Bisnis Online, Pilihan Modern Pebisnis Lokal

Suasana Sekolah Blog AstaMedia (Foto: AstaMedia)

Masa keemasan produk perkebunan seperti kakao bakal tamat. Pekebun dan pedagang kian ambruk. Padahal, jika mereka mampu membaca tren harga kakao dunia dari internet seperti yang dirilis berkala oleh situs Bloomberg maka tentu tak akan rugi. Banyak pedagang membeli berkarung-karung kakao dan menyimpan di gudang lalu menunggu buyers berharap harga selangit. Sayang, harga yang awalnya Rp. 15ribu perkilo, drop ke kisaran Rp. 11ribu. Ini  kutipan pak Natsir, pedagang dari Desa Pattedong, Ponrang, Luwu, Sulsel beberapa waktu lalu.

Hal serupa dialami oleh pedagang telur ikan terbang di Galesong, Takalar, banyak terlilit utang karena salah membaca tren. Dikiranya harga masih tinggi padahal anjlok dalam seketika. Derita pedagang kakao, telur ikan terbang, pelaku bisnis udang dan produk ekspor jamak didengar. Mereka pailit, berperkara dengan bank dan jatuh miskin.

Mengapa demikian? Terjadi situasi “informasi asimetris”, kata ekonom. Maksudnya, ada informasi bias ke pedagang lokal, tak lengkap, sepihak dan merugikan. Sementara pialang atau eksportir mampu prediksi tren harga. Selain faktor informasi, dari sisi kapabilitas dan kapasitas, para pelaku bisnis lokal itu tidak mampu mengoptimalkan fungsi media komunikasi modern sebagai piranti bisnis. Punya handphone tapi tak digunakan, ada jaringan internet tapi tak digubris.

Beralihlah ke Bisnis Online

Teknologi komunikasi telah berkembang pesat, mestinya pebisnis mampu menangguk untung. Kinerja perusahaan dapat dimaksimalkan dengan memanfaatkan  komputer, teknologi internet dan media komunikasi untuk membaca kecenderungan harga produk di pasar internasional. Bukan hanya mengecek, tapi  memasarkan produk, bertransaksi hingga akad kontrak para buyers via internet.

Bisnis onlne adalah bisnis yang dilakukan secara online dengan menggunakan media internet sebagai media pemasaran produk dan jasa. Dengan internet, alur bisnis seperti promosi, permintaan, restocking, hingga mendiskusikan klausul kontrak bisa dilakukan. Sayangnya, masih sangat rendah minat para pelaku bisnis mengalokasikan sumber daya untuk menguasai (occupy) ranah bisnis modern ini.

Jika dulu pelaku bisnis mengecek harga di media cetak atau telpon, kini internet adalah alternatifnya. Disadari banyak yang ragu karena maraknya penipuan tetapi dengan basis pendidikan, pengetahuan, ketekunan maka sisi positif akan dapat  dimaksimalkan. Ingat bahwa pelanggan (customers) makin butuh informasi komprehensif, praktis, cepat.  Para pebisnis mutlak hijrah ke bisnis online jika tak kehilangan momentum.

Saya membayangkan pak Natsir dan produsen lainnya memilih bisnis online. Membayangkan pengurus dan staf koperasi berbondong mengikuti Sekolah Blog, seperti AstaMedia Blogging School. Memajang biji  kakao, udang, telur ikan terbang ke website yang dibuat sendiri. Dengan bisnis online, transaksi pekebun di Luwu dan pabrikan cokelat dari Swiss bisa saja terjadi.  Menarik bukan?

Advertisements

Strategi Titik Balik Kelautan Nasional

Jalan panjang pengelolaan (Foto: Kamaruddin Azis)

Benua ‘maritim’ yang kelak bernama Indonesia ini dikenal sebagai kawasan kaya sumberdaya alam sejak abad ke 16. Bermula ketika masuknya pelaut (sekaligus agressor) Portugis, Belanda, Inggris dan beberapa negara lainnya. Potensi lekuk pegunungan, hutan lebat, rawa lapang dan laut luas jadi medan eksploitasi para pemangku kepentingan untuk diolah dan dikomersilkan. Terbukanya hubungan dagang dengan berbagai bangsa di dunia menjadi pemicu mengapa banyak pedagang dari Eropa yang menyasar kawasan ini.

Beberapa tahun kemudian, di tiga dasa warsa terakhir, bangsa ini akhirnya menyadari bahwa belum ada dampak signifikan atas pola pemanfaatan sumberdaya alam untuk menuju kondisi kesejahteraan rakyat seperti yang diidam-idamkan dalam undang-undang dasar negara. Dilema potensi kelautan salah satunya. Dinamika politik yang dicirikan oleh lemahnya penegakan hukum menjadi pemicu mengapa fondasi ekonomi nasional belum menemukan titik baliknya untuk mengantar bangsa ini ke cita-cita pendiriannya.

Saat ini, di saat negara sedang mengalami krisis untuk pulih pada semua dimensi, seperti sosio-politik, ekonomi, ekologi, penegakan hukum, nampaknya dibutuhkan strategi jitu yang bisa memaksimalkan setiap potensi yang ada. Kelautan adalah salah satu penopang ekonomi nasional. Kelautan yang dimaksudkan di sini adalah manifestasi kawasan yang masih dipengaruhi oleh dinamika oseanografi yaitu pesisir, laut dan pulau-pulau kecil. Segala hal yang terkait di dalamnya seperti perhubungan, tata ruang dan permukiman, perikanan, pariwisata, industri perkapalan, navigasi dan dimensi sosial ekonomi budaya serta politik yang menyertainya.

Titik Balik

Walau tidak tepat, dimensi Kelautan kerap diidentikkan oleh potensi perikanan. Beberapa dekade silam, produksi perikanan laut dalam dan dangkal telah menjadi sumber pendapatan bagi negara walau pada beberapa titik telah mengalami penurunan kuantitas sampai 31 persen seperti terumbu karang karena penggunaan bom dan bius, atau ekosistem bakau yang semakin menyempit dari 4,3 Juta hektar pada 2006 atau tidak lebih 25% dari luas bakau dunia, kini semakin berkurang atau rusak hampir setengahnya karena konversi untuk pertambakan dan permukiman.

Kedua ekosistem penting ini tergerus karena pemanfaatan untuk kepentingan ekonomi. Terkait industri perikanan nasional dari perikanan tangkap, diduga carrying capacity nasional semakin berkurang karena serbuan nelayan asing dan keterbatasan teknologi dalam negeri. Hal ini diperparah oleh ketidakmampuan aparat negara melindungi wilayah-wilayah potensial tersebut. Jadi jangan heran jika kemudian, garam, ikan pun kini diimpor. Ikan yang berasal dari negeri ini kemudian diimpor karena bangsa lain yang memanfaatkannya.

Jika melihat luas perairan umum Indonesia saat ini yang mencapai 50 juta ha dengan potensi perikanan 10 juta ton dan yang dimanfaatkan baru sekitar 0,5 juta ton maka sebenarnya masih terbuka peluang bagi semua pihak, negara, masyarakat dan perusahaan kelautan untuk mengembangkan industri perikanan tangkap.

Menurut Mantan Menteri Kelautan, Prof Rokhmin Dahuri, walau terdapat beberapa penurunan kuantitas wilayah perairan Indonesia namun perikanan budi daya laut yang mencapai 24 juta ha berpotensi menghasilkan 42 juta ton, yang pemanfaatannya masih  8%. perikanan budi daya tambak memiliki potensi 1,2 juta ha dengan produksi 10 juta ton. tetapi baru dimanfaatkan 9,9%. Belum lagi potensi perikanan budi daya lainnya dan tangkap seluas 672,9 juta ha dengan potensi produksi mencapai 65 juta ton. Namun, produksi perikanan nasional pada 2010 baru 10.39 juta ton atau 16% dari potensi yang ada 65 juta ton.

Beberapa negara di Asia seperti China, Thailand, Philipina mulai melaju dengan produksi perikanan tangkapnya. Memang, Indonesia masih masuk ke urutan ketiga dunia namun ini semakin mengkawatirkan mengingat semakin kisruhnya pengawasan lalu lintas kapal perikanan di perbatasan. Dibutuhkan upaya untuk menapak langkah baru dalam mengembangkan memulihkan potensi kelautan ini. Bukan hanya pada aspek teknis perikanan, tetapi terkait kapasitas para pemangku kepentingan, pemerintah dan organisasi pengelola yang ada baik itu pariwisata, perhubungan, industri maritim dan lain sebagainya.

Pilihan Strategi

Lalu strategi apa yang dapat ditempuh agar keunggulan potensi kelautan yang pernah ada serta karakter sosial budaya maritim itu kembali menggeliat? Strategi apa yang bisa memberi harapan bagi pilar ekonomi nasional dengan memanfaatkan sumberdaya kelautan ini? Jika mencermati situasi internal dan eksternal para pemangku kepentingan baik pada level masyarakat (grass root) hingga pemerintah pusat maka ada beberapa pilihan strategi:

(1)          Reformasi birokrasi melalui formulasi visi dan kebijakan nasional yang mengarusutamakan kelautan sebagai fokus pembangunan. Disebut arus utama jika semua aspek mengarah pada pengelolaan potensi sumberdaya manusia dan pesisir dan laut untuk mendukung ekonomi nasional. Pengambil kebijakan negara ini harus percaya bahwa dengan pengelolaan sumberdaya pesisir dan laut yang efektif akan berdampak pada peningkatan pendapatan nasional yang signifikan. Potensi terumbu karang untuk perikanan dan pariwisata dapat menggenjot devisa dan ekonomi warga, demikian pula dengan ekstensifikasi dan intensifikasi perikanan yang lebih praktis dan berkelanjutan.

(2)          Konsistensi dan Penegakan Hukum. Usaha pemanfaatan sumberdaya alam membutuhkan koridor regulasi dan dibarengi dengan penegakan hukum atau perundang-undangan yang konsisten. Selain itu, perlu dukungan dan jaminan kepada sektor ril perikanan agar tidak mudah terganggu oleh gejolak politik dan ekonomi dunia. Sebagaimana diketahui bahwa dampak langsung misalnya kenaikan harga minyak dapat berdampak pada nelayan kecil atau pengusaha perikanan dalam pemenuhan kebutuhan operasional seperti bahan bakar, dan lain sebagainya.

(3)          Pengelolaan Kolaboratif. Kelautan sebagai area kompleks harus dikelola secara kolaboratif. Olehnya itu diperlukan kesepakatan antar aktor untuk saling berbagi kapasitas dalam memanfaatkan sumberdaya yang tersedia. Sebagai misal, pemanfaatan hasil perikanan tangkap tidak akan lancar jika tidak dibarengi sarana prasarana perhubungan laut yang memadai. Pabrik es atau cold storage yang siap sedia. Demikian halnya dalam mendorong kolaborasi yang sinergis antara pemerintah, private sector dan masyarakat sipil kelautan.

(4)          Peningkatan Kapasitas Para Pemangku Kepentingan. Diperlukan penguatan kapasitas melalui pelatihan produksi serta pengelolaan yang mengadopsi keseimbangan antara produksi dan konservasi. Di sini ditekankan pada pentingnya mengadopsi cara eksplotasi yang ramah lingkungan dan berkelanjutan

(5)          Penguatan Kerjasama dan Jaringan Usaha. Mengingat wilayah pesisir Indonesia satu sama lain sangat berjauhan dari faktor produksi maka diperlukan interkoneksitas antar wilayah untuk saling berbagi data, informasi termasuk input produksi. Dengan Di sini dibutuhkan fasilitator dan akselerator usaha yang praktis dan efisien.

Melanjutkan Spirit Perlawanan dari Takalar

Nama-nama seperti H. Dewakang Dg. Tiro, Daradda Dg. Ngambe, Abu Dg. Mattola dan Abd. Manna Dg. Liwang mungkin asing di telinga generasi muda Takalar atau Sulawesi Selatan secara umum. Padahal keempatnya merupakan sosok penting yang gigih memperjuangkan lahirnya pemerintahan Kabupaten Takalar. Karena merekalah, gagasan kabupaten otonom Takalar bergulir.

Tidak mudah, sebab saat itu Takalar telah digabung dengan Jeneponto. Urusan administrasi pemerintahan berada di Bontosunggu. Sesungguhnya, Takalar adalah daerah Onderafdelling yang tergabung pada Daerah Swatantra Makassar, meliputi Jeneponto, Gowa, Maros dan Pangkep.

Dalam upaya mencapai tujuan perjuangan tersebut, dibentuklah tim kecil yang menyuarakan aspirasi masyarakat. Mereka, para tokoh itu, segera menghadap ke Pemerintah, baik legislatif maupun eksekutif. Mereka menghadap Gubernur Provinsi Sulawesi Selatan di Makassar guna menyalurkan aspirasi dan tuntutan masyarakat supaya Takalar bisa berdiri sendiri. Tentu dengan segala macam argumentasi. Landasannya jelas, spirit meneruskan perjuangan dan kebebasan mengelola sumberdaya pemerintahaan di Takalar didasarkan pada kompetensi, kapasitas dan kapabilitas berdasarkan latar belakang masing-masing.

***

Dua tahun kemudian, yakni tahun 1959 terbitlah Undang-Undang Nomor 29 Tahun 1959 (LN No. 74 Tahun 1959) tentang pembentukan daerah-daerah Tingkat II Sulawesi Selatan dimana Kabupaten Takalar berdiri sendiri sebagai satu kabupaten dengan ibukota Pattallassang berdasarkan Perda No. 13 Tahun 1960. Bupati pertama bernama Donggeng Dg. Ngasa seorang pamongpraja senior.

Pemerintah provinsi saat itu melihat kegigihan dan keberanian untuk mengelola pemerintahan kabupaten sendiri. Sesuatu yang sebenarnya bisa diterima dan dipahami mengingat Takalar punya sejarah panjang perjalanan raja-raja kecil namun disegani seperti wilayah berdaulat Polongbangkeng, Sanrobone dan Galesong.

Ada hal menarik dalam proses menuju kabupaten otonom itu, yaitu bahu membahunya para Karaeng, atau Lo’mok (semacam penguasa wilayah) yang sepakat untuk melebur kekuatan dalam membangun kabupaten/distrik. Mereka cairkan ego dan sepakat berbagi posisi sebagai penopang Bupati terpilih yang memang “pamong sejati”. Keturunan Raja dari pesisir Galesong hingga Sanrobone berbagi kapasitas demi terwujudnya Kabupaten Takalar. Sosok penting dalam proses pemerintahan itu adalah Keturunan Raja Galesong, H. Bostan Daeng Mama’ja. Karaeng dari Galesong ini mendapat posisi penting sebagai pembantu Bupati.

Dua Pahlawan Nasional

Pada kacamata sejarah dan sosiologi pemerintahan, spirit perjuangan menuju kabupaten Takalar otonom itu merupakan titisan perjuangan para pendahulunya dalam merebut dan mempertahankan kemerdekaan, bahkan bermula dari perlawanan pada Belanda semasa pemerintahan Kerajaan Gowa.

Dahulu, wilayah ini merupakan basis pertahanan Gowa yang ditunjukkan oleh pendirian benteng mulai dari Barombong hingga Sanrobone. Bahkan salah satu penentang Belanda dan Arung Palakka adalah Karaeng Galesong yang memilih meneruskan perlawanan dari laut selat Makassar kala Gowa takluk di tahun 1669. Sejarah mencatat bahwa pergolakan dan perlawanan sungguh-sungguh dan tangguh itu datang dari selatan Gowa.

Di wilayah administratif Provinsi Sulawesi Selatan, hanya Kabupaten Takalar yang mempunyai dua pahlawan nasional! Yang pertama adalah Ranggong Daeng Romo, ditetapkan tahun 2001, kedua Pajonga Daeng Ngalle Karaeng Polongbangkeng (2006). Mempunyai dua sosok pahlawan nasional rasanya membanggakan dan luar biasa. Jika misalnya, Karaeng Galesong yang kesohor itu juga disemati predikat pahlawan nasional, maka Takalar akan punya tiga pahlawan nasional. Para pejuang itu tentu menyimpan dimensi yang layak diapresiasi dan dibanggakan. Mengapa mereka begitu istimewa?.

Ranggong Daeng Romo, lahir kampung di Kampung Bone-Bone, Polongbangkeng, Sulsel pada tahun 1915. Beliau wafat pada 27 Februari 1947. Ranggong menempuh pendidikan di Hollands Inlandsh Schooldan Taman Siswa di Makassar setelah sebelumnya menimba ilmu agama di salah satu pesantren di Cikoang. Ia bekerja sebagai pegawai sebuah perusahaan pembelian padi milik pemerintah militer Jepang ketika menduduki Sulawesi. Ranggong muda dikenal karena memimpin penyerangan ke konsentrasi pasukan KNIL Belanda beberapa kali.

Pejuang lainnya adalah Pajonga Daeng Ngalle Karaeng Polongbangkeng, dia tipe pemimpin berwawasan luas dan mampu menggerakkan potensi pemuda melalui organisasi modern seperti “Gerakan Muda Bajeng”. Bukan hanya bermodalkan keberanian, dia juga terampil dalam mengorganisasi diri. Sebelumnya, Pajonga turut menghadiri konferensi raja-raja Sulawesi Selatan di Yogyakarta untuk mendukung pemerintahan Sulawesi Selatan di bawah komando Gubernur Sam Ratulangi.

Pajonga mengakui wilayahnya merupakan naungan Republik Indonesia. Pajonga juga berkolaborasi dengan Wolter Monginsidi untuk melawan tentara Belanda dengan membentuk Laskar Pemberontak Rakyat Indonesia. Sungguh dia elite sekaligus pemimpin yang gigih.

Kecenderungan Kini

Nampaknya, secara sosiologis, membahas sejarah dan spirit kuat pergerakan sosial dan upaya menuju formasi pemerintahan sendiri di wilayah Takalar tidak bisa dipisahkan dari pengaruh tradisional penguasa lokal seperti pengaruh raja-raja lokal (Karaeng), dan otoritas kharismatik pada ulama-ulama atau penganjur agama Islam melalui pesantren-pesantren yang ada. Banyak tokoh penting di bentang sejarah Takalar merupakan pemuda keturunan raja yang juga terdidik baik di bangku pendidikan modern.

Mereka juga tekun membaca kitab-kitab keagamaan. Sebagaimana diketahui keturunan Sayyed (Syekh) banyak ditemukan di Takalar terutama di pesisir Sanrobone, mereka inilah yang memompa semangat perlawanan dengan menggelorakan kebenaran di atas segala-galanya dengan basis agama Islam.

Sebagai bagian dari kerajaan itu, para pemuda bertahan dan mencoba mengambil peran di “otoritas birokratis negara” seperti saat Belanda dan Jepang masih bercokol di Takalar. Namun mereka tetap bersiasat untuk menyusun agenda-agenda pembebasan, mereka tidak lengah pada janji Belanda. Mereka tidak betah di zona nyaman sebagai penguasa namun haknya dikebiri. Ini terlihat bagaimana mereka diterima, dididik namun akhirnya dikejar-kejar sebagai pembangkang atas rencana-rencana busuk Belanda pasca deklarasi kemerdekaan kita di tahun 1945. Semesta Takalar bergelora, rakyat atas komando keluarga raja dan pemuda terdidik serentak melawan kesewenang-wenangan, dominasi dan kebengisan KNIL Belanda.

Kini, di kondisi kontemporer pemerintahan dan situasi politik yang berkelindan tak menentu, saat hampir semua kabupaten/kota bahkan nasional, ditemukan adanya pergumulan spirit nasionalisme demokratis dengan agama. Antara bicara demokrasi dan pengarusutamaan nilai-nilai agama ada situasi lain, ketidakharmonisan pemerintahan dan ketidakefektifan birokrasi dalam melayani kebutuhan warga, termasuk cap “mis-management” yang banyak melekat di pemimpin-pemimpin modern.

Banyak kabupaten/kota didera masalah yang sama, korupsi dan ketimpangan sosial. Elite seperti berjalan sendiri, berjalan dengan simbol-simbol demokratis, religius namun menumpuk kekayaan sendiri dan melupakan akarnya. Mereka melupakan esensi perjuangan pendahulunya, para pahlawan nasional yang telah mencapai 191 orang (pertahun 2010).

Di Indonesia, saat makna otoritas kemuliaan status dan kharisma pengetahuan tentang islam kini semakin memudar, yang mengemuka adalah birokrat yang tidak jelas kandungan moral dan pemihakannya. Bisa jadi benar dugaan peneliti Islam dan Kekuasaan di Sulawesi, Thomas Gibson dalam bukunya “Narasi Islam dan Otoritas di Asia Tenggara” (Ininnawa 2011), bahwa model simbolik seperti ajaran agama, bahkan ilmu mistik yang dulu dimaknai sebagai kesadaran yang berubah dianggap (sebenarnya) masih memberi ragam alternatif atau kemungkinan yang lebih baik.

Namun jika melihat kecenderungan kini bahwa “kekayaan dan materi” semakin mendominasi kekuasaan atau pemerintahan, maka, sepertinya kita telah kehilangan pengetahuan simbolik (keagamaan) itu, dia berubah menjadi dominasi kekuasaan belaka yang tanpa nilai. Sesungguhnya, kita bisa menarik pembelajaran dari para pejuang Takalar dulu. Bersekolah, disiplin dan terampil dalam urusan agama. Mereka adalah penggerak perlawanan dengan modal pengetahuan (ahli), mereka bersekolah agama, terdidik dan berani mengambil keputusan.

Kesan bahwa kekuasaan dan otoritas tradisional keluarga bangsawan sebagai penghambat kemajuan ekonomi dan spiritual ternyata tidak terbukti, mereka bahkan mendapat gelar pahlawan nasional. Mereka tidak tenang saat hendak dimanja kekuasaan dan materi oleh Belanda. Rakyat Takalar mestinya berbangga, paling tidak malu jika spirit perlawanan dan kecemerlangan laku para pejuang itu tidak diejawantahkan dalam kehidupan sehari-hari.

2012: Memilih Dadu atau Menuju Titian?

Dadu (sumber: bloggingmoneystream.com)

Dadu dilempar mata berputar. Ada yang berbinar ada pula yang memudar. Nasib diadu dengan dadu. Hidup juga kerap dibegitukan, jika enggan melewati pergumulan hidup dengan ikhtiar, beberapa dari kita kerap menjatuhkan pilihan pada dadu, pada undian, pada perjudian nasib.

Sebagaimana hidup dan transformasi ke arah perubahan yang lebih baik, jembatan atau titian keberhasilannya adalah variable waktu. Mengapa waktu? Sebab dengan waktu kita dapat membandingkan “apa” yang nampak saat kita berangkat dan apa yang “berubah” atau berbeda saat kita sampai di tujuan, ketika kembali (di kemudian hari).

***

Pada tanggal 31 Desember 2012, pada pekik dentuman petasan di puncak Tinggi Moncong, Malino saya merenung sejenak di bilik dingin. Di luar, orang-orang sedang berpesta kembang api. Saya mencari alur waktu hingga muncul pertanyaan, “Hei, tahun 2012 bersiap melintas, jika mau ikut dengannya, sila pilih pasrah pada dadu nasib atau kita memilih naik titian ke seberang dan tetap fokus di tujuan?”.

Analogi di atas mungkin kurang pas. Tapi itu yang mengemuka. Dadu dan titian merujuk kepada pentingnya aplikasi pengetahuan dan pengalaman untuk menjalin tujuan hidup. Walau titian besi bisa roboh, titian kayu apalagi. Saya tergoda menyebut kata “titian temali”. Pada beberapa kesempatan, pertama di Kamanre, Luwu dan kedua di Pidie Aceh, saat melewati jembatan temali itu. Menginjakkan kaki di atasnya, saat itu tidak tenang namun bahagia membuncah seketika satu kaki telah sampai di tujuan.

Di tahun 2012 ini, saya tidak ingin bilang bahwa saya memilih pijakan yang mendebarkan lalu berakhir mengesankan. Sebab sebagaimana hidup, kita memang harus selalu bergerak. Menyasar tujuan dan menyadari bahwa tidak ada yang mudah. Hidup adalah serupa titian temali yang bergoyang dan itu bisa saja mendebarkan. Bisa terjengkang atau melenggang ringan ke tujuan.

Lalu apa yang mesti diupayakan di tahun 2012?

Tahun ini merupakan tahun terakhir di salah satu proyek yang saya menyebutnya yang terbaik dari yang pernah saya lewati. Proyek sebelumnya tetap asik karena sarat pembelajaran. Sejak bekerja di Aceh pada kurun 2006-2008 pertengahan, saya mengalami transformasi yang saya kira luar biasa. Jika sebelumnya dikerangkeng oleh rutinitas yang kering, maka di tahun 2008, saya menyadari adanya gairah baru dalam transformasi personal saya ke satu entitas baru yang menghangatkan: belajar menulis!

Jika selama ini terkungkung pada luaran-luaran personal, seperti amanah materi dan kesenangan, punya istri, rumah, anak-anak,  di tahun 2008 itu saya menemukan banyak kawan, banyak rekan yang ikhlas berbagi ilmu, gagasan dan mediasi. Saya menemukannya di komunitas kepenulisan, blogging dan para pekerja sosial yang cerdas dan berdedikasi.  Dan, bekerja pada proyek yang memberikan kesempatan jalan-jalan tentu sepadan dengan nikmat belajar menulis itu.

Sejak itu, sebagai pekerja sosial saya menemukan oase ilmu yang tak habis-habis.  Saya dapat setelah gairah itu disentil pada kepekaan sekitar dan mengkomunikasikannya ke pihak lain melalui tulisan. Di social media, saya menemukan banyak kawan, ide, kehangatan perkawanan, ketulusan dan pembelajaran yang tak usai.

Rasanya setelah menulis buku sederhana di tahun 2009, saya harus “menebusnya” untuk menuliskan buku baru (lagi). Banyak remah catatan yang bisa disunting untuk dibukukan. Oleh karena itu, di tahun 2012 ini saya ingin menulis paling sedikit 3 buku. Insya Allah.

Jangan mengundi nasib, kita mesti meniti jembatan pengetahuan atau pengalaman yang telah ada, toh kita punya banyak sahabat yang rendah hati untuk menuntun kita belajar lebih gigih.

Sungguminasa, Januari 2012

Blogger Makassar Bahas Isu "Climate Change" Bersama Cipu

Bumi yang panas (sumber: http://www.whataretheywaitingfor.com/global-climate-change.html)

Jumat malam tanggal 23 Desember 2011 jadi istimewa bagi Komunitas Blogger Anging Mammiri di Café IGO, jalan Pelita Raya. Apa pasal? Tudang Sipulung yang digelar tiap bulan oleh salah satu komunitas terbesar di Makassar itu sukses menghadirkan Cipu alias Saefudin Suaeb sebagai narasumber, Cipu begitu ia dipanggil terkenal dengan www.okkots.com yang dia kelola. Dia akrab dengan blogger AM.

Nah, saat itu dia siap dengan tema yang rada berat namun penting: isu Climate Change!

Efek Rumah Kaca.

Banyak yang tidak percaya bahwa ternyata setelah China dan Amerika, Serikat, Indonesia adalah negara ketiga dengan produk biomass yang banyak terbakar, dalam hal ini karbon! Jika dua negara pertama terkenal karena idustrinya, maka Indonesia terkenal karena industri dan produksi pembakaran karbon dari hutan!

Istilah rumah kaca adalah satu wilayah di atas muka bumi yang membungkus dan menyimpan energy panas bumi.

“Tanpa gas rumah kaca, suhu bumi bisa minus 18 deraja. Gas rumah kaca ibarat selimut dan akan mengembalikannya ke bumi” kata Cipu, mahasiswa pada salah satu universitas di Melbourne asal Sidrap.

“Ada tiga komponen utama gas rumah kaca yaitu CO2, CH4, N2O. Semakin bertambah dan semakin tebal semakin panaslah bumi, Inimi yang disebut global warming. Senyawa itu akan tinggal selama bertahun-tahun” papar Cipu yang tampil santai dengan celana pendek.

Cipu menyitir data dari NASA Amerika yang menampilkan tren bertambahnya senyawa itu dari tahun ke tahun,dari abad kea bad demi menegaskan bahwa ada perubahan signifikan sejak era industrialisasi semakin menemukan titik nadirnya.

Rujuan NASA adalah dengan melakukan riset kadar methan yang dibor untuk melihat ada gelembung-gelembung udara dan disampel. Pilihan kedua untuk melihat tren itu adalah dengan mengamati penampang pohon. Di garis sebuah pohon, kalau garis tebal, bahwa pernah ada banjir besar, kalau tipis pernah ada kekeringan hebat.

Ada beberapa jenis pemanasan rumah kaca. Methan dari pembakaran bensin, bbm, kedua dari padi.karena menggunakan pupuk sintetis dan bisa tinggal selama 12,5 tahun di atmosfir.

“Kotoran sapi itu sumber methan” imbuh Cipu.

“Selain itu ada beberapa senyawa lain seperti CFC-12 dari AC yang akan bertahan selama 102 tahun di atmosfir dan akan lebih merusak. Ada juga HCFC-22, perfluoromethane” sambungnya.

Dampak Climate Change

Pertama: Sea level rise. Yaitu bertambahnya muka air laut. Cipu mengambil contoh negara Bangladesh, yang memasang tanggul pada beberapa wilayah pantai untuk mencegah air naik.

“Bangladesh itu sangat landai, kalau air naik satu meter, maka akan berdampak sampai 5 meter. Demikian halnya di negara Pasifik bernama Tuvalu, merupakan pulau karang dan kini mulai terancam oleh air yang semakin tinggi” kata Cipu.

Menurut Cipu, Tuvalu, negeri di Pasifik, lahan tertinggi hanya 4 meter di atas permukaan laut. Pernah terjadi di 2007 dan sepertiga dari budget u/ rekonstruksi. Siklus hidrologinya semakin parah. Kedua, Ocean acidification, kenaikan asam ph 01, .0,2 bertambah, tapi tidak berlaku untuk terumbu-terumbu karang dan perubahan suhu. Negara2 sepeti Maldives, disebut sebagai “the sinking titanic going to be”

Ketiga, Desertification, lahan tandus, jadi gurun, akan semakin luas. Keempat, Extreme weather, kenapa 1 derajat menjadi masalah? Ada pertanyaan penting mengenai efek rumah kaca ini. “Kenapa gas rumah kaca tidak keluar via ozone?”. Menurut Cipu, ozone berada di lapiran atmosfer atas. Lapisan rumah kaca memanaskan, saat lapisan ozon makin tipis malah akan menambah panas suhu bumi.

Apa yang bisa dilakukan? Kurangi konsumsi daging, atau kurangi penggunaan bahan bakar minyak yang berlebih, sebab dengan itu akan menambah kandungan senyawa berbahaya di udara. Atau, naik sepeda sebagai pengganti mesin!