Kampus Sana, Kampus Sini

Suasana Universitas Cambridge (foto: unimira.ru)

Didirikan pada 1209, University of Cambridge memiliki sejarah yang panjang. Beberapa alumninya sungguhlah top, tersebutlah Sir Isaac Newton, fisikawan Inggris yang menemukan gravitasi, aktor Ian McKellen, matematikawan Stephen Hawking, aktris Emma Thompson dan redaktur surat kabar Arianna Huffington.

Universitas Cambridge memperoleh penilaian terbaik dalam empat kategori; pada penelitian, inovasi, pengajaran dan spesialisasi keilmuan. Universitas ini merupakan yang terbaik keempat di dunia atau terbaik pertama di Eropa serta masuk ke dalam posisi kelima terbaik berdasarkan potensi penerimaan alumni S2.

Penilaiannya adalah keseluruhan skor yang mencapai 95.6%, reputasi akademik 100%, sitasi per fakultas 78.3%, reputasi alumni yang terserap lapangan pekerjaan 100%, mahasiswa fakultasi 100%, fakultas internasional 97.4% dan mahasiswa internasional 97.7%.

Sementara itu, kampus ilmu Kebumian dan Ilmu Kelautan, ETH Zurich atau Swiss Federal Institute of Technology di Swiss, adalah kampus yang disebut terbaik di dunia pada urusan ilmu kebumian dan kelautan, disusul Harvard University (AS).

Peringkat berikutnya adalah University of California, Berkeley (UCB), University of Oxfaord (Inggris), Massachusetts Institute of Technology (MIT), University of Cambridge (Inggris), California Insttitute of Technology (Caltech) lalu Standford University.

Terbaik di Asia adalah Universitas Nanyang Technological University, Singapore (NTU), disusul National University of Singapore (NUS), Tsinghua Univesity di China, the University of Hong Kong, the University of Tokyo.

Ada apa di kampus sana?

Menarik untuk melihat alasan mengapa ETH Zurich disebut sebagai yang terbaik di urusan ilmu kebumian dan kelautan menurut QS World University Rankings.

Beberapa yang menjadi indikator adalah, kebebasan akademiknya, tanggung jawab, semangat kewirausahaan, dan keterbukaan terhadap dunia – nilai-nilai.

Kampus ini telah menjadi barometer keilmuan sejak tahun 1855 dan menjadi pusat pengetahuan dan inovasi. Berada di jantung Eropa, kampus ini telah menempatkan dirinya sebagai pelopor solusi yang efektif dalam menghadapi tantangan global yang dihadapi umat manusia.

Saat ini, kampus tersebut mempunyai 500 profesor, ada 20.000 siswa yang berasal dari 120 negara. Merupakan kawah candradimuka para peneliti atau ilmuwan yang bereputasi dunia.

Wajar ketika kampus ini berhasil menempatkan alumninya sebanyak 21 peraih Nobel, di antaranya Albert Einstein. Kampus ini menggunakan Bahasa Jerman untuk bidang S1 dan Bahasa Inggris untuk S2. Biaya kuliah persemester sekitar US $ 600).

Kampus lainnya yang bisa menjadi barometer untuk Eropa adalah Universitas Oxford di Inggris. Berada di peringkat 5 dengan raihan maksimun karena kualitas penelitian yang digelutinya, dedikasi dalam pengajaran serta inovasi dalam menawarkan kebaruan dan manfaat bagi dunia.

Kampus lainnya adalah Universitas Harvard. Adalah institusi pendidikan tinggi tertua di Amerika dan universitas terbaik ketiga di dunia menurut QS World University Rankings terbaru dan menempati urutan pertama di antara dua ilmu prestisius; Biologi atau Kedokteran, Ilmu Sosial atau Manajemen. Universitas ini juga termasuk di antara tiga universitas teratas di dunia menurut bidang studi QS berikut ini: Seni dan Humaniora, Ilmu Pengetahuan Alam.

Sosok seperti Mark Zuckerberg, Bill gates, hingga Barak Obama merupakan jaminan kampus ini merupakan yang terbaik.

Di kampus-kampus tersebut, dahaga pada Ilmu Kebumian dan Kelautan dapat dijawab dengan mengikuti kuliah-kuliah terkait evolusi kehidupan, planet, penyebab gempa bumi dan letusan gunung berapi, fenomena samudra dan atmosfer, hingga beragam proses alamiah di atas muka bumi, darat dan lautan.

Khusus untuk ilmu kelautan, bidang-bidang cabang yang bisa dipelajari seperti fenomena laut, dan bagaimana mengelola sumber daya kelautan agar dapat dimanfaatkan secara bertanggungjawan serta ramah lingkungan.

Ilmu Kebumian dan Kelautan menekankan pada telaah isu lingkungan. Pada aspek bagaimana sumber daya di bumi atau lautan dapat digunakan dengan arif di tengah tekanan. Bagaimana cara terbaik untuk mempertahankannya, memahami perubahan atmosfir dan pengaruhnya terhadap kehidupan di bumi, atau bagaimana aktivitas manusia dapat meningkatkan kemungkinan terjadinya bencana alam.

Kampus ini didukung oleh dosen bereputasi internasional yang diterima karena kompetensi dan kompetisi yang ketat, mahasiswa yang masukpun adalah yang memiliki nilai bagus dalam bidang matematika, kimia atau fisika bukan mahasiswa karbitan atau ‘diterima karena hanya mereka yang mendaftar’.

Di dalam, para mahasiswa harus menunjukkan ketertarikan pada sumber daya alam, pada ilmu pengetahuan bumi dan kelautan dan menunjukkan kesungguhan untuk menghidupkan ‘proses ideasi’ yang cerdas, bermoral dan tak takut bicara kebenaran.

Itu adalah cerita kampus-kampus di luar negeri sana.

Tentang kampus sini

Untuk yang di sini, apakah sudah seperti itu prestasinya? Atau paling tidak mempunyai kelengkapan proses belajar mengajar yang memberdayakan mahasiswa? Tidak mengerangkeng dengan regulasi berlapis, apalagi mendakwa dengan segala macam label pemberontak atau kriminal? Semoga tidak.

Jika boleh usul, kampus sini, harusnya lebih getol dalam mendorong mahasiswa untuk menghabiskan waktu dalam membaca subjek pengetahuan secara independen, mengkombinasikan edu-trip, melakukan ekspedisi atau bahkan mendorong untuk bisa bekerja sebagai pemagang atau sukarelawan di lembaga-lembaga kredibel.

Kampus sini harus lebih banyak mengkondisikan mahasiswa untuk fokus pada urusan laboratorium dan lapangan.  Bersiaplah untuk membuat tangan kotor dan benam dalam urusan penelitian lapangan, di gunung, di pedalaman, di pulau dan di palung-palung ilmu. Bagaimana menelaah gejala dan menemukan solusi.

Mahasiwa sini harus juga mampu membuktikan bahwa mereka semakin membaik dalam urusan menulis esai, melaksanakan proyek penelitian dengan jujur, melakukan presentasi lisan maupun ujian praktik yang membanggakan, bukan menjiplak seperti yang banyak dilakukan oleh mahasiswa-mahasiswa di Negeri Antah Berantah.

Kampus sini harus sungguh-sungguh membentuk kompetensi mahasiswanya, bukan kompetensi dosen belaka yang tidak jelas mau di kemanakan kompetensi itu. Mereka harus mendorong mahasiswanya untuk dapat melaksanakan tugas dengan bertanggung jawab, atau mencari tahu apa yang bisa dicapai. Lalu ‘bagaimana’, bagaimana pekerjaan yang akan dikerjakan setelah selesai kuliah.

Bagaimana kampus sini, menjadikan mahasiswanya atau luarannya ‘berbeda’ dalam area kompetensi yang bisa saja disandingkan dengan lulusan lain.

Kampus-kampus sana dikenal selalu menunjukkan tingkat kemahiran yang berbeda dan inovatif, kampus sini harusnya begitu juga.

Kampus-kampus yang disebutkan di atas, baik di sana dan di sini, seharusnya bermuara pada kualitas kompetensi alumni.

Pada bagaimana mengartikulasikan pengetahuan, keterampilan, kemampuan dan perilaku yang penting untuk kesuksesan ketika menjadi alumni. Dan yang pasti mampu mengkreasikan dan memanfaatkan peluang. Kalau tidak, mereka hanya akan jadi pengangguran intelektual.

Kampus-kampus sana dan sini, akan menjadi keren jika sungguh-sungguh pada empat tingkat kemahiran; pada pengetahuan dasar, kemampuan bekerja, keluasan pengetahuan, dan kemampuan memimpin dimana pun dia berada, dia punya leadership yang bisa mengakselerasi pencapaian visi kehidupan, di manapun dia berada.

Bagaimana penjabarannya, orang-orang di kampus sini mungkin sudah tahu.

Dia hanya perlu untuk keluar dari rutinitas yang sesungguhnya sangat membosankan itu.

Rawajati, 16/02

 

Advertisements

How To Evaluate "Facilitator Capability"

Facilitator capability evaluation can be prepared by “self assessment” and by local communities. Both are highly recommended although in practice is very difficult to do so. Even an experienced project consultants are often confused when asked how to begin the evaluation process.

One effort is to obtain a process within the society itself. Of course with communication techniques based on what is presented or seen, felt and smelled at that time. In the evaluation it is usually disclosed the impacts of facilitation by facilitators who came to the village. Say, what appears in the village from the beginning of facilitation. Then, what impact in the emergence process.

For the latter, we often call it the “turning point” of facilitation. Perhaps also, first, local people will say “Before facilitator coming we slept”. Where and when they wake up?. So the “turning point” is the first, from sleep to awake.

Second, perhaps in the village there are some issues such as flooding, savings and credit activities etc, and it cannot be solved by the community but need policy of local government, the “turning point” is how the stakeholders to find out the solution. For facilitators who have a record of the agenda and time line facilitation would be very easy to detect at which point, there is interaction and joint action.

For facilitators who actually carry out its duties and functions, may be very easy if you use input or the input of society by looking at the “turning point” activities that arise. Although in fact, there is also a good case but just a nice coincidence, or “good luck”.

The simplest thing is to try to review the evaluation process by building a few factual questions or real. No need of complex or hard to see what inputs and their impact but ask people who tell stories. This technique is once again depending on who the interviewer, if they can understand or not?

Facilitators and Their Failures

Lots of programs or international projects scheme has been implemented during the last two decades but seemingly in-effective or no significant impacts recorded. Problems found during the implementation, which is more complex than ever. The involvement of NGO facilitators in project has not been successful. This situation cannot be separated from the perspective and the capacity of NGOs, donor and government staff itself.

NGO for example, as a “space filler” between community organizations and government, their capacity apparently is a key factor to test how capable they are in mediating the situation in the community when dealing with outsiders.

If the example of “village” as an arena or battle field of ideas of development, many examples from the field prove that often face a complex situation coming from both villager or from outsider.

For example; perhaps there are those among us (on behalf of the provincial department of education unit) if come to the village will ask, “what is the main problems in the village.” Because the visitors dress uniform from Education Office, villagers will certainly say “no school or no teachers.”

And, when someone comes and asking, -say the forestry official uniform-.”What is the main problems  of this village?” Of course with spontaneous community (which could be the same person in the first case, would say, “We need seed or pine trees”, for example.

Staff or the community facilitators cannot dismiss an answer like this because community has been accustomed the problem and asked “what do you need?” “What exactly this village needs.”

How do I avoid if there is such a thing? To avoid this, let say, what is the best question or fit? It is clear that the outlook and good communication techniques of facilitators from NGOs or frontline staff need to be a common concern.

A friend who had some experience with the villagers might be very easy to approach and to develop the ideas.  As usual, when you come to the village and meeting with them, just introduce and ask with a fine, polite and appropriate.

Start with a very short question, “what are you doing, what is this”. If you see they are gardening ask the names of plants and how much came from each type of plant, and so on. Maybe after that will come the others and they all happy to explain and as facilitators we just need to develop questions than explain.

If citizens are asked whether “problem” of course they will solid in answering, “yes that is my problem”.  So please don’t ask them about their problem!