Tetamu, Hoakisme dan Double-Crosscheck

Ilustrasi (sumber: istimewa)

Pertemuan saya dengan sepupu dari Palu kemarin, memberi inspirasi. Begini, jika semua pembesuk bertanya kronologis kejadian gempa bumi dan tsunami pada orang yang sama, berulang-ulang, sementara yang ditanya sedang bersimbah keringat, berderai air mata, menahan rasa sakit, tidakkah itu menyiksa?

Saya memulai dari pernyataan itu sebab orang-orang belakangan ini semakin getol berburu data dan informasi meski ditempuh dengan cara atau metodologi yang tak pas dan kadang tak sensitif perasaan pemilik informasi. Bahkan kadang amat menyakitkan.

Bagi anda staf desa, atau yang bertugas di desa, atau kelurahan, mungkin sering melihat situasi ini.

Banyak orang kota (yang mengaku peneliti atau fasilitator proyek) datang ke desa dan semua data informasi yang tersedia di papan informasi desa, papan struktur, dan semua yang tertempel di dinding difoto, dikumpulkan, disigi, diulik. Mereka hanya bilang ‘hai’ dengan nada datar tanpa senyum dan menerabas rambu-rambu norma interaksi layaknya mahluk sosiologis.

Karena mereka, misalnya, mewakili insitusi Pemerintah yang lebih tinggi atau pemilik proyek dengan dana miliaran di tas, mereka mengabaikan sapaan ke petugas desa, staf desa, atau ke kepala desa yang mungkin sedang duduk khidmat dan fokus dengan pekerjaan ketika mereka datang.

Setelah itu, mereka, si tetamu, sibuk membolak-balik laporan desa, ada yang foto ruang desa, memeriksa bersih tidaknya toilet, atau mengetes ketebalan debu di piring-piring dapur. Mereka tak tertarik menyapa lebih mendalam, heart to heart, bersinggungan mata hati hingga meletakkan telinganya di bibir orang-orang di kantor desa.

Orang-orang berlomba mengumpulkan informasi tanpa memastikan (bertanya) dari manakah gerangan informasi itu. Siapakah gerangan yang mengumpulkan, kapan dan sudah berapa lama bertengger di dinding kantor desa.

Tidak bertanya apakah pernah ada pengumpulan data informasi desa lain dalam beberapa tahun terakhir dan selama ini, bagaimana data dan informasi itu telah dimanfaatkan.

Orang-orang yang gegas mengumpulkan informasi tanpa memerhatikan kaidah atau metodologi yang sesuai dengan pemilik data dan informasi adalah persoalan kita saat ini.

Dengan data dan informasi yang mereka buru, mereka endus, mereka gairahi, mereka mengabaikan pentingnya membangun hakikat pertemanan antara yang butuh dan yang punya, antara tamu dan tuan rumah.

Mereka maunya cepat dan menjawab dahaga mengumpulkan informasi tanpa pernah berterus terang ke pemilik data dan informasi, untuk siapakah gerangan itu semua dikumpul. Tanpa mau tahu nasib data dan informasi yang mereka kumpulkan. Yang oleh teman saya dinyatakan. “Kenapakah setiap ada kuliah, ceramah, pidato, atau pelatihan, kalian lebih senang menulis, foto-foto slide tanpa sedikitpun mendekatkan telingamu ke bibir presenter?”

Saat itu, orang-orang itu semakin banyak, masif dan semakin berpotensi jadi ancaman. Bahkan di bangku kuliah, atau di sekolah-sekolah. Tidak ada dialog, tidak ada saling menggeledah pengalaman atau refleksi.

Mereka, tetamu itu, semakin gairah, semakin berambisi, dan semakin jauh ke kubangan dan pusaran data dan informasi. Hal yang menggelikan lagi adalah, mereka tidak mau peduli apakah data dan informasi itu masih relevan dengan suasana kekinian dan nanti.

Pokoknya kumpulkan saja. Urusan nanti, itu belakangan. Orang-orang yang tidak memeriksa keotentikan data dan informasi, tak memeriksa sumber dan masa kejadian, adalah perkara yang banyak diabaikan oleh pengusung – saya menyebutnya Hoakisme – seperti yang kita gelisahkan belakangan ini, yang semakin mengusik keunggulan sisi insaniah kita.

Di tengah bergairahnya social media dan teknologi informasi secara umum, saya membayangkan keindahan tiada terkira jika kita semua lebih banyak melakukan double-crosscheck, dengan bertanya ulang ke penyedia informasi, ke penyampai broadcast. Tentang asal usul data dan informasi yang dihamburkan sebagaimana banyak terjadi di Whatsapp.

Jangan dikira, kami orang-orang (desa atau penghuni grup) tanpa sumber informasi, jangan dikira kalau kalian dapat informasi kiriman, seakan-seakan kami tak merasakan, kami tak punya harapan untuk mengaksesnya.

Bukankah baik kalau mengantar berita dengan bertanya di grup Whatsapp. “Mohon izin guys, bisakah saya bagikan informasi ini?” dan saya membayangkan anggota grup WA bilang secara berjamaah, “Tidaaaaaaak!”

Daeng Nuntung, Tamarunang, 05/10.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.