Saat Laut dan Permukiman Bajo Dibatasi Beton

Kondisi Permukiman Warga di Kelurahan Bajoe (Foto: Kamaruddin Azis)
Suku Bajo disebut Suku Laut mendiami pesisir penting di Sulawesi, Kalimantan, Sumatera hingga Malaysia, Brunie dan Philipina. Dikenal sebagai komunitas yang enggan dipisahkan dari pengaruh laut.

Di Sulawesi, sebagaimana yang pernah penulis kunjungi, suku ini dapat dijumpai dalam kawasan Taman Nasional Taka Bonerate seperti Pulau Rajuni, Tarupa, Pasitallu, Latondu (Selayar), kecamatan Soropia, Wangi-Wangi, Wakatobi (Sultra) hingga Torosiaje (Gorontalo).

Tanggal 26 Oktober 2011, saya berkunjung ke Permukiman suku Bajo di Kelurahan Bajoe, Bone setelah mampir di pelabuhan penyeberangan fery Bajoe-Kolaka. Saya beruntung diterima Sanuddin (40 tahun). Sanuddin adalah profil warga Bajo yang tetap berhubungan dengan lingkungan laut.

Mengenakan topi dia bercerita tentang pengalamannya. Dia telah melanglang ke penjuru mata angin Bajoe, ke Selayar dan wilayah timur pulau Sulawesi. Karena kegesitan mencari hasil laut itu dia sempat terkena serangan akut lumpuh di pergelangan kaki dan tangan. Tapi dia selamat walau kakinya pincang.

“Saya dirawat selama satu minggu, diurut, ditaburi minyak Samson dan obat” katanya. Sanuddin kena serangan saat menyelam mencari teripang di sekitar perairan Bajoe.

“Saya terkena serang lumpuh tahun 1999. Diurut oleh nenek di kampung Bajoe, suku Bajo” katanya. Menurutnya banyak warga setempat yang telah terserang lumpuh ini. Ada yang bisa pulih namun tidak sedikit yang meregang nyawa.

“Saya pernah tinggal hampir setahun di Pulau Tarupa, Taka Bonerate” Kata Sanuddin. Saat itu tahun 1998. Dia ke sana mencari teripang. Dibawa oleh pak Jammisi, warga Bajo yang tinggal di Belopa, Kabupaten Luwu.
Selain Sanuddin, saya juga bertemu Susan. Susan beribu Bajo dan ayah Bugis. Susan lulusan sekolah di MTs atau setingkat SMP. Ibunya bernama Ramsia.

“Saya hanya sampai MTs, saya separuh Bajo, separuh Bugis” kata Susan yang wajahnya sangat putih ini, berbeda dengan wanita Bajo kebanyakan.

Menurut Sanuddin, Warga Bajo telah bercampur dengan kebudayaan Bugis Bone namun tetap ada ciri khas mereka sebagai pelaut, mereka sering bepergian berbulan-bulan mencari hasil laut, bahkan hingga Pantai Sapuka, dekat Madura.

“Nenek moyang kami saat terjadi gerilya tinggal di Lassareng, Cappa Ujung, Sibulue. Lalu menyingkir ke sini” aku lelaki yang ibunya telah meninggal dunia ini.

Sanuddin dan Susan (Foto: Kamaruddin Azis)

***
Jika berkendara dari arah kota Watampone menuju Pelabuhan Bajoe, kita berbelok kanan, di sana ada perkampungan yang dipisahkan oleh jalan beton. Nah di situlah perkampungan Bajo yang dipunggungi oleh bangunan, restoran dan tanggul beton.

Jika suku Bajo di kawasan lain masih intim dengan peluk dan jilatan lidah air. Bebas, lepas, a la mare liberum (laut bebas) namun suku Bajo di Kelurahan Bajoe, Watampone terpisah oleh tanggul, hingga permukiman terendap dan terendam air, kumuh penuh sampah.

“Cobaki lihat air yang tergenang dan sampah di bawah kolong rumah warga” kata Sanuddin pada sore itu.

Pengembangan dan penataan permukiman bagi suku laut itu menimbulkan kecemasan karena mengurangi akses mereka berinteraksi dengan lingkungan laut. Niatnya terlihat baik namun jembatan beton telah membentengi namun menjauhkan mereka dari laut.

Paling tidak bagi Sanuddin dan Susan.

“Semua gara-gara jembatan yang dibangun itu” katanya sambil menunjuk kaki rumah warga yang diselimuti sampah plastik.

Sampah, plastik, kayu, dan air berwarna hitam berpusar di tetiang rumah. Bau amis dan bau anyir menyeruak di sisi kiri kanan jalan beton di kampung itu. Air masih menggenang walau kondisi sedang surut. Perahu-perahu mereka pun tertambat semakin jauh dari permukiman mereka.

“Di sini ada ratusan rumah. Rumah panggung yang petak-petaknya terendam air walau air telah surut” kata Sanuddin. Sejak dibangun tanggul itu, aliran alir dari dalam pemukiman menjadi berkurang. Adanya sedimentasi karena limbah buangan semakin mengganggu pergerakan air ke laut saat surut.

Secara administratif, suku Bajo bermukim dalam wilayah Kelurahan Bajoe, Kecamatan Tanete Riattang Timur, Kabupaten Bone, Sulawesi Selatan (Sulsel).

Sampai pukul 18.30 wita menjelang malam, beberapa warga masih bercengkerama di sepanjang jalan beton yang meliuk di sela-sela permukiman mereka. Sebagian telah rusak. Berlobang.

Tidak lupa, saya bercengkerama dengan beberapa anak kecil menggunakan bahasa Bajo.Mereka sangat hangat. Tetap tertawa. Malam semakin larut di pantai itu, Pelabuhan Bajoe yang terkenal itu menghamburkan cahaya lampu. Fery menunggu keberangkatan. Di atas, mendung menggelayut.

Advertisements

Sabtu Tragis, Ujian untuk Pemain Bolaku

Donnie di ruang rawat RS Kallongtala (Foto: Kamaruddin Azis)
Sabtu, 15 Oktober 2011. Pagi yang tidak seperti biasanya. Saya terlalu malas untuk bergegas ke kamar mandi. Anak kedua saya, Khalid “Donnie” Adam telah selesai mandi. Pagi itu sebagaimana biasa dia mesti bersiap ke Lapangan Bola AURI di Panaikang.

Kaki saya masih berat untuk diayun. Hingga ibunya ambil keputusan, dia yang mengantar si tengah ke lokasi latihan SSB Bagantara. Sudah sebulan lebih dia latihan di tempat ini bersama pelatih berkebangsaan Chile, namanya Simon Correa.

“Saya bangga sekali saat salah seorang orang tua dari peserta SSB mengatakan, anak itu bagus sekali mainnya. Dia bilang, anak itu sangat gesit merebut bola dari lawannya” kata istri saya via bbm.

“Itu anak saya” kata istri dengan bangga. Di rumah saya pun menimpalinya dengan senyum.

Pukul 10.30, Donnie telah sampai di rumah. Mukanya memerah karena sengatan matahari pagi. Tapi baginya itu sudah biasa. Tidak lama berselang dia mandi dan dalam beberapa menit dia telah siap dengan pakaian pramukanya. Khas anak SD pada hari Sabtu. Saya masih leyeh-leyeh di tempat tidur.

“Sikat gigiji?” tanyaku.

Dia mengangguk. Walau telah berpakaian sekolah, saya masih melihatnya berbaring di sisi tempat tidur. Ibunya pamit ke rumah temannya, di Tanjung Bunga. Waktu, masih pukul 10.40 wita.

“Ngantuk nak?” kataku peduli.

Tiba-tiba saya bilang, kalau ngantuk tidak usah ke sekolah. Saya seperti tidak sadar dan melupakan sekolahnya. Saya memang bangga melihatnya rajin latihan bola. Tapi anak ini bergeming. Dia mengaku kuat dan siap ke sekolah.

“Tidakji” katanya tegas lalu berdiri menuju pintu rumah. Setelah menunggu sekitar 15 menit, Pak Said tetangga kami yang menjadi langganan ojeknya telah ada di depan rumah.

“Pitttt” bunyi klaksonnya. Donnie bergegas, sayup-sayup dia pamit. Tidak menyalami saya. Sekitar pukul 11.30 Donnie dan pak Said telah menjauh dari rumah kami di Tamarunang.

Saya bergeser ke kamar mandi. Karena hendak tidur siang saya harus bebersih badan. Hanya ada saya dan si bungsu Sofia (5 tahun) di rumah. Bersama si bungsu, Saya mencoba tidur. Tapi saya urung ke ruang mimpi. Saya tidak tenang walau semalam saya kurang tidur. Mestinya inilah kesempatan saya terlelap.

Dalam gelisah menuju kesempatan tidur itu tiba-tiba telepon rumah berbunyi. Saya tidak serta merta mengangkatnya. Mungkin deringan ketiga akan mati sendiri. Tapi tidak, telepon terus berdering hingga saya ke ruang tengah.
Dan…

“Bapaknya Donnie?” Kata beberapa anak kecil seperti berebutan hendak mengabarkan sesuatu.

“Iye, iye” kataku tidak tenang. Saya mulai khawatir.

“Kenapai?” Sambungku seperti tidak memberi jeda. Tangan saya gemetar. Pikiran saya melayang.

“Donnie om, Donnie kecelakaan, Donnie diserempet mobil” terang si anak-anak. Mereka teman kelas Khalid Adam. Saya limbung. Tidak bisa berkata apa-apa. Anakku, anakku…

“Kecelakaan bersama pak Said?” batinku.

Setelah suara anak itu di seberang, seorang ibu yang mengaku guru kelas Donnie, menyambung anak-anak itu. Saya menduga anak saya kecelakaan karena dibonceng pak Said. Masih belum lama dia tinggalkan rumah.

Tapi tidak, Donnie telah sampai ke sekeloh. Dia diserempet mobil saat hendak menyeberang jalan.

“Bapak ayahnya Donnie? Kecelakaanki anakta. Sudah dibawa ke rumah sakit Kallongtala. Bapak bisa datang dulu ke sekolah atau ke rumah sakit” kata si ibu guru, yang kemudian mengaku bernama Ibu Andi. Ada sedikit kesan tenang dari kabar si ibu guru.

Saya mematung, mengucap istighfar. Anakku…anakku…

Saya bergegas ganti baju, ganti celana dan bergegas ke rumah pak Said. Pak Said menawarkan motornya. Saya tidak tenang di atas motor. Lalu mengarah ke sekolah SD Bontokamase. Ibu Andi yang saya temui menyodorkan tas Donnie. Dia menyimpannya.

“Ke rumah sakitmaki'” kata ibu guru. Menurutnya, beberapa orang telah mengantar Donnie ke rumah sakit. Mata saya berkaca-kaca saat mengarahkan motor ke rumah sakit.

Anakku, anakku…, seraya membayangkan risiko terseret mobil.

Ini, kali pertama saya ke rumah sakit itu, dan saat sampai di ruang darurat, salah seorang penjaga mengarahkan saya ke ruang perawatan.

Dan, ya Allah, anakku berbaring dengan penuh luka, di kedua lengan, kaki dan pahanya. Celana pramukanya robek, di bekas robekan itu terlihat luka lecet yang sangat dalam. Telapak tangan kirinya menyentuh keningnya. Kaki kanannya terbujur, di sekujur betis hingga paha, luka lecet dengan darah yang mulai mengering. Saya khawatir dada dan tulangnya.

Di momen itu, istri saya menelpon, dan saya tidak bisa menjawab pertanyaannya. Saya membisu.

Di dalam ruangan, saya melihat tiga orang dewasa. Satu ibu berkawat gigi, seorang berpakaian Satpam dan seorang lelaki muda, bermata sipit dengan kulit gelap, inilah yang menabrak anak saya.

Dia menyapa dan minta maaf. Anak muda. Si ibu adalah pemilik mobil yang dikemudikan si anak muda. Mobil Kijang open-kap, pengangkut kayu.

Mereka inilah yang cerita kalau Donnie diserempet dan terseret mobil saat hendak menyeberang jalan. Donnie berempat, Donnie paling depan, dan hanya dia yang kecelakaan.

Tapi mataku tetap di anak saya. Matanya berkaca. Ada harapan, dia terlihat kuat dan tegar. Saya menciumnya, keningnya, pipinya. Memeluknya.

“Tidak apa-apaji nak? Kaki? Bisaji berdiri? Kepala? Dada? Tulang?” Kataku dengan was-was. Mataku berkaca-kaca. Donnie melihat saya dengan matanya yang berbicara, seperti mau bilang, saya tidak apa-apa.

“Masih bisa main bola nak?” Kataku spontan dan menggelitik senyumnya.

“Iyye!” Jawabnya pelan, seraya mengangguk. Matanya berkaca-kaca. Saya menangis, menciumi keningnya. Memeluknya erat.

Sebulan lalu, saya sempat mengingatkannya untuk tidak keluar sekolah, ke jalan raya, sebab terlalu banyak kendaraan lalu lalang di sekitar lampu merah arah Malino – Makassar. Hingga Sabtu, tanggal 15 Oktober 2011, cerita menjadi berbeda, tragis, anak saya terseret mobil.

Ya, Allah semoga anak saya hanya luka lecet…

Di Marisa, Warga Kompak Menanam Pohon (Gorontalo Part 3)

Kamis tanggal 6 Oktober 2011. Masih pagi sekali Yusman Maonti menemui kami di ruang makan Hotel Alfa, Marisa ibukota Kabupaten Pohuwato. Yusman adalah aktivis LSM di Pohuwato. Dia yang akan mengantar kami ke Desa Marisa, kecamatan Popayato, Kabupaten Pohuwato.

Pukul 07.15 kami mengarah Marisa. Di mobil kami berlima. Ada Noni dari Gorontalo, dia duduk di samping Pak Ma, dan di belakang duduk pak Yusman Maonti dan Husain. Husain adalah staf pada kantor Bappeda Pohuwato.

Pak Yusman, sosok yang telah lama menjadi fasilitator LSM di Pohuwato. Supel, suka bercanda. Darinya saya mendengar banyak cerita tentang suka duka menjadi fasilitator desa. Semisal, fasilitator yang menjadi penyiar radio hingga yang masih bertahan sebagai pendamping masyarakat. Dia juga cerita tentang tambak tak produktif di Paguat dan Wonggarasi, dua kecamatan dalam wilayah Pohuwato yang menjadi incaran para aktivis dan donor.

Apa yang disampaikan Pak Yusman ini sebagai suka duka sesiapa yang memilih menjadi fasilitator warga, yaitu siapa yang mau membagi waktunya untuk mendampingi masyarakat menuntaskan isu atau permasalahan yang mereka hadapi.

Ada Asra di Marisa

Saat kami tiba, warga sedang pertemuan dengan staf dari Dinas Kehutanan Provinsi, mereka sedang membahas program HTR, Hutan Tanaman Rakyat. Salah satu tujuan kunjungan kami adalah bertemu warga yang telah berinisiatif menanam pohon dalam tahun 2010 sebagai antisipasi banjir tahunan.

Warga sebenarnya telah menyadari bahwa permukiman mereka selalu didera banjir saban tahun. Namun belum bisa bersepakat tentang apa yang mesti dilakukan. Hingga kemudian datanglah Asra Tungahu, mantan tukang ojek yang juga pegiat pada salah satu LSM di Popayato.

Upaya yang dilakukan Asra untuk membangun perkawanan dengan warga setempat seperti pak Ahdar, Kades, pak Ambo Tawa, Abu Zen Sirullah, dan Kadus II memberi kesadaran baru bagi warga untuk sepakat mengantisipasi isu yang mendera warga setiap tahun dengan menanam pohon di beberapa bagian desa, utamanya sempadan sungai.

Asra menyadari bahwa kejadiaan banjir yang mengancam Marisa bersumber dari hutan yang semakin gundul di atas kampung. Dia bahkan ingat persis bahwa ada dua kroabn banjir yang meninggal di Dusun di Bunto, Kecamatan Pupayato Timur. Walau saat itu dia belum menyampaikan gagasan untuk menanam pohon.

“Saya hanya meminta warga untuk mulai kompak dan membiasakan bergotong royong” papar Asra. Asra lalu mengingat warga tentang “Kegiatan Huyula” Gotong Royong dalam kegiatan pembibitan, baik mereka ambil sendiri dari hutan maupun mulai menanam baru.

Semakin banyaknya bibit yang terkumpul, memberinya ide untuk meminta Bupati menanam secara simbolis. Bukti dukungan pemerintah kabupaten.

“Saat itu ada 500 lebih bibit pohon nyato yang ditanam” kata Ratmin Manjaliku, sekdes setempat. Nyato adalah jenis pohon di Marisa.

Mengenai banjir di Marisa menurut Ambotawa (Kaur pemerintahan desa), awalnya disebabkan oleh adanya pendangkalan sungai.

“Banyak endapan dari atas bukit” kata Pak Ambo, yang mengaku berasal dari Sulawesi Tengah. Persoalan banjir ini kemudian membuat warga bercerita bahwa kebun jagungnya pernah terendam longsor, dulu, ada program reboisasi namun gagal karena warga banyak yang berburu emas di perbukitan.

“Ada penambang emas di atas, mereka berasal dari Daerah Molosifat. Jaraknya sekitar 15 kilometer dari lokasi banjir” kata Ambotawa yang mengaku ayahnya dari Tomini sedang ibunya dari Gorontalo.

Nama Ambotawa ini mengingatkan saya pada nama lazim di Sulawesi Selatan, khususnya wilayah berbahasa Bugis: Ambo Tuwo…

Pohuwato, Sebuah Tanya dari Hutino

Sungai dan Sisi Hutan Hutino
Tanggal 5 Oktober 2011 di Kabupaten Pohuwato, Provinsi Gorontalo. Ini hari kedua di kabupaten yang pernah dipimpin oleh pengusaha asal Bulukumba, Sulawesi Selatan namanya Zainuddin. Sosok tersebut, kini menjadi Bupati di Bulukumba sejak tahun 2010. Zainuddin adalah tipikal pengusaha sukses berdarah Bugis yang layak diapresiasi loncatan suksesnya.

Pohuwato adalah kabupaten di Gorontalo yang berbatasan dengan provinsi Sulawesi Tengah. Berada di sepanjang pantai serta kaya vegetasi hutan, dari puncak bukit hingga tepi pantai. Bakau sangat padat pada beberapa titik. Jagung menjadi andalan pendongkrak ekonomi warga. Di Pohuwato ada pabrik pengolahan jagung berskala besar.

Beberapa warga yang saya tanyai menyatakan bahwa kabupaten ini berkembang secara drastis pasca pemekaran Sulawesi Utara menjadi Provinsi Gorontalo. Hampir semua permukiman yang saya lalui di sepanjang jalan utama di kecamatan-kecamatan terlihat apik dan jauh dari kesan kumuh atau tidak teratur. Kabupaten ini sangat menawan.

“Pak Zainuddin adalah sosok pengusaha yang sukses, padahal beberapa tahun silam hanyalah petugas Satpam di Bandara Djalaluddin, Gorontalo” kata Yusman Maonti, salah seorang aktivis LSM di Pohuwato mengenai mantan Bupatinya.

***

Hari itu, kami mengarah ke Desa Talunduyunu, Kecamatan Buntulia, Pohuwato. Tepatnya Dusun Hutino. Kunjungan ke Dusun Hutino didasarkan pada informasi kegiatan warga dalam membangun jalan antara perkambungan yang dihuni oleh 40an KK yang kemudian ditindaklanjuti dengan pembangunan jembatan gantung.

“Sejak dulu warga mesti berjalan jauh untuk sampai ke ibukota kecamatan untuk berbelanja, sandang, pangan, lauk pauk. Sebagian dari mereka ada yang menyeberangi sungai hingga jalan utama ke kota Marisa. Walau penuh risiko” kata Syaiful, pemuda setempat.

“Desa ini merupakan juara I lomba desa, se provinsi dan masuk 10 besar nasional, tahun 2009” kata pak Kades Rasyid Mbuinga saat kami temui di rumahnya. Menurutnya, selain Hutino, ada tiga dusun lain di desa Talunduyunu.

Apa yang Menarik?

Di Dusun Hutino berdiam 40an kepala keluarga. Sampai kini, mereka masih bertahan di situ. Namun ada enam KK yang mencoba peruntungan untuk tinggal di seberang sungai. Alias berpindah ke permukiman. Sulitnya akses ke jalan utama desa membuat beberapa warga berinisiatif untuk pindah.

Salah satunya, Tude, dia meninggalkan kampung asalnya. Dia bermukim bersama 7 KK sekitar 500 meter dari jalan utama menuju Kota Marisa. Satu KK lainnya asal kecamatan lain. Sejak pindah Tude sudah sangat jarang kembali ke Hutino.

Dia pindah di permulaan tahun 80an. Telah membuat jalan dusun untuk memudahkan aksesnya. Saat mengerjakan jalan pertama kali itu selama lima hari kerja di jalan, membawa bapeda/parang, pacul, kemudian mengambil pasir di kuala. Pekerjaan ini selesai selama tujuh hari pengerjaan.

“Saya tidak ukur berapa panjangnya. Jalan dari dusun Hutino sebenarnya mesti menyeberangi sungai dan kalau tidak mesti memutar kea rah kampung lain dan itu jauh, biasanya kalau mau belanja ke pasar” kata Pak Tude.

Jalan yang dirintis pak Tude ini menjadi alasan mengapa diteruskan pembangunan jembatan gantung menghubungkan dusun Hutino dengan jalan raya utama desa. Telah ada perubahan desa, perubahan minat warga utamanya Dusun Hutino dalam membuka diri dengan kehidupan luar.

Apa yang ada di hutan Hutino? Mengenai kawasan hutan Hutino pak Tude bercerita berisi jagung, kelapa, rica dan ubi jalar. Dari sinilah warga bertahan, berkebun dan meneruskan hidupnya. Sedangkan bagi pakTude, dia merawat 20an batang pisang Jawa. Sudah tidak ingat berapa kali panen. Pisang dikonsumsi untuk anggota keluarga.

Pekerjaan utama pak Tude saat ini adalah menjadi pengangkut kelapa di kebun Pak Sila. Mengangkutnya dengan kereta/roda, satu kali mengangkut ada lebih seratus biji. Tude memperoleh upah Rp. 20ribu untuk seratus biji kelapa yang diangkut. Bandingkan nilai yang didapat yang hanya Rp. 2ribu pada awal tahun 80an.

Yang dihadapi Tude sedari awal adalah akses untuk berinteraksi dengan warga ibukota kecamatan. Dia berinisiatif untuk membangun pemukiman, walau beberapa warga lain bertahan di dusun awal. Nah, warga yang bertahan ini kemudian menjadi perhatian pemerintah melalui program PNPM untuk dibuatkan jembatan gantung.

Saat kami datang, dua tiang beton yang diharapkan menjadi tempat mengikat jembatan gantung telah berdiri. Proyek pembangunan itu bermaksud memberi kemudahan bagi warga untuk menyeberang jalan. Sebelumnya, telah ada beberapa warga yang terseret arus sungai ketika mereka hendak menyeberang.

“Dalam beberapa menit tiba-tiba saja air sungai berubah deras, dan banyak warga yang tidak sadar bahwa mereka terancam aliran sungai” kata Yopin tokoh pemuda setempat. Inilah yang menjadi alasan kenapa pembangunan jembatan itu menjadi penting.

Dari Hutino kami membaca kesederhaan warga. Bertahan dari hasil bumi yang mereka punyai. Mereka juga masuk ke pusaran perubahan. Perubahan keinginan dan upaya membuka diri pada orang luar. Walau ada kecenderungan, air sungai yang seketika meluap dapat mengancam keselamatan mereka.

“Saya khawatir gerusan air yang semakin kuat akan mengikis beton jembatan gantung yang telah dibangun” kata Yopin.

Mereka menduga telah terjadi perubahan debit air yang drastis, utamanya saat musim penghujan. Tidak seperti biasanya. Ada yang berubah di bahu gunung dan lekuk bukit di atas Hutino?

Ada Ancaman di Balik Jagung (Gorontalo Part 1)

Yang gundul di poros Gorontalo - Pohuwato (Foto: Kamaruddin Azis)
Jika menyebut Gorontalo, apa yang terbayang tentangnya? Provinsi baru? Jagung? Fadel Muhammad? Pejuang Nani Wartabone? Kalau saya, yang mengemuka adalah pengalaman tahun 1994 kala KM Kambuno transit di pelabuhan Kwandang. Pelabuhan yang hanya berjarak beberapa kilometer dari kota namun kami urung keluar dari kapal Pelni terbesar saat itu.

Tahun 1999, untuk kedua kalinya, saat bekerja di proyek pengelolaan terumbu karang, COREMAP fase I, bersama beberapa warga Taka Bonerate, Kabupaten Selayar kami yang sebelumnya diberangkatkan dengan naik kapal laut untuk studi banding pengelolaan kawasan di Desa Blongko, Sulawesi Utara harus pulang dengan naik bus! Tiga hari dua malam! Rute bus melewati wilayah Gorontalo. namun sekali lagi kami tidak bisa melihat kota itu.

Nah, kesempatan ketiga itu datang lagi. Di awal Oktober 2011, bersama rekan sejawat Ruslan Situju dari Kendari, Noni Tangkilisan dari Manado, kami ada agenda berkunjung ke Gorontalo, tepatnya Kabupaten Pohuwato. Dengan waktu berkunjung selama lima hari kami berpikir tidak sulit bagi untuk mengatur agenda menjajal Kota Gorontalo pada rentang waktu itu.

***

Tanggal 4 Oktober 2011, pesawat Lion Air JT 0792 mendarat mulus di Bandara Djalaluddin, Gorontalo. Penerbangan dari Makassar ditempuh selama satu jam dua puluh menit. Kami tidak berlama-lama di area bandara. Telah ada Pak Ma yang akan membawa kami ke Pohuwato. Saya tunda dulu agenda keliling Gorontalo. Pulang dari Pohuwato baru pasiar.

Jarak Gorontalo – Pohuwato sekitar 15o kilometer. Untuk sampai ke sana kami mesti melewati dua kabupaten yaitu, Kabupaten Gorontalo dan Boalemo. Menyusuri jalan-jalan kota provinsi ke-32 di Indonesia ini sungguh mengasikkan.

Walau tidak terlalu luas, jalan utama terlihat bersih, perkampungan di kiri-kanan jalan menuju Pohuwato tertata rapih dan bersih. Masih terlihat beberapa gerobak warga.Jika di tempat lain menggunakan kuda maka di sini, lembu sebagai penggeraknya. Di beberapa titik asap membubung tinggi, muncul di tengah-tengah hamparan pohon kelapa dan perbukitan.

Sekilas, provinsi pemekaran berdasarkan Undang-Undang Nomor 38 Tahun 2000, tertanggal 22 Desember 2000 ini menyimpan potensi sumberdaya yang dapat jadi modal pendongkrak ekonomi regional. Hamparan gunung, dataran rendah yang lapang telah disulap menjadi lahan pertanian, perkebunan dan peternakan. Karena diapit oleh dua perairan potensial yaitu Teluk Tomini dan Laut Sulawesi makan Gorontalo tentu menyimpan potensi kelautan dan perikanan yang tinggi.

Pemandangan hutan bakau di Pohuwato (Foto: Kamaruddin Azis)
Lekuk bukit, kebun kelapa, dan lahan perkebunan jagung yang padat dan luas menjadi pemandangan umum di sepanjang jalan. Inilah bukti mengapa Gorontalo disebut daerah penghasil jagung utama di Sulawesi, sebagaimana yang melekat pada sukses mantan Gubernur provinsi itu yang kini Menteri Kelautan dan Perikanan (KKP), Fadel Muhammad.

Namun ada yang buat dahi berkerut adalah kondisi beberapa lereng bukit yang tandus di sepanjang Kabupaten Boalemo, dan di perbatasan Kabupaten Pohuwato. Jika pun tidak belum disesaki oleh tanaman jagung, beberapa kawasan di sepanjang jalan ini terlihat rawan terancam longsoran dan sasaran banjir.

Warga yang bermukim di kaki bukit, di antara jalan raya dan tepi pantai harus waspada pada risiko alam tersebut, betapa tidak, tamanan jagung itu telah sampai ke puncak bukit, seperti terlihat di beberapa titik di tepi kota Boalemo dan di perbatasan Pohuwato.

Apakah karena kondisi ini, Kota Gorontalo dan sekitarnya kerap diganggu banjir? Benarkah bahwa pertanian jagung itu berdampak ke PDRB Gorontalo yang konon mendekati angka 31,32% karena jagung?

Jika dampak ekonomi seperti itu apakah tidak ada ekses ke lingkungan? keselamatan warga? Sekilas, jika melihat kondisi perbukitan dan lahan-lahan di ketinggian yang telah digerus demi ditanami jagung, saya yakin, pertanian jagung hingga ke bukit-bukit itu telah berdampak serius dan membahayakan.

Lekuk yang mengkhawatirkan (Foto: Kamaruddin Azis)
Sebenarnya kecenderungan perambahan lahan ini telah disitir di situs pemerintah bahwa berdasarkan analisis kesesuaian lahan untuk pengembangan tanaman jagung di provinsi Gorontalo diperoleh luas ketersediaan lahan hanya sebesar 163.104 Ha yang tersebar di seluruh Kabupaten dan Kota yaitu, Gorontalo (50.446 Ha), Boalemo (32.912 Ha), Pohuwatu (28.244 Ha), Bone Bolango (33.343 Ha), Gorontalo Utara (15.822 Ha), dan Kota Gorontalo (2.337 Ha).

Nah, bila dibandingkan dengan luas tanam jagung eksisting tahun 2007 sebesar 118.815 Ha, maka masih terdapat lahan pengembangan jagung sebesar 47.921 Ha. Yang menarik untuk dicermati adalah bahwa di Kabupaten Pohuwatu luas tanam jagung tahun 2007 sebesar 49.479 Ha adalah telah melebihi potensi lahannya sebesar 28.244 Ha. Dengan demikian di Kabupaten Pohuwatu saat ini telah terjadi penanaman jagung di lahan yang kurang dan atau tidak sesuai untuk tanaman jagung. (http://www.gorontalo.go.id/investasi/potensi-investasi/potensi-jagung.html)

Memasuki Kota Marisa, ibukota Kabupaten Pohuwato, kami disuguhi pemandangan pantai yang luar biasa dari ketinggian, terdapat hamparan pohon bakau (walau beberapa laporan menyebutkan telah terjadi degradasi yang hebat karena konversi ke tambak). Di sini vegetasi bakau tinggi menjulang, utamanya pada area konservasi (hutan lindung) daerah. Burung-burung pantai terlihat beterbangan di pepucuk bakau.

Pada beberapa titik, terdapat rataan yang mengkhawatirkan; telah ada penebangan pohon bakau yang hebat dan mengancam kawasan ini.

Santap Malam, Hiburan dan Promosi Wisata (Wakatobi Part 14)

Dihibur tarian (Foto: Kamaruddin Azis)
Tanggal 1 Oktober 2011 terasa berbeda. Bukan Hugua jika tidak bisa memanfaatkan setiap momen saat berada di depan banyak orang. Malam itu menjadi berbeda karena kami mendapat kejutan luar biasa. Walau malam sebelumnya telah disambut dengan meriah namun malam itu kami sepertinya akan mendapat kejutan baru.

Kami dijamu makan malam yang luar biasa. Ada lobster panggang dan ragam ikan laut. Bukan hanya menjadi milik kami, di meja lain hadir beberapa orang yang mengaku dari Kementerian Luar Negeri. Mereka menjajaki kemungkinan kerjasama dengan Pemkab untuk promosi Wakatobi di mancanegara. Di sinilah perbedaan itu. Hugua rupanya telah mempersiapkan penari yang siap menghentakkan malam di Patuno, dan bahan presentasi mengenai wisata daerahnya.

Ada tiga jenis tarian, yang saya ingat salah satunya bernama ”Balumpa Dance” asal Kaledupa. Penampilan pertama merupakan penari dengan kostum warna merah marun, dengan rok warna hitam, putih,biru dan merah. Ini tarian pembuka. Lalu disusul tarian dengan kostum kuning hijau, kuning dan merah dengan selendang warga merah. Ritme kedua tarian ini sangat lembut didukung hentakan musim yang bertalu.

Sebelum tarian ketiga, Hugua tampil untuk memberikan “welcoming speech”, selamat datang di surga nyata bawah laut di jantung segitiga karang dunia. Begitu katanya.

“The Only real underwater paradise at the heart of coral triangle center”, paparnya dalam bahasa Inggris. Bukan hanya sapaan selamat datang, Hugua juga memamerkan potensi dan kelebihan-kelebihan Wakatobi.

Promosi Sang Bupati (Foto: Kamaruddin Azis)
Mengenakan celana kain warna hitam dan baju lengan pendek warna krem halus bergaris dilengkapi sepatu kets warna hitam, Hugua menampilkan gayanya yang a la kadarnya. Kacamata disimpan di kantung bajunya. Dia terlihat rileks dan bertabur senyum.

Hugua, aktivis LSM itu berada di sisi-tengah-depan. Di kirinya para sahabatnya dari alumni PKMP dan tim CD Project, di depannya para perwakilan anggota DPRD yang diundangnya khusus demi memperkenalkannya kepada rekan-rekannya malam itu. Di kirinya para tamu dari Kemenlu dan para penari.

Hadir pula tamu resort, Fabrice dari Paris dan Emma dari Milano. Mereka berdua juga bergeming dari dari tempat duduk dan menyaksikan hiburan tarian, dan, tentu saja presentasi Hugua mengenai Wakatobi. Kedua bule ini tidak perlu khawatir karena sesekali Hugua menggunakan bahasa Inggris.

Hugua memulai dengan menunjukkan letak Wakatobi sebagai inti dari coral triangle. Lalu, Menyebutkan bahwa kawasan ini menyimpan 750 coral species dan 942 spesis ikan. (data ini kemudian ditolak beberapa peneliti Kelautan karena dianggap kurang pas, mereka meragukan data itu). Dia juga menyelingi paparannya dengan menyebut adanya dampak dari salah satu tradisi “bertemu jodoh” yang berdampak pada Hanung Bramantyo dan Zaskia Mecca, keduanya pernah ke Wakatobi. Juga kedatangan Nadine Candrawinata, dan kisah sumur berkah.

Di presentasinya dia menjelaskan status Wakatobi sebagai kabupaten pemekaran pada tahun 2003 menurut UU No. 29/2003 dengan luas 1,4 Juta hektar di mana 97% merupakan laut dan hanya 3 % daratan. Populasi penduduk lebih 100ribu jiwa dengan laju pertumbuhan 2,7%.

Dia juga sebutkan bahwa leading sector Wakatobi adalah sektor perikanan dan kelautan serta turisme. Produksi perikanan utama seperti tuna, kerapu dan rumput laut.

Dalam pemaparannya dia tak luput menyebutkan kekayaan budaya dan atraksi yang dikandung kabupaten ini di antaranya, budaya karia, sombo/hepundaa, kabuenga, tari lareang, posepa hingga mesjid tua di Liya Togo. Karia adalah prosesi tadisional yang merujuk kepada tradisi khitan (circum) serta Kabuenga adalah momen bertemunya jodoh, lelaki dan perempuan.

Hugua juga tidak luput dari jokes dan gaya presentasi yang sangat luwes, non formal dan penuh dengan gelak tawa. Sesekali dia menggoda istrinya yang juga hadir di acara itu. Terutama saat dia menyorot foto Nadine Candrawinata yang mengenakan baju warna kuning di salah satu pantai di Wakatobi.

Berfoto bersama penari, Bupati dan tamu lainnya (Foto: Koleksi Pribadi)
Malam itu menjadi istimewa karena ada sambutan dari perwakilan Kemenlu (Bapak Dekrit) dan dari alumni PKMP yang diwakili Yohannes Ghewa. Sajian malam itu ditutup oleh tari yang sangat menghentak yang diperagakan oleh empat pasang penari pria dan wanita.

Jamuan yang sukar dilupakan oleh kami yang baru pertama berkunjung ke Wakatobi!

Gaung Spirit WTC dari Wangi Wangi (Wakatobi Part 13)

Iring-iringan Lumba di Tubir Waha (Foto: Kamaruddin Azis)
Dulu, memandang sekawanan lumba bahkan paus yang menghibur pelayaran kami dari Taka Bonerate, Selayar ke Makassar pada rentang tahun 1995-2003 merupakan hal biasa. Namun momen seperti itu menjadi langka sejak berganti lokasi pekerjaan. Saat saya bekerja di Luwu dan Aceh hingga tahun 2008. Situasi itu menjadi berbeda saat saya berkunjung ke Wakatobi. Tepatnya di Wangi Wangi di bulan Oktober 2011 ini, 8 tahun kemudian. Dahaga seperti terpuaskan.

Siang itu seusai snorkeling yang luar biasa di terumbu Waha, kami dijamu pemandangan yang juga tak biasa. Kami dibuat takjub oleh iring-iringan lumba-lumba di tepi tubir. Hanya beberapa meter dari anak-anak yang bermain di atas terumbu kering.

Wow! Beberapa lumba beriringan ke sisi utara pulau. Siang itu pukul 11.10 saya tidak menyia-nyiakan kesempatan (yang bagi saya), merupakan tak biasa ini.

“Ini surut terdangkal selama rentang setahun pak” kata Pak Sudriman warga Desa Waha yang juga pelopor konservasi terumbu karang di desa itu saat menemani kami mengobrol tentang inisiatif konservasi di desanya. Menurut pak Sudirman, sebagai suatu upaya, apa yang nampak saat ini di terumbu Waha merupakan kerjasama yang baik antar warga, pemerintah dan kelompok pengelola terumbu karang.

“Awalnya, kawasan ini merupakan kawasan yang kerap diguncang bom ikan. Pada awal tahun 2000an, di area ini banyak nelayan menggunakan potas atau bius ikan. Ikan mati dan juga karang” kata pak Dirman.

Seusai menikmati pantai Waha (Foto: Koleksi Pribadi)
“Setelah melalui sosialisasi dan penyadaran maka kami hasilkan kesepakatan untuk membuat peraturan desa, untuk melindungi terumbu Waha” kata Sudirman. Itu berlangsung sejak tahun 2007. Upaya tersebut berjalan lancar karena didukung pemerintah kabupaten yang difasilitasi oleh proyek COREMAP. Bahkan ada penghargaan fisik berupa sarana prasarana, pelampung untuk tambatan perahu.

“Supaya perahu tidak sembarangan membuang jangkar yang dapat merusak karang”katanya lagi.

Menurut pengakuan Sudirman, hingga kini telah ada dana 50 Juta, dari COREMAP fase 2.Ada seed fund, bergulir untuk 3 kelompok masyarakat yang dibina oleh Pengelola. Ada Kelompok Pengawasan Karang, Kelompok Perempuan dan Usaha Produktif.

“Dari dana itu dibangun sarana prasarana, kemudian kelompok memperoleh lagi dana 100 juta untuk sarana air bersih, utamanya bagi warga yang sumurnya agak asin. Juga MCK. Awalnya kelompok masyarakat membuat rumpon namun hanyut” papar Sudirman.

Menurut Sudirman, kawasan ini, (maksudnya pusat informasi terumbu karang desa Waha) merupakan bekas pasar desa yang kemudian ditimbun dan diubah seperti sekarang ini. Dengan menggunakan dana bantuan COREMAP 2. Ada semangat yang kuat untuk menggalang dukungan pihak lain melalui fasilitasi “WTC, Waha Tourism Community” yang merupakan buah dari penyadaran konservasi masyarakat.

“Kawasan ini pada tahun 2004 sempat terkena dampak tsunami Aceh. Air sampai masuk ke halaman rumah kami” kata Sudirman seraya menunjuk rumahnya yang juga berfungsi sebagai tempat penginapan. Dia memasang tarif Rp. 50 permalam bagi tamu yang mau menginap.

“Jika nanti COREMAP fase 2 berakhir dan disambung ke fase 3 kami berharap rencana pengembangan pariwisata berbasis masyarakat dapat dijadikan strategi berikutnya” pinta Sudirman yang pernah ikut studi banding di Pulau Payar, Malaysia. Sudirman, yang kini berusian 47 tahun ini lahir dan besar di Waha. Dia juga pernah ke Bogor, untuk pelatihan pengelolaan terumbu karang berbasis masyarakat.

Dia punya obsesi, kelak di Waha berkembang pariwisata dengan simpul utama “WTC, Waha Tourism Community” sebagai organizer, satu gagasan untuk memediasi semangat konservasi melalui penerapan upaya fundraising. Semangatnya ini semakin kuat karena rupanya Bupati Hugua pun kerap bertandang ke desa ini.

“Kawasan ini tahun 2011, ramai oleh adanya pertukaran pemuda Indonesia-Australia. Ada 6ribuan pemuda-pemudi yang datang ke sini. Bermalam di desa dan menikmati keindahan karang Waha” aku Sudirman.

Apa yang dipaparkan Sudirman ini dibenarkan Hariyanto dan Sunarwan.

“Sudah banyak sekali warga Wangi Wangi yang datang ke sini” kata Sunarwan seraya menunjukkan beberapa anak muda yang datang berkendara roda dua. Mereka kerap menyesar Waha untuk berakhir pekan. Menurut Sunarwan, para pengunjung biasa merogoh koceknya untuk membantu inisiatif yang digagas WTC ini.

Yang tak berenang memilih main domino (Foto: Kamaruddin Azis)
Kini, kawasan yang dulunya merupakan lokasi pemboman ikan itu berangsur pulih. Jika dulu setiap pagi dan siang bom ikan selalu menyalak,kini yang ada keindahan dan pesona yang membanggakan warga Waha. Lingkungan terjaga, ekonomi berputar.