Dr. Hawis Madduppa Angkat Isu Perubahan Iklim dan Spesies Invasif di WCMB Montreal

Dr. Hawis Madduppa (dok: istimewa)

Saya mengenal pertama kali sosok ini di acara simposium hiu pari Indonesia di GMB IV Kementerian Kelautan dan Perikanan di bulan Maret 2018. Saat itu dia menjadi moderator untuk pemaparan Dr. Mark Erdmann terkait isu hiu pari di Indonesia.

Sosok itu, Dr. Haris Madduppa. Dia periset Kelautan Indonesia asal IPB yang juga anggota Dewan Pakar ISKINDO. Beberapa waktu lalu mengabarkan kalau sedang ada di Montreal, Kanada untuk sebuah konferensi biodiversitas kelautan dunia yang amat prestisius.

Peneliti yang juga anggota Akademi Ilmuwan Muda Indonesia (AIMI) itu menjadi peserta sekaligus pembicara pada forum strategis ‘The World Conference on Marine Biodiversity (WCMB)’ atau Konferensi Dunia atas Biodiversitas Kelautan ke-4 yang berlangsung pada tanggal 13 hingga 16 Mei 2018 di Montreal Kanada.

Acara 3 atau 4 tahunan tersebut menghadirkan peneliti kelautan terkemuka dan mendiskusikan beragam isu dan solusi kelautan dunia, merefleksikan hasil-hasil penelitian, praktik pengelolaan serta peran biodiversitas dalam menjamin keberlanjutan ekosistem lautan ke depannya.

***

Tahun ini, beberapa pembicara kunci di antaranya Prof. Emma Johnston, Dean of Science, University of New South Wales, Sydney, Australia, Dr. Lindwood Pendleton dari Global Ocean Lead Scientist untuk  World Wide Fund for Nature hingga Dr. Amanda Bates dari University Research Associate Professor, Memorial University of Newfoundland

Konferensi tersebut didukung organisasi kelautan ternama Kanada dan dunia, mulai dari Canadian Healthy Ocean Network hingga organisasi sekelas ‘Konvensi atas Konservasi Spesies Fauna Migratory Alam Bebas’.

“Tidak kurang 1.200 peserta hadir. Bukan hanya peneliti atau praktisi tetapi juga pengambil kebijakan level dunia. Ada ragam isu dan solusi di sana,” kata Hawis kepada admin ISKINDO.

Dr. Hawis yang juga dosen Kelautan di IPB itu memboyong isu perubahan iklim dan keberlanjutan ekosistem terumbu karang Indonesia. Judul makalahnya, ‘Mengungkap Ledakan  Invasif Spesies Sponge dan Ascidian pada Terumbu Karang di Indonesia dengan Menggunakan Pendekatan Genetik.

Judul tersebut membungkus hasil penelitian yang dilakukan oleh tim Departemen Ilmu dan Teknologi Kelautan IPB yang didanai oleh Kementerian Ristek Dikti melalui skema riset Kerjasama Luar Negeri.

Tim terdiri dari Hawis Madduppa, Beginer Subhan, Mustami Yuda Sastris, Muhammad Reza Faizal, Nurlita Putri Anggraini, Januarizka S Pratomo serta disokong oleh peneliti asal Jerman, Peter Schupp dan Carsten Thoms.

Di depan beragam latar belakang peserta, Hawis menyebut beberapa contoh terkini mengenai invasi spesies pada ekosistem terumbu karang yang menurutnya membutuhkan penelitian dan penanganan lebih lanjut dan lebih mendalam.

Hawis menyebut betapa terumbu karang Indonesia terlihat indah karena keberadaan filum Sponge sebagai asosiasi penopangnya.

“Beberapa pihak bahkan menyebut ada 16 ribu spesies spons. Indonesia adalah hotspot diversitas spons,” katanya.

Dipaparkan Hawis bahwa banyak spons menghasilkan produk bawaan yang berpotensi menjadi obat-obatan dari laut. Spons juga menjadi sangat penting bagi ekosistem dengan berasosiasi spesies karang lainnya.

***

Perubahan iklim dan kelimpahan fauna invasif

Ihwal penelitiannya pada iklim ekstrem dan dampaknya pada asosiasi terumbu karang tersebut relevan dengan informasi yang diperolehnya di bulan September beberapa tahun lalu. Peneliti Australia merilis temuan di jurnal “Global Change Biology” yang menanyakan dengan nada skeptis, “Mungkinkah terumbu karang menjadi terumbu spons karena perubahan iklim?”.

Dipahami oleh Hawis bahwa hingga kini, ada banyak penelitian terutama terkait spons di beberapa tempat di Indonesia. Demikian pula wabah penyakit karang sejak spons menutupi karang dengan lapisan tisu hitam.

Dia meyakini bahwa ada indikasi kuat jenis ‘Terpios hoshinota’ secara nyata tak terlacak atau tidak dilaporkan di Asia Tenggara dan nampaknya ‘berhasil’ tumbuh berlebihan di terumbu karang dalam tekanan.

Hal tersebut menimbulkan tanda tanya bagi Hawis dan timnya.

“Apakah ada keterkaitan antara kedua temuan tersebut? Apakah dengan banyaknya kehadiran spong pembunuh karang H. hoshinota di Indonesia berkait juga dengan dampak perubahan iklim?,” tanya Hawis.

Dia melanjutkan. Jika iya, seberapa serius ancamannya pada diversitas terumbu karang dan apa yang bisa dilakukan?

Salah seorang mitra Hawis, Tom Schils, Profesor pada University of Guam, USA, telah melakukan observasi pada ragam spesimen spong yang ditemukan di Kepulauan Mariana.

Temuan tersebut menunjukkan kehadiran spons dalam jumlah besar bersamaan dengan kehadiran massal ‘multicellular filamentous cyanobacteria.’

Tom Schils telah mengamati bahwa spong menjadi begitu sukses bertumbuh manakala berasosiasi dengan Cyanobacteria.

Jadi, ada interaksi kompleks antara yang menginvasi, spons pembunuh karang, karang yang tumbuh berlebih dan cyanobacteria yang kemungkinan dapat berasosiasi satu sama lain.

“Perubahan iklim mungkin saja dapat berdampak pada ketiga unsur itu,” sebut Hawis sebagaimana disampaikannya di konferensi tersebut.

Menurutnya, meskipun secara umum telah diyakini bahwa hal tersebut berdampak pada karang dan dengan itu akan menguatkan dua faktor lainnya namun sulit untuk menyatakan yang mana yang terpapar perubahan iklim — pada spons atau cyanos.

Apa yang membuat sistem itu menjadi lebih kompleks adalah nampaknya ada faktor lain yang berdampak pada kemampuan kompetitif ketiga faktor atau pemain kunci tersebut semisal kegiatan-kegiatan manusia ‘anthropogenic activities”.

“Dan di sini, sekali lagi sulit dikatakan yang mana beberapa dari ihwal ini yang mungkin memperkuat satu pemain di kompetisi itu,” sebutnya.

Nampaknya, interaksi ekologis dan dampak dari faktor eksternal lebih kompleks pada spons dan cyanobacteria terhadap karang.

“Dan sebagai hal yang menarik adalah bahwa sistem tersebut lebih kompleks sebagaimana ditunjukkan di sini utamanya berkaitan kedua spong dan karang hidup bersimbidosis dengan mikroorganisme yang mungkin saja dipengaruhi oleh faktor-faktor eksternal,” papar Hawis.

Ditambahkan bahwa ada situasi yang menunjukkan akumulasi laporan dari invasi Spons pembunuh karang jenis Terpios hoshinota pada karang di Indonesia karena kurangnya pengetahuan pada sebaran ancaman.

“Misalnya jalur-jalur invasi, faktor pengungkit, mekanisme kerja, interaksi ekologi spons hingga kemungkinan aksi sebaliknya, counteractions?,” jelas Hawis.

***

Empat model

Ada empat model yang disarankan Hawis dan timnya untuk memahami pola dan mekanisme kejadian tersebut.

Pertama, memantau invasi spons dan potensi pemicunya. Lalu, melakukan identifikasi morpho-genetic dan struktur genetiknya. Kemudian menginvestigasi allelophatic dan interaksi simbiotik yang ada serta yang keempat mengidentifikasi senyawa bioaktif penyusunnya.

Lokasi yang menjadi fokus perhatian tim Hawis adalah sebaran terumbu karang dan hewan invertebrata yang tumbuh pesat di karang hidup. Beberapa lokasi yang diteliti seperti Donggi di Luwuk, Pulau Senoa di Natuna, Bali, Pulau Belanda, Pulau Dapur, Pulau Kayuangin Bira, Balikpapan, Bali, Lombok, sampai ke Raja Ampat.

Teridentifikasi ada 13 jenis spons yang tumbuh pesat di karang hidup. Mulai dari jenis Strongylophora sp., Iricinia sp., Terpios hoshinota, hingga Mycale microsigmatosa. Sementara ada 5 spesies Ascidian yang tumbuh pesat di karang hidup. Mulai dari Diplosoma simile hingga Diplosoma Lissoclinum sp.

Pada presentasi Hawis di konferensi tersebut dia menyimpulkan bahwa memang banyak spons dan spesies asidia “sea squirt‘ telah menjadi tersebar luas dan menjadi invasif di hampir semua dasar laut dunia.

Meski demikian, umumnya, status masuknya tersebut ditunjukkan dengan kelimpahan Haplotype yang rendah pada daerah yang diinvasi sebagaimana ditunjukkan di beberapa lokasi seperti disebutkan di atas.

“Hal tersebut bukan untuk kasus jenis Didemnum sp. Dalam studi ini dapat disebutkan bahwa spesies tersebut adalah jenis spesies asli seperti di Raja Ampat,” jelasnya.

Di konferensi Biodiversitas Kelautan Dunia yang membanggakan bagi tim Hawis itu, dia menyarankan adanya studi lanjutan yang dapat dilakukan untuk melihat melihat lebih jauh spesies invertebrata yang ada di pelabuhan-pelabuhan atau daerah tambatan perahu. Perlunya menginvestigasi daya tahan terumbu karang pada spesies invasif.

“Pada situasi demikian, dengan kepedulian, pendidikan dan kegiatan survey baseline akan dapat membuktikan hal-hal mana yang dapat diterapkan untuk konservasi surga bawa laut yang luar bisa penting untuk biodiversitas bumi ini,” pungkas jebolan S3 Universitas Bremen dalam bidang biologi laut dan bioteknologi ini.

Advertisements

Massimo, si Supir Taksi Online

Setahun terakhir, taksi online tak pernah sepi dari kilatan blitz pewarta. Hadirnya antara dirindu dan dibenci, antara diminati atau diintai dengan rasa kecut. Pemerintah serba salah, meluluskan izin atau menerima usulan para pemilik taksi konvensional yang terusik. Banyak kalangan menilai taksi online aman dan nyaman, yang lain menyebutnya rawan, illegal dan harus dihentikan.

Pada beberapa kesempatan di Jakarta, saya tergoda juga untuk mengorek informasi dari supirnya,  latar belakang dan dinamikanya.

Hari Sabtu, 3 ‎September ‎‎2016. Jam menunjuk pukul 09 pagi. Saya buru-buru membuka pintu taksi online untuk tujuan bersua kawan di salah satu hotel di Jakarta Timur. “Maaf yah mas, saya sarapan dulu,” kataku ke supir sembari membuka gado-gado dari warung Tebet Utara 2. “

Silakan, silakan mas,” balasnya dalam ucap gegas jua. Lelaki tersebut sebut saja, Massimo. Dia supir online asal Jawa Tengah. Aksennya menegaskan itu. “Usia saya 38 mas,” tanggapnya saat saya menyebut usia sendiri dan domisili saya di Jakarta. Lelaki kelahiran tahun 1978 ini mengaku sepagi ini dia telah melayani orderan 4 penumpang, kesemuanya di wilayah Jakarta Selatan.  Massimo mengaku bahwa mengemudi taksi online adalah pekerjaan yang kesekian kalinya setelah bertahun-tahun bermukim di Jakarta.

“Saya ini dulunya gelandangan mas, menggelandang dari terminal ke terminal” kata ayah dari dua orang anak ini.

“Menggelandang, gimana ceritanya?” cecarku.

“Saya datang ke Jakarta di usia 16 tahun. Masih lugu gitu,” kata pria tamatan SD ini. Massimo bercerita. “Waktu itu datang barengan teman, berombongan gitu. Saya ketinggalan di terminal. Waktu datang, saya di kursi bagian depan, yang lain di belakang. Sampai Kemayoran saya tersesat. Bingung saya,” katanya.

Di Jakarta, Massimo merasa seperti buih di lautan. Ke mana angin berhembus, ke situ move on-nya. Dia tak punya apa-apa, tak punya rencana kecuali menerima segala yang diberikan terminal, pasar dan sapaan sinis dari orang-orang. Narasi hidupnya yang dramatis, dari pasar ke pasar, tidur di terminal, tidur di mana saja, tak terbilang lagi peristiwa menyedihkan yang dialaminya, mengurus perut dan segala macam kebutuhan. Orang-orang di kampungnya tahunya kalau dia ke Jakarta mencari pekerjaan bersama konco-konconya. Mereka datang dari Pantura Jawa.

“Tidur di mana saja, makan di mana saja, pokoknya di mana saja, semua tempat yang dianggap memungkinkan, ” katanya. Mobil meninggalkan Jalan Casablanca yang mulai menggeliat, tiba-tiba lagu Obbie Messakh mengalun mendayu dari dashboard mobilnya. Mendengar lagu itu, waktu seperti kembali melambat.

Simo, begitu panggilannya, melanjutkan. ‘Yang parah tuh di enam bulan pertama di Jakarta. Setelah luntang lantung dari terminal ke terminal, saya memutuskan ke Tanjung Priuk, jadi kuli angkut untuk mobil kontainer. Modal tenaga doang. Setahun saya di situ,” ungkap pria yang menemukan jodohnya pada seorang karyawan paberik di sekitar Tanjung Priuk. Setelah menggelandang dan mengandalkan lengan kokohnya, Simo memutuskan menjajal tantangan baru. Mereka menikah kala usia Massimo menanjak 22 tahun, usia remaja tulen.

“Saya kira, sekitar enam tahun kemudian, setelah merasakan beratnya hidup di Jakarta saya tekad menikah,” imbuh pria yang mengaku telah 21 tahun tinggal di Jakarta.

“Udah pindah rumah kosan hingga 11 kali,” katanya sembari tertawa.

“Bisa jadi supir taksi online, dan punya mobil gimana ceritanya?” tanyaku.

Tentang mobil yang dibawanya, dia mengaku bukan mobilnya. Dia beruntung sebab mempunyai kenalan anak seorang mantan kepala daerah dari Nusa Tenggara Timur. Dia dipercaya sebagai supir berbekal keahlian mengemudikan kendaraan kala jadi supir mobil distributor obat-obatan. Massimo meninggalkan profesinya sebagai distributor fasmasi dan hijrah ke taksi online.

Dia bahagia memulai hari dengan keluar mengemudi di pukul 6 pagi. Waktu hijau untuk jalan bagi para pekerja dan sesiapa yang butuh tumpangan. Semakin banyak orderan semakin bagus untuk Massimo, semakin mengalir pula fulus ke rekeningnya. Hidupnya di antara pendapatan harian dan bonus. Itu kalau dia rajin. Meski tak merinci pendapatan hariannya setidaknya seminggu terakhir namun dia merasa puas sebab pekerjaan ini lebih ringan dan tak terbebani target seperti umumnya taksi konvensional.

Sebagai supir taksi online, Massimo mengaku bisa mengontrak rumah untuk keluarganya setiap bulan. Tarifnya 650/bulan. “Kamarnya tak luas meski saat ini anak-anak sudah dewasa semua. “Kamarnya satu aja, lalu dibuat bilik pakai tripleks. Dapur sama kamar, lumayan gede sih,” kata ayah dari anak usia kelas  1 STM dan kelas 2 SMP.

“Tadi yang nelpon yang punya mobil, bapak sedang berobat jalan,” katanya tentang pemilik mobil yang dibawanya.

“Taksi online yah, enaknya karena bisa digunakan oleh semua kelas, kelas atas hingga kelas bawah. Yang baiknya juga penumpang nggak bisa dibohongin sebab sudah tahu memang ongkosnya sebelum naik,” kata Massimo.

“Bedalah yang hitung argo dan pakai sistem online ini. Kalau argo kan, kalau macet yah membengkak biayanya,” tambahnya. Sebagai supir, Massimo mengaku sering beroperasi di sekitar Jakarta Selatan.

“Meski gitu, banyak juga yang cancel. Itu artinya, ini urusan rezeki, saya ikhtiar saja, berdoa. Hidup ini seperti undian, kalau naik undian yah syukur, kalau nggak naik, mau diapa lagi?” katanya.

“Mengelak dari takdir itu sama dengan mengingkari Tuhan. Sama dengan kita memuja setan. Kalau sedang susah, kita nggak perlu sesali kenapa kita gini. Kita ini harus jalanani saja, yang penting ikhtiar,” begitu katanya.

Lagu Obbie Messakh terus mengalun dari sisi kemudi Massimo, dari hape saya membaca hotel yang saya tuju semakin dekat. Jalanan yang kami lalui tergolong sempit, meliuk di antara dua jalan raya yang besar. Saya tak ingat namanya.

…ada cerita,

aduh rindu,

jumpa kamu, kekasih…

Lihat senyum pipimu.

“Ya sudah, jalani saja, mau jadi orang susah, kuli panggul, saya jalani saja, upaya nyekolahin anak yang bener,” katanya lagi.

Lagu berganti.

…Kau tinggalkan noda hitam,

buah cinta kasih yang suci.

Ingin kumati namun kuingat dosa…

“Lagunya ini pakai gitar, enak ini,” sambut Massimo atas lagu Helen Sparingga itu.

“Nyanyian seperti ini kadang mewakili pengalaman atau kenyataan kita. Ingat kan yah lagu Betharia Sonata? Atau Gelas-Gelas Kaca Nia Daniati…” katanya.  Kali ini Massimo terdengar seperti analis lagu-lagu 80an.

“Tuh, lagu-lagu bang Rhoma Irama juga gitu, Perjuangan dan Doa, Begadang, bisa jadi merupakan pengalaman hidup,” katanya Massimo. “Kalau Mirasantika?” Massimo belum sempat menjawab mobil sudah sampai di hotel yang saya tuju.

“Gitu aja ya mas, mari kita jalani hidup apa adanya,” katanya sebelum mobilnya berbelok ke jalan raya.

Gowa, 11/04.