Baba Guru, Mengenang Film Rhoma Irama di Klenteng Galesong

“Hadirilah…, banjirilah pemutaran film terbaik tahun ini, dengan bintang utama ….Aaaaa. Raaaaafiq…!!!”.

Mobil bak terbuka digeber, asap panjang meliuk dari knalpot. Suara Nawir meraung dari loudspeaker. Lengkingan cempreng itu menyebar ke segenap penjuru kampung. Mobil bergerak dari Pasar Takari di Galesong Kota hingga kampung-kampung di sekitarnya. Riuh sekali.

Fragmen di atas adalah suasana promosi menjaring penonton dari berbagai pelosok dusun. Nawir si pengantar film, mengumumkan film yang akan diputar di malam hari. Walau sudah mendengar apa yang diteriakkan, para warga, mulai dari anak-anak hingga kakek-nenek tetap berhamburan keluar untuk menyaksikan seperti apa gambar film yang akan diputar itu. Suasana sangat ramai menyambut bioskop yang pertama kali hadir di Galesong pada awal tahun 80-an ini.

Usai magrib, para penonton sudah berkerumun di halaman depan bioskop. Dari desa lain, seperti Bontoloe, Bontorita, dan desa-desa di utara berbondong-bondong seperti Tamasaju, Bontolebang, Batu-Batu. Penonton tumpah ruah setiap malam pada satu ruangan besar berukuran 35 kali 20 meter. Suasana begitu hidup karena selain pemutaran film, di sekitar lokasi menjamur penjual makanan dadakan. Kacang rebus dan kacang sangrai, telur asin, buah-buahan, utamanya mangga.

Kaum muda bergaya 70an, dengan celana panjang kaki lebar, rambut gondrong penuh wewangian bunga lavender, rambut mengkilap seusai disergap minyak rambut Tancho. Suasana menjadi ceria ketika sesekali muncul para kawe-kawe khas Galesong yang menghangatkan pemutaran film.

Siapakah orang di balik “bioskop desa” itu? Lelaki berkulit putih berbadan gempal dengan kacamata tebal adalah pemilik bisnis layar lebar itu. Namanya Baba Guru. Tahun 70an hingga 80an Bioskop Galesong adalah bioskop ternama. Jaman di mana film-film silat, music, cerita peperangan atau eksyen hingga silat dengan bintang seperti Bruce Lee, Rhoma Irama, Elvi Sukaesih, A Rafiq, Benyamin, Bing Slamet, Ateng CS sangat terkenal pada saat itu. Warga mabuk kepayang dengan Satria Bergitar. Film-film yang bertema heroisme seperti perang kemerdekaan juga terbilang sukses, film yang dibintangi Kaharuddin Syah laku keras.

Siapa Baba Guru?

Baba Guru adalah bungsu dari sembilan bersaudara pasangan Ho Kim Tjui dan Tung Soak Tin. Saat ini hanya dia yang masih hidup, kedelapan saudaranya sudah meninggal dunia. Lahir dan besar di Galesong, bergaul dengan banyak keluarga raja Galesong memberinya posisi dan kekuatan untuk giat berusaha.

Antara tahun 1970-1973, bersama bapaknya, Baba Guru yang bernama asli Ho Ho Ping, telah mulai ikut dalam bisnis keluarga dengan berdagang hasil laut termasuk telur ikan terbang. Sebelum terjun di bisnis telur ikan, orang tua Baba Guru, Ho Kim Tjui, adalah pedagang besar antarpulau. Saat itu banyak peminat ikan terbang. Permintaan datang dari Panarukan, Situbondo di Jawa Timur hingga Buleleng Bali.

Mereka Berjaya di antara tahun 1960 hingga 1973. Ekspedisi barang menggunakan kapal besar dan berangkat dari Pelabuhan Makassar dengan menggunakan kapal lambo atau nama lain dari Pinisi. Lambo merupakan nama yang kerap disebut oleh para pelaut Makassar. Selain membawa ikan terbang, mereka juga mengirim berkarung-karung kacang hijau. Hasil bumi dari antero Galesong dipasarkan jauh hingga tanah Jawa.

Menurut Baba Guru, sejarah munculnya gagasan berusaha telur ikan terbang berawal dari seorang yang bernama Ali. Ali berasal dari Pulau Jawa yang saat itu mencari tahu, potensi telur ikan terbang. Baba guru menduga si Ali mewakili kepentingan pemerintah saat itu. “Semacam orang dinaslah,” katanya.

Dialah yang mulai mengajak orang setempat untuk mencari telur ikan terbang. “Kira-kira pada awal tahun 70an,” kenangnya. Setelah itu, warga mulai menggeluti usaha ikan terbang.

Modal awal usaha perikanan dari kawasan ini memang lebih dari cukup; jumlah perahu, pengetahuan jalur-jalur pelayaran dan hubungan sosial ekonomi dengan pulau-pulau disekitar Galesong yang sudah berlangsung lama. Mulai dari pulau Kodingareng di Makassar hingga pulau Dewakang di perbatasan Madura. Di tahun 60an, keluarga Baba Guru telah mempunyai mobil truk. Satu-satunya mobil yang ada di Galesong. Mobil inilah yang mengangkut barang dagangannya.

Tahun-tahun awal usaha telur ikan terbang di Galesong kemudian menjadi usaha inti keluarga Ho. Dari sinilah orang mengenal pengusaha telur ikan bernama Ance Ponga, salah satu pengusaha top dari Galesong. Tapi tidak lama bergiat di usaha perikanan, usahanya kalah bersaing oleh beberapa perusahaan dari Makassar, seperti PT Sentosa, Malangke, Serjaya dan Padaidi.

Bisnis Bioskop

Setelah mengalami kemunduran dalam bisnis telur ikan terbang pada awal tahun 1973, Baba Guru berinisiatif menyewa bangunan milik Koperasi Unit Desa Batara, yang saat itu dipimpin oleh Haji Mangung. Letaknya di bagian barat pasar Kota Galesong. Lokasi yang nampaknya strategis untuk menggaet penonton.

Kombinasi yang apik, pasar dan bioskop. Selain mengiklankan filmnya melalui mobil keliling, warga dapat menikmati judul dan gambar film dari billboard yang terpasang di depan bioskop. Praktis bukan?

Baba Guru paham betul bahwa warga Galesong haus hiburan, setelah fenomena televisi umum di pertengahan tahun 70an di halaman Kantor Camat Galesong Selatan yang selalu dirubung penonton saban malam. Pada tahun 1981 bioskop pun beroperasi dengan sistem sewa bangunan setiap tahun.

Usaha ini muncul bukan seketika. Melainkan berkat dukungan teman Baba Guru asal Makassar yang bernama Robert. Robert-lah yang memperkenalkannnya dengan pengelola bioskop-bioskop seperti Ampera, Dewi dan Makassar untuk memperoleh dan menyewa film-film yang hendak diputar.

“Saat itu, kita sewa film dengan harga bervariasi, tapi rata-rata sekitar Rp. 200,000,- untuk film bagus dan diputar hanya beberapa hari,” kenang Baba Guru.

Saat-saat awal pemutaran film, harga tiket dipatok pada harga Rp. 1.000,-. Penonton yang datang pada saat itu, adalah orang-orang dewasa. Sangat beresiko untuk membawa anak kecil. Penonton dari kalangan perempuan masih sangat kurang. Kalaupun ada itupun bersama dengan pasangannya.

Film-film musikal dengan bumbu eksyen kala itu sangat digemari seperti film Rhoma Irama dan A.Rafiq. Selain ini, penonton juga menyukai film silat Mandarin dan film-film drama Indonesia yang dibintangi seperti August Melaz dan Roy Marten.

Dibutuhkan 3 orang staf untuk mengoperasikan usaha bioskop ini. Operator, pemeriksa tiket dan pengamanan. Pengamanan tambahan kerap diminta pada aparat kepolisian sektor dan komandan rayon militer saat itu, utamanya saat penonton membludak.

Menurut catatan saya, selama beroperasinya bioskop ini, tercatat beberapa kali ada perkelahian. Berkelahi karena penonton yang mabuk. Pernah pula salah seorang penonton terluka karena terkena tikaman badik.

Akhir tahun 80an, bioskop ini kemudian tutup layar untuk selamanya, ketika film dari pita kaset video mulai merebak. Saat itu, pemutaran video telah marak di kampung-kampung sehingga mengurangi aliran penonton ke bioskop. Selain kaset video, televisi swasta juga mulai menyita perhatian warga.

Tapi api bisnis Baba Guru tidak padam. Setelah usaha bioskop tutup. Dia kemudian disibukkan dengan proposal untuk ikut serta proyek-proyek pemerintah.

“Kira-kira awal tahun 90-an,” kata Baba Guru. Dia rupanya mempunyai unit usaha bernama CV Sindora Jaya. Dia menjadi kontraktor atau paborong dalam bahasa Makassar dan sukses meraup rupiah dari proyek-proyek pemerintah.

Perusahaannya menangani beberapa proyek pembangunan sekolah di Kabupaten Takalar seperti, pembangunan SD di Saro, dan Bentang kecamatan Galesong Selatan. Bukan hanya di Takalar, tetapi juga berhasil menyita perhatian pemerintah Kota Makassar dengan memberikan proyek fisik.

“Di Makassar, perusahaan kami sempat memperoleh proyek pembangunan sekolah dasar di daerah pesisir, seperti Pulau Kodingareng dan Sumanna.”

Namun demikian kiprahnya sebagai kontraktor menjadi pupus. Dari tahun ke tahun rupanya memborong proyek dari pemerintah semakin sulit. Dia sempat beralih ke usaha jual sepeda dan mengurusi Toko Sinar Galesong di Sungguminasa, Gowa. Pada saat bersamaan dia juga memberikan kesempatan untuk anaknya di Galesong untuk membuka bengkel di Galesong.

Demi memberinya ketenangan dan fokus pada masa tuanya di Galesong, tokonya di Kota Sungguminasa dilego dan dia kembali ke Galesong. Bersama anak-anaknya yang masih muda seperti Hery si bungsu dan Susanto, mereka membuka bengkel sendiri.

Kini, di umurnya yang sudah 65 tahun Baba Guru sibuk mengurusi Klenteng Pan Ko Ong, Klenteng yang dirintis oleh orang tuanya, Ho Kim Tjui. Lelaki berkacamata tebal ini beristrikan Teng Nio alias Nona Lompo. Mengurus Klenteng dan organisasi Barongsai telah menyita hari-hari tuanya.

“Saat ini kami sedang memikirkan suatu organisasi yang lebih bagus dalam mengurus klenteng dan barongsai,” imbuhnya.

Kemampuan dalam strategi bisnis Baba Guru, nampaknya menurun ke Gunawan yang kini mengelola usaha ikan bakar di sekitar jalan Wahid Hasyim, Jakarta. Gunalan berbisnis bengkel dan Sung alias Suyono, teman satu sekolah saya sedang berada di Jayapura ikut proyek. Dia menikmati titisan ilmu bisnis dari sang ayah dan Arca Pan Ko Ong.

Ayah dari Gunawan, Juni, Gunalan, Sujono, Lily, Rudy, Susanto dan Hery, kini sedang menikmati masa tuanya, menunggu kiriman uang dari anak-anaknya dan terus merawat klentengnya di kampung Lanna.

 

Advertisements

Geliat Ekonomi Kerakyatan di BPR Galesong

Suasana sedang terik di wilayah Kecamatan Galesong, Takalar pada pertengahan bulan Mei 2009. Setelah melewati jalan poros Limbung-Galesong, saya berbelok ke selatan pada jalan tak beraspal. Warga menyebutnya jalan pengerasan. Debu meliuk-liuk dihembus angin musim Timur. Motor saya berhenti di depan rumah yang terlihat berbeda dengan rumah-rumah warga lainnya. Rumah batu, demikian warga menyebut bangunan semacam ini. Lelaki yang saya cari sedang berdiri di depan pintu.. Nampaknya sedang berkemas untuk keluar.

“Masih ingat?” Kataku. Dia tersenyum seperti mereka-reka tapi mulutnya terkunci.

“Kukaluppaimi ingka…” katanya dalam bahasa Makassar. Lupa tapi…, katanya. Dia coba-coba mengingat, tapi tetap tidak mengenalku. Setelah menyebut nama dan mengingatkan bahwa kami pernah satu kelas di SMP Galesong, diapun tertawa lepas. Kami memang pernah sekelas, punya nama yang sama dan nama orang tua yang sama, Daeng Salle. read more

Assirondo-rondoang, Kebersamaan Menaklukkan Bukit Cadas

DSC02768Perempuan paruh baya berkacamata tebal dan berjilbab abu abu itu melangkah begitu ringan. Sementara saya yang berjalan bersamanya, beberapa kali berhenti menyeka keringat, memandang ke puncak bukit yang kami tuju dan bertanya setengah putus asa, “Masih jauh?”.

Ia terlihat perkasa dengan sepatu boot karet. Dengan gesitnya ia terus melangkah ke arah kebun di bukit Tandaera, dusun Puawang kelurahan Baruga Dhua, kecamatan Banggae. Kabupaten Majene. Kawasan ini Berbatasan dengan kabupaten Polewali Mandar, Sulbar.

“Bukan main!” Tak habis pikir melihat kelincahannya di medan yang berat ini. Saya sendiri bahkan harus menaruh sendal yang penuh lumpur di bawah pokok pisang, berjalan gontai memandang ibu tadi yang semakin menjauh. Hujan semalam, mengguyur kawasan Puawang dan melicinkan jalan setapak menuju perbukitan. Keringat bercucuran dan napas semakin tersengal. read more

Mencicipi Aroma Labbakkang di Kendari

DSC02396Pada satu kesempatan, saya bertemu dengan salah seorang kepala biro di lingkup pemprov Sulsel yang kebetulan sedang berada di Kendari. Ia bercerita tentang berburu makanan khas di Kota Kendari. “Kalau ke luar kota jangan cari makanan yang banyak dijumpai di Makassar, cobalah cari makanan khas Sulawesi Tenggara,” katanya. Saat itu pilihan saya sudah jatuh, yaitu mencicipi ikan bakar Aroma Labbakkang di Kota Kendari, lantaran sebelumnya seorang tukang ojek menceritakan betapa terkenalnya warung ikan bakar ini.

Adalah Aco, tukang ojek asal Pomalaa yang berdarah Bugis Bone yang memperkenalkannya. Ia mengatakan bahwa warung makan itu kerapkali dikunjungi artis dan tokoh politik nasional. Warung makan bermenu ikan bakar itu, posisinya tepat di jalan poros dari Kota Kendari ke kawasan kota lama, Kendari Beach. Tepatnya di Jl. H. Edi Sabara (bypass no. 38) yang di depannya terdapat rimbunan pohon bakau. read more

Orang Bajo dan Pohon Bakau Yang Tersisa Di Soropia

DSC01275Setelah diguyur hujan semalam, pagi itu Kota Kendari sedang cerah. Kami meninggalkan kota menuju arah pesisir timur. Setelah melewati Kampung Salo dan Kessi Lampe, pandangan kami tertuju pada pohon-pohon bakau yang rindang dan padat. Pohon-pohon yang menghijau di sepanjang teluk Kendari. Pemandangan itu menjadi tak biasa karena vegetasi ini memang teramat langka dijumpai di kota lainnya.

Pohon bakau terlihat tinggi dan menghijau sementara lidah air laut menjilati anak-anak bakau yang muncul dari dalam tanah. Pemandangan yang tak lazim, begitu alami. Kesan subur dan kaya vegetasi, itu yang dirasakan. Namun, setelah melewati beberapa kampung kami mulai ragu karena beberapa kawasan telah disulap menjadi pemukiman dan pertambakan. Salah satunya adalah desa Bajo Indah, yang menjadi tujuan kami. Desa itu berada dalam wilayah administrasi kecamatan Soropia, kabupaten Konawe Selatan atau sekitar 20 kilometer ke timur dari kota Kendari Sulawesi Tenggara. read more

Masyarakat Towani dan Pemimpin Yang Menjaga Amanah

ambiMalam merambat di atas kota Pangkajene ketika kami berbelok mengarah ke kawasan Amparita. Sekilas, terlihat rumah-rumah panggung padat berdempet dengan dinding kecokelatan cenderung hitam. Tidak banyak lampu di teras rumah warga, tanpa suara musik atau bahkan televisi. Jalan atau tepatnya lorong di depan rumah sang Ambi, pemimpin komunitas Towani di kabupaten penghasil beras di Sulsel ini dibalut keheningan.

Malam itu kami dijamu oleh pemimpin komunitas Towani, salah satu penganut aliran kepercayaan yang masih bertahan di kabupaten Sidrap. Komunitas ini terkonsentrasi di ibukota kecamatan, atau di sekitar jalan poros menuju kabupaten Soppeng di bagian timur. Dari ibukota kabupaten, Amparita hanya berjarak sekira 8 kilometer. Ibu kota kabupaten Sidrap sendiri berjarak sekitar 220 kilometer dari Makassar. read more

Kanuna, Ketika Kota dan Desa Berselingkuh

DSC04095Saat kami duduk di dueker, dua murid sekolah dasar mendekat dengan wajah kucel penuh coretan pulpen. Masing-masing menggambari wajahnya dengan garis kumis dan cambang. Tertawa lepas, riang. “Om, foto dulu!” katanya sambil memasang gaya. Anak-anak yang lain ikut tertawa meledek temannya, riuh dan sesekali berteriak dalam bahasa Kaili. “Da’a om, da’a… Jangan om, jangan…,” katanya. Lebih dari sepuluh orang anak usia sekolah dasar berkumpul kala itu, dengan pakaian warna-warni yang kusut tidak jauh dari gedung sekolah yang baru saja direnovasi.

Sementara di salah sudut jalan beraspal, beberapa anak muda tanggung dengan rambut acak-acakan dan telinga berhias anting, mondar-mandir di depan kami menggeber laju motornya. Ada juga yang memarkir motornya. “Mereka tukang ojek dari desa sini. Profesi yang semakin diminati belakangan ini,” kata Zen, tokoh pemuda setempat. read more