Keindahan Anambas, Negeri si ‘Lancang Kuning’

Larik lagu Lancang Kuning mengalun di benak ketika saya melintas di atas Laut Anambas, ketika pesawat ATR 72-500 meliuk di angkasa sebelum memutar di atas Pulau Matak. Di pulau inilah, pesawat akan mendarat, pertanda inilah pertama kalinya saya menjejak Kabupaten Kepulauan Anambas di Provinsi Kepulauan Riau.

Saya terkenang ketika lagu Lancang Kuning diperkenalkan oleh sahabat-sahabat saya dari Program Studi Ilmu Kelautan Universitas Riau di tahun 1994. Ketika kami bersama mengarungi Selat Makassar di Januari yang berombak.

Lancang kuning belayar malam
Belayar malam…

Namun, kali ini saya tidak sedang berlayar. Saya sedang melewati kolom udara Nusantara dari Jakarta ke Kepulauan Riau, tepatnya Kabupaten Kepulauan Anambas, kawasan yang saya sebut sebagai Negeri Lancang Kuning.

Oh ya, jika kita ingin ke sana, lewat laut, tentu tersedia banyak titik keberangkatan. Bisa dari Batam, Tanjung Pinang, atau Tanjung Balai Karimun atau dari mana saja tetapi waktu tempuh akan berbeda.

DFW_1467
Kota Tarempa di malam hari (foto: Kamaruddin Azis)
20170926_075923
Mandarat di Bandara Matak (foto: Kamaruddin Azis)

Jika Lagu Lancang Kuning mengingatkan perihal penentuan haluan menuju ke laut dalam, pada tantangan kehidupan dan pentingnya pedoman dan ketetapan hati maka perjalanan kali ini cukup di Pulau Matak dan Siantan saja. Tak perairan dalam seperti maksud lagu itu. Melintasi lautpun tak sampai satu jam, sekira 20 menit dari dermaga Matak ke Tarempa, ibukota Anambas.

Haluan menuju
Haluan menuju ke laut dalam…

Kalau nakhoda
Kalau nakhoda kuranglah faham
Kuranglah faham…

Alamatlah kapal
Alamatlah kapal akan tenggelam…
Alamatlah kapal
Alamatlah kapal akan tenggelam…

Kabupaten Kepulauan Anambas adalah buah pemekaran Kabupaten Natuna. Pada 2008, kabupaten beribukota Tarempa itu resmi menjadi kabupaten otonom bersama enam kabupaten dan kota lainnya untuk Provinsi Kepulauan Riau. Tersebutlah Kota Tanjung Pinang dan Kota Batam beserta Kabupaten Bintan Kepulauan, Natuna, Lingga hingga Karimun.

DFW_0950
Suasana tepian Tarempa (foto: Kamaruddin Azis)
DFW_1498
Jalan menuju Rintis (foto: Kamaruddin Azis)

Nah, sudah pernah ke Anambas? Jika belum, pilihannya bisa naik kapal laut dan pesawat udara. Dengan kapal laut bisa dari mana saja, tetapi yang paling umum adalah dari Tanjung Pinang dan Batam. Ada pula Kapal Tol Laut jalur Jakarta, Natuna dan Tarempa. Cek jadwalnya jika ingin pelesiran ke sana.

Jika ingin via udara bisa melewati Bandara Matak, di Pulau Matak. Bandar udara ini mempunyai panjang landasan pacu 1.929 x 45 meter. Bandara dibangun pertama kali oleh Perusahan Minyak asal Amerika ConocoPhillips. Ada yang bilang tersedia pesawat Premier Oil berute Batam tapi saya tidak melihat saat itu.

DFW_1368
Poros Antang – Tarempa (foto: Kamaruddin Azis)
DFW_1007
Pemandangan sebelum merapat di Tarempa (foto: Kamaruddin Azis)

Selasa, 26 September 2017 adalah hari pertama saya ke Anambas. Jujur saja ini adalah  kesempatan istimewa bisa melihat langsung keindahan kabupaten yang disebut mempunyai pulau 256 buah ini meski baru 26 yang telah berpenghuni. Berkesempatan menikmati keindahan pepulau Nusantara dan lautnya, harapan masa depan bangsa. Apalagi Anambas adalah wilayah terluar Indonesia.

Wow! Ada dua ratusan pulau yang masih kosong dan tentu saja berpotensi untuk dikembangkan di masa datang, bukan?

DFW_0856
Pemandangan sebelum mendarat di Matak (foto: Kamaruddin Azis)
DFW_1348
Pemandangan kampung Antang (foto: Kamaruddin Azis)

Kembali ke penerbangan. Penerbangan dari Halim Perdanakusuma menempuh waktu 2 jam 40 menit dengan pesawat ATR 72-500. Pesawat berangkat selepas subuh di Jakarta dan memasuk wilayah Anambas sekira pukul delapan. Semua seat pesawat terisi penuh. Dari jendela pesawat terlihat berbaris pepulau, indah dan memanja mata.

Cahaya sunrise memberi nuansa berbeda. Setidaknya ketika melihat jejeran rumah di pantai, barisan pulau-pulau da laut biru di antaranya. Juga cahaya yang memantul dari lautan. Saya lalu mengarahkan kamera Nikon di tangan ke tepian pulau.

Jarak-jarak pulau terlihat tak berjauhan, di antaranya ada perahu-perahu berlayar tinggi. Semacam yacht. Beberapa sudut Anambas sempat terekam sebelum pesawat mendarat sekira pukul 08.40

Perjalanan saya dari Matak ke Tarempa juga menampilkan pemandangan pantai dan rumah-rumah warga di tepian pulau. Rumah-rumah di atas laut. Rumah ini mengingatkan saya pada suku nomad Bajo di Sulawesi Tenggara dan Gorontalo.

DFW_1544
Kota Tarempa dilihat dari Rintis (foto: Kamaruddin Azis)
DFW_1090
Kakek tua di kedai kopi samping pasar ikan (foto: Kamaruddin Azis)

Singkat cerita, saya sampai Tarempa dan mengaso di penginapan Tropical Inn yang meski sempit tetap terasa cozy. Dari titik ini saya mengisi hari dengan mengunjungi titik-titik kece Kota Tarempa dan sekitarnya. Termasuk ke Bayhill di timur kota, ke Antang di Tarempa Timur, ini adalah tempat penambatan kapal-kapal ikan asing tangkapan Negara serta meluangkan waktu jogging ke poros Rintis di bukit kota.

Di antara aktivitas selama di Tarempa, saya sempatkan juga berkunjung ke Pasar Ikan Tarempa serta menikmati hangat Kedai Achyar yang terkenal serta salah satu kafe yang menyajikan Mie Aceh di poros jalan menuju Antang.

DFW_1377
Ada kapal Tol Laut di Tarempa (foto: Kamaruddin Azis))
DFW_1506
Kota Tarempa (foto: Kamaruddin Azis)
DFW_1295
Jelang petang di Antang (foto: Kamaruddin Azis)

Di Anambas, di pulau-pulau haluan Lancang Kuning, saya semakin sadar Nusantara menyimpan pesona keindahan surgawi, mahsyur dan bekal masa depan bangsa. Kembali ke warga Anambas, kembali ke semua pihak, mau diapakan dan ke arah mana, Anambas dibangun?

 

Advertisements

Selayar, Gusung, Taka Bonerate: Luar Biasa!

Pada perjalanan berbekal semangat, persahabatan dan toleransi yang sungguh-sungguh tak sulit menyepakati alur dan pemberhentian. Semua tunduk pada tujuan dan alur yang telah disepakati: meluluskan asa, melonggarkan rasa, bebas kemana dia mau.

“Pada perjalanan ke Pulau Selayar, pulau terpisah dari daratan utama Sulawesi, di bulan Oktober yang basah, di kalender 2011, beberapa orang terikat akan selera dan gairah yang sama: melayari angan, menantang angin, melabuhkan rencana dan memuaskan diri dengan cerita yang berseliweran tentang keindahan pulau Selayar!”

Mereka memulainya di Oktober yang bersahabat, pada bulan peralihan yang masih lembab. Antara gairah meluap-ruap dengan tantangan pasang-surut yang berkelindan. Kadang hujan, kadang panas, kadang rendah, kadang mual, kadang memelas meminta atensi, yah, mungkin pada sekulum senyum dari salah seorang di antara mereka. Anda pasti tahu siapa dia…

Bersiap melakukan perjalanan laut (Foto: Kamaruddin Azis)

Foto 1: Inilah anggota rombongan, seperjalanan yang hendak menjajal asa yang telah diperamnya selama bertahun-tahun.

Menunggu tumpangan (Foto: Kamaruddin Azis)

Mengapa Selayar?

Selayar, karena mereka telah mendengar dan terbius pesona keindahan yang didegung-dengungkan. Mereka percaya, tetapi mereka ingin membuktikannya. Atol ketiga terbesar di dunia, terumbu karang dan pantai berpasir putih. Adakah yang berbeda?

Gusung pada Suatu Siang (Foto: Kamaruddin Azis)

Foto 2: Keadaan Gusung, pulau di seberang kota Benteng, ibukota Selayar yang menyita perhatian mereka. Di balik terik yang membelenggu semangat, pemandangan ini seperti oase keindahan. Sesiapa yang mampu menolak?

Pulau Idaman di Negeri Sendiri (Foto: Kamaruddin Azis)

Foto 3: Kita berkelana dan berkenalan dengan pemandangan laut, pulau, percik air, deru mesin dan pesan perjalanan yang membius ingatan. Mari menikmati pemandangan dan pesona bawah laut pulau luar biasa di dalam rongga Taman Nasional Taka Bonerate, kabupaten Kepulauan Selayar ini. Namanya pulau Tinabo. Pulau yang paling siap menunggu kedatangan anda jika hendak pelesiran bahari.

Welcome to Rajuni Island (Foto: Kamaruddin Azis)

Foto 4: Sempatkan untuk mampir di Pulau Rajuni Kecil, pulau tertua dan paling dinamis kehidupan warganya. Di sana, anak Bajo seperti di atas akan memberi anda pandangan berbeda namun bersahabat.

Yang Berbahagia (Foto: Kamaruddin Azis)

 Foto 5: Jump baby Jump! (Foto: Kamaruddin Azis)

Sebagaimana asa yang terpuaskan, ada kala dimana terbang dan mengamati jejak dibutuhkan. Seperti itulah pilihan si dia walau suhu melumat cream di wajah nan mulus

Berbagi cerita dengan otoritas setempat (Foto: Kamaruddin Azis)

Foto 6: Memuaskan dahaga informasi tentang cara mengejawantahkan kesukaan dan kecintaan pada laut, ikan,karang dan segala pernik keindahan bukti kemahaagungan sang Khalik.

Berharap Datang Lagi (Foto: Kamaruddin Azis)

  Foto 7: Good bye, kami akan datang lagi…Sebab asa selalu dapat diperbaharui. Membayangkan perjalanan baru dan menantang rasanya layak diteruskan…

Fotografi: "Menakar Wajah Sekitar, Meraup Senyum"

Kembali ke Darat (Desa Bontosunggu, Takalar)

Foto 1: Sebagai pekerja pada lembaga sosial yang kerap melakukan perjalanan ke desa-desa pesisir di Sulawesi, saya menemukan oase yang lapang ketika melihat geliat warga di tepi pantai. Di sana ada kerjasama, senyum, bahagia dan tentu saja modal sosial. Seorang nelayan yang kembali melaut tidak bisa meneruskan kegiatannya jika hanya menggantungkan pada dirinya sendiri.

Demi Nabi (Desa Punaga, Takalar)

Foto 2: Kerap kali untuk urusan menghias atau mempercantik diri, perempuan ahlinya. Urusan mendekorasi, merawat dan menjaga penampilan, wanita ahlinya. Apa yang saya lihat di Desa Punaga, Kabupaten Takalar ini menjadi berbeda, sebab momen yang seperti ini jarang terlihat, momen ketika seorang lelaki rela berpanas ria demi memperbaiki wadah berhias untuk kegiatan Maulid Nabi.

Sampai Pagi (Galesong, Takalar)

Foto 3: Mereka, di foto di atas adalah sebagian besar keluarga saya di Galesong, Takalar. Mereka baru pulang dari operasi “purse sein” atau rengge’. Mereka melepas senyum saat saya menyapa dengan satu bidikan kamera. Awesome!

Memuaskan Dahaga (Galesong, Takalar)

Foto 4: Suasana ceria anak-anak di Galesong, bermain seraya menunggu para nelayan pulang dari melaut. Dunia bertabur senyum dan kedamaian: bermain di laut!

 

Journey: Pesisir Selayar, Sulawesi Selatan, Indonesia

Mengunjungi Kabupaten Kepulauan Selayar, Propinsi Sulawesi Selatan, rasanya tak lengkap sebelum menjajal panorama pesisir dan ragam sumberdaya yang ada di sana. Selayar ditopang oleh daratan utama pulau Selayar (panjang +/- 100kms) dan puluhan pulau-pulau kecil yang membentang dari Laut Flores hingga perbatasan dengan Bulukumba. Mereka menyimpan potensi yang melimpah seperti ekosistem pantai, bakau, terumbu karang  hingga pesona laut dalam. Sektor perikanan dan pariwisata bahari dapat menjadi simpul kemajuan ekonomi bagi wilayah kabupaten paling selatan dari propinsi Sulawesi Selatan ini.

Pesisir Pulau Pasi

read more