Rembulan Nyaris Sempurna, "Kepada Para Sahabat"

Rembulan Nyaris Sempurna, “Kepada Para Sahabat”

…di luar, rembulan nyaris purnama
aku sedang menimbang kenangan
dalam hening sekitar aku ingin berpuisi,
semacam penanda, kepadamu…

(Sungguminasa, 27-02-2010)

Kepada Andi Nurjaya
“Saya rasa kita sepasang. Serupa tak mahir bermain di air. Hanya penggembira di meja belajar dan juga peracik canda tawa saat para sahabat lelah membaca kitab-kitab. Yang membaca Hutabarat hingga Nontji, yang membaca Nybakken hingga Braley. Hingga kemudian tiada yang sangka kitalah yang terdepan ingin menjajal negeri jauh. Negeri yang tak pernah disentuh oleh guru kita sekalipun. Siapakah yang mau berlama-lama di negeri jauh tanpa air tawar, negeri tanpa mal, tanpa tempat pelarian kecuali pantai dan dermaga tua dimakan teritip. Dan juga malam yang selalu risau. Siapa?”

Kepada Kemal.A.Massi
“Memandang bulan yang nyaris purnama itu aku ingat Engkau, kita dan bulan yang memantul di lekuk Appatanah saat pulang melabuhkan masa depan. Saat dimana kita saling berkelana setelah capai mencandai seonggok pulau yang warganya tak betah di laut. Yang enggan menembus goda musim timur dan berselimut saat musim barat mengetuk pintu rumahnya. Engkau tahu, saat dimana kita seperti segerombolan lelaki dahaga yang menyelam tanpa henti, entah sudah berapa teguk kita telan air laut. Air laut yang mengalir dari Laut Flores hingga tempatmu kini. Dan, kita tidak pernah membahas cita-cita kecuali menyelami arus balik kehidupan dan menunggu kepakan camar. Kembali”

Kepada Kun Praseno
“Pesona pantai pasir putih dan belasan alur Taka mungkin mengalir kepadamu hingga semua menjelma sketsa mata air dan muara teduh. Muara yang berbisik bahwa Engkau akan datang lagi menemui janji dahulu. Mungkin menambatkan perahu dan senyum persahabatan. Tentang persembahan dan cerita-cerita yang pernah kita rangkai. Semacam senarai bagi masa depan. Kamu pasti ingat saat kita menyusuri tepi pantai dan memuji musim, “amboi jika saja kita mampu menembus hingga ke ujung samudera”

Kepada Achmad Madonk Thamrin
“Aku nyaris tak menemukan lekukan pada jejak yang tertinggal. Hanya buih dan gelembung senyum yang silih berganti menemui pelangi dari musim ke musim, dari dermaga ke dermaga. Rona dan makna yang buatnya kekal. Aku ingin anak-anakku seperti tokoh cerita-ceritamu yang menawarkan gairah dan keterusterangan. Yang tak memenjarakan suka cita lalu hilang makna. Kepadamu laut dan pantai menjadi semakin dekat walau biduk masih menantang badai”

Kepada Muchsin Situju
“Ada ketakutan teramat sangat saat mendengar Engkau bercerita tentang musim ganas itu. Tentang siapa saja yang ditelannya dan siapa saja yang diapungkan. Tentang labirin di kedalaman sejauh mata memandang. Dan bebunyian laut dalam yang hingar seperti hantu Neptunus. Di laut tiada yang lebih menakutkan kecuali melupakan waktu kembali. Bukankah di sana ada dahaga yang tak biasa. Aku selalu ingat saat Engkau memberiku sepotong cokelat dan meninggalkan janji di dermaga. Menunggumu kembali menemui terumbu dan bayang-bayang pelangi di kaki tubir yang tak terjamah oleh sesiapa”

Kepada Rafain Mochtar PSP
“Kutemukan dirimu dalam lelap tidur, bagai debur ombak. Aku tahu engkau baru saja menyiangi terumbu, membelah palung, menyelami rencana-rencana yang telah kita patok sedari pagi. Hidup bagimu adalah meniti satu persatu janji hati. Seikat rencana yang tidak banyak. Hingga kemudian aku menemukanmu dengan sejuta senyum dan cinta yang setia. Kepadamu cinta itu bertahan abadi karena janji yang tak muluk-muluk. Cinta adalah pengertian dan persembahan. Saat itu kau tak menampik bahwa pembuktian cinta adalah saat kita melepaskan ego dan menggantungkan percaya”

Kepada Syafruddin Tara
“Di luar nyaris purnama dan kau masih belum menampakkan diri wahai penjaga malam. Kidung memula hari telah engkau senandungkan, rapalan doa telah bertengger di puncak malam. Namun masih saja tiada kabar, kemana arah angin malam ini. doa yang kita rangkai seperti untaian pasir putih yang dikulum lidah air. Doa lepas, doa tak kembali. Saat dimana kita hempaskan raga menunggu pesan malam. Kapankah perahu yang memberi janji itu datang menjemput?”

Kepada Putu Widyastuti
“Adakah perempuan-perempuan lain yang sekuat dan setangguh dirimu. Yang memunggungi tubir dan bermain genit dengan lili laut merah bata dan kerapu batu. Saat dimana yang lain hanya menghabiskan sore dengan menjerang air, rumah dan lubang-lubang yang dikais, engkau melarung masa depan dengan terumbu dan biru tua laut Taka. Para perempuan di pulau itu entah sadar atau tidak selalu mencandaimu, saat mereka pulang memanggul air, “kami tak berani pada jerat laut, dia buatku pekat kelam”. Mengapa pula ada orang kota sepertimu yang tak jera berjemur hingga sore?”

Kepada Syafyudin Yusuf
“Kita akhirnya paham bahwa kita adalah pesuruh para Karaeng.Yang melepaskan temali dan bahkan rantai yang membelenggu kaki. Mengarungi samudera dan menjejak kembali jalur pelayaran purba. Memberi salam pada Marege dan perompak laut dari tanah hitam. Memberi mereka kesadaran baru bahwa alam mesti dikawini, disayang dan dibuahi. Sebab darinya kita bisa beranak pinak. Anak-anak yang kemudian kita beri nama agung, nama yang terbaik yang pernah ada, di muka bumi, masa depan!”

Sungguminasa, 27/02/2010

Advertisements

Konvoi Burung Besi Di Atas Tamarunang

Jika Anda sedang berada pada satu titik di Kota Makassar, katakanlah di Jalan Pettarani atau Sultan Alauddin di selatan kota antara pukul 08.00 sampai 09.00 pagi. Anda sempatkanlah lepaskan pandangan ke udara pada titik selatan menenggara. Dalam rentang waktu antara 5 – 15 menit Anda akan dapati pesawat udara yang melaju, menderu persis di atas wilayah Pallangga hingga Somba Opu, Gowa. Mereka seperti sedang berkonvoi di pagi hari.

Seperti halnya di kompleks perumahan kami di Tamarunang, Somba Opu sudah lebih satu bulan terakhir kami merasakan situasi berbeda tersebut. Tanpa memperoleh pemberitahuan dari otoritas terkait bahwa telah ada perubahan jalur penerbangan kami akhirnya menerima keputusan itu. Rupanya beberapa bulan setelah peresmian bandara tersebut, jalur penerbangan juga telah diubah. Apakah anda telah diberitahu oleh otoritas terkait? read more

Khalid Adam, "Aih Bapak, Sotta'mi Sedeng"

Pagi tadi, pukul 07.30 di sekitar Kota Sungguminasa, Gowa. Setelah gagal dapatkan tempat cuci motor di sekitar kota, bersama si tengah, Khalid Adam, kami bergegas pulang ke rumah. Seperti biasa, anak saya itu masuk sekolah pukul 10.00 jadi dia bisa ikut berkeliling kota. Entah mengapa, saya tidak “ingat apa-apa” tentang gala semalam, saat PSM melibas Persiba dengan skor tipis 1-0. Hingga, saat masih di sekitar lampu merah Sungguminasa ke poros Malino, dia memulai pembicaraan. “Bapak, singgahki belikanka Tribun nah. saya mau lihat PSM”. Ah, anak ini benar-benar suka sepak bola. PSM pula. “Iyya!” kataku. read more

Rumput Laut Dan Cerita Lainnya Dari Punaga

Laut kerap dianggap sebagai wilayah tak bertuan, juga “common property” atau milik bersama. Karena status itu, warga yang telah lama berdiam di sekitar wilayah pesisir utamanya sekitar wilayah desa pantai berhak mengelolanya sesuai dengan pandangan mereka atas wujud historis laut itu. Kini, untuk beberapa alasan, memanfaatkan laut rupanya tidak sesederhana yang kita bayangkan, misalnya dengan melayarinya atau menambatkan perahu semata namun lebih dari fungsi itu.

Di saat pertumbuhan penduduk semakin meningkat mereka mulai menganggapnya sebagai milik pribadi atau bahkan “tanah” tumpah darah. Karena mereka lebih dahulu di sana. Kehidupan warga keturunan Bajo seperti di Sulawesi Tenggara atau di pesisir timur Kalimantan Timur yang menghabiskan waktunya di atas laut dari awal mula hidup hingga berpulang adalah contoh nyata. read more

Menemani Marina Ke Munaqasyah TPA

Tanggal 14 Pebruari 2010 kemarin, saya mengantar anak kami Intan Marina ke lokasi munaqasyah TK/TPA Se-kecamatan Somba Opu, Gowa. Menurut daftar peserta yang ditulis panitia, ada 81 pesantren dan TPA Pengajian yang akan ikut acara ini di gedung SD Mangasa I.

“Ini adalah kegiatan tahunan yang difasilitasi oleh BKPRMI Gowa. Kami membawa 32 murid demi mendapatkan sertifikat lulus mengaji” Kata Awaluddin, guru mengaji dari TPA Baiturrahman, Bontokamase, Kelurahan Bonto-Bontoa. read more

Pengalaman Menonton PSM, Celoteh Anak Bapak Dari Bangku Tribun

Pertandingan pada tanggal 11 Oktober 2009, antara PSM dan Sriwijaya FC belum dimulai. Saya bersama si tengah Khalid “Donnie” Adam, yang getol sepakbola bahkan hapal nama-nama pemain top dunia bergegas menuju sisi barat stadion Andi Mattalatta. Kami terhenti saat iringan puluhan motor dengan mesin meraung menutup jalan. Konon, mereka penggemar fanatik PSM yang melengkapi dirinya dengan syal merah, baju merah khas PSM dan yel-yel khas penikmat bola tanpa helm dan pengaman berkendara.

Donnie, kelas II SD yang terbiasa duduk manis menikmati Torres bintang pujaannya di Liga Premiere, hanya melongo saat melihat beberapa dari mereka berdiri di atas motor yang sedang melaju. Teriakan dan raungan motor campur baur. Bagi saya mereka seperti pasukan berani mati yang terlihat brutal. read more