Bisnis Ikan Junaedi

Junaedi (Bertopi)

Kota Makassar punya 11 pulau yang membentang dari arah selatan ke utara. Salah satunya Pulau Lumu Lumu. Pulau terletak di barat pulau Barrang Caddi, Makassar. Jika Barrang Caddi terlihat dari pantai Losari, maka Lumu-Lumu, tidak. Dia ditempuh satu jam tigapuluh menit atau bahkan lebih dengan perahu biasa (jollorok). Kedua pulau ini masuk sebagai satu kelurahan dalam wilayah administrasi kecamatan Ujung Tanah.

***

Pada satu sore di Pulau Barrang Lompo, Makassar saya bertemu warga asal Pulau Lumu Lumu itu. Namanya Junaedi. Dia tidak ingat persis tanggla lahirnya. Tahunnya pun tidak pasti, tapi dia bilang lebih tiga puluh tahun. “Saya tidak ingat tahun lahirku, tapi adami tiga-puluhan,” Katanya dengan senyum lebar.

Junaedi saat ini mengelola usaha ikan hidup. Dia membeli ikan dari para pemancing di pulau itu dengan menyimpannya di keramba sebelum dibawa ke pengumpul di Makassar. Dia mempunyai nelayan pencari sebanyak 22 orang.

“Mereka menjual ikannya ke saya. Banyak dari mereka yang butuh modal awal untuk beli pancing, kawat pancing dan kebutuhan operasional lainnya” kata Junaedi. “Usaha ini merupakan pekerjaan turunan dari bapak. Awalnya saya bermodalkan Rp. 300ribu,” Kata Junaedi yang sejak tambat SD telah melaut bersama orang tuanya. Dia hanya berijazah SD.

Dia bersaudara sembilan orang, satu meninggal. Junaedi anak ke-5. Bapaknya bernama Ma’ing, berasal dari Pulau Kapoposang. “Bapak lahir dan besar di Segeri, Pangkep, sedangkan ibu berasal dari Pulau Kodingareng,” Kata Junaedi yang punya empat orang anak. Saat saya tanyakan umur anaknya dia tertawa. “Anak saya lahir hampir tiap tahun.

Anak pertama saya meninggal karena demam biasa. Dia meninggal setelah turun mandi-mandi di laut dan saat ke rumah langsung demam,” Katanya. “Orang pulau bilang anak saya kena perangkap roh halus alau kajakkallangi,” Katanya. “Sebenarnya ada bidan tapi anak saya tidak bisa tertolong saat itu. Matanya naik,” Kata Junaedi dengan tenang.

***

Junaedi punya satu perahu berbobot satu ton. Dia tinggal dengan mertuanya di Lumu-Lumu. Junaedi mengaku ikan-ikan di kerambanya pernah dicuri orang. Tidak tanggung-tanggung hingga empat kali. Dia rugi hingga puluhan juta. Sebagai simpul dari 22 anggota nelayan, Junaedi memfasilitasi anggotanya ini kebutuhan operasional.

“Mereka punya perahu dengan mesin, saya hanya membantu membelikan kawat, pancing, tali nilon, karet, untuk alat pancing khusus. Jika ada hasil dari melaut mereka bawa ke saya,” Katanya.

Saat saya tanya berapa ikan yang dijual hari ini ke Makassar dia mengaku mendapat uang Rp. 3,872.000,- . Dia menjualnya ke Haji Said. “Tadi siang saya bawa ikan hidup dengan berat 10 kilo. Ikan ini dipunyai oleh 10 orang anggota. Sedangkan ikan mati sebanyak 20 kilo.,” Akunya. Sebelumnya, dia mengaku peroleh Rp. 4 Juta.

Selama hampir sebulan ini dia sudah mengantar ikan ke Makassar sebanyak 10 kali. Dengan harga ikan sunu (kerapu) mendekati Rp. 420 ribu perkilo, dan ikan sunu hitam mendekati Rp. 170ribu maka diperkirakan telah puluhan juta uang yang dia bawa dari Makassar ke pulau Lumu-Lumu.

Walau begitu, Junaedi menunjukkan minatnya untuk tetap mengembangkan kapasitas usahanya. “Kami terbuka dengan pihak luar untuk bekerjasama baik seperti Dinas Kelautan dan Perikanan atau pun investor, paling tidak membantu modal usaha karena semakin banyak nelayan yang butuh peralatan melaut,” Katanya menutup perbincangan kami.

Advertisements

Haji Dahrin, Kapalnya Pernah Dibakar di Australia

KM Novitasari sedang sandar di Dermaga Barrang Lompo

Garis hidup manusia tidak selalu linier, sesekali menyimpang dari arah yang semestinya dilalui. Suatu waktu penuh canda, riang penuh gelak tawa namun pada waktu tertentu dia suram, perih bahkan nyaris buat putus asa. Tapi bagi Haji Dahrin, hidup adalah ruang yang mesti selalu disiasati supaya memberi manfaat mutualistik, pada diri dan sekitar.

Haji Dahrin (43 tahun), sosok terkenal dan telah banyak makan garam kehidupan pesisir dari Pulau Barrang Lompo, pulau yang konon sangat ‘kota’ dibanding 11 pulau lainnya dalam wilayah administrasi Metro Makassar, Sulawesi Selatan.

Jika pernah berkunjung ke dermaga rakyat Kayu Bangkoa, yang terletak antara Hotel MGH dan Pantai Gapura di Makassar pada pukul 8 pagi hingga pukul 11 siang maka kita akan jumpai satu kapal penumpang antar pulau bercat putih, dengan tulisan “Novitasari – Barrang Lompo Express”. Inilah kapal paling besar yang melayani rute Makassar – Barrang Lompo setiap hari mililk Haji Dahrin.

***

Tidak banyak yang tahu jika sosok pengusaha top di Pulau Barrang Lompo, Kota Makassar, Sulawesi Selatan ini adalah lelaki kelahiran Mare’ di Kabupaten Bone. Orang tua Haji Dahrin berdarah Bugis Bone sedangkan ayahnya kelahiran Sinjai Utara. Dua-duanya Bugis. Dahrin bersaudara enam orang.

Dahrin kecil lahir di pesisir Mare, merupakan kampung yang saat ini masih disesaki pohon bakau. “Hampir sekali setahun saya ke Bone menjenguk ibu di sana, kalau ayah sudah meninggal,” kata Haji Dahrin yang saya temui saat perjalanan pulang dari Pulau Barrang Lompo pada tanggal 6 Nopember 2010. Saya menumpang di atas kapal yang dinakhodainya bersama 30an penumpang lainnya. Asal nama KMP Novitasari diambil dari nama anak ketiganya.

Tahun 1997 saat saya terakhir kali datang ke Barrang Lompo, kapal penumpang terbesar adalah milik Daeng Dullah (almarhum) dari tiga kapal yang melayani rute Barrang-Makassar saban hari. Namun saat sampai di Dermaga Kayu Bangkoa pada hari Jumat sebelumnya (5/10/2010), saya terkesima pada kapal milik Haji Dahrin, yang mempunyai jumlah kursi panjang untuk penumpang hingga 26 baris.

“Sesuai peruntukannya kapal ini bisa menampung 150-200an penumpang,” Kata Haji Dahrin.

Apa yang digeluti Haji Dahrin saat ini merupakan hasil dari usaha lain yang pernah digeluti jauh sebelumnya. Kapal penumpang ini awalnya adalah kapal pengangkut kayu. “Saya menggunakannya untuk muat kayu, sebelumnya saya beli kapal ini dari wilayah Pangkep senilai Rp. 75 Juta. Setelah usaha muat kayu tidak lagi menarik, saya beralih ke usaha jual beli ikan hidup dan bermitra dengan Perusahaan Bintang Timur di Makassar,” Kata Haji Dahrin. “Untuk menjadi kapal penumpang seperti ini saya keluarkan dana hingga 200 Juta,” Kata Dahrin yang telah menetap 20 tahun di Pulau Barrang.

Rupanya, sebelum beralih ke usaha kayu dan ikan hidup, tahun 90an awal Haji Dahrin adalah pencari teripang hingga perairan Australia. “Sebenarnya saya lebih lama menggeluti usaha teripang, hingga 12 tahun,” Ungkapnya.

Dia mengakui bahwa dia adalah salah satu nelayan yang kapalnya pernah dibakar oleh aparat pemerintah Australia pada tahun 1993. “Saya pernah ditangkap di wilayah Brom, Australia, kapal kami di Bakar. Namun kita protes karena mereka membakar kapal sementara bendera Indonesia masih berkibar di atas kapal,” kenang Haji Dahrin yang berhenti mencari teripang sejak tahun itu. Karena kasus itu, menurut Haji Dahrin, beberapa orang di Jakarta membalas perlakuan Australia tersebut dengan membakar bendera Australia.

“Saat itu sekitar 160 kapal dibakar. Ada kapal dari Kalimantan, Nusatenggara dan Sulawesi,” Terangnya. Kapal terbakar dan Dahrin muda dipulangkan ke Barrang Lompo tanpa membawa hasil, rupanya tidak memadamkan semangat bisnisnya.

“Saya mulai berlayar dan terlibat usaha perikanan saat baru tamat SMP. Ada banyak pengalaman dan pelajaran dari usaha perikanan. Sedangkan usaha kapal penumpang ini sudah dimulai sejak lima tahun lalu dengan melayani penumpang antar pulau. Bahkan banyak pihak yang tertarik menyewanya untuk keperluan penelitian dan survey bawah laut maupun pariwisata penyelaman,” Katanya. Menurutnya, bulan lalu KM Novitasari miliknya disewa oleh POSSI Sulawesi Selatan untuk kunjungan selama hari ke Festival Taka Bonerate di Selayar.

“Saat itu kami memuat empat puluh orang dan membawa tabung scuba sebanyak 70 unit. Kapal ini dapat mencapai kawasan Taka Bonerate di Selayar menempuh waktu 5 Jam,” Katanya bersemangat tentang kapalnya yang berbobot 40 GT.

“Tanggal 23 Nopember 2010 ini sudah ada permintaan dari LIPI untuk menyewa kapal ini menuju Kalu-Kalukuang dan Masalima (Kalmas) untuk penelitian,” Ungkap Haji Dahrin yang telah pernah menyambangi Kepulauan Wakatobi di Sulawesi Tenggara, Kepulauan Togian dan Tomini di Sulawesi Tengah untuk mencari teripang hingga Gorontalo. Saat saya tanyakan berapa pemasukan perhari usaha pengangkutan rute Makassar-Barrang Lompo ini Haji Dahrin mengaku relatif. Dia memberi tarif Rp. 10ribu perpenumpang sekali jalan. Dia beri bocoran bahwa kemarin (tanggal 5/11/2010) kapalnya memuat 50 penumpang, jika perorang bayar Rp. 10ribu maka dia dapat kotor Rp. 500,000, dari Makassar.

“Tergantung waktu juga, kalau saat Ramadhan lalu bahkan pernah dapat Rp. 2,5 Juta perhari. Sekali jalan dari Makassar ke Barrang Lompo kapal bermesin Mitsubishi ini menghabiskan 70 liter solar atau senilai duaratus ribu ini,” Ungkapnya. “Bagi yang hendak menyewa kapal ini kami mematok harga Rp. 2,5 Juta perhari, namun itu masih bisa dinegosiasikan tergantung lokasi yang dituju” Kata lelaki beristrikan wanita Barrang Lompo ini dengan senyum ramahnya. Mereka menikah tahun 1991 dan dikaruniai anak 4, dua laki-laki dan dua perempuan. Anak sulungnya telah sekolah SMA di Makassar. Yang bungsu masih berumur dua tahun.

Haji Dahrin, lelaki keturunan Bugis ini fasih berbahasa Makassar, dia adalah contoh pengusaha perikanan dan kelautan yang terus mengasah kemampuan bisnisnya. Tentu bukan perkara mudah di saat situasi ekonomi Indonesia yang semakin serba tak pasti ini. Tapi Haji Dahrin tentu punya daya tahan yang telah terbukti dari pengalamannya yang sangat panjang itu.

Dia berhasil sebagai pengusaha dan dia juga secara langsung telah membantu warga pulau dan kota untuk saling mengunjungi, silaturahmi dan berbagi pengalaman. Sungguminasa,

7/10/2010

Mengantar Jemaah Haji di Barrang Lompo

Warga Mengantar Calon Jemaah Haji

Pukul 13.30 tanggal 5 Nopember 2010 puluhan warga menyesaki ruas jalan Kampung Cina RW 2 hingga dermaga kelurahan Barrang Lompo (Barlop), Kota Makassar. Mereka mengantar tiga calon jemaah yaitu, Sahaka, Nanni dan Rasna yang akan berkunjung ke baitullah.

Sebagaimana lazimnya jamaah dari pulau, mereka akan menumpangi kapal untuk sampai di Kota Makassar. Menurut Amma Mima, “sampai hari ini, sudah ada sembilan warga yang berangkat ke seberang,”. Nanti akan menyusul empat orang lagi.

Walau panas terik, suasana dermaga penuh sesak oleh para pengantar yang bersukacita. Ketiga calon jamaah dengan tenang menaiki perahu, warga melambaikan tangan. Beberapa dari mereka bahkan ikut mengantar hingga ke Makassar. Perahu terlihat sarat, untung saja sebab cuaca sangat bersahabat. 

Barlop, 05112010