Pariwisata Selayar, Jika Saya Bupati

Suasana di sekitar Pelabuhan Kota Benteng (dok: pribadi)

Pak Bupati, mohon izin, saya berandai-andai. Begini, jika saya Bupati Selayar saat ini, saya pasti akan sangat bangga saat mendengar Paulus Mintarga, arsitek dan konsultan pengembangan wisata yang belakangan ini wara-wiri ke Selayar menyebut Selayar sebagai destinasi perpaduan keindahan Maldives di Pasifik dan Karibia di Amerika Latin.

Mas Paulus bilang, jika ciri Maldives dicirikan hamparan pulau-pulau pasir putih nan eksotik, maka Karibia direpresentasi keragaman vegetasi dan keunikan sosiokulturalnya. Sosok rendah hati, jebolan Fakultas Teknik Sipil UNS Solo menghentak ruang sadar saya bahwa sesungguhnya Selayar adalah surga pariwisata yang perlu bersolek.

Izinkan saya Pak Bupati, menyaru ke dalam dirimu, andai saya Basli Ali saat ini. Semoga menginspirasi untuk kita semua. Boleh ya?

Terobsesi Jochen

Jika saya Bupati Selayar saat ini, saya harus memulai dari perenungan, siapa saya dan apa yang bisa saya kontribusikan untuk Selayar, untuk pariwisata misalnya.

Yang pertama, saya akan membandingkan dan mengambil pelajaran dari sukses dan bertahannya resort belasan tahun yang dikelola oleh seorang Jerman bernama Jochen di Pantai Timur Selayar, tepatnya di Appatanah.

Jika ingin melihat contoh lain, saya harusnya membuka-buka buku diari tentang satu titik di selatan Kota Benteng bernama Baloiyya yang dikelola oleh Tuan Momiyama asal Jepang di tahun 2000-an.

Karena saya Bupati pembelajar, saya akan menggarisbawahi bahwa keunggulan dan daya tahan Jochen terletak pada cara dia merawat sumber daya alam terumbu karang. Pada tangan besinya untuk tidak mentoleransi ketidakteraturan dan kesewenang-wenangan di usaha pariwisata.

Lihatlah kawasan resort-nya yang bersih, teduh, alamiah dan terus didatangi warga Jerman dan Eropa maupun Amerika Serikat karena keanekaragaman hayati lautnya. Karena keindahan yang tak terjamah bom dan bius ikan.

Saya juga haqqul yakin bahwa dengan transportasi, akomodasi, konsumsi dan ketersediaan logistik yang lebih dari cukup, teratur, on time, turis-turis akan datang dan takkan protes. Bisa lewat Bira, lalu naik speedboat ke Appatanah, atau dari Bandara Aroepala lalu memutar ke Pantai Timur.

Saya juga akan sadar bahwa Jochen tak harus membangun gedung tinggi atau penginapan beton dan bertingkat-tingkat tetapi menghidupkan harapan dari laut yang dijaga, disiplin dan tanggungjawab, alasannya, karena dia mendapat mandat dari Negara untuk mengelola sumber daya pariwisata di Appatanah dengan profesional.

Yang kedua, tentang Momiyama. Gagalnya Momiyama mengembangkan resort di Baloiyya karena rumitnya perizinan dan sulitnya meyakinkan masyarakat sekitar bahwa investasi pariwisata akan memberikan dampak balik ke mereka juga. Melalui tenaga kerja, melalui penyediaan hasil bumi, hasil pertanian dan bahkan ikan-ikan hasil pancingan mereka.

Sebagai Bupati, saya merasakan betapa getir dan sedihnya Momiyama saat resort-nya justeru berkubang persoalan, penolakan dan konflik berkepanjangan.

Oleh sebab itu, saya, sebagai Bupati akan terus mengantisipasi atau lahirnya potensi konflik dengan komunikasi, persuasi dan memberi bukti konkret bahwa Pemerintah Selayar berada di garis depan tumbuh suburnya investasi di pariwisata.

Saya fokus ke depan

Untuk menghantar Selayar sebagai salah satu destinasi top dunia di Indonesia, saya harus yakin bahwa kuncinya adalah koordinasi dan komitmen lintas pelaku di Selayar, Pemerintah Daerah, korporat atau swasta, organisasi masyarakat sipil hingga aktivis lingkungan.

Saya akan sangat setuju dengan adanya kesadaran bersama seperti yang disebutkan oleh Wakil Bupatiku, DR. Zainuddin terkait pariwisata Selayar, di talkshow yang digelar oleh BPPD Sulsel pada tanggal 29 Agustus 2018 itu.

Saya baca laporan kalau dia mengatakan bahwa majunya pariwisata Selayar berkaitan pula dengan kebijakan yang lebih tinggi. Koordinasi dan dukungan Kementerian sangat diperlukan.

“Semoga masuknya Selayar sebagai Kawasan Ekonomi Khusus (KEK) akan memberikan dampak nyata. Pada ketersediaan infrastruktur dan tentu saja keterhubungan antar sektor, seperti kelautan dan perikanan, barang dan jasa,” begitu katanya. Dan, saya setuju itu.

Meski sebagai Bupati, sesungguhnya, saya membaca situasi dilematis di balik pernyataan itu.

Posisi Selayar yang berada paling ujung Sulawesi Selatan, terpisah dari daratan utama Sulawesi serta berserak sebagai pulau-pulau relatif besar dan kecil sangat, sangat, sangat membutuhkan sarana prasarana transportasi, komunikasi, dan layanan infastruktur yang memadai.

Keunggulan Selayar yang disebut mempunyai ratusan pulau belum sepenuhnya dikelola. Belum sepenuhnya dimanfaatkan untuk memberi nilai tambah pertumbuhan ekonomi kawasan di antara Laut Flores dan Selat Makassar tersebut.

Itulah yang harus menjadi tantangan saya, sehingga visi menjadikan Selayar sebagai destinasi wisata bahari terdepan di Sulawesi Selatan harus saya canangkan.

Koordinasi yang dimaksud Zainuddin adalah perwujudan komitmen yang sama, konsisten dari lintas Kementerian untuk mendukung visi misi pembangunan daerah.

Hal yang disebutnya sebagai – perlunya sinergi nyata antara usaha pariwisata, perikanan dan kelautan namun tetap menempatkan stakeholder dan Pemerintah Kabupaten Selayar sebagai subyek sekaligus obyek pertumbuhan.

Sekali lagi, saya setuju pendapat itu.

Kedua, sebagai Bupati, saya akan berhati-hati saat bicara kebijakan sebab dia harus terukur apa indikator dan parameternya.  Saya tidak mau mengulang perencanaan pembangunan yang tak memberikan dampak perubahan dan kebanggaan.

Dalam satu dekade, saya tahu persis bahwa kebijakan perencanaan dan penganggaran pembangunan di Selayar belumlah bermuara pada outcomes yang memuaskan, pada bergeraknya fungsi ekonomi kawasan, pada usaha barang dan jasa. Industri pariwisata belum menggeliat seperti Lombok atau Raja Ampat, padahal kami punya atol ketiga terbesar di dunia!

Perayaan Taka Bonerate Islands Expedition yang digelar saban tahun harus mulai dikemas dengan sistematis dan nyata dentumnya. Pada jumlah dan latar belakang peserta serta tentu saja, ada investasi di sana. Bisa pendanaan maupun kerjasama atau meretas networking melembaga.

Ketiga, sebagai Bupati, saya akan mendorong tumbuhnya kreativitas pemangku pariwisata.

Pernyataan ini berkaitan dengan seberapa terjawab visi misi yang telah ditetapkan oleh Pemerintah Kabupaten Selayar, baik melalui dokumen perencanaan jangka panjang maupun menengah.

Pemerintah Selayar beberapa tahun lalu yang gagal memanfaatkan momentum pembukaan bandara perintis di Taka Bonerate adalah contoh nyata betapa masih perlunya kesungguhan, kreativitas menarik dukungan beragam pihak dan negosiasi serta promosi ke lintas Kementerian.

Yang buat saya bangga sebagai warga Selayar sekaligus sebagai yang mencintai orisinalitas Selayar adalah telah tumbuhnya kreativitas.

Meski dalam skala kecil sudah terlihat seperti masifnya promosi lokasi wisata oleh komunitas atau media-media berbasis Selayar hanya saja belum mampu menjawab ekspektasi pada pemenuhan kapasitas untuk menjawab pertanyaan visioner Pemerintahan kami, yaitu terwujudnya masyarakat maritim yang sejahtera berbasis nilai keagamaan dan budaya.

Keempat, sebagai Bupati, saya akan all out melindungi ekosistem pesisir dan laut.

Toh, dari situ wargaku terbentuk, bertahan dan berkembang bukan?  Saya tidak ingin membiarkan UPT Taman Nasional Taka Bonerate berjalan sendiri. Kami akan memperkuat sinergi dan mencari terobosan.

Sebagai Bupati, saya bangga Selayar mempunyai panjang pesisir pantai hingga ribuan kilometer dari Pamatata di utara hingga Pulau Madu di selatan, dari Gusunga di barat hingga Kakabia di timur. Jumlah pulau tidak kurang 120, berpuluh kilometer luas rataan terumbu karang dan hamparan mangrove, serta kekhasan pesisir dan pulau yang menyimpan tradisi adat, kesenian dan folklore.

Potensi tersebut adalah modal dalam merancang bangun pendekatan, strategi dan program-program yang merefleksikan peluang kesejahteraan, berkelanjutan dan memberdayakan.

Kelima, saya harus bangga akan kesungguhan para pejabat saya di Selayar dan tetap terhubung dengan organisasi masyarakat sipil, LSM, kampus-kampus dan komunitas-komunitas.

Terkait aspek itu, saya ingin menceritakan betapa antisipatifnya kaum muda di Selayar, para aktivis, penyelam, atau komunitas di Selayar dalam memandang realitas terkait isu pariwisata bahari.

Lihatlah organisasi penyelam seperti Sileya Scuba Divers, Possi Selayar, Selayar Marine Dive, Selayar Dive and Adventure, hingga komunitas-komunitas fotografer, pesepeda yang getol membagikan keunggulan daerah tersebut, dari social media seperti Facebook, Instagram, Path, hingga Youtube.

Saya kira, jalan menuju visi pembangunan Selayar dapat diakselerasi dengan internalisasi pernyataan-pernyataan misi seperti apa yang bisa dilakukan untuk mewujudkan nilai keagamaan sebagai sumber inspirasi dan basis nilai utama dalam pembangunan secara terencana, menyeluruh dan berkelanjutan.

Demikian pula, pada misi perwujudan tata kelola pemerintahan yang bersih dan baik melalui pendekatan aspiratif, partisipatif dan transparan, atau meretas upaya peningkatan kualitas kehidupan masyarakat.

Khusus untuk pariwisata, ada baiknya saya mengecek kembali apakah input yang tersedia seperti sumber daya manusia, anggaran dan sarana prasarana yang ada sudah berkontribusi pada upaya percepatan pembangunan infrastruktur dan peningkatan investasi swasta di sektor perikanan, kelautan dan pariwisata.

Apakah itu sudah menjawab visi misi yang ada? Apakah kapasitas yang tersedia sudah sesuai road map yang telah disusun?

Ke depan, PR besar segenap stakeholder di Selayar atau yang terhubung secara emosional dengan Selayar adalah bagaimana mewujudkan pengelolaan potensi sumber daya alam sesuai keungguluan komparatif dan kompetitif Selayar itu.

Pertanyaannya apa yang menjadi pembeda untuk saya?

Agar bisa menyempurnakan kreasi pemimpin-pemimpin sebelumnya di Selayar? Seperti jalan Ring Road Pantai Timur yang telah dirintis om Akib Patta? Atau mendirikan Pusat Wisata Marina di Pulau Kayu Adi, toh di sana, sunset-nya tiada tara, Marina di sisi jauh Gantarang Lalangbata? Di Tanete atau sekalian di Pulau Madu?

Saya yakin akan ada banyak investor yang berminat. Toh bandara Aroepala sudah dilayani tiga perusahaan penerbangan. Apapi?

Bagaimana kalau begini. Karena Selayar telah ditetapkan sebagai salah satu Kawasan Ekonomi Khusus pariwisata, kita getarkan dengan tiga program unggulan?

Semacam gerakan kolaboratif multi pihak berbasis teknologi komunikasi dan sesuai spirit zaman?

Konkretnya, pertama. saya akan bangun sistem Digitalisasi Lokasi Wisata, yaitu menghubungkan titik potensial yang telah menggeliat seperti Jochen, Sunari Baloiyya, Pabbaddilang, Pulau Tinabo Taka Bonerate. Sifatnya sebagai ‘interconnected destinations’ yang saya bungkus dengan Peraturan Bupati atau Perda, sebagai Pilot Project yang akan sepenuhnya di-backup oleh SKPD dan investor?

Sebuah website keren dan dikelola profesional, dan satu kelompok kerja kepariwisataan akan saya SK-kan yang kerjanya hanya mengurusi destinasi dan memperkaya kontennya? Kerja-kerja online dan offline, melalui kampanye social media?

Yang kedua adalah saya akan rintis, “Selayar Tourism Volunteers”. Konkretnya, saya akan menyiapkan sukarelawan berbasis desa yang akan mempromosikan praktik kepariwisataan yang terpadu lingkungan, sosial ekonomi dan kebudayaan.

Di situ, saya membayangkan orang-orang yang ada di Selayar menjadikan diri dan keluarganya sebagai kelompok sadar wisata, dengan simbol dan tingkah laku.

Saya akan menyiapkan sumber daya anggaran dan fasilitas demi menjadikan Selayar sebagai ‘destinasi terdepan di Indonesia’.

Program-program SKPD yang selama ini overlapping dengan dana desa ada baiknya diplot saja untuk kepentingan konservasi, peningkatan kapasitas pengelola pariwisata dan kalau perlu menggenjot pendirian Marina itu.

Keren kan? Oh ya, masih ada yang ketiga.

Yang ketiga, saya akan banyak keluar negeri, ke Eropa, ke Amerika, ke Timur Tengah hingga ke Jepang untuk mempromosikan keunggulan dan kemudahan berinvestasi di Selayar. Saya sebut ini sebagai ‘Bridging the Gap, a great opportunity from Selayar to the world’.

Saya tidak perlu memboyong banyak pejabat keluar negeri tetapi anak-anak muda yang sudah teruji berjuang mempromosikan Selayar melalui social media dan kerja-kerja volunteers. Jika saya keluar negeri, saya tidak akan pulang sebelum ada transaksi investasi atau paket kunjungan dari Negara dimana saya datangi.

Ngurai?

 

Tamarunang, 03/09

 

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.