Arsip Denun: Pallae dan Denyut di Sempadan Cenrana

Amdo Sakka (dok: Denun)

Berkunjung ke Kabupaten Bone, Provinsi Sulawesi Selatan selalu menyenangkan. Sejak beberapa tahun terakhir saya telah belasan kali berkunjung ke tanah kelahiran Jusuf Kalla ini. Tanah kelahiran pahlawan pembebasan yang dikagumi rakyat Bone, La Tenritatta Arung Palakka dan juga Jenderal panutan M. Joesoef. Continue reading

Advertisements

Stok Ikan, Tren Pemanfaatan dan Produksi Negara

Ikan untuk kesejahteraan

Pembangunan yang direncanakan harus bertumpu pada data dan informasi faktual. Merujuk pada hasil analisis gap dan arah perubahan yang diinginkan. Di sektor kelautan dan perikanan, terutama pembangunan masyarakat dengan memanfaatkan sumber daya perikanan hal serupa juga harus menjadi acuan; data dan informasi faktual.

Pertanyaannya, bagaimana memastikan bahwa data dan informasi di lautan, seperti ikan serupa atau paling mendekati perhitungan ‘menghitung daging ternak di kandang terkontrol’.

Maksud saya, menghitung stok ikan tak semudah menghitung stok daging sapi, misalnya. Ikan yang mobile dan melanglang lautan dunia adalah persoalan, meski demikian, selalu ada cara untuk mengendalikannya, setidaknya memantau lalu lintas ikan yang didaratkan di pangkalan pelabuhan perikanan dan mencatat tren-nya. Tentu dengan membandingkan jumlah unit alat tangkap, ruang dan waktunya.

Mengenal MSY

Salah satu pendekatan yang digunakan untuk mengkalkulasi potensi kelautan dan perikanan adalah MSY atau Maximum Sustainable Yield. Pendekatan ini telah diterima secara luas sebagai ‘grandmaster’ pengelolaan perikanan meskipun tetap debatable.

Konvensi Bangsa tentang Hukum Laut (UNCLOS, 1982) menorehkan catatan bahwa setiap negara harusnya menetapkan jumlah tangkapan yang diijinkan, berdasarkan informasi ilmiah, yang didesain untuk memelihara atau menempatkan spesies target ke tingkat yang mendukung hasil MSY itu.

Kebijakan ini ditegaskan kembali pada tahun 2002 yang menekankan perlunya mempertahankan atau memulihkan stok ikan ke level yang bisa menghasilkan hasil lestari maksimum (MSY).

Ada banyak kebingungan seputar MSY, terkait penerapannya, khususnya terkait bentuk atau strategi pengelolaan yang tepat. Meski demikian, secara umum disepakati bahwa “Kebijakan Perikanan harus menerapkan pendekatan kehati-hatian terhadap pengelolaan sumber daya ikan agar ikan yang ditangkap sesuai atau di atas tingkat biomassa yang dapat menghasilkan hasil lestari maksimum pada tahun 2015. ”

Di Indonesia, berdasarkan Keputusan Menteri Kelautan dan Perikanan No 45 tahun 2011 telah disiapkan kajian dan menghasilkan peta status stok ikan dengan menggunakan kode “traffic light”, hijau, kuning, dan merah pada beberapa peraitan nasional yang memberikan informasi kepada pengambil kebijakan pembangunan kelautan dan perikanan. Dari situ diperoleh informasi bahwa hampir duapertiga status eksploitasinya berada pada warna kuning (fully exploited) dan merah (over exploited).

Pemerintah Indonesia mengadopsi konsep MSY a la Schaefer yang dikembangkan pada tahun 1950-an. Metode analisis effort data atau “upaya dengan hasil tangkap”. Meski demikian ada diskursus juga bahwa metode ini sudah tidak relevan karena sifat perikanan Indonesia yang variatif (dari ragam alat dan jenis ikan).

Beberapa pihak tak ‘optimis’ dengan metode MSY karena dianggap membutuhkan sampel amat luas, lama, dan membutuhkan peneliti yang banyak. Menduga stok dengan MSY dianggap mustahil.

Isunya adalah keakuratan data dan informasi, berapa stok dan berapa yang bisa dimanfaatkan sesuai kategori masing-masing spesies ikan demi kelestarian jenis-jenis tersebut.

Armada perikanan di Bitung (foto: istimewa)
Armada perikanan di Bitung (foto: istimewa)

Tapi apapun itu, niat yang ingin direalisasikan adalah pengelolaan perikanan yang bijaksana, sebab ini berkaitan dengan selera pemanfaatan, pengalokasian sumber daya melalui alat tangkap, manusia dan sarana prasarana pendukung yang jika dilakukan serampangan akan berdampak pada kian memburuknya potensi perikanan sebagai tabungan generasi.

Di luar sana, negara-negara maritim kian agresif dan sedang mencari celah untuk menyusup ke perairan-perairan kita, diperlukan regulasi yang ketat dengan membaca potensi yang ada.

***

Meski memancing perdebatan, diskursus hingga penolakan, Organisasi Pangan dan Pertanian Perserikatan Bangsa-Bangsa (FAO) sesungguhnya telah lama merilis istilah-istilah perikanan yang bagi sebagian kita mungkin belum sepenuhnya masuk akal dan ‘apa iya?’.

Pengalaman Indonesia dalam menilai stok ikan pasca moratorium dan sepakterjang Menteri Susi di lautan sejak tiga tahun terakhir merupakan contoh tentang ‘diskursus’ atas stok ikan itu. Apakah bertambah, atau sebaliknya. Beberapa ahli perikanan malah dengan terang-terangan menolak data yang dirilis Pemerintah.

Akademisi, praktisi LSM lingkungan atau mahasiswa Kelautan dan Perikanan, misalnya, telah lama benam dalam istilah-istilah yang direproduksi Lembaga seperti FAO itu. Misalnya, apa itu status ‘underexploited’? Mari kita simak satu-satu.

Underexploited dimaknai sebagai potensi yang belum dikembangkan atau dapat menjadi lokasi perikanan baru yang diyakini memiliki potensi signifikan. Hal yang bisa jadi mengundang debat di situasi domestik negara ketika ada pro-kontra dalam penerapan kebijakan pemanfaatan sumber daya perikanan.

Yang kedua adalah ‘dieksploitasi secara moderat’, dimaknai sebagai usaha perikanan yang dapat ditoleransi dan diyakini memiliki potensi terbatas untuk dikembangkan secara intensif.

Istilah ketiga adalah ‘termanfaatkan sepenuhnya’  bermakna bahwa potensi tersebut telah dimanfaatkan atau dieksploitasi pada atau mendekati tingkat hasil optimal, dan diharapkan tidak diperluas lagi.

‘Over fishing’ yaitu situasi ketika suatu kawasan perikanan telah dieksploitasi di atas level yang diyakini berkelanjutan dan telah digarap secara jangka panjang. Pada situasi ini tidak ada ruang untuk selanjutnya dieksploitasi sebab ancaman menipisnya stok semakin dekat.

‘Catch Depleted’ dimaknai sebagai situasi perikanan dimana potensinya telah berada jauh di bawah situasi sejarah potensinya.

Pentingnya pengendalian

Ada baiknya membuka catatan FAO yang pernah meneliti 600 jenis ikan potensial, Menurut mereka, dari angka itu, terdapat indikasi bahwa ada 3% jenis ikan yang tidak dieksploitasi, ada 20% yang dieksploitasi secukupnya, 52% sepenuhnya dieksploitasi, 17% telah dieksploitasi secara berlebihan, 7% telah habis dan ada 1% pulih dari ancaman kepunahan.

Terdapat beberapa jenis yang diperiksa oleh FAO sebagai yang terancam karena eksploitasi yang massif seperti yang terjadi di Perairan Atlantik Barat Laut dimana ikan Cod Atlantik, atau ikan Haddock telah mengalami depleted.

Di Perairan Atlantik bagian tenggara ikan-ikan kakap, Bluefin tuna Atlantik, dianggap telah nyaris kolaps. Demikian pula ikan-ikan seperti Blackfin Icefish dan Mackerel Icefish di Antartika yang sudah mengalami penipisan stok.

Sebenarnya FAO telah melaporkan pada tahun 2004 tentang stok ikan dunia yang dikaji mendalam sejak tahun 2002.

Salah satu lokasi yang disebut mengalami deplesi adalah kawasan Lautan Hindia Timur Jauh atau area FAO-57. Status perikanan di sini beraganm dari sepenuhnya dieksploitasi hingga over eksploitasi dan dilakukan oleh nelayan-nelayan India, Thailand, Indonesia hingga Malaysia.

Penjual ikan di Pasar Bosnik, Biak (foto: NMN)
Penjual ikan di Pasar Bosnik, Biak (foto: NMN)

Beberapa jenis yang diintensif diburu adalah jenis Ponyfish Leiognathidae, Stolephorus anchovies (teri), Mackerels Rastrelliger spp (tenggiri), Banana Prawn Penaeus merguiensis (udang), Giant Tiger Prawn Penaeus monodon (udang). Hal demikian juga terjadi di sekitar wilayah bagian Barat Pasifik di mana di dalamnya ada nelayan-nelayan Thailand, Indonesia, Malaysia, Filipina.

Tuna Albacore atau Thunnus alalungae telah mengalami eksploitasi berlebih oleh nelayan Taiwan, Cina, Spanyol, Afrika Selatan sejak lama dan terancam hilang.

Demikian pula ikan Atlantic Bluefin Tuna, Thunnus thynnus yang telah lama diincar nelayan-nelayan Perancis, Italia, Spanyol dan Maroko. Demikian pula Bigeye Tuna, Thunnus obesusi yang diincar dan dieksploitasi berlebihan oleh nelayan Spanyol, Taiwan, Jepang. Ikan Bluefin Tuna Thunnus maccoyii telah menipis karena tekanan nelayan Jepang, Taiwan dan Afrika Selatan.

Menurut FAO dari sekitar 1500 jenis stok ikan, yang masih melimpah hanya ada 500 dari keseluruhan atau dengan kata lain sebagian besar telah mengalami deplesi stok. Sebagian besar jenis ikan telah dieksploitas sejak lama, di sekitar tahun 1900-an awal. Seperti ikan kod di lepas pantai Norwegia.

Meski masih menjadi perdebatan, penentuan stok ikan merupakan hal penting dalam memandang keberadaan atau masa depan ikan-ikan ekonomis di lautan dunia.

***

Ada asumsi bahwa 56,4% stok ikan telah dieksploitasi berlebih atau habis, bukan 29,9% seperti yang diklaim oleh FAO.

Sebuah laporan yang dirilis oleh unit riset SOFIA, beberapa tahun lalu disebutkan bahwa stok yang telah dieksploitasi berlebihan atau habis telah meningkat dari 10% di tahun 1974 menjadi 29,9% di tahun 2009.

Proporsi stok yang dieksploitasi sepenuhnya naik selama periode waktu yang sama, dari 51% ke 57%.

Stok yang tidak dieksploitasi secara keseluruhan, sebaliknya, telah menurun sejak 1974 dari hampir 40% menjadi hanya 12,7% pada 2009. Ini berarti bahwa meski perhatian pada pengurangan aktivitas berlebih telah semakin intensif namun situasinya tidak membaik.

Ada praktik perikanan yang menerabas dan mengambil banyak dalam sekali operasi seperti trawl. Trawl menjadi sangat massif di tahun 70-an hingga 90-an di banyak lautan dunia. Situasi stok terus memburuk.

Yang menarik dicermati juga adalah total tangkapan ikan tahunan telah berfluktuasi selama sekitar 20 tahun antara 50 dan 60 juta ton. Puncaknya pada 1994 yaitu sebesar 63,3 juta ton.

Pada 2011 dilaporkan ada sebesar 53,1 juta ton ikan yang didaratkan atau empat kali lebih banyak dari tahun 1950 yang hanya 12,8 juta ton.

FAO mencatat bahwa eksploitasi ini tidak hanya ikan tetapi juga udang, kerang dan cumi, belakangan muncul gurita, kekerangan bahkan ikan hiu. Jika jumlah tersebut ditambahkan pada ikan, jumlah tangkapannya jauh lebih besar.

Dengan demikian, selama 20 tahun terakhir, total tangkapan laut mencapai 80 juta ton per tahun. Puncaknya dicapai pada tahun 1996 dengan 86,4 juta ton. Pada 2011 itu 78,9 juta ton.

Telunjuk ke Cina

Berdasarkan paparan di atas, berdasarkan situasi perikanan yang semakin memburuk sejak tahun 90-an, dan ketika membaca bahwa volume tangkapan sebagai tolok ukur, maka Cina adalah negara yang paling bisa dijadikan ‘pelaku paling agresif’ beberapa tahun belakangan. Pertimbangan kebutuhan konsumsi warganya yang sangat besar memaksa Negera Tirai Bambu itu untuk semakin ekspansif.

Pemerintah mereka menggariskan kebijakan proggressif untuk memberi subsidi ke industri perikanannya. Mereka mendorong kapal-kapal ikan yang mencapai 200 ribu untuk bermigrasi ke lautan luas, dari ZEE hingga ke high seas.

Armada cina (sumber: ecns.cn)
Armada cina (sumber: ecns.cn)

Di tahun 2002 dilaporkan bahwa Cina adalah eksportir produk ikan dan makanan laut terbesar di dunia. Lalu di 2005, mereka mengekspor produk ikan dan makanan laut senilai US $ 7,7 miliar.

Saat ini, data terbaru yang diperoleh dari International Trade Centre, ekspor ikan dan makanan laut mereka menghasilkan pendapatan sebesar US $ 14,1 miliar per tahun.

Pada 2013, ekspor unggulan Cina termasuk cumi-cumi dan sotong beku senilai US $ 1,6 miliar, udang sebesar US $ 1,2 miliar, dan ikan beku US $ 1 milyar. Jepang, Amerika Serikat, dan Hong Kong merupakan tujuan ekspor utama ikan Cina.

Jumlah pelaku (nelayan) yang ikut program perikanan intensif Pemerintah pada tahun 2010 dilaporkan sebanyak 14 juta orang.

Setelah Cina, Peru sampai tahun 2009 merupakan negara kedua namun telah merosot ke posisi empat.

Hal ini disebabkan oleh rendahnya tangkapan ikan teri yang dapat dianggap berasal dari perubahan iklim yang ekstrem dan berdampak pada stok ikan terinya. Mereka juga mulai menutup beberapa wilayah perairan demi melindungi stok ikan teri di masa depan.

Indonesia saat ini adalah negara kedua dengan cadangan perikanannya dan sedang pada posisi ‘on fire’ untuk mengelola sumber daya perikanan mereka setelah kebijakan revolusioner perikanan di bawah kendali Presiden Jokowi.

Amerika Serikat sebagai yang ketiga. Belakangan juga Rusia mulai dipertimbangkan.

Sejak tahun 2004, tangkapan nelayan Rusia meningkat sekitar 1 juta ton. Menurut pihak berwenang Rusia, pertumbuhan ini merupakan hasil tata kelola yang mulai intensif.

Rusia berencana untuk memperluas industri perikanan di tahun-tahun mendatang, tujuannya adalah untuk mendaratkan 6 juta ton pada tahun 2020. Angka ini lebih banyak dari gabungan semua negara Uni Eropa, yang berjumlah 5,2 juta ton pada tahun 2010.

Lampu Kuning Budidaya Ikan, Pelajaran dari Skotlandia

Budidaya ikan di Jawa Barat (foto: Kamaruddin Azis)

Sebuah artikel yang ditulis Kevin McKenna di The Guardian empat tahun lalu kembali diperbincangkan. Artikel itu bercerita latar belakang lahirnya kritik pedas seorang pemerhati lingkungan bernama Orri Vigfusson kepada Pemerintah Skotlandia.

“Budidaya ikan telah menghancurkan jenis salmon alam di Skotlandia.” Begitu kata pendiri North Atlantic Salmon Fund (NASF) tersebut. Menurutnya, sebuah institusi bisnis perikanan budidaya bernama Holyrood telah berkontribusi terhadap penurunan stok ikan salmon alam (wild) yang hebat di sungai-sungai Skotlandia beberapa tahun terakhir.

Orri bersama NASF, salah satu badan konservasi paling berpengaruh di dunia menyebut Pemerintah Skotlandia ikut bertanggungjawab karena telah menciderai industri perikanan salmon demi mengejar keuntungan semata.

Vigfusson, yang dipuji di Islandia karena kontribsinya dalam konservasi ikan salmon, menulis:

“Negara Anda mendorong dan mendukung proliferasi dan perluasan budidaya ikan yang tidak berkelanjutan. Anda menghabiskan banyak stok ikan Anda dan mendorong budidaya ikan salmon campuran demi memaksimalkan target. Ikan-ikan yang seharusnya terlindungi ketika memamah di perairan kita.”

“Kami yakin akan perjalanan balik salmon ini bahwa mereka akan bisa bertelur dan kembali pulih di sungai-sungai Skotlandia. Namun yang terjadi, kebalikannya, kelimpahan salmon telah menurun hingga 80-90% dalam beberapa dekade terakhir. Ini terutama disebabkan kegagalan Pemerintah Anda dalam mengelola salmon dengan benar.” Demikian isi surat protes tersebut.

Surat tersebut mendapat dukungan asosiasi Faroe dan Islandia. Surat kritikan tersebut bernada kecaman atas pengelolaan perikanan budidaya salmon di Skotlandia.

Sebelumnya Menteri Alex Salmond menyebut perlunya unit kerja untuk menginvestigasi pengelolaan perikanan Skotlandia. Budidaya salmon yang dimaksudkan tersebut bernilai sekitar 200 juta poundsterling per tahun bagi ekonomi Skotlandia.

Munculnya surat tersebut merupakan peringatan keras di tengah banyaknya kegalauan para pihak atas kian masifnya industri budidaya salmon ini.

Perlu diketahui bahwa perkembangan budidaya salmon di lepas pantai barat Skotlandia telah menyebabkan kekhawatiran akan kontaminasi spesies melalui sea lice ‘kutu laut’.

Tak hanya itu, pemasangan jaring ikan di di Timur Laut Skotlandia dan Pantai Northumberland serta Yorkshire telah membatasi pergerakan salmon dewasa untuk kembali bertelur di sungai-sungai yang memang sudah semakin berkurang.

Pembudidaya dan salmonnya (foto: the Guardian)

Sebuah laporan dari media ‘Country Life’ memperingatkan risiko atau dampak budidaya intensif demi memenuhi permintaan tak terbatas dari Cina.

Menurut mereka, karena pestisida yang digunakan oleh akuakultur demi melawan parasit laut tumbuh semakin kuat, makan salmon alami terpapar infestasi saat bermigrasi.

Rute migrasi salmon telah penuh dengan jaring atau keramba. “Budidaya yang intensif ini semakin tak berkelanjutan, ikan alami akan semakin menderita,” begitu tulisnya.

Menteri Salmond bahkan menyebut bahwa dorongan untuk budidaya salmon di Skotlandia ini demi memenuhi permintaan Cina yang masih kekurangan untuk pasokan sushi. Imbalannya dua ekor panda yang dikirim ke Kebun Binatang Edinburgh.

Salmon merupakan ikan dengan siklus jelas, dari laut ke sungai, dari sungai ke laut.

Siklus hidup salmon disebut selama dua tahun atau lebih di sungai kelahirannya kemudian berubah menjadi berwarna keperakan lalu menuju ke Atlantik selama tiga tahun lagi sebelum kembali ke sungai kelahirannya untuk bertelur.

“Di sisi lain, dengan budidaya intensif, proses itu bisa dilewati dengan hanya selama 18 bulan,” kata David Godfrey, aktivis pemancing salmon dari alam liar yang disebutnya sebagai kegiatan yang memuaskan jiwa ketika memperoleh salmon dari alam liar dengan memancing.

Menurut Godfrey, diperlukan penanganan yang baik melalui tata ruang usaha perikanan. Dia percaya bahwa Pemerintah Skotlandia seharusnya bisa berbuat lebih banyak untuk membantu industri ini.

“Jika orang-orang mulai menggunakan jaring lagi di perairan mereka, ini akan mencegah banyak ikan salmon Skotlandia kembali ke sungai mereka. Sekarang mereka mempertanyakan saat pemerintah Skotlandia mendorong budidaya dengan ikan campuran di Pantai Timurnya sendiri,” katanya.

Pemerintah Skotlandia mengatakan bahwa mereka tidak mencoba lepas dari persoalan. Menurut sumber Pemerintah, mereka telah menjalankan peraturan yang kuat dan diakui secara internasional dimana Aquaculture & Fisheries (Scotland) Act 2013 dapat menguatkannya.

“Kami telah mengambil tindakan untuk memperbaiki pengendalian kutu laut di budidaya ikan, termasuk tindakan untuk mewajibkan semua operator menyepakati perjanjian pengelolaan budidaya yang menetapkan pengaturan kesehatan ikan dan parasit.”

Apa yang terjadi di Skotlandia ini seharusnya menjadi cermatan semua negara, semua pelaku budidaya ikan, di mana saja bahwa hal yang paling perlu dipertahankan adalah keselamatan ikan-ikan dari alam. Bagaimana menjaga, merawat dan menjadikan mereka tetap hidup berkelanjutan bukan semata demi memenuhi permintaan luar negeri yang semakin tidak terbatas.

Di Indonesia, sejak rontoknya budidaya udang windu dan Pemerintah menyisipkan udang Vannamei dari Amerika Latin belasan tahun lalu, seharusnya tak bisa dilihat sebagai hal sederhana. Perlu kedalaman untuk sungguh-sungguh mengkaji kemungkinan risiko, dampak ke spesies domestik termasuk dampak penggunaan pupuk atau pestisida karena hasrat memproduksinya dalam jumlah besar.

Semakin masif caranya penanganannya, tentu akan semakin berdampak luas ke alam dan manusia.

 

Mereka Yang Bertahan Hidup Setelah Tragedi Lengkese’ (Tulisan ke-2)

“Kampung ini ada sejak hampir tiga ratus tahun lalu, kami generasi ke-7 dari kakek kami yang bernama Daeng Ninra. Dia asal Kampung Manuju di dekat Bili-Bili,’” ungkap Daeng Tawang, imam dusun Lengkese’ yang menjamu kami seraya menunjuk arah barat.

Saya bersama rombongan peserta pelatihan ToT Fasilitator Masyarakat sedang praktik lapang di Lengkese’, Kecamatan Parigi, Gowa.

Sejak peristiwa bencana tanah tumbang kaki Gunung Bawakaraeng pada tanggal 26 Maret 2004, Daeng Tawang merupakan tokoh kunci yang banyak dicari. Dia merupakan sosok yang sangat sibuk saat peristiwa itu terjadi. Bersama puluhan warga dia melawan kehendak pemerintah yang meminta mereka pindah ke daerah lain karena tempat tinggalnya rawan bencana. Selain Daeng Tawang, ada Daeng Tika’, kepala kampung Lengkese’. Daeng Tika bahkan pernah ke Gorontalo untuk membagi pengalamannya bersama warga sebelum dan setelah bencana yang menelan 32 korban jiwa itu.

“Oleh pemerintah kami diminta pindah,” terang Daeng Tika.

Bersama beberapa warga yang menganggap Langkese’ adalah tumpah darahnya, mereka bergeming, enggan pindah. Menurutnya, sebelum kejadian terdapat dua ratusan jiwa warga di Lengkese’. Ada beberapa yang pindah namun tidak sedikit pula yang bertahan. Sejak kejadian yang tragis itu, memang berseliweran analisis, polemik dan kesan bahwa karena masyarakat kerap menggunduli hutan, hingga ada longsoran.

***

Untuk mendengar cerita warga yang selamat, saya menyusuri jalan beton yang mengarah ke kaki bukit. Dari kejauhan saya melihat iring-iringan warga yang menuruni bukit. Bukti bahwa warga sedang menggeliat, meneruskan hidup.

“Mereka baru pulang dari menjaga ternak,” kata Daeng Rapi.

Dia baru saja pulang. Dia lebih dulu dibanding 6 orang warga setempat yang masih menyusur lekuk bukit. Usaha beternak ini terus dilakoninya walau musibah tanah tumbang telah menelan banyak ternaknya.

“Saya lagi di mesjid saat musibah labboro’ (longsoran) itu datang,” katanya.

Selain beternak, warga Lengkese’ bertahan karena punya lahan kebun kopi, sawah di sisi selatan kampung, dan ragam isi kebun. Lengkese’ persis Bukit Tinra’ Balia di sebelah kanan, di kiri ada Bukit Kayuaraya dan Bukit Talung.

Dari Lengkese’, warga dapat menikmati pemandangan air terjun, ada dua yang terlihat di sekitar bukit Tinra’balia. Saat kami menyusuri di sisi selatan terlihat hamparan perkebunan kopi Arabica. Warge telah lama memanfaatkan keramahan alam di situ. Jadi ketika diminta pindah ke kawasan Belapunranga sebagaimana ditawarkan ke pemerintah banyak yang berat hati.

“Kami menolak dan menyampaikan bahwa tidak benar karena ulah kami hutan Bawakaraeng dan DAS Jeneberang rusak. Jarak dari sini ke puncak Bawakareng itu ada 25 kilometer. Di sini masih banyak yang bisa kami lakukan,” tegas Daeng Tika yang kehilangan 8 ekor sapi karena tertimbun longsoran.

8 Tahun Tragedi Lengkese, Ada Sungai Di Atas Sungai (Tulisan 1)

Suasana Kaki Bawakaraeng Yang Tumbang Itu, Kini (Foto: Kamaruddin Azis)

Langit cerah di atas Lengkese, Kecamatan Parigi, Kabupaten Gowa, Sulawesi Selatan. Awan bergerak malas di puncak Gunung Bawakaraeng. Dari monumen peringatan tragedi tanah tumbang Lengkese nampak lempeng sisi timur salah satu gunung tertinggi di Sulsel itu, seperti parutan raksasa.

“Parutan itu menggelinding, menyerempet dua sisi bukit dan menimbun utara Lengkese. 32 warga yang berada di ceruk lembah yang dalamnya hampir 200 meter jadi tumbal bencana” kata Atto’ saat kami mengobrol di Bawakareng Observatory Building, bangunan milik Kementerian PU, BSWS Pompengan-Jeneberang.

Di atas bangunan ini pula terkubur satu SD. Beruntung, karena saat kejadian para murid sudah pulang.

“Kami perkirakan jarak jangkauan material dari Bawakaraeng sejauh 7 kilometer. Dengan kedalaman ceruk sekitar 200 meter, kami kira ada 1,8 Miliar kubik material yang menerjang” kata lelaki yang bernama lengkap Mahatma Rafel ini, dia pendaki gunung sekaligus aktivis pada LSM Karaeng Puang. Bukan hanya mengklarifikasi volume, Atto’ juga meluruskan bahwa itu bukan longsoran belaka tetapi karena retakan dan patahan kaki gunung.

“Volume itu sangat besar. jika tidak ada Bukit Tinra’balia material itu mengubur seluruh Lengkese” katanya lagi. Bukan hanya tanah dari kaki Bawakaraeng tetapi yang datang dari sisi bukit kiri-kanan. Inilah yang menambah volume itu dan menyerang daerah yang juga sekaligus lahan penggembalaan ratusan ternak warga.

Menurut Atto’, tanda-tanda tanah tumbang itu terbaca saat ada retakan yang bertambah dari waktu ke waktu. Pada retakan itu, pada tahun 80an warga masih bisa melangkah di atasnya. Tahun 90an sudah melompat, sebelum kejadian itu. Kini, di bekas timbunan itu kehidupan warga kembali menggeliat.

Selain dibangun gedung pemantauan Bawakaraeng, beberapa warga kembali membangun rumah, menanam kopi, bersawah, beternak. Di bekas longsoran bahkan ada aliran sungai baru.

“Di Lengkese, ada sungai di atas sungai. Ada harapan di atas murka alam, ada semangat untuk bertahan” imbuh Atto’ yang pernah berguru pada salah seorang ahli pemberdayaan masyarakat bernama Wada Nobuaki di Jepang. Menurutnya, upaya pemerintah belum maksimal dalam hal pelibatan warga pada pemanfaatan sumberdaya yang ada.

“Pemerintah di sini aneh sekali, tidak ada yang spesifik dalam menjalin kerjasama dengan warga setempat. Kita ingin pembibitan untuk reboisasi hutan itu dapat memanfaatkan potensi yang dimiliki warga seperti yang terjadi di Lembangroe dan Ramma” katanya.

“Semua pihak harusnya paham bahwa relokasi warga itu tidak penting, pemerintah harus buka mata tentang relokasi. Di manapun kita di Indonesia, semua rawan. Yang perlu diperkuat adalah daya tahan warga” kata Atto

Pallae, Desa Unik di Anak Sungai Cenrana

Ambo Sakka dan Kegiatannya (Foto: Kamaruddin Azis)

Berkunjung ke Kabupaten Bone, Provinsi Sulawesi Selatan selalu menyenangkan. Sejak tiga tahun terakhir saya telah belasan kali berkunjung ke tanah kelahiran Jusuf Kalla ini. Tanah kelahiran pahlawan pembebasan yang dikagumi rakyat Bone, La Tenritatta Arung Palakka dan juga Jenderal panutan M. Joesoef. Daerah di pesisir timur kaki pulau Sulawesi ini merupakan perpaduan desa-desa pesisir nan eksotik serta kampung perbukitan landai menghijau. Di Bone pulalah komunikasi dan kontak pelayaran ke Sulawesi Tenggara dan wilayah Indonesia bagian timur berdenyut tiap hari melalui pelabuhan Bajoe yang terkenal itu.

Ada ratusan anak sungai yang muaranya mengarah ke Teluk Bone melewati bahu dan lekuk bukit. Sungai di mana kampung-kampung bertahan dan berdenyut menghadang perubahan waktu. Bone menyenangkan karena daya pikat pemandangan di sepanjang jalan menuju pusat kotanya. Dari Makassar melewati Maros, Bantimurung, Camba, lalu berkelok menanjak memandangi pesona lembah dan puncak-puncak bukit berbatu. Melintasi Camba berarti menyaksikan bukit kapur yang menyimpan magis dasar laut purba. Lekuk batu karang yang menua dan jejak koloni terumbu laut.

Butuh empat jam untuk sampai di Watampone. Sebagaimana biasanya, di Camba kami mengaso, mengisi lambung, menikmati jagung rebus seraya melepaskan pandangan ke kaki bukit nan menghijau. Perjalanan kami siang itu berujung di Hotel Mario Pulana pada sore hari. Djunaid Umar seorang kerabat di Watampone telah bookingkan kamar di hotel berarsitektur khas Bugis ini. Hotel yang lebih mirip rumah tinggal biasa namun memberikan suasana akrab dan aman. Saya bersama kolega di tempat kami bekerja, H. Ashar Karateng, Yohannes Ghewa dari Kupang, Ruslan Situju dari Kendari serta bos kami, Sakuma Hiroyuki yang berkebangsaan Jepang.

Dimensi Pallae

Di hari ketiga, kami berkunjung ke satu desa dalam Kecamatan Cenrana. Melakukan observasi dan hendak membangun pertemanan dengan warga setempat. Namanya Desa Pallae, ditempuh 30 menit dari Watampone dengan kendaraan roda empat.

“Di desa Pallae, mayoritas warga adalah petani, nelayan, peternak. Ini dibuktikan oleh adanya “sawah empang”. Di Pallae, ada empang yang sekaligus dapat dijadikan tempat menanam padi. Jika kemarau, air akan asin dan jadi tempat hidup udang dan ikan” terngiang ucapan pak Sirajuddin, warga Pallae yang memberi kami informasi sehari sebelumnya.

Juga Heriyanto, salah seorang pemuda setempat yang memberi informasi awal bahwa dulu Pallae terkenal sebagai desa dengan jumlah peternak itik yang sangat banyak namun berangsur berkurang. Alasannya banyak pedagang yang beli itik untuk dikonsumsi. Ada pula ibu-ibu yang menganyam tikar, namanya “tappere ampellang” yang mengambil rumput liar dari empang-empang tradisional.

Yang paling unik, kata Heryanto, di sana ada perahu berenang di kolong rumah. Maksudnya, di beberapa kolong rumah dapat ditemui sampan. Di desa ini banyak sampan karena kampung dikitari anak sungai. Warga menyimpan perahu di kolong rumah yang kerap terendam air.

Mengenai sosial budaya, menurut Heryanto, di desa Pallae ini masih kental hubungan perkawinan antar sepupu atau kerabat dekat. Sejak dulu perkawinan dengan kerabat dekat dalam kampung sampai sekarang masih dipertahankan.

“99% orang Palla’e menikah dengan sanak famili. Jarang sekali dengan perkawinan silang” kata Sirajuddin. Maksudnya, perkawinan dengan suku lain atau dari luar kampung. Heryanto menambahkan bahwa Desa Pallae dikenal sebagai desa yang agamais, yaitu mempunya sarjana-sarjana alumni As’adiyah, Sengkang.

Informasi dari Aparat Desa

Tanggal 25 Oktober 2011, hari sedang terik saat kami sampai di kantor desa. Adalah Andi Muhammad Yusuf, Kades Pallae yang menerima kami bersama Sekdesnya bernama Haji Kamaruddin. Disambut di kantor desa, kami memperoleh informasi awal tentang desa ini, tentang pekerjaan utama warga dan informasi dasar tentang kependudukan. Beberapa tamu duduk di teras kantor karena ruang pertemuan sempit.

Desa ini terdiri dari tiga dusun, Pallae, Maruwung Watu dan Waeluwu. Jumlah penduduk berdasarkan data terbaru sebesar 1.285 Jiwa. Berbatasan dengan Desa Lagaolong dan Kelurahan Ujung Tanah di selatan dan timur berbatasan dengan Panyiwi dan Latonro, barat dengan desa Watu. Desa ini berdiri pada tahun 1987 sebagai pemekaran dari desa Watu.

Menurut Sekdes, di desa ini banyak terdapat buruh tani karena yang memiliki lahan pertanian atau perkebunan adalah dari orang luar.

“Dulu ada puluhan hektar tapi pemiliknya hanya satu orang. Tapi ini ada hubungannya dengan Raja Bone ke-16, La Pakokoi, La Patau, Petta Wellulue (artinya sirih), Marulu Watu (artinya ujungnya Watu), yang memang secara berdaulat menguasai tanah di sana. Lambat laun kemudian mulai dibagi-bagi” kata Haji Kamaruddin.

“Informasi lain bahwa desa ini pernah kena imbas banjir danau Tempe, Wajo. Meluapnya danau berimbas ke sini” kata Supriadi salah seorang kaur desa.

Fakta di Desa

Menelusuri jalan utama desa yang masih berupa tumpukan kerakal atau pengerasan, kami menyaksikan hamparan sawah yang tergenang air. Ada anak sungai yang dialiri air dari arah utara. Di bulan Oktober air telah mengisi ruas sungai kecil itu. Menurut peta Googlemaps, terdapat banyak sekali anak-anak sungai yang keluar dari badan sungai Cenrana salah satunya salo Pallae.

Andi Amrul Muh. Yasir dan Andi Mukbil, dua anak kecil yang saya temui sedang bermain di ujung sungai kecil di Dusun Pallae. Mereka masih kelas 1 SD. Di dekat mereka seorang lelaki muda sedang mengecat sampan. Di sana ada tiga sampan sedang tertambat. Siang riuh di Pallae. Itik-itik muda berenang, mengibaskan ekor dan sayapnya. Saling menggoda di tepi sampan warga yang ditambatkan di batang kelapa.

Salo Pallae, nama sungai itu hiruk pikuk oleh suara itik. Air sedang naik di ujung anak sungai Cenranae, Kabupaten Bone. Di anak sungai ini warga mengaitkan perahu sampan. Menyandarkan perahu dan membersihkan bodinya. Di radius 100 meter aktivitas warga beragam. Terlihat itik, kayu kelapa, daun. Pohon sukun, kelapa, pisang, mangga, kandang itik. Ada empang.

Potensi ekonomi dan geliat sosial budaya terpapar di Pallae. Tidak ada kekhawatiran tentang masa depan, tentang status sosial, tentang kemiskinan, sebab mereka punya banyak sumberdaya alam. Desa subur ini bertahan karena ada aliran sungai, empang dan papan untuk permukiman mereka.

Pada beberapa petak empang, tumbuh alang-alang yang telah dipotong oleh warga. Mereka mengambil dan mengeringkannya sebagai bahan pembuatan tikar anyaman. Ada yang menarik. Hampir semua rumah warga berwarna kuning. Ada kuningisasis di sana. Salah satunya rumah Andi Mata, rumah ini berdinding warna kuning, kombinasi hijau muda. Di bagian lain, ada bangunan desa dan diberi nama “Baruga Sayang”. Tidak ada aktivitas di situ. Yang semarak justeru graffiti tanpa makna.

Beberapa warga sedang mengaso di kolong rumah, ada pula yang sedang duduk santai di halaman rumah batunya. Satu-dua kendaraan roda dua lalu lalang seraya membawa anak sekolah. Walau begitu, banyak rumah yang terlihat kosong. Pintu tertutup. Menurut warga mereka pergi ke kebun. Jika pun ada pergi jauh itu karena merantau di Sulawesi Tenggara.

“Air mulai naik sejak pagi tadi” kata Ambo Sakka yang saya ajak bicara saat melintas di pematang empangnya. Dia sedang mengambil rerumputan di empang yang bersebelahan dengan anak sungai. Beberapa warga lainnya sedang mengambil air untuk sumber air minum bagi sapi-sapi mereka.

Warga memanfaatkan lahan sawah sekaligus empang ini antara bulan April hingga Oktober untuk persawahan dan antara bulan Oktober dan April mereka membudidayakan kepiting.

Sungai, nampaknya menjadi urat nadi kebutuhan warga. Dengan aliran sungai mereka memanfaatkan air untuk mengisi empang dan mengairi persawahan mereka. Dengan air sungai ternak mereka bertahan hidup dan mereka memperoleh telur dari itik. Dengan air sungai mereka memberi minum ternak mereka. Sungai adalah bukti kesuburan tanah mereka.

Dari Pallae, kita membaca urat nadi kehidupan desa ada di muara sungai, pada anak-anak sungai, tempat di mana warga bertahan sekaligus menyambung hidup. Di sana pula anak-anak mereka belajar membaca pesan alam. Dengan aliran sungai dari induk di Cenrana, sampan-sampan mereka menjelajah, memancing ikan, menjaga empang di sekitar muara dan melabuhkan asa.

Sungai bagi warga Pallae adalah masa depan mereka. Satu-satunya kekhawatiran mereka adalah jika Danau Tempe di kabupaten tetangga, Wajo meluap dan mengirimkan banjir bandang ke permukiman mereka.

Sungguminasa, 10 Nopember 2011

Potret Bajo Torosiaje, Tetap Bertahan Di Atas Laut

Pulang dari Sekolah (Foto: Kamaruddin Azis)

Pengalaman tinggal bertahun-tahun di Pulau Rajuni Kecil dan Pulau Tarupa di Taman Nasional Taka Bonerate selama rentang tahun 1995-2003 membuat saya selalu rindu untuk selalu dekat dengan mereka; berbahasa Bajo, bicara tentang laut dan dimensi sosial ekonomi mereka.

Selalu bergairah untuk mendengar kisah salah satu suku laut tangguh yang disebut mendiami pesisir Kalimantan, Brunei, Malayasia, Indonesia hingga Filipina ini. Itu yang saya rasakan saat sampai di Kabupaten Pohuwato, Provinsi Gorontalo saat mengetahui bahwa ada perkampungan Bajo di Torosiaje, Kecamatan Popayato, Kabupaten Pohuwato, 100 kilometer dari ibukota Kabupaten Pohuwato, Marisa. Siang itu saya sempatkan menyambangi mereka seusai berkunjung ke Desa Marisa, Popayato Timur.

***
“Selamat Datang di Desa Wisata Torosiaje” itu yang menyambut kami saat sampai di sana. Berbelok kiri dari arah jalan ibu kota kabupaten kami melewati puluhan rumah yang merupakan permukiman bantuan pemerintah pusat untuk suku Bajo yang sebelumnya tinggal di atas laut, di balik hamparan bakau.

Rumah berukuran kurang lebih 6×8 meter itu banyak yang kosong namun ada beberapa pula yang terisi. Dari sisi perumahan ini kami parkir mobil dan berjalan ke jembatan yang membelah hutan bakau. Inilah jalan sekaligus jembatan menuju tangga yang mengarah permukiman mereka di laut.

Welcome to Torosiaje (Foto: Kamaruddin Azis)

Beberapa meter dari perkampungan “darat” ini saya melihat papan informasi: “Dinas Perhubungan, Parisiwata dan Kebudayaan Pohuwato” –Tempat Parkir, mobil Rp.5.000, motor Rp. 2.000,- bentor Rp. 3.000,-. Di sampingnya adalah gardu jaga lengkap dengan papan informasi. Karcis masuk obyek wisata Torosiaje dewasa Rp. 2.000,- dan anak-anak Rp. 1.000,- seusai dengan Perda No. 8 tahun 2005, SK Bupati kabupaten PohuwatoNo.15 tahun 2007. Tapi tidak ada yang berjaga di situ.

Dari pintu masuk itu kami membaca papan informasi lain tentang salah satu proyek yang mendorong upaya konservasi bakau di daerah itu. Juga papan informasi bertuliskan “Undang-Undang No.27 tahun 2007” tentang Pengelolaan Wilayah Pesisir dan Pulau Pulau Kecil. Di tempat lainnya tertulis pula “Jaga dan Lestarikan Sumberdaya Pesisir dan Laut Demi Masa Depan Anak Cucu Kita” Undang-Undang No.32 tahun 2009 Pasal 70 ayat 1,”Masyarakat Memiliki hak dan Kesempatan yang Sama dan Seluas-luasanya untuk Berperan Aktif dalan Perlindungan dan Pengelolaan Lingkungan Hidup”.

Terdapat logo IUCN, CIDA, Lestaris Inc. Canada, Teluk Tomini SUSCLAM, Japesda dan Pemerintah Desa Torosiaje. Banyak pihak selain pemerintah yang memperhatikan suku laut ini.

Banyak sekali papan informasi yang bertebaran di pintu masuk menuju permukiman warga di tengah laut itu. Untuk sampai di ujung jembatan serupa huruf T yang akan menghubungkan daratan dan permukiam Bajao Laut itu kami mesti berjalan sejauh seratus meter.

Di kiri kanan kami ada hamparan bakau padat. Dari sini kami menyaksikan suasana permukiman di tengah laut. Ada bentangan kabel listrik di atas laut hingga ke kampung itu. Cuaca sedang teduh. Daun lamun dari dasar laut bergoyang diayun arus ringan.

Di tangga dermaga, saya bertemu Manto Pasanre, umur 37. Saat itu dia sedang mengantar anaknya ke darat. Dia juga menunggu penumpang yang akan kembali ke rumah. Sebagian besar adalah anak sekolah SMP di Popayato.
Manto lahir dan besar di perkampungan di laut itu. Dia bersaudara 12 bersaudara. Manto ada anak 3.

“Menjemput anak sekolah” kata Manto saat saya tanya siapa yang dijemput. Penumpang membayar 2ribu sekali jalan. Kadang kala tidak membayar.

“Tergantung berapa bisanya” kata Manto lagi. Sebagai warga yang lahir dan besar Manto mengaku menyelesaikan SD di Torasiaje Laut, maksdunya di permukiman di lau. Menamatkan SMP di Popayato. Saat tamat SMP dia pergi ke Manado.

“DI Manado hidupnya tidak jauh dari urusan laut. Saya mencari teripang” katanya. Di dermaga menuju permukiman itu saya bertemu Mona. Dia sudah kelas tiga SMP. Mona rencana akan melanjutkan sekolah di SMK.
Suasana Perkampungan

Dengan naik sampan milik pak Manto, kami berlima, ada pak Yusman, Noni, Pak Ma, Husein (staf Bappeda Pohuwato) dan saya. Perahu yang diisi lima orang itu buat saya tidak tenang. Saya khawatir dengan kamera dan gadget yang saya bawa. Salah duduk bisa membuat kami basah kuyup.

Saya duduk di tengah sampan. Pak Husain dan Noni di depan, paling depan pak Yus. Sementara pak Manto mengemudikan sampan. Mesin tempel 5 PK membawa kami membelah laut dangkal yang batasi hamparan bakau yang memadat.

Air sedang surut saat kami bergerak. Saat menuju permukiman itu terlihat satu perahu yang membawa tujuh penumpang. Sepertinya kembali dari urusan tugas di permukiman di tengah laut itu.

Perkampungan Torosiaje Laut merupakan perumahan yang berbentuk lingkar. Rumah warga yang dipetak memanjang cenderung melingkar ini di batas oleh jembatan. Bersambungan satu sama lain. Perahu menembus kolong jembatan. Ada tulisan “WELLCOME” di gerbang kampung. Poster Gusnar dan Tonny ada terpampang di sana. Di sana ada pula Perpustakaan “Mutiara Laut” Desa Torosiaje. Ada speedboat kuning yang tertambat serta keramba apung.

Ada jembatan sekaligus jalan utama kampung yang menghubungkan rumah warga. Bersambungan. Perumahan itu nyaris seragam dengan atap berwarna biru muda. Kami sampai pukul 12.00 wita. Perahu sandar di salah satu tangga menuju jembatan sekaligus jalan utama kampung itu. Di dekatnya, beberapa warga sedang duduk santai. Beberapa anak kecil sedang bermain di salah satu bangunan yang nampaknya baru dibangun. Di kaki rumah warga bertebaran bulu babi hitam.

Pada beberapa halaman rumah warga, mereka menjemur kayu bakar, bantal, ikan dan menjemur pakaian. Beberapa warga mengikat perahu. Di beberapa rumah masih terlihat kayu bakau yang telah dipotong-potong.

Anak-anak yang sedang bermain menyapa dan minta difoto. Layaknya rumah warga, ada yang tertata rapi adapula yang sepertinya tidak diurusi.

Perkampungan yang dijalin oleh jembatan itu mengingatkan saya pada kios di mal-mal yang dihubungkan oleh koridor. Warga duduk santai depan rumah, ada yang hanya bersarung, tanpa baju dan menikmati waktunya.

“Bangunan di sini sudah lama, ada beberapa bagian yang baru berumur dua tahun” kata salah seorang di antara mereka. Di antara rumah warga terdapat Puskesmas Pembantu yang tertutup. Ibu-ibu dan anak gadis sedang ramai bercengkerama.

“Kami di sini sudah campur baur, tinutuan kata orang Gorontalo. Ada Cina, Minahasa, Sangir, Bugis, Tomini, Kaili” kata ibu Rusmin Pakaya. Dia yang dituakan di sekumpulan wanita di situ. Seorang lainnya bernama Hariani menyapa saya dengan bahasa Bajo. Saya membalasnya.

Bakau dan aktivitas warga (Foto: Kamaruddin Azis)

“Maningge rumahta?” kataku, di mana rumah ibu. Dia menjawab dengan menunjuk salah satu rumah kopel .

Permukiman di sini merupakan cikal bakal tiga desa yang telah dimekarkan yakni Desa Bumi Bahari, Torosiaje Jaya dan Torosiaje (Laut). Sejak ada gagasan merumahkan warga Bajo yang memilih beranak pinak di atas air, pemerintah mencari solusi dengan menawarkan bangunan rumah di darat. Persis di poros Popayato, di trans Sulawesi. Namun hanya ada beberapa orang yang pindah sebagian lainnya memilih berdiam di atas laut.

“Kami lahir dan besar di atas laut, jadi ya, susah juga tinggalkan kampung ini” kata mereka kompak. Dari sinilah warga meneruskan kegiatan produktif mereka. Mencari ikan, kepiting bakau, hingga berburu ikan permukaan seperti cakalang dan tuna di sekitar Teluk Tomini.

Pemerintah pun tidak kurang akal, dibuatkannya rumah panjang yang telah dibagi-bagi sebagai satu kompleks permukiman warga Bajo di Popayato. Alasanya supaya tertata dan rapi. Namanya perkampungan “Torosiaje Laut”

“Istilahnya, desa tiga serumpun” kata ibu Rusmin. Toro artinya tanjung dan siaje artinya sehati. Torosiaje adalah bahasa Bajo. Menurut Andri salah seorang warga Torosiaje Laut, kini ada 334 KK di Torosiaje Laut. Andri adalah lulusan SMP di Popayato yang juga pemuda desa.

“Dulu, pada tahun 2002 belum ada jembatan” katanya. Di Desa Bumi Bahari yang telah bangun puluhan rumah itu terdapat desa Torosiaje Jaya, di sana ada SMK Perikanan/Kelautan. Secara keseluruhan ditaksir ada 700 KK di tiga desa itu.

Dari Andri saya mendengar rencana bertemunya rumpun Suka Bajo sedunia pada bulan Nopember ini. Tapi dia tidak yakin kapan tepatnya.

“Saya hanya dengar, beberapa warga pernah bilang” kata Andri.

Perkampungan ini bagaikan cincin yang dijalin oleh jembatan. Di setiap ruas jembatan terdapat rumah warga. Mereka mengikat sampan di samping atau di belakang rumah.

Pada siang hari kampung itu dibisingkan oleh deru perahu sampan yang membawa anak-anak sekolah atau warga yang pulang dari Popayato. Beberapa anak SMP berjalan di atas jembatan setelah didrop pada satu titik. Beberapa lainnya tetap di atas sampan dibawa ke arah lain. Inilah rutinitas mereka. Mereka menutup wajah saat kamera mengarah kepada mereka.

Beberapa orang tua jompo memandang kami yang bersiap kembali ke darat. Beberapa warga lainnya sedang santai depan rumahnya. Saya menyalam dan menyapanya.

“O Tikke ma Sulaya” O, dari Selayar, kata mereka saat mengetahui saya dari Selayar. Saya memang mengaku dari Bajo Selayar. Banyak orang Bajo percaya bahwa asal mereka dari Sulawesi Selatan. Dan, ada dua lokasi yang disebut sebagai pusat suku Bajo yaitu Bone dan Selayar.

Suasana Kampung Torosiaje (Foto: Kamaruddin Azis)

Di Kecamatan Popayato, Bajo Torosiaje, kini masuk secara administratif ke dalam tiga desa, ada Desa Bumi Bahari, dan Torosiaje Jaya bagi warga Bajo yang memilih tinggal di darat serta Desa Torosiaje (Laut) bagi yang tidak mau meninggalkan laut. Begitulah pemerintah memberi pilihan. Juga demi membangun rakyatnya, dengan embel-embel pariwisata ekologis dan sekat-sekat administratif.

Pertanyaannya, apakah pemerintah mau menanggung risiko sosial dan ekonomi bagi suku yang sejatinya lahir dan besar di laut ini?