Menengok Jejak Bugis di Tano Niha

Kekaguman dan gairah mencari informasi tentang jejak Bugis ini terjawab juga dengan banyaknya nama-nama warga Nias yang berfam Bugis. Beberapa nama seperti Amiruddin Bugis, Mirwan Bugis dan sebagainya. Mereka menggunakan fam Bugis mengikuti jejak warga lokal yang menggunakan nama Zebua, Sarumaha, Zega, Gee, Zai, dan sebagainya.

Ketika saya bertanya pada beberapa warga Gunung Sitoli, desa yang banyak dijumpai fam Bugis, mereka menyebut desa Fowa di sekitar wilayah ibukota Gunung Sitoli, Kabupaten Nias.

Menyebut pulau Nias tentu yang pertama terbayang adalah tradisi loncat batu dan bencana gempa yang dahsyat itu. Dua hal ini adalah yang mengemuka atau bisa jadi kening kita akan mengkerut pertanda awamnya kita tentang pulau Nias. Tapi tahukah kita bahwa tentang daerah ini pada beberapa forum diskusi terjadi debat dan diskusi sengit tentang asal usul suku Nias (termasuk di internet) yang melibatkan praktisi, budayawan dan LSM seperti di Leiden, Jakarta, Medan dan di Nias sendiri. Salah satu elemen pokoknya adalah pengaruh suku dari timur atau Bugis? read more

Advertisements

Di Simeulue, Menghayati Pantun Tsunami dan Bertemu Orang Gowa

DSC02654Simeulue adalah pulau seluas 198.021 hektar yang terletak di Samudra Hindia, dengan jumlah total penduduk 78.000 jiwa. Saat gempa dan tsunami Desember 2004 terjadi, dilaporkan “hanya tujuh orang” yang meninggal dunia di pulau ini, sementara di Aceh daratan ratusan ribu orang tewas dihantam gelombang air laut.

Jumlah korban yang relatif amat kecil itu disebabkan karena persiapan menghadapi bencana, yang telah dipelajari penduduk sejak kecil. Para tetua di Simeulue mewariskan petuah agar waspada dengan kegentingan lingkungan. Di tengah masyarakat pulau ini, petuah itu abadi diwariskan dari generasi ke generasi. Ada pantun rakyat yang selalu diingat, “Tak usah takut anak cucuku, tsunami itu mandi-mandimu dan gempa itu ayun-ayunanmu,” read more

Menelisik Ruang Privat Para Kawe-Kawe

pacarDi salah satu tangga KM Kambuno, jelang Ramadan, 1998. Sirene meraung. Kapal yang saya tumpangi dari Pelabuhan Tanjung Priok, Jakarta merapat di Pelabuhan Soekarno Hatta, Makassar, pelabuhan kapal terbesar di timur Indonesia. Saat menuruni tangga kapal tua yang penuh sesak itu, saya dikejutkan oleh sapaan seorang waria (kawe-kawe, istilah lokal Makassar). Berdialek Makassar, dengan nada bicara yang sepertinya akrab di telinga saya.

”Oe, battu kemaeko?” sapanya sambil mencolek lengan. Dari mana, katanya ”battu-a ri Jakarta,” kataku terperanjat. ”Ikau iyya?” tanyaku kembali. ”Battu tonga ri Jakarta,” katanya memberitahu ia juga dari Jakarta. Cara bicara nya spontan dan genit. Penampilannya begitu berbeda. Rupanya Jakarta telah mengubah penampilannya, dandan, gaya bicara dan fisiknya! read more

Kepada YTH Van Den Berg di Netherland

William Easterly pengeritik pembangunan dunia ketiga itu, memuji Muhammad Yunus warga Bangladesh sang peraih Nobel. Dalam bukunya “The White’s Man Burden” Yunus disebut sebagai peneliti baik, peneliti yang tanggap untuk turun ke desa. Datang menelisik sengkarut sosial ekonomi kelas bawah.

Sebelumnya, rencananya membangun irigasi desa dan penyediaan kredit bagi usaha petani, lumpuh dan sukses. Yunus berpikir, ada apa dibalik itu semua. Kemudian dia putuskan untuk turun langsung ke desa. Dia mengajak warga untuk berbincang dan memahami situasi faktual mereka. Lalu dia putuskan lagi memberi kredit, kredit skala kecil, bagi seorang pembuat tempat duduk dari bambu. Ya, microcredit! Dugaan dan upaya Yunus yang ditempuhnya merupakan suatu proses belajar yang baik.

Kegagalan dia tebus dengan pencarian benang merah persoalan. Dalam pada itu, pengalaman dan arah pembangunan masyarakat desa yang diselenggarakan selama ini memang sudah sepantasnya diangkat dan dielaborasi lebih jauh. Penting untuk mengkaji seberapa rentan masyarakat kita. Bagaimana mereka bertahan sejauh ini.

Bagaimana sejarah membentuk mereka. Dan tentu saja, dimana posisi rencana-rencana besar para perencana pembangunan itu. Mengapa mereka memandang desa sebagai obyek dan bukan kota, misalnya? “Tentang kondisi warga desa, bukankah mereka sudah tinggal dan beranak-pinak di desa sejak ratusan tahun yang lalu?” read more

Illegal Fishing Threatens Marine Ecosystem

For centuries, the people of Western Sulawesi coastal areas have depended on marine ecosystems for their food and livelihood. There is a huge ecosystem region called Spermonde Islands located between the main islands of Kalimantan and Sulawesi. There are 126 small islands spread across this region with a population of more than 50,000. Today, however, coastal communities in Spermonde are worried, as their marine resources have decreased rapidly due to destructive fishing and natural sedimentation from urban disposal and rivers. Some people want to control illegal fishing and at the same time to find alternative sources for their income.

Of the 350 coral species living in Indonesia, 250 were found across Spermonde. This area covers 150 square kilometers of coral reefs. The population has shown a high dependency on coastal resources. Unfortunately, coral fishes have been intensively exploited by destructive fishing practices such as using explosives and poisons.

read more