangka Gowa, demikian pula berkunjung ke beberapa makam di Ujunga. Keluarga dari kakek saya Battu Daeng Ngalli datang dari Ujunga, atau Desa Boddia sekarang.

Praktik ini lambat laun hilang juga sejak saya memberikan penjelasan ke mereka tentang isi sebuah hadis, ‘Kunta Nahaitukun Ansyiaratiil Kubr ala Fujruha fainnaha ala tujkiratul mauti.” Intinya menjelaskan bahwa dulu Rasulullah melarang ziarah kubur, tetapi sekarang dbolehkan sepanjang itu akan mengarahkan dan menyadarkan kita untuk mengingat datangnya kematian.

Tradisi berangsur menghilang karena pelajaran dan ilmu agama dan kajian-kajian rasional di dalamnya.

Saat itu, di tahun 70an, Muhammadiyah berperan sangat signifikan dalam menggerus tradisi yang seperti di atas. Secara umum tak hilang sebab pada beberapa praktik berusaha seperti dalam mencari ikan di laut, tradisi yang nyaris sama masih tetap dilaksanakan seperti membuang sesaji di sekitar pulau Sanrobengi. Membakar dupa dan lembat daun ‘lanra’ bagi nelayan-nelayan.

Orang-orang yang saya kenal di tahun 70an adalah petani, nelayan yang juga mempunyai tradisi dan kepercayaan. Mengaku Islam tetapi masih belum sepenuhnya meninggalkan yang diwariskan sejarah dan kejadian mereka. Baik sebagai individu maupun bagian dari sistem sosial saat itu. Orang-orang di Galesong mengenal boe’, batu keramat dan tempat istimewa di atap rumah. Saat itu.

Sekarang mungkin tiada lagi sejak batu-batu di sekitar sungai dan laut telah tiada, demikian pula pammakkang atau ruang di bawah atap rumah panggung untuk menyimpan beras tiada lagi. Sebab mereka mungkin saja tak lagi punya padi panenan atau lahan sawah sebab telah berubah jadi ruko dan perumahan.

Entah kapan mulanya hingga kerap disebut Galesong Kota. Sejak kanak-kanak sebutan itu telah ada, Galesong Kota.Setahuku itu diterima sejak ada televisi umum di depan kantor camat Galesong, di kampung Takari. Ada sebuah sungai kecil menebas daratan antara pasar Takari dan lokasi televisi umum itu. Kalau ditanya mau ke mana, orang-orang menyahut mau nonton di Takari.

Suasana 70-80an

Pertengahan tahun 70an, saat saya belum dikhitan, bapak kerap mengajakku nonton televisi ini. Didudukkannya anak pertamanya ini di kursi kecil dari rotan yang pas untuk dijejalkan ke batang sepeda, kadera monye’ monye’, begitu sebutan orang saat itu. itu berlangsung beberapa bulan sampai sang anak bisa duduk di belakang.Bisa duduk di belakang namun kaki terikat. Biar aman.

Orang-orang datang berkerumum saban siang, instalasi listrik umum belum ada, saya tidak ingat sumber energi televisi saat itu, anak kecil seperti saya mana peduli yang informasi asal usul listrik saat itu bukan?

Di ujung tahun 70an, di transisi dari usia SD ke SMP, saban malam kami menonton di rumah Pak Dullah, seorang guru di SD dekat lapangan utama Galesong. Sesekali di rumah Nenek Lewa, kepala dusun, tokoh berpengaruh di Jempang.

Seingatku, selain menonton di televisi umum, Pak Dullah, kami juga kerap bergadang di rumah Pak Kasno, seorang penyuluh pertanian yang meskipun beragama berbeda dengan sebagian besar warga Galesong namun sangat disukai warga.

Masa-masa itu saya juga menonton di rumah Haji Liwang dan rumah Haji Kulle. Tahun-tahun antara tahun 1976 hingga tahun 83 adalah masa SD, adalah tahun-tahun merekam informasi, cerita, keadaan dari luar. Kisah heroik Muhammad Ali meraih dan mempertahankan juara tinju kelas berat saat itu adalah garis dan corak tebal di rentang tahun 70an.

Antara tahun 70an dan 80an, adalah juga era film layar tancap di Galesong. Dari sini kami mengenal Bruce Lee, A Rafiq, Rhoma Irama,

Tahun 80an, televisi telah ada di rumah bapak, di rumah kami. Tetap hitam putih. Di sela minat menonton yang sangat tinggi, rumah kami menjadi riuh ketika TV dinyalakan, sanak-saudara datang dan menghabiskan waktu berjam-jam di depan layar kaca temuan. Tontonan telah semakin mengasikkan dan berwarna sejak benda ciptaan Peter Goldmark itu menghiasi ruang tengah rumah kami.

Godaan tidak berhenti di situ, di rentang tahun yang sama, video VHS merajalela. Saya masih ingat kala itu kami, anak-anak perjaka dari Kampung Jempang kerap pergi nonton video. Di kantor Desa Pa’la’lakkang, lalu ke rumah Daeng Mare’ di Bayoa dan Pak Husain di Lanna’. Semuanya menawarkan film-film berbasis video player, dari Kungfu hingga percintaan religius Rhoma Irama.

Di tahun itu, bapak membeli video player VHS. Saat SMP hingga jelang masuk SMA di Makassar, profesi saya rangkap dua, sebagai siswa sekaligus operator video.  Saat memutar video di pesta perkawinan di Bontolangkasa, Gowa, saya melihat langsung seorang tua membengkokkan senjata tajam badik dengan telapak tangannya, persis melumat kertas. Inikah sisa kesaktian para pengikut Karaeng, para pejuang yang masih tetap bertahan?

Bisnis video kemudian redup di ujung 80an. Dunia telah berubah. Lesatan perkembangan teknologi komunikasi dan hiburan kian nyata. Semakin banyak rumah yang mempunyai televisi warna. Harganya semakin terjangkau. Pekerjaan utama warga Galesong, atau di radius 5 kilometer dari lapangan Galesong adalah petani dan nelayan. Petani bercocok tanam di timur, sementara nelayan melanglang ke selat Makassar di barat Galesong.

Orang-orang mengisi hari dengan sukacita. Jika boleh didaulat, maka sesungguhnya saya adalah keturunan nelayan. Kakek dari garis ayah adalah nelayan pancing dan pernah pula menjadi pencari ikan terbang atau Patorani, namanya Battu Daeng Ngalli. Battu kelahiran Ujunga/Boddia yang menata rumah tangganya pertama kali di Bayowa sebelum pindah ke Kampung Jempang di timur. Kakek dari garis ibu namanya Daeng Tora’, adalah pengusaha sekaligus nelayan.

Saya sebut pengusaha sebab setahuku punya perahu patorani sebanyak 12 unit. Nelayan, sebab dia juga melaut. Tentang perahu ini, mungkin agak konyol jika saya katakan habis karena dibagi-bagi ke cucunya. Saya salah satu yang mendapat bagian itu. Yang unik karena istri Daeng Tora’ bersepupu dengan istri Daeng Ngalli.

Dari pihak ibu atau nenek, juga tak kalah ber-sumberdayanya karena punya banyak tanah atau sawah. Nenek dari garis ayah punya lahan pertanian di Pattinoang, atau sekitar 5 kilometer ke tenggara Kampung Jempang, sementara dari pihak ibu punya tanah di antara Kampung Mario dan Tama’la’lang.

Sawah nenek dari garis ibu adalah yang memberi pengetahuan tentang bagaimana bercocok tanam, bagaimana menyiangi dan bagaimana memanen. Ini saya alami di pengujung tahun 1970an. Bapak saya Azis Daeng Salle kerap membawaku untuk menemaninya menyiapkan lahan, menanam hingga panen. Selain kami, maksud saya ayah dan keluarga besar kami punya sumberdaya yang dapat diandalkan saat itu.

Selain berharap dari lahan pertanian untuk menyimpan beras dan menanaknya jadi nasi, warga di Galesong adalah nelayan yang ulung. Mereka bisa ditemukan di Laut Flores, Selat Makassar hingga perairan Madura. Mereka adalah nelayan yang mencari ikan di selat Makassar. Dari perairan Jeneponto hingga Mamuju di utara.

***

Di rentang tahun-tahun 70an dan 80an kekerabatan di antara nelayan, antara sawi dan pinggawa (patron client) khas pesisir terpapar dari aktivitas mereka, dari pagi sampai malam, dari malam sampai pagi. Mereka menggunakan jalan raya sebagai tempat menjemur daun kelapa, bahan untuk bikin pakkaja atau sarang ikan, membentang temali untuk layar dan jangkar, menyiapkan layar dan tiang-tiangnya.

Di tradisi ini, bukan hal aneh jika setiap rumah masih menyimpan dupa dan membakar kemenyan saban malam terutama malam Jumat. Bagi yang percaya tradisi nelayan patorani, beberapa prosesi sebelum berangkat melaut juga dipraktikkan. Misalnya membawa dupa atau pa’rappo dari rumah kemudian dibawa sembari jalan kaki ke pantai, ke tempat perahu ditambat.

Tahun-tahun itu, adalah tahun-tahun di mana sungai yang membelah Galesong Kota masih lempang dan dalam. Perahun-perahu patorani disandarkan dan ditambatkan di sana.

Ada satu kebiasaan nelayan patorani saat itu sebelum benar-benar berangkat mencari ikan terbang dan telurnya di lautan luas. Mereka selalu ke Pulau Sanrobengi untuk semalam atau seharian sebelum kembali ke pantai Galesong. Ini merupakan tradisi. Menurut cerita sebagian dari mereka memberi sesaji untuk yang mereka anggap keramat di pulau itu.

Hubungan patron client ini meluas, dari sekadar hubungan di atas perahu kemudian penyedia modal dan pemberi pinjaman. Beberapa pinggawa (nakhoda) bahkan lambat laun jadi papalele yaitu pemberi modal. Papalele tak melaut. Nilai kekerabatan sangat kental saat itu.

Tokoh-tokoh nelayan bisa terlihat dengan kasat mata, dari peran dan fungsinya. Tahun-tahun itu, bir dan tuak adalah minuman tenar saat mereka bekerja menyiapkan pelayaran. Kami hidup dan melihat realitas itu dengan sangat jelas. Organisasi informasi terbentuk dari sawi, pinggawa, papalele. Bank belum ada. Pemberi modal atau papalele adalah pengusaha dari Makassar. Orang-rang di Galesong menyebutnya Baba’ Lompo.

***

Simbol-simbol perubahan

Tahun 80an perubahan kian masif di Galesong. Rumah-rumah semakin bertambah. Kabel-kabel PLN mulai menjalin rumah-rumah. Merambat dari atap ke atap. Saya ingat ada nama petugas PLM bernama pak Siddik. Kalau ada yang mau instalasi listrik, dialah yang paling dibutuhkan saat itu. Jalan-jalan yang dulunya berdebu saat kemarau, becek saat musim barat mulia dikeraskan, sebagian diaspal.

Karena bank sudah ada, nelayan semakin mudah memperoleh modal usaha. Mereka semakin jauh melaut, dari hanya di selat Makassar kemudian menyeberang hingga Maluku dan Papua. Sebagian nelayan bahkan berganti profesi menjadi pedagang kayu. Mereka berlayar ke Maluku, Papua dan Kalimantan untuk memboyong kayu. Tahun 80an dan 90an, bisnis kayu menjadi primadona.

Pada saat itu pula, sawah-sawah kemudian murai dijamah oleh warga, bukan untuk ditanami tetapi dikonversi jadi permukiman atau perumahan, maka berdirinya kompleks perumahan di antara Tambakola dan Tama’la’lang. Inilah simbol perubahan yang sulit dienyahkan selain mengenakannya meski tak paham risikonya.

Sejak kakek dan nenek, baik dari jalur ibu dan bapak telah meninggal, transformasi kian gesit. Perahu-perahu kakek satu persatu lepas. Diberikan ke anak-cucunya meski 1-2 yang masih berprofesi sebagai nelayan pada tahun 90an. Selain perahu, sawah-sawah juga berpindah tangan.

Singkat kata, fenomena ini juga dialami oleh banyak warga Galesong, mereka bertransformasi ke situasi yang mungkin mereka tidak pernah bayangkan sebelumnya. Perubahan pada sumberdaya alamnya, pada kepemilikan dan pemanfaatan.

Saya ingin menulis lebih panjang tetapi mata telah perih dan lelah. Saya sudahi saja.

Narasi di atas bisa dimaknai sebagai upaya menelisik perubahan-perubahan. Yang diungkit oleh kesadaran atau ketidaksadaran dari dalam diri, karena pengaruh eksternal. Karena derap modernitas.

Perubahan yang terjadi bisa disebut sebagai alamiah namun bisa juga disebut sebagai direncanakan, direncanakan oleh pihak luar dan diterima oleh orang dalam meski tak begitu yakin dengan arahnya. Perubahan yang kerap tak terlihat oleh orang dalam karena terpesona oleh kerlip perubahan di seberang.

***

Oya, cerita di atas murni pengalaman diri tetapi mungkin saja dialami oleh sebagian besar warga yang lahir dan besar di Galesong, di tanah para pelaut, para pengelana dan pemberani. Sebagian dari mereka mungkin telah bertahan hidup di tanah seberang, di Kalimantan, Sumatera, Jawa hingga Papua.

Arnold Toynbee mengatakan bahwa perubahan sosial , baik itu kemajuan maupun suatu kemunduran, dapat dijelaskan melalui konsep – konsep kemasyarakatan yang selalu berhubungan satu sama lain, yaitu tantangan dan tanggapan.

Apa yang terjadi di Galesong, dalam 30 atau 40 tahun terakhir adalah isyarat perubahan yang bermula dari lambat lalu bergerak secara spontan. Dia berubahan tanpa perencanaan, komunitas tak bisa beradaptasi dengan cepat. Sebagian lebur, bertahan, sebagian lainnya hilang.

Bagi sebagian orang peruabahan tersebut tergolong cepat karena ada konstruksi yang disengaja oleh orde baru, ada skenario besar bernama pembangunan dan orang-orang digiring untuk bertransformasi dalam tekanan.

Apa yang terjadi di Galesong, pada kami pada yang bergantung pada sumberdaya adalah perubahan yang nampaknya menjadi umum atau beberapa orang telah berubah keadaannya. Contohnya adalah perubahan model pakaian yang tidak melanggar nilai atau norma. Perubahan-perubahan yang dirasakan semakin nyata adalah ketika terjadi era transformasi. Contohnya adalah perubahan sistem pemerintahan dari otoriter ke demokratis.

Apa yangterjadi di Galesong adalah hal-hal yang tak bisa ditolak yaitu faktor pertumbuhan penduduk, adanya penemuan-penemuan baru seperti televisi, video dan layar tancap. Dia mengubah pola relasi dan cara bergaul kami, juga orang-orang di kampung.

Adanya Muhammadiyah dan Nahdatul Ulama menjadi bagian dari perubahan di pedalaman Galesong, di pesisir dan kawasan pertanian, ada pergeseran nilai-nilai keagamaan yang semakin tercerahkan.

Sebagian lainnya mungkin seperti saya, selalu merindu yang lampau, pada yang pernah ada, pada kekayaan, seperti yang disebut Darmadi, pada unsur-unsur pembentuk komunitas di Galesong, kampung halamanku tercinta.