Menyelam Kece di Tubir Hoga

Gowa, 25 Mei 2017. Thanks Ufu, Thanks Cyber!

Akhirnya foto tertanggal 31 Agustus 2013 itu terlihat jua. Pagi ini saya sedang menyigi koleksi foto dari folder Wakatobi dan mendapati berlembar-lembar foto tenang teronggok di perairan Pulau Hoga, Wakatobi. Sudah bertahun-tahun mencarinya.

Thanks Ufu, Thanks Cyber!

Akhirnya foto tertanggal 31 Agustus 2013 itu terlihat jua. Pagi ini saya sedang menyigi koleksi foto dari folder Wakatobi dan mendapati berlembar-lembar foto tenang teronggok di perairan Pulau Hoga, Wakatobi. Sudah bertahun-tahun mencarinya. Alasannya karena momen di foto ini sungguh tak biasa, setidaknya bagi saya yang nekat menyelam hingga ke 20an meter meski telah bertahun-tahun tak menyelam. Bekal saya adalah lisensi 1 star CMAS dan pengalaman menyelam di belasan 12 meter seperti di Taka Bonerate dan Pulau Kapoposang.

IMG_4823
Dipandu Cyber

Dua sosok yang bertanggungjawab di momen itu adalah Mirwan Anugerah alias Cyber dan Laode Ma’ruf alias Ufu. Kala itu mereka ikut jadi peserta pelatihan pembangunan masyaraat desa bersama peserta dari negara Myanmar dan ikut serta ke para peserta pelatihan dijami Bupati Wakatobi, Hugua di pulau Hoga. Hadir pula Duta Besar Myanmar untuk Indonesia kala itu. setelah acara darat, beberapa tamu ikut snorkeling atau menyelam termasuk dengan Duta Besar Myanmar dan Hugua. Kami yang lain, tepatnya bertiga memilih jalur lain.

IMG_4828
Yuhu!

Ufu dan Cyber adalah alumni Kelautan Unhas dari angkatan 2005 dan berpengalaman menyelam, free diver dan juga pemegang lisensi A2/A3. Dengan latar belakang dan pengalamannya itu saya merasa siap untuk bersama mereka benam-nyelam di tubir perairan Pulau Hoga, Wakatobi yang kesohor itu. Jika ada hal yang lebih membanggakan itu karena saya senior mereka di Kelautan. Tsah!

“Di sini banyak ikan-ikan besar dan spong raksasa kak,” kata Ufu memberi intro. Cyber memberi petunjuk tentang pernak-pernik gear, kesiapan dan langkah-langkah aman di dalam air. Saya mengangguk meski terus terang debar di dada mengalahkan debar saat melihat Angelina Jolie. Saya mencoba optimis dan menganggap ini adalah momen kece menyelam di salah satu sudut Wakatobi.

“Kau Ufu, tugasmu mengambii momen, saya sama buddy Cyber saja,” kataku sebelum perlahan menekan deflator. Ufu yang berpengalaman segera mendahului kami, dia menyelam seperti seekor dugong dari perairan Pulau Runduma. Kala itu, saya merasa seperti seleb dunia maya yang sedang berproyek underwater photography.

Tenang. Pelan. Kami bergerak ke arah utara. Arus yang lumayan kencang di musim timur membuat kami memulai entry di sisi selatan. Harapannya biar naik di utara dan dekat dengan pantai utama. Ikan-ikan ekor kuning, ikan-ikan kakatua, ikan beronang, kakap, dan beragam ornamental fish menjadi penyapa di penyelaman kami Cyber tak henti memberi kode, menanyakan ihwalku.

IMG_4831

IMG_4834

IMG_4849
Ikan-ikan Hoga

Beberapa kali saya melakukan ekualisasi. Ini hal lumrah kalau anda menyelam, semakin dalam semakin kuat tekanan pada rongga napas kita. Jadi jangan panik. Saya ingat anjuran para instruktur selam saya waktu di Ilmu Kelautan Unhas nun lampau, jangan panik, tetap tenang.

Ufu nampaknya sangat menguasai dive spot itu (ya iyyalah, secara dia lahir dan besar di Pulau Kaledupa, di seberang Hoga!), dia menunggu kami di depan satu belokan tubir yang terlihat kece. Dia mengambil gambar seolah kami baru saja melintasi belokan tajam. Di samping satu Spong raksasa, Cyber yang terkenal jahil di laut itu memasukkan tangan kanannya ke dalam mulut spong seperti tersedot. Saya menarik tangannya, menahannya. Dia seperti tergelak dalam air.

“Kurang ajar ini anak,” saya membatin. Suasana kembali tenang damai saat Ufu memberi kode untuk segera siap difoto.

IMG_4836
Ekualisasi
IMG_4840
Are you, OK?

Kami bergerak ke dalaman 15 meter, mendapati karang-karang unik dan ikan-ikan ekor kuning bergerombol. Cahaya siang menembus hingga ke pucuk-pucuk karang cabang Acropora. Tak lama di situ, saya dipandu Cyber untuk kembali netralkan diri dan dengan menghirup dan melepas napas saya mulai menguasai pergerakan. Anteng hingga ke 20an meter. Inilah pengalaman menyelam di tubir Pulau Hoga yang terkenal itu. beberapa penyelam menyebutnya di situ kerap ada ikan napoleon, penyu dan spesies-spesies ikan besar seperti pari, kerapu bahkan barakuda.

IMG_4848
Tubir Hoga
IMG_4841
Mulai nyaman
IMG_4844
Thanks Cyber!

Cyber memberi kode, saya melihatnya menggerakkan jempol tangan kanan, sementara telapak tangan kiri membuka. Apakah siap untuk naik? Saya mengiyakan setelah beberapa menit menyaksikan karang dan ikan-ikan penuh warna.

Di kedalaman sekira 9 atau 10 meter, kami berhenti semacam pitstop. Tak lama di situ saya menyelam dan naik sendiri, entah ke mana si Cyber dan Ufu. Saya naik dan bertemu di titik, tidak jauh dari dermaga Pulau Hoga, pulau yang jadi incaran turis Eropa yang haus keanekaragaman hayati biota laut Wakatobi, salah satu destinasi favorit di Indonesia bahkan dunia.

Kalian kapan ke sana, ke terumbu karang Pulau Hoga, Wakatobi yang kece itu?

Advertisements

Prosesi dan Hakikat Cinta Rama dan Suci

“Biarkan cinta bergerak senantiasa, bagaikan air nan hidup. Yang lincah mengalir antara pantai kedua jiwa.” Kahlil Gibran.

***

Di bulan Mei nan riuh, seorang pemuda yang lahir dan besar di Pulau Maluku berikrar setia pada gadis memesona dari pesisir Arungkeke, Je’neponto. Jumat, tanggal 19 Mei 2017 menjadi latar akad nikah mereka, menjadi tapak sejarah pencarian tulang rusuk yang diikat sah dan disaksikan sanak saudara, handai taulan, kerabat dan para tetangga.

Inilah cerita tentang pilihan mulia sepasang anak manusia yang menyatukan hati dan tekadnya melalui ikatan pernikahan, sebagaimana perintah Rasulullah SAW. Brahma, acap disapa Rama atau Abang adalah putra dari ibu Maryam Pelu, dan ayah asal Makassar (Mangkasara’), berasal-usul Kampung Rappokaleleng, Bontonompo, Gowa. Farsuci atau Suci adalah putri Bapak Amri Mahadi, sosok terpandang di Tanah Karaeng Arungkeke, Je’neponto.

Sebelum saya menceritakan pengalaman diri menjadi bagian dan saksi pernikahan mereka, ada baiknya saya urai proses ideal pernikahan ala Suku Makassar sebagaimana yang dipilih oleh kedua pasangan tersebut.

Proses pernikahan ala Makassar/Mangkasara’

Berdasarkan pengalaman penulis, pelaksanaan pernikahan setidaknya melalui 3 tahapan utama yaitu, pra-pernikahan, pernikahan dan pasca nikah. Pada pra-pernikahan ada penjajakan (biasanya dilakukan oleh calon dan keluarga, ke keluarga perempuan), lalu appabattu kana (melamar), appakajarre’ yaitu menyepakati atau menyatukan opini untuk sedia melaksanakan pesta pernikahan.

Pada tahap tersebut sudah dibicarakan bentuk sunrang (mahar dari pria), doe’ balanja (uang belanja atau uang pesta) dan perlengkapan lainnya atau erang-erang (barang hantaran), appanai’ Leko/angngerang-erang (Membawa barang antaran), ada dua tahapannya, appanai’ leko’ ada dua prosesi.  Ada istilah appanai’ leko caddi dan adapula appanai’ leko’ lompo.

Pelaksanaan pernikahan meliputi appanai’ kale bunting, dimana pengantin pria diantar ke rumah pengantin perempuan (di sini, pada malam sebelumnya dilaksanakan Akkorongtigi atau Malam Pacar), appabattu nikka (‘Ijab qabul), nilekka’ atau mengantar pengantin perempuan ke rumah pengantin pria). Pada prosesi nilekka, pengantin perempuan diantar ke rumah pengantin pria dengan membawa pa’balasa atau  pa’matoang biasanya diserta barang hantaran ke pihak pengantin laki-laki.

Setelah acara pernikahan masih ada proses yang disebut Appa’bajikang, atau menyatukan tangan kedua mempelai dalam mengarungi mahligai rumah tangga sebagai sepasang baru.

Malam pacci atau akkorongtigi (foto: KA)

***

‘Bapak Intan saja yang bicara wakili keluarga ya?” ucap Iptu Baharuddin Rate saat kami bertemu di pertengahan April. Dia mengabarkan kalau kami akan ke Desa Arungkeke, Kabupaten Je’neponto untuk acara ‘Angngerang Leko’. Saya siap saja meski kemudian urung karena saya lupa bawa kopiah dan tak berjas. Yang berbicara mewakil keluarga calon pengantin pria adalah om Yuyu alias Bapak Rate begitu saya memanggilnya.

Saya ikut mengantar ketika proses ‘Angngerang Leko’ ke keluarga perempuan. Pada proses ini dibahas rencana hari H pernikahan, termasuk waktu kedatangan. Saat itu, disepakati tanggal 19 Mei 2017 atau hari Jum’at sebagai hari pelaksanaan akad nikah. Termasuk di dalamnya waktu yang disepakati untuk keluarga pengantin pria datang ke Arungkeke, Kabupaten Je’neponto serta perkiraan pelaksanaan ijab kabul.  Jarak dari rumah Brahma Kasim di Bukit Tamarunang, Gowa ke rumah kediaman calon pengantin perempuan sekira 2,5 jam.

Pada tanggal 19 Mei 2017, saya betul-betul merasakan sensasi tentang tahapan, makna dan proses kebatinan sebuah  pernikahan. Meski saya telah merasakannya tahun 1998 ketika menjadi pengantin, baru kali ini benar-benar merasakan sensasi setelah memperhatikan orang-orang, pelaku, bagian dari proses bernama perkawinan itu.

Maryam, Rama dan Om Yuyu (foto: KA)

Tanggal 19 Mei 2017 adalah hari akad nikah Rama, sepupu dari istri saya Sumarni G. Ningsih. Ayah dari Rama saudara dengan ibu mertua saya. Saya beruntung bisa menjadi bagian dari persiapan dan pelaksanaan pernikahan mereka. Tentang pernikahan mereka saya terkenang ketika pada tanggal 14 Mei 1998 kala datang ke rumah istri di Kakatua Makassar dari Galesong dan karena saat itu sedang demo hebat di Makassar, ada demonstran sempat berseloroh, ‘Sempat-sempatnya nikah padahal sedang krisis.”

Yang ingin saya ceritakan di sini adalah bagaimana sebuah pernikahan telah menggerakkan dan menggetarkan suasana kebatinan segenap anggota keluarga. Bagaimana proses pernikahan telah membuat orang-orang menjadi haru, empati dan takjub. Bagaimana upaya pengalokasian sumber daya untuk ihtiar mulia bernama pernikahan. Perhatian orang-orang, sarana prasarana dan tenaga.

Bat dan istri di malam korongtigi (foto: KA)

***

Saya membaca arti penting pernikahan sanak keluarga dari kesungguhan perjalanan keluarga Rama dari Maluku. Adalah Bat, saya memanggilnya begitu, adalah adik dari ibu Rama, yang telah tiba di Tamarunang, di rumah kami, bersama istri dan seorang anaknya. Bat adalah pegawai pada Dinas Pekerjaan Umum di Kabupaten Sula, Provinsi Maluku Utara. Saya mengenalnya sekira awal tahun 2000 ketika ia masih kuliah di Makassar.

“Saya datang ke Ambon dari Sula naik kapal malam,  kami berangkat bersama dari Ambon,” kata Bat saat saya tanya rute perjalanannya. Bersama Bat ada 5 keluarga lainnya, sanak saudara Pelu. Dari Ambon mereka naik pesawat ke Makassar.

Angngerang Bunting (foto: KA)

Layaknya perhelatan pernikahan ala Suku Makassar, ada satu bagian yang juga dianggap penting yaitu ‘Malam Pacar’ atau ‘Malam Korongtigi’, kerap disebut ‘Malam Mappacci’. Pada malam sebelum pengantin pria berangkat ke calon pengantin perempuan di Je’neponto, dilakukan proses ini yang dibarengi dengan barzanji dan pembacaan kitab-kitab. Ada pemimpin barzanji, anggota termasuk anak-anak. Disiapkan pisang dan kaddo’ minynya’ atau nasi berwarna kuning plus telur. Ada pula nasi hitam atau songkolo dalam bahasa Makassar. Para tetua menyebutnya sebagai simbiol kesejahteraan, semacam harapan kiranya sepasang pengantin tersebut, kelak, akan makmur sejahtera.

Suasana Malam Pacar berlangsung hikmat ketika satu persatu sanak saudara dan tetamu yang datang meletakkan korongtigi di telapak tangan calon pengantin pria. Di ingatan saya malam itu, ada yang datang dari Jalan Kakatua Makassar, Palopo, Biringkanaya, Antang, Pallangga, Ambon hingga Sula, termasuk Om Bat itu. Bukan hanya orang dewasa, anak-anak belia dan jelang remaja pun ikut memberi korongtigi diserta canda tawa.

Sambutan luar biasa di Arungkeke (foto: KA)
Disambut a’ngaru yang istimewa (foto: KA)

Keeesokan harinya atau sekitar pukul 07.00 Wita, terhitung 8 mobil bergerak beriringan dari Bukti Tamarunang, rumah Brahma Kasim, menuju Je’neponto. Saya, bersama istri bergabung dengan Ibu Ayu Makmur dan anaknya Winda. Ibu Ayulah yang mengemudikan mobil, kami berdua di belakang.  Selain Ayu dan anaknya yang datang dari Pallangga, di rombongan itu ada pengantar datang dari Salodong Biringkanaya, Jalan Kakatua II Makassar, keluarga dari Gowa, Ambon dan Sula.

Saya menikmat perjalanan ini. Menyaksikan hamparan tambak garam, pohon-pohon aren di sisi kiri-kanan jalan, hamparan persawahan serta lansekap Je’neponto yang sedang tranisisi dari musim barat ke timur. sesekali saya membuka kaca mobil dan menjepret panorama. Jalan ke rumah pengantin perempuan terbilang elok sebab beberapa saat sebelum masuk ke kawasan permukiman terlihat puncak Gunung Bulusaraung bertudung awan raksasa.

Kami tiba di Arungkeke dan mulai mengatur rombongan. Ada wahana yang dimaksudkan sebagai ‘kendaraan’ pengantin pria. Seperti hendak ditandu. Proses penyambutan di kediaman pengantin perempuan sungguh luar biasa. Keluarga Farsuci adalah keluarga disegani di Desa Arungkeke, salah satu wilayah strategis untuk Je’neponto.

Pada pagi jelang siang itu, pengantin pria naik ke wahana dan ditandu ke gerbang rumah pengantin perempuan. Keluarga pengantar berjalan beriringan bersama barang bawaan, pertanda ikatan.  Suasana haru terllihat ketika ibu pengantin pria terlihat terisak dan sesekali menghapus air matanya.

Keluarga om Yuyu di Je’neponto (foto: KA)
Suasana di Adi Jaya, Gowa (foto: KA)

Tidak kurang lima puluh orang yang mengantar pengantin pria pagi jelang siang itu. Sekali lagi saya dimandat oleh om Yuyu untuk meraih mikrofon dan menyampaikan sepatah dua kata sambutan sebagai tamu yang datang. Tak lama. Lalu setelah itu, saya menyaksikan prosesi jelang pernikahan yang didahului oleh A’ngaru yaitu proses ketika seorang pria memberikan penyataan tunduk dan patuh pada perintah tamu yang datang, dalam hal ini calon pengantin pria.

Di ingatan saya, a’ngaru terakhir yang saya lihat adalah kala masih kanak-kanak di Galesong ketika perayaan tammu taung Karaeng Galesong. Pada a’ngaru itu, ada badik terhunus sebagai penanda kesetiaan dan kesungguhan untuk memberikan pelayanan terbaik pada tuannya.

Setelah itu, dilanjutkan dengan prosesi Pamanca’, yaitu sajian silat oleh dua orang pria muda persis di depan calon pengantin pria. Pengantin lalu berjalan ke arah pintu rumah mempelai wanita dan dipandu oleh keluarga perempuan, seorang pria menyambut dengan untaian kata kalimat dalam bahasa Makaasar yang berisi penghormatan, sambutan penerimaan dan pesan-pesan kebaikan untuk mempelai.

Tibalah kemudian ketika pengantin pria diarahkan untuk duduk di atas serupa ranjang yang telah dihias dan disiapkan sebagai wahana ijab qabul. Di dekatnya telah disiapkan empat kursi berhadapan. Pengantin pria duduk menghadap ke timur dan Imam yang akan menikahkan menghadap ke barat.  Brahma lancar membaca Alfatihah serta tiga surah pendek lainnya untuk memastikan bahwa dia melek Aquran.

Sambutan tarian di Gowa (foto: KA)
Keluarga Suci yang mengantar ke Gowa (foto: KA)

Saya saat itu oleh om Baharuddin diminta menjadi saksi dan membubuhkan tanda tangan. Saya duduk di sebelah kiri sang Imam.  Brahma terlihat lancar dan mantap saat diminta mengulang akad. Hanya sekali dia ulangi untuk menegaskan pesan akadnya. Suasana skaral pernikahan sangat terasa di sini ketika keluarga pihak pria dan perempuan menyungging senyum pertanda akad nikah telah diucapkan dan diterima kedua belah pihak.

“Saya terima nikahnya, Farsuci Amri binti Amri…seperangkat alat shalat dan sebidang datang,” kurang lebih kalimat itu yang meluncur dari mulut Rama.

Setelah akad nikah, saya kemudian menuntun Brahma ke kamar yang disebut sebagai tempat pengantin perempuan menunggu suami yang baru saja mengucapkan ikrar itu. Tak mudah untuk masuk ke dalam sebab seorang perempuan paruh baya menahan kami masuk dan ingin melihat pengantin pria duluan. Brahma kemudian masuk, menyusul saya setelah memberikan pernyataan bahwa Brahma telah akad dan siap menemui wanita pujaan hatinya.

Ada keharuan saat melihat Brahma dan Farsuci bersitatap. Keduanya terlihat serasi dan pantas berjodoh. Setelah saling memasang cincin tanda ikatan, keduanya larut dalam tatapan mata, dalam bahasa cinta yang hanya mereka berdua yang tahu, telapak tangan keduanya bertemu, pernikahan ini telah mempertemukan dua hati. Dari Maluku ke Je’neponto, itu kalau boleh menyebutnya demikian.

Para pembaca…

Pernikahan memang selalu begitu, ada banyak orang yang bersukacita, mereka datang dari berbagai kalangan, kelas, latar belakang dan asal usul atas nama keluarga, atas nama solidaritas. Harapan mereka bisa dikatakan bermuara pada berjalannya pernikahan yang memang dikehendaki oleh kedua pasangan. Tentu saja agar berjalan lancar dan diberkahi oleh Allah SWT.

Kembali ke prosesi itu.

Saat pengantin pria dan perempuan telah duduk di pelaminan dan disertai foto-foto para pengantar dan keluarga dari kedua belah pihak, satu persatu pengantar menyampaikan terima kasih dan pamit pada keluarga besar pengantin perempuan. Saya pindah mobil dan pulang ke Bukit Tamarunang bersama istri, ipar perempuan, dan sepupu istri saya dan suaminya plus dua orang ponakan. Karena hari Jumat, kami kemudian Jumatan setelah lepas Kota Bontosunggu, Je’neponto.

Alhamdulillah, proses pernikahan lancar dan kami kembali ke Gowa dengan nyaman dan penuh suka cita.

Anak-anak yang bersuka-cita (foto: KA)

***

Tanggal 20 Mei 2017, giliran pengantin perempuan dan pria yang datang bersamaan dari Je’neponto ke Gowa. Keduanya diantar puluhan keluarga perempuan dan langsung merapat di Gedung Adi Jaya di Jalan Tumanurung, Kota Sungguminasa, Gowa pada waktu sekitar pukul 12.00 Wita. Kali ini yang menyambut adalah gadis-gadis penari Tari Paddupa, tarian sambutan untuk tamu-tamu terhormat yang disiapkan khusus untuk perjamuan kedua ini.

Suasana di Gedung Adi Jaya terasa meriah, meski tak terlalu luas namun adanya penempatan tiga titik untuk kursi dan meja jamuan sehingga bisa berjalan lancar.  Saat tetamu menikmati sajian, musik elekton pengiring ikut menambah suasana suka cita apalagi penyanyinya terlihat aktraktif.

Tetamu dari Tamarunang (foto: KA)
Tetamu luar biasa siang itu (foto: KA)

Bagi saya, acara ini terbilang istimewa, selain jumlah pengantar pengantin dari Jeneponto relatif banyak juga karena banyaknya tetamu yang datang. Selain dari Gowa dan Makassar, tamu-tamu dari keluarga di Galesong juga datang, keluarga dari Tindang, Bontonompo Selatan, Rappokaleleng, termasuk Haji Hamid dari Galesong Utara yang pernah beberapa kali datang ke Pulau Seram dan akrab dengan om Yuyu. Ada pula dari Nusa Tamarunang serta sahabat-sahabat istri saya yang bahkan ikut meramaikan dengan 1-2-3 lagu menarik.

Jika ada yang menyita perhatian siang itu, maka itu adalah anak-anak belia yang bersuka cita di dekat sepasang pengantin. Para kanak-kanak itu terlihat kagum pada sepasang yang tak henti-henti menyungging senyum, senyum kebahagian sebagai sepasang baru di bahtera bernama pernikahan.

Selamat berbahagia Rama dan Suci, semohga sakinah, mawaddah wa rahmah!

Tamarunang, 23/05/2017