Geliat Alumni di Ranah Social Media

Ikatan Sarjana Kelautan Universitas Hasanuddin

Sejak akhir tahun lalu, lahir inisiatif bersama beberapa alumni untuk memperkuat interaksi mereka melalui berbagai ranah sosial semisal diskusi via blackberry messenger (BBM) dan Facebook. Lalu, dibuatlah group IKA ISLA  Unhas berbasis BBM. Saat ini membernya ada 30 orang.

Forum ini melengkapi group di Facebook yang telah rilis dua tahun lalu. Di Facebook, lebih dari 300 alumni Ilmu Kelautan menjadi anggota atau 35 persen dari jumlah alumni Kelautan Unhas yang telah mencapai 800 orang.

Diskusi di BBM melibatkan alumni dari berbagai kota seperti Makassar, Balikpapan, Jayapura, Ternate, Jakarta,  Anambas, Batam, Bau-Bau serta beberapa wilayah lainnya di Indonesia sangat menggairahkan setidaknya dari kobaran semangat menumbuhkembangkan sikap kritis pada issu Kelautan di Indonesia.

Ada hal yang menarik bahwa mereka, para anggota group BBM alumni itu merepresentasi pegawai negeri sipil (PNS), pengusaha, kontraktor, saintis (akademisi) hingga pekerja NGO. Bisa dibayangkan dinamika dan variasi diskusi dan kecenderungan muaranya: semangat menggebu untuk mengambil peran dalam pembangunan Kelautan nasional.

Bagi Ikatan Sarjana Kelautan Universitas (ISLA) upaya menggalang dukungan, memediasi alumni untuk ikut serta memikirkan arah dan strategi pembangunan Kelautan nasional, merupakan hal substantif dan harus terus digulirkan, sebab mungkin saja kelak akan lahir gagasan strategis demi efektifitas pengelolaan sumberdaya kelautan nasional yang memadukan gagasan multi latar belakang tersebut baik di pusat maupun kabupaten/kota pesisir di Indonesia.

Saat ini topik yang dibahas bergerak dari optimalisasi peran ISLA, penguatan kapasitas alumni, issu climate change atau global warming, kristalisasi perencanaan pembangunan nasional yang responsif issu lokal, optimasi fungsi Kementerian Kelautan dan Perikanan, koordinasi alumni antar provinsi dalam memperjuangkan semangat kelautan termasuk di dalamnya cetak biru pembangunan Kelautan nasional jangka panjang hingga strategi pengembangan keswadayaan untuk memperjuangkan kemandirian lokal.

Anda tertarik untuk gabung? Sila kontak group di Facebook dan BBM pengurus.

Salam KLAners…

Advertisements

Ayo Semarakkan "Indonesia, Pray for Japan" di Gedung Mulo, Makassar

Sejak Juli 2008, saya bekerja untuk satu proyek yang melibatkan beberapa konsultan asal Jepang. Wajar karena proyek merupakan kerjasama antar Pemerintah Indonesia dan Pemerintah Jepang sehingga mereka juga urun di proyek itu. Di proyek yang mengurusi strategi pengembangan kapasitas stakeholder pembangunan daerah se-Sulawesi terdapat empat warga Jepang.

Mereka sangat Indonesia, selain berpengalaman dan memahami situasi pembangunan daerah di Indonesia mereka juga tangkas berbahasa Indonesia. Saya berinteraksi, belajar, menyerap dan mencecap hal baik tentang nilai luhur sejarah kebudayaan mereka dan tentu saja komitmen atas pekerjaan yang digeluti. Semua orang tahu bahwa budaya kerja Jepang adalah kaizen, satu budaya kerja yang totalitas pada pencapaian tujuan yang berdasar pada kolektifitas. Saya belajar banyak hal terkait spirit kerja yang sangat positif.

Sebagai pekerja LSM yang bergelut dengan pasang surut perilaku di organisasi yang konon dikenal “rentan tak disiplin” itu, saya merasakan nuansa yang sangat berbeda dan menginspirasi. Konsistensi dan dedikasi pada pekerjaan adalah dua hal yang berbeda dan saya nikmati selama bekerja dengan mereka.

***

Bersama dua orang dari mereka kami ada di Kendari, Sulawesi Tenggara dari tanggal 14-18 Maret saat orang-orang sejagad mengarahkan pandangan pada belahan utara Jepang, yang sedang diterjang tsunami. Terhebat sepanjang sejarah. Keluarga keempat sahabat kami itu baik-baik saja karena masih jauh dari pusat bencana di Miyagi.

“Terima kasih atas dukungannya, keluarga kami baik-baik saja. Rumah keluarga ada di bagian barat” ujar salah seorang dari mereka. Tiada raut kesedihan di wajahnya. Padahal kampungnya tidak jauh dari pantai. Bukan hanya mereka. Tiga orang yang pernah berkunjung ke Makassar juga memberi kabar melalui akun Facebook dan Twitter mereka bahwa mereka baik-baik saja.

“Kamal san (maksudnya Kamaruddin), all my friends, family and I are fine. thank you for your warmest comments. Although we do not have enough food and electricity, we gonna be fine soon, i hope” kata Noriko Seto dari Tokyo.

Keluarganya baik-baik saja walau makanan dan listirk sangat terbatas. Pesan ini menyiratkan perjuangan dan kekuatan. Tentu saja sangat banyak orang yang menunjukkan kepedulian pada negeri yang baru saja kehilangan 7ribuan jiwa warganya. Ribuan jiwa lainnya masih belum ditemukan. Negeri itu menderita kerugian trilliunan rupiah.

Kata tsunami yang terkenal itu adalah bahasa Jepang. Sebagaimana Jepang, Indonesia juga berada di jalur gempa dan rasanya memang harus mengadopsi budaya a la Jepang dalam menghadapi tantangan alam dahsyat tersebut. Pengalaman gempa bumi dan tsunami Aceh Nias menjadi contoh betapa cara negeri kita menghadapi bencana sangat berbeda dengan Negeri Sakura tersebut. Mereka lebih tangguh dan cekatan dalam menyikapi dampak bencana.

Menggalang Dukungan

Dalam beberapa catatan, Indonesia punya hubungan sosial budaya dan perdagangan yang panjang dengan Jepang. Dan karena hubungan itu maka esensi simbiosis mutualisme dalam artian sesungguhnya rasanya layak ditunjukkan. “Bahagia Bersama, Bangun Bersama”.

Kota Makassar yang telah menjalin hubungan sosial ekonomi yang relatif panjang dengan Jepang, semisal pada bidang teknologi, industri pertanian, perikanan dan hasil bumi lainnya sejak puluhan tahun silam itu tidak mau tinggal diam. Beragam komunitas, organisasi dan perkumpulan profesi menggelar ajang peduli bagi masyarakat korban bencana tsunami Jepang.

Salah satunya adalah dengan menggelar “Indonesia,Pray for Japan”, acara amal untuk menunjukan simpati dan solidaritas kepada para korban bencana pasca gempa dan tsunami di Jepang. Acara ini akan berlangsung pada tanggal 27 Maret 2011 di Gedung MULO, Jl. Jend. Sudirman, Makassar. Acara digelar mulai pukul 09.00 ini akan berakhir pada jam 18.00 wita.

Ada pun jenis kegiatan yang digelar adalah penjualan merchandise INDONESIA ‘Pray for Japan’, Tanabata, pemasangan ‘peace messege’, Flea Market (barang bekas layak pakai), Bazaar makanan Jepang dan umum, pembuatan ‘EMA’, plakat kayu berisi do’a-do’a, penjualan pernak-pernik vlanel, bertema Jepang, pameran photography dan berbagai pertunjukan tari, lagu, teaterikal, puisi, yukata show, cosplay serta yang tidak kalah pentingnya adalah Donor darah dan pelatihan CPR (Cardio Pulmonary Resuscitation).

Sebagai bagian dari komunitas dan pemerhati relasi mutualisme dengan negeri Sakura itu, rasanya kita, facebooker, blogger dan segenap warga Makassar dan sekitarnya layak mendukung acara yang diprakarsai oleh organisasi PERSADA (Persatuan Alumni dari Jepang) dan AMDA (Association Medical Doctors of Asia) dan didukung oleh Nihonjin-Kai (Masyarakat Jepang yang berdomisili di indonesia), komunitas pencinta Jepang, dan organisasi kemasyarakatan lainnya.

Datang yuuuk…

Macet Makassar

Makassar (foto: Panyingkul/Istimewa)

Makassar, kota metropolitan itu dari hari ke hari kian bersolek. Bangunan mewah menjulang bertambah, hiruk pikuk di jalanan, café, warkop, dan mal-mal jadi “running text” televisi kehidupan warga setiap hari. Tapi tiga bulan terakhir ini, sebagai pengguna jalan raya di Makassar, saya kira kota ini mulai larut dalam karut marut.

Banjir, macet, padat dan mulai kehilangan ciri budayanya yang santun. Macet di Jalan Sultan Alauddin hingga perbatasan Kota Makassar – Sungguminasa semakin kerap terjadi. Ketegangan antar warga kerap terjadi di jalan raya karena berdesakan, bunyi klakson yang tak ramah. Kota yang tidak lagi nyaman.

Saat pulang kantor jika biasanya hanya menempuh 30 menit kini sudah menghampiri satu jam. Anak saya yang biasanya bersiap diantar ke tempat kursus kerap protes karena telat pulang 30 menit. Penyebabnya beragam. Pada satu hari, ada mobil yang parkir di bahu jalan dan menghambut laju kendaraan dari barat kota, di hari lain ada demonstrasi mahasiswa, namun yang paling menyesakkan (ini yang paling sering) adalah jika ada pengendara yang hendak memotong jalan samping Lembaga Pemasyarakatan Masyarakat Gunungsari hingga macet ratusan meter. Kendaraan mesti bergerak seperti siput.

“Makassar sedang mencontoh kakak tertuanya, Jakarta yang mulai stroke. Dimana-mana macet, aliran darah ke jantung dan otak warganya mulai ngadat” kata seorang teman.

Betapa tidak, menurutnya saat ini banyak jalan utama di Makassar telah persis sama jalan utama di Jakarta yang selalu macet. Jalan Mesjid Raya, Urip, Perintis, Pettarani hingga Alauddin.  Jika ditilik lebih jauh maka ada beberapa pemicu semisal, warga bebas parkir kendaraan di bahu jalan, semakin banyaknya pedagang kaki lima di bahu jalan, dan yang pasti semakin banyaknya kendaraan roda dua dan roda empat yang menyesaki jalan. Kondisi ini perparah oleh tidak adanya konsistensi kebijakan dan lemahnya penegakan aturan tata kota, termasuk pelebaran jalan.

“Di Jepang, seseorang yang hendak beli mobil tidak akan diluluskan pembeliannya jika tidak punya tempat parkir. Harus ada surat keterangan bahwa dia punya tempat parkir,” Kata teman itu. “Orang-orang yang hendak menyewakan rumahnya tidak akan membiarkan calon penyewa jika dia punya mobil sementara rumah itu tidak ada tempat parkir,” Katanya lagi memberi contoh. Membatasi kendaraan di jalan raya rasanya sudah harus dipikirkan.

“Boro boro membatasi, saat ini demi prestise warga semakin tergila-gila pada mobil rakasasa, mahal dan boros BBM,” Kata seorang teman.

Di Jepang, ada konsistensi penegakan aturan, polisi dan pejabat berwenang selalu ada saat dibutuhkan warga, mereka ramah dan akrab dengan warga. Mereka sigap jika melihat ada ketimpangan dan kemacetan di jalan. Ah kalau di Indonesia. Makassar dan di sekitar kita, yang banyak hanya polisi dan politisi diam. Tuh banyak poster politisi yang menyesaki jalan-jalan kota. Bisu dalam siraman hujan dan terik menyengat.