Yang Berbeda dan Yang Berpesta

Moon and the sun (dari http://hanani-ey-halim.blogspot.com)

“Bagi yang berpuasa hari ini akan dosa” kata anak sulung saya. Masih pagi di tanggal 30 Agustus 2011, ketika istri saya menceritakan pesan darinya mengenai sesiapa yang berpuasa hari ini. Intan sedang ada di rumah  neneknya di Jalan Kakatua II, Makassar sejak tanggal 29 Agustus 2011. Dia mendengar dari orang-orang di sekitarnya.

“Siapa bilang dosa?” kataku. Saya masih berpuasa karena pemerintah belum memutuskan bahwa tanggal 30 Agustus 2011 akan jadi hari raya Idul Fitri atau 1 Syawal.  Toh dasarnya karena penggunaan alat bantu teknologi belum melihat adanya hilal.

Hal ini saya cermati dari siaran langsung dari Departemen Agama sehari sebelumnya. Dari beberapa utusan di acara yang disebut musyawarah mengenai penentuan hilal itu, hanya utusan organisasi Muhammadiyah yang saya lihat berbeda “dissenting opinion” mengenai ada tidaknya hilal. Memang, ada dua orang yang mengaku melihat hilal namun diragukan oleh sebagian besar peserta pertemuan seperti utusan dari NU, Persis, dan organisasi berbasis Islam lainnya.

“Kasihan juga melihat utusan Muhammadiyah cenderung disudutkan di forum itu” kata Ulil Abshar Abdalla di akun Twritternya.

Muhammadiyah menyitir hadist yang menyebutkan bahwa pengakuan seseorang yang melihat hilal dapat diuji dan dibenarkan jika yang bersangkutan mau disumpah. Itulah yang saya dengar dan lihat di pertemuan bertajuk nasional itu.

Ada perbedaan. Konsekuensinya ada yang melaksanakan salat Idul Fitri tanggal 30 Agustus 2011, sebagaimana yang dirasakan dan didengar oleh anak sulung saya itu. Sebagai anak-anak dia hanya mendengar akan ada dua waktu pelaksanaan salat hari raya Idul Fitri. Konsekuensi yang berujung pada klaim, penilaian dan cenderung menggeneralisasi predikat.

Sejatinya tidak perlu menjadi konflik atau klaim kebenaran. Inilah dinamika beragama.

Bukan hanya Intan, anak saya itu. Banyak warga lainnya memutuskan dan menilai sendiri predikat bagi yang melaksanakan salat Idul Fitri di hari Selasa, menilai siapa yang masih berpuasa, siapa yang berlebaran tanggal 31 Agustus, dan seterusnya. Nyaris tanpa cross check. Tanpa konfirmasi.

Terlepas dari polemik dan argumentasi yang dikandungnya tanggal 29 Agustus itu bunyi petasan, kembang api, sorak sorai, dan hiruk pikuk warga memeriahkan malam tanggal 30 Agustus 2011. Mal-mal yang buka dan dijejali warga, jalan raya yang padat merayap, warga yang bersenang-senang.

Dan, beberapa lainnya masih bersiap-siap untuk makan sahur.

Saat unsur pemerintah dan utusan organisasi agama memaparkan argumentasinya mengenai ada tidaknya hilal di layar kaca, sepertinya the show must go on!, “dari pada ketupat dan opor ayam basi?” kata sebagian warga dengan nada bercanda.

Saat perbedaan itu ada, semoga menjadi rahmat. Sebab, Ramadhan adalah pesta, bangsa yang berpesta. Pesta semua kalangan. Pesta kemenangan!

Advertisements

Sesantai Hidup Hasan

Hasan pada suatu pagi (Foto: Kamaruddin Azis)

Di pengujung bulan April 2011. Pagi beringsut malas, pergi diam-diam dalam terang yang semakin tegas. Sepagi itu Hasan, 51 tahun menguap dalam gegas langkahnya. Dia pulang ke Bekasi setelah tugas malam di salah satu hotel di Jakarta Pusat selesai.

Lelaki setengah abad ini telah tujuh tahun berkerja di hotel demi menghidupi 11 anak dari seorang istri. Dia terlihat muda dibanding usia dan jumlah anaknya.

***

“Anak bungsu saya berumur 2 tahun, yang paling tua 27 tahun” katanya polos. Hasan mengaku dalam sepuluh tahun terakhir anaknya lahir nyaris hanya berselang 1,5 tahun. Hasan, lelaki berdarah Betawi ini bersaudara 10 orang.Istrinya, Rosmani juga bersaudara sepuluh. Istrinya sudah mencoba hampir semua kontrasepsi tapi tidak betah.

Hasan, hanya tamat SMP di Menteng. Walau begitu dia sampaikan bahwa beberapa kali diajak sekolah malam tapi tidak kuat. “Saya tidak tahan, capek” ujarnya. Tapi Hasan punya cara adil supaya anak-anaknya tetap sekolah. Yang sudah tamat SMP tak perlu lanjut ke SMA sebab jika ada kakak yang ngotot sekolah menurutnya itu pasti menutup peluang adiknya untuk sekolah.

“Sekolah kan mahal?” Tanyanya.

Pilihan Hasan itu ditempuh alasannya, daripada adiknya gak sekolah? Kata anak ketiga ini. Hasan yang rumahnya di Bekasi saat berangkat kerja ini punya dua alternatif, naik kereta via Senen atau naik bus.

“Kalau kereta butuh waktu sejam. Kalau naik bus hingga 2 jam” katanya. Tapi dia lebih senang baik bis.

“Gara-gara naik bis itu nih kening saya benjol karena terantuk” katanya seraya menunjukkan benjolan di kening kirinya. “Habis 20ribu deh seharian” lanjutnya.

Hasan berangkat dari rumahnya setelah salat magrib. “Salat dulu, takut magribnya ilang” katanya datar. Hasan menyukai pekerjaannya ini walau menurutnya gajinya a la kadarnya, tidak lebih dari sejuta.

“Tapi itu rezeki ya. Mesti diikhlasin” katanya. Hasan bisa tersenyum karena anaknya yang dewasa sudah bekerja.

Ada yang kerja di PAM, perkantoran, dua di bengkel motor.

“Kalau rezeki mesti dianggap cukup. Jangan ngeluh. Kita terima aja. Keluar dari rumah kalau udah “ushalli” mesti dijalanin” paparnya. “Menurut saya sih yang penting tuh ikhlas, ikhlas ngasih makan anak-anak. Yang kita harapin itu doang supaya mereka tumbuh dan berguna. Setidaknya untuk dirinya dulu.

Setiap salat saya selalu berdoa supaya anak-anak saya dijaga” katanya.

Hasan memberi kita impresi, tentang kesederhanaan, perjuangan, mengelola keluarga dan merawat masa depan anak-anaknya.

Bagaimana dengan Anda?

Syamsuddin, Kisah Petualangan Pelaut Asal Salemo

Kakek Syamsuddin di usia tuanya (Foto: Kamaruddin Azis)

Lelaki muda itu berdiri di tepi jalan. Tempat di mana para gadis pelinting rokok bergegas pulang dari pabriknya. Lagaknya pemuda tanggung, dia memang punya niat: menggaet salah satu dari mereka. Benar saja, lelaki muda itu sukses memperistrikan Repi, gadis belia nan cantik kelahiran Jawa Timur.

“Saat itu Repi masih berumur 13 tahun. Saya 15 tahun. Hanya butuh waktu tiga bulan untuk syah sebagai suami istri. Saya berani datang ke rumah keluarganya” kenang pria berumur 72 tahun itu kelahiran Pulau Salemo, salah satu pulau dalam wilayah administrasi Kabupaten Pangkajene Kepulauan, Sulawesi Selatan.

Pulau yang konon merupakan tanah kelahiran beberapa ulama top Sulawesi Selatan.

Itulah salah satu bagian dari episode asmara Syamsuddin, kakek yang kini menghabiskan masa tuanya di Pulau Kapoposang, Pangkep. Kapoposang ditempuh antara 4-5 jam dari Makassar dengan kapal kayu atau 2 jam dengan speedboat cepat.

Dia sedang leyeh-leyeh di atas balai bambu. Mengenakan kopiah warna hitam, bersarung dan berbaju putih dia menerima saya dengan seyum mengembang. Nyiur di sekitar kami memberi suasana nyaman. Angin timur bulan Agustus terasa adem.

Kakek Syam yang jangkung, berhitung mancung dengan sorot mata terang adalah mantan pelaut. Dia berkulit hitam dengan kerutan kulit yang sangat jelas. Giginya putih rapat. Gigi palsu.

Pelaut adalah satu profesi yang sangat dibanggakan oleh warga pesisir berbahasa Bugis-Makassar utamanya pulau-pulau. Mereka, para pelaut dari jazirah Sulawesi Selatan yang mendiami pesisir barat Sulawesi dikenal tangguh dalam mengarungi samudera luas karena memegang prinsip, sekali berlayar pantang surut ke pantai.

Selain cekatan, mereka dikenal pula flamboyan dan royal dalam pergaulan. Mereka toleran dengan solidaritas yang tinggi. Tidak sedikit dari mereka bahkan benam dalam kehidupan asmara yang bergelora. Dari pelabuhan ke pelabuhan, dari pesisir ke pesisir, dari wanita satu ke wanita lainnya.

Bertemu Syamsuddin, kakek kelahiran Pulau Salemo serasa diantar mengikuti narasi tentang pelaut sebagaimana disebutkan di atas.

“Tahun 1975 saya bawa timah dari Bangka dengan kapal milik orang Tionghoa, namanya Waleang. Nama kapalnya KM Sumberjaya. Muatannya kira-kira 40 Ton. Kru di kapal itu sebanyak tujuh orang dan berasal dari Buton” katanya lancar.

Syamsuddin ingin bilang bahwa dia adalah pelaut yang telah jauh melanglang buana dengan pengalaman segudang.

Syamsuddin Muda

Syamsuddin muda pindah ke Surabaya dengan mengikuti pelayaran dari Pulau Salemo ke Surabaya. Lamanya lima hari lima malam. Naik pinisi, perahu khas Bugis.

“Saya ke Surabaya saat masih muda, umur 15 tahun. Saat itu ada pembakaran kampung di Salemo oleh segerombolan pasukan. Mereka membakar pulau hingga ke daerah Liukang Tupabbiring. Saya menumpang di kapal Haji Bennu” ungkap kakek bersaudara empat orang ini dari ayah bernama Laside dan ibu bernama Halijah.

Ada yang membuatnya berbinar saat saya sampaikan kakek Syamsuddin gagah dan pasti banyak pacarnya dulu.

“Istri pertama saya orang Jawa Timur namanya Repi. Dia pekerja pabrik rokok Dji Sam Soe. Saat itu umurnya 13 tahun, saya 15 tahun” kisahnya. Syamsuddin hanya butuh tiga bulan sebelum memutuskan untuk menikahi gadis pujaannya itu.

“Pertama kali saya melihatnya saat saya berdiri menunggu para pekerja paberik rokok pulang ke rumah. Nah di situlah saya lihat calon istri saya” kenangnya dengan senyum mengembang. Sayang sekali tidak lama setelah menikah dia bertolak ke Jakarta. Dia tinggalkan Repi.

Syamsuddin jadi karyawan di perusahaan milik warga asal Pulau Salemo. Pengalamannya menjadi anak buah kapal memberinya banyak pengetahuan. Dia semakin tahu lika-liku pelayaran dan pengelolaan ekspedisi.

“Saya bekerja pada Haji Mustamin, dia orang Salemo yang menerima saya bekerja di perusahaanya bernama PT Pulau Salemo” katanya.

Di Jakarta, dia menghabiskan waktu hampir dua tahun. Kerjanya mengurus surat-surat berlayar termasuk mengatur pengangkutan kayu dari Kalimantan menuju tanah Jawa.

Syamsuddin hanya terkekeh saat ditanyakan petualangannya selama bekerja di Jakarta.

Dia kemudian pindah lagi ke Surabaya dan bekerja pada perusahaan ekspedisi bernama Firma Hajar. Selama menjadi ABK atau karyawan usaha ekspedisi Syamsuddin berkenalan dengan seorang pengusaha Tionghoa bernama Waleang.

“Saya kenalnya di Muntok. Lalu dia percayakan saya membawa kapal barang. Mengangkut timah dan hasil bumi dari Kalimantan” katanya.

Kapal itulah yang digunakan oleh Syamsuddin membawa barang hingga ke Singapura. Sebelumnya, Syamsuddin telah berlayar dari pesisir di Kalimantan, Sulawesi, Jawa hingga Sumatera. Basisnya di Surabaya. Dari sinilah dia bertahan lama dan menjadi pelaut hingga kemudian pensiun.

Masih tentang Asmara

Dalam perjalanan hidupnya, Syamsuddin mengaku pernah menikahi Jumanten, gadis Jawa Timur, tepatnya Madura. Dari istrinya inilah dia peroleh Halijah dan Junaedi. Kedua anak ini pernah mencarinya ke Pulau Salemo.

“Saya masih ingat nama kampung istri saya itu, di Kampung Talong Baraleke. Madura” katanya.

Mengenai perkawinannya yang sampai lima kali itu, Syamsuddin menjawab, karena mau sama mau. Tidak ada paksaan.

Saat saya tanyakan nama istrinya yang lain, dia hanya terkekeh. Dia tidak bisa mengucapkan nama istrinya yang lain. Yang pasti dia kini bahagia menemani istrinya Rappe dan anak-anaknya.

Ikan Tangkapan Nelayan Papandangan Berkurang

Kapal "pagae" di Pulau Papandangan, Pangkep (Foto: Kamaruddin Azis)

Ikan tangkapan nelayan memasuki bulan suci ramadan semakin berkurang. Wajar jika harga ikan selangit di Makassar, Pangkep dan Maros. Hal itu dibenarkan oleh pengusaha perikanan, H. Gassing, umur 40 tahun, pengusaha gae (purse seine) asal Pulau Papandangan, Pangkep. Hal senada juga diungkapkan oleh H. Gaffar, 38 tahun.

“Memasuki bulan ramadhan ini kami hanya mendapat sekitar 10 keranjang ikan saja atau senilai Rp. 1 Juta sementara ongkos operasional lebih besar”, katanya.

Ungkapannya ini diiyakan oleh Nurdin pengusaha gae lainnya yang mengaku justeru lebih kecil. Hanya 5 keranjang. Ketiganya ditemui pada hari Sabtu, 13 Agustus 2011 di Pulau Papandangan, Kecamatan Liukang Tupabbiring, Pangkep. Pulau mereka ditempuh dengan kapal kayu dari Makassar selama 4-5 jam.

Selain mereka, di pulau itu ada 40an kapal gae yang merupakan milik warga setempat. Selama ini merekalah yang menyuplai ikan ke wilayah daratan. Mereka menduga, semakin banyaknya armada perikanan yang beroperasi di sekitar perairan Liukang Tupabbiring, atau kawasan Kapoposang, Pangkep menjadi penyebab berkurangnya hasil tangkapan.

“Area operasi kami hanya di sekitar pulau. Walau begitu, kami lebih memilih menambatkan perahu daripada melaut. Kami tidak mau rugi” kata Nurdin seraya menunjukkan kapal-kapal gae yang sedang berlabuh di sekitar dermaga pulau.

Said, Suka Duka Penjaga Suar

Muhammad Said Dg Tojeng (Foto: Kamaruddin Azis)

Ramadan kerap diidentikkan dengan semarak makanan dan kemeriahaan malam tarawih. Namun, bagaimana keadaan para pamong yang mengabdi di pulau jauh? Apa suka dukanya saat diberi amanah melayani publik di bulan suci?  Di Pulau Kapoposang, yang ditempuh selama 4-5 lima jam dari Makassar ada Muhammad Said, staf Perhubungan Laut, penjaga lampu suar.

Wajahnya mirip Mari Alkatiri, mantan Perdana Menteri Timor Leste. Rambut keriting, hidung mancung. Lelaki kurus ini telah setahun menjaga lampu suar di Pulau Kapoposang, Liukang Tupabbiring, Pangkep. “Ibu asal Binongko, Sulawesi Tenggara, sedang ayah Sanrobone, Takalar, Saya punya paddaengang, Daeng Tojeng. Walau orang lebih kenal sebagai pak Said” katanya saat ditemui di depan rumah dinasnya (Sabtu, 13 Agustus 2011). Dia sendiri, dia berpuasa sementara keluarganya ada di Tallo Lama.

Hadirnya di Kapoposang untuk keempat kalinya setelah rotasi dari suar ke suar. Sebelumnya bertugas di Pulau Doang-Doangang Lompo, Dayang-Dayangan, Suar De Briel di Bantaeng, Kalu-kalukuang, hingga Dewakang, pulau terluar Kabupaten Pangkep. Said  bertugas tahun 80an di Kapoposang, lalu tahun 2001-2006. Tahun 1984-1988 kembali ke Makassar hingga kemudian tugas lagi ke Pulau Kalu-Kalukuang selama setahun. Sebagai penjaga lampu suar di pulau jauh. Hidup Said penuh suka duka.

“Sukanya, saya PNS dan dapat gaji, tunjangan dan dukungan dari unit kerjanya namun dukanya adalah jika terserang penyakit dan jauh dari rumah sakit . Saya terbiasa di tempat sunyi namun jika kondisi badan drop serangan penyakit tipes atau malaria bisa menyerang” Kata lelaki yang bersaudara enam orang ini. Said tinggal di Tallo Lama dengan jumlah anak tujuh orang. “Saya telah tiga kali kena gejala tipes saat tugas di Doang-doangan, Kalu-Kalukuang dan Dewakang” kata pria tamatan Sekolah Teknik (ST) ini.

Sosok Muhammad Said ini sangat vital bagi pelayaran laut. Perannya sebagai operator dan pengawasan lampu suar, penunjuk jalan bagi kapal komersil dan pemerintah tidak bisa dianggap enteng. Tanggung jawab besarnya itu pantas diganjar dengan apresiasi dan dukungan nyata.

Si Bengal Rozais, Tenaga Outsourcing dari Barranglompo

Suasana Pulau Barrang Lompo

Awal bulan Juli yang kering di Pulau Barrang Lompo, Makassar, Sulawesi Selatan. Panas terik walau angin laut sepoi sesekali menerpa wajah. Bentuk pulau di beranda Makassar ini serupa sandal, sandal kiri dengan permukiman yang padat. Sangat padat penduduknya jika dibandingkan 11 pulau dalam wilayah administrasi Kota Makassar. Ditempuh sejam dengan kapal penumpang regular setiap pagi.

Di tengah pulau, suasana kantor PLN sekaligus rumah tinggal karyawannya itu terlihat sepi.  Hanya ada Rozais di halaman belakang. Dia petugas PLN di pulau berpenduduk lebih 5000 jiwa ini. Dia menerima saya. Tidak lama kemudian datang dua orang pelanggan.  Rozais adalah teknisi merangkap staf loket bayar.

“Total pemasukan bulan Mei 2011, Rp. 21 Juta, sementara pengeluaran ratusan juta” kata Rozais. Tangannya menari di lembaran kertas tagihan.

“Tidak ada untung untuk PLN di pulau ini namun semua orang tahu, ini tanggung jawab negara demi rakyatnya”katanya. Dia berhitung.  “Bulan Mei  butuh 18.000 liter solar, dikali harga industri Rp. 7.500 perliter. Jadi untuk solar kita habiskan biaya Rp. 135 juta . Belum lagi harga oli hingga 150 liter x 10ribu. Total kebutuhan setidaknya Rp. 136,5 Juta/perbulan.

Menurut Rozais kapasitas mesin yang digunakan mengalami defisit power karena mesin kecil. Inilah kondisi pengelolaan a la PLN di Pulau Barrang Lompo. Bisa dibayangkan bagaimana kondisi perlistrikan di pulau-pulau jauh yang masih defisit energi listrik. Selain karena investasi yang besar juga karena tidak maksimalnya pemasukan dari pelanggan. Hanya Barrang Lompo dan beberapa pulau besar lainnya yang dilayani PLN, itu pun merugi.

 

***

Siapa Rozais?

Pria berkumis ini lahir 47 tahun silam, tepatnya, 18 September 1964. Telah menggondol sarjana pendidikan dari UVRI Makassar dengan pengalaman menangani mesin PLN belasan tahun. Walau begitu ia masih outsourcing.  Statusnya ini yang membuatnya selalu was-was. Dengan status demikian dia bisa saja jadi pengangguran di ujung kontraknya.

Dia bersedia menceritakan perjalanan masa mudanya, karir dan harapannya pada PLN. Membaca kisah hidup Rozais muda bisa membuat mata berkaca bahkan mengalirkannya.  Betapa tidak, lelaki kelahiran Purworejo, Jawa Tengah  tamatan STM mengalami pergolakan batin dengan orang tuanya. Tahun 1984 dia kabur ke Kabupaten Pinrang, Sulawesi Selatan. Dia kabur dari kampungnya karena orang tuanya tidak mengiyakan saat dia lolos ujian masuk UGM Yogyakarta.

“Walau saya termasuk bengal saat STM, saya lulus elektro peringkat pertama” Katanya tertawa. Mestinya Rozais bangga, pun keluarganya tetapi apa yang didapatnya adalah penolakan untuk kuliah. Dia protes. Kabur. Rozais malu. Dia merasa terbuang, dia ingin ke Sulawesi. Turun dari pesawat dia bergegas ke jalan poros Makassar ke utara. Mengikuti  teriakan sopir di jalan. Ke Pinrang.

“Saya ingin pergi jauh. Saya tidak punya rencana sejak dari Jawa, saya hanya ikut ke mana mobil membawa saya” kenang pria yang mengaku berkelahi dengan polisi sebelum hengkang ke Sulawesi.

Yang saya bayangkan, ingin konsisten, yakin pada diri. Istilahnya, sabdo pandita ratu, tankeno mawola wali, satu kata satu perbuatan” katanya dalam tutur bahasa Jawa.

“Saya masih ingat harga tiket Juanda Surabaya ke Mandai, Ujung Pandang kini bernama bandar udara Sultan Hasanuddin, sebesar Rp.84,200. Saya ke Ujung Pandang pada bulan Juli Sembilan hari setelah lebaran tahun 1984” ungkapnya.  Dia tinggal di Pinrang. Oleh yang punya mobil, namanya Bado Ali, dia kemudian dititip di rumah dinas PTPP Pinrang.

“Seingat saya saat itu manajernya, Erman Soeparno, pak Menteri” terangnya.

“Tahun 1986 saya pamit untuk kembali ke tanah Jawa namun ada kabar yang buat saya kosong tak terkira, ayah telah berpulang” katanya dengan mata berkaca. Dia kembali ke Makassar. Sejak itu dia mulai memikirkan hidupnya. Berjualan bakso di Makassar, tahun 1987 hingga kemudian ditawari jadi tenaga bantu di PLN. Dia masuk ke PLN karena dirayu keluarganya yang punya teman di PLN Kabupaten Sidrap, empat jam dari Makassar.

Rozais muda menemukan dirinya mengawang dalam cita-cita. Dia kembali ke Makassar lalu diterima bergabung dengan koperasi KSU Angkasa, milik Haji Sappe asal Enrekang. Itu bermula dari kedekatannya dengan seorang pria asal Jember, namanya Mas Eko.

Dia bahkan dibilangi oleh Eko, “Kamu ngga njawane, nda tahu unggah ungguh”. “Saya memang telah hilang” jawabnya pada masnya itu.

 

***

Nasib Outsourcing

Sejak penempatan pertama setelah ikut pak Kaswan di Sidrap sebagai cleaning service dia terus berpikir untuk lebih baik . “Saya menerimanya walau hati nurani menolak” Katanya. Dalam gamangnya, dia mulai mengukur dirinya. Menurutnya menjadi tamatan STM merupakan kelebihan dan tidak pas jadi tukang bersih saja.

Kedekatannya dengan orang-orang di PLN memberinya jalan untuk diterima pada proyek PLN. Setelah mengikuti pelatihan dan magang di Koperasi Bara-Baraya, dia mulai berkarir di KSU Angkasa.

“Saya dapat penghargaan sebagai rangking satu untuk Pelatihan MSA, Management Service Arrangement” kenangnya.  Dia kemudian ditugaskan di Pulau Kodingareng, Makassar. Di Pulau Kodingareng, Rozais menyebut posisinya masih dalam masa on the job training (OJT). Tahun 1992, Kodingareng merupakan unit terbesar di pulau saat itu.

“Saat itu ada kerjasama tiga menteri, tepatnya ada SK 3 Menteri kala masih jamannya Pak Harto” kenangnya. Dari Kodingareng, dia dipindahkan ke Pulau Barrang Lompo. “Saat itu tahun 1996” Katanya.

“Sejak saat itu, status saya di PLN sebagai tenaga outsourcing. Sejak tahun 1987 telah bekerja untuk PLN dan status outsourcing resmi sejak tahun 1992” ungkap dengan tertawa. Walau demikian Rozais mengatakan bahwa hingga kini tenaganya kerap dibutuhkan untuk melatih dan mengarahkan tenaga-tenaga muda PLN. Baik yang pegawai resmi maupun yang outsourcing.

“Di sini, proyek PLN rugi, anehnya karyawan tetap ditambah. Saat ini ada satu tenaga organik dan 3 outsourcing” kata Rozais yang mempunyai 4 anak dari istirnya Nurhayati, kelahiran Gowa, guru SMP di Pulau Barrang Lompo.

Dengan tenaga itu, mereka melayani 678 pelanggan. Masih ada banyak daftar tunggu. PLN di Pulau Barrang Lompo beroperasi dengan menghabiskan  600-700 liter untuk 240 kW setiap hari dengan jam operasi 6-10 jam.

Statusnya sebagai tenaga outsourcing dan adanya kekhawatiran pada masa depan membuat Rizais dan kawan senasibnya menggagas “Forum Komunikasi Karyawan Tenaga Bantuan Kopkar (TBK 2004)”

“Ini organisasi untuk memediasi kawan-kawan. Seangkatan saya ada 24 orang untuk Makassar hingga Ambon” Kata Rozais  Mengenai jalan nasibnya, Rozais hanya bercerita mengenai honor yang diterimanya dari tahun ke tahun. Tahun 1992, saat itu Rozais dan teman-temannya dapat honorarium sebesar Rp. 50ribu/bulan sebagaimana tertera di kontraknya.

“Lalu naik 170ribu, lalu 400ribu. Akhir-akhir ini lupa berapa angka tepatnya karena telah berubah vendornya, yaitu PT Kinerja Cahaya Abadi” kata Rozais, Dia kemudian menunjukkan surat keterangan bernomor No. 162.Kt /6709 /Udiklat.7/1996/M, bekerja untuk KSU Angkasa Ujung Pandang.

Bagi Rozais, belasan tahun menjadi tenaga outsourcing dan telah membekali dirinya dengan gelar Strata 1 demi masa depannya di PLN membuatnya masih gamang. “Bagaimana mungkin PLN tetap merekrut orang baru yang membutuhkan biaya besar sementara dia sendiri yang telah berpengalaman dan mengabdi untuk warga pulau belum menjadi perhatian manajemen PLN?”

Makassar, 09 Agustus 2011

Reuni Kedua, Menikmati Menu Korea di Setiabudi

Bersama Husni (kiri) dan Irwan Muliawan (kanan)

Jakarta padat merayap di sepanjang poros Setiabudi pada tanggal 4 Agustus 2011. Sebentar lagi waktu berbuka puasa tiba. Dari arah Pancoran Jakarta Selatan, bersama Irwan Muliawan alumni Smansa Makassar, 1992 dan Dafiuddin Salim (alumni Smaga 1997), kami mengikuti pesan BBM Muhammad Husni HS, sahabat sekelas saya di Smansa Makassar. Kami seangkatan, 1989.

“Kita jumpa di Resto Samwon, Setiabudi 1” katanya saat menelponku.

“Di mana? Someone?” Jawabku seperti sok tahu.

Ide mengontak Husni sore itu serba kebetulan. Sebelumnya telah beberapa kali ke Jakarta namun selalu tidak ada kesempatan untuk mengontaknya. Saat reuni SMA Negeri I Makassar tahun 2009, dia memang ingatkan. “Kalau ke Jakarta, kontak ya daeng” katanya saat kami sedang mengikuti Outbound di kawasan Tanjung Bunga, Makassar.

Kesempatan itu akhirnya datang jua. Ditemani dua alumni Kelautan, Unhas yang berdomisili di Jakarta, kami menyambut undangannya. Semacam reuni kedua.

Tidak butuh waktu lama untuk sampai di restoran yang dimaksud. Husni, berdiri di pintu Resto Samwon saat kami menyusur rongga atrium Setiabudi 1. Dia masih berpakaian kantor, baju putih, celana hitam dengan dasi dan sepatu berwarna hitam. Lima menit lagi waktu buka puasa.

Husni adalah alumni Perikanan Unhas, tahun 1989. Di Smansa Makassar, kami sekelas di jurusan Biologi. Sososk ini oleh teman-teman dikenal dengan Husni Kumis. Dia kerap memanggil saya dengan “Komro, Komar roso’ maksudnya kurus”. Yang saya ingat persis bahwa dia teliti, rapi dan sistematis. Tulisannya yang indah, tegak, halus jadi ciri bahwa dia punya presisi yang baik.

Wajar kalau dia kerja di bank” kataku pada Irwan saat kami duduk berhadap-hadapan.

Saat SMA dia memelihara kumisnya yang lebat. Tapi kini, sebagaimana saat kami jumpa dua tahun lalu dia memilih klimis. Sejak lulus kuliah tahun 1994 dia hengkang ke Jakarta, kerja di bank. Telah 17 tahun dia mengabdi untuk bisnis perbankan di ibukota.

Wajar jika dia kini, adalah sosok penting yang bertanggung jawab untuk mengkordinasi dan mengsupervisi beberapa unit Bank Permata di wilayah Jakarta. Bank yang disuntik modal oleh group Astra ini merupakan salah satu bank strategis dan signifikan di Jakarta.

Husni menjamu kami dengan menu Korea. Banyak yang saya tidak tidak tahu namanya. Tapi melihat etalasenya, nyaris serupa masakan Jepang. Ada satu yang jadi menu utama buka puasa kami petang itu, ayam muda dengan kuah super panas dalam satu wadah seperti “tembikar hitam” yang panas. Biji nasi berserakan di dasar wadah.

Ini khas Korea, ayam muda, umur sebulan-duabulan” kata Husni yang berdomisili di selatan Jakarta.

Menu ini pula yang membuat saya, Irwan dan Dafiudin saling berpandangan. Awalnya ditawari seekor dalam satu wadah namun kami meminta dibagi dua saja. Saya telisik komposisinya, ada nasi, belahan ayam nyaris utuh, bawang putih utuh, potongan ginseng dan kuah yang mengepul panas. Butuh waktu tiga puluh menit untuk saya menghabiskan menu ini. Kuah yang pas dan tidak rewel walau ada remah ginseng dan dua siung bawang putih di dalamnya.

Impresif! itu yang saya utarakan saat meninggalkan Samwon.

Dia memegang pundak saya. Saya berbisik, “Kita sudah Empatpuluh ya?”. Rambut kami mulai menipis. Kami saling mengingatkan tentang nama teman semasa sekolah, pekerjaan dan keadaannya kini.

Pertemuan kami nyaris sejam. Setelah salat bersama, kami berpamitan. Husni akan lanjut meeting “audit” internal, kami menunggu istri Irwan, dia juga hendak makan malam di area itu. Kami iyakan saja saat diajak duduk di Sushigroove, Setiabudi. Tentu dengan sumpit di tangan.

Sungguminasa, 6 Agustus 2011