I Mannindori, Karaenga Ri Galesong

Kerajaan Gowa yang mahsyur berabad di kaki pulau Sulawesi itu, akhirnya takluk di moncong meriam Kompeni Belanda. Di daerah Bungaya, dalam tahun 1667 Sultan Hasanuddin alias I Mallombassi Daeng Mattawang bersimpuh pada klausul Bungaya walau sangat merugikan kerajaan. 15 benteng di sepanjang pesisir selatan runtuh, petinggi kerajaan ramai-ramai tunduk pada Belanda.

Namun, Kompeni tidak serta merta menguasai jalur pelayaran Indonesia barat ke timur. Di laut Spermonde (kini, meliputi perairan kabupaten Takalar hingga Pangkajene Kepulauan di utara) mereka menyebut adanya gangguan dari “Macassarsche zee rovers”, lanun dari Makassar. Mereka adalah prajurit Kerajaan Gowa yang dipimpin oleh I Mannindori, penguasa wilayah Galesong di selatan Somba Opu.

I Mannindori, Raja Galesong atau Karaenga ri Galesong enggan tunduk pada isi Perjanjian Bungaya. Dia sesak pada isi perjanjian yang menurutnya tidak adil. Bulat tekadnya untuk melawan dan memilih meninggalkan tanah leluhurnya, berlayar ke barat menyusun strategi dan melanjutkan perlawanan.

***

Kualleangna tallanga natoalia” lebih baik kupilih tenggelam dari pada kembali, begitulah barangkali isi benak Karaeng ketika memutuskan bersiasat ke laut. Dari pada tinggal tapi hanya jadi pemimpin tanpa pengikut, dari pada jadi panglima tanpa prajurit. Dari pada jadi Karaeng tanpa pengikut.

Bersama prajuritnya nan setia mereka mengembara di Selat Makassar dan mengganggu kepentingan pelayaran Belanda. Dalam buku-buku sejarah disebutkan bahwa Karaeng Galesong akhirnya diterima dan dilindungi oleh Trunojoyo di Jawa Timur.  Bersama Trunojoyo, bara perlawanan kepada Kompeni tak jua padam. Mereka bersatupadu melanjutkan perlawanan.

Dalam pengembaraannya ini,  terjadi kemelut di kerajaan Banten, dan ia turut bergabung bersama Sultan Ageng Tirtayasa (Raja Banten) dan disaat Trunojoyo (Pangeran dari Madura) melakukan perlawaanan di kerjaan Mataram terhadap Belanda pada tahun 1676-1679, Karaeng Galesong turut mendukungnya. Dalam beberapa kali pertempuran dengan kerajaan Belanda yang membantu Mataram, akhirnya pasukan Madura dan Makassar berhasil merebut Karta (Keraton Plered) ibukota Mataram pada 12 Juli 1676. Kemuduian I Mannindori Karaeng Galesong memindahkan ibukota itu ke Kediri.

Di Banten, Karaeng Galesong kawin dengan salah seorang putir Trunojoyo, yang bernama Suratna dan melahirkan seorang anak bernama Karaeng Naba, dan Karaeng Naba kawin dengan salah seorang putri Mataram. Kawin mawin secara turun temurun itu akhirnya melahirkan Dr.Wahidin Sudirohusodo,  Ir Wardoyo Daeng Majarre, Budiarjo Karaeng Naba, Dr.Ir Siswono Yudo Husodo, sampai ke Setiawan Jodi.

Kini, Sultan Hasanuddin tersenyum bangga, namanya abadi dalam kenangan, dia pahlawan, pada lukisan, pada papan nama universitas, hingga billboard bandar udara. Sosok Karaeng yang satu ini kasat dan namanya mewangi dimana-mana. Dia pejuang. Nun jauh di sana, ribuan kilometer dari tanah leluhurnya, Karaeng Galesong yang pantang surut ke pantai itu, memilih tenang tanpa medali di desa Ngantang, Malang, Jawa Timur. Sendiri.

***

*) Dari berbagai sumber. Sebagian tulisan di atas dikutip dari Buku Suriadi Mappangara dalam “Ensiklopedi Sejarah Sulawesi Selatan sampai tahun 1905” (2004)

Advertisements

38 comments

  1. Brother, ada banyak Karaeng Galesong yang dilahirkan rahim sejarah. Galesong adalah nama tempat, dan karaeng Galesong tentu gelaran penguasanya.

    Saya menjejak banyak Galesong di perlintasan kronik Gowa, namun tak begitu terang yang mana Galesong yang dimaksud. Galesong yang jadi lanun, Galesong yang jadi menantu Trunojoyo, dan I Calla Karaeng Galesong yang menjadi sekutu Tuan Malompoa sekaligus seteru Datu Museng memperebutkan Maipa Deapati…

    Like

  2. Saudara Ipul, terima kasih atas pujiannya.(eh itu pujian ya?)
    Bro Rusle, I Mannindori, ini nama Raja yang berkuasa di Galesong #domain Raja Gowa, sekaligus Panglima Armada laut saat Sombaya ri Gowa diganyang kompeni dan pasukan dari ‘negara’ lain. Tentu saja banyak raja Galesong yang lain. Semoga penjelasan di atas bisa mengurangi kekhawatiranmu…

    Like

  3. MAntap Nih postingannya..
    kita jadi tau bahwa dari dulu, nenek moyang kita tuh memang pelaut ulung dan pemberani dan sampai melahirkan keturunan yang berbobot sampai ke tanah seberang di Jawa Dwipa…

    Bangga jadi orang Makassar..

    Like

  4. saya ulangi padeng pertanyaanku tadi bung admin:

    kalau kronik Gowa menyebutkan Galesong sebagai ranah permagangan calon Sultan Gowa, apa lantas menjadikan Galesong sebagai ibukota Gowa?

    saya lupa, atau blum tahu, di mana letak ibukota Gowa, Galesong kah, Somba Opu kah atau bandar Makassar?

    Like

  5. I Mannindori bagi Belanda digelari bajak laut dari Gowa. Kategori “bajak laut” dalam kacamata kolonialis Belanda ketika itu adalah orang-orang Gowa yg tidak mau tunduk pada Perjanjian Bongaya sejak Perang Makassar 1669

    Like

  6. Horeeee…Avatarku sudah berubah…any comments dear all? :p

    Daeng Lalo, ba…sepertinya itu adalah “agitasi” Belanda supaya semua bersatupadu menumpas para lanun…

    Like

  7. Suka endingnya :
    “Karaeng Galesong yang pantang surut ke pantai itu, memilih tenang tanpa medali di desa Ngantang, Malang, Jawa Timur. Sendiri”
    Btw thanks sudah dishare daeng 🙂

    Like

  8. Eh, mana komentarna Cikrib..
    Jangan2 masuk spam jugah..

    Harusnya bung admin ini sesekali menengok dashboardnya, liatin klo ada kesiang komen yg dijakkalak disana

    Like

  9. Sekali waktu saya kekota Batu Malang.ketika melintas dipenghujung kabupaten kediri di kiri jalan Terpampang Sangat besar nama “Karaeng Galesong” namun karna kendaraan yg saya tumpangi sangat laju hingga tulisan yg lain tak jelas bagiku….sebagai putra kelahiran makassar rasa penasaran selalu mengganggu pikiranku…ada apa dengan Karaeng Galesong…dikediri….akhirnya jawaban itu kutemukan…sungguh Karaeng Galesong Sangat Sarat dengan Sejarah…di negeri Orang….aku Jadi Bangga menjadi warga Makassar di Perantauan….semoga Karaeng Galesong dapat menyemangati perjuanganku dirantau …makasih buat bapak Kamaruddin Azis

    Like

  10. Mantap skali ini Om Denun, 2 jempolq seng ini..hehe
    Senang juga bisa baca2 sejarah pejuang Bugis Makassar.
    Sy tertarik dengan penamaan tokoh tokoh bangsawan dahulu kala, seperti sebuah bait syair tersendiri jika menyebut nama2x.
    Lagi Om..!

    Like

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.