Spirit Iskindo dan Muara Perjuangan Kelautan Nasional

Spirit perjuangan ISKINDO (foto: istimewa)

Corak pergerakan

Ketika baru pulang dari Taman Nasional Laut Taka Bonerate, di Laut Flores, di tahun 1997 atau sekira 20 tahun lalu, tidak kurang dua puluhan alumni Ilmu dan Teknologi Kelautan Universitas Hasanuddin berkumpul di Hotel Delta.

Tawa canda khas Klaners (begitu saya menyebut anak-anak Kelautan Unhas) menyeruak di lantai dua hotel yang dikenal sebagai ‘rumah inap pemain PSM’ kala itu. Saya yang baru dua tahun lulus dari ITK Unhas membaca latar belakang mereka yang nyaris homogen. Menyimpulkan bahwa sebagian besar adalah aktivis LSM dan alumni yang masih ‘nirdaya’ di kompetisi lapangan pekerjaan.

Beberapa pentolan LSM Kelautan, beberapa senior atau mereka yang selama menjadi mahasiswa getol berorganisasi seperti Himagastika atau Himpunan Mahasiswa Program Studi Ilmu dan Teknologi Kelautan, Senat Mahasiswa Kelautan hingga Badan Perwakilan Mahasiswa terlacak di pertemuan pendirian organisasi alumni itu.

Sarjana Kelautan belum dikenal oleh Pemerintah, Badan Kepegawaian tidak mampu mengidentifikasi gelar kesarjanaan ITK saat menyusun struktur kebutuhan penerimaan PNS. Tidak jelas antara Sarjana Kelautan atau Sarjana Teknik atau Perikanan, dan lain sebagainya. Begitu pernyataan alumni di jelang pembentukan Ikatan Sarjana Kelautan Universitas Hasanuddin kala itu.

Kala itu persinggungan gagasan, intensitas komunikasi, minat yang sama, lokus pekerjaan yang sama membuat beberapa aktivis LSM bersepakat untuk mengikat kebersamaan mereka atas nama alumni Kelautan menjadi satu wadah ikatan. Ikatan Sarjana Kelautan Universitas Hasanuddin.

Tak hanya menyadari bahwa mereka di koridor yang sama namun juga terus memboyong semangat yang sama untuk terus menerus menghidupkan harapan menjadikan Indonesia Negara Maritim. Dalam pemahaman bahwa kelak, Indonesia akan mandiri, berdaya dan sejahtera dengan menjadikan potensi sumber daya kelautan sebagai pilarnya.

Disebut demikian sebab dari merekalah atau komunikasi dan kerjasama yang erat dengan perwakilan-perwakilan Lembaga mahasiswa Kelautan Indonesia saat itu, semangat menggelorakan perjuangan Kelautan itu termanifestasikan melalui pendirian Himpunan Mahasiswa Kelautan Indonesia atau Himitekindo.

Peserta Sandi Pati Bahari 1994 (foto: istimewa)

Saya ingat persis bagaimana dinamika dan semangat yang menggelayut ketika ratusan mahasiswa berkumpul di Makassar, Kota Pare-pare dan Tana Toraja, Sulawesi Selatan untuk mengguratkan semangat kebersamaan Kelautan se-Indonesia itu.

Insiden karena rem blong dan bus terbalik di Rantepao menjadi penanda bahwa perjalanan Himitekindo takkan mudah. Untung saja tidak ada mahasiswa yang korban atau luka dalam kejadian itu.

Di tahun 1992 itu, semua membaur, dari IPB Bogor, dari Universitas Riau, Universitas Diponegoro, ITS Surabaya, Universitas Hang Tuah, Universitas Pattimura, Universitas Sam Ratulangi dan tuan rumah Universitas Hasanuddin.

Yang menarik, meski ada pengkhususan karena Program Studi Ilmu Kelautan saat itu berdiri atas sapihan Marine Science Education Project (MSEP) yang dibiayai oleh Bank Pembangunan Asia (ADB) namun mereka, mantan mahasiswa, mantan pilar Himitekindo itu tetap saling mencari, berhimpun dan meneriakkan yel-yel Jayalah Kelautan Indonesia.

Perlu diketahui bahwa saat itu terdapat indikasi elit MSEP sudah menggiring opini bahwa terkait MSEP, Unhas fokus di konservasi laut, Unsrat di farmokologi laut, Unri di pencemaran, Unpatti di perikanan tangkap, Undip di  budidaya laut, IPB di tata kelola laut, hingga ITS di teknologi kelautan.

Meski demikian semangat untuk berhimpun atas nama himpunan mahasiswa Kelautan Indonesia terus menggelora.

Singkat cerita Himitekindo berdiri dan mendapuk Badaruddin A. Picunang sebagai Sekjen dengan segala macam dinamikanya, hal ini didahului oleh seminar Kelautan yang menghadirkan Bapak Bangsa B.J Habibie.

‘Kalian mahasiswa Kelautan, cobalah fokus!” itu yang saya ingat dari pidato Habibie.

Terkait alumni Kelautan Unhas dan ISLA, butuh waktu 4 tahun setelah sarjana Ilmu dan Teknologi Kelautan diwisuda tahun 1993 untuk kemudian mereka dipertemukan di tahun 1997 bermufakat mendirikan Ikatan Sarjana Kelautan Universitas Hasanuddin. Meski pada proses pendirian yang menjadi simpul utama adalah aktivis LSM dan beberapa akademisi jebolan Ilmu dan Teknologi Kelautan.

Belum banyak alumni yang terhubung dengan mereka karena harga telepon genggam saat itu sungguhlah mahal.

 

Membaca gerak perjuangan

Dalam perjalanannya, ISLA dipimpin oleh sosok yang mewakili profesi LSM (Nazruddin Maddeppuneng dan Kamaruddin Azis), Amran Saru dan Mahatma Lanuru yang merupakan tenaga pengajar di Fakultas Ilmu Kelautan dan Perikanan, disusul Agus Ajar Bantung dan Darwis Ismail yang berprofesi sebagai pengusaha.

Dengan melihat representasi ketua ISLA itu, kita bisa membaca gagasan mendirikan Ikatan Sarjana sejatinya dimulai dari ‘organisasi masyarakat sipil’ yang memang ‘lebih intim’ dengan sumbu dan isu kelautan.

Lalu, pada ruang dan waktu, sesuai perkembangan zaman, sesuai dinamika eksternal dan internal alumni, ISLA Unhas kemudian tak hanya diminta untuk fokus pada isu-isu kontemporer di Sulawesi Selatan, tak hanya benam dalam mengurus terumbu karang Spermonde, Teluk Bone atau Laut Flores di lingkar perairannya tetapi mulai melebarkan minat pada isu-isu kelautan nasional saat itu.

Pada Mubes ISLA tahun 2010, salah satu harapan peserta adalah bagaimana ISLA ikut serta bersama organisasi-organisasi alumni Kelautan se-Indonesia untuk mewujudkan Ikatan Sarjana Kelautan Indonesia.

Maka para tulang punggung Himitekindo tahun 1992 bersua di Jakarta untuk mulai membincang peluang dan konsep pendirian organisasi yang diharapkan memediasi alumni-alumni Ilmu dan Teknologi Kelautan. Tulang punggung tersebut datang dari aktivis LSM, politisi, pengusaha, birokrat hingga akademisi.  Saya mencatat nama-nama seperti Najib, Badaruddin, Awaluddin, Zulficar, Andreas, Darwis, Bibit, Agus Ajar, Ciput, Verri, Ady Candra, Abdi dan lain sebagainya sebagai lokomotif di gerbong perjuangan membentuk organisasi yang lebih besar.

Spiritnya sama, menjadikan Kelautan sebagai ranah pengabdian atas nama profesionalisme, semangat kebaharian dan menjadi salah satu tumpuan dalam membangun Indonesia di masa depan.

Maka pada tahun 2015, Ikatan Sarjana Kelautan Indonesia berdiri meski banyak juga yang mempertanyakan apa hakikat pendirian organisasi ini sebab telah ada ISOI dan ISPIKANI.

Mereka yang mendirikan, Himitekindo atau organisasi alumni seperti IKAL di Riau atau ISLA di Unhas tentu punya argumentasi yang tak terbantahkan.

Sebab kami mengalami pahit manis menjadi mahasiswa Kelautan, menjadi sarjana Kelautan di tengah potensi sumber daya kelautan nasional yang diabaikan oleh rezim, dibiarkan oleh Pemerintah Daerah, dipandang sebelah mata dibanding isu agraria.

Kami bermimpi tentang masa depan Indonesia yang berbasis pada pemanfaatan sumber daya kelautan, pantai, terumbu karang, padang lamun, mangrove hingga laut lepas dengan filosofi keilmuan yang berpihak ke rakyat.

Sebab selama ini rezim memunggungi laut dan terus menerus berbulan madu dengan daratan.’

Akan seperti itu jawaban para pentolan Himitekindo sebelum sepakat mendirikan ISKINDO.

Singat kata, ISKINDO berdiri karena spirit kesejarahan yang intim, pada pembacaan pada realitas dan optimisme melihat laut sebagai masa depan Negara Kesatuan Republik Indonesia.

Bukankah dengan itu mereka mengorbankan waktu, tenaga dan sumber daya demi gelar Sarjana Kelautan?

Bukan yang lain?

***

Tak bisa dipungkiri bahwa Indonesia memang Negara kepulauan terbesar di dunia dengan pulau lebih 14 ribu, membentang pantai di sepanjang 91.000 kilometer, dari Sabang sampai Merauke. Kaya sumberdaya alam hayati, non-hayati dan energi kelautan melimpah dan seakan tak terbatas.

Namun demikian, ada ironi di balik status sebagai Negara Kepulauan. Tidak usah jauh-jauh, sebelum menyejahterakan rakyat luas, alumni Kelautan masih jauh dari lingkar pengabdian profeisonalisme berbasis ‘kelautan’.

Mereka teralienasi karena kompetisi yang memandang asal usul, keahlian, sertifikasi, kompetensi dan yang memiriskan terbatasnya peluang untuk saling terhubung secara nasional karena ketiadaan wahana interaksi serupa organisasi alumni.

Kita tidak akan bisa menjadikan Laut sebagai Masa Depan jika kita hanya fokus dalam memperbanyak ilmu namun sepi di keriuhan isu-isu kelautan kontemporer, menambah gelar Pendidikan dan ‘sepi sendiri di ruang laboratorium’, berlatih selam saban hari namun ‘temaram di keindahan masa depan’, berkutat di GIS namun tak terbaca oleh rezim, berpindah dari ruang pelatihan satu ke pelatihan berikutnya namun tak berdaya di percaturan ilmu.

Kita sejatinya harus terhubung agar peluang dan pertukaran informasi dan silaturahmi jalan terus.

Itu berarti bahwa alumni atau sesiapa yang mencintai kelautan, harus membuka jendela, membuka pintu rumah dan berjalan ke pantai, ke laut dan menyelami segenap potensi, mendedah persoalan yang mengemuka, melihat sesiapa yang bisa menjadi mitra, lalu bersama alumni yang lain di Nusantara masuk ke kancah perjuangan untuk bahu membahu meretas mimpi dan membuka peta jalan perubahan.

 

Merawat ISKINDO

Setelah terpilihnya ketua ISKINDO periode kedua, ada baiknya kita tak hanya berwacana menjadikan Indonesia sebagai negara maritim yang mandiri dan berdaulat.

Kita harus mulai memastikan kapasitas saat ini, pada diri alumni, organisasi alumni baik per universitas maupun Dewan Pimpinan Wilayah ISKINDO yang sudah ada. Sembari membuka ruang untuk memperbanyak mitra dan tentu saja anggota.

Saatnya mengambil bagian dalam menyusun rencana strategis pengelolaan potensi dan isu kelautan nasional dengan melihat wahana dan kapasitas tersedia, dinamika makro dan mikro organisasi serta terus menerus menggiatkan komunikasi dengan sahabat-sahabat tercinta di Nusantara.

Konsepsi Indonesia sabagai Poros Maritim Dunia meniscayakan adanya pamahaman yang utuh tentang kapasitas diri (yang politisi, yang akademisi, yang aktivis LSM, birokrat, pamong, jurnalis, peneliti dan lain sebagianya), kapasitas kelembagaan dan seberapa match dengan sistem-sistem sosial keilmuan Kelautan itu. Atau jika dia sarjana Kelautan, seberapa terhubung dia ke kebutuhan dunia eksternalnya.

Seminar dan Kongres II, Ikatan Sarjana Kelautan Indonesia (ISKINDO) telah terlaksana pada tanggal 26-27 Januari 2018 dan kembali memilih M. Zulficar Mochtar sebagai ketua.

Ajang konsolidasi organisasi berjalan dengan baik dengan dinamika yang menurut saya sangat mencerahkan, mengedukasi sekaligus mengingatkan tentang perihal yang masih harus dibetulkan sebagaimana layaknya organisasi alumni atau profesi.

Bagi saya, ISKINDO tak bisa hanya beririsan dengan Pemerintahan atau hanya memenuhi hasrat Pemerintah memuaskan dahaga agenda pembangunan mereka di pesisir dan pulau tetapi juga  memberdayakan alumni Kelautan untuk maju di garis depan pengabdian.

Kita semua harus merawat ISKINDO agar mampu memfasilitasi alumni untuk keluar dari persoalan ketakberdayaan karena kapasitas pribadi yang terbatas ke pengabdian di organisasi-organisasi profesi, pada penerapan pengetahuan, keterampilan dan kecintaan mereka pada laut.

ISKINDO sejatinya adalah wahana pejuang kelautan untuk menciptakan peluang. Peluang untuk siapa saja.

Yang nirdaya akan dapat informasi tentang peluang pekerjaan, peluang sharing keahlian, peluang menambah jam terbang pendidikan dan keterampilan, juga wahana penyebarluasan agenda dan inspirasi menjadikan laut sebagai masa depan bangsa.

ISKINDO harus move on dari sekadar bicara atau berwacana untuk maju ke tahapan konkret, menyusun langkah-langkah operasional dalam merealisasikan program pembangunan multipihak berbasis kelautan.

ISKINDO harus mulai rinci memetakan pihak yang bisa diajak bermitra dalam merampungkan penyelesaian 9 Peraturan Pemerintah Turunan UU No.32/2014 tentang Kelautan. Sejak keluarnya UU No. 32/2014 tentang Kelautan terdapat 9 aturan turunan dalam bentuk Peraturan Pemerintah hingga kini belum tuntas.

Sebab jika tidak, tata kelola, perencaanaan kebijakan, perencanaan ruang laut dan peran serta masyarakat dalam pembangunan kelautan dan lain-lainnya tidak akan bisa berjalan dengan baik.

ISKINDO harus mendesak Pemerintah untuk segera menyelesaikan Peraturan Pemerintah turunan UU No31/2014 agar menjadi panduan regulasi pembangunan kelautan.

ISKINDO memiliki kekuatan tidak kurang 16.000 alumni kelautan yang berasal dari 26 kampus dan tersebar di seluruh Indonesia.

Mereka mungkin memiliki kompetensi dan keahlian di bidang kemaritiman namun belum sepenuhnya merebut peluang, baik untuk pengabdian di Lembaga-lembaga profesi maupun pada skala yang lebih besar, membangun Indonesia dari laut.

Saatnya ISKINDO meretas sengkarut diskoneksi antara kampus sebagai pencetak alumni, terus menerus membetulkan kapasitas alumni melalui penguatan jejaring (riset, selam, survey pesisir dan laut, alih teknologi, pencemaran, sampah laut hingga konservasi plasma nutfah), mengisi gap pembangunan kelautan antar sektor, antar wilayah sampai mewujudnya pembangunan terpadu, memberdayakan, dan berdimensi jangka panjang.

Bukankah kita percaya, bahwa laut adalah masa depan alumni dan NKRI?

***

Empat tahun ke depan, jika umur panjang, alumni Ilmu dan Teknologi Kelautan dari Universitas  Hasanuddin yang juga pendiri Yayasan Konservasi Laut dan Destructive Fishing Watch Indonesia bernama M. Zulficar Mochtar akan memimpin ISKINDO untuk kedua kalinya.

Saya melihat ini sebagai takdir ketika masih banyak sengkarut di situasi eksternal ISKINDO yang masih harus dibereskan bersama ketua terpilih.

Saya juga membaca dinamika pemilihan ketua ISKINDO dan mencatat masukan penting betapa banyak alumni-alumni Kelautan Indonesia sangat ingin melihat perubahan yang lebih nyata, membanggakan, dan berdampak luas untuk alumni.

Pagi itu (27/01), setelah suksesi pemilihan ketua, sahabat di Program Sandi Pati Bahari MSEP 1994, Dedi Adrian dari UNRI duduk di samping kiri saya, ada pula Muhammad Jufri dari Unhas. Kami bertukar opini. Dedi dan saya adalah ‘korban’ keganasan Selat Makassar di bulan Januari 1994.

Kami melewati pagi di Hotel Aryaduta itu dengan bersepakat betapa perlunya leadership dalam menjadikan isu kelautan sebagai fokus bersama di ISKINDO. Bukan hanya bagi ketua terpilih tetapi leaderhisp kelautan yang diperjuangkan oleh masing-masing alumni.

Perlunya menjadikan ISKINDO sebagai milik bersama, niscayanya alumni mengasah kompetensi, sikap guyub dan terus menerus berjejaring di tengah kompleksitas relasi para pihak di Poros Maritim.

“Kuncinya perbanyak komunikasi. Pengurus ISKINDO ke depan, harus memback-up DPW dan organisasi alumni untuk jalan bersama. Jangan dilupakan, jangan jalan sendiri.” Begitu kunci obrolan kami.

Begitulah, dua tahun memimpin ISKINDO memang belum bermakna optimal bagi ketua terpilih. Namun sebagai sahabat, kita para alumni, ingin melihat ketua terpilih semakin tercerahkan dan committed setelah membaca dinamika dan semangat di Kongres II.

Ketua  terpilih harusnya semakin responsif dan tak hanya melihat realitas dari jendela organisasi di Jakarta tetapi membuka pintunya dan bergerak ke panggilan semangat Kelautan ke titik paling dalam jauh. Ke DPW, ke organisasi alumni berbasis kampus dan tentu saja, rakyat Kelautan Indonesia!

Rawa Jati, 29 Januari 2018

Advertisements

Warga Kampung Mapia Belajar Teknik Hidroponik di Kota Makassar

DSC_2223Sebanyak 15 orang perwakilan warga Kampung (Desa) Mapia, Kecamatan Supiori Barat, Kabupaten Supiori, Papua bertandang ke Kota Makassar untuk belajar manajemen usaha perkebunan skala kecil, 18-21 Januari 2018).

Nadir, SP. M.Si dari Prodi Agribisnis Unismuh Makassar mengampu materi manajemen usaha perkebunan skala rumah tangga. Narasumber kedua adalah Takdir, ST, membawakan materi teknik hidroponik.

Narasumber ketiga sekaligus fasilitator pelatihan Kamaruddin Azis menyinggung aspek urgensi pengorganisasian dan pentingnya analisis kapasitas dan rencana aksi kelompok.

Untuk melengkapi wawasan, pengetahuan serta keterampilan para peserta, dilaksanakan pula studi banding ke Fakultas Pertanian, Universitas Muhammadiyah Makassar.

Pada pelatihan yang berlangsung di Durian Condotel Makassar itu, Nadir, yang juga sekretaris Prodi Agribisnis Unismuh memguraikan dimensi hidroponik, pengertian, bahan, alat dan jenis-jenisnya.

Nadir menjelaskan pentingnya inisiatif bagi warga untuk mengidentifikasi sumber daya yang ada di Kepulauan Mapia dan pentingnya kerjasama dalam menyusun rencana aksi perkebunan berbasis warga.

“Bukan hanya hidroponik, kelapa yang selama ini menjadi andalan Kampung Mapia bisa dimanfaatkan secara optimal. Selain konsumsi juga untuk berbagai bentuk kerajinan tangan. Bidang perkebunan, peternakan hingga usaha perikanan,” katanya.

Sementara itu, Takdir, yang telah menggeluti usaha hidroponik di rumahnya sebagai alternatif komersil, memaparkan alasan-alasan mengapa hidoponik bisa menjadi alternatif ekonomi rumah tangga karena kepraktisannya.

Selain memaparkan aspek teknik budidaya, menguraikan bahan dan alat, Takdir juga memandu pemahamanan, pengetahuan dan keterampilan warga dengan menunjukkan contoh fisik bahan hidroponik.

Beberapa peserta bahkan diarahkan untuk menggunakan bor listrik dalam melubangi wadah pipa hiroponik.

Kamaruddin menekankan hal-hal yang harus diantisipasi oleh warga Mapia terutama aspek ketersediaan air tawar, pembentukan kelompok hingga aturan bersama.

Di hari terakhir, peserta bertandang ke Fakultas Pertanian, Universitas Muhammadiyah Makassar.

Dekan Fakultas Pertanian, H. Burhanuddin, S.Pi, M.Si didampingi PD 1 Muh. Arifin Fattah, M.Si menerima peserta dengan antusias. Hadir pula ketua jurusan program studi agribisnis, Amruddin, S.Pt, M.Si.

“Kami berterima kasih kepada Kepala Kampung Mapia dan rombongan atas kunjungannya. Semoga ini menjadi model kolaborasi antara Unversitas terutama Prodi Agribisnis, LSM dan masyarakat Mapia,” kata Burhanuddin.

Di Unismuh, para peserta berkunjung ke ruang praktik hidroponik di lantai 4 dan memperoleh penjelasan dari pengampu mata kuliah ibu Jumiati dan asisten dosen Fahri.

Peserta sangat antusias menyaksikan instalasi hidroponik, juga ketika ada mahasiswa yang sedang memasang pipa-pipa. Ikut mendampingi Amruddin dan Nadir dari Prodi Agribisnis.

“Coba kalian fokus baik-baik pada penjelasan bapak ibu ini, biar nanti bisa jalankan di kampung. kita siapkan bahan dan alat nanti, yang penting sungguh-sungguh,” kata Willams Msen kepada perwakilan warga Mapia.

Williams adalah Kepala Kampung Mapia, gugus pulau terluar Indonesia di Tepian Pasifik yang juga ikut bersama peserta studi.

 

 

 

 

 

 

 

Derai Air Mata di Pemutaran Perdana ‘Silariang, Cinta yang (Tak) Direstui’

20180114_120942Film Silariang mengaduk-aduk emosi, marah, sedih. Saya menangis. Keren filmnya, we really enjoy it. Ikut bangga, wajib nonton!” — Nana Saleh, periset Unhas.

 

***

Perempuan itu didudukkan di atas motor, di antara setang dan sadel. Seorang pria berkopiah duduk di belakangnya. Mesin motor meraung, warga berkerumun. Si pria baru saja pulang melaut berminggu-minggu dan mendapati istrinya pergi dengan lelaki lain. Orang Makassar di pesisir selatan Sulawesi menyebut perempuan itu ‘anynyala’ atau silariang

Karena siri’, si lelaki, dengan amarah pergi ke Imam dan menarik istrinya ke atas motor. Dia menuntaskan hasrat siri’ di atas motor. Saya yang jelang akil baliq, ada di antara orang-orang yang berkerumum di poros Galesong, Takalar, Sulawesi Selatan di awal tahun 80an.

***

Tiga puluh tahun kemudian, di tanggal 14 Januari 2018, saya ada di kerumunan penonton yang baru saja menuntaskan sebuah film bergenre drama tentang Silariang di Studio 2, XXI Mall Panakukang.

Saya mengusap pipi sendiri sembari memandang ke istri di remang lampu studio.

“Saya juga sedih, menangis,” katanya.

Kami baru saja menonton gala pemutaran perdana film Silariang: Cinta yang (Tak) Direstui) dengan perasaan teraduk di XXI Mall Panakukang, Makassar.

Film bertema kawin lari lantaran tak direstui itu orang tua perempuan itu mengingatkan saya pada fragmen tragis di poros Galesong itu.

“Saya juga menangis,” timpal Nana Saleh, yang berdiri di samping saya bersama suaminya Sudirman Nasir. Kami duduk sebaris di bagian L. Saya duga Sudirman juga berkaca-kaca matanya untuk tidak disebut terdakwa yang menangis.

Bersama kami ada seratusan penonton bergerak di belakang saya dengan decak kagum, tertawa dan memberi tepuk tangan.

Siang itu beberapa studio diboyong oleh film Silariang untuk gelar perdana, film yang menurut orang-orang berbiaya lebih semiliar itu. Saya kira ada ribuan orang sedang bersuka-cita di pergelaran perdana film itu.

Perihal film

Film diproduseri Ichwan Persada, pria yang ada di balik film Batas dan La Tahzan. Sebagai sutradara adalah Wisnu Adi, film yang pernah dibesutnya adalah Kekasih dan Miracle Jatuh dari Surga.

Film ini memapar naskah milik penulis Oka Aurora dan diproduksi bersama Inipasti Communika dan Indonesia Sinema Persada. Sebagai pemain utama, ada Bisma Karisma, anggota kelompok penyanyi Smash berwajah imut ini pernah main di film Juara serta Nada dan Asa.

Bisma sebagai Yusuf, pria kemaruk pada Zulaikha. Cinta yang tak direstui Puang Rabiah, ibu Laikha, begitu sapaannya. Andania Suri yang kulit putih, dengan rambut halus ‘tipis’ di atas bibirnya ini pernah main di film Air Mata Surga dan Beauty and the Beast sebagai Laikha.

Sosok superpenting lainnya adalah Dewi Irawan yang berperan sebagai Puang Rabiah.

Tak hanya dingin berlakon dalam menolak cinta, dia juga tega menyebut anaknya telah mati. Rabiah yang dilakoninya tak melakukan apa-apa saat Ridwan, memburu pasangan kemaruk cinta tersebut dengan badik di tangan.

Sosodara! Bagi saya yang membuat berbeda, unik dan menggelitik emosi di film ini adalah aktor watak seperti Sese Lawing yang bertindak sebagai paman Zulaikha, kemudian Muharu Wahyu Nurba yang bersedia menjadi Dirham, ayah Yusuf.

Sese adalah pemusik yang saya kenal kreatif dan piawi memasukkan konten nilai Bugis-Makassar ke dalam gubahan dan lagaknya.

Sedang Muhary, oh, lelaki ini yang nampaknya telah membuat saya, istri, Nana dan juga Sudirman larut dalam sukacita berbuah tangis haru. Kami bersahabat. Media sosial mendokumentasikan bagaimana kami berinteraksi, berbagi dan mencandai satu sama lain.

Dengan Muhary, saya dan Sudirman mencandai masa lalu dengan tema film dan lagak Rhoma Irama, tentang celana panjang A. Rafiq, hingga Farouk Afero, pelakon top di film-film yang kami tonton di dasawarsa tahun 80-an.

Beberapa waktu lalu Muhary, pelakon pria Dirham di film Silaring itu, meminta saya menerjemahkan lagu Bugis Ininnawa Sabbarae ke dalam bahasa Makassar melalui Facebook.

Lagu itu pula yang mengalun saat Zulaikha berbaring di pangkuan Rabiah, perempuan yang sejatinya sangat dia hormati dan sayangi tetapi cinta telah membuatnya memilih keputusan menantang adat dan maut.

Jujur saja, mendengar lirik Ininnawa Sabbarae, alunan musik nan mendayu, pesan tersirat, dan momen ketika Zulaikha rebah di depan ibunya telah menimba kesedihan dan air mata. Adegan itu mengaduk perasaan sebelum tumpah jadi derai air mata.

Saya sempat minta izin ke toilet ketika durasi fim masih seperempat jalan. Lebay!

Oh ya, ada pula bintang baru Makassar bernama Cipta Perdana, sahabat saya Andi Hadriany di Selayar menyebut pria ini adalah anak Selayar yang tinggal di Bonehalang! Selamat kongsi!

Di film itu, Cipta sebagai kakak Zulaikha bernama Zulfi. Zulfi nampaknya sudah tercerahkan sebagai anak zaman now dan tidak kebablasan memaknai siri’.

Perannya berhasil mengimbangi tensi Ridwan yang meledak dan membuat gamang ibunya yang sejatinya mencintai anaknya.

Mengaduk emosi

Nana benar. Saya juga berani mengatakan bahwa film ini menjadi mengaduk emosi penonton Makassar dan bakal mengail atensi maksimum dari penonton di tanah air terutama entitas Bugis Makassar karena permainan watak pemainnya.

Kehadiran Bisma dan Andania harus diakui bakal mengerek minat menonton film terutama bagi usia 13 hingga 20 tahun. Dewi, Muhary, Sese telah berhasil membuat penonton dewasa untuk tetap duduk dan mengamati lamat-lamat pesan substantif film itu.

Dewi Irawan nan tenang, berhasil mengecap paripurna karakter seorang ibu Bugis-Makassar, dia pantas disebut sebagai penyampai pesan film.

Muhary dan Sese sukses mempertontonkan kematangan mereka sebagai sastrawan, sebagai budayawan.  Muhary yang saya kenal adalah peyunting kata, penerbit buku, pembaca puisi. Sese sebagai musikus bercorak Bugis-Makassar yang sudah terbukti kiprahnya.

Dirham yang diperankan Muhary terlihat tegas, traumatik, cenderung sinis pada tatanan adat. Ada konflik di dialog yang diciptanya terutama dengan anaknya. Pada situasi ini, Muhary sukses membuktiknya aktingnya.

Secara umum, film ini tak hanya menawarkan keindahan visualisasi, musik dan tipikal orang Bugis-Makassar dalam berinteraksi. Film ini tak garing sebab ada sosok pengail gelak tawa. Mereka adalah sepasang suami istri yang diperankan oleh Nurlela M. Ipa sebagai Dhira dan Fhail Firmansyah, pria asal Palopo yang berperan sebagai Akbar.

Keduanya adalah sebagai sepasang suami istri yang nihil anak dan terlibat relasi spontan dengan Yusuf dan Laikha. Bermain dengan bebek, sapi, naik perahu dengan latar bukit karst adalah sisi humanis dan ekologisnya film ini. Peran mereka sebagai teman bagi sepasang yang Silariang itu amat bisa menyeimbangkan emosi penonton karena pesan cerita yang dramatis.

Setting film yang menggunakan keindahan bukt karst Rammang-Rammang di Maros serta Pangkep sebagai latar kisah pelarian keduanya, membuat film ini terlihat menawan dan menyegarkan kenangan juga harapan. Belum lagi lekuk sungai di antara bukit karst, juga deru mesin perahu yang mengantar pelarian dan persembunyian Yusuf dan Zulaikha.

Mencecap substansi

Begitulah, sebagaimana judulnya, film ini menceritakan cinta yang tak direstui yang berujung pada praktik Silariang atau Anynyala itu. Api konflik bermula ketika pesan lamaran ditampik oleh Ridwan yang ditunjuk mewakili keluarga Zulaikha.

Tema Silariang sudah sering dibincangkan, dikisahkan, diteaterkan hingga ditayangkan di layar kaca. Dari judul awalnya saya menebak alur cerita yang akan sarat konflik, berbalas hujatan, dendam, juga darah. Praktik Silariang di kalangan pemeluk budaya Bugis-Makassar adalah laku yang berkonsekuensi pada siri’. Dia dapat berujung pada penghakiman sosial hingga eksekusi ujung badik.

Film ini menjawab tebakan saya dengan pilihan yang di luar dugaan, tidak ada darah pada Yusuf, tidak ada tarung antara kedua belah pihak, yang ada malah pendarahan Zulaikha saat berada di dapur. Juga konflik tambahan pada risiko keluarga itu. Antara menjual kamera penumpu ekonomi Yusuf atau anaknya tak punya susu. Juga konflik internal keluarga mereka yang berujung lisan Yusuf untuk mungkin saja meninggalkan Laikha.

“Itu pesan film, mereka yang menikah cepat, bisa saja labil dalam mengambil keputusan, emosial juga,” kata Sudirman, penulis dan jebolan Doktor Ilmu Kesehatan Masyarakat Unhas dari Melbourne di samping saya.

Firdaus Muhammad, akademisi dan esais sosial keagamaan Sulawesi Selatan mengatakan film ini berbeda karena nilai-nilai yang dikandungnya.

“Ada unsur edukasi melalui materi-materi tradisi yang diangkat di dalamnya,” katanya saat kami selesai menonton.

Lagu Musikimia, Meski Kau Tak Ingin mengalun apik dan bikin mewek sehingga saya berani bertaruh ada puluhan orang yang menitikkan air mata di film itu bersama kami.

“Film ini memang ditujukan untuk usia 13 tahun ke atas, jadi lebih responsif usia, biar mereka bisa belajar dari pengalaman tradisi kita,” kata Muhary, editor buku-buku sastra dan pembangunan masyarakat ini.

Di film berdurasi 1 jam 38 menit ini, istilah-istilah adat, seperti ‘Mabbarata’ menyeruak

dan mungkin banyak yang belum tahu. Demikian pula prosesi mengantar nisan sebagai bukti bahwa Zulaikha sudah dianggap mati oleh keluarganya karena Silariang itu.

Selain Ramang-Rammang yang disorot kamera berulang-ulang, tampil pula Pantai Losari Makassar sebagai bonus film. Hal yang saya sampaikan langsung ke Muhary, usai film diputar, “Adakah andil Pemkot Makassar di film ini?” begitu tanyaku.

Lima pemantik

Mengetahui bahwa film drama bertema ’kawin lari khas Bugis Makassar’ maka pasti akan muncul kesan tentang ‘hitam putih’ pilihan, diterima atau ditolak, hidup atau mati. Ini yang menjadi bekal untuk diboyong ketika memandangi layar lebar. Karena penggambaran itu pula, saya membayangkan perlunya pelakon kuat, berkarakter dan bisa menyerap seluruh energi khas Bugis-Makassar dalam membahaskan, aksen dan gerak geriknya.

Di film bergenre drama ini saya mencatat ada beberapa kejutan.

Pertama, dialog film yang menggunakan logat Makassar mendidihkan emosi dengan spontan. Jual beli kata denga aksen Bugis-Makassar membuat saya merasa dekat dengan pemilik cerita, juga emosi yang dikandungnya.

“Tabe’ mak, bolehka’ bicara? Yusuf sudah lamarka’.”

“Janganmako terus berhubungan.”

“Tapi tidak mauka sama yang lain.”

“Janganmako tanya kenapa.”

“Restu ibu itu kuncinya surga!”.

Alamak, dialog seperti itu membuatku bergetar. Jantungku bekerja keras. Sungguh!

Kisah asmara Zulaikha, ketegasan Puang Rabiah dan amarah Ridwan yang meluap saat mencari Yusuf dan Zulaikha membuat perasaan teraduk-aduk. Amarah berlatar siri’ itu hampir saja melumat Zulaikha kalau tidak ada Zulfi dan Akbar yang rela menyimpan rahasia.

Melihat kesungguhan Akbar dan Zulfi yang melindungi Zulaikha, tetiba mata saya berkaca-kaca. Kali ini bulir air mata jaruh menetes. Hijab istri saya yang lumayan panjang jadi korban, saya menariknya dan menghapus derai air mata.

Kesedihan semakin berlipat ketika tahu Dirham, ayah Yusuf punya kenangan pahit sebagai lelaki yang ditolak oleh keluarga Bugis Bone lantara beda kelas. Dia menasehati anaknya, Yusuf untuk tak meneruskan hasrat mencintanya itu karena dia tak bisa ‘mengganti darahnya jadi darah biru’.

Dalam tradisi Bugis-Makassar, mereka yang kawin lari, Silariang atau Anynyala, mereka harus menanggung malu dan menjadi sasaran sanak keluarga yang merasa tercoreng harga dirinya.

Hal kedua, hasrat untuk melihat akting penulis, editor, sastrawan, fotografer, Muhary Wahyu Nurba, yang bertindak sebagai Dirham, ayah si Yusuf sungguh sangat besar. Perihal film Silariang yang sudah wara-wiri di dunia maya membuat saya antusias maksimum untuk melihat aktingnya.

Saya duga, Muhary alias Dirham akan mendayu-dayu dengan kalimat puitik sebagaimana biasanya atau sebagaimana saya cermati dari puisi-puisiya, namun, dia terlihat ‘tega’ pada pilihan kawin lari anaknya.

“Ih masa’ tidak nakasiki anaknya amplop, uang,” kata penonton saat melihat adegan Dirham dan istrinya berkunjung ke rumah pelarian anaknya. Yang ada malah dialog.

Ada pujian Dirham pada keberanian anaknya.

Hal ketiga, sangat menyenangkan melihat adegan orang-orang berbahasa Ibu, beraksen Bugis Makassar di layar lebar yang selama ini jadi langganan film-film asing dan ‘asing’ dari sisi tradisi atau kebiasaan kita.

Siapa tak bergetar saat menonton bahasa Ibu di layar kaca di kampung halaman?

Keempat, air mata berderai karena saya (Anda?) mudah tergugah oleh konflik yang memposisikan orang pada yang kalah, takluk dan tak bisa membuktikan motif pilihannya karena menjadi subordinasi kelas.

Ini tentang perjuangan menunjukkan cinta. Ayolah!

Hal kelima, mari relakan air mata bahagia mengalir saat melihat orang yang kau kenal selama ini getol memperjuangkan nilai lokal, keunggulan dan kekhasan etik Bugis-Makassar, kesantunan dan praktik sastrawi dalam laku dan lisan di keseharian melalui praktik kesenian, kebudayaan, film yang ditengarahi bisa mendorong perubahan, perlahan dan pasti.

***

Karena emosi yang terkuras dan memancarkan ruapan air mata itu, saya grogi saat mencari pintu keluar untuk ke toilet. Saya tidak tahu kalau untuk keluar harus berputar balik ke pintu. Untung orang-orang tidak melihat (karena gelap) saat saya menekan dinding studio yang saya kira pintu keluar.

Kisah memalukan kedua, saya hampir salah masuk setelah dari toilet, seharusnya ke studio 2 tapi saya menyelinap di pintu Studio 1. Saya kemudian grogi ketika dua perempuan yang duduk di depan saya berbalik melihat saya saat duduk kembali di kursi L 14.

Sosodara, sudah cukup ya puja-pujinya. Segeralah menonton untuk lebih tahu lekuk cerita.

Film ini adalah edukasi yang baik untuk sesiapapun tentang risiko mencinta, tentang dampak ketika urusan cinta dipersulit hanya karena alasan materi, demikian pula risiko ketika kawin muda, bukan hanya adat atau tatasan sosial yang harus jadi pertimbangan tetapi juga kesiapan mental saat berani mengambil insiatif.

Lebih dari itu, saya membaca pentingnya kita semua berlaku bijak pada realitas tradisi atau budaya siri’ pada tindak Silariang atau Anynyala.

Di kota-kota mungkin sudah tidak ada respon berlebih, tetapi di desa-desa jauh, pedalaman, pesisir atau pulau-pulau, pilihan menegaskan cinta bernama Silariang masih ada, demikian pula pilihan menegakkan adat pun masih ada. Masih berlangsung, bahkan jauh setelah peristiwa ketika pria di atas motor di Galesong itu mengeksekusi perempuan yang disebutnya anynyala atau silariang itu.

***

“Keren filmnya, we really enjoy it. Ikut bangga, wajib nonton! Flm itu itu mengaduk-aduk emosi, marah dan sedih sampai saya menangis,” kata Nana Saleh yang bertahun-tahun tinggal di Melbourne Australia ini.

Jika ada yang kurang di film ini, itu adalah penekanan pada adegan-adegan yang bisa melemahkan kisah cinta pasangan Silariang itu, demikian pula deskripsi latar belakang Yusuf dan Zulaikha, bukan keluarganya tetapi bagaimana mereka bisa menemukan kecocokan. Di film ini hanya disorot selama semenit pertama.

Yang masih buat penasaran adalah minimnya penjelasan tentang asal Kampung Yusuf, atau asal usul trah keluarga Zulaikha.

Kenangan traumatik Dirham yang mengaku mencintai perempuan dari Bone belum menjawab harapan saya untuk memetakan potensi dan challenges berjodoh lintas etnis di geografi Makassar, Bugis, Makassar, atau mungkin Mandar, Toraja atau Tionghoa sekalipun.

Apapun itu, film yang telah merangkai keindahan alam Sulawesi, pernik tradisi dan ciri komunitas Bugis-Makassar ini telah menghantar saya ke memori pertemuan dengan lelaki berkopiah di atas motor yang dengan dingin mengeksekusi perempuan yang disebutnya silariang atau anynyala.

Saya bertemu dengan lelaki itu di tahun 2005 di Kota Palopo, sosok yang sudah bergelar haji itu juga menyatakan kerinduannya untuk kembali ke Galesong. Rindu pada jejak-jejak kenangannya, pada keteguhan merawat semangat mencinta.

Tamarunang, 15 Januari 2018

 

Cerita Suyitno, Lengah di Laut Berarti Karam!

20180105_102020
Suyitno (kiri) bersama Dirops Laut Bakamla (foto: istimewa)

Jumat, 5 Januari 2018, Jakarta baru saja menggeliat. Dengan ber-KRL, saya bergegas ke kantor Bakamla RI di pusat kota. Saya berjanji dengan Direktur Operasi Laut Bakamla, Laksma R. Eko Rahardjo untuk berbincang mengenai Bakamla, tantangan dan ruang lingkup tugasnya.

Sebelum bersua perwira bintang satu tersebut, saya menyempatkan berbincang dengan Suyitno, S.Sos, M.Si, personil dari Kementerian Kelautan dan Perikanan dan diperbantukan sebagai PPNS Perikanan di Bakamla RI.

Bersama Suyitno, hadir pula Letkol Laut (P) Asep Budiman, Kasubdit Reneval Opsudimar, Bakamla RI yang menceritakan ruang lingkup tugas dan fungsi Bakamla serta tantangannya.

Sementara itu saat ditanyakan suka duka menjadi personil Bakamla kala melakukan operasi, Suyitno mengatakan tetap mempunyai risiko meski sejauh ini masih bisa dikendalikan.

“Seingat saya dalam tahun 2017, saya ikut empat kali operasi bersama Bakamla RI. Di tahun 2016 berhasil ditangkap 19 kapal asing, dari Vietnam semua. Terakhir yang paling banyak ditangkap itu di awal tahun 2017, ada 13 kapal. Lokasinya di perairan Anambas, Kepri” kata Suyitno.

Menurutnya, beberapa di antaranya sudah ditenggelamkan tahun lalu.

Saat ditanya perihal tantangan terbesar selama melaksanakan operasi seperti itu, Suyitno mengatakan tantangannya adalah ketika mereka (nelayan asing) melawan meski sudah diperingati atau bahkan ditembaki.

“Tantangannya kalau mereka melawan sampai kapal kita ditabrak, seperti yang kami alami saat memergoki mereka di sisi barat Kota Tarempa. Sekitar perbatasan perbatasan Malaysia, di sekitar lokasi pengeboran minyak,” ungkap Suyitno.

Peristiwa tersebut berlangsung di bulan Desember 2016, saat gelombang sedang tinggi.

“Saat itu musim utara, kami menggunakan Kapal Hiu Macan I. Saya sebagai personil on board dari Bakamla. Jadi sifatnya operasi gabungan namun meminjam kapal KKP,” kenang Suyitno.

Dari Suyitno diperoleh informasi bahwa di tahun 2016 itu dia menjadi bagian dari operasi yang digelar dari bulan Oktober – Desember yang membutuhkan jumlah waktu selama 60 hari.

“Kita melaksanakan tiga kali operasi dan kita dapat 19 kapal di bulan Oktober-Desember 2016 itu,” katanya terdengar optimis.

“Kapal kita sama-sama pecah pak. Meski ditembakin, mereka nabrak kita,” kata alumni Universitas Mustopo Jakarta yang pernah menjadi asisten tokoh Soedomo (ketua DPA) ini.

Pengabdian Suyitno di Bakamla RI bermula ketika dia dipromosikan oleh Direktorat Pengendalian Sumber Daya Kelautan dan Perikanan KKP.  Dia merupakan alumni dari program sekolah penyidik KKP.

Di Bakamla, Suyitno datang bersama 5 utusan KKP lainnya dan bergabung dengan100 personil dari TNI-AL, 6 dari AU, 3 dari AD, Polri sebanyak 21, Jaksa 3 orang serta 2 orang perwakilan Kementerian Perhubungan (Laut).

“Saat itu, di tahun 2006, KKP sedang kekurangan tenaga penyidik perikanan,” kata pria kelahiran Semarang, 48 tahun lalu ini dan sekarang menjabat sebagai Kasi Operasi Keamanan Laut.

Bersinggungan dengan nelayan asing yang masuk secara ilegal adalah persoalan pelik dan sejatinya harus diredam, baik dengan persuasi maupun dengan penegakan hukum. Beberapa nelayan tersebut bertindak tega dan bahkan telah mengakibatkan korban jiwa bagi aparat di garis depan.

Tak hanya itu, mereka juga menyebabkan persoalan sosial seperti yang dialami warga Kota Tarempa beberapa waktu lalu dimana perahu nelayan dilarikan dari lokasi penahanan di Tarempa Timur.

Dari cerita Suyitno ini, jelas bahwa upaya penegakan hukum dan konsistensi dalam menegakkan marwah kedaulatan negara di titik-titik rawan seperti perbatasan dengan Malaysia dan Vietnam harus terus dikobarkan. Tidak boleh main-main, apalagi mengalah pada pencuri ikan.

Dari cerita Suyitno, kita bisa mengatakan jika kita lengah menghadapi pencuri ikan maka itu berarti kalah dan karam! Mau?

Sulsel sebagai Barometer Pembangunan Kelautan dan Perikanan Nasional

DSC_1818
Bersama Kadis KP Sulsel, Sulkaf S. Latief (foto: istmewa)

Sulkaf S. Latief, Kadis Kelautan dan Perikanan Provinsi Sulawesi Selatan menerima penulis pada Selasa pagi, 9 Januari 2017. Pada Dengan gayanya yang khas, straight to the point, blak-blakan, dia berbagi pandangan tentang dinamika dan buah manis capaian program pembangunan kelautan dan perikanan di Sulawesi Selatan hingga akhir tahun 2017. Berikut uraiannya.

Perihal cantrang

Obrolan bermula tentang cantrang.

Menurut Sulkaf, penerapan aturan pelarangan cantrang mulai efektif 1 Januari 2018. Salah satu pulau yang banyak nelayan cantrangnya (atau lampara) yaitu Pulau Podang-podang di Pangkep dan Galesong di Takalar. Menariknya, nelayan cantrang sudah mengkonversi alat tangkap, dari cantrang ke bubu.

“Kita bantu izinnya, memperlancar izinnya, alasannya karena nelayan tidak mau ditangkap makanya ikut aturan. Kita ikut anjuran Pusat,” kata Sulkaf.

Jumlah cantrang yang terdata di Sulsel sebanyak 64 unit. Di Pangkep ada 34, di Takalar 32 unit. Dari pantauan DKP, nelayan cantrang juga bersoal dengan nelayan lain terkait lokasi tangkapan, alur operasi, terutama dengan nelayan pukat.

“Makanya kami tidak ikut-ikut cantrang, kami ikut KKP. Di lapangan, kami sudah sangat siap sekali mengawal aturan ini, kami punya pengawas meski sempat gamang juga tahun lalu ketika di Jawa masih dibuka,” katanya.

Yang dilakukan Sulkaf adalah melakukan koordinasi dengan otoritas lain seperti TNI-AL dan Polairud terkait isu cantrang ini untuk mengurangi tensi di tahun lalu.

“Sampai sekarang, tidak ada yang ikut demo di sini, biasanya mereka datang ketika isu cantrang muncul lagi. Sekarang tidak lagi,” katanya.

Menurut Sulkaf, dulu, sesuai dengan pengalaman, selama ini, cantrang menjadi persoalan terutama karena pelanggaran jalur, terlalu banyak dan memang perlu dirasionalisasi.

“Karena sudah menjadi kebijakan Pusat, kami ikut anjuran Pemerintah,” katanya.

Budidaya perikanan

Sulkaf terlihat berbinar saya penulis menanyakan kinerja usaha kelautan dan perikanan Sulsel.

“Nilai ekspor perikanan Sulsel didominasi rumput laut. Rumput laut adalah program unggulan, kita fasilitasi pembudidaya, kita beri bantuan, bibit, tenaga,” katanya.

“Sampai saat ini, kita fokus di pembinaan. Rumput laut. Bandeng adalah andalan. Bandeng kita nomor 1 meski tahun lalu sempat menjadi pemicu inflasi karena kita memasok ke Jawa, terutama bandeng segar dan bandeng tanpa tulang. Meski yang keluar banyak, namun yang masuk juga banyak karena konsumsi bandeng di Sulsel juga tinggi. Bandeng dari Kalimantan. Terutama tiga tahun terakhir,” akunya.

“Kita nomor 1 di Indonesia untuk bandeng, udang Vanname juga naik, walau budidaya masih skala rakyat. Beda dengan di Lampung atau Sumatera Selatan. Level usaha pertambakan masih beragam, lebih banyak tradisional dengan teknologi sederhana. Vannamae dikelola dengan tambak superintensif meski Sulsel masih bercokol di nomor 6 atau 7 nasional. Kalau Lampung dan Sumatera Selatan kan mereka sampai ratusan ribu ton, apalagi banyak perusahaan tambak besar di sana,” tambahnya.

Sulkaf menyebut bahwa luasan tambak di Sulsel tidak jauh berbeda dengan tahun sebelumnya meski ada pembukaan lahan baru seperti di Luwu Timur.

Tentang rumput laut, Sulkaf menyebut bahwa upaya pengintegrasian usaha budidaya dan pemasaran juga kian intensif seperti yang ditunjukkan di Bone. Sudah ada pabrik rumput laut yang dibantu oleh KKP.

Pemerintah Provinsi Sulawesi Selatan merilis data produksi rumput laut pada tahun 2016 sebesar 3.409.048,2 ton terdiri dari Euchema sebesar 2.107.953,7 ton, Spinossum sebesar 249.291 ton dan Gracillaria sebesar 1.051.803,5 ton.

Data sementara produksi rumput laut sampai dengan triwulan ketiga tahun 2017 menunjukkan angka sebesar 2.566.700,7 ton yang terdiri dari Eucheuma sebesar 1.747.484,5 ton, Spinossum sebesar 116.623,9 ton dan Gracillaria sebesar 702.592,3 ton. Produksi tersebut belum termasuk data kabupaten Luwu Timur.

Bandingkan dengan target produksi rumput laut di 2017 sebesar 3.576.443 ton dan 2018 sebesar 4.280.366 ton.

Untuk produksi perikanan tahun 2016, sebesar 3.9 juta ton dengan nilai 15,6 T yang terdiri dari perikanan budidaya sebesar 3,6 juta ton dengan nilai 9,2 T dan perikanan tangkap 312,4 ribu ton dengan nilai 6,4 T.

Komoditi sektor budidaya 2016 meliputi udang sebesar 41.686 ton dengan nilai 2,5 T, disusul bandeng sebesar 155.761,2 ton dengan nilai 2,3 T, rumput laut sebesar 3,4 juta ton dengan nilai 3,9 T, ikan nila sebesar 5.711,2 ton dengan nilai 105,2 M, ikan mas sebesar 9.829,5 ton dengan nilai 196,6 M, lalu ikan lele sebesar 2.365,6 ton dengan nilai 40,2 M

Isu tata ruang laut

Terkait isu ruang laut, Sulkaf mengakui bahwa nelayan Sulsel banyak yang keluar wilayah seperti nelayan Patorani, pencari telur ikan terbang asal Takalar yang membutuhkan penanganan bersama, lintas provinsi.

“Isu ruang laut kita terkait dengan penyelesaian RZWP3K. Dalam tiga bulan ke depan kita akan tuntaskan,” katanya.

Salah satu poin yang disampaikannya terkait isi dokumen rencana zonasi itu yang belum sempat mengakomodir gagasan penunjukan kawasan timur Pulau Selayar yaitu Pattumbukang sebagai lokasi sentra perikanan lantaran terlambat diajukan oleh Pemerintah setempat.

Hal lain, menurut Sulkaf adalah bahwa isu ruang laut Sulsel tidak bisa dilepaskan dari beberapa agenda pembangunan seperti pembangunan Center Point of Indonesia (COI), minat investasi swasta di pesisir dan laut hingga penyiapan zonasi.

“Kepentingan kabupaten-kota kita masukkan di draft RZWP3K. Kami adop perencanaan CPI karena sudah jadi Perda. Kita masukkan taman naisonal, Pulau Kapoposang. Jangankan itu, dengan Lantamal pun, hingga Punagayya terkait areal PLN pun juga masuk,” terangnya.

“Jadi terkait draft RZWP3K sudah kita serahkan di awal tahun ini, sudah dipansuskan, hari ini tim kami ke Takalar. Dalam menyusun itu, kami sangat mematuhi aturan, kami konsultasi ke Jakarta. Kami tidak hanya melihat aspek perikanan saja, bukan hanya isu tambang, ini adalah kolaborasi para pihak, semua keinginan kita akomodir,” katanya bersemangat.

Sulkaf mengatakan bahwa RZWP3K yang sedang disusun sangat pro konservasi.

“Kalaupun tertunda, ini karena persoalan tambang pasir. Meski banyak pihak tidak memahami bahwa jauh sebelum penolakan tambang pasir yang marak saat ini, dulu, sudah wilayah kerja (wilker) pertambangan. Dan itu sudah ditentukan batasnya, misalnya di Takalar, ada sekian ribu hektar, dari 0 hingga sekian mil. Sebelumnya, orang sudah melakukan proses penambangan,” paparnya.

Menurut Sulkaf, selama ini para penambang pasir di areal 2-4 mil tidak bisa berhentikan karena mereka punya aturan yang membolehkan. Ada wilker pertambangan, ada Amdal.

“Jadi kalau RZWP3K selesai dan jadi Perda, pertambangan yang di bawah 6 mil ditutup. Otomatis,” katanya.

“Saya ingin menyatakan bahwa Gubernur Sulawesi Selatan punya komitmen menjadi keseimbangan pendekatan pembangunan. Pemerintah Sulsel tidak serampangan dalam memberikan izin tambang, di gunung atau lokasi pertambangan lainnya, beda dengan di provinsi lain,” sebutnya lagi.

Pengelolaan Data

Sulkaf juga mengapresiasi kebijakan one data untuk kelautan dan perikanan nasional meski menurutnya terlalu ‘dipaksakan’. Harusnya bisa perlahan dengan memanfaatkan kondisi yang ada.

“Banyak gagasan bagus namun tidak bisa diaplikasikan di daerah, apalagi kalau dilakukan secara buru-buru, misalnya kebijakan one data,” katanya. Dia mengatakan demikian sebab di Sulawesi Selatan, sudah ada sistem dan data yang tersedia, harusnya itu yang dimaksimalkan.

Menggenjot Untia

Saat ditanyakan situasi Pelabuhan Untia, Sulkaf antusias menjawab dengan mengatakan bahwa saat ini Perinus dan Perindo sudah mulai terlibat intensif.

“Akan dibangun cold storage, SPDN oleh swasta, Untia kita dipoles, disiapkan semua. Bahwa sabtu minggu pun, sudah aktif, saat ini ada cold storage terapung dari Perinus. Ikan-ikan dari darat, dari laut juga ada,” katanya.

Hal kedua, di Untia, pengurusan SPB juga sudah lancar. Sudah pindah ke Untia. Intinya Untia, pelan-pelan kita benahi dan mulai menggeliat,” katanya lagi.

Dia juga mengapresiasi PPI Beba Takalar yang terus menggeliat dan menjadi salah satu pangkalan pendaratan sibuk di Sulawesi Selatan.

Efektifitas Pangkapan Pendaratan Ikan

Menurut Sulkaf, Surat Perintah Berlayar (SPB) merupakan dokumen penting bagi nelayan atau pemilik armada perikanan sayangnya, sejauh ini masih banyak kendala dalam penerapannya. Selain karena keterbatasan syahbandar, juga karena akses yang jauh dan belum semua PPI terhubung dengan internet.

Dia lalu mengambil contoh pulau-pulau di Selayar yang jauh, hal yang dianggapnya tidak mudah jika dikaitkan dengan proses perizinan SPB ini.

“Misalnya kalau ada nelayan dari Pulau Kayuadi. Kalau fishing ground di Kayuadi, mereka tidak punya SPB atau SLO dan pergi menangkap ikan di sekitar situ. Mereka pastinya tidak kembali saat dapat tangkapan tetapi ke pendaratan terdekat, tapi kalau di Benteng tidak ada pembeli ikan? Mereka pasti ke tempat jauh seperti Bira atau Sinjai. Biasanya bersoal karena tidak punya SPB atau SLO, mereka hanya punya SIUPP, ini salah siapa? Ini yang perlu solusi bersama,” paparnya.

Hal lain yang disampaikannya adalah perihal nelayan andon yang tidak semua Pemerintah Provinsi mudah menerima nelayan tersebut. Sehingga perlu ada kerjasama antara Pemerintah Provinsi.

“Kita sudah ada petugas syahbandar, sudah ada 20-an, kendala kita masih terbatasnya syahbandar utama. Apalagi harus merupakan atau minimal lulusan Ankapin 2. Ini juga tantangan, apalagi pengangkatan PNS juga berkurang tiap tahun,” katanya.

Perkarantinaan

Meski Sulsel mempunyai track redord bagus di ekspor ikan, dimana kantor Karantina Makassar sebagai gerbang proses administrasi dan jaminan kualitasnya, Sulkaf membaca masih ada kerumitan-kerumitan operasional.

“Kita meminta kemudahan proses pengiriman produk perikanan, selama ini urusan adiminstrasi, urusan ada tidaknya cold storage, masih menjadi kriteria tapi kita terus berupaya supaya ada kemudahan, itu intinya,” kata Sulkaf.

“Terkait ekspor, beberapa pengusaha bahkan membawa barang ke Surabaya. Karena di sana dibolehkan,” katanya datar.

Berdasarkan data dari Perindag dan BKIPM, untuk Sulawesi Selatan, sampai november 2017, nilai ekspor perikanan Sulsel meningkat.

“Data ekspor perikanan sampai dengan bulan November 2017 sebesar 113.361,4 ton, nilainya 316,6 Juta US$. Apabila dibanding dengan periode yang sama tahun 2016 maka terjadi kenaikan volume ekspor sebesar 4,1 %. Nilai ekspor sebesar 70,7 % dimana volume dan nilai ekspor tahun 2016 sebesar108.876,1 ton, nilainya US$185,5 juta,” tambahnya.

Rumput laut menjadi primadona Sulsel, setidaknya jika melihat tren harga tahun lalu yang melonjak hingga harga Rp. 24 ribu/kilo!

“Tahun 2016, memang harga hancur, tetapi sampai pertengahan tahun 2017, harga rumput laut membaik. Terakhir sampai 22 ribu/kg. Mulai naik di bulan Juli, merangkak, ini harga jenis Euchema di petani. Dari 6500, 7000, 8000, naik menjadi 9, 10., 12 , 16, 17, 22, bahkan pernah sampai 24 ribu di daerah Wajo,” kata Sulkaf.

“Jika Euchema melonjak, jenis Graciliaria tidak naik, karena paling banyak untuk kepentingan dalam negeri, harga tetap murah dan semua gudang penuh. Harga di kisaran 3500 dan 5000. Kalau Cottoni dikirim ke luar negeri,” sebutnya.

Terkait posisi rumput laut ini, nilainya dapat dilihat dari kontribusi sektor perikanan terhadap PDRB Sulsel tahun 2016 sebesar 8,2 %, nilai PDRB perikanan (harga berlaku) sebesar 30,9 T. Produksi perikanan tahun 2016 sebesar 3.9 juta ton dengan nilai 15,6 T yang terdiri dari perikanan budidaya (termasuk rumput laut) sebesar 3,6 juta ton dengan nilai 9,2 T dan perikanan tangkap 312,4 ribu ton dengan nilai 6,4 T.

Data ekspor perikanan sampai bulan November 2017 sebesar 113.361,4 ton dengan nilai US$ 316,6 Juta, apabila dibanding dengan periode yang sama tahun 2016 maka terjadi kenaikan volume ekspor sebesar 4,1 % dan nilai ekspor sebesar 70,7 % dimana volume dan nilai eksport tahun 2016 sebesar108.876,1 ton dengan nilai US$ 185,5 juta.

Data ekspor komoditi udang sampai November 2017 sebesar 4.776,3 ton dengan nilai US$ 52,2 Juta apabila dibandingkan dengan periode yang sama tahun 2016 maka terjadi kenaikan volume sebesar 33,5 % dan nilai sebesar 90,5 % dimana volume dan nilai ekspor udang 2016 sebesar 3.578,3 ton dan US$ 27,4 juta. (sumber BKIPM Makassar)

Data ekspor rumput laut sampai dengan bulan November 2017 sebesar 91.291,7 ton dengan nilai US$ 85,7 juta, apabila dibandingkan dengan periode yang sama maka terjadi penurunan volume sebesar 5,9 % dan kenaikan nilai sebesar 11% dimana volume dan nilai eksport rumput laut tahun 2016 sebesar 96.983,8 ton dan US$ 77,2 juta (Sumber Disperindag).

Data ekspor gurita sampai dengan bulan November 2017 sebesar 1.884,5 ton dengan nilai US$ 8,9 juta, apabila dibandingkan dengan periode yang sama pada tahun 2016 maka terjadi kenaikan volume dan nilai sebesar 156,7 % dan nilai sebesar 178,9 % dimana volume dan nilai ekspor gurita tahun 2016 sebesar 734,2 ton dan nilai US$ 3,2 juta (Sumber: Disperindag).

Melirik Lobster

Saat ini Sulawesi Selatan, terutama Pangkep, Jeneponto dan Takalar, usaha pembesaran lobster berkembang pesat. Harganya sangat tinggi dan diminati nelayan dan pasar sangat terbuka.

“Cuma kan ada pelarangan benih, menurut saya, ke depan, yang perlu diperketat adalah benih yang dibawa keluar negeri. Saat ini, yang boleh diambil minimal 300 gram bisa diambil, jadi hanya sedikit nilai tambahnya misalnya hingga 500 gram. Karena banyak tersedia di alam, ukuran 125 gram atau 75 gram sudah layak untuk dibesarkan,” katanya.

Penguatan daya saing

Terkait penguatan daya saing di tingkat nelayan dan produk perikanan, menurut Sulkaf, sejauh ini kebutuhan es dan input lainnya normal saja terutama di dua tahun terakhir.

“Jika ada yang perlu dibuat fleksibel maka itu adalah proses pengiriman barang, maksud saya tetap diperlukan upaya pembinaan ekspor. Jadi tidak asal membatasi,” katanya.

Menurut Sulkaf, dengan performa dan kinerja kelautan dan perikanan seperti ditampilkan di atas, Sulsel bisa menjadi model pengelolaan sumber daya kelautan dan perikanan nasional terutama dalam memanfaatkan sumber daya ikan, tuna cakalang, udang, rumput laut dengan memaksimalkan peran stakeholder yang ada.

“Kita di Sulsel karakteristiknya lain, kita lebih banyak ke budidaya. Kalau terkait ikan, mungkin saja ada yang berasal dari wilayah lain. Bandeng dari Kalimantan. Tapi sejak dulu, kebutuhan ikan sangat besar di sini (di Makassar), eksportir juga banyak, rumput laut bisa datang dari provinsi lain, terutama sejak lancarnya pengiriman barang atau logistik antar pulau,” paparnya.

Berdasarkan data DKP Sulsel, produksi komoditi unggulan perikanan tangkap 2016 yaitu Tuna Tongkol Cakalang sebesar 57.273,3 ton dengan nilai 1,4 T. Volume ekspor perikanan tahun 2016 sebesar 118.256 ton dengan nilai US$ 210,3 juta, ekspor perikanan tahun 2016 yaitu udang sebesar 6.884,5 ton dengan nilai US$ 61,2 juta, TTC sebesar 2.373,4 ton dengan nilai US$ 15,1 juta, telur ikan terbang sebesar 393,3 ton dengan nilai US$ 6,5 juta, teripang sebesar 230,3 ton dengan nilai US$ 1,8 juta, cumi-cumi sebesar 261,4 ton dengan nilai US$ 1,5 juta.

Koordinasi dan kerjasama

Kerjasama dengan pemangku kepentingan kelautan dan perikanan di Sulawesi Selatan berjalan baik termasuk dengan masyarakat nelayan.

“Kita punya Pokmas yang kuat hingga 100an lebih, tahun lalu kita fasilitasi 11 kelompok dengan perahu, gunanya untuk pengawasan laut,” katanya.

Berdasarkan pengalaman DKP, Sulkaf melihat pentingnya kolaborasi para pihak, vertikal, horizontal dalam melancarkan pelaksanaan program pembangunan kelautan dan perikanan untuk provinsi di hub Indonesia dengan penduduk mendekati 8,5 juta jiwa ini.

“Ke depan, kita harus intensif membangun komunikasi dengan pengambil kebijakan dan berbagi peran terkait kelautan dan perikanan, baik antara Pusat, Gubernur, maupun Pemerintah Kabupaten/kota,” sarannya.

Menurut Sulkaf, terdapat spirit yang sama antara Menteri Susi dengan Gubernur Syahrul Yasin Limpo.

“Kita hanya perlu lebih banyak membangun komunikasi, kesepahaman, koordinasi. Komunikasi yang saya maksud, komunikasi dengan segenap pemangku kepentingan, dengan para Gubernur, Walikota, Bupati termasuk masyarakat pesisir,” pungkasnya.

Gowa, 10/01.

 

 

 

7 Alasan Mengapa Trawl Sangat Buruk untuk Dasar Laut

128350_223493
Hasil sampingan trawl, ikan sarden dibuang di Lautan Afrika (foto: Western Sahara Resource Watch)

Saya ikut kapal trawl dalam tahun 1994 (ketika itu belum sepenuhnya dilarang). Meski hanya menggunakan Kapal Latih Madidihang yang menggunakan trawl untuk ‘stock assessment’ di Selat Makassar hingga Bitung, saya telah menyaksikan bagaimana trawl atau pukat dasar yang ditarik pada radius tertentu telah menerabas semua yang ada.

Lalu di tahun 2010, saya mengikuti operasi parere (Bahasa Makassar) atau minitrawl di sepanjang laut pesisir Makassar dari titik mula di Pantai Galesong Utara, Takalar, Sulawesi Selatan. Sebanyak 3 kali mondar-mandir sambil menarik dengan katrol, ikan-ikan dasarpun naik ke kapal setelah mesin penarik jaring menuntaskan tugasnya.

Seperti pukat tarik di Selat Makassar hingga Bitung itu, saya melihat betapa serampangannya mereka saat dihela oleh mesin kapal. Saya membayangkan rapuhnya ekosistem dasar seperti lamun, terumbu karang ketika ada puluhan atau ratusan kapal pukat dasar menghela di laut seperti Selat Makassar atau di manapun.

Bagaimana dengan nasib nelayan kecil? Pemancing? Pembubu? Pencari rajungan? Pemukat permukaan? Bagaimana dengan nelayan tradisional yang hanya punya sampan atau perahu bermesin luar atau ketinting?

Berdasarkan pengalaman operasi di beberapa negara, trawl adalah alat tangkap yang dapat dioperasikan di permukaan dan dasar laut tetapi karena sifatnya yang diseret, sebagian besar linimasa operasinya adalah melintasi dasar laut ‘sea bed’.

Terkait dampak itu, Carl Safina, blogger, peneliti dan pemerhati lingkungan untuk Greenpeace, sebuah organisasi lingkungan internasional mengabarkan betapa perusahaan McDonald’s dan perusahaan perikanan Norwegia dan Rusia telah membuat kesepakatan untuk membatasi beroperasinya trawl.

“Trawl menyapu semua biota, mengambil semua yang ada pantas disebut buldoser lautan,” tulis Safina.

Greenpeace juga mengaku bahwa bagi sebagian orang yang menginginkan hasil cepat, trawl adalah solusinya. Dia adalah salah satu cara paling paling efektif dalam menangkap apapun di kolom laut.

128344_223480

Lalu mengapa banyak Negara atau Pemerintah Indonesia melarang beroperasinya trawl atau sebangsanya seperti cantrang? Inilah beberapa alasannya sebagaimana juga yang diyakini oleh Carl Safina dikutip dari laman Greenpeace.

Pertama, penangkapan berlebih. Jutaan ton biota laut telah tersedot masuk ke mulut trawl atau pukat hela setiap tahunnya. Trawl yang telah digunakan secara intensif telah menghabiskan banyak jenis ikan di banyak belahan dunia.

Jika tak dibatasi maka kelak ikan-ikan akan semakin tipis. Nelayan akan semakin dahaga untuk melakukan migrasi. Migrasi yang belum tentu diterima oleh warga setempat karena perbedaan pola pemanfaatan.

Di Indonesia, akan banyak nelayan melakukan migrasi, semisal dari Jawa ke Sumatera atau ke Sulawesi hingga Papua ketika wilayah perairan semua telah menjadi jenuh atau ‘depleted’. Gejalanya sudah terlihat sejak beberapa tahun belakangan.

Kedua, mengambil bukan ikan sasaran atau istilahnya bycatch. Mereka mengambil apa saja karena mulutnya yang lebar, ikan apa saja, mamalia laut, bahkan burung laut yang sedang bermain di atas batang hanyut.

Pada beberapa kasus hasil trawl atau cantrang ditolak oleh paberik kepiting rajungan karena produknya rusak seperti yang terjadi di Gresik dan Surabaya. Hampir semua tangkapan pukat tarik mati atau terluka fatal, dan jika tidak diinginkan, dia akan dibuang ke laut.  Seperti yang terlihat ketika penulis ikut kapal trawl di tahun 1994 dan 2010 itu.

Semua yang ada di dasar diambil, dari hiu, pari, udang, belanak hingga ular. Saat hauling, saat semua hasil tangkapan disortir, jenis-jenis yang tak diminati dilempar kembali ke laut dengan suasana sekarat.

Organisasi LSM Sahara Resource WatchTrawler melaporkan adanya pembuangan 60 ton ikan sarden di lepas pantai Afrika karena bukanlah target kapal tangkap ikan, kejadiannya pada 7 Juli 2013.

Yang ketiga adalah adanya destabilisasi dasar laut. Jika jaring diseret, itu akan mengakibtkan pengadukan dan mengganggu ekosistem.

Keempat, kerusakan karang. Karang tidak hanya untuk terumbu tropis. Banyak spesies karang memiliki spesialisasi untuk tumbuh dalam air yang dalam dan dingin. Karang-karang itu sering terus tumbuh selama berabad-abad, masuknya trawl akan melibas mereka.

Di Florida dan Selandia Baru, terumbu karang telah hancur mencapai 97-99 persen oleh trawl (Allsopp dkk, 2009).

Padahal di situlah ikan hidup dan bersembunyi; itu habitat mereka. Banyak jenis soft coral yang hancur karena ini.

Kelima, menghancurkan anemon, spons, pena laut, bulu babi, dan binatang kecil dan rapuh lainnya. Banyak dasar laut menyimpan makhluk yang lembut. Celakalah mereka; mereka akan dilibas.

Keenam, menghancurkan kehidupan di dasar laut. Triliunan hewan yang lunas seperti cacing, amphipod, kerang, kepiting, lobster, dan banyak lainnya tinggal di dasar laut di liang mereka yang akan terlindas. Datangnya trawl ibarat sebuah gergaji yang memotong dahan sehingga semua akan mati, di ranting, buah, daun.

Yang ketujuh, retaknya rasa keadilan untuk semua. Dunia tidak bisa hanya untuk kita saja. Kapal-kapal trawl yang datang belakangan telah mengambil banyak di lautan dan harus dihentikan. Kalau tidak generasi mendatang hanya akan ‘gigit jari’.

Ini murni pertimbangan moral, karenanya kita harus menyimpan atau tidak mengganggu perairan dengan kegiatan yang merusak, masih banyak orang butuh untuk bekal masa depannya. Menyisihkan beberapa ruang di laut adalah hal yang cerdas-dan hal yang layak dilakukan.

Tragedi Pulau Kambing, Begini Anjuran Instruktur B2 POSSI Sulsel

993602_671757429505344_1273202042_n
Penyelam saat di perairan Pulau Kambing (foto: Nirwan)

Kemarin, Rabu, 3 Januari 2018, pukul 13.30 Wita, seorang wisatawan bernama Hugo (30) dilaporkan tewas dan ditemukan di sekitar Pulau Kambing, Bira, Sulawes Selatan. Pulau eksotis yang dikenal dikelilingi arus kuat. Beberapa tahun lalu, seorang turis Jepang juga dilaporkan raib di titik ini.Hugo dilaporkan hilang sejak pukul 09.15 Wita di sekitar pulau saat dipandu oleh operator selam local.

Mereka melakukan penyelaman di kedalaman 20 meter. Tiga orang rekannya termasuk pemandu diving terkena arus bawah yang sangat kuat yang mengakibatkan mereka terpisah. Demikian informasi yang disampaikan oleh instruktur selama B2 POSSI Sulawesi Selatan, Muhsin Situju..

Kabar ini menjadi pesan kuat bagi penikmat wisata kelautan atau wisata bahari untuk tetap berhati-hati ketika melakukan penyelaman. Pasalnya, hal yang sama, atau sekitar 13 hari sebelumnya, di selatan jauh Bira, tepatnya di Labuan Bajo, Nusa Tenggara Barat, seorang turis Belgia juga ditemukan tewas setelah penyelaman (20/12).

Instruktur selam POSSI Sulawesi Selatan, Muhsin Situju yang dihubungi mengatakan bahwa perairan Pulau Kambing memang ekstrem dan membutuhkan kecakapan khusus untuk bisa menjajalnya.

“Saya punya pengalaman membawa wisatawan di Pulau Kambing dan sempat mengalami hal serupa. Ada penyelam yang terseret hingga ratusan meter. Untung kami punya dua perahu. Jadi perahu sudah siap di titik arah arus atau tujuan akhir kami kalau dibutuhkan mendadak,” kata instruktur B2 POSSI Sulawesi Selatan.

“Saran saya, operator harus punya dua perahu. Satu di dermaga antar jemput, satu di titik penanda, biasanya dipasang pelampung ‘sosis’. Sosis ini penting untuk mengantisipasi arus yang datang tiba-tiba dan menyeret penyelam,” katanya.

Muhsin yang berpengalaman menyelam di hampir semua titik favorit selama Nusantara ini sejak tahun 1990 mengatakan bahwa penikmat wisata bahari terutama bawah air harus memahami karakter perairan di mana dia berwisata.
17426104_10154806273272935_7907736402718788936_n
Muchsin Situju (tengah) bersama Ketua POSSI Sulsel Angel Jobs (foto: Muhammad Syakir)
“Pulau-pulau seperti di sekitar Makassar (Spermonde) mungkin tak seekstrem di Pulau Selayar atau di antara Bira dan Selayar sebab merupakan pertemuan arus oleh sebab itu harus bisa mengukur diri. Saran saya kalau tidak punya sertifikat khusus jangan paksakan untuk menyelam dalam dan jauh apalagi kalau memang rawan,” kata jebolan Ilmu dan Teknologi Kelautan Unhas angkatan 1988 ini.
“Ini ibarat sirkuit bagi pembalap, kita harus tahu sirkuit atau medan biar bisa meminimalkan risiko. Seperti kasus Simoncelli itu,” imbuhnya.
Hal lain yang perlu dipahami juga adalah, saat terseret dan penyelam kelabakan biasanya lupa untuk melakukan decompression stop sebelum naik ke perahu karena terburu-burunya.
“Ini prosedur yang harus dilewati penyelam, jadi kalau terkena musibah, atau katakanlah terseret, prosedur itu harus tetap dilewati, jangan buru-buru naik ke perahu,” sarannya.
“Yang terjadi di Pulau Kambing bisa terjadi kepada siapa saja kalau kita tidak hati-hati karena lokasi tersebut terkadang arusnya tiba tiba dan bisa menyeret para penyelam jauh dari lokasi. Saya punya pengalaman di lokasi tersebut, tamu saya terbawa lebih dari 300 meter. Kejadian orang Jepang berapa tahun silam yang terbawa arus sampai korban tidak ditemukan padahal mereka dive master dan ada instruktur lho,” pungkas lulusan pertama Ilmu dan Teknologi Kelautan Unhas ini.
Ada apa di Pulau Kambing?
Pulau Sulawesi memang memikat. Lekuk eksotisme pulaunya serta kekayaan ekosistem terumbu karangnya merupakan modal pariwisata bahari daerah. Wakatobi, Togean, Bunaken, Taka Bonerate adalah contoh surga wisatanya. Juga Bira!
kamping-island
Spot diving di Pulau Kambing (foto: Bira Divers)
Di dekat Bira, di situlah terdapat Pulau Kambing. Masuk wilayah Desa Bira, Kecamatan Bontobahari, Kabupaten Bulukumba. Letaknya di sekitar 120 kilometer sebelah selatan Kota Makassar. Menuju Desa Bira tidaklah sulit, kita bisa menggunakan transportasi umum ataupun pribadi. Dari Kota Makasar, bisa naik bus dari terminal Malengkeri tujuan Makasar – Bulukumba (Bira).
Perjalanan dari Makasar menuju Bira memakan waktu kurang lebih 5-6 jam.
Apa yang membuat banyak penyelam tertarik ke Pulau Kambing?
Pulau ini adalah magnit penyelaman di Kabupaten Bulukumba, Sulawesi Selatan. Di pulau ini, terdapat spot yang menantang, namanya Shark Point. Dia adalah titik favorit bagi divers. Bagi yang suka sunset atau sunrise, Pulau Kambing juga bisa menjadi titik hunting.
Di kolong air Pulau Kambing, kita akan bersua hiu seperti Whitetip, Blacktips, Threser shark dan lainnya. Sangat mudah didapatkan di bagian selatan dan utara Pulau Kambing. Mereka bermain di kedalaman 20 hingga 30 meter.  Bertemu langsung dengan hiu yang terkenal sebagai hewan pembunuh di berbagai film layar lebar, memberikan sensasi tersendiri, bukan?.
Selain bertemu dengan hiu, menyelam di Pulau Kambing anda juga dapat menyaksikan beberapa biola luat seperti penyu, manta, serta ratusan jenis ikan berwarna-warni. Bahkan pada bulan September sampai Oktober bisa bertemu dengan ikan mola-mola yang berukuran raksasa raksasa, namun tidak bebahaya atau jinak.
Usai menikmati keindahan bawah laut Pulau Kambing, anda bisa bersantai di pasir putih nan halus tanjung bira sambil menunggu sanset.
Anda pun harus berhati-hati saat bertemu dengan hiu. Sebab, sewaktu-waktu mereka langsung menyerang apabila merasa terganggu. Penyelam tidak boleh panik, mengeluarkan suara keras, melakukan gerakan yang mendadak dan mengeluarkan darah.
Tantangan lain yang anda dapatkan saat menyelam di pulau kambing yakni perairan dengan arus yang kuat. Arus di Pulau Kambing terkadang mendorong penyelam sampai berkilo kilo dari pantai. Selain itu, anda tidak akan mendapatkan dasar laut. Hanya ada dinding-dinding yang ditumbuhi berbagai jenis terumbu karang dengan warna beragam.
Jika tetap berminat untuk menyelam di sana, karena memang pesonanya yang luar biasa dan agar tidak menghadapi risiko penyelaman yang bisa berakibat fatal, coba ikuti saran Pak Muhsin. Okay?