Operator Telekomunikasi, Menebas Jarak Keterisolasian Pulau Terpencil

Pagi pukul 08.00 di bulan Maret 2002. Kami sedang di Pulau Latondu Besar untuk satu pekerjaan dan sedang bersiap menyeberang laut menuju Pulau Rajuni Kecil sebelum kembali ke Makassar. Cuaca sedang buruk, gelombang laut sangat tinggi. Nun jauh di sana, seorang ibu sedang berjuang menunggu ujung bulan kesembilan masa kehamilannya, kelahiran buah hatinya.

Kedua pulau di atas, masuk dalam gugus Kepulauan Taka Bonerate, Kecamatan Taka Bonerate, Kabupaten Kepulauan Selayar, Propinsi Sulawesi Selatan. Saat cuaca bersahabat, kawasan atol ketiga terbesar di dunia ini ditempuh selama satu hari satu malam dengan pelayaran kapal motor dari Makassar. Saat beberapa kota dan wilayah perdesaan di Sulawesi Selatan telah terhubung satu sama lain oleh sambungan komunikasi GSM atau GPRS, Taka Bonerate bersama puluhan pulau dalam wilayah Kabupaten Selayar, masih dalam selimut keterisolasian komunikasi.

***
Taka Bonerate adalah profil pesisir dan kepulauan Indonesia yang masih berkutat di persoalan akses transportasi yang sulit, minim fasilitas kesehatan, sarana prasarana pendidikan yang langka serta pemenuhan hak-hak sipil yang masih rendah. Namun di balik itu, sebagai atol, dia menyimpan potensi kekayaan alam laut yang tak terkira. Ikan karang seperti kerapu, kakap, beronang, serta ikan permukaan seperti tuna, cakalang dan tenggiri adalah primadona ekonomi yang bernilai trilliunan rupiah namun belum opimal dikelola.

Setelah lolos dari hadangan laut yang marah, akhirnya kami tiba di Pulau Rajuni Kecil. Saat merapat itulah saya mendapat kabar menyenangkan sekaligus mengharukan; anak kedua saya lahir di Makassar pada tanggal 25 Maret 2002. Yang istimewa karena di hari Minggu itu, warung telekomunikasi (wartel) dibuka untuk pertama kalinya. Warga menyebutnya “warung satelit” karena menggunakan sistim komunikasi satelit dengan kartu untuk koneksi tertentu. Hanya dengan mengeluarkan uang enam ribu rupiah pada percakapan tidak lebih tiga menit saya dapat mendengarkan kabar langsung dari sang istri. Taka Bonerate yang terpencil namun prospektif itu mulai terbuka. Jika tidak, mungkin saya memperoleh kabar baik itu saat anak saya telah berumur dua atau tiga hari.

Tujuh tahun sebelumnya, tepatnya tahun 1995, bersama lima orang teman seperkuliahan, kami menginjakkan kaki pertama kali di Rajuni Kecil untuk riset. Penelitian yang tidak lazim karena kami memilih Taka Bonerate yang terpencil, jauh dari hiruk pikuk modernitas. Sarana telekomunikasi belum ada, koneksi telepon satelit belum terpikirkan. Kami memang akhirnya terkurung karena jarak dan keadaan. Kami tertahan di pulau terpencil itu selama tiga bulan. Tak ada telepon genggam, telepon satelit dan yang pasti tidak ada internet!. Tak banyak yang kami lakukan untuk menambah referensi kami tentang penelitian yang dilaksanakan.

Kami hanya menunggu kabar dari perahu bermotor yang singgah atau melintas di jalur itu. Di sekitar kami, warga terisolasi dari kontak dunia luar kecuali dengan bermodalkan moda transportasi kapal laut yang membutuhkan waktu berhari-hari. Jika pun mereka mendapatkan informasi itu sifatnya satu arah, seperti melalui radio transistor. Para pelaku ekonomi seperti penjual ikan hidup, penampung teripang, cumi-cumi, juga mengalami hal yang sama, tak mampu mengikuti perkembangan informasi harga dan tren pasar.

Para tengkulak skala besar atau pemegang informasi di pusat perdagangan cenderung menutup ruang bagi para nelayan untuk mengakses informasi. Ada situasi “asimetris informasi” di sana, antar nelayan, pedagang dan minat pasar. Nelayan tak tahu persis berapa harga ikan kerapu hidup di Bali, berapa nilai ikan hidup di Hong Kong yang selama ini digembar-gemborkan ditaksir ratusan ribu bahkan jutaan. Yang mereka tahu ikan hasil tangkapannya diminati turis Bali dan warga Hong Kong utamanya saat perayaan tahun baru Cina.

Dampak Pembangunan Telekomunikasi

Walau belum bersifat massif, sejak dibukanya satu warung telekomunikasi dalam Taman Nasional Taka Bonerate pada bulan Maret 2002 itu, kontak bisnis menjadi semakin murah, mudah dan efektif. Banyak pengusaha perikanan dari pulau-pulau tetangga Pulau Rajuni Kecil dari kawasan Taka Bonerate yang datang menelpon. Mereka mengontak para pembeli ikan di sekitar Kabupaten Kepulauan Selayar seperti Kabupaten Bulukumba, Sinjai dan bahkan Makassar terkait transaksi ikan hidup seperti kerapu, kakap dan ikan ekonomis lainnya. Laju ekonomi regional semakin hiruk-pikuk sejak operator semakin bertambah di wilayah tersebut.

Para anak buah kapal (ABK) telah berha-ha-hi-hi saat mereka mengarungi lekuk pulau selepas dari pelabuhan di Makassar, Selayar, Kayuadi, Jampea hingga Maumere. Hidup para pemangku kepentingan semakin mudah. Nelayan dan pedagang ikan tak lagi menunggu kabar dari para pelaut yang pulang dari Makassar. Pengusaha angkutan kapal laut skala kecil (berbobot 30-50 grosston) yang membawa harga ikan kering terbaru, harga beras, semen, terigu dan segala kebutuhan pokok dari Makassar yang hendak dipasarkan ke wilayah lainnya di Nusa Tenggara mulai dapat menindis keypad telepon genggam bahkan saat di atas geladak.

Perkembangan telekomunikasi pada wilayah terpencil (remote) telah terbukti dapat mengembangkan ekonomi regional. Para pelaku usaha memanfaatkan kontak telepon untuk mengecek harga, negosiasi dengan pedagang dan mengamati tren perkembangan harga produk perikanan ekspor seperti ikan hidup kerapu (live fish).

Jika dahulu para pengusaha mengelola dan menyimpan informasi harga ikan dengan memanfaatkan alat komunikasi Single Side Band (SSB) yang mahal dan terbatas, kini, akses warga dan pengusaha atau bahkan nelayan secara luas telah semakin terbuka. Kompetisi telah semakin nyata walau mereka mesti berjuang ke titik tertentu untuk berkomunikasi karena belum semua pulau mendapat sinyal telepon.

Di dekade awal abad ke-21, berkembangnya sarana dan prasarana telekomunikasi telah membantu warga desa-desa pulau terpencil untuk berbenah. Mereka dapat dengan mudah memanfaatkannya untuk kebutuhan sehari-hari. Geliat sosial tidak berhenti di situ. Sebagai kawasan Taman Nasional, Taka Bonerate kini semakin terbuka untuk pemanfaatan wisata laut.

Menurut informasi dari otoritas Taman Nasional Taka Bonerate selama lima tahun terakhir jumlah kunjungan wisatawan lokal dan internasional mulai meningkat walau jumlahnya masih kalah jauh dari kawasan Taman Nasional lain seperti Pulau Komodo di Nusa Tenggara Timur dan Kepulauan Wakatobi di Sulawesi Tenggara. Penggunaan sarana telekomunikasi seperti internet, sambungan jarak jauh karena operator telah mendekatkan pusat wisata ke pelaku bisnis untuk menjaring turis domestik dan internasional.

Kini, spot penyelaman seperti di Baloiyya dan Appatanah di daratan utama Selayar serta Taman Nasional Taka Bonerate telah mudah diakses hanya dengan menuliskan alamat situs, baik dari telepon genggam biasa maupun Blackberry maupun gadget lainnya. Para operator telah menebas jarak antar wilayah pulau-pulau terpencil dengan daratan utama dengan pedang koneksi dan kemudahan layanan. Ekonomi kawasan telah tumbuh pesat.

Pemerintah setempat dapat bahu-membahu dengan pihak swasta dalam optimasi keterbukaan akses ini dalam pengembangan ekonomi seperti ekstensifikasi perikanan tangkap, pengelolaan lokasi wisata yang lebih baik dan berkelanjutan, pembenahan moda transportasi, dan kemudahan investasi.

Peran para operator komunikasi dapat mendorong kampanye, mediasi, sosialisasi pengembangan kawasan dengan membantu pemerintah setempat untuk menyiapkan dan memperluas infrastruktur komunikasi yang efektif, efisien hingga ke pulau-pulau jauh. Upaya membangun jaringan dan penyediaan layanan jasa telekomunikasi di wilayah terpencil seperti pesisir dan pulau-pulau kecil merupakan hal mendesak.

Operator yang telah memilih strategi ekspansi hingga wilayah pesisir dan pulau-pulau  jauh sebenarnya telah memenuhi unsur keadilan sosial-ekonomi dalam pembangunan nasional. Sekaligus merupakan wujud menjaga keterkaitan hubungan fungsional antar elemen masyarakat dan korporat. Bukan semata-mata demi alasan profit tetapi satu manifestasi tanggung jawab sosial perusahaan bagi masyarakat luas.

***

Uraian di atas adalah contoh bahwa telah terjadi perkembangan signifikan dalam pembangunan telekomunikasi di Indonesia dan berkorelasi pada pertumbuhan ekonomi kawasan. Pengembangan sarana prasarana telekomunikasi pada daerah pedalaman dan terpencil dapat mendorong terbukanya peluang wirausaha berbasis kepulauan seperti usaha perikanan dan pariwisata sebagaimana digambarkan di atas.

Jika ini berhasil maka tentu akan berdampak pada pertumbuhan ekonomi, perbaikan pendidikan, kesehatan, lingkungan dan keterkaitan emsional pada segenap lapisan masyarakat Indonesia. Taman Nasional Taka Bonerate, atol terbesar di Indonesia atau ketiga di dunia itu akan menjadi magnet pembangunan Kelautan nasional, dan merupakan contoh konsekuensi perkembangan telekomunikasi di Indonesia. Para pemangku kepentingan telah mencoba memanfaatkan keuntungan dan fungsi telekomunikasi tersebut. Banyak pihak kemudian sadar bahwa usaha warung telekomunikasi pertama di tahun 2002 sebagaimana diceritakan di atas adalah inisiatif pihak swasta. Pemerintah belum mengambil langkah signifikan kala itu.

Salah satu operator yang sangat prospektif dan konsisten mengusung pengembangan sumberdaya pesisir dan kepulauan di masa datang adalah XL. XL atau XL Axiata yang mulai operasi dalam tahun 2003 di Makassar telah mendirikan BTS di seluruh wilayah kabupaten/kota di Sulawesi Selatan hingga ke pulau-pulau termasuk Selayar. Mereka paham bahwa Makassar merupakan pintu gerbang Indonesia Timur, sehingga dia dapat menjadi barometer ekonomi di Indonesia Timur. Wilayah-wilayah sekitarnya termasuk Kepulauan Selayar adalah kontributor ekonomi regional.

Dengan mengelola kekayaan sumberdaya kelautan dalam hal ini perikanan dan pariwisata serta ditunjang oleh kualitas dan komitmen perluasan jaringan telekomunikasi oleh XL maka bukan mustahil operator ini akan menjadi penyokong utama pengembangan ekonomi kawasan terpencil dan pedalaman di Indonesia.

Jayalah negara maritim Indonesia, majulah telekomunikasi antar pulau di Indonesia.

Gowa, 31 Desember 2010

Keterangan foto dikutip dari: http://www.xl.co.id

Advertisements

Nadal Kandas, The Melaju

The Fed (foto: arenaku.com)

Juergen Helzer, petenis kidal asal Austria ini masih jauh terpaut peringkat dibanding Rafael Nadal. Dia peringkat 13 ATP sementara Nadal pertama. Dua malam sebelumnya, di putaran ketiga Shanghai Open ATP Masters mereka bertemu. Saat menyaksikan skor 5-1 untuk Helzer di set pertama, saya senyum sendiri. Saya puas, Nadal pasti sedang gawat dan panik. Saya senang jika Nadal kalah.

Kenapa? Alasan pertama, saya tidak menyukai petenis dengan backhand dua tangan. Rasanya tidak elok dilihat. Backhand strike gaya Federer, Wawrinka, Almagro rasanya sangat memikat untuk dilihat. Bertenaga walau dengan satu tangan. Beberapa petenis terkenal seperti Pete Sampras, Stefan Edberg, Steffie Graff, Gabrilla Sabatini adalah petenis dengan gaya memukul backhand satu tangan. Jika begitu, Anda pasti paham mengapa saya selalu menjagokan Roger Federer saat ini! read more

Taufik, Pelaut Cilik Dari Bekke

Anak ini mondar mandir saaat saya sedang mengobrol dengan para pelaut dari Pulau Rajuni, Taka Bonerate, Selayar. Kulitnya hitam, rambut abu-abu. Dia mengenakan baju kaos biru tua lusuh. Sepertinya baju kesebelasan Chelsea FC. Beberapa menit kemudian saya mendekatinya dan menyapa. “Bisa bahasa Bajo?” Kataku. “Bisa!” Jawabnya. “ Sai arengta” . Siapa namamu? . “Taufik”, katanya.

“Tabea manggekang?” Ikut dimana, kataku. Dia menunjuk satu perahu bercat biru yang sedang sarat dan sandar di ban dua dari dari sebelah barat di Pelabuhan Paotere. Perahu itu telah selesai proses muat dan sedang menunggu waktu yang pas untuk segera angkat sauh.

Taufik tidak tamat SD. Hanya sampai kelas 5 dan berhenti sekolah. Dia kini memilih ikut berlayar pada perahu yang dinakhodai oleh Badu, seorang warga Pulau Jinato yang lahir di Pulau Rajuni. Kapal itu telah muat semen dan akan menuju daerah Bekke, di Nusa Tenggara Timur. Taufik belia baru sekali ikut berlayar.

“Orang tua dimana?” Tanyaku lagi. “Apa?” Dia meminta saya mengulang pertanyaan. “Bapakmu dimana?” Rinciku. Saya tak menduga jawabannya saat dia bilang, “Pergi ke Lengnga Kera, Maumere. Mungkin ada yang lain yang dia cari di sana.”. Dia memandang jauh dan dengan tegas menyebut bahwa kini dia hidup bertiga dengan ibunya di Bekke. Dia, dua orang bersaudara. Adiknya sedang sekolah kelas I, SD juga di Bekke.

Dia kini menunggu gaji pertamanya bersama 8 orang kru Kapal Cahaya Madina. Gajinya, katanya untuk nanti diberikan ke ibunya yang bernama Sating. Ibunya adalah wanita Bugis dari Pulau Jinato (sekitar 8 jam pelayaran dari Kota Benteng, Selayar) yang memilih tinggal di Bekke, satu daerah pesisir di Nusa Tenggara Timur. Sekitar tiga hari dua malam perjalanan ke sana dari Makassar.

Setelah mengobrol dengannya, dia bergegas bergabung dengan anak-anak di Kompleks Pelabuhan Paotere yang sedang main bola plastik. Dia sangat menikmati permainan itu.

Sungguminasa, 04042010

Teknik Wawancara: Angku Bauk Tentang "Pakkue Sengkangang"

Sering, para perencana dan fasilitator pembangunan lalai untuk memerhatikan kualitas informasi yang dia peroleh dari lapangan. Mereka, kerap membuat penyederhanaan atas fakta lalu menuangkannya dalam kertas perencanaan atau rencana aksi program. Dalam merumuskan situasi dan urgensi tindakan mereka gagal memilah, yang mana fakta dan yang mana persepsi sebagai alas dalam menyusun perencanaan.

Lebih ekstrim lagi mereka tidak datang ke desa (sebagai misal) dan dengan bangga menyusun rencana kegiatan berdasarkan ekspektasi dan persepsi mereka atas situasi masyarakat di desa. Oleh karena ingin melatih ketajaman membaca fakta dan menyusun pertanyaan faktual itu maka kami, pada satu hari di bulan Maret 2010 mengunjungi Kampung Padang, Desa Bontosunggu, Kecamatan Bontoharu, Kabupaten Kepulauan Selayar.

****

Pagi berangsur siang saat kami bertandang ke salah satu kios di dekat Pasar Padang, Kecamatan Bontoharu, Selayar. Kami akan berkenalan dengan warga desa dan mencoba membaca fakta dan denyut kehidupan mereka. Saya mengajak Muhammad Harsani (staf perencana pada Bappeda Propinsi Sulawesi Selatan), Yulyvia Purnawarti dan Sultandar Zulkarnaen (staf perencana pada Bappeda Kabupaten Kepulauan Selayar) untuk mulai mewawancarai warga berdasakan entry point (biasanya merujuk pada apa yang faktual, atau apa yang sedang dipegang atau diketahui oleh warga saat ditemui).

Kami mampir di satu kios tidak jauh dari dermaga Padang. Di sana ada Angku Bauk, Dia adalah warga Padang. Di kiosnya tersaji empat gelas jualan yang berisi “tenteng kacang, tenteng kenari, kue serekung (lembaran tipis)”. Di mejanya terdapat satu benda berbahan kayu. Terlihat sebagai kayu keras. Dia terlihat sebagai cetakan kue. Inilah yang akan menjadi pokok masuk wawancara kami, “entry point” kata orang Inggris.

“Apa ini” Tanyaku.

“Ini pakkue sengkangang” Jawabnya.

Menurutnya, ini adalah alat untuk membuat kue, kue Borobudur yang digemari banyak orang itu. Pertanyaan saya itu kemudian diikuti beberapa pertanyaan faktual dari kawan-kawan yang ikut tersebut. Setidaknya terkait 4 W tanpa H, apa, dimana, siapa dan kapan. Pertanyaan persepsi seperti mengapa dan bagaimana kami kesampingkan.

Dari wawancara itu terekam bahwa dahulu, sebelum menggunakan cetakan kue tersebut, warga Padang membuat kue dengan menggunakan alat cabut sengkang (terbuat dari aluminium tipis berbentuk V). Sengkang juga biasa digunakan oleh kaum lelaki untuk mencabut jenggot tapi dengan bentuk yang lebih kecil dan keras. Kue Sengkang atau kerap juga disebut kue Borobudur bentuknya kecil dengan permukaan seperti bergerigi tumpul, layaknya bangunan Borobudur.

Padang terkenal sebagai penghasil kue khas Selayar ini. Angku , mengakui dalam sehari mereka dapat menghasilkan kue hingga 200 biji. “Inne rie’ tussuro buak” Katanya salam bahasa Selayar yang artinya, ini ada yang minta dibuatkan sebanyak 50 biji. Jika tidak ada yang pesan mereka biasanya hanya membuat hingga 100 biji saja.

Kue yang mereka hasilkan selain dipajang di kios juga dibawa ke pasar. Bahan-bahan untuk kue sengkangang adalah telur (tannoro dalam bahasa Selayar sebanyak 10 biji), gula pasir seliter , beras terigu sebungkus (labu’ berasa) , terigu sekilo, dan vanili 2 bungkus. Menurut Angku Bauk, vanili tidak boleh terlalu banyak, kalau terlalu banyak kue bisa pahit. Isi kue, ini yang menarik adalah biji kenari. Biasanya mereka siapkan hingga dua gelas biji kenari. Dengan komposisi bahan seperti diatas, Angku Bauk dapat peroleh 110 biji kue sengkangan.

Bahan-bahan yang disebutkan Angku Bauk ini dapat diperoleh di pasar Padang yang ramai pada hari Ahad, Rabu, Jumat. Isi kenari, biasanya diproses sendiri alias mereka yang jemus dan mengupas kulitnya. Warna kuning pada permukaan kue sengkangan karena diolesi kuning telur. Kue sengkangan yang dipajang di kios harganya seribu satu biji.

Saat saya mengunjungi kiosnya, Angku Bauk menyampaikan bahwa baru saja ada pemesan kue yang akan membawanya ke Makassar.Katanya ada acara kawinan dan mereka mau kue sengkangang. Angku belajar membuat kue setelah belajar dari ibunya. Dahulu masih menggunakan sengkang jadi disebut “kue sengkangan”. Angku Bauk bersaudara 4 orang, satu meninggal. Orang tuanya, bernama Dado adalah tukang jahit, ibunya bernama Salihi. Sudah lama tinggal di Padang.

Beragam informasi mengalir dari mulut Angku Bauk saat kawan-kawan penanya menggunakan kalimat faktual. Angku menjawab dengan tepat dan cepat karena kami tidak membuatnya berpikir dengan pertanyaan persepsi seperti “bagaimana dan mengapa”. Begitulah.

****

Dengan menggunakan “pakkue sengkangang” sebagai entry wawancara setidaknya akan terbaca tiga arah informasi. Pertama, bahan pembuat cetakan kue tersebut, kedua, apa yang dihasilkan dari bahan itu dan ketiga, mau diapakan hasil dari alat itu. Wawancara kami semakin terfokus pada bagaimana dia memproduksi kue, siapa yang membeli, berapa yang diproduksi, bahan-bahan hingga asal pembuat kue sengkangan tersebut.

Jika kita sudah menentukan “konteks” wawancara maka kita dapat fokus apakah hendak menelisik lebih jauh mengenai teknik pembuatan atau jalur-jalur pemasaran kue Borobudur tersebut. Sebagaimana layaknya wawancara pada warga desa atau aktor di desa maka kita dapat menentukan apa yang menjadi entry wawancara. Tergantung apa yang ada di dekat warga yang hendak kita wawancarai. Pada analisis yang lebih jauh kita akan dapat meraba arah wawancara pada “wajah kapasitas” warga yang kita ajak disksusi.

Seorang perencana atau fasilitator dapat merekam informasi terkait tingkat pengetahuan, keterampilan, keuangan, fasilitas atau jaringan usaha warga desa atau komunitas.

Makassar 31032010