Arsip Denun: ‘Maka Menangislah Pagi’

mengatasi-kegalauan-setelah-putus-cinta-oleh-Asmara-SegiEmpat
Dok: officialannakendrick.com

Pada lima Juli dua ribu sepuluh di Selatan Kota Sungguminasa. Hanya beberapa puluh meter dari Sungai Jeneberang, saat jarum jam di angka sepuluh lebih dua puluh menit. Pagi mulai hangat. Para pengendara bergegas menderu menuju utara kota. Continue reading

Advertisements

PP Garam, Beraroma ‘Busuk’ dan Pahit

18485676_10155335550847767_7387358610000765641_n
Tambak garam di Maros (foto: Kamaruddin Azis)

Ekonom Faisal Basri menyebut ada pembusukan dalam tubuh pemerintahan Presiden Joko Widodo. “Terjadi pembusukan di dalam pemerintah sendiri, mengarah pada ungoverned government,” kicaunya di akun @FaisalBasri. Continue reading

Serdadu Jepang di Kampung Sino-sino

20170626_180649Usai shalat Jumat di mesjid raya Takalar, dengan Nurlinda, aktivis LSM setempat, kami menuju utara menyusuri pesisir Galesong. Kami ke Kampong Saro’, Desa Bontokanang, Kecamatan Galesong Selatan, Takalar. Kampung yang sebenarnya tidak asing bagi saya karena saat SD pernah berkunjung beberapa kali dengan nenek Baji.

Saro’ berdekatan Kampung Kawari dan Manari, juga tidak jauh dari eks pasar Takari di Galesong Kota di utara.

Membaca nama-nama kampung itu saya jadi ingat nama-nama identik Jepang.

Sebelum sampai di kampung, kami melewati jembatan sempit yang dipasangi palang untuk membatasi mobil truk melintas. Di sisi kanan muara terdapat puluhan perahu nelayan yang sedang tertambat.

Linda mengajak berkenalan dengan sanak keluarganya. Saya menjabat tangan dengan Daeng Gassing, Rabasiah Daeng Saga, Jaisah Daeng Maming. Mereka terlihat sudah sangat tua namun masih gesit. Warga asli kampung setempat.

Menurut penuturan Daeng Gassing, saat pendudukan Jepang umurnya kira-kira 10 tahun. Berarti umurnya sudah lebih 80 tahun saat ini.

Sayapun memuji karena berumur panjang.

Dia kemudian mengatakan bahwa salah satu resepnya adalah “tidak menyantap makanan yang masih sangat muda. Ibarat buah, hanya makan yang matang saja”.

Seperti rujak yang asam itu? Bagiku, entahlah, tapi barangkali ada makna tersirat dari pesannya ini atau mungkin secara denotasi, bermakna bahwa yang kecut tak bagus untuk kesehatan.

“Toapi nampa nikanrei, teai anu lolo,” katanya dalam bahasa Makassar yang artinya saat tua baru bisa dimakan, bukan yang muda.

Dari pengakuan mereka terkuak bahwa beberapa ex serdadu asal negeri matahari terbit yang menginjakkan kakinya di Galesong bagi Selatan, tinggalnya di Kampung Sino Sino, sekitar 200 meter di sisi timur dari kediamaannya sekarang dan dibatasi sungai kecil.

Mereka membuat kandang dan memelihara itik, walau kerap kali meminta ternak yang dimiliki warga setempat untuk diboyong ke kandang mereka.

Anjo Japanga, appareki tampak kiti nampa naerang mangeng joeng kiti niaka ri kampong nampa nakanre. Biasa poeng appareki juku pallu ce’la“.

Katanya yang artinya, Orang Jepang, membuat kandang itik lalu mengisinya dengan itik yang ada di kampung untuk dimakan telurnya. Kerap pula, memasak ikan pindang atau “pallu ce’la” dalam bahasa Makassar.

Daeng Gassing yang saya temui saat itu, sedang duduk di dipan yang sekaligus adalah ruang tamunya ditemani istrinya Rabasiah Daeng Saga.

Hadir pula seorang wanita seumuran mereka bernama Jaisah Daeng Maming, yang berwajah mirip “Indian”. Umur mereka kira-kira 60-70an.

tentarajepang
Tentara Zaman dulu (dok: Tirto)

Tentang Sino Sino

Saya juga memperoleh cerita dari seorang warga terkait keberadaan Jepang di pesisir Galesong. Salah satunya yang berdiam di sekitar Kampung Saro’.

Ya seperti yang tampak dari suasan kampung saat itu, Kampung Saro masuk wilayah Desa Bontokanang yang dipisahkan oleh sungai kecil dan berbatasan dengan Desa Bontoloe. Kawasan yang sangat strategis dengan ekosistem bakau yang masih terjaga dengan beberapa tambak yang mengering.

Setelah memotret muara sungai di kampung yang dijejali perahu-perahu nelayan, saya kemudian bertamu ke rumah Salmawati, salah seorang kader pembangunan desa di Desa Bontokanang.

Kali ini saya tidak menceritakan salah satu proyek pinjaman yang menjadi celoteh tuan rumah yang nampaknya lebih menarik mendengarkan cerita para pencari kepiting dibanding bangunan posyandu yang tidak terurus itu, yang baru saja saya foto.

Saya memang lebih tertarik membaca perspektif dan cerita warga tentang sejarah kampung mereka sendiri, tentang hubungannya dengan sejarah pedudukan Jepang, misalnya.

Di note ini, saya menceritakan hasil dialog saya dengan ibunya, yaitu Maeumunah Daeng Lele.

Maemunah adalah anak seorang veteran bernama Balacang Dg Rani. Daeng Rani beristrikan orang Karama, Batu-Batu. Lele lahir dan besar di Saro bersama lima saudara. Beberapa keluarganya tinggal di Pattinoang dan Saro.

Balacang Daeng Rani, menurut cerita Daeng Lele lahir pada tahun lahir 1912 dan meninggal dunia pada tahun 1996.

Ayahnya adalah pekerja pada barak tinggal para serdadu Jepang yang hendak menjadikan Kampung Sino Sino sebagai basis logistiknya. Rani muda diajak oleh ayahnya bernama Jalampang, yang memang mempunyai keahlian pertukangan.

Lele sendiri lahir pada tahun 1958 dan pernah bersekolah di SD Kanaeng, belajar di kolong rumah, dan mengingat bahwa salah seorang gurunya adalah Karaeng Salle, orang tua Prof Aminuddin Salle dan almarhum, mantan hakim agung, Prof Kaemuddin Salle.

Lele juga bercerita bahwa di dekat kampung, tinggal seorang ibu yang pernah dipersunting orang Jepang dan sejak ditinggalkan oleh suaminya itu dia kemudian menikah lagi dengan pria setempat. Wanita itu tinggal di Kampung Kalumpang, dekat Manyampa, namanya Daeng Maintang. Tidak ada anak dari suaminya ini.

Tena ana’na battu injo ri Japanga,” kata Lele yang artinya tidak ada anaknya dari suami Jepangnya itu.

Lele ingat, bahwa ayahnya pernah cerita bahwa rumah panggung orang Jepang itu pernah diganggu orang-orang aneh yang mereka juluki “tulongga” atau orang yang tinggi. Orang-orang longga ini konon adalah mahluk halus yang sangat jangkung yang kerap mengganggu keberadaan mereka di Sino Sino.

“Kakek saya pernah disusul orang Jepang yang lari terbirit-birit, napas tersengal dengan sepatu yang berderap keras, karena diganggu longga. Mereka lari ke kakek karena mereka pikir, kakek Lele tahu siapa orang-orang tongga itu,” sebutnya. Rupanya para Jepang itu menaruh harapan pada kakeknya.

“Oh iyye, ayah saya pernah cerita nama orang Jepang yang kerap datang ke rumahnya adalah Tuan Babang dan Tuan Nagawa,” ujar Lele.

Yang khas dari mereka adalah kerap makan buah “bila” atau buah “maja”. Buah yang isi dagingnya dibungkus kulit keras warna hijau seukuran buah melon dan isinya warna putih, seperti adonan terigu encer.

Kadir, dari Kalao Toa ke Singapura

Suasana di sekitar Pelabuhan Kota Benteng (dok: KA)

Laut tenang pada senja yang temaram. Horizon bumi dibalut awan berserak berbias merah tembaga, tepat di atas kaki langit Pulau Selayar pada tanggal 2 Juni 2010, matahari beranjak benam.

Saya baru saja merekam beberapa momen di sekitar Dermaga Benteng. Kamera Nikon kesayangan masih menggantung di leher. Saat bersiap pulang ke penginapan, saya mendapati seorang lelaki berbaju kaos putih bersandar pada tiang sisi kanan perahu kayu bercat putih pucat.

Wajahnya samar. Saya mendekat dan menyapanya.

“Kapal dari mana, pak?” seraya menunjuk badan kapal.

Lelaki dengan sorot mata tajam berkulit hitam, berkumis tipis yang duduk sedari tadi menjawab singkat, “Dari Kalao Toa,”.

Kalao Toa adalah pulau ujung tenggara-selatan Selayar, berdekatan dengan Pulau Madu dan Pulau Kakabia, antara wilayah Sulawesi Tenggara dan Laut Flores.

Saya memuji kapalnya yang besar dan lagi sandar di sebelah utara dermaga Kota Benteng.

Karena dia duduk, di atas tepi geladak maka saya pun memilih jongkok untuk menatapnya dengan setara.

Namanya Abdul Kadir, umur 30 tahun. Bersama tiga orang ABK dan seorang Nakhoda, mereka tiba kemarin, tanggal 1 Juni 2010 dari Pulau Kalao Toa dengan membawa kopra seberat 5 Ton.

Selain kopra, kapal yang dinakhodai Sanusi ini juga mengangkut sepuluh orang penumpang dari pulau di ujung tenggara Kabupaten Kepulauan Selayar tersebut.

“Kopranya sedikit, hanya 5 ton padahal bobot kapal bisa sampai 35 Ton,” kata Kadir.

Meski begitu, mereka masih beruntung karena ada 10 penumpang yang membayar Rp. 100 ribu sebagai biaya sewa kapal. Lumayan untuk mengurangi biaya solar yang dibutuhkan sebanyak dua drum.

Butuh waktu selama 18 hingga 20 Jam mengarungi laut Flores untuk sampai ke Benteng ini.

Sudah dua tahun ini, Kadir menjadi ABK di kapal Sanusi. Abdul Kadir lahir dari bapak Buton dan ibu Selayar. Dia tinggal di Desa Kalao Toa, bersama istri bernama Mulyana dan seorang anak bernama Edwin berumur 1 tahun.

Kadir, anak ketiga dari empat bersaudara. Pendidikan formalnya hanya sampai kelas 2 SD lalu berhenti, kandas. Satu kakak perempuannya menikah dengan lelaki asal pulau Buton.

Kalao Toa memang dikenal sebagai pulau yang dihuni oleh beberapa warga keturunan Buton dan Selayar seperti dari Kampung Tajuiyya dan Tanete. Bapak Kadir bernama Idris. Kadir lahir pada tahun 1980. Selain bekerja sebagai ABK, Kadir juga mempunyai beberapa area kebun kelapa dan tanaman jagung.

Mengangkut Cakar

Ada cerita menarik yang disampaikan Kadir tentang pengalamannya berlayar.

Kadir sudah pernah berlayar ke Kupang, Kendari hingga Singapura.

“Tahun 1992, saya pernah ikut berlayar ke Singapura bersama NNakhoda bernama Haji Ramli. Dalam tahun itu, saya sempat berlayar dua kali ke sana,” katanya.

Kala itu Kadir sebagai kru kapal yang membawa rotan dari Sulawesi Tenggara menuju Singapura.

“Waktu itu, kami berlayar dari Kota Kendari, kemudian melewati Surabaya, Belitung, Tanjung Pinang, hingga melintasi Batam,” ungkapnya.

Butuh waktu 13 hari kapal yang diawaki Kadir untuk sampai ke Singapura. Setelah membongkar muatan rotan di sana, Kadir cs menghabiskan waktu 15 hari di Singapura untuk mencari muatan.

Tahun-tahun itu memang sedang booming bisnis pakaian rombeng atau cap karung (cakar) atau pakaian bekas asal Singapura.

“Dari Singapura, kami membawa berbal-bal pakaian bekas,” kisah Kadir.

“Saat itu kami sempat diperiksa polisi, tetapi tidak dipersulit,” Kata Kadir.

Rupanya, kapal yang dinakhodai Haji Ramli (kini almarhum) dari Singapura itu juga punya target lain, membawa pakaian bekas itu ke Pammana. Pammana, adalah satu wilayah di Flores yang terkenal sebagai pusat distribusi pakaian bekas tahun 90-an.

Kampung Pammana ditempuh selama 10 jam dari Kalao Toa, kampung Abdul Kadir. Upah yang diperolehnya selama pelayaran itu selama satu bulan setengah itu, dia memperoleh Rp. 600 ribu.

“Saat itu saya belum menikah,” katanya. Dia mengaku selain menjadi ABK dia juga mengurus kebunnya.

Di Pulau Kalao Toa, walau termasuk pulau besar namun tanaman utama sebagai modal ekonomi warga adalah kelapa dan jagung. Walau luas, masih banyak warga yang belum sepenuhnya memanfaatkan lahan-lahan di pulau Kalao Toa.

Kadir adalah potret warga pulau yang tetap menggantungkan hidupnya pada geliat laku ekonomi pulau-pulau jauh seperti menjadi pelaut sekaligus mencoba bertahan di desanya dengan memanfaatkan lahan produktif.

Cerita Kadir, cerita warga kebanyakan. Entah apa yang akan dimuatnya ke Kalao Toa kelak.

“Saat ini kami belum tahu apa yang akan dimuat ke Kalao Toa,”.

Warga Kampung Mapia Belajar Teknik Hidroponik di Kota Makassar

DSC_2223Sebanyak 15 orang perwakilan warga Kampung (Desa) Mapia, Kecamatan Supiori Barat, Kabupaten Supiori, Papua bertandang ke Kota Makassar untuk belajar manajemen usaha perkebunan skala kecil, 18-21 Januari 2018).

Nadir, SP. M.Si dari Prodi Agribisnis Unismuh Makassar mengampu materi manajemen usaha perkebunan skala rumah tangga. Narasumber kedua adalah Takdir, ST, membawakan materi teknik hidroponik.

Narasumber ketiga sekaligus fasilitator pelatihan Kamaruddin Azis menyinggung aspek urgensi pengorganisasian dan pentingnya analisis kapasitas dan rencana aksi kelompok.

Untuk melengkapi wawasan, pengetahuan serta keterampilan para peserta, dilaksanakan pula studi banding ke Fakultas Pertanian, Universitas Muhammadiyah Makassar.

Pada pelatihan yang berlangsung di Durian Condotel Makassar itu, Nadir, yang juga sekretaris Prodi Agribisnis Unismuh memguraikan dimensi hidroponik, pengertian, bahan, alat dan jenis-jenisnya.

Nadir menjelaskan pentingnya inisiatif bagi warga untuk mengidentifikasi sumber daya yang ada di Kepulauan Mapia dan pentingnya kerjasama dalam menyusun rencana aksi perkebunan berbasis warga.

“Bukan hanya hidroponik, kelapa yang selama ini menjadi andalan Kampung Mapia bisa dimanfaatkan secara optimal. Selain konsumsi juga untuk berbagai bentuk kerajinan tangan. Bidang perkebunan, peternakan hingga usaha perikanan,” katanya.

Sementara itu, Takdir, yang telah menggeluti usaha hidroponik di rumahnya sebagai alternatif komersil, memaparkan alasan-alasan mengapa hidoponik bisa menjadi alternatif ekonomi rumah tangga karena kepraktisannya.

Selain memaparkan aspek teknik budidaya, menguraikan bahan dan alat, Takdir juga memandu pemahamanan, pengetahuan dan keterampilan warga dengan menunjukkan contoh fisik bahan hidroponik.

Beberapa peserta bahkan diarahkan untuk menggunakan bor listrik dalam melubangi wadah pipa hiroponik.

Kamaruddin menekankan hal-hal yang harus diantisipasi oleh warga Mapia terutama aspek ketersediaan air tawar, pembentukan kelompok hingga aturan bersama.

Di hari terakhir, peserta bertandang ke Fakultas Pertanian, Universitas Muhammadiyah Makassar.

Dekan Fakultas Pertanian, H. Burhanuddin, S.Pi, M.Si didampingi PD 1 Muh. Arifin Fattah, M.Si menerima peserta dengan antusias. Hadir pula ketua jurusan program studi agribisnis, Amruddin, S.Pt, M.Si.

“Kami berterima kasih kepada Kepala Kampung Mapia dan rombongan atas kunjungannya. Semoga ini menjadi model kolaborasi antara Unversitas terutama Prodi Agribisnis, LSM dan masyarakat Mapia,” kata Burhanuddin.

Di Unismuh, para peserta berkunjung ke ruang praktik hidroponik di lantai 4 dan memperoleh penjelasan dari pengampu mata kuliah ibu Jumiati dan asisten dosen Fahri.

Peserta sangat antusias menyaksikan instalasi hidroponik, juga ketika ada mahasiswa yang sedang memasang pipa-pipa. Ikut mendampingi Amruddin dan Nadir dari Prodi Agribisnis.

“Coba kalian fokus baik-baik pada penjelasan bapak ibu ini, biar nanti bisa jalankan di kampung. kita siapkan bahan dan alat nanti, yang penting sungguh-sungguh,” kata Willams Msen kepada perwakilan warga Mapia.

Williams adalah Kepala Kampung Mapia, gugus pulau terluar Indonesia di Tepian Pasifik yang juga ikut bersama peserta studi.

 

 

 

 

 

 

 

Derai Air Mata di Pemutaran Perdana ‘Silariang, Cinta yang (Tak) Direstui’

20180114_120942Film Silariang mengaduk-aduk emosi, marah, sedih. Saya menangis. Keren filmnya, we really enjoy it. Ikut bangga, wajib nonton!” — Nana Saleh, periset Unhas.

 

***

Perempuan itu didudukkan di atas motor, di antara setang dan sadel. Seorang pria berkopiah duduk di belakangnya. Mesin motor meraung, warga berkerumun. Si pria baru saja pulang melaut berminggu-minggu dan mendapati istrinya pergi dengan lelaki lain. Orang Makassar di pesisir selatan Sulawesi menyebut perempuan itu ‘anynyala’ atau silariang

Karena siri’, si lelaki, dengan amarah pergi ke Imam dan menarik istrinya ke atas motor. Dia menuntaskan hasrat siri’ di atas motor. Saya yang jelang akil baliq, ada di antara orang-orang yang berkerumum di poros Galesong, Takalar, Sulawesi Selatan di awal tahun 80an.

***

Tiga puluh tahun kemudian, di tanggal 14 Januari 2018, saya ada di kerumunan penonton yang baru saja menuntaskan sebuah film bergenre drama tentang Silariang di Studio 2, XXI Mall Panakukang.

Saya mengusap pipi sendiri sembari memandang ke istri di remang lampu studio.

“Saya juga sedih, menangis,” katanya.

Kami baru saja menonton gala pemutaran perdana film Silariang: Cinta yang (Tak) Direstui) dengan perasaan teraduk di XXI Mall Panakukang, Makassar.

Film bertema kawin lari lantaran tak direstui itu orang tua perempuan itu mengingatkan saya pada fragmen tragis di poros Galesong itu.

“Saya juga menangis,” timpal Nana Saleh, yang berdiri di samping saya bersama suaminya Sudirman Nasir. Kami duduk sebaris di bagian L. Saya duga Sudirman juga berkaca-kaca matanya untuk tidak disebut terdakwa yang menangis.

Bersama kami ada seratusan penonton bergerak di belakang saya dengan decak kagum, tertawa dan memberi tepuk tangan.

Siang itu beberapa studio diboyong oleh film Silariang untuk gelar perdana, film yang menurut orang-orang berbiaya lebih semiliar itu. Saya kira ada ribuan orang sedang bersuka-cita di pergelaran perdana film itu.

Perihal film

Film diproduseri Ichwan Persada, pria yang ada di balik film Batas dan La Tahzan. Sebagai sutradara adalah Wisnu Adi, film yang pernah dibesutnya adalah Kekasih dan Miracle Jatuh dari Surga.

Film ini memapar naskah milik penulis Oka Aurora dan diproduksi bersama Inipasti Communika dan Indonesia Sinema Persada. Sebagai pemain utama, ada Bisma Karisma, anggota kelompok penyanyi Smash berwajah imut ini pernah main di film Juara serta Nada dan Asa.

Bisma sebagai Yusuf, pria kemaruk pada Zulaikha. Cinta yang tak direstui Puang Rabiah, ibu Laikha, begitu sapaannya. Andania Suri yang kulit putih, dengan rambut halus ‘tipis’ di atas bibirnya ini pernah main di film Air Mata Surga dan Beauty and the Beast sebagai Laikha.

Sosok superpenting lainnya adalah Dewi Irawan yang berperan sebagai Puang Rabiah.

Tak hanya dingin berlakon dalam menolak cinta, dia juga tega menyebut anaknya telah mati. Rabiah yang dilakoninya tak melakukan apa-apa saat Ridwan, memburu pasangan kemaruk cinta tersebut dengan badik di tangan.

Sosodara! Bagi saya yang membuat berbeda, unik dan menggelitik emosi di film ini adalah aktor watak seperti Sese Lawing yang bertindak sebagai paman Zulaikha, kemudian Muharu Wahyu Nurba yang bersedia menjadi Dirham, ayah Yusuf.

Sese adalah pemusik yang saya kenal kreatif dan piawi memasukkan konten nilai Bugis-Makassar ke dalam gubahan dan lagaknya.

Sedang Muhary, oh, lelaki ini yang nampaknya telah membuat saya, istri, Nana dan juga Sudirman larut dalam sukacita berbuah tangis haru. Kami bersahabat. Media sosial mendokumentasikan bagaimana kami berinteraksi, berbagi dan mencandai satu sama lain.

Dengan Muhary, saya dan Sudirman mencandai masa lalu dengan tema film dan lagak Rhoma Irama, tentang celana panjang A. Rafiq, hingga Farouk Afero, pelakon top di film-film yang kami tonton di dasawarsa tahun 80-an.

Beberapa waktu lalu Muhary, pelakon pria Dirham di film Silaring itu, meminta saya menerjemahkan lagu Bugis Ininnawa Sabbarae ke dalam bahasa Makassar melalui Facebook.

Lagu itu pula yang mengalun saat Zulaikha berbaring di pangkuan Rabiah, perempuan yang sejatinya sangat dia hormati dan sayangi tetapi cinta telah membuatnya memilih keputusan menantang adat dan maut.

Jujur saja, mendengar lirik Ininnawa Sabbarae, alunan musik nan mendayu, pesan tersirat, dan momen ketika Zulaikha rebah di depan ibunya telah menimba kesedihan dan air mata. Adegan itu mengaduk perasaan sebelum tumpah jadi derai air mata.

Saya sempat minta izin ke toilet ketika durasi fim masih seperempat jalan. Lebay!

Oh ya, ada pula bintang baru Makassar bernama Cipta Perdana, sahabat saya Andi Hadriany di Selayar menyebut pria ini adalah anak Selayar yang tinggal di Bonehalang! Selamat kongsi!

Di film itu, Cipta sebagai kakak Zulaikha bernama Zulfi. Zulfi nampaknya sudah tercerahkan sebagai anak zaman now dan tidak kebablasan memaknai siri’.

Perannya berhasil mengimbangi tensi Ridwan yang meledak dan membuat gamang ibunya yang sejatinya mencintai anaknya.

Mengaduk emosi

Nana benar. Saya juga berani mengatakan bahwa film ini menjadi mengaduk emosi penonton Makassar dan bakal mengail atensi maksimum dari penonton di tanah air terutama entitas Bugis Makassar karena permainan watak pemainnya.

Kehadiran Bisma dan Andania harus diakui bakal mengerek minat menonton film terutama bagi usia 13 hingga 20 tahun. Dewi, Muhary, Sese telah berhasil membuat penonton dewasa untuk tetap duduk dan mengamati lamat-lamat pesan substantif film itu.

Dewi Irawan nan tenang, berhasil mengecap paripurna karakter seorang ibu Bugis-Makassar, dia pantas disebut sebagai penyampai pesan film.

Muhary dan Sese sukses mempertontonkan kematangan mereka sebagai sastrawan, sebagai budayawan.  Muhary yang saya kenal adalah peyunting kata, penerbit buku, pembaca puisi. Sese sebagai musikus bercorak Bugis-Makassar yang sudah terbukti kiprahnya.

Dirham yang diperankan Muhary terlihat tegas, traumatik, cenderung sinis pada tatanan adat. Ada konflik di dialog yang diciptanya terutama dengan anaknya. Pada situasi ini, Muhary sukses membuktiknya aktingnya.

Secara umum, film ini tak hanya menawarkan keindahan visualisasi, musik dan tipikal orang Bugis-Makassar dalam berinteraksi. Film ini tak garing sebab ada sosok pengail gelak tawa. Mereka adalah sepasang suami istri yang diperankan oleh Nurlela M. Ipa sebagai Dhira dan Fhail Firmansyah, pria asal Palopo yang berperan sebagai Akbar.

Keduanya adalah sebagai sepasang suami istri yang nihil anak dan terlibat relasi spontan dengan Yusuf dan Laikha. Bermain dengan bebek, sapi, naik perahu dengan latar bukit karst adalah sisi humanis dan ekologisnya film ini. Peran mereka sebagai teman bagi sepasang yang Silariang itu amat bisa menyeimbangkan emosi penonton karena pesan cerita yang dramatis.

Setting film yang menggunakan keindahan bukt karst Rammang-Rammang di Maros serta Pangkep sebagai latar kisah pelarian keduanya, membuat film ini terlihat menawan dan menyegarkan kenangan juga harapan. Belum lagi lekuk sungai di antara bukit karst, juga deru mesin perahu yang mengantar pelarian dan persembunyian Yusuf dan Zulaikha.

Mencecap substansi

Begitulah, sebagaimana judulnya, film ini menceritakan cinta yang tak direstui yang berujung pada praktik Silariang atau Anynyala itu. Api konflik bermula ketika pesan lamaran ditampik oleh Ridwan yang ditunjuk mewakili keluarga Zulaikha.

Tema Silariang sudah sering dibincangkan, dikisahkan, diteaterkan hingga ditayangkan di layar kaca. Dari judul awalnya saya menebak alur cerita yang akan sarat konflik, berbalas hujatan, dendam, juga darah. Praktik Silariang di kalangan pemeluk budaya Bugis-Makassar adalah laku yang berkonsekuensi pada siri’. Dia dapat berujung pada penghakiman sosial hingga eksekusi ujung badik.

Film ini menjawab tebakan saya dengan pilihan yang di luar dugaan, tidak ada darah pada Yusuf, tidak ada tarung antara kedua belah pihak, yang ada malah pendarahan Zulaikha saat berada di dapur. Juga konflik tambahan pada risiko keluarga itu. Antara menjual kamera penumpu ekonomi Yusuf atau anaknya tak punya susu. Juga konflik internal keluarga mereka yang berujung lisan Yusuf untuk mungkin saja meninggalkan Laikha.

“Itu pesan film, mereka yang menikah cepat, bisa saja labil dalam mengambil keputusan, emosial juga,” kata Sudirman, penulis dan jebolan Doktor Ilmu Kesehatan Masyarakat Unhas dari Melbourne di samping saya.

Firdaus Muhammad, akademisi dan esais sosial keagamaan Sulawesi Selatan mengatakan film ini berbeda karena nilai-nilai yang dikandungnya.

“Ada unsur edukasi melalui materi-materi tradisi yang diangkat di dalamnya,” katanya saat kami selesai menonton.

Lagu Musikimia, Meski Kau Tak Ingin mengalun apik dan bikin mewek sehingga saya berani bertaruh ada puluhan orang yang menitikkan air mata di film itu bersama kami.

“Film ini memang ditujukan untuk usia 13 tahun ke atas, jadi lebih responsif usia, biar mereka bisa belajar dari pengalaman tradisi kita,” kata Muhary, editor buku-buku sastra dan pembangunan masyarakat ini.

Di film berdurasi 1 jam 38 menit ini, istilah-istilah adat, seperti ‘Mabbarata’ menyeruak

dan mungkin banyak yang belum tahu. Demikian pula prosesi mengantar nisan sebagai bukti bahwa Zulaikha sudah dianggap mati oleh keluarganya karena Silariang itu.

Selain Ramang-Rammang yang disorot kamera berulang-ulang, tampil pula Pantai Losari Makassar sebagai bonus film. Hal yang saya sampaikan langsung ke Muhary, usai film diputar, “Adakah andil Pemkot Makassar di film ini?” begitu tanyaku.

Lima pemantik

Mengetahui bahwa film drama bertema ’kawin lari khas Bugis Makassar’ maka pasti akan muncul kesan tentang ‘hitam putih’ pilihan, diterima atau ditolak, hidup atau mati. Ini yang menjadi bekal untuk diboyong ketika memandangi layar lebar. Karena penggambaran itu pula, saya membayangkan perlunya pelakon kuat, berkarakter dan bisa menyerap seluruh energi khas Bugis-Makassar dalam membahaskan, aksen dan gerak geriknya.

Di film bergenre drama ini saya mencatat ada beberapa kejutan.

Pertama, dialog film yang menggunakan logat Makassar mendidihkan emosi dengan spontan. Jual beli kata denga aksen Bugis-Makassar membuat saya merasa dekat dengan pemilik cerita, juga emosi yang dikandungnya.

“Tabe’ mak, bolehka’ bicara? Yusuf sudah lamarka’.”

“Janganmako terus berhubungan.”

“Tapi tidak mauka sama yang lain.”

“Janganmako tanya kenapa.”

“Restu ibu itu kuncinya surga!”.

Alamak, dialog seperti itu membuatku bergetar. Jantungku bekerja keras. Sungguh!

Kisah asmara Zulaikha, ketegasan Puang Rabiah dan amarah Ridwan yang meluap saat mencari Yusuf dan Zulaikha membuat perasaan teraduk-aduk. Amarah berlatar siri’ itu hampir saja melumat Zulaikha kalau tidak ada Zulfi dan Akbar yang rela menyimpan rahasia.

Melihat kesungguhan Akbar dan Zulfi yang melindungi Zulaikha, tetiba mata saya berkaca-kaca. Kali ini bulir air mata jaruh menetes. Hijab istri saya yang lumayan panjang jadi korban, saya menariknya dan menghapus derai air mata.

Kesedihan semakin berlipat ketika tahu Dirham, ayah Yusuf punya kenangan pahit sebagai lelaki yang ditolak oleh keluarga Bugis Bone lantara beda kelas. Dia menasehati anaknya, Yusuf untuk tak meneruskan hasrat mencintanya itu karena dia tak bisa ‘mengganti darahnya jadi darah biru’.

Dalam tradisi Bugis-Makassar, mereka yang kawin lari, Silariang atau Anynyala, mereka harus menanggung malu dan menjadi sasaran sanak keluarga yang merasa tercoreng harga dirinya.

Hal kedua, hasrat untuk melihat akting penulis, editor, sastrawan, fotografer, Muhary Wahyu Nurba, yang bertindak sebagai Dirham, ayah si Yusuf sungguh sangat besar. Perihal film Silariang yang sudah wara-wiri di dunia maya membuat saya antusias maksimum untuk melihat aktingnya.

Saya duga, Muhary alias Dirham akan mendayu-dayu dengan kalimat puitik sebagaimana biasanya atau sebagaimana saya cermati dari puisi-puisiya, namun, dia terlihat ‘tega’ pada pilihan kawin lari anaknya.

“Ih masa’ tidak nakasiki anaknya amplop, uang,” kata penonton saat melihat adegan Dirham dan istrinya berkunjung ke rumah pelarian anaknya. Yang ada malah dialog.

Ada pujian Dirham pada keberanian anaknya.

Hal ketiga, sangat menyenangkan melihat adegan orang-orang berbahasa Ibu, beraksen Bugis Makassar di layar lebar yang selama ini jadi langganan film-film asing dan ‘asing’ dari sisi tradisi atau kebiasaan kita.

Siapa tak bergetar saat menonton bahasa Ibu di layar kaca di kampung halaman?

Keempat, air mata berderai karena saya (Anda?) mudah tergugah oleh konflik yang memposisikan orang pada yang kalah, takluk dan tak bisa membuktikan motif pilihannya karena menjadi subordinasi kelas.

Ini tentang perjuangan menunjukkan cinta. Ayolah!

Hal kelima, mari relakan air mata bahagia mengalir saat melihat orang yang kau kenal selama ini getol memperjuangkan nilai lokal, keunggulan dan kekhasan etik Bugis-Makassar, kesantunan dan praktik sastrawi dalam laku dan lisan di keseharian melalui praktik kesenian, kebudayaan, film yang ditengarahi bisa mendorong perubahan, perlahan dan pasti.

***

Karena emosi yang terkuras dan memancarkan ruapan air mata itu, saya grogi saat mencari pintu keluar untuk ke toilet. Saya tidak tahu kalau untuk keluar harus berputar balik ke pintu. Untung orang-orang tidak melihat (karena gelap) saat saya menekan dinding studio yang saya kira pintu keluar.

Kisah memalukan kedua, saya hampir salah masuk setelah dari toilet, seharusnya ke studio 2 tapi saya menyelinap di pintu Studio 1. Saya kemudian grogi ketika dua perempuan yang duduk di depan saya berbalik melihat saya saat duduk kembali di kursi L 14.

Sosodara, sudah cukup ya puja-pujinya. Segeralah menonton untuk lebih tahu lekuk cerita.

Film ini adalah edukasi yang baik untuk sesiapapun tentang risiko mencinta, tentang dampak ketika urusan cinta dipersulit hanya karena alasan materi, demikian pula risiko ketika kawin muda, bukan hanya adat atau tatasan sosial yang harus jadi pertimbangan tetapi juga kesiapan mental saat berani mengambil insiatif.

Lebih dari itu, saya membaca pentingnya kita semua berlaku bijak pada realitas tradisi atau budaya siri’ pada tindak Silariang atau Anynyala.

Di kota-kota mungkin sudah tidak ada respon berlebih, tetapi di desa-desa jauh, pedalaman, pesisir atau pulau-pulau, pilihan menegaskan cinta bernama Silariang masih ada, demikian pula pilihan menegakkan adat pun masih ada. Masih berlangsung, bahkan jauh setelah peristiwa ketika pria di atas motor di Galesong itu mengeksekusi perempuan yang disebutnya anynyala atau silariang itu.

***

“Keren filmnya, we really enjoy it. Ikut bangga, wajib nonton! Flm itu itu mengaduk-aduk emosi, marah dan sedih sampai saya menangis,” kata Nana Saleh yang bertahun-tahun tinggal di Melbourne Australia ini.

Jika ada yang kurang di film ini, itu adalah penekanan pada adegan-adegan yang bisa melemahkan kisah cinta pasangan Silariang itu, demikian pula deskripsi latar belakang Yusuf dan Zulaikha, bukan keluarganya tetapi bagaimana mereka bisa menemukan kecocokan. Di film ini hanya disorot selama semenit pertama.

Yang masih buat penasaran adalah minimnya penjelasan tentang asal Kampung Yusuf, atau asal usul trah keluarga Zulaikha.

Kenangan traumatik Dirham yang mengaku mencintai perempuan dari Bone belum menjawab harapan saya untuk memetakan potensi dan challenges berjodoh lintas etnis di geografi Makassar, Bugis, Makassar, atau mungkin Mandar, Toraja atau Tionghoa sekalipun.

Apapun itu, film yang telah merangkai keindahan alam Sulawesi, pernik tradisi dan ciri komunitas Bugis-Makassar ini telah menghantar saya ke memori pertemuan dengan lelaki berkopiah di atas motor yang dengan dingin mengeksekusi perempuan yang disebutnya silariang atau anynyala.

Saya bertemu dengan lelaki itu di tahun 2005 di Kota Palopo, sosok yang sudah bergelar haji itu juga menyatakan kerinduannya untuk kembali ke Galesong. Rindu pada jejak-jejak kenangannya, pada keteguhan merawat semangat mencinta.

Tamarunang, 15 Januari 2018

 

Cerita Suyitno, Lengah di Laut Berarti Karam!

20180105_102020
Suyitno (kiri) bersama Dirops Laut Bakamla (foto: istimewa)

Jumat, 5 Januari 2018, Jakarta baru saja menggeliat. Dengan ber-KRL, saya bergegas ke kantor Bakamla RI di pusat kota. Saya berjanji dengan Direktur Operasi Laut Bakamla, Laksma R. Eko Rahardjo untuk berbincang mengenai Bakamla, tantangan dan ruang lingkup tugasnya.

Sebelum bersua perwira bintang satu tersebut, saya menyempatkan berbincang dengan Suyitno, S.Sos, M.Si, personil dari Kementerian Kelautan dan Perikanan dan diperbantukan sebagai PPNS Perikanan di Bakamla RI.

Bersama Suyitno, hadir pula Letkol Laut (P) Asep Budiman, Kasubdit Reneval Opsudimar, Bakamla RI yang menceritakan ruang lingkup tugas dan fungsi Bakamla serta tantangannya.

Sementara itu saat ditanyakan suka duka menjadi personil Bakamla kala melakukan operasi, Suyitno mengatakan tetap mempunyai risiko meski sejauh ini masih bisa dikendalikan.

“Seingat saya dalam tahun 2017, saya ikut empat kali operasi bersama Bakamla RI. Di tahun 2016 berhasil ditangkap 19 kapal asing, dari Vietnam semua. Terakhir yang paling banyak ditangkap itu di awal tahun 2017, ada 13 kapal. Lokasinya di perairan Anambas, Kepri” kata Suyitno.

Menurutnya, beberapa di antaranya sudah ditenggelamkan tahun lalu.

Saat ditanya perihal tantangan terbesar selama melaksanakan operasi seperti itu, Suyitno mengatakan tantangannya adalah ketika mereka (nelayan asing) melawan meski sudah diperingati atau bahkan ditembaki.

“Tantangannya kalau mereka melawan sampai kapal kita ditabrak, seperti yang kami alami saat memergoki mereka di sisi barat Kota Tarempa. Sekitar perbatasan perbatasan Malaysia, di sekitar lokasi pengeboran minyak,” ungkap Suyitno.

Peristiwa tersebut berlangsung di bulan Desember 2016, saat gelombang sedang tinggi.

“Saat itu musim utara, kami menggunakan Kapal Hiu Macan I. Saya sebagai personil on board dari Bakamla. Jadi sifatnya operasi gabungan namun meminjam kapal KKP,” kenang Suyitno.

Dari Suyitno diperoleh informasi bahwa di tahun 2016 itu dia menjadi bagian dari operasi yang digelar dari bulan Oktober – Desember yang membutuhkan jumlah waktu selama 60 hari.

“Kita melaksanakan tiga kali operasi dan kita dapat 19 kapal di bulan Oktober-Desember 2016 itu,” katanya terdengar optimis.

“Kapal kita sama-sama pecah pak. Meski ditembakin, mereka nabrak kita,” kata alumni Universitas Mustopo Jakarta yang pernah menjadi asisten tokoh Soedomo (ketua DPA) ini.

Pengabdian Suyitno di Bakamla RI bermula ketika dia dipromosikan oleh Direktorat Pengendalian Sumber Daya Kelautan dan Perikanan KKP.  Dia merupakan alumni dari program sekolah penyidik KKP.

Di Bakamla, Suyitno datang bersama 5 utusan KKP lainnya dan bergabung dengan100 personil dari TNI-AL, 6 dari AU, 3 dari AD, Polri sebanyak 21, Jaksa 3 orang serta 2 orang perwakilan Kementerian Perhubungan (Laut).

“Saat itu, di tahun 2006, KKP sedang kekurangan tenaga penyidik perikanan,” kata pria kelahiran Semarang, 48 tahun lalu ini dan sekarang menjabat sebagai Kasi Operasi Keamanan Laut.

Bersinggungan dengan nelayan asing yang masuk secara ilegal adalah persoalan pelik dan sejatinya harus diredam, baik dengan persuasi maupun dengan penegakan hukum. Beberapa nelayan tersebut bertindak tega dan bahkan telah mengakibatkan korban jiwa bagi aparat di garis depan.

Tak hanya itu, mereka juga menyebabkan persoalan sosial seperti yang dialami warga Kota Tarempa beberapa waktu lalu dimana perahu nelayan dilarikan dari lokasi penahanan di Tarempa Timur.

Dari cerita Suyitno ini, jelas bahwa upaya penegakan hukum dan konsistensi dalam menegakkan marwah kedaulatan negara di titik-titik rawan seperti perbatasan dengan Malaysia dan Vietnam harus terus dikobarkan. Tidak boleh main-main, apalagi mengalah pada pencuri ikan.

Dari cerita Suyitno, kita bisa mengatakan jika kita lengah menghadapi pencuri ikan maka itu berarti kalah dan karam! Mau?