Kesan Setelah Tiga Hari di Atas Pinisi Bakti Nusa

20180827_144830
Di atas pinisi (dok: istimewa)

ANTARA tanggal 26 hingga 28 Agustus 2018, saya menjadi peserta layar uji coba sea sailing Pinisi Bakti Nusa. Meski saya telah wara-wiri dengan kapal serupa pinisi antara 25 groston hingga 150 groston dari Makassar ke Taka Bonerate, Selayar atau sebaliknya – antara tahun 1995-2003 – namun pinisi yang ini sungguh beda.

“Berbeda, karena punya 7 lapis layar, inimi aslinya pinisi,” begitu puja kawan saya Enal, volunteer dari Yayasan Makassar Skalia terhadap pinisi yang kami tumpangi bersama.

Jadi begini.

Perahu pinisi berbobot 50 groston itu terlihat bersih, memang sedang disiapkan sebagai wahana menjalankan Ekspedisi Pinisi Bakti Nusa.  Bisa disebut, nyaris siap 100% untuk bisa memenuhi harapan pengurus Ikatan Sarjana Kelautan Indonesia (ISKINDO) dan Yayasan Makassar Skalia (YMS). Harapan untuk melayari lautan Nusantara, dan menyinggahi 74 titik pesisir dan pulau selama 9 bulan penuh.

Singkat kata, Pinisi Bakti Nusa siap mengemban harapan.

Palka telah dicat. Buritan juga demikian. Kombinasinya merah dan putih. Di dek, radio komunikasi Single Side Band SSB dan FM juga sudah terpasang. Demikian pula GPS. Di sisi kanan dek, sebuah meja kerja juga tersedia. Tempat yang bagus untuk bekerja atau menulis.

Di palka, sebuah meja yang dibungkus peta lokasi juga telah sedia. Dikelilingi bangku panjang warna putih yang juga berfungsi sebagai penyimpan puluhan life jacket.  Itu adalah wahana yang bagus untuk duduk bercengkerama, berbagi pandangan dan temuan, juga pengalaman. Sangat pas untuk merefleksikan substansi dan agenda ekspedisi.

Di ruang dapur dan meja makan seluruh perkakas masak dan makan juga telah ditata.

Dua orang koki asal Tanah Mandar terlihat sigap melayani kebutuhan konsumsi selama pelayaran. Demikian pula ruang kamar mandi berikut toiletnya. Di belakang, sebuah tempat duduk santai juga tersedia. Ini tempat yang bagus untuk melepas tali pancing.

Di atas atap terhampar wahana untuk bersantai dan sangat bagus untuk menikmati sunrise dan sunset. Jangan lupa menyeduh kopi atau teh dan boyong ke atas. Layaknya untuk sebuah pelayaran jauh, pinisi berbenah dan mencoba memenuhi harapan kru dan penumpang yang akan menggunakannya.

Penilaian di atas, saya dasarkan pada fakta dan situasi Pinisi Bakti Nusa. Pinisi yang dibangun tahun 2015 ini terlihat anggun untuk melayari sisi timur dan barat Indonesia.

Pinisi Bakti Nusa (dok: istimewa)

***

KEUNGGULAN perahu pinisi sebagai salah satu kreasi kebudayaan maritim masyarakat Sulawesi Selatan telah terbukti sejak lama. Terkenal di seluruh dunia karena bentuknya nan menawan, elegan, dan multifungsi, baik sebagai alat transportasi maupun sebagai wahana riset, rekreasi atau edukasi. Muhibah bersejarah pinisi lintas benua hingga ke Vancouver, Kanada dan Amerika Serikat di tahun 80-an adalah salah satu buktinya.

Demi melanggengkan keunggulan tersebut, Ikatan Sarjana Kelautan Indonesia (ISKINDO) bersama Yayasan Makassar Skalia (YMS) menyiapkan ‘Pinisi Bakti Nusa (PBN)’, nama perahu pinisi sekaligus program pengabdian pada masyarakat dan lingkungan di pesisir dan pulau-pulau Nusantara.

PBN dibangun di Makassar dan dimodifikasi di tanah leluhurnya Bira pada tahun 2015. Adalah seorang putra Bulukumba, Sulawesi Selatan bernama Haji Ariawan sebagai kreatornya. Awalnya diberi nama Pinisi Pusaka sebelum berganti menjadi Pinisi Bakti Nusa.

PBN adalah juga event mulia, tentang pentingnya menghubungkan kekuatan pulau-pulau Nusantara melalui ekspedisi. Tak hanya di Sulawesi, ekspedisi direncanakan akan mengarungi laut Nusantara, dari Timur ke Barat dan berlabuh di 74 titik strategis.

“Selain itu, targetnya lainnya adalah 10 taman nasional laut, 10 kawasan konservasi laut, lima sentra kelautan dan perikanan, 10 pulau terluar, lima destinasi wisata unggulan dan sejumlah spot penyelaman,” kata Muh. Abdi Suhufan, ketua Harian ISKINDO yang juga koordinator misi ini.

“Di tempat-tempat itu akan dilaksanakan riset terkait potensi dan isu kelautan,” katanya.

Sea Sailing Trial atau pelayaran uji coba ekspedisi Pinisi Bakti Nusa yang saya ikut bersama Enal dan beberapa orang lainnya, bertujuan mendapatkan gambaran kelayakan, situasi lapangan dan kesiapan personil ekspedisi. Memastikan semua unsur, pelaku, kru, volunteer memahami prosedur pelayaran dan tujuan pelayaran.

Pemandangan di atas pinisi (dok: istimewa)

Selama uji coba saya juga merekam suasana pulau.  Di Pulau Bontosua terekam geliat sejarah pulau, sejarah sosial ekonomi, kebudayaan maritim dan tantangan yang mereka hadapi dari waktu ke waktu.  Tentang dimensi kesehatan, pendidikan, mata pencaharian, daya tahan dan cara warga menyiasati keterbatasan sumber daya pulau.

Demikian pula relasi antara komunitas nelayan dan nelayan lainnya. Di Bontosua ada heroisme warga bernama Pak Ridwan yang selalu gigih memperjuangkan perlawanan pada pelaku illegal fishing. Juga peluang budidaya mutiara yang bernilai jutaan rupiah.

Tim yang ikut juga mendokumentasikan kondisi perahu pinisi, sistem kerja, kenavigasian, ragam keindahan pesisir, laut dan pesona bawah air hingga kerja-kerja lapangan seperti observasi, wawancara dan panggung maritim dan hiburan ke warga pesisir dan pulau-pulau. Harapannya agar bisa menjadi panduan di ekspedisi berikutnya.

Pada misi itu saya hanya sampai tanggal 28 sore, dan bergegas balik ke Makassar via Pare-Pare. Meski tak sampai tanggal 31 Agustus 2018, atau berkunjung ke Pulau Kapoposang di Pangkep namun secara umum saya puas dengan misi uji coba itu. Tsah!

 

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.