Prosesi dan Hakikat Cinta Rama dan Suci

“Biarkan cinta bergerak senantiasa, bagaikan air nan hidup. Yang lincah mengalir antara pantai kedua jiwa.” Kahlil Gibran.

***

Di bulan Mei nan riuh, seorang pemuda yang lahir dan besar di Pulau Maluku berikrar setia pada gadis memesona dari pesisir Arungkeke, Je’neponto. Jumat, tanggal 19 Mei 2017 menjadi latar akad nikah mereka, menjadi tapak sejarah pencarian tulang rusuk yang diikat sah dan disaksikan sanak saudara, handai taulan, kerabat dan para tetangga.

Inilah cerita tentang pilihan mulia sepasang anak manusia yang menyatukan hati dan tekadnya melalui ikatan pernikahan, sebagaimana perintah Rasulullah SAW. Brahma, acap disapa Rama atau Abang adalah putra dari ibu Maryam Pelu, dan ayah asal Makassar (Mangkasara’), berasal-usul Kampung Rappokaleleng, Bontonompo, Gowa. Farsuci atau Suci adalah putri Bapak Amri Mahadi, sosok terpandang di Tanah Karaeng Arungkeke, Je’neponto.

Sebelum saya menceritakan pengalaman diri menjadi bagian dan saksi pernikahan mereka, ada baiknya saya urai proses ideal pernikahan ala Suku Makassar sebagaimana yang dipilih oleh kedua pasangan tersebut.

Proses pernikahan ala Makassar/Mangkasara’

Berdasarkan pengalaman penulis, pelaksanaan pernikahan setidaknya melalui 3 tahapan utama yaitu, pra-pernikahan, pernikahan dan pasca nikah. Pada pra-pernikahan ada penjajakan (biasanya dilakukan oleh calon dan keluarga, ke keluarga perempuan), lalu appabattu kana (melamar), appakajarre’ yaitu menyepakati atau menyatukan opini untuk sedia melaksanakan pesta pernikahan.

Pada tahap tersebut sudah dibicarakan bentuk sunrang (mahar dari pria), doe’ balanja (uang belanja atau uang pesta) dan perlengkapan lainnya atau erang-erang (barang hantaran), appanai’ Leko/angngerang-erang (Membawa barang antaran), ada dua tahapannya, appanai’ leko’ ada dua prosesi.  Ada istilah appanai’ leko caddi dan adapula appanai’ leko’ lompo.

Pelaksanaan pernikahan meliputi appanai’ kale bunting, dimana pengantin pria diantar ke rumah pengantin perempuan (di sini, pada malam sebelumnya dilaksanakan Akkorongtigi atau Malam Pacar), appabattu nikka (‘Ijab qabul), nilekka’ atau mengantar pengantin perempuan ke rumah pengantin pria). Pada prosesi nilekka, pengantin perempuan diantar ke rumah pengantin pria dengan membawa pa’balasa atau  pa’matoang biasanya diserta barang hantaran ke pihak pengantin laki-laki.

Setelah acara pernikahan masih ada proses yang disebut Appa’bajikang, atau menyatukan tangan kedua mempelai dalam mengarungi mahligai rumah tangga sebagai sepasang baru.

Malam pacci atau akkorongtigi (foto: KA)

***

‘Bapak Intan saja yang bicara wakili keluarga ya?” ucap Iptu Baharuddin Rate saat kami bertemu di pertengahan April. Dia mengabarkan kalau kami akan ke Desa Arungkeke, Kabupaten Je’neponto untuk acara ‘Angngerang Leko’. Saya siap saja meski kemudian urung karena saya lupa bawa kopiah dan tak berjas. Yang berbicara mewakil keluarga calon pengantin pria adalah om Yuyu alias Bapak Rate begitu saya memanggilnya.

Saya ikut mengantar ketika proses ‘Angngerang Leko’ ke keluarga perempuan. Pada proses ini dibahas rencana hari H pernikahan, termasuk waktu kedatangan. Saat itu, disepakati tanggal 19 Mei 2017 atau hari Jum’at sebagai hari pelaksanaan akad nikah. Termasuk di dalamnya waktu yang disepakati untuk keluarga pengantin pria datang ke Arungkeke, Kabupaten Je’neponto serta perkiraan pelaksanaan ijab kabul.  Jarak dari rumah Brahma Kasim di Bukit Tamarunang, Gowa ke rumah kediaman calon pengantin perempuan sekira 2,5 jam.

Pada tanggal 19 Mei 2017, saya betul-betul merasakan sensasi tentang tahapan, makna dan proses kebatinan sebuah  pernikahan. Meski saya telah merasakannya tahun 1998 ketika menjadi pengantin, baru kali ini benar-benar merasakan sensasi setelah memperhatikan orang-orang, pelaku, bagian dari proses bernama perkawinan itu.

Maryam, Rama dan Om Yuyu (foto: KA)

Tanggal 19 Mei 2017 adalah hari akad nikah Rama, sepupu dari istri saya Sumarni G. Ningsih. Ayah dari Rama saudara dengan ibu mertua saya. Saya beruntung bisa menjadi bagian dari persiapan dan pelaksanaan pernikahan mereka. Tentang pernikahan mereka saya terkenang ketika pada tanggal 14 Mei 1998 kala datang ke rumah istri di Kakatua Makassar dari Galesong dan karena saat itu sedang demo hebat di Makassar, ada demonstran sempat berseloroh, ‘Sempat-sempatnya nikah padahal sedang krisis.”

Yang ingin saya ceritakan di sini adalah bagaimana sebuah pernikahan telah menggerakkan dan menggetarkan suasana kebatinan segenap anggota keluarga. Bagaimana proses pernikahan telah membuat orang-orang menjadi haru, empati dan takjub. Bagaimana upaya pengalokasian sumber daya untuk ihtiar mulia bernama pernikahan. Perhatian orang-orang, sarana prasarana dan tenaga.

Bat dan istri di malam korongtigi (foto: KA)

***

Saya membaca arti penting pernikahan sanak keluarga dari kesungguhan perjalanan keluarga Rama dari Maluku. Adalah Bat, saya memanggilnya begitu, adalah adik dari ibu Rama, yang telah tiba di Tamarunang, di rumah kami, bersama istri dan seorang anaknya. Bat adalah pegawai pada Dinas Pekerjaan Umum di Kabupaten Sula, Provinsi Maluku Utara. Saya mengenalnya sekira awal tahun 2000 ketika ia masih kuliah di Makassar.

“Saya datang ke Ambon dari Sula naik kapal malam,  kami berangkat bersama dari Ambon,” kata Bat saat saya tanya rute perjalanannya. Bersama Bat ada 5 keluarga lainnya, sanak saudara Pelu. Dari Ambon mereka naik pesawat ke Makassar.

Angngerang Bunting (foto: KA)

Layaknya perhelatan pernikahan ala Suku Makassar, ada satu bagian yang juga dianggap penting yaitu ‘Malam Pacar’ atau ‘Malam Korongtigi’, kerap disebut ‘Malam Mappacci’. Pada malam sebelum pengantin pria berangkat ke calon pengantin perempuan di Je’neponto, dilakukan proses ini yang dibarengi dengan barzanji dan pembacaan kitab-kitab. Ada pemimpin barzanji, anggota termasuk anak-anak. Disiapkan pisang dan kaddo’ minynya’ atau nasi berwarna kuning plus telur. Ada pula nasi hitam atau songkolo dalam bahasa Makassar. Para tetua menyebutnya sebagai simbiol kesejahteraan, semacam harapan kiranya sepasang pengantin tersebut, kelak, akan makmur sejahtera.

Suasana Malam Pacar berlangsung hikmat ketika satu persatu sanak saudara dan tetamu yang datang meletakkan korongtigi di telapak tangan calon pengantin pria. Di ingatan saya malam itu, ada yang datang dari Jalan Kakatua Makassar, Palopo, Biringkanaya, Antang, Pallangga, Ambon hingga Sula, termasuk Om Bat itu. Bukan hanya orang dewasa, anak-anak belia dan jelang remaja pun ikut memberi korongtigi diserta canda tawa.

Sambutan luar biasa di Arungkeke (foto: KA)
Disambut a’ngaru yang istimewa (foto: KA)

Keeesokan harinya atau sekitar pukul 07.00 Wita, terhitung 8 mobil bergerak beriringan dari Bukti Tamarunang, rumah Brahma Kasim, menuju Je’neponto. Saya, bersama istri bergabung dengan Ibu Ayu Makmur dan anaknya Winda. Ibu Ayulah yang mengemudikan mobil, kami berdua di belakang.  Selain Ayu dan anaknya yang datang dari Pallangga, di rombongan itu ada pengantar datang dari Salodong Biringkanaya, Jalan Kakatua II Makassar, keluarga dari Gowa, Ambon dan Sula.

Saya menikmat perjalanan ini. Menyaksikan hamparan tambak garam, pohon-pohon aren di sisi kiri-kanan jalan, hamparan persawahan serta lansekap Je’neponto yang sedang tranisisi dari musim barat ke timur. sesekali saya membuka kaca mobil dan menjepret panorama. Jalan ke rumah pengantin perempuan terbilang elok sebab beberapa saat sebelum masuk ke kawasan permukiman terlihat puncak Gunung Bulusaraung bertudung awan raksasa.

Kami tiba di Arungkeke dan mulai mengatur rombongan. Ada wahana yang dimaksudkan sebagai ‘kendaraan’ pengantin pria. Seperti hendak ditandu. Proses penyambutan di kediaman pengantin perempuan sungguh luar biasa. Keluarga Farsuci adalah keluarga disegani di Desa Arungkeke, salah satu wilayah strategis untuk Je’neponto.

Pada pagi jelang siang itu, pengantin pria naik ke wahana dan ditandu ke gerbang rumah pengantin perempuan. Keluarga pengantar berjalan beriringan bersama barang bawaan, pertanda ikatan.  Suasana haru terllihat ketika ibu pengantin pria terlihat terisak dan sesekali menghapus air matanya.

Keluarga om Yuyu di Je’neponto (foto: KA)
Suasana di Adi Jaya, Gowa (foto: KA)

Tidak kurang lima puluh orang yang mengantar pengantin pria pagi jelang siang itu. Sekali lagi saya dimandat oleh om Yuyu untuk meraih mikrofon dan menyampaikan sepatah dua kata sambutan sebagai tamu yang datang. Tak lama. Lalu setelah itu, saya menyaksikan prosesi jelang pernikahan yang didahului oleh A’ngaru yaitu proses ketika seorang pria memberikan penyataan tunduk dan patuh pada perintah tamu yang datang, dalam hal ini calon pengantin pria.

Di ingatan saya, a’ngaru terakhir yang saya lihat adalah kala masih kanak-kanak di Galesong ketika perayaan tammu taung Karaeng Galesong. Pada a’ngaru itu, ada badik terhunus sebagai penanda kesetiaan dan kesungguhan untuk memberikan pelayanan terbaik pada tuannya.

Setelah itu, dilanjutkan dengan prosesi Pamanca’, yaitu sajian silat oleh dua orang pria muda persis di depan calon pengantin pria. Pengantin lalu berjalan ke arah pintu rumah mempelai wanita dan dipandu oleh keluarga perempuan, seorang pria menyambut dengan untaian kata kalimat dalam bahasa Makaasar yang berisi penghormatan, sambutan penerimaan dan pesan-pesan kebaikan untuk mempelai.

Tibalah kemudian ketika pengantin pria diarahkan untuk duduk di atas serupa ranjang yang telah dihias dan disiapkan sebagai wahana ijab qabul. Di dekatnya telah disiapkan empat kursi berhadapan. Pengantin pria duduk menghadap ke timur dan Imam yang akan menikahkan menghadap ke barat.  Brahma lancar membaca Alfatihah serta tiga surah pendek lainnya untuk memastikan bahwa dia melek Aquran.

Sambutan tarian di Gowa (foto: KA)
Keluarga Suci yang mengantar ke Gowa (foto: KA)

Saya saat itu oleh om Baharuddin diminta menjadi saksi dan membubuhkan tanda tangan. Saya duduk di sebelah kiri sang Imam.  Brahma terlihat lancar dan mantap saat diminta mengulang akad. Hanya sekali dia ulangi untuk menegaskan pesan akadnya. Suasana skaral pernikahan sangat terasa di sini ketika keluarga pihak pria dan perempuan menyungging senyum pertanda akad nikah telah diucapkan dan diterima kedua belah pihak.

“Saya terima nikahnya, Farsuci Amri binti Amri…seperangkat alat shalat dan sebidang datang,” kurang lebih kalimat itu yang meluncur dari mulut Rama.

Setelah akad nikah, saya kemudian menuntun Brahma ke kamar yang disebut sebagai tempat pengantin perempuan menunggu suami yang baru saja mengucapkan ikrar itu. Tak mudah untuk masuk ke dalam sebab seorang perempuan paruh baya menahan kami masuk dan ingin melihat pengantin pria duluan. Brahma kemudian masuk, menyusul saya setelah memberikan pernyataan bahwa Brahma telah akad dan siap menemui wanita pujaan hatinya.

Ada keharuan saat melihat Brahma dan Farsuci bersitatap. Keduanya terlihat serasi dan pantas berjodoh. Setelah saling memasang cincin tanda ikatan, keduanya larut dalam tatapan mata, dalam bahasa cinta yang hanya mereka berdua yang tahu, telapak tangan keduanya bertemu, pernikahan ini telah mempertemukan dua hati. Dari Maluku ke Je’neponto, itu kalau boleh menyebutnya demikian.

Para pembaca…

Pernikahan memang selalu begitu, ada banyak orang yang bersukacita, mereka datang dari berbagai kalangan, kelas, latar belakang dan asal usul atas nama keluarga, atas nama solidaritas. Harapan mereka bisa dikatakan bermuara pada berjalannya pernikahan yang memang dikehendaki oleh kedua pasangan. Tentu saja agar berjalan lancar dan diberkahi oleh Allah SWT.

Kembali ke prosesi itu.

Saat pengantin pria dan perempuan telah duduk di pelaminan dan disertai foto-foto para pengantar dan keluarga dari kedua belah pihak, satu persatu pengantar menyampaikan terima kasih dan pamit pada keluarga besar pengantin perempuan. Saya pindah mobil dan pulang ke Bukit Tamarunang bersama istri, ipar perempuan, dan sepupu istri saya dan suaminya plus dua orang ponakan. Karena hari Jumat, kami kemudian Jumatan setelah lepas Kota Bontosunggu, Je’neponto.

Alhamdulillah, proses pernikahan lancar dan kami kembali ke Gowa dengan nyaman dan penuh suka cita.

Anak-anak yang bersuka-cita (foto: KA)

***

Tanggal 20 Mei 2017, giliran pengantin perempuan dan pria yang datang bersamaan dari Je’neponto ke Gowa. Keduanya diantar puluhan keluarga perempuan dan langsung merapat di Gedung Adi Jaya di Jalan Tumanurung, Kota Sungguminasa, Gowa pada waktu sekitar pukul 12.00 Wita. Kali ini yang menyambut adalah gadis-gadis penari Tari Paddupa, tarian sambutan untuk tamu-tamu terhormat yang disiapkan khusus untuk perjamuan kedua ini.

Suasana di Gedung Adi Jaya terasa meriah, meski tak terlalu luas namun adanya penempatan tiga titik untuk kursi dan meja jamuan sehingga bisa berjalan lancar.  Saat tetamu menikmati sajian, musik elekton pengiring ikut menambah suasana suka cita apalagi penyanyinya terlihat aktraktif.

Tetamu dari Tamarunang (foto: KA)
Tetamu luar biasa siang itu (foto: KA)

Bagi saya, acara ini terbilang istimewa, selain jumlah pengantar pengantin dari Jeneponto relatif banyak juga karena banyaknya tetamu yang datang. Selain dari Gowa dan Makassar, tamu-tamu dari keluarga di Galesong juga datang, keluarga dari Tindang, Bontonompo Selatan, Rappokaleleng, termasuk Haji Hamid dari Galesong Utara yang pernah beberapa kali datang ke Pulau Seram dan akrab dengan om Yuyu. Ada pula dari Nusa Tamarunang serta sahabat-sahabat istri saya yang bahkan ikut meramaikan dengan 1-2-3 lagu menarik.

Jika ada yang menyita perhatian siang itu, maka itu adalah anak-anak belia yang bersuka cita di dekat sepasang pengantin. Para kanak-kanak itu terlihat kagum pada sepasang yang tak henti-henti menyungging senyum, senyum kebahagian sebagai sepasang baru di bahtera bernama pernikahan.

Selamat berbahagia Rama dan Suci, semohga sakinah, mawaddah wa rahmah!

Tamarunang, 23/05/2017

Advertisements

Sabtu Tragis, Ujian untuk Pemain Bolaku

Donnie di ruang rawat RS Kallongtala (Foto: Kamaruddin Azis)
Sabtu, 15 Oktober 2011. Pagi yang tidak seperti biasanya. Saya terlalu malas untuk bergegas ke kamar mandi. Anak kedua saya, Khalid “Donnie” Adam telah selesai mandi. Pagi itu sebagaimana biasa dia mesti bersiap ke Lapangan Bola AURI di Panaikang.

Kaki saya masih berat untuk diayun. Hingga ibunya ambil keputusan, dia yang mengantar si tengah ke lokasi latihan SSB Bagantara. Sudah sebulan lebih dia latihan di tempat ini bersama pelatih berkebangsaan Chile, namanya Simon Correa.

“Saya bangga sekali saat salah seorang orang tua dari peserta SSB mengatakan, anak itu bagus sekali mainnya. Dia bilang, anak itu sangat gesit merebut bola dari lawannya” kata istri saya via bbm.

“Itu anak saya” kata istri dengan bangga. Di rumah saya pun menimpalinya dengan senyum.

Pukul 10.30, Donnie telah sampai di rumah. Mukanya memerah karena sengatan matahari pagi. Tapi baginya itu sudah biasa. Tidak lama berselang dia mandi dan dalam beberapa menit dia telah siap dengan pakaian pramukanya. Khas anak SD pada hari Sabtu. Saya masih leyeh-leyeh di tempat tidur.

“Sikat gigiji?” tanyaku.

Dia mengangguk. Walau telah berpakaian sekolah, saya masih melihatnya berbaring di sisi tempat tidur. Ibunya pamit ke rumah temannya, di Tanjung Bunga. Waktu, masih pukul 10.40 wita.

“Ngantuk nak?” kataku peduli.

Tiba-tiba saya bilang, kalau ngantuk tidak usah ke sekolah. Saya seperti tidak sadar dan melupakan sekolahnya. Saya memang bangga melihatnya rajin latihan bola. Tapi anak ini bergeming. Dia mengaku kuat dan siap ke sekolah.

“Tidakji” katanya tegas lalu berdiri menuju pintu rumah. Setelah menunggu sekitar 15 menit, Pak Said tetangga kami yang menjadi langganan ojeknya telah ada di depan rumah.

“Pitttt” bunyi klaksonnya. Donnie bergegas, sayup-sayup dia pamit. Tidak menyalami saya. Sekitar pukul 11.30 Donnie dan pak Said telah menjauh dari rumah kami di Tamarunang.

Saya bergeser ke kamar mandi. Karena hendak tidur siang saya harus bebersih badan. Hanya ada saya dan si bungsu Sofia (5 tahun) di rumah. Bersama si bungsu, Saya mencoba tidur. Tapi saya urung ke ruang mimpi. Saya tidak tenang walau semalam saya kurang tidur. Mestinya inilah kesempatan saya terlelap.

Dalam gelisah menuju kesempatan tidur itu tiba-tiba telepon rumah berbunyi. Saya tidak serta merta mengangkatnya. Mungkin deringan ketiga akan mati sendiri. Tapi tidak, telepon terus berdering hingga saya ke ruang tengah.
Dan…

“Bapaknya Donnie?” Kata beberapa anak kecil seperti berebutan hendak mengabarkan sesuatu.

“Iye, iye” kataku tidak tenang. Saya mulai khawatir.

“Kenapai?” Sambungku seperti tidak memberi jeda. Tangan saya gemetar. Pikiran saya melayang.

“Donnie om, Donnie kecelakaan, Donnie diserempet mobil” terang si anak-anak. Mereka teman kelas Khalid Adam. Saya limbung. Tidak bisa berkata apa-apa. Anakku, anakku…

“Kecelakaan bersama pak Said?” batinku.

Setelah suara anak itu di seberang, seorang ibu yang mengaku guru kelas Donnie, menyambung anak-anak itu. Saya menduga anak saya kecelakaan karena dibonceng pak Said. Masih belum lama dia tinggalkan rumah.

Tapi tidak, Donnie telah sampai ke sekeloh. Dia diserempet mobil saat hendak menyeberang jalan.

“Bapak ayahnya Donnie? Kecelakaanki anakta. Sudah dibawa ke rumah sakit Kallongtala. Bapak bisa datang dulu ke sekolah atau ke rumah sakit” kata si ibu guru, yang kemudian mengaku bernama Ibu Andi. Ada sedikit kesan tenang dari kabar si ibu guru.

Saya mematung, mengucap istighfar. Anakku…anakku…

Saya bergegas ganti baju, ganti celana dan bergegas ke rumah pak Said. Pak Said menawarkan motornya. Saya tidak tenang di atas motor. Lalu mengarah ke sekolah SD Bontokamase. Ibu Andi yang saya temui menyodorkan tas Donnie. Dia menyimpannya.

“Ke rumah sakitmaki'” kata ibu guru. Menurutnya, beberapa orang telah mengantar Donnie ke rumah sakit. Mata saya berkaca-kaca saat mengarahkan motor ke rumah sakit.

Anakku, anakku…, seraya membayangkan risiko terseret mobil.

Ini, kali pertama saya ke rumah sakit itu, dan saat sampai di ruang darurat, salah seorang penjaga mengarahkan saya ke ruang perawatan.

Dan, ya Allah, anakku berbaring dengan penuh luka, di kedua lengan, kaki dan pahanya. Celana pramukanya robek, di bekas robekan itu terlihat luka lecet yang sangat dalam. Telapak tangan kirinya menyentuh keningnya. Kaki kanannya terbujur, di sekujur betis hingga paha, luka lecet dengan darah yang mulai mengering. Saya khawatir dada dan tulangnya.

Di momen itu, istri saya menelpon, dan saya tidak bisa menjawab pertanyaannya. Saya membisu.

Di dalam ruangan, saya melihat tiga orang dewasa. Satu ibu berkawat gigi, seorang berpakaian Satpam dan seorang lelaki muda, bermata sipit dengan kulit gelap, inilah yang menabrak anak saya.

Dia menyapa dan minta maaf. Anak muda. Si ibu adalah pemilik mobil yang dikemudikan si anak muda. Mobil Kijang open-kap, pengangkut kayu.

Mereka inilah yang cerita kalau Donnie diserempet dan terseret mobil saat hendak menyeberang jalan. Donnie berempat, Donnie paling depan, dan hanya dia yang kecelakaan.

Tapi mataku tetap di anak saya. Matanya berkaca. Ada harapan, dia terlihat kuat dan tegar. Saya menciumnya, keningnya, pipinya. Memeluknya.

“Tidak apa-apaji nak? Kaki? Bisaji berdiri? Kepala? Dada? Tulang?” Kataku dengan was-was. Mataku berkaca-kaca. Donnie melihat saya dengan matanya yang berbicara, seperti mau bilang, saya tidak apa-apa.

“Masih bisa main bola nak?” Kataku spontan dan menggelitik senyumnya.

“Iyye!” Jawabnya pelan, seraya mengangguk. Matanya berkaca-kaca. Saya menangis, menciumi keningnya. Memeluknya erat.

Sebulan lalu, saya sempat mengingatkannya untuk tidak keluar sekolah, ke jalan raya, sebab terlalu banyak kendaraan lalu lalang di sekitar lampu merah arah Malino – Makassar. Hingga Sabtu, tanggal 15 Oktober 2011, cerita menjadi berbeda, tragis, anak saya terseret mobil.

Ya, Allah semoga anak saya hanya luka lecet…

Latihan Perdana di SSB Bagantara

Khalid "Donnie" Adam bersama teman latihannya

Walau telah bermunculan sekolah sepakbola di Makassar dan Sungguminasa namun Khalid Adam, anak saya yang berumur 9 tahun mesti menunggu setahun untuk mewujudkan cita-citanya. Ia ingin masuk sekolah sepakbola sejak lama. Keinginannya itu terwujud setelah saya mendaftarkannya untuk bergabung dengan “Bagantara Football Academy (BFA)” yang berbasis di Jalan Pengayoman, Makassar.

Salah satu pertimbangan ketertarikannya adalah hadirnya pelatih asal Chile yang bernama Simon Ellestche Correa. Simon, 38 tahun adalah mantan asisten pelatih di klub sepakbola Kendari Utama, Sulawesi Tenggara dan telah mengeyam pendidikan kepelatihanan bersertifikat di Argentina dan Amerika Serikat.

Saya menemuinya saat sedang memandu belasan anak muridnya di lapangan sepakbola Kompleks AURI, di Panaikang, Makassar. Salah satunya anak saya. Ini latihan pertamanya.

“Hingga kini telah terdaftar 40an murid” kata Ir. Muhammad Ikhsan Kudus, salah satu owner sekolah sepakbola ini bersama Muhajir , SE seusai mendampingi latihan anak muridnya (Jumat, 9 September 2011).

Sebelumnya, beberapa anak sedang berlatih mengumpan bola, mengontrol bola dan melaksanakan dua kali “game”. Walau terlihat kelelahan dan wajah bercucuran keringan, mereka sangat menikmati latihan sore itu.

“Anak saya sebenarnya suka main bola namun selama ini lebih banyak menghabiskan waktunya di depan komputer.  Sesekai main bola bersama teman-temannya. Lapangannya sempit. Dengan adanya SSB ini anak saya bisa lebih menikmati latihannya” Kata Surya salah seorang orang tua siswa yang tinggal di Panukakang saat mendampingi anaknya.

“Sepakbola adalah kedisiplinan dan kerjasama. Saya ingin anak-anak ini bahagia dan enjoy dengan sepakbola. Itu yang penting” tandas Simon yang sangat fasih berbahasa Indonesia ini seusai menemani beberapa murid berfoto bareng.

Senjata Om Gun

Antara tahun 2001-2003, anak lelaki ini hanya berteman gitar. Dia bukan tipe yang sibuk atau suka cari perhatian sebagaimana anak baru gede. Setiap sore, dia habiskan waktu di teras rumahnya saja: main gitar. Kakaknya yang perempuan, nyaris tak pernah berlama-lama di luar rumah kecuali jika diundang belajar kelompok. “Anak rumahan,” kata anak muda saat ini.

Yang ketiga, hanyalah anak SMP yang sekilas tidak terlalu istimewa, biasa saja. Sementara yang sulung, masih belum genap lima tahun. Anak-anak itu, utamanya si sulung sangat manja pada ayahnya. Mereka sangat kompak. Di rumah itu, mereka ada enam orang. Rumahnya ada di sebelah timur Kota Benteng, Selayar. Rumah yang sederhana. read more

Rindu Pepe' Pepe' Rumallang

Nun jauh dahulu, pada kampung-kampung penuh gairah  dan kecintaan yang dalam pada bulan penuh berkah dan maghfirah.  Pada saat kabel perusahaan listrik negara belum mengangkangi rumah-rumah panggung warga, pada saat mesin genset semahal pesawat terbang. Pada saat anak-anak dan orang tua hidup atas karunia alam kampung. Saat mereka berkreasi atas apa yang mereka punyai.

Saat itu, masih pagi sekali. Belasan anak-anak telah berkumpul di sekitar pepohonan punaga (bahasa Makassar). Mereka mencari buahnya, biasa disebut pude, yang jatuh berserakan dari pohon. Sekilas pohon punaga terlihat seperti pohon nangka, dengan daun nyaris serupa, licin. Batangnya keras. Biasa dijumpai berdiri kokoh di sekitar pohon mangga atau buah jambu putih, tidak jauh dari anak-anak sungai. read more

Speedy, Memilih Naik Kelas Ke Socialia

(gambar dari www.telkomspeedy.com)

Hari ini, Jumat 27 Agustus 2010, jalan raya tidak terlalu padat saat saya mengarah ke Kantor Telkom Pettarani, Makassar, tepatnya Plasa Telkom. Ini kali pertama masuk ke kantor yang telah belasan tahun berdiri ini. Sesuai dengan hasil pembicaraan saya dengan ibu Mety, seseorang yang namanya tertulis di lembaran promo Speedy, saya mesti melapor ke tempat mereka. Tiga orang “resepsionis”, siap melayani para klien. Waktu telah berada di jarum jam 09.30 menit. Saya dapat nomor antrian 16. Saya tertegun dengan interior dalam ruangan yang sangat mewah dan lebar. read more