Blunder ‘Berantem’ dan Ibu Kemenangan

Saya membayangkan Presiden yang kita cintai berkata, “Kelahilah dengan dirimu sendiri, kelahilah kemalasan, demi prestasi di Asian Games. Kelahilah dirimu sendiri sebab membangun bangsa harus dimulai dari penaklukan diri sendiri, bukan yang lain.”

Dia menegaskan bahwa kegagalan para pemimpin selalu bermula dari pilihan tindakan yang keliru, yang menanggapi penghakiman verbal dan sinisme dengan kekerasan fisik.

Bahwa kegagalan berbangsa bisa bermula dari ketakutan yang berlebih pada tindakan unsur lainnya sehingga kita sebagai bangsa menjadi sangat tidak kreatif. Anak bangsa menjadi kehilangan akal sehat.

“Membangun Indonesia membutuhkan kesadaran internal, kesadaran membaca kapasitas diri. Jangan salahkan pihak lain tapi berilah contoh sebagaimana Rasulullah yang rumahnya dilempari kotoran kemudian yang melempar balik insyaf karena terbius akhlakul karimah.”

***

Saya membayangkan kalimat lanjutan itu yang disawer ke simpatisannya.

Tapi mungkin Presiden kita teramat toleran dan berharap sokongan pada yang matanya yang memang nanar kuasa, pada yang gesit berotot, pada yang sangar dan kelewat jumawa, pada yang mengandalkan kekuatan purba ketimbang proyeksi futuristik hati nurani.

Kita sudah lama setuju gerakan perubahan mindset membaca konteks atau mindsight yang jauh ke depan, tentang revolusi mental, Nawa Cita, Poros Maritim, sebab mulia dan memang harus digelorakan dengan sungguh-sungguh.

Namun tidak dengan pasang kuda-kuda dan siap melabrak atau menendang siapapun, bukan? Apalagi atas nama kekuasaan periodik, lima tahunan bernama Pemilu belaka.

Tapi begitulah, kita akhirnya menyadari saat sampai di dermaga kesimpulan, bahwa pemimpin yang kita pilih dari palagan pemilihan umum yang penuh onak dan korban itu adalah juga proses dan tanggung jawab kita mengarahkan ‘pembentukan hasrat kuasa berkelanjutan’. Tanpa sadar kita digiring ke medan percekcokan.

Tak ada lagi kesan orang biasa, lugu dan sederhana, bertangan peduli, seperti yang kita idamkan, elus dan bangga-banggakan yang menawarkan ‘laut teduh pelayaran’ tetapi dia yang sedia ‘open front’. Padahal, dalam harapan, petani, nelayan, pedagang, warga biasa, mahasiswa, semuanya akan mafhum, bahwa kekerasan tak pernah menyelesaikan persolan.

Oleh sebab itu, ini aneh ketika katakanlah, kampus-kampus (terutama di Timur) sudah lama menyarungkan amarah. Mereka – saya merasa – telah tercerahkan dan kembali ke meja pembelajaran dengan tertib dan menjauhi tawuran. Tiada lagi konflik, tiada lagi sengketa.

Orang-orang memang telah semakin sadar, mereka sadar bahwa itu bukan bagian dari ranah akademik, bukan bagian dari membentuk karakter bangsa.

Karakter akademik dan ketangguhan bangsa tidak bisa dibentuk hanya saat jam kuliah atau saat berada di kampus Dia harus 24 jam online menjalarkan fungsi kesadaran ilmiah berbasis kebenaran dan kebersahajaan tanpa instrumen kekerasan.

Saya yakin anda bukan tukang kelahi atau berantem, itu terlihat dari gaya rambut gel yang licin itu, anda bukan tukang onar sebab sepatu anda mahal. Anda bukan petarung sebab tangan anda halus.

***

Saya juga. Saya bukan pekelahi, tidak suka berantem dan bukan pula penyerang.

Perkelahian terakhir saya di kala SMP di kampung halaman, kala main bola dan saat itu saya terpeleset dan siap diterjang lawan.

Saya sudah pasrah dan siap babak belur tetapi beberapa teman sepermainan datang membantu, bukan menambah persoalan tetapi melerai. Menasehati bahwa besok kita main bola lagi, berkelahi berarti tidak ada permainan bola lagi. Lawan dari kampung sebelah akan mengakuisisi lapangan ‘sawah’ kami.

Lalu ketika mendengar Bapak Presiden memasukkan kata berantem dalam sambutannya. Saya berpikir ini blunder besar dalam memilih diksi. Blunder seorang bapak bangsa ketika dia sendiri sedang di bawah bayang-bayang kuasa dan sikap partisan. Yah, kala berhasrat maju sebagai Presiden untuk kedua kalinya.

Tiba-tiba saya membayangkan arus balik Donald Trump yang menggamit Presiden Korut, musuh bebuyutannya. Mereka terlihat akur dan saling cuil.

Tiba-tiba saya membayangkan Tante Neno yang disorak-soraki. Perempuan tangguh yang memperjuangkan hati nuraninya dan tak melabrak sana-sini setelahnya.

Sebab di pikirannya, diam adalah emas, sabar adalah ibu kemenangan.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.