Menyoal Tukang Parkir

Cerita tentang bengalnya tukang parkir di kota mungkin sudah sering didengar, dibahas atau dikeluhkan. Maraknya perparkiran illegal (tanpa karcis) dan ragam tukang parkir dari berbagai kalangan kerap buat jengkel para pengendara atau pemanfaatan fasilitasi publik.

Tapi, pengalaman pagi ini menggelikan. Di halaman parkir satu usaha cuci foto di Sungguminasa, Gowa, saya merasa bersalah. Bersalah pada seorang tukang parkir cilik. Bukan karena tidak memberinya uang parkir tapi cara saya memandangnya dan memberinya teguran.

Saat selesai urusan dengan kasir, saya bergegas ke tempat parkir.

Sadel motor saya telah ditutupi oleh tiga helai kardus. Sejak kapan mulai ada tukang parkir di tempat sekecil ini? Saya pindahkan kardus itu dan pritttt…pritttt. Seorang anak kecil, dengan sempritan di tangan mendekat. Belum sempat menengadahkan telapak tangannya saya sudah beri kata sambutan.

“Siapa suruh jadi tukang parkir di sini?” Tanyaku.

“Boska…bosku” jawabnya ringan. Maksudnya ada bos yang memberinya perintah.

“Bos?”.

“Beritahu bosmu, kamu tidak boleh jadi tukang parkir di usia begini. Kau harus sekolah” Pesanku.

“Saya sekolah siangji” Tangkisnya.

“Tidak…” Kataku seraya main ujung telunjuk, saya tidak memberinya uang.

Saya naik motor dan mengarah ke rumah. Belum sampai 100 meter dari tempat parkir tadi saya berpikir. Ah saya merasa bersalah.

“Tidak boleh menggertak anak kecil. Siapa tahu dia anak yatim atau piatu?” Batinku.

“Wah…”. Saya merasa berdosa tidak memberinya uang parkir. Saya putar haluan.

Dia melihat saya datang. Dia diam. Saya lalu panggil dan menyisipkan dua uang koin limaratus rupiah plus pesan: “Maaf nah, lain kali beritahu bosmu, kau harus sekolah”. Dia tersenyum.

Saat saya kembali ke rumah, saya teringat wajah anak tadi. Rupanya dia pula yang kerap ngetem di depan BNI Sungguminasa. Di tempat itu, sebenarnya tukang parkir hanya ada saat hari kerja Senin-Jumat. Kini, telah ada tukang parkir lain, seorang lelaki tinggi besar. Siang, malam, hari kerja hingga hari libur.

Saat lelaki itu tidak ada, kerap ada anak kecil yang menggantikannya.

Dan, saya belum pernah memberi sepeser sen pun demi parkir, dengan beragam dalih.

***
Tapi ini bukan yang pertama.

Minggu lalu, di depan salah satu bank pemerintah di jalan Veteran Selatan, Makassar saya dapat kenyataan yang sama.

Saat keluar dari bank tersebut, seorang anak datang mendekat. Dia bunyikan sempritan. Tapi dia dapat pertanyaan dan nasehat.

“Siapa yang suruhko?” Tanyaku.

“Wawan (bukan nama sebenarnya)!” Jawabnya dengan bola mata berputar. Anak ini lucu sebenarnya. Menggemaskan, kata orang-orang.

“Berapa kau dapat?” Tanyaku lagi.

“Saya bagi dua, 60 – 40″ katanya sok tahu”. Saya tertawa. Bagi dua? 60-40?

“Manami dia?” Tanyaku lagi.

Si kecil menunjuk ke seberang jalan, saya mengikuti jarinya tapi tak satu orang pun yang nampak.

“Saya tidak bayar kalau tidak ada karcismu. Kau punya?” Tanyaku.

Dia menghindar seperti ayam jantan kena sepakan. Seraya menjauh dia memberiku senyum, semacam cengiran.

***
Usaha parkir sepertinya semakin menjadi pekerjaan mudah. Semua kalangan, semua umur berlomba menjadi tukang parkir. Anda mungkin pernah mengalami, saat ambil uang di ATM, dalam beberapa detik saja Anda harus merogoh seribuan untuk si tukang parkir. Di bank, kantor-kantor, pusat keramaian, perbelanjaan dan di beberapa tempat strategis, keberadaan tukang parkir semakin nyata.

Tukang parkir tanpa karcis sepertinya lebih banyak dari yang berkarcis. Di sisi lain, mereka juga kerap memaksa dan kerap cari gara-gara. Menyaksikan tukang parkir kanak-kanak sebenarnya buat prihatin, namun begitulah kenyataannya, sepertinya ada kekuatan lain yang mengendalikannya.

Sebagai bagian dari wajah administrasi publik, mestinya keberadaan mereka mesti diatur dengan tepat dan bijaksana. Sebab jika dibiarkan, suatu ketika anak-anak itu tak terurus dan kota ini akan dikuasai oleh preman, kesewenang-wenangan, dan orang-orang yang dimanja oleh bunyi sempritan.

Asdar Muis RMS, satu penyair kawakan Sulsel bahkan memberikan penekanan bagaimana tukang parkir menjadi semakin tidak demokratis dan menggangu. “Mereka semena-mena menarik uang parkir” pekiknya.

Lalu, siapa peduli?

Sungguminasa, 17/04/2011

Advertisements

Bersua Haji Muhlis di Paotere

Siang tanggal 24 Maret 2011, terik mendera Pelabuhan Paotere. Puluhan Pinisi diam terpaut di pelabuhan tua, di utara Makassar. Para anak buah kapal lelap dalam lelahnya. Hanya perahu kecil yang satu-dua meliuk di dermaga yang sesak itu. Perahu yang berpencar kembali ke pulau-pulau dari beranda Makassar, Pangkep hingga Barru.

Siang itu saya sungguh rindu untuk bertemu dan bercengkerama dengan para pelaut dari Rajuni, Taka Bonerate, Selayar. Rindu yang murah dengan hanya menebus duaribu rupiah di pos jaga pelabuhan rakyat itu.

Dengan gegas saya menapaki tangga yang menggantung di badan KM. Rahmat Ilahi II. Kapal paling besar yang saya lihat di area langganan kapal-kapal dari Pulau Rajuni, Taka Bonerate, Kabupaten Selayar. Ada 30an kapal dari Rajuni, pulau utama dalam kawasan terkenal itu. Mereka memilih Pelabuhan Paotere sebagai tempat berlabuh dan muat barang. Kapal yang melayari Selat Makassar, Selat Bira hingga Laut Flores.

KM. Rahmat Ilahi II berbobot 75 GT. Kapal milik Haji Muhlis, asal Kampung Bugis di Desa Rajuni Kecil. Dia seorang pelaut senior lapis kedua dari Rajuni. Beberapa pendahulunya telah pensiun. Lebih 20 tahun sebagai nakhoda, mengarungi perairan Laut Flores dan Selat Makassar. Muhlis muda pertama kali membawa kapal berbobot 25 GT awal tahun 90an.

***

Haji Muhlis sedang leyeh-leyeh di ruang dalam kapal selebar 7 x 4 meter. saat saya memberi salam. Dia meloncat, menyambut saya dengan antusias. Kami bersalaman, setelah 16 tahun akhirnya kami bertemu lagi.

Dialah yang pada tahun 1995 membawa kami, anak-anak Kelautan Unhas melakukan riset “Translokasi Kima (Giant Clam Translocation Project)” di Kawasan Taman Nasional Taka Bonerate. Program kerjasama Program Studi Ilmu dan Tekonologi Kelautan,Unhas dengan World Wide Fund Indonesia Proggramme untuk konservasi biota laut dilindungi.

Haji Muhlis terlihat bahagia. Kulitnya bersih. Dia terkekeh saat saya bilang wajahnya terlihat awet dan segar.

“Saya terkena gejala penyakit gula pak,” Keluhnya. Saat itu dia ditemani Saibung, anak Rajuni yang juga ABKnya saat kami pertama kali naik kapalnya di tahun 1994.

Kini, Haji Muhlis adalah nakhoda kapal lumayan besar, kapal pembawa barang kebutuhan warga di Nusa Tenggara. Kapalnya kerap memuat terigu, gula, semen dari Makassar menuju pulau-pulau di Nusa Tenggara Timur seperti ke Kalabahi, Maumere, Larantuka, Riung hingga Kupang. Kapal pengangkut barang dari Rajuni dapat melakukan trip antara 2-3 perjalanan dalam dua bulan. Tergantung cuaca.

Walau telah berukuran besar kapal ini masih tetap memakan waktu satu hari satu malam dari Makassar ke Pulau Rajuni.

“Kapal yang ini didorong oleh mesin Mitsubishi enam silinder. Saya tanggung sendiri dengan sistem kredit, tiap bulan mesti bayar Rp. 3 Juta. Sudah 7 bulan berjalan. Sebenarnya harganya Rp. 85 Juta. Dengan panjar 10 Juta,” Kata Haji ihwal mesin kapalnya, mesin yang dirakit dari mesin mobil.

“Kemarin saat pulang dari Maumere kapal muat 350 karung biji kakao. Dari situ kami dapat Rp. 150/kg” Kata Haji Muhlis.

Terkait biaya operasional, Haji Muhlis bercerita bahwa kapalnya butuh 11 drum solar untuk melayari Makassar – NTT. Dalam 1 drum terdapat 220 liter solar, kami mesti bayar 1 Jutaan. Jadi sekali jalan butuh modal di atas sepuluh juta. Selain biaya operasional tersebut, Haji Muhlis juga mesti menyiapkan gaji setiap ABK rerata Sejuta perorang.

“Biaya operasional ini bahwa dapat mencapai Rp. 15 Juta saat musim barat. Sulitnya medan dan waktu sandar di Pelabuhan kerap jadi beban tambahan. Terkait musim barat ini pula, Haji Muhlis bercerita bahwa banyak pelaut asal Rajuni kerap dapat masalah, seperti di Perairan Tanakeke, Pulau Bonerate dan bahkan Taka Bonerate.

“Pak Muhsin, salah seorang Nakhoda, kapalnya sempat naik karang di Kayu Pangga, sebelah Timur Pasitallu Timur. Kapalnya bocor. Dia rugi hingga 25 juta, karena mesti membuang muatan semen dan berasnya” Ungkapnya.

***
Dari bisnis pelayaran inilah Haji Muhlis dan puluhan warga Pulau Rajuni Kecil, pulau kecil di gugusan Taman Nasional Taka Bonerate menghidupi keluarga dan komunitasnya. Dari usaha pelayaran antar pulau ini, mereka menegaskan semangat kebahariaan yang kuat. Melayari teluk, selat dan lekuk pulau Nusantara dari utara ke selatan.

Keberadaan mereka adalah fakta tak terbantahkan bahwa warga pesisir Indonesia selalu punya cara untuk bertahan dan meneruskan hidup. Ini juga salah satu alasan mengapa terasa begitu menyenangkan saat bercengkerama dengan orang-orang bebas. Orang-orang yang ulet, seperti Haji Muhlis dan ABKnya.

Sejak 20 tahun terakhir, ratusan anak pulau dari dalam kawasan Taka Bonerate memilih menjadi anak buah kapal, berkelana dari pulau ke pulau. Kapal-kapal dari Rajuni selain menyediakan lapangan kerja pada warga Taka Bonerate juga kepada anak-anak muda putus sekolah dari Nusatenggara Timur. Ada proses regenerasi dan pemberdayaan di sana.

Sebagai nakhoda. Haji Muhlis sering berhadapan dengan lagak dan tingkah pola aparat pengamanan di laut. Tapi menurutnya, sejauh ini semua lancar-lancar saja. Satu-satunya yang kerap dia khawatirkan adalah jika ada keluarga atau warga yang hendak menumpang dari Makassar ke Selayar atau ke Nusatenggara. Sulit menolaknya. Namun jika ini diketahui oleh aparat maka cerita menjadi berbeda.

Sungguminasa, 16 April 2011

Remah Catatan dari "Studium Generale" Aco Patunru

Dr. Aco Patunru (Koleksi Pribadi)

Tanggal 13 April 2011 saya beruntung dapat kabar dari Luna Vidya, sahabat yang bekerja untuk Yayasan Bakti, Makassar. Dia kabarkan pada pukul 10.00 wita, akan ada “Stadium Generale” oleh Dr. Arianto A.Patunru di Unhas. Anto atau Aco, begitu dia kerap dipanggil adalah sahabat yang saya follow di Twitter.

Aco adalah salah satu sumber rujukan reliable di ibukota terkait Ekonomi nasional dan Internasional. Alumni SMA Negeri I Makassar tahun tamatan 1991 ini adalah peneliti dan penulis cum sastrawan yang terkenal di berbagai media nasional. Aco, masuk UI dan kuliah di Fakultas Ekonomi, tepatnya di Ekonomi Internasional. Gelar master dan doktornya diraih di Univeristy Illionis, Amerika dengan fokus kajian “ekonomi kebijakan” dan “ekonomi lingkungan, ekonometrik”.

Senang sekali menjabat tangannya, mengajaknya bincang di jejeran dosen Ekonomi Unhas yang mengisi kursi depan, beberapa menit sebelum dia mulai kuliahnya. Di Unhas, Aco memukau peserta kuliah dengan judul paparan “A Reassessment on Indonesian Economic Development”. Ini merupakan presentasi ulang dari papernya yang belum lama dibawakan di salah satu forum diskusi Ekonom International.

Lelaki muda yang semasa kulliah di Amerika ini mengaku hampir dapat surat cinta, surat putus (drop out DO) dari Fakultasnya di Amerika. Ia tampil rileks, dengan kemeja putih dan jeans “belel”. Dia bersahaja. Menurutnya, di papernya ini dipengaruhi oleh buku fenomenal ekonomi Indonesia tahun 1968 oleh Benjamin Higgins, “Economic Development of Indonesia, Indonesian Crowded, 1968”  yang menyoal luluhlantaknya proyek Mercusuar Sukarno.

Susah sekali melihat kemungkinan negara ini sukses” kata Higgins disitir Aco.

Dia telisik pula buku dari Canberra, tahun 1996, “Indonesan Economic Since 1966”. Ini kontras sekali dengan buku sebelumnya. Dalam buku itu disebutkan bahwa Indonesia adalah miracle, yang bisa lepas landas. Lalu karena krisis tahun 1997-98 yang tidak bisa diperkirakan, maka buku itu kemudian diperbaiki dengan tambahan chapter memjelaskan situasi krisis itu.

***

Remah Catatan

Poin-poin berikut adalah yang saya tulis di Blackberry jadi mohon maaf jika tidak lengkap. Tidak banyak yang sempat saya catat namun setidaknya inilah yang menjadi materi kuliahnya. Dua buku di atas menjadi fondasinya untuk menulis “A Reassessment on Indonesian Economic Development”. Paper ini terdiri dari empat bagian besar yaitu;  1.Macroeconomic development, 2. Structural change, 3. Social development, dan 4. The supply constraints.

1.       Menurutnya, Indonesia pernah masuk sebagai korban AFC, Asian Financial Crisis atau bagian dari Global financial crisis. Melihat dampaknya yang tidak terlalu anjok, tidak dalam namun naiknya perlahan. Kalau Singapura terimbas krisis, jatuh dalam namun naiknya cepat.  “Indonesia dalam pengaruh krisis itu mempunya sesuatu yang membuatnya “resilience”.

2.       “Kita bertahan karena good policy atau good luck”, katanya. Sebenarnya, kapasitas pemerintah dalam membiayai pembangunan nasional hanya 30 persen. Oleh karena itu Pemerintah butuh pihak swasta tapi ini pun perlu insentif. Pemerintah sedang keluar dari persoalan ini dengan berjibaku.

3.       Ada banyak contoh di mana banyak prasyarat yang tidak terpenuhi semisal, tanah belum dibebaskan, para investor butuh risks guarantee.  Dilihat dari suprastruktur perencanaan pembangunan ekonomi nasional sudah tepat. Implementasi memang sudah jalan, tapi koordinasi tidak bagus. Terdapat overlap dan kegagalan disburse.

4.       Soal macet ibukota. Ini karena adanya booming motor. Jakarta seperti Vietnam, di mana-mana motor.  Mestinya keluarnya motor dapat ditekan. Di Inggris, untuk parkir saja, dalam dua menit dapat dikenakan 200ribu. Olehnya itu sepeda motor sangat kurang, dan mereka sukses membenahi kendaraan umum. Reliable. Macet Jakarta membutuhkan exit strategy yang efektif. Memang tidak gampang tetapi bukan dengan memindahkan ibukota.

Sebenarnya, tim asistensi penandangan macet ibukota ini telah merilis 8 alternatif solusi. “Eh Tiba-tiba SBY bilang kita pindahin ibukota”. “Jakarta bisa jadi pada 2014 udah gak bisa gerak jika tidak ada perbaikan infrastruktur, banyak subsidi untuk beli mobil”.

5.       Terkait pembangunan regional, Aco mengutip kisah Deng Xiao Ping saat bertemu Lee Kuan Yeuw. Deng memperoleh ide untuk membuat kawasan serupa Singapura di China, yaitu dengan membikin “13 Singapura”. Maka meluncurlah Zona Ekonomi hingga 13 area dan itu sukses.

6.       Saat ini yang muncul adalah “Trade in Tasks” bukan lagi Trade in Goods (ingat teori Ricardo). Pilihan ini lebih efisien.

Sudah gak jaman tuh, Made in Indonesia 100%”. Semua goods hadir sebagai kombinasi dari berbagai vendor, negara.  Handphone adalah contoh bagaimana komponennya sudah diisi oleh beragam negara atau manufacturer. Levi’s tidak ada yang 100 persen asal pabrikannya. Bisa jadi Levi’s yang asli adalah buatan Guatemala.

7.       Bagaimana seharusnya Bank Indonesia terhadap pasar? Apakah mesti didrive oleh pasar atau sebaliknya?. Faktanya BI didrive pasar dan itu tidak bagus. Cabe mungkin contoh yang pas tentang dampak perubahan harga dan daya beli. Krisis cabe dapat memicu aspek lain, semisal jika krisis Libya terjadi dan harga minyak jebol maka akan berbahaya bagi Indonesia.  Pasalnya, walau penghasil minyak bumi, impor kita lebih tinggi dibanding ekspor.

8.       Terkait relasi industry dan tenaga kerja, menurutnya aspek yang perlu diperhatikan adalah kondisi tenaga kerja kita saat ini semisal Outsourcing, sebenarnya sangat kasihan pada pekerja karena tak ada Insurance dan pesangon, tetapi ini dipilih untuk menerapkan efisiensi perusahaan.

9.       Membandingkan harga produk semisal McD yang seharga US$4 dollar di Amerika namun ternyata di Plaza Senayan seharga Rp. 38ribu. Hampir sama. Sehingga dapat dikatakan stabil tetapi cukup mengkwatirkan karena adanya capital inflow. Adanya kecenderungan Foreign Direct Investment, di pabrik hanya berjangka pendek.

Hot Money, kata Bang Faisal Basri”. “Terjadi fragile, pada capital account kita. Neraca bagus tapi salah kaprah, otoritas moneter, bangga sekali. Padahal sostly untuk mempertahankannya. Hal ini karena sebagian besar dibiayai oleh SBI” terangnya.

Yang pasti, cadangan devisa Indonesia tinggi tapi tidak efisien. 100 Trlilliun masuk ke energi. Sisanya kecil sekali sebenarnya untuk pendidikan. Subsidi kita tidak produktif. Infrastruktur alokasinya kecil dibanding subsidi. 20 persen terkaya yg nikmati, jadi ada semacam mistargetting. Lainnya, tidak environmentally friendly. Di sisi impor, ciri indonesia, 70 barang modal.  90% raw material. 10 persen barang konsumsi. Financial account: Rupiah kuat kuatir, lemah kuatir. Ekspor tergerus.

10.   Tentang kemiskinan di Indonesia (Indonesia poverty), miskin kita (poor) tapi tidak terlalu beda dengan India. Ada beberapa faktor terkait ini. Jumlahnya banyak berkumpul di atas garis kemiskinan. Apapun ukurannya sama. Banyak sekali yang ngumpul. Tidak usaha berdebat tentang purchasing power, dll. Kita naikkan 1.55, 2, dst.

Non monetary poverty, yang lebih menguatirkan adalah akses warga ke jamban, air bersih, ini yang penting. Regional poverty, sangat timpang mempertimbangkan Indonesia barat – timur.  Jumlah absolut miskin ngumpulnya di Jawa.

11.   Disconnect Markets. Barang high end okelah. Tapi kalau semen, dll, ada yang terhubungkan. Harga transmisi yang tinggi. Di Merauke Nabire, semen dua kali lipat

“Archipelago, lebih mudah, kata bule”. Berarti mestinya lebih efisien. NTT ditopang oleh waters transportation. Wawancara Nelayan, di perairan lepas NTT, “what about regulation?”, Kalau kami lebih senang ditangkap polisi Australia, dikasih kwitansi”.

12.   “Di Indonesia, kalau ditilang, kwitansi kerap tak ada, udah gitu, 2 jam datang lagi yang lain. Dan instansinya banyak pula” katanya terkekeh. High Costs Economy, ini menurut Soemitro, kebocoran, 30 persen. Aco juga mengutip apa yang disebut dampak “geographical distance” sebagai konsekwensi ekonomi, Menurut World. Bank 2010. Ada inefisiensi pengiriman barang. Sebab lebih murah ke Singapura daripada ke Papua.

***

Banyak poin-poin menarik di paparan ini tentang “trend 30 persen, eksposure progress membandingkannya dengan situasi dunia luar,  Overhead di logistic, BI Rate, naik 6,5, dan kenapa perbankan masih tinggi? Kontrol BI, Bank simpan di SBI, Pemakai uang jumlah besar.

Pukul 12.30 lelaki berkacamata ini menyudahi kuliahnya. Beberapa peserta memberi tanggapan, sekaligus memuji cara dan materi yang dipaparkan yang sangat komprehensif. Beberapa diantaranya adalah Prof Wim Poli, Dr. Tadjuddin Parenta, Dr. Hamid Paddu, dan beberapa dosen Ekonomi Unhas. Saya pun tak ketinggalan untuk menanggapi aspek “political conflicts dan institutional crisis” Indonesia dengan menyorot sosok Sri Mulyani, independensi BI dan hengkangnya SMI ke Bank Dunia.

Dan, Aco menjawabnya semua pertanyaan dengan lugas dan tangkas.

Makassar, 14/04/2011

Dua Catatan "Tiba-Tiba"

Kota Adalah…

Kota adalah ladang para jelata dan tuan tanah memeram angan-angan, juga kesempatan meraih ujung tiang pancang keabadian. Juga akumulasi hasrat si papa dan si tuna. Yang papa menanak batu, si tuan tanah menetek pada kakek-neneknya sampai kenyang. Di kota, mereka tak saling kenal. Orang dari Kota, pria atau wanita mungkin seperti ini: Biasa, saat mulut dan bibir berubah kelu mengeluhkan panas dan hujan yang silih berganti. Dan aircon yang tak jua mendinginkan hati hingga mengutuk hari-hari yang membosankan sebagaimana senja yang lekas menua.

“Masa muda begitu cepat berlalu” bagi sebagian dari mereka. Itulah mengapa mereka takut cahaya. Dan pada orang-orang yang keluar masuk mal, restoran, bioskop dan berdesakan di tangga berjalan. Kota membuatnya manja dan dia tidak menemukanmu sebagai teman dan pendengar. Di sana adalah juga mereka, yang mengemis, mengais, juga menangis menunggu kepastian malam dan panggilanmu. Berkencan dengan waktu dan mencumbui cita-cinta. Mudah berubah, cepat bosan, lemah, kasmaran, manja dan lebay.

Kota adalah tempat orang-orang melarung masa lalu dengan mata berbinar. Bahwa dia datang sebagaimana tamu tak diundang dan kini dia bebas, bahagia, mungkin selamanya atau tetap di situ sebagai si beruntung. Penuh warna. Dia bahagia, tapi kau tak ada di sana. Mungkin itu juga wajah Kota dan denyutnya. Tapi hidup, kau tak ada di sana.

Hidup Bunga

Di halaman yang ku mimpikan semalam, saat aku jatuh di tepi perkampungan, tempat di mana padi masih bisa menguning. Di situlah seorang Bunga mengais bulir padi yang menua di atas tikar pandan. Bersujud pada hamparan kebaikanmu yang seketika. Saat lelakinya yang lumpuh hanya bisa buang air kecil dari jauh dibantu selang solar. Tapi dia bahagia, bahkan kemaruk pada kehidupan yang membawanya pada persembahan diri. Pada suaminya yang lumpuh dan kelima anaknya yang masih kecil.

Di tempat itu Bunga menemukan bahwa hidup tidak mengenal kotak hitam atau putih sebagai pembeda. Juga musim dan cuaca apalagi kemudahan. Hidup sebagaimana kisah wanita yang mendekati renta kehidupan adalah pengertian pada takdir dan pilihan. Sebab dia mengaku tak bisa hidup tanpa ikhtiar. Dia mencintai keluarganya juga suaminya. Tempat itu, di mana Bunga dua minggu ini jadi buruh jemur gabah, mungkin seterusnya. Lelakinya, si penyelam teripang kini berbaring lemah, lumpuh setelah diserang ‘dekompresi’ penyelaman akut. Setelah mengais gabah di halaman rumahmu, hidup.

Kini dia pulang ke pesisir dengan empat ember gabah menemui suaminya. Impas untuk doa dan napas yang kau beri hari ini. Di situ ku temukan kau, hidup.

Makassar, 01042011