Dari Kolam Mario ke Sepeda Malam

Donnie dan Intan Marina di Kolam Mario (Foto: Istimewa)

Tanggal 19 Februari 2012 menjadi luar biasa. Jika biasanya, hari Minggu hanya diisi dengan bercengkerama dengan anak-anak di rumah, menemani istri ke kampung di Galesong atau ke mertua di jalan Kakatua II, Makassar maka hari itu kami punya agenda tak biasa. Yaitu menemani kedua anak saya Intan Marina dan Khalid Adam berenang ke Kolam Mario, Sungguminasa.

Sebelumnya, selama satu minggu saya mengikuti ToT Master Facilitator Masyarakar  di kota dingin Malino, Kabupaten Gowa. Setelah itu, kangen rasanya menghabiskan waktu bersama anak-anak. Kami pun putuskan untuk pergi  berenang. Donnie, begitu Khalid Adam anak kedua saya biasa dipanggil sangat menikmati kegiatan itu. Intan, anak pertama saya juga sumringah diajak menikmati kolam renang yang cukup ramai di Sungguminasa.

Kolam ini terlihat istimewa karena ada kolam ikan di sampingnya.  Secara bergantian Intan dan Donnie mengajak saya untuk berenang bersama.  Mereka belum tahu berenang jadi mesti ditemani di kolam yang lebih dalam. Hampir dua jam kami menikmati suasana Minggu itu di kolam renang.

Karena jarang berenang, punggung saya terasa sakit . Letih mendera. Hampir tiga jam saya manfaatkan untuk tidur siang.  Melelahkan tapi asik sekali.

***

Tapi bukan itu saja ceritanya. Saya diajak oleh istri berkunjung ke rumah mertua di Jalan Kakatua II, Makassar. Waktu menunjukkan pukul 18.00 wita saat saya sampai. Ada sesuatu yang dinegosiasikan.

“Boleh saya bawa sepeda itu ke Tamarunang, ke rumah saya?” kata istri ke mertua saya. Mertua saya rupanya sulit menolak permintaan istri, juga kedua anak lelakinya.  Rupanya ini negosiasinya. Mertua lelaki saya di Surabaya baru saja mengirim sepeda baru.

“Bawa saja kalau mau pakai” kata beliau. Kedua anak lelakinya juga tidak menolak. Daripada di sini, tidak ada ruang simpan, kata mereka. Padahal itu sepeda baru, model BMX warna pink.

Nah, saya merasa tertantang saat ditanyakan, bagaimana bawa ke rumah?

“Saya yang bawa, naik sepeda itu” kataku. Awalnya saya tidak yakin bersepeda malam, saya bisa bawa dengan menaikinya ke rumah. Dengan jarak tempuh 12 kilometer, istri saya juga khawatir.

“Ah, bisa tidak?” godanya.

“Ah, saya masih kuatlah…” kataku.

Begitulah, saya pun  sukses membawanya ke rumah dengan keringat bercucuran di badan dan kening. Tidak lupa saya berhenti di belakang Balla Lompoa, Sungguminasa. Warung Nasu Palekko, khas bebek menggoda saya.

Sejak saat itulah, saya makin termotivasi untuk menjelajah relung wilayah di sekitar rumah dengan bersepeda. Inilah yang lama saya idam-idamkan, naik sepeda setelah raket bulutangkis dan tenis tidak pernah digunakan lagi.

Advertisements