Sileya Scuba Divers, Inisiatif Keren dari Selayar (Part 2)

Pantai Selayar (Foto: Kamaruddin Azis)

Selayar, wilayah ujung selatan Sulawesi Selatan ini adalah harapan pemerintah untuk dijadikan destinasi pariwisata bahari utama. Salah satu targetnya adalah Taman Nasional Taka Bonerate. Satu wilayah konservasi yang ditetapkan sebagai taman nasional sejak tahun 1992.

Selayar, kabupaten yang terdiri dari 126 pulau ini patut berbangga karena mempunyai atol ketiga terbesar di dunia atau yang terbesar di Indonesia. Atol dengan luasan terumbu karang luar biasa. Diperkirakan 2000km2 merupakan rataan terumbu karang dengan kedalaman rerata 20 meter. Beragam spesies ikan karang, kerang-kerangan, ikan pelagis, lamun dan biota laut lainnya menjadi unsur asosiasi terumbu karang. Selayar patut berbangga.

Selayar juga jalur pelayaran Indonesia bagian timur-barat, bahkan dari Nusatenggara ke utara. Dengan kondisi ini pantas jika Selayar merupakan titik sentral dari segitiga Nusatenggara – Sulawesi dan Bali. Ditarik garis besarnya, Selayar merupakan tengah Indonesia.

“Selayar layak disebut wilayah di pusat kenikmatan” kata seorang teman setengah bercanda.

Tapi tidak ada yang mudah jika menyebut kata ikhtiar. Selama ini masih ada stereotype bahwa Selayar, kabupaten berpenduduk 120an ribu jiwa ini adalah kabupaten minim hiburan, miskin sarana prasarana, terpencil dan jadi kabupaten isolasi, utamanya bagi mutasi pejabat pemerintah dari provinsi. Selayar dianggap tidak strategis.

Sangat minim inisitaif untuk menunjukkan upaya di jalur promosi, pembenahan. Padahal, selain peran pemerintah kabupaten, masih ada kekuatan lain yang dapat diandalkan, yaitu organisasi masyarakat sipil.  Padahal di beberapa provinsi atau kabupaten yang bermodalkan kekayaan laut grafik denyut pariwisata mereka semakin bergerak positif.

***

Semua tahu, walau telah ditetapkan sebagai Taman Nasional sejak tahun 1992, berbagai sengkarut masih mengganjal di Taka Bonerate. Harapan untuk menjadikannya lokasi pariwisata utama di Indonesia utamanya Sulawesi Selatan masih digelayuti beragam persoalan. Infrastruktur, kapasitas SDM hingga lemahnya penegakan hukum lingkungan.

Belakangan ini, beberapa tanda baik mulai muncul, beberapa pihak mulai menunjukkan kepedulian dengan kondisi Selayar itu. Salah satunya Sileya Scuba Divers Indonesia, satu perkumpulan selam yang digadang oleh beberapa pemerhati lingkungan pesisir dan laut Selayar.

SSD begitu akronimnya, menggunakan kata Sileya, sebutan Selayar beberapa waktu lampau. Organisasi in digagas oleh beberapa orang yang peduli pada kelebihan Selayar itu, mereka percaya bahwa perkumpulan ini mereka dapat berkontribusi pada pengembangan Selayar sebagai lokasi wisata sekaligus ruang pamer kekayaan laut dan masa depan Selayar.

Organisasi ini digagas pada tahun 2007 dan resmi berdiri bulan Maret 2008. Ditopang oleh berbagai institusi, seperti, perwakilan Dinas Kelautan dan Perikanan Selayar, utamanya tim COREMAP 2, seperti Anjas, Ika, Igo, Cakra. Dari Taman Nasional Taka Bonerate, Nadzrun Jamil, Asri dan Ronal dan Dokter Benedicta Wayan Suryani (spesiali mata).

Beberapa bulan kemudian bergabung nama-nama seperti Mude Zulkifli, Ibel, Alex, Andi Cakra Gunar Putra, Zulfikar Affandi, Yulyvia, Asrahiyah dan beberapa anggota lainnya.

SSD Kini

Hingga kini ada 50an anggota SSD dengan sertifikat selam A1 atau ADS.  Minat simpatisan selam juga semakin tumbuh dari waktu ke waktu seiring semakin menggeliatnya kegiatan di Kafe dan Kios. Jaringan dan kemampuan pengurus menggaet tamu juga tidak boleh dipandang enteng.

Mereka membuka kontak online seperti membuat group di FB, membuat akun di Twitter bernama SSD_Indonesia dan kini mulai merintis website. Mereka siap mengantar dan menemani pengunjung yang ingin menjajal laut dan rekreasi laut di sepanjang pesisir dan laut Selayar. Dari Kota Benteng, Baloiyya, Pantai Timur, Appatanah hingga Taka Bonerate.

Namun demikian, ada yang tidak mudah bagi SSD di Selayar, rupanya beberapa pendiri (founder) SSD harus pindah tugas. Beberapa memang berasal dari luar Selayar seperti Dokter Benedicta WS yang pindah ke Bangka Belitung, Igo dan Anjas yang pindah ke Makassar. Ibel dan Alex  dokter PTT yang harus studi dan pindah pengabdian. Meski begitu kecintaan mereka pada Selayar tidak diragukan lagi. Hingga kini mereka tetap semangat membangun SSD.

Untuk mengoperasionalkan organisasinya, SSB mengusung dua unit kegiatan produktif yang diharapkan dapat menjadi penyokong inisiatif kegiatan yang mereka tawarkan. Keduanya adalah Toko Lantigiang dan Kafe TempatBiasa. Lokasinya di utara Kota Benteng, tepatnya di Jalan Siswomiharjo.

Lantigiang menjajakan souvernir seperti t-shirt, benda kerajianan tangan bernuansa pesisir, penganan khas Selayar, sampai ikan kering dan terasi kepada para tamu. Sedang kan TB menjadi tempat ngumpul sekaligus ruang diskusi dengan menyediakan aneka makan minuman dan makanan ringan. Keduanya adalah dapur SSD.

Hasil bisnis mereka selain untuk kelanjutan usaha, mereka sisihkan untuk upaya konservasi atau kegiatan-kegiatan yang dapat meningkatkan kepeduliana pada lingkungan. Telah banyak kegiatan yang mereka selenggarakan seperti bersih pantai di Baloiyya, edukasi remaja untuk peduli lingkungan, dialog konservasi, pendampingan di Gusung, pandu wisata laut, dialog pariwisata, dan lain sebagainya.

Sudah banyak tamu atau turis domestik hingga mancanegara yang telah merasakan suasana nyaman saat berinteraksi dengan SSD Indonesia. Banyak dari mereka datang setelah mendapat informasi dari internet dan relasi di daerah lain seperti Jakarta dan Bali. Mereka menginap di wisma yang masuk dalam area kafe TB.  Bagi yang tertarik wisata selam, para kru SSD siap mengantar ke site seperti Pantai Timur, Gusung/Pulau Pasi, Appatanah hingga Taka Bonerate.

Dari yang berkantong pas-pasan hingga yang benar-benar siap untuk berwisata pantai hingga beberapa hari.

“Pernah ada tamu dari Eropa yang datang dan menginap. Selain menikmati kota Benteng mereka juga berkunjung ke Gusung, satu area pantai di pulau Pasi, seberang kota Benteng” kata Acca, salah satu anggota SSD yang kerap kebagian menemani tetamu itu. Acca adalah alumni jurusan Perikanan, Unhas.

Organisasi ini terus berbenah. Mulai dari keanggotaan hingga membangun jaringan. SSD adalah satu satu “representative” DiveMag Indonesia.

Selain menyibukkan diri di Benteng, pengurus dan anggota SSD juga mempunyai lokasi dampingan yaitu di Tile-Tile, Pantai Timur Selayar dan Gusung di Pulau Pasi’.

Di mata pemerintah kabupaten, Andi Mappagau, SE yang merupakan Kepala Dinas Pariwisata mengatakan bahwa keberadaan SSD ini sangat membantu Pemkab dalam mendorong pengembangan pariwisata bahari di Selayar.

“Kami selalu berdiskusi dan berbagi ide mengenai pengembangan daerah yang potensial sebagai wisata bahari” kata Mappagau pada satu kesempatan.

Jika ke Kota Benteng, berkunjunglah ke tempat istimewa mereka…

Advertisements

MIWF 2011, Mengapa Galesong dan Barrang Lompo?

Tiga kontributor Rumata' (Foto: Kamaruddin Azis)

Tanggal 14-15 Juni 2011, delapan (8) penulis internasional asal Mesir, Belanda, dan Australia serta 4 penulis lokal Makassar peserta Makassar International Writers Festival (MIWF 2011) akan berkunjung ke Galesong dan Pulau Barrang Lompo.

MIWF merupakan festival kebudayaan yang terlaksana atas kerjasama Rumah Budaya Rumata’ yang kerjasama dengan beragam pihak termasuk Ikatan Sarjana Kelautan (ISLA) Unhas. Rumata’ dibesut oleh sutradara beken Riri Riza dan penulis kawakan asal Makassar, Lily Yulianti Farid.

Para penulis itu mengadakan kunjungan ke wilayah pesisir untuk melakukan kontak dengan warga, utamanya generasi muda melalui dialog dan pembacaan karya sastra. ISLA UNHAS mengusulkan kedua lokasi itu dengan pertimbangan sebagai berikut:

Galesong

Satu kawasan pesisir penting di selatan Kota Makassar. Dapat dijangkau melalui dua jalur, via Barombong dan Kota Sungguminasa,Gowa.  Galesong merupakan wilayah dengan catatan sejarah heroik yang mengagumkan jika dikaitkan dengan epos perlawanan Raja Gowa terhadap VOC.

Di Galesonglah muncul nama Karaeng Galesong yang meneruskan perlawanan pada Belanda meski pun Sultan Hasanuddin di Gowa telah takluk pada perjanjian Bungaya.  Inilah yang menjadi ciri perlawanan sosial yang menjadi kebanggaan warga Galesong hingga kini. Di Galesong ada “rumah keluarga kerajaan, Balla Lompo”, serta kuburan raja-raja.

Kawasan pesisir ini berubah dalam waktu cepat sejak jalur transportasi dari Makassar ke Takalar dibuka via Jembatan Barombong.  Di samping itu, banyak tokoh kerajaan Galesong yang menjadi bidan lahirnya pemerintahan Kabupaten Takalar di Sulawesi Selatan.  Galesong adalah penopang ekonomi kabupaten Takalar dan merupakan wilayah pesisir yang sangat dinamis secara budaya, sosial, ekonomi dan ekologi dari waktu ke waktu.

Barrang Lompo

Satu pulau paling modern dibanding 11 pulau dalam wilayah administratif Kota Makassar. Dapat dijangkau dengan kapal kayu reguler dari Makassar dengan tarif Rp. 10ribu. Berangkat setiap hari dari Kayu Bangkoa, Makassar pada pukul 11.00 am.  Barrang Lompo adalah potret pulau yang sangat berubah dalam waktu cepat karena mempunyai hubungan sosial-ekonomi yang kuat dengan daratan Kota Makassar.

Nelayan Barrang Lompo dikenal dengan pola eksploitasi yang sangat massif dengan alat tangkap modern. Mereka menyisir perairan timur Indonesia bahkan sampai ke Perairan Australia. Dari kegiatan ekonomi berbasis Kelautan ini, di Barrang Lompo banyak janda karena suaminya jadi korban bom ikan, atau meninggal karena penyelaman teripang. Di Barrang Lompo ada “Lorong Janda”.

Di pulau ini pula terdapat Marine Station yang dikelola oleh Universitas Hasanuddin dalam meningkatkan kapasitas pendidikan Kelautan.

Bincang Pagi di Selasar Penghibur

Ivan dan Tata Ampa (Foto: Kamaruddin Azis)

Pukul 08.30, di Kayu Bangkoa Makassar, satu persatu penumpang dari pulau di barat Makassar bergegas meninggalkan dermaga. Dari sana, bersama Ivan Firdaus, senior di Kelautan Unhas, kami menuju satu kedai kopi di selasar jalan Penghibur, tidak jauh dari Makassar Golden Hotel (5 Juni 2011). Dia pesan nasi kuning, saya teh susu. Dia bercerita tentang pengalamannya yang baru saja pulau dari Pulau Gebe, di Halmahera Tengah, Provinsi Maluku Utara.

Agenda utama perbincangan kami adalah persiapan kunjungan 8  penulis internasional pada Makassar International Writers Festival (MIWF 2011) ke Pulau Barrang Lompo tanggal 15 Juni. Ikatan Sarjana Kelautan (ISLA) Unhas bekerja sama dengan Rumah Budaya Rumata’ yang dimotori oleh sutradara kawakan Riri Riza akan memfasilitasi kunjungan mereka ke pulau terbesar dalam wilayah administrasi Kota Makassar itu.

Ivan, alumni Kelautan Unhas adalah juga warga pulau Barrang Lompo. Diskusi kami sangat efektif. Darinya kami menyusun beberapa agenda pertemuan, partisipan, agenda keliling pulau dengan bemor, dialog dengan warga tentang situasi kontemporer pulau, dan lain sebagainya.

Cerita Tata Ampa’

Saat itulah datanglah Tata Ampa’. Lelaki dengan kumis rapi ini menjadi warna perbincangan di pagi itu. Kami mendengar ceritanya tentang Pulau Barrang Caddi, tetangga pulau Barrang Lompo. Tentang suasananya, issu kontemporer serta perubahannya kini.

Lelaki kelahiran tahun 1937 ini terlihat masih gesit. Dia lahir di Pulau Kodingareng lalu pada tahun 1962 menikah dengan Sitti, tepatnya Amma’ Sitti lalu mereka bermukim di Pulau Barrang Caddi.  Mereka dikaruniai tiga anak. Lima cucu. Dua anaknya telah menikah,satu belum. Saya mengenal lelaki ini saat masih kerap ke Pulau Barrang Caddi tahun 1997.

Saat itu Lembaga tempat saya bekerja yaitu Lembaga Pengkajian Pedesaan, Pantai dan Masyarakat (LP3M) Makassar sedang mengerjakan proyek instalasi listrik di Pulau Barrang Caddi. Bantuan hibah Pemerintah Jepang melalui Konsulat Jepang di Makassar. Bantuan Pemerintah Jepang itu rampung tahun 1997 dan diresmikan oleh Walikota Makassar,  Malik B. Masry.

“Saat ini pengelola listrik binaan LP3M itu dipimpin oleh Haji Muhsin” Tutur Tata Ampa.

“Tarif listrik dikenakan Rp. 2,500 permata lampu”. Ungkapnya. Saat saya tanyakan berapa yang dia bayar bulan lalu, Tata Ampa mengaku mengeluarkan duit Rp. 75 ribu untuk tiga mata lampu dan satu televisi.

“Lampu listrik menyala dari pukul 18.00 sampai pukul 12. 00 malam” katanya. Saat pertama berdiri tahun 1997, Tata Ampa mengaku hanya membayar Rp. 30ribu.

“Sekarang malah ada yang bayar Rp. 200ribu sebab ada kulkas dan mesin air” terang lelaki yang sebenarnya mengaku bernama asli Sampara namun di ijazahnya tertulis Syamsuddin.

Saat saya tanyakan berapa uang muka pemasangan listrik di Barrang Caddi, Tata menyebut angkat berkisar Rp. 2 Juta sementara saat pertama berdiri dulu warga hanya dipatok Rp. 50ribu. Harga ini dianggapnya sangat mahal namun begitulah kehidupan di pulau.

Selain bercerita listrik, Tata Ampa’juga bercerita tentang jumlah penduduk yang semakin bertambah. Pulau semakin sesak.

“Situasi Pulau Barrang Caddi kini sangat berubah jika dulu lokasi di barat bangunan milik LP3M terdapat hamparan pasir yang bisa digunakan main bola, kini semakin terkikis. Warga banyak yang kehilangan lahan bermukim. Untung telah dipasangi tanggul yang dibangun lima tahun lalu”  katanya.

Menyoal Tukang Parkir

Cerita tentang bengalnya tukang parkir di kota mungkin sudah sering didengar, dibahas atau dikeluhkan. Maraknya perparkiran illegal (tanpa karcis) dan ragam tukang parkir dari berbagai kalangan kerap buat jengkel para pengendara atau pemanfaatan fasilitasi publik.

Tapi, pengalaman pagi ini menggelikan. Di halaman parkir satu usaha cuci foto di Sungguminasa, Gowa, saya merasa bersalah. Bersalah pada seorang tukang parkir cilik. Bukan karena tidak memberinya uang parkir tapi cara saya memandangnya dan memberinya teguran.

Saat selesai urusan dengan kasir, saya bergegas ke tempat parkir.

Sadel motor saya telah ditutupi oleh tiga helai kardus. Sejak kapan mulai ada tukang parkir di tempat sekecil ini? Saya pindahkan kardus itu dan pritttt…pritttt. Seorang anak kecil, dengan sempritan di tangan mendekat. Belum sempat menengadahkan telapak tangannya saya sudah beri kata sambutan.

“Siapa suruh jadi tukang parkir di sini?” Tanyaku.

“Boska…bosku” jawabnya ringan. Maksudnya ada bos yang memberinya perintah.

“Bos?”.

“Beritahu bosmu, kamu tidak boleh jadi tukang parkir di usia begini. Kau harus sekolah” Pesanku.

“Saya sekolah siangji” Tangkisnya.

“Tidak…” Kataku seraya main ujung telunjuk, saya tidak memberinya uang.

Saya naik motor dan mengarah ke rumah. Belum sampai 100 meter dari tempat parkir tadi saya berpikir. Ah saya merasa bersalah.

“Tidak boleh menggertak anak kecil. Siapa tahu dia anak yatim atau piatu?” Batinku.

“Wah…”. Saya merasa berdosa tidak memberinya uang parkir. Saya putar haluan.

Dia melihat saya datang. Dia diam. Saya lalu panggil dan menyisipkan dua uang koin limaratus rupiah plus pesan: “Maaf nah, lain kali beritahu bosmu, kau harus sekolah”. Dia tersenyum.

Saat saya kembali ke rumah, saya teringat wajah anak tadi. Rupanya dia pula yang kerap ngetem di depan BNI Sungguminasa. Di tempat itu, sebenarnya tukang parkir hanya ada saat hari kerja Senin-Jumat. Kini, telah ada tukang parkir lain, seorang lelaki tinggi besar. Siang, malam, hari kerja hingga hari libur.

Saat lelaki itu tidak ada, kerap ada anak kecil yang menggantikannya.

Dan, saya belum pernah memberi sepeser sen pun demi parkir, dengan beragam dalih.

***
Tapi ini bukan yang pertama.

Minggu lalu, di depan salah satu bank pemerintah di jalan Veteran Selatan, Makassar saya dapat kenyataan yang sama.

Saat keluar dari bank tersebut, seorang anak datang mendekat. Dia bunyikan sempritan. Tapi dia dapat pertanyaan dan nasehat.

“Siapa yang suruhko?” Tanyaku.

“Wawan (bukan nama sebenarnya)!” Jawabnya dengan bola mata berputar. Anak ini lucu sebenarnya. Menggemaskan, kata orang-orang.

“Berapa kau dapat?” Tanyaku lagi.

“Saya bagi dua, 60 – 40″ katanya sok tahu”. Saya tertawa. Bagi dua? 60-40?

“Manami dia?” Tanyaku lagi.

Si kecil menunjuk ke seberang jalan, saya mengikuti jarinya tapi tak satu orang pun yang nampak.

“Saya tidak bayar kalau tidak ada karcismu. Kau punya?” Tanyaku.

Dia menghindar seperti ayam jantan kena sepakan. Seraya menjauh dia memberiku senyum, semacam cengiran.

***
Usaha parkir sepertinya semakin menjadi pekerjaan mudah. Semua kalangan, semua umur berlomba menjadi tukang parkir. Anda mungkin pernah mengalami, saat ambil uang di ATM, dalam beberapa detik saja Anda harus merogoh seribuan untuk si tukang parkir. Di bank, kantor-kantor, pusat keramaian, perbelanjaan dan di beberapa tempat strategis, keberadaan tukang parkir semakin nyata.

Tukang parkir tanpa karcis sepertinya lebih banyak dari yang berkarcis. Di sisi lain, mereka juga kerap memaksa dan kerap cari gara-gara. Menyaksikan tukang parkir kanak-kanak sebenarnya buat prihatin, namun begitulah kenyataannya, sepertinya ada kekuatan lain yang mengendalikannya.

Sebagai bagian dari wajah administrasi publik, mestinya keberadaan mereka mesti diatur dengan tepat dan bijaksana. Sebab jika dibiarkan, suatu ketika anak-anak itu tak terurus dan kota ini akan dikuasai oleh preman, kesewenang-wenangan, dan orang-orang yang dimanja oleh bunyi sempritan.

Asdar Muis RMS, satu penyair kawakan Sulsel bahkan memberikan penekanan bagaimana tukang parkir menjadi semakin tidak demokratis dan menggangu. “Mereka semena-mena menarik uang parkir” pekiknya.

Lalu, siapa peduli?

Sungguminasa, 17/04/2011

Belajar Manajemen, Menjawab Tren Perubahan

Bersama teman kelas konsentrasi "Manajemen Strategik" angkatan XXXI

“Ada tiga pekerjaan sangat prospektif saat ini: dokter, pengacara dan konsultan proyek,” kata Tadjuddin Parenta, dosen Fakultas Ekonomi UNHAS pada pertengahan tahun 90an. Menurut beliau, ini didasarkan pada perspektif nilai income dan kebutuhan pasar terhadap ketiganya. Alasannya, pertumbuhan penduduk dan dinamika sosial, pasti membutuhkan antisipasi dan solusi. Nah, ketiganya ini yang paling dibutuhkan.

Itu yang saya ingat dari interaksi dengan beliau saat kerap main tenis di lapangan tenis Kampus UNHAS Tamalanrea antara tahun 1993-1998. Diskusi di lapangan tenis itu akhirnya menyimpulkan bahwa pekerjaan apapun jika pekerja atau “alumni” tidak mampu beradaptasi dengan perkembangan zaman maka dia akan ketinggalan. Perubahan eksternal di ranah organisasi berkembang sedemikian pesat oleh karena itu dibutuhkan metodelogi untuk mengantisipasi setiap perubahan tersebut. Bangku pendidikan adalah jawabannya.

Di lapangan tenis itu pula saya sempat salaman dengan Taslim Arifin, Hamid Paddu, pak Yansor, pak Herry dan beberapa dosen ekonomi lainnya. Mereka menaruh minat bermain tenis walau tidak bertahan lama (hanya beberpa kali main dan berhenti). Dari perkenalan itu, diam-diam saya juga menaruh minat untuk belajar Ilmu Ekonomi. Membaca track record mereka dan mengaitkannya dengan relevansi fokus pekerjaan saya pada pengembangan kapasitas ekonomi masyarakat pesisir menjadi clue ketertarikan.

Tapi minat itu disimpan karena sejak tahun 1999-2008, atau sembilan tahun saya bekerja di luar di Makassar. Kesempatan untuk studi tak terpenuhi. Saya bekerja di Selayar, Luwu-Luwu Utara dan Aceh. Sejak gagal berangkat ke Bremen, tahun 2003 untuk mengikuti kursus pengelolaan pesisir, “Integrated Coastal Zone Management”, gairah untuk sekolah lagi nyaris padam. Namun saat kembali bekerja di Makassar pada pertengahan tahun 2008 untuk proyek pengembangan kapasitas pembangunan se-Sulawesi, gairah itu muncul lagi.

Belajar Manajemen

Kompetisi di bursa kerja membutuhkan kompetensi, yaitu relevansi pengetahuan, keterampilan dan konsistensi pada tujuan pekerjaan. Perpaduan antara pengalaman lapangan dan polesan metodelogi (empirik) merupakan kombinasi yang apik untuk kontributif dan efektif di berbagai ranah pengabdian.

Sekolah lagi rasanya menjadi niscaya. Itulah mengapa beberapa alumni memilih studi lanjutan di dalam negeri atau bahkan berburu beasiswa ke luar negeri demi alasan itu. Dengan bersekolah lagi, kapasitas individu menjadi semakin terasah dan siap menjawab tantangan pekerjaan atau situasi. Pada konteks ini, tentu beda, bagi yang bersekolah jika hanya mengejar gelar.

Awalnya sempat skeptis, karena saya merasa pendidikan S1 di Ilmu Kelautan tidak relevan untuk belajar Manajemen namun dorongan untuk mampu menganalisis “what-know-how-why” fenomena ekonomi di bangku kuliah begitu menggoda. Saya pun mesti menyiasati waktu kuliah dengan mengambil sesi Sabtu-Minggu. Nyaris tanpa alpa.

Belajar Sabtu-Minggu pun terasa mengasikkan karena beberapa teman menyiasatinya dengan mengisi waktu untuk menjalin keakraban; makan bareng, bernyanyi hingga rekreasi pantai. Menyenangkan punya banyak kawan dengan latar belakang pengalaman dan pekerjaan.

***

Sejak mulai belajar Ilmu Ekonomi di Kampus Magister Manajemen, Fakultas Ekonomi, Kandea antara tahun 2009-2010, saya menemukan ruang luas yang disiapkan oleh tenaga pengajar untuk reflektif pada pengalaman dari masing-masing mahasiswa melalui tugas dan diskusi kelas. Diskusi semakin fokus saat pindah dari semester 1-2 yang mengupas “Teori Ekonomi hingga Ekonomi terapan” ke ke semester tiga yang dikhususkan pada manajemen strategik, konsentrasi Keuangan dan SDM. Lebih elaboratif dan kasuistik.

Di sana, utamanya di kelas “Manajemen Strategik”, mahasiswa datang dari berbagai latar belakang seperti pegawai pemerintah propinsi, karyawan bank seperti BCA, Lippo, BPD Wajo, karyawan perusahaan seperti INCO, pegawai LAN, Bulog hingga Coca Cola. Beragam latar belakang ini merupakan sumber informasi yang sangat menarik untuk dielaborasi dan mengaitkannya dengan perspektif manajemen strategik. Ada refleksi, dialog dan analisis pada pengalaman masing-masing.

Dipandu oleh dosen berpengalaman yang eksis di berbagai institusi (internal dan eksternal kampus), alur studi menjadi begitu dinamis. Di kelas, mahasiswa bisa berdialog dengan dosen senior seperti Prof Basri Hasanuddin, Prof Burhamzah (almarhum), Prof Asdar, Prof Osman, Prof Otto, Prof Haerani dll serta dosen yang giat di berbagai bidang dan media seperti Prof Rahman Kadir, Prof Haris, Dr. Idrus Taba, Dr. Syarkawi Rauf, Dr. Ismail dan banyak lagi.

Begitulah, tulisan ini dimaksudkan untuk berbagi pengalaman pribadi dan dinamika selama mengikuti kelas Sabtu-Minggu, Magister Manajemen di Fakultas Ekonomi UNHAS sekaligus ajakan bagi kawan-kawan yang biasa bergelut di ranah pemberdayaan masyarakat (ekonomi – politik), seperti NGO dan pengelola bisnis skala kecil – menengah selain berguna untuk mengembangkan kemampuan analisis/metodologi atau riset ekonomi kontemporer juga sebagai upaya meningkatkan kapasitas personal dalam menjawab tren perubahan eksternal yang memang semakin sulit diprediksi.

Ayoooo, sekolah lagi…

Chico, Pembangunan Tanpa Penghancuran adalah Mungkin!

Chico dan Keluarga (dari http://www.chicomendes.com)
“Seperti saya, para tokoh penyadap karet telah bekerja menyelamatkan hutan hujan Amazon, dan membuktikan, kemajuan tanpa penghancuran adalah mungkin”. (Chico Mendes)

Lelaki tinggi dengan kumis tebal itu membuka pintu belakang rumahnya di Xapuri, Acre Brazil. Dia hendak mandi. Tiba-tiba satu tembakan merobek dadanya. Dia tersungkur. Dia pelakon utama dalam film bertema konservasi lingkungan dan perlawanan kelas. Judulnya “The Burning Season – The Chico Mendes Story” yang dibintangi oleh aktor Raul Julia, saya menonton film berdurasi 123 menit ini kemarin sore. Ya, namanya Chico Mendes, dia tidak asing bagi para aktivis lingkungan hidup dan pecinta alam di seluruh dunia. Lelaki ini lahir di Ekuador pada 15 Desember 1944 dari keluarga penyadap getah karet di radius wilayah Amazon, Amerika Selatan. read more

Taufik, Pelaut Cilik Dari Bekke

Anak ini mondar mandir saaat saya sedang mengobrol dengan para pelaut dari Pulau Rajuni, Taka Bonerate, Selayar. Kulitnya hitam, rambut abu-abu. Dia mengenakan baju kaos biru tua lusuh. Sepertinya baju kesebelasan Chelsea FC. Beberapa menit kemudian saya mendekatinya dan menyapa. “Bisa bahasa Bajo?” Kataku. “Bisa!” Jawabnya. “ Sai arengta” . Siapa namamu? . “Taufik”, katanya. read more