Blogger Makassar di Atol Terbesar Asia Tenggara

Hamparan pasir putih, desir angin, debur ombak, terumbu karang dan nuansa sunset di batas cakrawala adalah potret terlintas saat saya dapat ajakan berlayar ke selatan Sulawesi. Adalah pengurus POSSI Sulawesi Selatan yang menyampaikannya satu bulan lalu.

Saya membayangkan perjalanan yang mendebarkan saat menyebut kata Taka Bonerate, atol yang terletak di Laut Flores sebagai destinasi. Berlayar ke sana, membelah laut dan berpedoman pulau idaman selalu menantang dan menguras emosi. Selain butuh waktu, sumberdaya, tenaga, dia juga perlu kesabaran.

Menyebut Taka Bonerate, mungkin kalah mentereng dengan pesona Kepulauan Wakatobi, di Sulawesi Tenggara tapi saat berada di atasnya dan mengetahui bahwa sedang berada di pepucuk gunung bawah laut yang menjulang tentu akan berbeda sensasinya. Kawasan ini adalah atol ketiga terbesar di dunia atau terbesar di Asia Tenggara!

Taka Bonerate adalah puncak gunung bawah laut yang ditunjukkan oleh rangkaian 21 pulau. Ada 8 yang berpenghuni, yaitu Latondu Besar, Tarupa Besar, Rajuni Kecil, Rajuni Besar, Jinato, Pasitallu Timur dan Pasitallu Tengah. Luasnya lebih 2000 km2. Taka Bonerate merupakan atol ketiga terluas di dunia setelah Kwajifein dan Suvadiva, keduanya di Pasifik.

Ada 6ribuan warga yang berdiam dalam kawasan konservasi ini. Masuk wilayah administrasi Kecamatan Taka Bonerate, dengan ibukota kecamatan di Pulau Kayuadi, pulau di barat Jinato, Taka Bonerate adalah harapan destinasi pariwisata bahari pemerintah setempat. Taka Bonerate merupakan urat nadi ekonomi kelautan segitiga Nusa Tenggara, Sulawesi dan Bali.

***

“Silakan ajak maksimum 10 orang dari teman blogger Anging Mammiri Makassar jika tertarik ikut ekspedisi ke Taka Bonerate, pada minggu ketiga bulan Nopember 2011” kata Bakri “Bieck” Mulia mewakili Ketua POSSI Sulawesi Selatan, Andi Januar Jaury Dharwis kepada saya.  Saat merilis ajakan itu di mailing list, hanya butuh beberapa hari untuk memperoleh “final list” peserta trip. Kami menyebutnya Trip AM ke Taka Bonerate.

Trip ini merupakan rangkaian dari pelaksanaan Taka Bonerate Islands Expedition 2011, satu event promosi wisata tahunan yang digelar oleh Pemprov Sulawesi Selatan atas kerjasama dengan Pemkab Kepulauan Selayar. Ini pelaksanaan yang ke-3. Bagi saya, kunjungan ke Taka Bonerate ini merupakan yang kesekian kalinya sejak tahun 1995. Terakhir berkunjung ke kawasan ini pada tahun 2003.

Tujuh blogger Anging Mammiri yang ikut rombongan itu adalah untuk kali pertama ke Taka Bonerate. Mereka adalah Syaifullah Dg Gassing alias Ipul ketua komunitas blogger Anging Mammiri (www.angingmammiri.org), Suwardi Dg Mappe, Nursyamsu, Toar Andi Sapada, Faizal Ramadhan, Mansyur Rahim alias Lelaki Bugis, Febriyanti Utami.

Blogger Makassar dan Ajakan ke Laut

Sudah lama sekali hasrat menikmati pesona pesisir dan laut Sulawesi bersama para blogger itu ada. Satu keinginan untuk menawarkan perspektif baru tentang suasana, dinamika dan fenomena Kelautan kepada sahabat-sahabat blogger. Sebagai pencinta laut yang juga alumni Ilmu Kelautan, saya ingin mereka memahami dan mencintai laut berikut seluruh isinya melalui tulisan, apresiasi sekaligus pesan untuk menjaga aset penting bagi negeri nusantara ini.

Dalam satu tahun terakhir, intensitas kunjungan dan minat para blogger itu semakin kencang. Kunjungan pertama bersama mereka bermula dari pulau Barrang Lompo, satu pulau utama di beranda Makassar, dari sini kami menikmati snorkeling di terumbu Pulau Bone Batang, lalu beberapa waktu kemudian berkunjung ke Pulau Samalona, kemudian Kodingareng Keke.

Dan kini, Taman Nasional Taka Bonerate, atol ketiga terbesar di dunia. Selain pulau-pulau ini, beberapa waktu sebelumnya kami juga pernah berkunjung ke Kawasan konservasi pesisir Puntondo di Kabupaten Takalar, Bira di Bulukumba serta Pesisir Mariso, Makassar.

Di tengah ancaman semakin tergradasinya kualitas dan kuantitas ekosistem laut saat ini, panggilan untuk memproteksi dan melakukan upaya konservasi mesti didengungkan. Di ranah “social media” yang semakin efektif mendorong perubahan, para komunitas blogger inilah yang mesti jadi penyampai berita sekaligus pejuang konservasi laut. Menjaga terumbu karang dan ikan-ikan asosiasinya demi keselamatan anak-cucu kelak.

Tidak banyak dari kita yang sadar bahwa laut tanpa pamrih telah memberi kita pangan tak terkira, ikan, kekerangan, udang, alga, dan rekam pesona keindahan.

Laut Taka Bonerate salah satunya. Kawasan konservasi telah menjadi bank ikan sekaligus masa depan warga yang bermukim di 8 pulau berpenghuni di sana. Dimensi sosial ekonomi atas terumbu karang merupakan basis untuk pengembangan selanjutnya seperti pariwisata dan perikanan yang lebih berkelanjutan.

Taka Bonerate, secara turun temurun, adalah muara bagi warga dari timur Sulawesi Selatan seperti pendatang Bugis dari Bone dan Sinjai, Bulukumba juga bagi warga berbahasa Makassar seperti Bantaeng dan Selayar.

Bukan hanya dari Sulawesi Selatan, warga berdatangan dari Buton, Kabaena hingga warga berdarah Flores. Ragam warga dengan bahasa berbeda dapat ditemui di kawasan Taman Nasional Taka Bonerate

Pernah tinggal selama hampir tujuh tahun di dalam surga bahari ini menorehkan catatan memori tentang kondisi sosial ekonomi warga, pekerjaan, pendidikan, geliat ekonomi, mobilitas, tradisi hingga cara warga menghadapi setiap hal-hal baru. Aspek yang disebutkan ini tidak sempat kami rekam secara mendalam sebab target utama kami sangat sederhana: snorkeling!.

Karena alasan waktu dan keterbatasan sumberdaya, kami harus memaksimalkan setiap agenda yang tersedia antara tanggal 17 sampai 20 Nopember 2011! Tanggal 18 Nopember adalah perjalanan kami ke Taka Bonerate dan 20 Nopember 2011 sudah harus kembali ke Makassar. Saya ada rencana perjalanan tugas kantor ke Jakarta di hari itu juga! Cuti dari kantor pun hanya tanggl 17 dan 18 Nopember. Beberapa kawan yang ikut dalam ekspedisi pun mesti masuk kantor pada hari Senin, keesokan harinya. Serba padat dan terbatas, sementara perjalanan relatif jauh. Begitulah suasana psikologis perjalanan kami.

Perjalanan dimulai saat kami sepakat bertemu di Terminal Angkutan luar kota arah selatan Makassar di Mallengkeri. Pukul 09.00 wita, bus Aneka yang dikemudikan Haji Supu terseok meninggalkan terminal. Butuh waktu 5 jam termasuk saat makan siang di Warung Konro Bawakaraeng, Bantaeng untuk sampai ke Pelabuhan fery Bira, Bulukumba. Saya sengaja memilih moda transportasi ini agar para peserta bisa menikmati suasana pesisir selatan Sulawesi Selatan hingga Selayar.

Setelah menikmati perjalanan teduh di Selat Bira hingga pelabuhan Pamatata, Selayar selama 2 jam dan naik bus lagi selama satu jam lebih, akhirnya kami sampai di Terminal Bonea, utara Kota Benteng. Di sana kami dijemput oleh utusan Dinas Kebudayaan dan Pariwisata (Disbudpar) Selayar serta rekan dari Sileya Scuba Divers, Sarbini. Di sini ekspedisi bermula!

Pantai Eksotik di Gusung

Pagi tanggal 18 Nopember saya mendapat telepon dari Wakil Bupati Selayar, Syaiful Arif, SH, beliau “protes” karena saya tidak mengabarkan kalau kami telah tiba di Benteng. Oleh Dinas Budpar, kami diinapkan di Pondok Asgar, di Jalan Mappatoba, Kota Benteng. Setelah menyampaikan ke Wabup, bahwa rombongan Komunitas Blogger Makassar menginap di sekitar Jalan Mappatoba, satu unit mobil kijang pun datang menjemput.

Pagi itu kami diantar ke pantai dekat dermaga untuk kemudian menyeberang ke Gusung. Daerah ini terletak di ujung utara pulau Pasi, pulau di hadapan dengan Kota Benteng. Adalah Sarbini, Mude Zulkifli dan Asrahiyah Abubakar, rekan dari Sileya Scuba Divers (SSD) yang menjemput dan mengarahkan kami untuk menjajal Gusung.

Gusung merupakan kawasan pantai dengan pasir putih, yang dianggap merupakan titik berkumpulnya penyu sisik untuk bertelur. Kawasan ini, oleh Asrahiyah (gadis mungil yang biasa dipanggil Acca) dianggap mempunyai kelebihan pemandangan panorama sunset.

Perahu yang menjemput kami tidak terlalu besar, layak disebut sampan. Perahu bersayap ini dijejali para blogger. Saya, Syaifullah, Mude, Asrahiyah, Syamsu, Ning, Feby, Toar, Ancu, Ical dan Suwardi Daeng Mappe. Kami berdesakan di atasnya.

Pak Ipul, warga Pulau Gusung yang mengantar kami mengarahkan untuk tenang dan menjaga keseimbangan. Butuh waktu 15 menit untuk mendekati Gusung. Karena sedang surut kami mesti mencari titik masuk. Sempat berbelok ke arah selatan namun perahu kandas di antara hamparan bakau.

Mendung di atas Kota Benteng menggelayut, sepertinya akan hujan. Kami merapat di titik semula tidak jauh dari gudang kopra yang telah ada di Gusung selama berpuluh tahun. Ada tulisan Belanda di dekat pintu masuk. Sepertinya ini gudang kopra milik Belanda yang bertahan dan masih bagus. Dari sini, terlihat kota Benteng dari Gusung, mereka berhadap-hadapan. Vegetasi kelapa, pinus dan bakau menghiasi kawasan ini.

Karena hendak melihat sisi barat pulau kami memilih berjalan bersama. Kami melewati jembatan semen yang mulai rusak, di sini terdapat petak-petak tambak yang nampaknya tidak dimanfaatkan lagi. Saat kami melintasi, beberapa warga sedang mengerjakan jalan menuju kampung.

Dari dalam kampung kami menyaksikan suasana pantai barat yang kering. Suasana sedang terik, beberapa dari kami berpeluh dan merasakan penat karena mesti berjalan jauh. Melewati jembatan kayu, kami berbaris menuju selatan. Di sinilah pemandangan indah itu muncul, hamparan pasir putih, pohon kering dan sampan kecil yang kandas yang menyita perhatian.

Sangat eksotik. Saya, Syaifullah dan Toar Sapada tidak membuang kesempatan indah ini dengan memotret.

Kami tidak sanggup berjalan ke kampung Gusung II. Panas sekali. Beberapa dari kami mengaso di teras rumah warga dengan pemandangan tadi. Di kawasan itu terdapat vegetasi bakau yang luas, beberapa titik terlihat tandus. Kawasan ini sangat elok di siang hari. Tentu akan semakin menarik saat sunset menyinari lansekap pantai.

Karena hari Jumat, kami sepakat untuk kembali ke Kota Benteng pukul 11.30 wita. Beruntung sekali siang itu. Setelah melewati jalan setapak, jembatan kayu dan diguyur terik matahari, akhirnya kami sampai di satu rumah warga yang telah menyiapkan box berisi air gelas mineral dingin!

Saat sampai di Benteng, waktu telah menunjukkan pukul 12.00. Mesjid kumandangkan adzan. Kami kemudian bebersih badan di rumah Mude Zulkifli. Salat Jumat berlalu, kami pun bersiap-siap untuk berangkat ke Pulau Jinato, Taman Nasional Taka Bonerate. Menurut informasi dari panitia, kapal akan berangkat setelah Jumat. Pukul berapa? Tidak jelas dan Itu yang buat kami terburu-buru saat menyelesaikan makan siang di Warung Padang depan lapangan Benteng, 500 meter dari dermaga keberangkatan.

Siang, di hari Jumat itu kami siap ke Taka Bonerate! Yey!

Ke Jinato Bersama Cahaya Ilahi

Tanggal 18 Nopember 2011, pukul 14.30 wita, rombongan yang terdiri dari lintas organisasi di lingkup Pemkabkep. Selayar, tim TN. Taka Bonerate, tim ORARI, tim gabungan Polres, Kodim dan perwakilan POSSI Sulawesi Selatan serta delapan anggota Komunitas Blogger Anging Mammiri, Makassar bergerak meninggalkan pelabuhan Rauf Rahman. Cuaca cerah seusai hujan mengguyur kota Benteng.

Para penumpang di atas KLM “Cahaya Ilahi” GT. 85 No. 199/LLr merupakan peserta “Taka Bonerate Islands Expedition (TIE) 2011”. Sebanyak 162 peserta tersebut mengarah ke Pulau Jinato, lokasi kegiatan sekaligus titik pembukaan event pariwisata tahunan pemerintah provinsi bekerjasama dengan Pemkab Selayar.

Pada saat keberangkatan, rupanya ada sedikit “kisruh”. Daftar manifes di kesyahbandaran berbeda dengan jumlah penumpang yang naik di kapal. Setelah diperiksa ulang dan ditengahi oleh Kapolres Selayar, ABKP Setiadi, pelayaran pun berlanjut.

Acara tahunan ini akan dibuka secara resmi pada 21 Nopember 2011 oleh Gubernur Sulsel, Syahrul Yasin Limpo. Beberapa kegiatan yang telah disiapkan oleh panitia, di antaranya, “International Fishing Competition”, pagelaran seni budaya, parade jollorok hias, pelayaran wisata, serta selam wisata massal.

Pada malam sebelumnya, para peserta mendapat undangan untuk bertemu dengan Kadis Pariwisata Selayar, Andi Mappagau membahas agenda dan urgensi TIE tahun ini. Sebelumnya, para blogger tersebut juga telah berkunjung ke Tinabo Dive Center (TDC) dan Kafe “Tempat Biasa” yang juga sekretariat Sileya Scuba Diver (SSD), dua komunitas yang selama ini giat mempromosikan potensi dan pesona terumbu karang Taka Bonerate di berbagai event pariwisata nasional, internasional serta di ranah sosial media.

Tinabo Dive Center (TDC) yang digawangi oleh Nadzrun Jamil, seorang pejabat senior di Balai Taman Nasional Taka Bonerate mengambil inisiatif untuk mengelola pusat pelayanan penyelaman ini. Di kantor sekaligus ruang pamernya itu terdapat beragam kebutuhan alat penyelaman yang dapat disewakan. Nadzrun adalah instruktur selam PADI yang telah berpengalaman. Dia siap menjadi gudie sekaligus instruktur jika ada yang hendak kursus penyelaman.

Dari Nadzrun pulalah, kami diimingi untuk dapat menggunakan tabung scuba di Pulau Tinabo. Nursyamsu, salah seorang rekan kami tertarik untuk menggunakan tabung selam. Nanti saat sampai di Tinabo.

Di lantai atas, terdapat dua kamar yang dapat disewakan bagi sesiapa yang hendak menghabiskan malam di Kota Benteng. Tempat yang bersih dan hanya berjarak beberapa meter dari pantai dan dermaga. Harga yang ditawarkan sangat kompetitif, sangat layak untuk pengunjung domestik apalagi luar negeri.

Selain TDC kami juga berkunjung ke Kafe Tempat Biasa, satu unit usaha dari Sileya Scuba Divers (SSD) di Kota Benteng. SSD adalah salah satu organisasi atau komunitas pencinta selam dan telah banyak menggiatkan kegiatan peduli konservasi dan promosi destinasi wisata selam di Selayar.

Di Kafe Tempat biasa, kami sangat terkesan oleh tata letak dan daya tarik kafe bernuansa Bali yang dikombinasikan dengan pernak lokal Selayar. Kafe ini keren karena diusung oleh beberapa orang atas inisiatif keswadayaan.  Beberapa kawan berseloroh, ah, jika saja kafe ini ada di Makassar.

***

Malam merambat di atas Kota Benteng, pukul 12.30 kami pamit kepada Yulyvia dan Anik Hasan, dua sosok yang selama ini dikenal aktif menghidupkan kafe yang luar biasa ini. Malam yang istimewa setelah kami memperoleh gambaran umum denyut dan inisiatif pariwisata bahari di Selayar. Kami tidak sabar untuk sampai ke Taka Bonerate.

Di atas kapal kami berpusat di kiri lambung. Ipul, Ancu (Mansyur), Feby telah tergolek di atas palka. Saya dan istri, Toar, Syamsu dan Daeng Mappe memilih bertahan seraya menikmati pemandangan pantai barat Selayar. Angin berhembus sepoi. Ada mendung di atas Selayar. Beruntung karena hujan tak turun. Pukul 5 sore, kami telah melewati selat antara Pulau Selayar dan Pulau Tambolongang.

Di sana, di atas Pulau Tambolongang, matahari bergerak menuju peraduannya dibalut awan tipis. Peraiaran di sini dikenal sebagai laut ganas. Pertemuan arus Laut Flores dan Selat Sulawesi menjadi rentan menimbulkan gelombang besar utamanya musim puncak timur dan barat. Kami merekam sunset dengan kamera. Beberapa penumpang mulai menggelar alas tidur. Beberapa lainnya memilih main kartu, sebagian lainnya bersenandung. Cahaya Ilahi terus bergerak.

Semilir angin laut membuat beberapa peserta terbuai. Namun saya memilih kata, menatanya dalam baris sajak, layaknya perjalanan, banyak hal yang nampak dan memberi inspirasi untuk membuatnya bermakna.

Setelah menempuh perjalanan 8 jam dari Kota Benteng, pukul 22.00 wita, 9 anggota Komunitas Blogger Anging Mammiri Makassar menjejakkan kaki di dermaga Pulau Jinato. Di pulau inilah bakal ditabuh genderang “Taka Bonerate Islands Expedition (TIE) 2011” oleh Gubernur Sulsel, Syahrul Yasin Limpop pada hari Senin, 21 Nopember 2011.

TIE adalah agenda tahunan Pemprov Sulsel dan Pemkab Selayar demi mengangkat keindahan kawasan terumbu karang eksotik di atol ketiga terbesar dunia, Taka Bonerate. 162 rombongan yang ikut dalam trip pertama ini kemudian menikmati makan malam di rumah Kades Jinato.

Oleh anak berpakaian Pramuka, kami lalu diantar ke rumah pak Asfar, yang akan menjadi “home stay” peserta dari AM. Suasana pulau yang didominasi warga turunan Bugis asal Sinjai ini meriah. Warga bersukacita. Di pulau ini, jalan telah berlapis semen, pantai yang dulunya mudah terkikis air laut kini telah dipasangi tanggul, dermaga pun sudah ada. Saya yang mulai pekerjaan sebagai pekerja LSM konservasi kelautan pada tahun 1996 di pulau ini merasakan situasi berbeda.

Remah Catatan atas Lantigiang, Tinabo dan Rajuni Kecil

Esoknya, dengan menyewa perahu bermesin dalam ganda milik Hamzah, warga Pulau Jinato, kami meluncur ke pulau Tinabo. Kesempatan menuju pantai kami gunakan untuk mampir di Pos Polhut, Taman Nasional. Di sisi timur pulau ada pos jaga konservasi kawasan. Kami berfoto di depan papan informasi.

Di atas pantai, langit cerah. Laut sedang teduh, terlihat datar bagai kaca. Mengarah ke utara, saya minta pak Hamzah untuk mengarahkan perahu ke sisi timur Pulau Lantigiang. Pulau ini merupakan pulau kosong dan akan sangat menarik untuk mengambil gambar. Faizal Ramadhan yang ikut dalam rombongan kami tidak mau kehilangan momentum. Dia menawarkan diri untuk difoto. Bahkan minta pinjam jaket hanya sekadar ingin dilihat sebagai “diver”.

Indah sekali pemandangan di sekitar Lantigiang ini. Luar biasa. Dari Lantigiang kami arahkan perahu ke Tinabo Besar. Di sepanjang jalan kami menyaksikan dasar terumbu dengan karang dan ragam ikan lalu lalang.

“Jernih sekali, persis kaca,” kata Ipul.

Di sela jalan menuju Tinabo, Feby menerima ajakan Ipul dan kami semua untuk diramal. Ramalan garis tangan, begitu judulnya. Itulah cara kami menertawai diri selama perjalanan ke Tinabo.

Di benak saya, ada yang lain. Saya sedang memikirkan perahu apa yang akan kami tumpangi kembali ke Benteng. Sesuai rencana kami harus kembali ke Benteng pada pukul 14.00 wita. Kami bermalam di Benteng sebab keesokan harinya kami mesti di Makassar.

Masih di atas perahu, beberapa meter dari Pulau Tinabo, terlihat bendera umbul-umbul warna-warni, di darat terlihat tiga bangunan utama. Di tengah, rumpun kelapa terlihat berbeda.  Selatan Tinabo dulunya adalah tempat berkumpulnya pada nelayan nomad Bajo dari Pulau Rajuni Kecil setiap musim timur. Secara turun temurun, warga Bajo kerap migrasi ke pulau kosong untuk mempermudah mereka mencari hasil laut. Tapi kini, pondok-pondok yang biasanya terlihat di pulau itu kini tidak terlihat lagi.

Pukul 09.00 para peserta sampai Tinabo. Saya tidak lama di situ. Bertemu Asri, staf taman nasional, saya meminta dia untuk fasilitasi teman-teman untuk snorkeling dan menikmati terumbu Tinabo. Saya menitip underwater camera untuk dilapisi lem silicon supaya kedap air saat digunakan teman blogger mengabadikan momen istimewa mereka.

Bersama pak Hamzah kami menuju Pulau Rajuni Kecil. Saya mesti menambah ongkos menjadi Rp. 600ribu untuk rute Jinato-Tinabo-Rajuni Kecil. Mesti mencari tumpangan untuk membawa kami kembali ke Benteng. Karena laut sedang surut, pantai menjadi kering, saya turun di dermaga utara pulau.

Melewati jalan utara ini saya terkenang, bagaimana warga mencari dan mengais di sela semak untuk menggali pasir demi air minum. Para gadis saban pagi membawa ember dan mengambil air. Banyak sekali terlihat lubang hasil galian. Di utara pulau inilah bertemunya para pencari air dari Kampung Bajo dan Kampung Bugis saat persediaan air hujan mereka menipis. Pemandangan ini saya amati saat pertama kali tinggal di Rajuni pada tahun 1995.

Banyak warga Rajuni Kecil, utamanya kampung Bajo yang sulit mengenal saya. Mereka kaget dan tidak mengira bahwa saya datang lagi setelah 8 tahun!

Di sana saya bertemu Haji Sahur, Sugito, Salim, Haji Darwis dan beberapa warga yang dulu merupakan sahabat akrab saat masih bekerja untuk proyek WWF dan COREMAP fase I di Taka Bonerate. Termasuk sahabat istimewa kami Haji Burhan Mananring, salah satu fasilitator LP3M, nama LSM kami saat bekerja di Taka Bonerate. Setelah menyelesaikan pendidikan strata 1 di Program Studi Ilmu dan Teknologi Kelautan tahun 1995, saya bergabung dengan LP3M di awal tahun 1996.

Haji Bur, begitu dia dipanggil telah tinggal di Rajuni Kecil bertahun-tahun setelah menikah dengan seorang guru SD di pulau itu. Hidupnya terlihat bahagia di rumah berlantai dua. Ini rumah terbesar dan artistik di pulau yang dulunya gusung pasir ini. Haji Bur, rupanya telah punya agenda untuk mengembangkan pariwisata.

“Saya siapkan empat kamar di atas untuk dapat dipakai oleh para tamu atau turis” katanya. Terdapat empat kamar bersih dengan ventilasi lebar, bagus untuk dipakai menginap. Rumah ini tepat di tengah pulau.

“Pak Gubernur SYL pernah ke sini tahun lalu,” kata istri Haji Bur, Ita.

Bukan hanya Gubernur, Nadine Candrawinata, mantan Miss Indonesia itu juga pernah masuk ke rumah ini, termasuk Bupati Selayar, Haji Syahrir Wahab. Di rumah itu, karena sudah sangat akrab, saya bergerak ke dapur, mencari makan. Di meja ada ikan masak asam dan nasi yang telah tersedia. Ini menu yang beberapa tahun silam jadi makanan kebiasaan saya saat rumah ini masih berupa rumah sederhana.

Berjalan dari utara pulau Rajuni Kecil, saya mendapati Haji Kusayyeng sedang mengecat perahunya. Haji Kusa’ begitu dia dipanggil, dulunya adalah pengusaha jual-beli ikan hidup pada tahun 90an. Kini kerap membawa kapal besar dari Rajuni Kecil ke Kota Benteng. Kapalnya, kapal penumpang walau tidak regular. Dia punya dua perahu, satu besar dan satu kecil. Saya menyasar perahu kecilnya yang bisa muat 10 orang.

Setelah negosiasi dengan Haji Kusayyeng, akhirnya kami dapat tumpangan ke Selayar. Tepatnya, kami akan dibawa ke Pelabuhan Fery Pattumbukang, pantai timur Selayar. Kami harus siapkan dana 750ribu untuk sewa perahu ini. Perahunya kecil namun lajunya dapat diandalkan.

Setelah nego itu, dengan mengendarai kendaraan roda dua Haji Bur, saya lalu menuju rumah Haji Darwis, di rumah inilah dulu, saya kerap menghabiskan malam.

Rupanya, Haji Darwis telah memanfaatkan pondok tempat tinggal saya dulu antara tahun 1999-2000 menjadi bengkel. Bengkel yang maju dengan peralatan tambahan berupa tempat gergaji kayu, “sawmill”.  Di tempat inilah dulu, kerap terjadi pertemuan-pertemuan membahas konservasi terumbu karang. Membahas kegiatan kelompok produktif perempuan dan agenda-agenda warga tentang pentingnya pelestarian terumbu karang sebagai aset masa depan kawasan.

Karena perahu yang membawa kami ke Pattumbukang masih tergeletak kandas, saya meminta Jabir, salah seorang warga untuk mengantar saya ke Tinabo. Perahunya kecil jadi kami masih bisa mendorongnya. Hanya tiga puluh menit, kami sampai di Tinabo. Waktu telah menunjukkan pukul 11.30 saat saya sampai.

Saya melihat keriuhan di permukaan laut Tinabo. Para blogger telah menikmati snorkeling di sebelah barat pulau. Tepatnya di utara dermaga Tinabo. Saya tidak bisa melukiskan perasaan teman-teman satu-satu namun melihat gelagatnya, mereka terlihat bahagia.

Syamsu, bahkan telah menggunakan tabung scuba seperti yang diidamkannya bersama si instruktur, Nadzrun Jamil.

Tidak membuang waktu, saya buka baju dan dengan mengenakan celana jeans pendek saya menceburkan diri ke laut. Beberapa teman mengenakan pelampung, mask dan fins. Di tangan Ipul ada kamera “underwater digital” yang dipinjamkan oleh Mude Zulkifli.

Dengan kamera itu, para blogger rela berlama-lama di dalam air.

Saya melihat pemandangan berbeda di sekitar dermaga Tinabo. Telah terjadi perluasan area karang bagus di sini jika dibandingkan sepuluh tahun lalu. Jenis ikan karang juga variatif. Di dalam air terlihat dua meja karang transplantasi yang telah tumbuh. Terlihat teripang dan kima sisik. Banyak sekali ikan karang bermain di situ.

Saya juga menyaksikan sisa-sisa karang yang telah hancur (rubble), diduga hasil bom ikan beberapa waktu silam. Terlihat pulau lubang hitam di beberapa rataan karang, sepertinya karena dampak buang jangkar yang tidak teratur. Jangkar kerap dianggap salah satu penyebab rusaknya karang.

Saya menyaksikan Nadzrun Jamil di kedalaman 10 meter sedang mengembangkan kamera underwaternya. Dia terlihat luar biasa dengan kamera besar itu. Kami pun difotonya di dalam air.

“Lain kali jangan berdiri di atas karang ya, karang yang tumbuhnya terbatas itu mudah rapuh” kata Nadzrun memberi peringatan. Karena kelelahan, kaget atau di luar perkiraan ada teman yang sempat menginjak karang. Tanggung jawab Balai Taman Nasional adalah mengingatkan pentingnya menjaga kelangsungan hidup ekossistem laut di kawasan eksotik ini.

Pukul 13.00 satu persatu peserta naik ke darat. Yulivya dan Asri memanggil kami untuk makan siang. Ada ikan bakar, ikan goreng, sambel dan sayur kacang. Jawaban sempurna untuk kami yang memang kelaparan seusai berenang. Beberapa peserta bahkan belum membasuh badan. Langsung bersantap.

Di Tinabo, secara umum fasilitas berwisata bahari telah lengkap. Selain ada kamar yang bisa digunakan untuk menginap, terdapat aula terbuka, ruang bilang, gudang, dan fasilitas untuk menyelam dan snorkeling. Ada kursi santai menghadap titik jatuh sunset.

“Saat ini kami punya 60 tabung scuba,” kata Nadzrun. Tidak main-main, mereka telah mempersiapkan hampir semua kebutuhan wisatawan. Ada perahu kano, speedboat hingga banana boat.

Seusai makan siang, beberapa teman memilih isitrahat. Sebagian lainnya menggali informasi dari Jamil mengenai strategi dan kegiatan Balai Taman Nasional selama beberapa tahun terakhir. Ancu Rahim, Ipul dan Toar mendengarkan penjelasan Nadzrun mengenai perjalanan Taman Nasional dari waktu ke waktu.

Di Tinabo, kami bertemu dan berkenalan beberapa pengunjung dari Kantor BRI cabang Kota Benteng, Selayar. Mereka sedang liburan di sela ajang TIE2011. Juga, beberapa peserta pelatihan scuba tingkat lanjut yang saat itu sedang bersiap-siap untuk latihan di laut dipandu Nadzrum Jamil. Di antara tamu itu saya bertemu langsung dengan David Haeruddin, staf Bank Mega Makassar yang jauh-jauh datang untuk menjajal Taka Bonerate dengan dive. Kami berteman di twitter dan blackberry messenger contact. Semua menyatu di Tinabo.

Dua Bintang di Atas Tambolongang

Saat matahari bergeser ke barat, waktu telah menunjuk pukul 14.00, saya mulai was-was tentang perahu yang akan menjemput. Perkiraan saya, perahu Haji Kusa’ akan mengapung pukul 13.00, dan jika langsung ke Tinabo, akan sampai sekitar pukul 14.00. Dalam hitungan menit kami akan berangkat ke Pattumbukang.

Beberapa teman melihat saya tidak tenang. Saat yang lain mewawancarai Nadzrun Jamil,  saya mendekat ke dermaga. Mengecek setiap pergerakan dari pulau Rajuni Kecil. Karena perahu belum datang, Ical memilih tidur. Feby dan istri saya memberi tanda untuk difoto. Di bawah pohon ketapang. Dari sini terlihat beberapa tamu bermain “banana boat”. Suasana di laut meriah namun saya tetap tidak tenang.

Pukul 14.30 wita, tanda adanya pergerakan dari Rajuni Kecil mulai terbaca. Inikah perahu Haji Kusa’ itu? Ada titik hitam bergerak ke arah kami.

Pukul 15.30 perahu itu datang jua. Haji Kusa’ ditemani anak lelakinya. Lelaki gempal ini segera mengenakan baju setelah merapat di dermaga Tinabo. Saya memberi tanda ke para peserta untuk mendekat. Saat itu pula beberapa diver memanggul peralatan, mereka juga bersiap memulai penyelaman. Kami berpapasan di atas dermaga.

“Terima kasih tak terhingga atas keramahan dan layanan selama kami berada di Tinabo,” itu pesan kami kepada kru Balai Taman Nasional Taka Bonerate, kepada Nadzrun Jamil, Asri, Junaedi, dan seluruh anggota komunitas Sileya Scuba Divers (SSD Sileya) yang memfasilitasi perjalanan kami. Kepada Yulivya, Aniek Hasan, Zul Mude, David Hae, Ronal, Yasri, dan semua yang ada di Tinabo siang itu.

Di Tinabo, kami merasakan representasi pemandangan alami Taka Bonerate, pantai, pasir putih, pohon ketapang, pinus laut. Dinamika interaksi kami sungguh mengesankan. Kami beruntung disambut teman-teman ramah dan rendah hati.

Pukul 16.30 wita, perahu ramping Haji Kusa’ bergerak meninggalkan dermaga Tinabo. Saya bersama Daeng Mappe memilih duduk di belakang, dekat kemudi. Toar, Ipul, Dua Ancu, Ning, Feby, Ical memilih duduk di haluan. Mereka berdesakan untuk duduk di tempat terbaik.

Butuh satu jam setengah untuk melewati pulau Rajuni Kecil. Perahu kami perlahan, meliuk meninggalkan pemandangan Pulau Latondu Besar lalu Latondu Kecil. Perahu ini bergerak cepat, bunyi mesinnya yang menderu membuat kami sulit untuk berkomunikasi satu sama lain. Dua mesin di tengah badan perahu menggetarkan ketenangan kami di atas laut teduh.

Masih pukul 17.30 wita, dua bintang di atas pulau Tambolongang menyita perhatian saya. Ini dua bintang pertama yang menyambut kami saat meluncur di atas laut. Di kiri terlihat Pulau Tambolongang, di kanan terlihat ujung selatan pulau Selayar, namanya Appatanah. Detik ke menit selama perjalanan adalah perpaduan sunset, senja temaram, bintang yang muncul satu-satu.

Satu bintang besar paling atas memberi tanda, cuaca akan bersahabat, satu bintang kecil lainnya memberi tanda bahwa bumi berputar dan mereka dalam beberapa saat akan terbenam bersama matahari. Saat saya masih sering berlayar dari Rajuni Kecil ke Pamatata, melewati pantai timur, saya kerap menyaksikan ikan paus beruaya di sisi Pattumbukang.

Mendekati Pattumbukang, suasana mendadak romantis dan luar biasa. Saya menyetel lagu kesukaan. Peraduan matahari menjelma merah saga. Darinya berpendar cahaya yang menakjubkan. Langit di kaki pulau Selayar begitu mempesona. Sunset berbalut awan tipis memang tidak membuat utuh matahari tapi semburat cahayanya membuat kami membiru larut dalam sukacita.

“Ini malam ketiga ketiga kita disambut sunset di Selaya,r” kata Mansyur Rahim alias Ancu. Dia benar, ini yang ketiga.

Tapi cerita tidak berhenti di situ. Pukul 19.00 saat perahu semakin mendekati Pattumbukang yang ditandai oleh semakin jelasnya lampu suar yang kerlap-kerlip, kami semakin tenggelam dalam suka cita.

Dua bintang pertama telah lelap. Lalu dalam hitungan menit langit dari segala penjuru mata angin berhias bintang baru. Sejauh mata memandang langit serupa jejaring bintang yang siap menyergap kami. Perahu terus bergerak.

Ical memanfaatkan kamera digitalnya dan merekam perjalanan kami. Ancu si Lelaki Bugis duduk mematung memandang ke barat. Entah apa yang dipikirkannya. Perjalanan ini perjalanan istimewa bersama sahabat terbaik kami di Komunitas Blogger Anging Mammiri. Walau butuh waktu hampir empat jam untuk melihat pelabuhan Pattumbukang, saya tidak khawatir dengan kemampuan Haji Kusa’ saat membawa kami.

Awalnya ini adalah perjalanan biasa saja. Walau saya akui saya punya agenda tersembunyi untuk membawa Blogger Makassar menjajal sarana transportasi dari Makassar ke Selayar dan sebaliknya menjadi kenyataan.

Naik bis, lalu fery ke Pamatata, kemudian naik perahu besar ke Jinato, Taka Bonerate. Lalu menjajal kawasan dengan naik perahu kecil dari Jinato hingga Pattumbukang adalah rute baru dalam waktu empat hari perjalanan kami. Saat mendekati Pattumbukang, saya berharap semoga kapal cepat dari Kota Benteng ke Lappe, Bulukumba tetap ada dan mau membawa kami pulang.

Sampai di Dermaga Pattumbukang, kami mendapat momen mengejutkan. Rupanya dua kapal yang membawa rombongan POSSI Sulsel dan tamu peserta TIE 2011 sedang sandar di situ. Dua kapal mereka sedang buang jangkar.

“Pak Januar dan pak Muhsin sedang night dive,” kata Sumedi Umar Jitho, yunior saya di Kelautan Unhas yang sedang mengisi compressor. Jitho adalah anggota rombongan POSSI yang akan ke Taka Bonerate. Andi Januar Jaury Dharwis adalah ketua POSSI Sulsel syang juga anggota DPRD Provinsi Sulawesi Selatan, sedang Muhsin adalah instruktur selam senior saya. Juga di Kelautan Unhas.

Di Pattumbukang, saya bertemu AF Sonni dari Performa Makassar yang juga diver. Juga ada Bakri Mulia dan Aidil, alumni Kelautan Unhas. Menurut rencana mereka akan ke Jinato pada malam sebelum pembukaan TIE 2011 oleh Gubernur Sulawesi Selatan. Setelah membayar uang sewa perahu, kami berterima kasih kepada Haji Kusa’ atas layanannya. Kami bahagia telah sampai di darat lagi.

Di dalam area pelabuhan, Andry, staf Bappeda Selayar telah menunggu kami. Saat di Rajuni Kecil saya beruntung karena Telkomsel sedang uji sinyal dan saya dapat GSM. Saat itu pula saya mengontaknya untuk menjemput di Pattumbukang. Diantar Andry, kami melewati kampung di selatan kota Benteng. Jalan belum rata, di sana-sini masih ada yang rusak tapi tidak mengurangi kesan positif kami mengenai Selayar.

Impresi dari Benteng

Butuh waktu sejam untuk sampai di rumah Gunawan Redha, kepala bagian Humas Pemkab Selayar yang saya anggap saudara dekat. Di sanalah kami menginap.  Banyak yang tidak tahu bahwa rencana menginap di rumah pak Gunawan saya putuskan malam itu. Saya mesti menelpon istri beliau untuk memastikan bahwa kami akan menginap di sana.

Pukul 22.00 kami sampai di rumah. Seusai mandi yang luar biasa, dan karena warung makan tidak lagi buka, saya arahkan teman-teman ke warung “Mie Instan Daeng Jumadi!” di dekat pelabuhan Benteng. Dari sinilah saya dapat kepastian bahwa besok pagi, pukul sembilan, KM Minanga Express akan melayani rute Benteng – Lappe. Sempurna!

Malam berlalu dengan manis di rumah semi permanen Pak Gunawan. Beberapa teman menghabiskan malam bersama di ruang tengah rumah. Mereka terlihat akrab. Ipul, Mappe, Toar, Ical. Saya memilih kamar kesukaanku di atas, berkelambu.

Pagi datang, teh hangat dan penganan khas Selayar, songkolo berlumur kelapa menemani sarapan kami. Karena mesti mengejar kapal cepat itu, saya bersama beberapa teman mendahului yang lain untuk menaikkan barang ke kapal sekaligus membeli tiket. Saya pesan 9 karcis. Masing-masing berbanderol Rp. 70ribu. Jadi untuk Sembilan orang kami merogoh kocek hingga Rp. 630ribu.

Pagi itu kami tak melewatkan untuk berkunjung kerumah Zulkifli Mude, di sana puluhan koleksi t-shirt baju bernuansa laut, selam, Taka Bonerate siap dipilah-pilih. Saya beli dua. Teman peserta juga memborong baju luar biasa yang dibuat di Bandung ini.

Pukul 09.30 wita kapal cepat bercat putih ini bergerak meninggalkan Kota Benteng. Suasana suka cita terasa di ruang tengah kapal yang berAC itu. Kami melepas canda, ledekan dan kesan istimewa atas perjalanan tak biasa ini. Mendapat sinyal bagus di sepanjang perairan barat Selayar membuat kami kompak royal membagi kesan, memposting foto, dan menyemburkan testimoni ke rekan yang tidak sempat berkunjung.

Kami bagikan pengalaman perjalanan ini via twitter, facebook dan media online Anging Mammiri seperti mailing list. Kami tahu banyak kawan yang “iri”tidak bisa bergabung dan berkunjung, tapi kan selalu ada jalan untuk mencari celah perjalanan baru? Bisa ke Taka Bonerate lagi atau mungkin Wakatobi? Spermonde bahkan Raja Ampat?

“Saya baru mulai merasakan badan kaku dan penat,” Ipul saat kami sampai di daratan utama pulau Sulawesi, tepatnya Pelabuhan Lappe, Bulukumba, Sulawesi sekitar pukul 11.30 wita.

Perjalanan menjajal Taka Bonerate, atol ketiga terbesar di Asia Tenggara atau ketiga terbesar di dunia bersama anggota Komunitas Blogger Anging Mammiri, Makassar dari tanggal 18 hingga 19 Nopember 2011 memang tidak lama namun bermakna dalam.

Kami bahagia sebab perjalanan ke Taka Bonerate sangat rumit, sulit dan mendebarkan. Dan kini kami telah di jalan pulang ke rumah masing-masing. Kami, para blogger Makassar sedang beruntung, paling tidak, kami punya informasi untuk mengabarkan salah satu aset pariwisata potensial yang sedang lelap di kaki pulau Sulawesi ini…

Advertisements

Kapolres, Selayar Candradimuka Polisi

Di sela diskusi keberlanjutan pengelolaan terumbu karang di Kabupaten Kepulauan Selayar pada tanggal 15 Nopember 2011 di Hotel Sahid Jaya, Makassar, Kapolres Selayar AKBP Setiadi,SH, MH menunjukkan mimik tegas saat menceritakan situasi Selayar.

“Siapa bilang Selayar pembuangan bagi aparat bermasalah?” katanya. Bagi Kapolres, Selayar yang terpisah dari daratan utama pulau Sulawesi ini adalah kawah candradimuka penempaan polisi. Menurutnya, Selayar kini semakin terjaga dan terjamin pada semua dimensi. Dari sisi transportasi kini ada pesawat, kapal cepat penyeberangan fery. Kini tidak sulit lagi untuk ke sana.

“Jadi saya tegaskan tidak ada mutasi bagi yang bermasalah dan Selayar tujuannya” kata perwira yang pernah menjadi Kasatpidana umum Polda Sulsel ini. Setiadi adalah juga anggota Tipikor yang berpengalaman. Telah puluhan kali bertandang ke luar negeri untuk menimba ilmu.

“Saya akan tindak anggota yang malas masuk tugas dengan hukuman 10 hari berturut-turut. Mesti masuk sel jika melanggar. Polisi tidak boleh malas, harus bangga sebagai polisi di manapun dia bertugas. Polisi di mana-mana sama” tegas sosok berbadan gempal dan pernah bertugas 10 tahun di Bali ini.

“Saya ini blogger juga lho, saya punya blog” katanya saat saya sampaikan kalau saya akan ke Taka Bonerate bersama anggota Komunitas Blogger Anging Mammiri, Makassar untuk meramaikan Taka Bonerate Islands Expedition (TIE) 2011 yang akan dihelat selama bulan Nopember ini.

“Saya bertugas di Selayar sejak bulan 10 tahun lalu. Silakan datang ke Selayar, kontak saya kalau sudah sampai di Benteng”, katanya ramah dan bersahabat.

Sileya Scuba Divers, Inisiatif Keren dari Selayar (Part 2)

Pantai Selayar (Foto: Kamaruddin Azis)

Selayar, wilayah ujung selatan Sulawesi Selatan ini adalah harapan pemerintah untuk dijadikan destinasi pariwisata bahari utama. Salah satu targetnya adalah Taman Nasional Taka Bonerate. Satu wilayah konservasi yang ditetapkan sebagai taman nasional sejak tahun 1992.

Selayar, kabupaten yang terdiri dari 126 pulau ini patut berbangga karena mempunyai atol ketiga terbesar di dunia atau yang terbesar di Indonesia. Atol dengan luasan terumbu karang luar biasa. Diperkirakan 2000km2 merupakan rataan terumbu karang dengan kedalaman rerata 20 meter. Beragam spesies ikan karang, kerang-kerangan, ikan pelagis, lamun dan biota laut lainnya menjadi unsur asosiasi terumbu karang. Selayar patut berbangga.

Selayar juga jalur pelayaran Indonesia bagian timur-barat, bahkan dari Nusatenggara ke utara. Dengan kondisi ini pantas jika Selayar merupakan titik sentral dari segitiga Nusatenggara – Sulawesi dan Bali. Ditarik garis besarnya, Selayar merupakan tengah Indonesia.

“Selayar layak disebut wilayah di pusat kenikmatan” kata seorang teman setengah bercanda.

Tapi tidak ada yang mudah jika menyebut kata ikhtiar. Selama ini masih ada stereotype bahwa Selayar, kabupaten berpenduduk 120an ribu jiwa ini adalah kabupaten minim hiburan, miskin sarana prasarana, terpencil dan jadi kabupaten isolasi, utamanya bagi mutasi pejabat pemerintah dari provinsi. Selayar dianggap tidak strategis.

Sangat minim inisitaif untuk menunjukkan upaya di jalur promosi, pembenahan. Padahal, selain peran pemerintah kabupaten, masih ada kekuatan lain yang dapat diandalkan, yaitu organisasi masyarakat sipil.  Padahal di beberapa provinsi atau kabupaten yang bermodalkan kekayaan laut grafik denyut pariwisata mereka semakin bergerak positif.

***

Semua tahu, walau telah ditetapkan sebagai Taman Nasional sejak tahun 1992, berbagai sengkarut masih mengganjal di Taka Bonerate. Harapan untuk menjadikannya lokasi pariwisata utama di Indonesia utamanya Sulawesi Selatan masih digelayuti beragam persoalan. Infrastruktur, kapasitas SDM hingga lemahnya penegakan hukum lingkungan.

Belakangan ini, beberapa tanda baik mulai muncul, beberapa pihak mulai menunjukkan kepedulian dengan kondisi Selayar itu. Salah satunya Sileya Scuba Divers Indonesia, satu perkumpulan selam yang digadang oleh beberapa pemerhati lingkungan pesisir dan laut Selayar.

SSD begitu akronimnya, menggunakan kata Sileya, sebutan Selayar beberapa waktu lampau. Organisasi in digagas oleh beberapa orang yang peduli pada kelebihan Selayar itu, mereka percaya bahwa perkumpulan ini mereka dapat berkontribusi pada pengembangan Selayar sebagai lokasi wisata sekaligus ruang pamer kekayaan laut dan masa depan Selayar.

Organisasi ini digagas pada tahun 2007 dan resmi berdiri bulan Maret 2008. Ditopang oleh berbagai institusi, seperti, perwakilan Dinas Kelautan dan Perikanan Selayar, utamanya tim COREMAP 2, seperti Anjas, Ika, Igo, Cakra. Dari Taman Nasional Taka Bonerate, Nadzrun Jamil, Asri dan Ronal dan Dokter Benedicta Wayan Suryani (spesiali mata).

Beberapa bulan kemudian bergabung nama-nama seperti Mude Zulkifli, Ibel, Alex, Andi Cakra Gunar Putra, Zulfikar Affandi, Yulyvia, Asrahiyah dan beberapa anggota lainnya.

SSD Kini

Hingga kini ada 50an anggota SSD dengan sertifikat selam A1 atau ADS.  Minat simpatisan selam juga semakin tumbuh dari waktu ke waktu seiring semakin menggeliatnya kegiatan di Kafe dan Kios. Jaringan dan kemampuan pengurus menggaet tamu juga tidak boleh dipandang enteng.

Mereka membuka kontak online seperti membuat group di FB, membuat akun di Twitter bernama SSD_Indonesia dan kini mulai merintis website. Mereka siap mengantar dan menemani pengunjung yang ingin menjajal laut dan rekreasi laut di sepanjang pesisir dan laut Selayar. Dari Kota Benteng, Baloiyya, Pantai Timur, Appatanah hingga Taka Bonerate.

Namun demikian, ada yang tidak mudah bagi SSD di Selayar, rupanya beberapa pendiri (founder) SSD harus pindah tugas. Beberapa memang berasal dari luar Selayar seperti Dokter Benedicta WS yang pindah ke Bangka Belitung, Igo dan Anjas yang pindah ke Makassar. Ibel dan Alex  dokter PTT yang harus studi dan pindah pengabdian. Meski begitu kecintaan mereka pada Selayar tidak diragukan lagi. Hingga kini mereka tetap semangat membangun SSD.

Untuk mengoperasionalkan organisasinya, SSB mengusung dua unit kegiatan produktif yang diharapkan dapat menjadi penyokong inisiatif kegiatan yang mereka tawarkan. Keduanya adalah Toko Lantigiang dan Kafe TempatBiasa. Lokasinya di utara Kota Benteng, tepatnya di Jalan Siswomiharjo.

Lantigiang menjajakan souvernir seperti t-shirt, benda kerajianan tangan bernuansa pesisir, penganan khas Selayar, sampai ikan kering dan terasi kepada para tamu. Sedang kan TB menjadi tempat ngumpul sekaligus ruang diskusi dengan menyediakan aneka makan minuman dan makanan ringan. Keduanya adalah dapur SSD.

Hasil bisnis mereka selain untuk kelanjutan usaha, mereka sisihkan untuk upaya konservasi atau kegiatan-kegiatan yang dapat meningkatkan kepeduliana pada lingkungan. Telah banyak kegiatan yang mereka selenggarakan seperti bersih pantai di Baloiyya, edukasi remaja untuk peduli lingkungan, dialog konservasi, pendampingan di Gusung, pandu wisata laut, dialog pariwisata, dan lain sebagainya.

Sudah banyak tamu atau turis domestik hingga mancanegara yang telah merasakan suasana nyaman saat berinteraksi dengan SSD Indonesia. Banyak dari mereka datang setelah mendapat informasi dari internet dan relasi di daerah lain seperti Jakarta dan Bali. Mereka menginap di wisma yang masuk dalam area kafe TB.  Bagi yang tertarik wisata selam, para kru SSD siap mengantar ke site seperti Pantai Timur, Gusung/Pulau Pasi, Appatanah hingga Taka Bonerate.

Dari yang berkantong pas-pasan hingga yang benar-benar siap untuk berwisata pantai hingga beberapa hari.

“Pernah ada tamu dari Eropa yang datang dan menginap. Selain menikmati kota Benteng mereka juga berkunjung ke Gusung, satu area pantai di pulau Pasi, seberang kota Benteng” kata Acca, salah satu anggota SSD yang kerap kebagian menemani tetamu itu. Acca adalah alumni jurusan Perikanan, Unhas.

Organisasi ini terus berbenah. Mulai dari keanggotaan hingga membangun jaringan. SSD adalah satu satu “representative” DiveMag Indonesia.

Selain menyibukkan diri di Benteng, pengurus dan anggota SSD juga mempunyai lokasi dampingan yaitu di Tile-Tile, Pantai Timur Selayar dan Gusung di Pulau Pasi’.

Di mata pemerintah kabupaten, Andi Mappagau, SE yang merupakan Kepala Dinas Pariwisata mengatakan bahwa keberadaan SSD ini sangat membantu Pemkab dalam mendorong pengembangan pariwisata bahari di Selayar.

“Kami selalu berdiskusi dan berbagi ide mengenai pengembangan daerah yang potensial sebagai wisata bahari” kata Mappagau pada satu kesempatan.

Jika ke Kota Benteng, berkunjunglah ke tempat istimewa mereka…

Mau Ke Mana Gerakan LSM di Sulawesi Selatan?

Mau ke mana? (Foto: Kamaruddin Azis)

Dalam bulan Juni 2010, mahasiswa dan aktivis Lembaga Swadaya Masyarakat (LSM) atau yang kerap menyebut dirinya Organisasi Non-pemerintah (ORNOP) mengungkit dan memperkarakan proses penyaluran bantuan sosial (Bansos) oleh Pemprov Sulawesi Selatan ke beberapa lembaga LSM penerima yang tidak jelas keberadaannya. Distribusi dana sekitar Rp. 8 Milyar diduga melewati lorong gelap dan fiktif. (Harian Tribun Timur Makassar, tgl 5, 6 Juni 2010). Dana Bansos yang bersumber dari dana APDB Sulawesi Selatan antara tahun 2008/2009 tersebut diduga telah diselewengkan oleh beberapa organisasi LSM/ORNOP yang berbasis di Sulawesi Selatan.

Masih di media yang sama, sekretaris Komisi C DPRD Sulsel, Ariady Arsal menyatakan hal itu tidak akan terjadi jika pemerintah memberi informasi jelas tentang prosedur pengajuan bantuan. Dia menilai salah satu faktor yang menyebabkan terjadinya skandal tersebut karena tiadanya kejelasan proses yang harus dilalui oleh tiap LSM atau organisasi massa saat mengajukan permohonan bantuan. Sebelumnya pada pertengahan tahun 90an, di Sulawesi Selatan, kasus Kredit Usaha Tani (KUT) terkuak dan menyeret beberapa pengurus LSM ke meja hijau dengan dakwaan penggelapan dana bantuan yang mestinya diserahkan kepada petani. Jika kasus KUT berujung di meja sidang dan beberapa oknum aktivis LSM diproses hukum, kasus Bansos hingga kini masih kabur.

Berita di atas memberi kesan buruk bagi kiprah organisasi swadaya masyarakat yang sejatinya berjuang untuk pemberdayaan masyarakat dengan mengedepankan prinsip keadilan dan transparansi. Mengapa LSM begitu rentan disulut perkara hukum? Untuk apa mereka ada dan apa yang mau dituju? Ada apa dengan kapasitas mereka dan bagaimana supaya mereka menjadi lebih signifikan manfaatanya bagi upaya demokratisasi di Sulawesi Selatan?

Ideologi Gerakan
Sejak awal tahun 80an, LSM telah menjadi bagian tak terpisahkan dari upaya perubahan kehidupan masyarakat maupun bernegara. Mereka, penggerak proses demokratisasi, keadilan sosial dan pemberdayaan masyarakat. Mereka, fondasi bagi tumbuh kembangnya demokrasi dan penguat bagi terwujudnya masyarakat sipil di Indonesia, khususnya di Sulawesi Selatan apalagi sejak era otonomi daerah telah menjadi momentum strategis bagi segenap pihak untuk mengambil peran . Ada hal menarik yang mesti dicermati yaitu semakin banyaknya organisasi LSM yang berdiri sejak pasca Reformasi di akhir tahun 90an. Awal tahun 2000an, ditaksir ada 13.000 organisasi LSM yang terdaftar di Indonesia. Kini diperkirkan mencapai 30ribu.

Kebebasan berpendapat melalui organisasi sosial telah terbuka semakin lebar selama kurun waktu satu dasawarsa terakhir. Ada proses yang mengkatalis berdirinya LSM di Indonesia, apalagi sejak era Reformasi. Ada kemudahan administratif dan tidak sesulit jika dibandingkan dengan mendirikan perusahaan (corporate). Namun menurut Fakih (2001), jumlah kajian akademik, porsi dan perhatian pada dunia LSM dalam perspektif manajemen organisasi tidak sebanyak lembaga bisnis maupun pemerintah. Sangat terbatas kajian mengenai bagaimana mereka bersimbiosis dengan pemilik sumberdaya, antar pendiri, pengawas bahkan saat berhadapan dengan warga atau komunitas dampingan. LSM seperti teralienasi pada adopsi manajemen mutakhir sehingga mereka cenderung tidak siap dengan tren an situasi eksternal mereka seperti kondisi sosio-politik, hukum dan kerentanan ekologis.

Sesungguhnya, di Sulawesi Selatan, pada kurun 1998-2005 eksistensi LSM sangat dibutuhkan, utamanya dalam mendorong proses transformasi demokrasi dari sentralisasi ke desentralisasi, dari keterbatasan kapasitas ke pemenuhan kapasitas baru, semuanya bertema pemberdayaan stakeholder pembangunan daerah. Dari kerentanan ekonomi ke pemulihan keberdayaan. Dengan kata lain, keberadaan dan kinerja mereka mulai diperhitungkan oleh banyak pihak utamanya sejak era reformasi dan desentralisasi pembangunan yang memberi ruang bagi tumbuh kembangnya prakarsa regional.

Pada rentang waktu di atas menurut catatan Forum Informasi dan Komunikasi Organisasi Non-pemerintah (FIK ORNOP) Sulawesi Selatan, jumlah donor, proyek dan dana yang digelontorkan untuk penguatan masyarakat sipil sangat besar. Sayangnya, kasus KUT yang merebak massif itu memberi kenyataan baru; bahwa terdapat kerancuan tindakan dan mengancam kredibilitas LSM. Ada kolusi dan korupsi yang menggelayut pada hampir sebagian besar LSM di Indonesia khususnya di Sulawesi Selatan.

Ada Apa Dengan LSM?
Ada kerancuan konsep, gagasan, teoritis dan paradigmatis dari banyak aktivis lapangan para aktivis LSM ini. Kerancuan teoritik ini adalah persoalan yang dihadapi oleh mereka yang bekerja untuk melakukan perubahan sosial di lapangan, para pekerja sosial masyarakat, kalangan aktivis lapangan LSM yang tanpa disadari telah menggunakan dasar teoritis dan visi ideologis mengenai suatu perubahan sosial yang menjadi landasan dan aktivitas praktis sehari-hari mereka (Fakih, 2011). Ada tindakan yang bertentangan dengan pijakan filosofis sebagai organisasi pembaharu, pendorong demokratisasi.

Maksudnya, LSM kita tidak mampu menjadi organisasi yang kredibel, tangguh dan mengayomi. Tidak seindah teori dan gaya mereka saat memfasilitasi warga. Lemahnya visi ideologis dan teori mengenai perubahan sosial ini memengaruhi metodologi yang diterapkan oleh banyak LSM, seperti banyak organisasi sosial yang menempatkan masyarakat sebagai obyek, padahal mereka bercita-cita memberdayakan masyarakat. Demikian halnya dalam merencanakan, menyusun, dan menetapkan program pengembangan masyarakat, maupun dalam mengevaluasi kegiatan tersebut. Kegiatannya banyak mencerminkan anti pemberdayaan masyarakat. Di sisi lain belum ada sistem audit organisasi yang mampu membuat mereka bersikap korektif dan transparan.

Ketidakjelasan visi dan dan teori ini tidak saja telah melahirkan inkonsistensi antara cita-cita dan teori yang digunakan tetapi juga menghambat peran dan partisi pasimasyarakat dalam perubahan sosial, yakni peran masyarakat sipil (civil society) sebagai pelaku sejarah utama dalam demokratisasi ekonomi, politik, budaya, gender, serta aspek sosial lainnya. LSM kita lebih banyak jadi broker atau agen pemerintah daripada menjadi penyeimbang atau pilar baru di luar dua organisasi konvensional, pemerintah dan korporat.

Yang ironis, mereka kerap menyebut kata partisipasi, partisipatoris, partisipatif namun mereka sendiri tidak mengerti esensi patisipasi. Sederhananya, partisipasi yang digadang-gadang oleh LSM itu harus merupakan partisipasi dua arah. Jika selama ini mereka kerap menyebut “partisipasi masyarakat” maka yang mendesak sesungguhnya “partisipasi LSM atau pemerintah pada kegiatan masyarakat”. Bukan sebaliknya. Ini penting demi mengangkat posisi warga, komunitas, sebagai pemegang kendali pembangunan daerah. Masyarakat sesungguhnya bukan penerima manfaat, tetapi merekalah pemberi manfaat itu. Masyarakatlah pemegang otoritas pengelolaan, pembangunan dan pengambilan keputusan.

Qua Vadis?
Jika LSM kini tak segarang dulu, maka ini tidak berarti bahwa kita tidak lagi punya harapan. Agenda-agenda regional pembangunan daerah, issu korupsi, inefisiensi pembangunan, degradasi lingkungan, ketimpangan anggaran, issu kesehatan, pendidikan dan pelanggaran hak asasi manusia membutuhkan fasilitator solusi. Memang ada, beberapa organisasi LSM yang bertahan, para fasilitator pemberdayaan masyarakat itu, karena mereka mempunyai portofolio organisasi yang kuat. Mereka pantang mengemis proyek dan menjadi kaki-tangan rejim karena mereka paham bahwa dengan memilih bersikap seperti itu maka agenda penguatan masyarakat sipil hanyalah isapan jempol belaka.

Sebagai ruang politik, konsep civil society yang diusung oleh banyak LSM merupakan arena yang dapat menjamin terselenggaranya perilaku berbagai pihak, memutuskan tindakan dan merefleksi kemampuannya, yang tidak terkungkung oleh kondisi material, dan juga tidak terserap ke dalam jaringan kelembagaan politik resmi.

Berpegang pada penilaian seperti ini, maka civil society mengejawantah ke dalam pelbagai organisasi/asosiasi yang dibentuk oleh masyarakat di luar pengaruh negara. Di negara maju, LSM telah memainkan agendanya dalam menetapkan kebijakan publik, oleh karena budaya demokrasi sudah maju, SDM yang mumpuni dan kemampuan finansial yang tersedia. Sedangkan di negara-negara berkembang, termasuk Indonesia termasuk Sulawesi Selatan, LSM masih berjuang sebagai mitra pemerintah (positioning) dalam proses pembanguan.

Oleh karena itu, agenda mendesak bagi LSM di Sulawesi Selatan ke depan adalah: Pertama, terus menjalin koalisi dengan warga atau komunitas yang sejatinya punya kuasa atas sumberdaya, nilai dan kekerabatan fungsional sebagai organisasi sosial. Inilah yang mesti menjadi tantangan mereka untuk diterima dan berjuang bersama rakyat. Bukannya malah menjadi benalu dalam agenda penguatan masyarakat sipil. Pada konsisi ini LSM adalah bagian dari masyarakat bukan atasan bukan pula pemberi manfaat belaka. LSM yang dimaksud adalah LSM dengan personalia yang solid dan mendedikasikan waktu dan tenaganya untuk pemberdayaan masyarakat. Bukan LSM kaki tangan donor yang minim kreasi dan konsistensi.

Kedua, konsisten menata organisasi dengan memperkuat kapasitas (sumberdaya dan manajemen), menjaga konsistensi para aktivis, memperbanyak aktivis militan, fasilitator dan tenaga lapangan untuk terampil mengorganisasi warga dalam mengidentifikasi issu dan solusi berbasis sumberdaya lokal. Banyak pengalaman bahwa proyek-proyek besar pemberdayaan masyarakat gagal karena tidak ada keberlanjutan dan inisiatif warga. Warga hanya penerima manfaat saja (beneficiaries). Para aktivis LSM itu harus membaca situasi di mana masyarakat dilibatkan dalam perumusan rencana aksi (benefactor). Salah satu upaya penguatan di sini adalah memperbanyak interaksi dengan warga melalui observasi langsung dan berbagi gagasan dengan warga.

Ketiga, aktif menjaga komunikasi dengan pihak lain seperti pemerintah, pihak swasta dengan menjalin kolaborasi gagasan dan sumberdaya. LSM yang mempunyai basis pendampingan secara informal tentu berbeda dengan pendekatan aparat pemerintah yang lebih banyak di belakang meja. Inilah keunggulan LSM yang dapat mereka optimalkan dalam menyiapkan masyarakat sebagai penentu masa depan kehidupan mereka sendiri.

Pallae, Desa Unik di Anak Sungai Cenrana

Ambo Sakka dan Kegiatannya (Foto: Kamaruddin Azis)

Berkunjung ke Kabupaten Bone, Provinsi Sulawesi Selatan selalu menyenangkan. Sejak tiga tahun terakhir saya telah belasan kali berkunjung ke tanah kelahiran Jusuf Kalla ini. Tanah kelahiran pahlawan pembebasan yang dikagumi rakyat Bone, La Tenritatta Arung Palakka dan juga Jenderal panutan M. Joesoef. Daerah di pesisir timur kaki pulau Sulawesi ini merupakan perpaduan desa-desa pesisir nan eksotik serta kampung perbukitan landai menghijau. Di Bone pulalah komunikasi dan kontak pelayaran ke Sulawesi Tenggara dan wilayah Indonesia bagian timur berdenyut tiap hari melalui pelabuhan Bajoe yang terkenal itu.

Ada ratusan anak sungai yang muaranya mengarah ke Teluk Bone melewati bahu dan lekuk bukit. Sungai di mana kampung-kampung bertahan dan berdenyut menghadang perubahan waktu. Bone menyenangkan karena daya pikat pemandangan di sepanjang jalan menuju pusat kotanya. Dari Makassar melewati Maros, Bantimurung, Camba, lalu berkelok menanjak memandangi pesona lembah dan puncak-puncak bukit berbatu. Melintasi Camba berarti menyaksikan bukit kapur yang menyimpan magis dasar laut purba. Lekuk batu karang yang menua dan jejak koloni terumbu laut.

Butuh empat jam untuk sampai di Watampone. Sebagaimana biasanya, di Camba kami mengaso, mengisi lambung, menikmati jagung rebus seraya melepaskan pandangan ke kaki bukit nan menghijau. Perjalanan kami siang itu berujung di Hotel Mario Pulana pada sore hari. Djunaid Umar seorang kerabat di Watampone telah bookingkan kamar di hotel berarsitektur khas Bugis ini. Hotel yang lebih mirip rumah tinggal biasa namun memberikan suasana akrab dan aman. Saya bersama kolega di tempat kami bekerja, H. Ashar Karateng, Yohannes Ghewa dari Kupang, Ruslan Situju dari Kendari serta bos kami, Sakuma Hiroyuki yang berkebangsaan Jepang.

Dimensi Pallae

Di hari ketiga, kami berkunjung ke satu desa dalam Kecamatan Cenrana. Melakukan observasi dan hendak membangun pertemanan dengan warga setempat. Namanya Desa Pallae, ditempuh 30 menit dari Watampone dengan kendaraan roda empat.

“Di desa Pallae, mayoritas warga adalah petani, nelayan, peternak. Ini dibuktikan oleh adanya “sawah empang”. Di Pallae, ada empang yang sekaligus dapat dijadikan tempat menanam padi. Jika kemarau, air akan asin dan jadi tempat hidup udang dan ikan” terngiang ucapan pak Sirajuddin, warga Pallae yang memberi kami informasi sehari sebelumnya.

Juga Heriyanto, salah seorang pemuda setempat yang memberi informasi awal bahwa dulu Pallae terkenal sebagai desa dengan jumlah peternak itik yang sangat banyak namun berangsur berkurang. Alasannya banyak pedagang yang beli itik untuk dikonsumsi. Ada pula ibu-ibu yang menganyam tikar, namanya “tappere ampellang” yang mengambil rumput liar dari empang-empang tradisional.

Yang paling unik, kata Heryanto, di sana ada perahu berenang di kolong rumah. Maksudnya, di beberapa kolong rumah dapat ditemui sampan. Di desa ini banyak sampan karena kampung dikitari anak sungai. Warga menyimpan perahu di kolong rumah yang kerap terendam air.

Mengenai sosial budaya, menurut Heryanto, di desa Pallae ini masih kental hubungan perkawinan antar sepupu atau kerabat dekat. Sejak dulu perkawinan dengan kerabat dekat dalam kampung sampai sekarang masih dipertahankan.

“99% orang Palla’e menikah dengan sanak famili. Jarang sekali dengan perkawinan silang” kata Sirajuddin. Maksudnya, perkawinan dengan suku lain atau dari luar kampung. Heryanto menambahkan bahwa Desa Pallae dikenal sebagai desa yang agamais, yaitu mempunya sarjana-sarjana alumni As’adiyah, Sengkang.

Informasi dari Aparat Desa

Tanggal 25 Oktober 2011, hari sedang terik saat kami sampai di kantor desa. Adalah Andi Muhammad Yusuf, Kades Pallae yang menerima kami bersama Sekdesnya bernama Haji Kamaruddin. Disambut di kantor desa, kami memperoleh informasi awal tentang desa ini, tentang pekerjaan utama warga dan informasi dasar tentang kependudukan. Beberapa tamu duduk di teras kantor karena ruang pertemuan sempit.

Desa ini terdiri dari tiga dusun, Pallae, Maruwung Watu dan Waeluwu. Jumlah penduduk berdasarkan data terbaru sebesar 1.285 Jiwa. Berbatasan dengan Desa Lagaolong dan Kelurahan Ujung Tanah di selatan dan timur berbatasan dengan Panyiwi dan Latonro, barat dengan desa Watu. Desa ini berdiri pada tahun 1987 sebagai pemekaran dari desa Watu.

Menurut Sekdes, di desa ini banyak terdapat buruh tani karena yang memiliki lahan pertanian atau perkebunan adalah dari orang luar.

“Dulu ada puluhan hektar tapi pemiliknya hanya satu orang. Tapi ini ada hubungannya dengan Raja Bone ke-16, La Pakokoi, La Patau, Petta Wellulue (artinya sirih), Marulu Watu (artinya ujungnya Watu), yang memang secara berdaulat menguasai tanah di sana. Lambat laun kemudian mulai dibagi-bagi” kata Haji Kamaruddin.

“Informasi lain bahwa desa ini pernah kena imbas banjir danau Tempe, Wajo. Meluapnya danau berimbas ke sini” kata Supriadi salah seorang kaur desa.

Fakta di Desa

Menelusuri jalan utama desa yang masih berupa tumpukan kerakal atau pengerasan, kami menyaksikan hamparan sawah yang tergenang air. Ada anak sungai yang dialiri air dari arah utara. Di bulan Oktober air telah mengisi ruas sungai kecil itu. Menurut peta Googlemaps, terdapat banyak sekali anak-anak sungai yang keluar dari badan sungai Cenrana salah satunya salo Pallae.

Andi Amrul Muh. Yasir dan Andi Mukbil, dua anak kecil yang saya temui sedang bermain di ujung sungai kecil di Dusun Pallae. Mereka masih kelas 1 SD. Di dekat mereka seorang lelaki muda sedang mengecat sampan. Di sana ada tiga sampan sedang tertambat. Siang riuh di Pallae. Itik-itik muda berenang, mengibaskan ekor dan sayapnya. Saling menggoda di tepi sampan warga yang ditambatkan di batang kelapa.

Salo Pallae, nama sungai itu hiruk pikuk oleh suara itik. Air sedang naik di ujung anak sungai Cenranae, Kabupaten Bone. Di anak sungai ini warga mengaitkan perahu sampan. Menyandarkan perahu dan membersihkan bodinya. Di radius 100 meter aktivitas warga beragam. Terlihat itik, kayu kelapa, daun. Pohon sukun, kelapa, pisang, mangga, kandang itik. Ada empang.

Potensi ekonomi dan geliat sosial budaya terpapar di Pallae. Tidak ada kekhawatiran tentang masa depan, tentang status sosial, tentang kemiskinan, sebab mereka punya banyak sumberdaya alam. Desa subur ini bertahan karena ada aliran sungai, empang dan papan untuk permukiman mereka.

Pada beberapa petak empang, tumbuh alang-alang yang telah dipotong oleh warga. Mereka mengambil dan mengeringkannya sebagai bahan pembuatan tikar anyaman. Ada yang menarik. Hampir semua rumah warga berwarna kuning. Ada kuningisasis di sana. Salah satunya rumah Andi Mata, rumah ini berdinding warna kuning, kombinasi hijau muda. Di bagian lain, ada bangunan desa dan diberi nama “Baruga Sayang”. Tidak ada aktivitas di situ. Yang semarak justeru graffiti tanpa makna.

Beberapa warga sedang mengaso di kolong rumah, ada pula yang sedang duduk santai di halaman rumah batunya. Satu-dua kendaraan roda dua lalu lalang seraya membawa anak sekolah. Walau begitu, banyak rumah yang terlihat kosong. Pintu tertutup. Menurut warga mereka pergi ke kebun. Jika pun ada pergi jauh itu karena merantau di Sulawesi Tenggara.

“Air mulai naik sejak pagi tadi” kata Ambo Sakka yang saya ajak bicara saat melintas di pematang empangnya. Dia sedang mengambil rerumputan di empang yang bersebelahan dengan anak sungai. Beberapa warga lainnya sedang mengambil air untuk sumber air minum bagi sapi-sapi mereka.

Warga memanfaatkan lahan sawah sekaligus empang ini antara bulan April hingga Oktober untuk persawahan dan antara bulan Oktober dan April mereka membudidayakan kepiting.

Sungai, nampaknya menjadi urat nadi kebutuhan warga. Dengan aliran sungai mereka memanfaatkan air untuk mengisi empang dan mengairi persawahan mereka. Dengan air sungai ternak mereka bertahan hidup dan mereka memperoleh telur dari itik. Dengan air sungai mereka memberi minum ternak mereka. Sungai adalah bukti kesuburan tanah mereka.

Dari Pallae, kita membaca urat nadi kehidupan desa ada di muara sungai, pada anak-anak sungai, tempat di mana warga bertahan sekaligus menyambung hidup. Di sana pula anak-anak mereka belajar membaca pesan alam. Dengan aliran sungai dari induk di Cenrana, sampan-sampan mereka menjelajah, memancing ikan, menjaga empang di sekitar muara dan melabuhkan asa.

Sungai bagi warga Pallae adalah masa depan mereka. Satu-satunya kekhawatiran mereka adalah jika Danau Tempe di kabupaten tetangga, Wajo meluap dan mengirimkan banjir bandang ke permukiman mereka.

Sungguminasa, 10 Nopember 2011

Potret Bajo Torosiaje, Tetap Bertahan Di Atas Laut

Pulang dari Sekolah (Foto: Kamaruddin Azis)

Pengalaman tinggal bertahun-tahun di Pulau Rajuni Kecil dan Pulau Tarupa di Taman Nasional Taka Bonerate selama rentang tahun 1995-2003 membuat saya selalu rindu untuk selalu dekat dengan mereka; berbahasa Bajo, bicara tentang laut dan dimensi sosial ekonomi mereka.

Selalu bergairah untuk mendengar kisah salah satu suku laut tangguh yang disebut mendiami pesisir Kalimantan, Brunei, Malayasia, Indonesia hingga Filipina ini. Itu yang saya rasakan saat sampai di Kabupaten Pohuwato, Provinsi Gorontalo saat mengetahui bahwa ada perkampungan Bajo di Torosiaje, Kecamatan Popayato, Kabupaten Pohuwato, 100 kilometer dari ibukota Kabupaten Pohuwato, Marisa. Siang itu saya sempatkan menyambangi mereka seusai berkunjung ke Desa Marisa, Popayato Timur.

***
“Selamat Datang di Desa Wisata Torosiaje” itu yang menyambut kami saat sampai di sana. Berbelok kiri dari arah jalan ibu kota kabupaten kami melewati puluhan rumah yang merupakan permukiman bantuan pemerintah pusat untuk suku Bajo yang sebelumnya tinggal di atas laut, di balik hamparan bakau.

Rumah berukuran kurang lebih 6×8 meter itu banyak yang kosong namun ada beberapa pula yang terisi. Dari sisi perumahan ini kami parkir mobil dan berjalan ke jembatan yang membelah hutan bakau. Inilah jalan sekaligus jembatan menuju tangga yang mengarah permukiman mereka di laut.

Welcome to Torosiaje (Foto: Kamaruddin Azis)

Beberapa meter dari perkampungan “darat” ini saya melihat papan informasi: “Dinas Perhubungan, Parisiwata dan Kebudayaan Pohuwato” –Tempat Parkir, mobil Rp.5.000, motor Rp. 2.000,- bentor Rp. 3.000,-. Di sampingnya adalah gardu jaga lengkap dengan papan informasi. Karcis masuk obyek wisata Torosiaje dewasa Rp. 2.000,- dan anak-anak Rp. 1.000,- seusai dengan Perda No. 8 tahun 2005, SK Bupati kabupaten PohuwatoNo.15 tahun 2007. Tapi tidak ada yang berjaga di situ.

Dari pintu masuk itu kami membaca papan informasi lain tentang salah satu proyek yang mendorong upaya konservasi bakau di daerah itu. Juga papan informasi bertuliskan “Undang-Undang No.27 tahun 2007” tentang Pengelolaan Wilayah Pesisir dan Pulau Pulau Kecil. Di tempat lainnya tertulis pula “Jaga dan Lestarikan Sumberdaya Pesisir dan Laut Demi Masa Depan Anak Cucu Kita” Undang-Undang No.32 tahun 2009 Pasal 70 ayat 1,”Masyarakat Memiliki hak dan Kesempatan yang Sama dan Seluas-luasanya untuk Berperan Aktif dalan Perlindungan dan Pengelolaan Lingkungan Hidup”.

Terdapat logo IUCN, CIDA, Lestaris Inc. Canada, Teluk Tomini SUSCLAM, Japesda dan Pemerintah Desa Torosiaje. Banyak pihak selain pemerintah yang memperhatikan suku laut ini.

Banyak sekali papan informasi yang bertebaran di pintu masuk menuju permukiman warga di tengah laut itu. Untuk sampai di ujung jembatan serupa huruf T yang akan menghubungkan daratan dan permukiam Bajao Laut itu kami mesti berjalan sejauh seratus meter.

Di kiri kanan kami ada hamparan bakau padat. Dari sini kami menyaksikan suasana permukiman di tengah laut. Ada bentangan kabel listrik di atas laut hingga ke kampung itu. Cuaca sedang teduh. Daun lamun dari dasar laut bergoyang diayun arus ringan.

Di tangga dermaga, saya bertemu Manto Pasanre, umur 37. Saat itu dia sedang mengantar anaknya ke darat. Dia juga menunggu penumpang yang akan kembali ke rumah. Sebagian besar adalah anak sekolah SMP di Popayato.
Manto lahir dan besar di perkampungan di laut itu. Dia bersaudara 12 bersaudara. Manto ada anak 3.

“Menjemput anak sekolah” kata Manto saat saya tanya siapa yang dijemput. Penumpang membayar 2ribu sekali jalan. Kadang kala tidak membayar.

“Tergantung berapa bisanya” kata Manto lagi. Sebagai warga yang lahir dan besar Manto mengaku menyelesaikan SD di Torasiaje Laut, maksdunya di permukiman di lau. Menamatkan SMP di Popayato. Saat tamat SMP dia pergi ke Manado.

“DI Manado hidupnya tidak jauh dari urusan laut. Saya mencari teripang” katanya. Di dermaga menuju permukiman itu saya bertemu Mona. Dia sudah kelas tiga SMP. Mona rencana akan melanjutkan sekolah di SMK.
Suasana Perkampungan

Dengan naik sampan milik pak Manto, kami berlima, ada pak Yusman, Noni, Pak Ma, Husein (staf Bappeda Pohuwato) dan saya. Perahu yang diisi lima orang itu buat saya tidak tenang. Saya khawatir dengan kamera dan gadget yang saya bawa. Salah duduk bisa membuat kami basah kuyup.

Saya duduk di tengah sampan. Pak Husain dan Noni di depan, paling depan pak Yus. Sementara pak Manto mengemudikan sampan. Mesin tempel 5 PK membawa kami membelah laut dangkal yang batasi hamparan bakau yang memadat.

Air sedang surut saat kami bergerak. Saat menuju permukiman itu terlihat satu perahu yang membawa tujuh penumpang. Sepertinya kembali dari urusan tugas di permukiman di tengah laut itu.

Perkampungan Torosiaje Laut merupakan perumahan yang berbentuk lingkar. Rumah warga yang dipetak memanjang cenderung melingkar ini di batas oleh jembatan. Bersambungan satu sama lain. Perahu menembus kolong jembatan. Ada tulisan “WELLCOME” di gerbang kampung. Poster Gusnar dan Tonny ada terpampang di sana. Di sana ada pula Perpustakaan “Mutiara Laut” Desa Torosiaje. Ada speedboat kuning yang tertambat serta keramba apung.

Ada jembatan sekaligus jalan utama kampung yang menghubungkan rumah warga. Bersambungan. Perumahan itu nyaris seragam dengan atap berwarna biru muda. Kami sampai pukul 12.00 wita. Perahu sandar di salah satu tangga menuju jembatan sekaligus jalan utama kampung itu. Di dekatnya, beberapa warga sedang duduk santai. Beberapa anak kecil sedang bermain di salah satu bangunan yang nampaknya baru dibangun. Di kaki rumah warga bertebaran bulu babi hitam.

Pada beberapa halaman rumah warga, mereka menjemur kayu bakar, bantal, ikan dan menjemur pakaian. Beberapa warga mengikat perahu. Di beberapa rumah masih terlihat kayu bakau yang telah dipotong-potong.

Anak-anak yang sedang bermain menyapa dan minta difoto. Layaknya rumah warga, ada yang tertata rapi adapula yang sepertinya tidak diurusi.

Perkampungan yang dijalin oleh jembatan itu mengingatkan saya pada kios di mal-mal yang dihubungkan oleh koridor. Warga duduk santai depan rumah, ada yang hanya bersarung, tanpa baju dan menikmati waktunya.

“Bangunan di sini sudah lama, ada beberapa bagian yang baru berumur dua tahun” kata salah seorang di antara mereka. Di antara rumah warga terdapat Puskesmas Pembantu yang tertutup. Ibu-ibu dan anak gadis sedang ramai bercengkerama.

“Kami di sini sudah campur baur, tinutuan kata orang Gorontalo. Ada Cina, Minahasa, Sangir, Bugis, Tomini, Kaili” kata ibu Rusmin Pakaya. Dia yang dituakan di sekumpulan wanita di situ. Seorang lainnya bernama Hariani menyapa saya dengan bahasa Bajo. Saya membalasnya.

Bakau dan aktivitas warga (Foto: Kamaruddin Azis)

“Maningge rumahta?” kataku, di mana rumah ibu. Dia menjawab dengan menunjuk salah satu rumah kopel .

Permukiman di sini merupakan cikal bakal tiga desa yang telah dimekarkan yakni Desa Bumi Bahari, Torosiaje Jaya dan Torosiaje (Laut). Sejak ada gagasan merumahkan warga Bajo yang memilih beranak pinak di atas air, pemerintah mencari solusi dengan menawarkan bangunan rumah di darat. Persis di poros Popayato, di trans Sulawesi. Namun hanya ada beberapa orang yang pindah sebagian lainnya memilih berdiam di atas laut.

“Kami lahir dan besar di atas laut, jadi ya, susah juga tinggalkan kampung ini” kata mereka kompak. Dari sinilah warga meneruskan kegiatan produktif mereka. Mencari ikan, kepiting bakau, hingga berburu ikan permukaan seperti cakalang dan tuna di sekitar Teluk Tomini.

Pemerintah pun tidak kurang akal, dibuatkannya rumah panjang yang telah dibagi-bagi sebagai satu kompleks permukiman warga Bajo di Popayato. Alasanya supaya tertata dan rapi. Namanya perkampungan “Torosiaje Laut”

“Istilahnya, desa tiga serumpun” kata ibu Rusmin. Toro artinya tanjung dan siaje artinya sehati. Torosiaje adalah bahasa Bajo. Menurut Andri salah seorang warga Torosiaje Laut, kini ada 334 KK di Torosiaje Laut. Andri adalah lulusan SMP di Popayato yang juga pemuda desa.

“Dulu, pada tahun 2002 belum ada jembatan” katanya. Di Desa Bumi Bahari yang telah bangun puluhan rumah itu terdapat desa Torosiaje Jaya, di sana ada SMK Perikanan/Kelautan. Secara keseluruhan ditaksir ada 700 KK di tiga desa itu.

Dari Andri saya mendengar rencana bertemunya rumpun Suka Bajo sedunia pada bulan Nopember ini. Tapi dia tidak yakin kapan tepatnya.

“Saya hanya dengar, beberapa warga pernah bilang” kata Andri.

Perkampungan ini bagaikan cincin yang dijalin oleh jembatan. Di setiap ruas jembatan terdapat rumah warga. Mereka mengikat sampan di samping atau di belakang rumah.

Pada siang hari kampung itu dibisingkan oleh deru perahu sampan yang membawa anak-anak sekolah atau warga yang pulang dari Popayato. Beberapa anak SMP berjalan di atas jembatan setelah didrop pada satu titik. Beberapa lainnya tetap di atas sampan dibawa ke arah lain. Inilah rutinitas mereka. Mereka menutup wajah saat kamera mengarah kepada mereka.

Beberapa orang tua jompo memandang kami yang bersiap kembali ke darat. Beberapa warga lainnya sedang santai depan rumahnya. Saya menyalam dan menyapanya.

“O Tikke ma Sulaya” O, dari Selayar, kata mereka saat mengetahui saya dari Selayar. Saya memang mengaku dari Bajo Selayar. Banyak orang Bajo percaya bahwa asal mereka dari Sulawesi Selatan. Dan, ada dua lokasi yang disebut sebagai pusat suku Bajo yaitu Bone dan Selayar.

Suasana Kampung Torosiaje (Foto: Kamaruddin Azis)

Di Kecamatan Popayato, Bajo Torosiaje, kini masuk secara administratif ke dalam tiga desa, ada Desa Bumi Bahari, dan Torosiaje Jaya bagi warga Bajo yang memilih tinggal di darat serta Desa Torosiaje (Laut) bagi yang tidak mau meninggalkan laut. Begitulah pemerintah memberi pilihan. Juga demi membangun rakyatnya, dengan embel-embel pariwisata ekologis dan sekat-sekat administratif.

Pertanyaannya, apakah pemerintah mau menanggung risiko sosial dan ekonomi bagi suku yang sejatinya lahir dan besar di laut ini?

Kafe "Tempat Biasa" yang Luar Biasa dari Selayar

Kafe "Tempat Biasa" (Foto: Kamaruddin Azis)
Cafetaria atau kafe kian banyak bermunculan, di kota hingga pelosok kampung. Di kota, kafe yang ditopang koneksi internet jadi titik bertemunya para profesional dan anak muda. Kafe memberi banyak peluang. Lalu, apa yang membuat anda terkesan pada satu kafe? Makanan? Pelayanan? Atau live music yang menggoda-menghentak-memanjakan?

Kalau saya, yang berkesan adalah jika muncul imajinasi yang beranak-pinak saat berada di dalamnya! Kafe bukan sekadar tempat refreshing hingga membelenggu kreatifitas, kafe adalah ruang produksi gagasan. Imajinasi itu yang saya peroleh saat berada di Kafe Tempat Biasa (TB) di Kota Benteng, Selayar, Sulawesi Selatan.

TB adalah kafe sarat pesan, tentang spirit memajukan daerah dengan dasar kesukarelaan. Tentang kerjasama dan ketelatenan. Sekaligus ruang multi dimensi, pantai, pasir putih, desa pesisir dan pesona keindahan terumbu karang yang silih berganti melintas di pikiran.

Dia memancar dari pernik yang ada di dalamnya, pajangan foto, pigura, t-shirt, meja, kursi, bahkan dari toilet! Di sini, bagi yang terbiasa dengan desir angin pantai, berenang, menyelam hingga berpetualang dari pulau ke pulau, walau berjarak dua kilo dari tepi pantai Kota Benteng, TB menawarkan nuansa itu.

Berada di atas tanah seluas 20 x 15 meter, kafe ini melingkupi satu rumah dengan fasilitas penginapan untuk tamu, kios handycraft dan satu bangunan inti kafe semi terbuka dan halaman yang bernuansa Bali. Tamu bisa menginap dengan banderol sewa permalam seharga Rp. 100ribu hingga 150ribu. Ada dua payung khas Bali di kiri kanan pintu. Tiga meja dilengkapi kursi yang khusus didatangkan dari Bali ada di kanan cafe. Di dalam, ada empat meja dikitari 16 kursi. Selain itu ada pula lesehan serupa stage. Kafe yang lapang.

***
Dua tahun lalu, gambaran mengenai kafe ini masih berupa sketsa setelah mendengar paparan dokter Benedicta Wayan Suryani, spesial mata yang bekerja di Kota Benteng, Selayar. Saya bertemu di toko souvenir yang menawarkan t-shirt dan merchandise khas bahari. Rumah sekaligus tempat prakteknya ini adalah juga toko itu.

“Inisiatif yang tidak semata-mata demi uang tapi bukti bahwa banyak hal yang bisa dilakukan jika kita ingin mengembangkan parawisata Selayar” katanya dua tahun lalu.

Selain dokter, Ben, begitu dia dipanggil adalah juga diver, aktivis lingkungan yang ulet mengaktualisasikan gagasan dari hal-hal sepele. Dialah yang memelopori dua komunitas pencinta Selayar melalui Sileya Scuba Divers (SSD) dan komunitas pesepeda di Kota Benteng. Walau telah pindah ke Bangka Belitung, Ben menyimpan spiritnya di Selayar, menyusup di relung hati para sahabatnya yang datang dari PNS, karyawan bank, aktivis LSM, warga biasa hingga musisi.

Malam di tanggal 31 Oktober 2011, adalah kali pertama saya sampai di kafe ini. Selama ini hanya menikmatinya dari gambar yang dikirim teman-teman. Ke sini berarti menikmati ide yang disemai dua tahun lalu. Benlah yang menjadi penyemangat bagi beberapa aktivis lingkungan yang rela patungan untuk membangun dan merawat kafe ini. Puluhan juta terkumpul untuk membangun tempat ini.

“Kami resmi buka saat peringatan Hari Bumi tahun lalu” kata Mude Zulkifli, salah seorang tulang punggung di kafe ini. Zul anggota SSD dan mempunyai jaringan luas pada ranah selam, di Sulsel hingga Jakarta.

Zul juga sampaikan bahwa Kafe Tempat Biasa adalah “pickup point” Dive Mag Indonesia yang dibesut Riyanni Djangkaru salah satu ikon konservasi terumbu karang di Indonesia. Ini berarti Kafe TB telah mempunyai jaringan dengan salah satu simpul selam di Indonesia. Di DiveMag ditulis bahwa Kafe “Tempat Biasa” dan “Kios Lantigiang” adalah adalah dua sumber dana bagi program kerja SSD.

***
Bagi Kabupaten Kepulauan Selayar, kafe ini telah menjadi medium interaksi bagi aktivis lingkungan di Selayar. Banyak tamu, turis dan peneliti kelautan mulai terpikat kafe yang tidak biasa di Selayar ini, sebagaimana yang terlihat di buku tamu mereka.

Kafe ini juga menjadi tempat berbagi gagasan tentang program atau inisiatif pengabdian pada masyarakat dengan gaya informal. Para pionir dan simpatisan kafe ini mulai menapak rencana-rencana mulia, pada konservasi lingkungan, bakti sosial dan promosi perlindungan sumberdaya alam pesisir dan laut.

Cawi, salah seorang aktivis konservasi terumbu karang yang selalu hadir di kafe ini, berharap semakin banyak pertemuan, interaksi dan gagasan pelestarian pesisir dan laut yang berlangsung di kafe ini.

“Saya sudah dapat persetujuan dari owner untuk mengadakan diskusi atau pertukaran gagasan di kafe ini” katanya.

Saat saya menulis ini, empat orang tamu dari BPKP Jakarta sedang menikmati mie khas TB, dua orang staf Bappeda Selayar sedang negosiasi pembuatan film dokumenter pembangunan daerah. Dua lainnya maincatur dan ada lima pengunjung sedang browsing.

Saya salah satunya.