Ayo Semarakkan "Indonesia, Pray for Japan" di Gedung Mulo, Makassar

Sejak Juli 2008, saya bekerja untuk satu proyek yang melibatkan beberapa konsultan asal Jepang. Wajar karena proyek merupakan kerjasama antar Pemerintah Indonesia dan Pemerintah Jepang sehingga mereka juga urun di proyek itu. Di proyek yang mengurusi strategi pengembangan kapasitas stakeholder pembangunan daerah se-Sulawesi terdapat empat warga Jepang.

Mereka sangat Indonesia, selain berpengalaman dan memahami situasi pembangunan daerah di Indonesia mereka juga tangkas berbahasa Indonesia. Saya berinteraksi, belajar, menyerap dan mencecap hal baik tentang nilai luhur sejarah kebudayaan mereka dan tentu saja komitmen atas pekerjaan yang digeluti. Semua orang tahu bahwa budaya kerja Jepang adalah kaizen, satu budaya kerja yang totalitas pada pencapaian tujuan yang berdasar pada kolektifitas. Saya belajar banyak hal terkait spirit kerja yang sangat positif.

Sebagai pekerja LSM yang bergelut dengan pasang surut perilaku di organisasi yang konon dikenal “rentan tak disiplin” itu, saya merasakan nuansa yang sangat berbeda dan menginspirasi. Konsistensi dan dedikasi pada pekerjaan adalah dua hal yang berbeda dan saya nikmati selama bekerja dengan mereka.

***

Bersama dua orang dari mereka kami ada di Kendari, Sulawesi Tenggara dari tanggal 14-18 Maret saat orang-orang sejagad mengarahkan pandangan pada belahan utara Jepang, yang sedang diterjang tsunami. Terhebat sepanjang sejarah. Keluarga keempat sahabat kami itu baik-baik saja karena masih jauh dari pusat bencana di Miyagi.

“Terima kasih atas dukungannya, keluarga kami baik-baik saja. Rumah keluarga ada di bagian barat” ujar salah seorang dari mereka. Tiada raut kesedihan di wajahnya. Padahal kampungnya tidak jauh dari pantai. Bukan hanya mereka. Tiga orang yang pernah berkunjung ke Makassar juga memberi kabar melalui akun Facebook dan Twitter mereka bahwa mereka baik-baik saja.

“Kamal san (maksudnya Kamaruddin), all my friends, family and I are fine. thank you for your warmest comments. Although we do not have enough food and electricity, we gonna be fine soon, i hope” kata Noriko Seto dari Tokyo.

Keluarganya baik-baik saja walau makanan dan listirk sangat terbatas. Pesan ini menyiratkan perjuangan dan kekuatan. Tentu saja sangat banyak orang yang menunjukkan kepedulian pada negeri yang baru saja kehilangan 7ribuan jiwa warganya. Ribuan jiwa lainnya masih belum ditemukan. Negeri itu menderita kerugian trilliunan rupiah.

Kata tsunami yang terkenal itu adalah bahasa Jepang. Sebagaimana Jepang, Indonesia juga berada di jalur gempa dan rasanya memang harus mengadopsi budaya a la Jepang dalam menghadapi tantangan alam dahsyat tersebut. Pengalaman gempa bumi dan tsunami Aceh Nias menjadi contoh betapa cara negeri kita menghadapi bencana sangat berbeda dengan Negeri Sakura tersebut. Mereka lebih tangguh dan cekatan dalam menyikapi dampak bencana.

Menggalang Dukungan

Dalam beberapa catatan, Indonesia punya hubungan sosial budaya dan perdagangan yang panjang dengan Jepang. Dan karena hubungan itu maka esensi simbiosis mutualisme dalam artian sesungguhnya rasanya layak ditunjukkan. “Bahagia Bersama, Bangun Bersama”.

Kota Makassar yang telah menjalin hubungan sosial ekonomi yang relatif panjang dengan Jepang, semisal pada bidang teknologi, industri pertanian, perikanan dan hasil bumi lainnya sejak puluhan tahun silam itu tidak mau tinggal diam. Beragam komunitas, organisasi dan perkumpulan profesi menggelar ajang peduli bagi masyarakat korban bencana tsunami Jepang.

Salah satunya adalah dengan menggelar “Indonesia,Pray for Japan”, acara amal untuk menunjukan simpati dan solidaritas kepada para korban bencana pasca gempa dan tsunami di Jepang. Acara ini akan berlangsung pada tanggal 27 Maret 2011 di Gedung MULO, Jl. Jend. Sudirman, Makassar. Acara digelar mulai pukul 09.00 ini akan berakhir pada jam 18.00 wita.

Ada pun jenis kegiatan yang digelar adalah penjualan merchandise INDONESIA ‘Pray for Japan’, Tanabata, pemasangan ‘peace messege’, Flea Market (barang bekas layak pakai), Bazaar makanan Jepang dan umum, pembuatan ‘EMA’, plakat kayu berisi do’a-do’a, penjualan pernak-pernik vlanel, bertema Jepang, pameran photography dan berbagai pertunjukan tari, lagu, teaterikal, puisi, yukata show, cosplay serta yang tidak kalah pentingnya adalah Donor darah dan pelatihan CPR (Cardio Pulmonary Resuscitation).

Sebagai bagian dari komunitas dan pemerhati relasi mutualisme dengan negeri Sakura itu, rasanya kita, facebooker, blogger dan segenap warga Makassar dan sekitarnya layak mendukung acara yang diprakarsai oleh organisasi PERSADA (Persatuan Alumni dari Jepang) dan AMDA (Association Medical Doctors of Asia) dan didukung oleh Nihonjin-Kai (Masyarakat Jepang yang berdomisili di indonesia), komunitas pencinta Jepang, dan organisasi kemasyarakatan lainnya.

Datang yuuuk…

One thought on “Ayo Semarakkan "Indonesia, Pray for Japan" di Gedung Mulo, Makassar

  1. insya Allah kita akan ketemu DeNun di sana. Kami sekeluarga dan keluarga kakak ipar juga akan hadir. Kebetulan, kami punya banyak kenangan pribadi tentang Jepang.

    Like

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

%d bloggers like this: