Sosok Langka, Deniek G. Sukarya

Deniek menunjukkan kamera Sony-nya yang wah!

Kenal Deniek G. Sukarya? Jika mengaku fotografer maka rasanya belum lengkap jika belum mengenal sosok yang langka ini. Lelaki kelahiran tahun 1954 ini telah berkeliling Indonesia sejak tahun 1977 untuk profesi yang ditekuninya sebagai fotografer. Dia fotografer kelas atas Indonesia.

Dia hadir di Makassar pada acara “Two Days for Photography” yang dibesut oleh UKM Seni dan Budaya Talas yang didukung oleh Tribun Timur, LA Lights, Davin Photography dan Elegant Photography. Fotografer, pengelana, penulis buku dengan penguasaan teknik fotografi yang sangat fantastik ini hadir sebagai salah satu pembicara utama dalam acara yang berlangsung dua hari itu.

***

Deniek lahir di pulau Dewata dan merupakan penulis buku “wajib” kenegaraan yang berjudul “Harmony in Diversity”. Ini salah satu master piece-nya yang kemudian menjadi milik pemerintah Indonesia untuk dibagikan ke beragam tamu kenegaraan.

“Buku ini menjadi cinderamata resmi pemerintah, a gift untuk tetamu negara”, kata Deniek. Proses kelahiran dan bagaimana buku ini menjadi pilihan pemerintah sangat menarik.

“Ini merupakan proyek kerjasama dengan Kalbe Farma, saat perayaan ulang tahun mereka. Salah satu gagasannya adalah bagaimana menceritakan Indonesia dengan segala kelebihannya di tengah deraan konflik dan krisis,”. Katanya mengurai.

“Awalnya pihak yang ingin memberi kata pengantar adalah Menteri Pariwisata Jero Wacik, namun oleh Deniek dianggap “biasa” saja. Dia ingin memperoleh sesuatu yang berbeda.

Pertemanannya dengan Dino P. Jalal, mantan juru bicara Presiden memberinya kesempatan untuk menyampaikan keinginannya agar SBY mau memberi kalimat pengantar.  Dalam tempo yang tidak terlalu lama, setelah SBY melihat isinya, foto Deniek dan konsep yang diusung buku ini maka jadilah berganti nama menjadi “representasi” Indonesia, “Harmony in Diversity”.

Deniek memperllihatkan bagaimana isi buku itu dimulai oleh nama SBY. “Sebagai buku negara, maka tidak boleh ada nama lain di halaman depan. Maka jadilah buku itu buku negara dimana hanya ada nama Presiden di situ sebagaimana aturan istana,” Kata Deniek.

Buku “Harmony in Diversity” yang dinarasikan dalam bahwa Inggris oleh Dr. Vivek R. Bammi, seorang Doktor dan guru di Sekolah International di Jakarta, dapat menjadi bukti bahwa sebenarnya Indonesia adalah negara dengan sejuta potensi dan daya tarik kebudayaan serta kemanusian. Buku ini lahir dari pengembaraannya mendokumentasikan keragaman budaya, alam dan toleransi sosial. Koleksi foto-foto di dalam buku itu sangat mengagumkan.

Buku lainnya adalah “Enchanted Mounts”, “Orang Biasa”, “The Poetry of Nature”,  dan “A Gift to The World”, sebagaimana yang Deniek paparkan di http://www.denieksukarya.com.

Sisi Humanis

Deniek mempunyai kedalaman apresiasi bagi budaya Indonesia. Sebagai orang Bali yang sangat “Indonesia” Deniek mempunyai minat yang dalam pada human interest, alam dan kepedulian sosial.

“Beberapa tahun silam kita masih menikmati senyum ramah dari warga, tapi kini saat berhadapan dengan tukang becak sekali pun, mukanya kerap kusut, susah”, katanya saat menceritakan perubahan sikap dan betapa semakin tertekannya suasana kebatinan masyarakat kita kali ini.

Selain menyukai human interest, Deniek menyukai alam. Deniek muda pernah tinggal di kaki gunung Merapi saat masih kuliah di Yogyakarta. “Saya sengaja pindah ke Kaliurang. Saya jatuh cinta pada gunung Merapi”,  katanya.

Saat mengisahkan bagaimana konsep buku “Indonesia In Harmony”, yang merupakan buku “wajib” yang diberikan oleh SBY ketika menerima tamu mancanegara. Konsep buku itu untuk menunjukkan ke berbagai pihak bahwa Indonesia memang negara yang kaya potensi sumberdaya alam dan sosial budaya.

“Buku ini menjawab semakin gencarnya pertentangan politik, demam demokrasi, apa-apa di demo, semua didemo, sepertinya rasa harmonis mulai hilang padahal Pancasila adalah kompromi. Kini, sedikit-dikit, orang mempertentangkan sistem liberal, islam dan lain-lain.

“Terkait tahapan dan teknis penyusunannya saya harus memikirkan bagaimana transformasinya, bagaimana menset harmoninya, bagaimana seleksi, kategori, dll,” Katanya ihwal buku Harmony in Diversity ini”

“Ada ribuan koleksi foto saya yang mesti diseleksi jadi seratus foto,” Katanya.

Masih Ada Yang Baik

Dalam perjalanannya ke berbagai belahan Indonesia sejak tahun 1977, dia masih menjumpai sikap santun dan bersahabat. Tapi itu lebih banyak di pelosok dan daerah kumuh.

“Masih ada warga yang tinggal di kumuh tapi ramah sekali, seperti saat saya berkunjung ke daerah Sunda Kelapa,” Katanya. “Teman Amerika saya sempat kuatir saat berkunjung ke daerah begitu namun kemudian dia memperoleh kesan baik, dia diterima warga dan jadinya akrab.

“Jadi tidak ada lagi pertanyaan, “ini alirannya apa?”, semua atas nama kemanusiaan.” katanya.

“Ada pengalaman menarik yang sempat direkamnya sebagai toleransi antar umat beragam sebagaimana terlihat di Kota Kudus.

“Mereka tidak makan sapi tetapi kerbau, demi menghargai orang Hindu “. Kata Deniek.

Banyak foto yang ditampilkan Deniek menunjukkan keagungan toleransi, keindahan geografis dan dapat menjadi bukti keindahan Indonesia. Beberapa fotonya malah diambil dari sekitar rumahnya.

“Saat memotret, saya nyaris tidak ada ide yang saya bawah dari rumah, apa yang saya rasa, saya renungkan atas nama kata hati,” ungkapnya.

“Saya berteman dengan Nek Roret di Toraja. Dan beliau pernah masuk majalah Garuda pada tahun 1995. Lalu nenek itu bercerita tentang dirinya di majalah. “Saya tidak bilang bahwa sayalah yang menulis tentangnya” Kata Deniek.

Deniek juga bercerita bagaimana pihak lain memberi bantuan atau perlindungan lebih baik dari pemerintah kita sendiri.

“Ada satu desa di pedalaman Kalimantan yang saat terjadi kebakaran hutan, justeru dibantu oleh salah satu LSM Internasional dan donor. Mereka dipindah dan diberi makanan selama beberapa waktu oleh pihak luar ini pada tahun 2002, padahal konon propinsi di sana kaya-kaya” Kata Deniek.

Bantuan oleh pihak luar kepada warga Dayak itu oleh Deniek membuatnya bertanya. “Kenapa mereka lebih dihargai orang luar, kalau pemerintah daerah miskin nda apa tapi ini kan kaya,” tanyanya soal perhatian pemerintah di Kalimantan itu.

***

Saat menjelaskan proses kreatifnya sebagai fotografer di depan peserta diskusi di Auditorium Al Amien, Unismuh, Deniek menunjukkan karya-karyanya yang fantastik seperti tampilan “penari pembuat tari pendet,  di tahun 1989, Nek Mirenek. Juga beragam candi eksotik seperti Prambanan, Borobudur,  Tana Toraja, Ponorogo, pengantin di pelaminan yang diambilnya di Sengkang, Wajo.

Di sela makan siang, dia bercerita betapa pentingnya mengutamakan kata hati, mata batin dan sisi kemanusiaan kita saat menulis atau mendokumentasikan sesuatu. “Gunakanlah hati nurani saat menyampaikan atau memaparkan sesuatu, termasuk memotret,” Itu pesannya, pesan yang jarang kita dengar lagi di tengah gencarnya komersialisasi dan pincangnya daya kreasi kemanusiaan kita.

Sungguminasa, 27/02/2011

Advertisements

Di Pantai Tulang, Penyu Rajin Bertelur

Penyu Sisik (sumber: wikipedia)

Telah banyak inisiatif untuk membatasi aktivitas penangkapan penyu laut dengan membangun pusat penangkaran serta penegakan regulasi undang-undang konservasi. Tapi di Selayar, ancaman penangkapan penyu dan pengambilan telur mereka marak dilakukan, setidaknya itu yang diakui warga pada beberapa tahun terakhir.

Informasi tersebut saya peroleh dari beberapa warga Kampung Tulang, Desa Barugaiyya, Selayar saat saya mampir dalam perjalanan menuju Kota Benteng, Selayar pada 19 Pebruari 2011. Desa berjarak sekitar 20 kilometer ke utara kota Benteng dan merupakan salah satu lokasi pelaksanaan program COREMAP Phase II, suatu upaya nasional dalam pelestarian ekosistem terumbu karang.

“Warga disini menyebut pakisi’ untuk penyu sisik, abbatti-battiki atau bersisik bintik,” Kata Datu, kepala dusun setempat. Menurutnya ada empat jenis penyu yang dia amati sejak masih sering berburu telur penyu pada rentang tahun 1997-1997. Telur yang diperoleh selama masa berburu dijual ke kota Benteng. Kerap pula dijual ke penjual ikan di pasar. Bahkan ada beberapa tokoh
masyarakat di Benteng yang membelinya.

“Selain penyu sisik saya juga melihat yang berbadan lonjong hitam,” Katanya. Dia perkirakan jumlah penyu yang naik bertelur di beranda gosong pasir Kampung Tanjung puluhan ekor. “Bahkan ratusan pak,” Katanya lagi.

“Saya pernah dapat telur sebanyak 90 biji,” Kata warga lain bernama Patta Juma. “Kalau saya pernah dapat 125 biji,” Sambung Patta Aring. “Kalau saya sudah banyak sekali. Jumlah penyu bisa mencapai puluhan ekor, saya sangat sering melihat mereka bergegas menggali pasir untuk meletakkan telur mereka di gusung pasir kampung” Kata Datu.

“Bulan munculnya penyu adalah antara bulan Mei-Juli. Paling banyak bulan Juli,” Katanya lagi. “Mereka naik hampir tiap malam, baik malam purnama mau pun gelap”, sambungnya. “Biasanya, pada bulan Juli warga sudah banyak yang menunggu dan berkerumun di sekitar pantai,” terangnya lagi.

Dusun Tulang, Desa Barugaiya adalah desa pesisir. Di sana, terdapat pantai sejauh 2 kilometer dan terdapat pula satu area sepanjang lima puluh meter gusung pasir membentang ke arah barat. “Di situlah penyu naik” Kata Datu.

Saat saya tanyakan selain mereka, siapa lagi yang pernah berburu telur penyu mereka menyebut nama-nama warga setempat seperti Daeng Ngali dan pak Agussalim. Namun mereka mengakui ancaman terbesar penyu itu adalah pemburu dari sekitar perairan Bali dan pulau-pulau dari wilayah Madura.

“Saat ini sudah ada yang menjaga kawasan itu walau sifatnya masih sukarela yaitu Daeng Ngaling, dia salah satu yang memantau kegiatan illegal fishing,” Kata Datu. “Dia pernah memotong tali jangkar pencari penyu yang ditengarai datang dari Pulau Sapuka dan Sanani,”

“Kami sudah banyak bukti bahwa masih banyak pemburu penyu dari wilayah lain. Mereka buang jangkar di depan kampung,” Biasanya mereka berdalih hanya menangkap ikan pari. Tapi kami curiga mereka memang mencari penyu, karena besarnya palka kapal mereka,” sambungnya.

Masih maraknya perburuan telur penyu ini m
emancing minat para pencinta konservasi di Selayar untuk mulai memikirkan usaha perlindungan kawasan itu. Mereka bahkan telah mengajak warga untuk mulai memikirkan adanya penangkaran dan proteksi wilayah bertelur itu.

Menurut Zul Regal Janwar, staf pada Dinas Kelautan dan Perikanan Selayar, bersama-sama dengan beberapa aktivis konservasi mereka pernah melepas tukik yang mereka peroleh dari penetasan telur penyu yang mereka beli di pasar.

“Salah satu upaya awal kami adalah melepas tukik (anak penyu) di wilayah Baloiyya demi menjamin keseimbangan ekologi dan kelestarian penyu ini,” Kata Regal.

“Kami membeli telur penyu dari pasar dan menetaskannya. Tukik itulah yang kami lepas sebagai bukti dukungan kami pada upaya konservasi penyu yang dilindungi undang-undang ini,” katanya

Samalona Part II: Keluarga Daeng Rurung Yang Bertahan

“Minumki’ pak, ” kata wanita paruh baya seraya meletakkan segelas kopi hitam. Dia ditemani suaminya. Saya menarik kursi, mendekatkan diri ke meja. Bersama belasan anggota komunitas blogger Anging Mammiri, Makassar kami berekreasi di Pulau Samalona, salah satu pulau favorit untuk berwisata pantai di Makassar.

Ini kali pertama saya menginjakkan kaki di pulau ini. Selama ini hanya melihatnya dari jauh saat lalu lalang dari dermaga Kayu Bangkoa ke Pulau Barrang Lompo, utamanya saat kuliah dulu antara tahun 1989-1995.

Pagi itu, walau musim barat di bulan Desember, kami datang ke pulau itu untuk menikmati suasana pantai dan melakukan snorkling di rataan terumbu sisi barat. Suasananya sangat nyaman. Saat kami datang cuaca sangat bersahabat.

Pulau yang berpenduduk 70 Jiwa ini, masuk dalam wilayah administrasi kelurahan Mariso. Sepasang suami-istri itu bagian dari keluarga yang mengaku pemilik sah pulau ini, sebagaimana tertulis di pintu gerbang saat kami merapat di pulau.

“Kakek kami adalah petugas keamanan saat masa penjajahan,” Kata Hamja Dg Rurung, 45 thn lelaki yang menemani saya pagi itu. Lelaki berperawakan kekar dan gondrong ini mempunyai nama yang persis sama dengan kakeknya, “Hamja Daeng Rurung”.

Daeng Rurung, lelaki yang beristrikan Daeng Pajja asal Pattallassang, Takalar ini adalah tokoh kunci di Samalona. Dia lulus SD di Barombong dan menjadi tulang punggung keluaga besar di Samalona ini. Dialah yang kerap mewakili warga pulau jika ada pertemuan terkait pengelolaan pulau ini.

Daeng Rurung bersama istrinya mengelola penginapan sendiri yang disewakan antara Rp. 200ribu sampai 300ribu tergantung negosiasi dan lama huni. Dia juga diminta mengelola satu bangunan berpendingin yang dibanderol Rp. 600ribu/malam milik salah seorang kontraktor di Makassar.

“Tarif itu dihitung saat masuk jam 10 dan keluar jam 10, esoknya” Kata istrinya mengenai penginapan bercat putih ukuran 6×12 meter di depan rumahnya. Tapi saat itu, rombongan kami memilih yang tarif 200ribu/paket. Satu rumah, lengkap dengan perabotan, kamar mandi dan ruang istirahat.

***

Saat beberapa kawan sedang menikmati snorkling dan foto pantai, saya bercengkerama dengan keluarga Daeng Rurung.

Menurut Daeng Rurung, saat ini masalah bagi pulau ini adalah semakin hebatnya abrasi pantai di sisi barat. Walau telah dibuat beberapa tanggul namun beberapa sisi lain pulau dirusak gelombang. “Ada satu lapangan bola yang telah terkikis, hiang tak ada lagi” kata Daeng Rurung galau.

Saat ini pulau Samalona, dimata Daeng Rurung adalah milik keluarga besarnya. Menurutnya, saat ini keluarga masih sangat kompak untuk tidak menjual atau memberikan lahan di pulau ini kepada pih
ak lain kecuali kerjasama pengelolaan. Sebagaimana penginapan bercat putih di depan rumahnya.

“Kami hidup dan mempertahankan generasi dengan mengelola penginapan ini. Kami berharap bapak bisa bantu promosikan penginapan kami. Paling tidak jika tertarik wisata pantai datanglah ke Samalona” Katanya

Belajar Manajemen, Menjawab Tren Perubahan

Bersama teman kelas konsentrasi "Manajemen Strategik" angkatan XXXI

“Ada tiga pekerjaan sangat prospektif saat ini: dokter, pengacara dan konsultan proyek,” kata Tadjuddin Parenta, dosen Fakultas Ekonomi UNHAS pada pertengahan tahun 90an. Menurut beliau, ini didasarkan pada perspektif nilai income dan kebutuhan pasar terhadap ketiganya. Alasannya, pertumbuhan penduduk dan dinamika sosial, pasti membutuhkan antisipasi dan solusi. Nah, ketiganya ini yang paling dibutuhkan.

Itu yang saya ingat dari interaksi dengan beliau saat kerap main tenis di lapangan tenis Kampus UNHAS Tamalanrea antara tahun 1993-1998. Diskusi di lapangan tenis itu akhirnya menyimpulkan bahwa pekerjaan apapun jika pekerja atau “alumni” tidak mampu beradaptasi dengan perkembangan zaman maka dia akan ketinggalan. Perubahan eksternal di ranah organisasi berkembang sedemikian pesat oleh karena itu dibutuhkan metodelogi untuk mengantisipasi setiap perubahan tersebut. Bangku pendidikan adalah jawabannya.

Di lapangan tenis itu pula saya sempat salaman dengan Taslim Arifin, Hamid Paddu, pak Yansor, pak Herry dan beberapa dosen ekonomi lainnya. Mereka menaruh minat bermain tenis walau tidak bertahan lama (hanya beberpa kali main dan berhenti). Dari perkenalan itu, diam-diam saya juga menaruh minat untuk belajar Ilmu Ekonomi. Membaca track record mereka dan mengaitkannya dengan relevansi fokus pekerjaan saya pada pengembangan kapasitas ekonomi masyarakat pesisir menjadi clue ketertarikan.

Tapi minat itu disimpan karena sejak tahun 1999-2008, atau sembilan tahun saya bekerja di luar di Makassar. Kesempatan untuk studi tak terpenuhi. Saya bekerja di Selayar, Luwu-Luwu Utara dan Aceh. Sejak gagal berangkat ke Bremen, tahun 2003 untuk mengikuti kursus pengelolaan pesisir, “Integrated Coastal Zone Management”, gairah untuk sekolah lagi nyaris padam. Namun saat kembali bekerja di Makassar pada pertengahan tahun 2008 untuk proyek pengembangan kapasitas pembangunan se-Sulawesi, gairah itu muncul lagi.

Belajar Manajemen

Kompetisi di bursa kerja membutuhkan kompetensi, yaitu relevansi pengetahuan, keterampilan dan konsistensi pada tujuan pekerjaan. Perpaduan antara pengalaman lapangan dan polesan metodelogi (empirik) merupakan kombinasi yang apik untuk kontributif dan efektif di berbagai ranah pengabdian.

Sekolah lagi rasanya menjadi niscaya. Itulah mengapa beberapa alumni memilih studi lanjutan di dalam negeri atau bahkan berburu beasiswa ke luar negeri demi alasan itu. Dengan bersekolah lagi, kapasitas individu menjadi semakin terasah dan siap menjawab tantangan pekerjaan atau situasi. Pada konteks ini, tentu beda, bagi yang bersekolah jika hanya mengejar gelar.

Awalnya sempat skeptis, karena saya merasa pendidikan S1 di Ilmu Kelautan tidak relevan untuk belajar Manajemen namun dorongan untuk mampu menganalisis “what-know-how-why” fenomena ekonomi di bangku kuliah begitu menggoda. Saya pun mesti menyiasati waktu kuliah dengan mengambil sesi Sabtu-Minggu. Nyaris tanpa alpa.

Belajar Sabtu-Minggu pun terasa mengasikkan karena beberapa teman menyiasatinya dengan mengisi waktu untuk menjalin keakraban; makan bareng, bernyanyi hingga rekreasi pantai. Menyenangkan punya banyak kawan dengan latar belakang pengalaman dan pekerjaan.

***

Sejak mulai belajar Ilmu Ekonomi di Kampus Magister Manajemen, Fakultas Ekonomi, Kandea antara tahun 2009-2010, saya menemukan ruang luas yang disiapkan oleh tenaga pengajar untuk reflektif pada pengalaman dari masing-masing mahasiswa melalui tugas dan diskusi kelas. Diskusi semakin fokus saat pindah dari semester 1-2 yang mengupas “Teori Ekonomi hingga Ekonomi terapan” ke ke semester tiga yang dikhususkan pada manajemen strategik, konsentrasi Keuangan dan SDM. Lebih elaboratif dan kasuistik.

Di sana, utamanya di kelas “Manajemen Strategik”, mahasiswa datang dari berbagai latar belakang seperti pegawai pemerintah propinsi, karyawan bank seperti BCA, Lippo, BPD Wajo, karyawan perusahaan seperti INCO, pegawai LAN, Bulog hingga Coca Cola. Beragam latar belakang ini merupakan sumber informasi yang sangat menarik untuk dielaborasi dan mengaitkannya dengan perspektif manajemen strategik. Ada refleksi, dialog dan analisis pada pengalaman masing-masing.

Dipandu oleh dosen berpengalaman yang eksis di berbagai institusi (internal dan eksternal kampus), alur studi menjadi begitu dinamis. Di kelas, mahasiswa bisa berdialog dengan dosen senior seperti Prof Basri Hasanuddin, Prof Burhamzah (almarhum), Prof Asdar, Prof Osman, Prof Otto, Prof Haerani dll serta dosen yang giat di berbagai bidang dan media seperti Prof Rahman Kadir, Prof Haris, Dr. Idrus Taba, Dr. Syarkawi Rauf, Dr. Ismail dan banyak lagi.

Begitulah, tulisan ini dimaksudkan untuk berbagi pengalaman pribadi dan dinamika selama mengikuti kelas Sabtu-Minggu, Magister Manajemen di Fakultas Ekonomi UNHAS sekaligus ajakan bagi kawan-kawan yang biasa bergelut di ranah pemberdayaan masyarakat (ekonomi – politik), seperti NGO dan pengelola bisnis skala kecil – menengah selain berguna untuk mengembangkan kemampuan analisis/metodologi atau riset ekonomi kontemporer juga sebagai upaya meningkatkan kapasitas personal dalam menjawab tren perubahan eksternal yang memang semakin sulit diprediksi.

Ayoooo, sekolah lagi…

Asdar Muis RMS, Penyair Langka

Asdar Muis RMS (foto dari FB beliau)

Dalam perjalanan kembali ke Makassar, 11 Pebruari 2011, saya mendengar lengkingan suara dari radio FM yang diputar saat mobil kami melewati jalan poros Barombong – Makassar.

Saya minta pak Nur, sopir di kantor yang menemani untuk membesarkan volume radio. Wah, suara dengan intonasi yang sangat tegas itu mengingatkan saya pada tahun 2005 saat kerja di Palopo, Sulawesi Selatan. Hampir tiap minggu, suara itu mengisi kolom udara dengan program siaran bertajuk “Kolom Udara Asdar RMS”.

Siang itu, enam tahun kemudian, suara itu kembali saya dengar di Makassar. Masih dengan tajuk yang sama, “Kolom Udara Asdar Muis RMS”. Apa yang menarik? Apa yang berbeda? Suara Asdar yang jelas, tegas dan tajam dengan ritme yang mengalun indah itu adalah daya tariknya. Sangat bertenaga dan berkarakter “Makassar”.

Saat itu, Asdar memulai puisinya (mungkin tepatnya, sajak) dengan tertawa terbahak-bahak. “Ha ha ha eh eh eh”, begitu bunyinya. Lalu kata satu persatu meluncur dari mulutnya. Dia meledek bagaimana banyak orang bicara demokrasi, tetapi menunjukkan prakteknya dengan memaksa.

Dia “mempuitisasi” beberapa kisah – pengalamannya, semisal, saat ada pertanyaan mahasiswa dalam satu seminar politik-kebudayaan, mengajak orang lain untuk Golput, tetapi menyampaikannya dengan tidak santun, bahkan membelakangi pembicara.”Bagaimana mungkin mahasiswa bicara demokrasi sementara kalian memaksakan kehendak?” Kata Asdar. Juga menyoal bagaimana keseharian kita dijejali banyak fakta miris tentang betapa tidak konsistennya kita bicara demokrasi.

Tentang, betapa pemaksaan pada aras grass root telah kasat mata dan mengancam sendi-sendi kehidupan kita.

“Bahkan tukang parkir pun, memaksakan kehendak dengan menentukan tarif parkir sesuka hatinya,” teriak Asdar garang. Mendengar suara dan pesan yang disampaikannya yang ditutup oleh kala penulisan sajak 19 Juli 2004, saya membaca konsistensi dan sikap kritis Asdar RMS pada geliat sosial dan dominasi politik yang berkelindan di segala sendi kehidupan warga. Dengan menggunakan media seperti radio, Asdar mengingatkan kita tentang betapa rentannya sendi kehidupan kita karena terjadi banyak inkonsistensi, borok politik, dan cacat sosial.

e-Procurement, Apa Itu?

Nama Arif Palallo mungkin tidak banyak yang kenal namun terkait implementasi e-Procurement di Luwu Utara, beliau yang paling mengetahui latar belakang dan tujuan peluncurannya. Arif adalah Kepala Dinas Kominfobudpar Luwu Utara yang bertanggung jawab atas kesuksesan e-Procurement, suatu mekanisme tender proyek yang menggunakan internet sebagai ruang penawaran proposal/paket.

Selama ini jamak kita ketahui bahwa mekanisme tender proyek di unit kerja pemerintah rentan disulut issu KKN, banyak kerabat Bupati atau Walikota yang mendapatkan proyek tanpa melewati mekanisme seleksi yang ketat. Yang ironi karena banyak pula pejabat kuasa pengguna anggaran (KPA) yang dipenjara karena melanggar mekanisme tender.

“Tapi di Luwu Utara, Bupati tetap ngotot untuk melanjutkan mekanisme ini,” Kata Arif menjelaskan kepada peserta diskusi “E-Procurement, Menutup Rapat Pintu KKN” di Kantor Yayasan Bakti, Makassar tanggal 11 Pebruari 2011.

“Upaya memberantas KKN, termasuk meloloskan konsep e-Procurement ini awalnya banyak yang tantang namun komitmen yang kuat dari Bupati, akhirnya jalan juga,” Katanya lagi. Benar saja, dengan adopsi mekanisme ini Pemkab Luwu Utara telah mengurangi biaya pelaksanaan tender dan tentu saja mengenyahkan peluang KKN.

“Semua peserta tender bebas menyampaikan penawaran tanpa ada tekanan. Semua transparan. Kini tidak ada lagi pejabat yang berperkara atau dipenjara sebagaimana pengalaman sebelumnnya. Dulu, ada saja tekanan dari kalangan tertentu, sehingga banyak kontraktor yang merasa terancam,” Kata Arif bangga.

Pemaparan Arif ini diperkuat oleh Andi Yani, dosen di Jurusan Administrasi Publik, Sospol UNHAS yang hadir sebagai pembicara kedua. Yani membenarkan apa yang ditempuh oleh Pemkab Luwu Utara itu merupakan contoh nyata penggunaan internet untuk pelayanan publik.

Menurut Andi Yani, secara umum ada signifikansi perkembangan internet di Asia walau Indonesia masih kalah dibanding negara seperti Vietnam. Yani mengingatkan bahwa saat ini Pemerintah di berbagai lini dan level mesti mengefektifkan internet sebagai ruang mendorong proses demokratisasi dan perbaikan layanan publik.

Menurutnya, saat ini masih banyak unit kerja pemerintah yang salah paham dengan fungsi internet terkait konsep e-Government. “Mereka pikir dengan menggunakan wifi, bisa berinternet, sudah mengadopsi e-Gov padahal hanya digunakan untuk “maffesbuk”,” katanya yang disambut tawa peserta diskusi. Menurutnya E-government, bisa mengarah ke Good Governance atau tata hubungan yang efektif antara masyarakat dan pemerintah jika pemerintah inovatif dalam memanfaatkan internet sebagai jendela pelayanan publik.

Penggunaan internet untuk proses tender di Luwu Utara, nampaknya sangat menarik dan bisa jadi contoh kabupaten/kota lain. Berani?

Mengejar Idola Hingga ke Belakang Stage

Bersama Sang Idola (Foto: Kamaruddin)
Saya dapat undangan hadiri pesta ulang tahun ke-7 Tribun Timur mewakili Ikatan Sarjana Kelautan Unhas (ISLA). Satu tahun terakhir ada beberapa berita kegiatan ISLA dan opini saya terkait issu Kelautan kontemporer mendapat tempat strategis di laman koran cetak populer ini. Koran yang terkoneksi ke perusahaan koran nasional Kompas ini.

Dalam ruangan, kami duduk di deret keempat dari depan. Bersama istri dan seorang kerabat bernama Amelia, kami mengambil posisi sebelah kiri. Di luar ruangan, pengunjung masih menikmati sajian makan malam yang disiapkan panitia. Waktu sudah pukul 19.40 saat kami masuk di ruangan pesta ulang tahun Tribun Timur, Jumat malam tanggal 11 Pebruari 2011. Saya mencoba mengambil jarak terdekat.

Ada agenda lain yang saya coba sisipkan; menyimak atau jika mungkin bersitatap dengan Pinkan Mambo, penyanyi idaman yang akan tampil di acara spektakuler tersebut. Ya Pinkan Mambo, mantan pasangan Maia di Dua Ratu ini membuat saya ketar-ketir jika mendengar tembang andalannya: Salahkah Bila Mencintaimu (2003), nun jauh dahulu.

Pinkan in Action di Pesta Ultah Tribun Timur (Foto: Kamaruddin Azis)
Suara basah dan seksi Pinkan dilagu itu begitu menyiksa perasaan. Merobek-robek zona aman di usia tiga puluhan. Dan saat di atas stage, saya beberapa kali mencuri matanya, menyambut pertanyaannya ke audiens dan dia menatapku. #peluk tiang listrik…

***
Tahun 2004-2005, saat bekerja untuk proyek “Success Alliance” untuk pengorganisasian petani kakao di Luwu dan Luwu Utara saya tinggal di kota Palopo. Kantor proyek di Kompleks BTN Merdeka dan rumah tinggal di Kompleks Pajalesang. Karena akses internet masih sangat terbatas dan mahal saya lebih banyak dengar lagu di radio, saat di rumah dan di kantor.

Nah, lagu di atas yang entah mengapa selalu saja diputar dan selalu mendengarnya koinsidens. Entah saat di Palopo, saat perjalanan naik mobil ke Masamba Luwu Utara, hingga naik bus ke Makassar,. Lagu itu selalu saja mengejar lamunan saya. Mengusik rasa kantuk. Gegara Pinkan, untuk mendengarnya, saya pun mesti beli walkman!

Memikat tetamu (Foto: Kamaruddin Azis)
Pinkan, adalah juga penembang lagu “Cinta Tak Kan Usai” dan “Dirimu Dirinya“, dua lagu yang asik didengar saat tanggal tua. Saat godaan kehilangan fokus menghadang. Saat persediaan logistik cekak. Saat masih bekerja di Aceh tahun 2006-2008, saya punya koleksi CDnya (compact disc, bukan yang lain). Mendengarnya pun kerap dengan memasang headset lalu tertidur di samping laptop yang menderu karena kipas yang bekerja keras. Begitulah kedekatan kami.

Lalu, minggu lalu seorang teman di Tribun Timur mengirimkan kabar, ada undangan untuk saya di acara Ultah dan you know what? Live performernya adalah Pinkan Mambo. Wow!

Begitulah, siasat pun dipasang. Saya mencoba duduk sedekat mungkin dengan stage. Hendak menikmati penampilannnya dan tentu saja gayanya yang konon menurut orang-orang superyahud (dari infotainment). Saya ingin lebih dekat dengannya.

Saya tidak sendiri. Malam itu pejabat-pejabat teras Pemerintah Propinsi dan Kota Makassar bahkan politisi seperti dibius oleh atraksi Pingkan Mambo. Saya kira ada 10 lagu yang dibesutnya malam itu. Dengan dibalut baju minim warna pink, Pinkan Mambo sukses menyisir malam dan menyihir kerja otak kiri para tetamu.

Saat lagu, “Dirimu Dirinya” disenandungkannya saya bergerak ke bibir panggung. Memotretnya dengan gagap dan mencoba mengambil momen terdekat. Memotretnya. Merekam geraknya. Kami hanya berjarak satu meter saat diamendekatkan wajahnya ke barisan penonton yang mulai merangsek seperti cacing kepanasan. Dan, Pinkan tetap dengan pesonanya. Sensual.

Hampir saja saya naik ke panggung, Tidak kuat, namun tiga bodyguard telah duduk di tangga naik. Aduh!

Lima menit sebelum Pinkan benar-benar menyudahi shownya, saya menuju ke sisi kanan stage,”Pak, boleh ke belakang panggung ya…?” Kataku pada bodyguard setinggi saya. Dia memandang dingin dan memberi jalan (dia pasti melihat bintang di mata saya).

Rupanya di belakang stage telah hadir dua puluhan penonton. Mereka menunggu juga. Ada yang bawa kamera besar dan juga hape. Mereka telah menyiapkannya .

Kamera Nikon D3000 di tangan, saya tes, ceklek, ceklek. “Tapi, nanti siapa yang foto saya dengan dia?”. Ah tidak mungkin. Strategi diubah. Saya menuju tangga turun yang sangat sempit. Di sana sudah ada dua bodyguard. Belum sempat berpikir panjang, saya onkan kamera Blackberry. Ready to shoot!

Beberapa orang mulai merangsek. Pinkan turun stage diapit tiga bodyguard. Dua di kiri kanan, satu di belakang. Saya menghalang jalannya.

Hi, foto ya,” Kataku. Dia menatap dengan senyum khasnya. Dia melangkah. Bodyguard terus mengapitnya seperti tidak memberi kesempatan. Saat lima langkah dari tangga saya bilang: “Please…”. Dia lalu mendekat, mendekatkan kepalanya ke saya dan alamak!…ceklek!