Dewa Bumi Yang Menjaga Galesong

Suatu pagi tanggal 26 Januari 2009 di Kampung Lanna, Galesong. Pada ruas jalan berpasir dengan hamparan tipis kerikil, matahari mulai meninggi. Di lokasi yang hanya berjarak puluhan meter dari tepi pantai itu, saya awalnya hanya bermaksud mampir sejenak, memotret sebuah bangunan yang didominasi warna merah. Bangunan bertingkat dua itu tampak tak lazim.

Saya lalu mencatat nomor telepon yang tertera di pagarnya yang rapat. Terlihat menara mungil setinggi dua meter lebih di depan sebelah kiri bangunan. Warnanya kuning terang.

Setelah bertanya kepada warga di depan bangunan itu dan melihat beberapa anak-anak yang ikut bermain di halaman, saya pun memutuskan untuk masuk. Di dekat pilar bangunan yang dililt naga warna hijau, di samping wastafel dinding, saya jatuhkan pandangan pada tulisan berbunyi: “Gedung ini telah dilaksanakan purna pugar dan diresmikan pada hari Minggu, tanggal 27 Januari 2008. Kelenteng Tri Dharma Pan Ko Ong, Galesong Selatan, Kabupaten Takalar, Sulsel atas nama pengurus, Guru Hartono.” read more

Advertisements

Bertemu Suryana, Peneliti Kepiting Asal Pinrang

Siang yang sangat terik di pantai Kassi Lompo, Desa Bontoloe, Galesong Selatan. Seusai shalat Jumat saya bergegas ke lokasi pelatihan fasilitator masyarakat di aula pertemuan Balai Budidaya Air Payau Galesong. Karena masih beberapa menit acara berlangsung, saya menuju ke salah satu bagian kompleks budidaya air payau terbesar di Sulawesi ini.

Dari jarak 50 meter, saya menyaksikan seseorang sedang berdiri di sela bak pemeliharaan yang memanjang ke selatan. Dia mengenakan topi warna putih buram dan berbaju kaos lengan pendek warna oranye. Badannya terlihat gempal. Saat mendekat saya seperti tak percaya dia adalah seorang wanita. Rambutnya dipoting pendek, dia berkulit sawo gelap.

Tangannya terlihat lincah sedang membuka wadah plastik merah yang sedang digantung dalam bak yang berisi air laut. Dia sedang memindahkan kepiting bakau berukuran punggung enam centimeter yang telah diujicobakan di balai itu.

***

Setelah saya memperkenalkan diri, wanita ini kemudian menyebutkan namanya, “Saya Suryana,” katanya dengan logat Bugis.  Suryana adalah staf pada balai budidaya dan merupakan alumni perikanan pada Universitas Muslim Indonesia, Makassar. Dia menggondol sarjana perikanan pada tahun 1994.

“Saya lahir di Pinrang dan menyelesaikan pendidikan SD hingga SMA di Pinrang,” katanya. Ayahnya adalah petambak yang punya beberapa petak tambak. Suryana saat selesai kuliah pernah bekerja pada proyek tambak di Palopo, Luwu namun tidak bertahan lama. Dia kemudian mendaftar sebagai pegawai pada DKP dan ditempatkan di BBAP Takalar sejak tahun 1999.

“Saya sudah sepuluh tahun bekerja di sini,” katanya. Suaminya berasal dari tanah Jawa dan lulusan IPB Bogor namun saat ini lebih memilih menjadi tenaga swasta.

“Suami saya sekarang sedang mengurus satu proyek di Gowa namun selama ini sejak saya meniliti di sini, beliaulah yang banyak mengurus dan mengantar anak saya ke sekolah,” katanya.

Suryana dan suaminya mempunyai dua orang anak dan yang sulung bersekolah di Limbung, Gowa. “Suami yang kerap mengantar jemput anak saya. Banyak orang di Galesong bilang mengapa harus jauh sekolah. Bukankah di Galesong, ada SMP?” katanya menirukan warga. Alasan kualitas rupanya menjadi pendorong keluarganya menyekolahkan anaknya di Limbung.

Melaksanakan penelitian

Saat saya menemuinya siang itu, Suryana, selain memasukkan kepiting-kepiting hasil uji cobanya, dia juga sedang membersihkan bak-bak yang telah selesai digunakan. Mengapa kepiting menjadi obyek penelitiannya karena komoditi ini tergolong jenis mahal dan diminati banyak orang.

“Sebenarnya saya ketua tim penelitian namun saat ini, ada tiga orang anggota namun saat ini saya seperti tidak bisa diam di rumah. Saya merasa bertanggungjawab untuk menuntaskan semuanya dengan baik, saya harus membersihkan bak dan sedang berpikir untuk bagaimana caranya supaya sampel kepiting ini bisa tetap dipelihara setelah penelitian selesai,” katanya.

Tujuan penelitiannya adalah untuk mengetahui dampak pemberian pakan buatan kombinasi sisa kulit kepiting rajungan yang banyak dijumpai terbuang percuma pada tingkat pertumbuhan kepiting bakau. Menurutnya, kombinasi kulit rajungan 25 persen yang dicampur dengan ikan rucah dan kulit udang sangat berdampak dalam meningkatkan bobot kepiting. Penelitian yang berdurasi lebih sebulan ini merupakan penelitian yang dibiayai oleh DIKTI Jakarta.

“Saya menyukai kegiatan seperti ini. Golongan saya sudah III c. Menjadi pegawai dan melakukan penelitian seperti ini sangat menyenangkan. Diharapkan setelah penelitian ini warga yang berdiam di sekitar balai ini bisa menerapkan hasil penelitian, paling tidak mau mengolah limbah buangan kepiting rajungan sebagai pakan bagi kepiting bakau,” katanya seraya mengikat wadah plastik ke tali biru yang membentang di atas dinding bak.

“Saat ini banyak usaha pembesaran kepiting bakau yang tidak bisa bertahan karena mahalnya biaya pembelian pakan. Semoga inisiatif ini bisa berguna bagi masyarakat dengan menggunakan bahan tersedia di sekitar meraka. Kami membuat pakan kepiting bakau berbentuk bulat berdiameter satu hingga dua centimeter,” katanya.

“Saya bersyukur sekali bisa bekerja. Saya tentu akan bosan jika menganggur dan hanya diam di rumah. Mungkin karena dulu sering membantu orang tua di tambak, merawat udang di tambak butuh ketelatenan,” katanya lagi.

“Sejak bekerja di sini saya, telah paham teknik supaya kepiting kepiting tidak menjepit tangan saya, dengan menutup mata sang kepiting. Teknik ini saya peroleh dari masyarakat setempat,” katanya tentang pekerjaannya.

***

Suryana kini tinggal di dalam kompleks balai, bersama puluhan staf lainnya. Kompleks ini sebenarnya tergolong sepi, jalanan sempit dan agak jauh dari poros jalan raya Galesong-Barombong-Makassar memberi kesan sunyi.

Pada beberapa titik di di sekitar kompleks terdapat beberapa hatchery atau pembibitan udang yang sudah tidak berfungsi lagi. Selain ini juga terdapat beberapa backyard atau hatchery skala rumah tangga yang juga mulai mati. Tahun 90an, kawasan Kassi Lompo merupakan pemasok benur ke beberapa wilayah Sulawesi Selatan bahkan Sulawesi Tenggara namun sejak krisis penyakit udang, praktis banyak pengusaha hatchery yang gulung tikar.

Dari berbagai bincang dengan staf balai nampaknya, berbagai inisiatif budidaya sedang digalakkan, mereka sedang mengembangkan budidaya kerapu, rumput laut dan kepiting ini. Apa yang dilakukan Suryana merupakan contoh yang baik, tentang pentingnya kreatifitas bagi peneliti perikanan atau kelautan untuk mencari alternatifpengembangan budidaya atau mata pencaharian alternatif saat komoditi utama seperti udang sedang dirundung masalah.

Melihat minat dan perhatiannya yang berdedikasi akan penelitiannya ini, Suryana adalah figur staf peneliti yang layak dicontoh, saat dimana para peneliti kelautan dan perikanan sedang paceklik ide.

Galesong 20/11/2009

Cerita Dari Bedah Buku, "Sandeq, Perahu Tercepat Nusantara"

Tanggal 07 Nopember 2009, saya diminta memandu (dan dengan diam-diam menuliskan beberapa hal) diskusi buku berjudul “Sandeq, Perahu Tercepat Nusantara (SPTN)”, penulisnya Muhamad Ridwan Alimuddin. Bagi kebudayaan maritim Mandar, penulis yang lahir di Tinambung pada 23 Deesember 1978 merupakan nama yang sangat layak diapresiasi.

Saya mengenalnya saat tahun 1999, saat masih berstatus mahasiswa pada Fakultas Perikanan,UGM Yogyakarta. Kala itu kami dalam perjalanan menuju Kota Benteng, Selayar. Saat satu persatu penumpang turun dari fery dan bergegas menuju kota, saya melihat Iwan, panggilannya, bukannya berkemas tapi malah mengambil fins dan berenang di sekitar pantai Pamatata, Selayar. Saya yang sudah beberapa kali berkunjung ke Selayar saat itu berpikir “orang ini pasti punya jiwa meneliti yang tinggi”. read more

Pasima Daeng Raga, Naik Haji Dengan Mengarungi Samudera

Lelaki bersongkok putih ini membuka isi dompetnya. Bukan uang yang diperlihatkannya tapi foto. Di sana terdapat sepasang wajah bersih, sang lelaki terlihat tersenyum di dekat seorang wanita berkacamata. Foto itu terlihat masih terang dan indah. “Ini foto bersama istri saya saat menunaikan ibadah haji pada tahun 1977″ Katanya dalam bahasa Makassar.

Saya juga melihat beberapa kartu seperti kartu tanda penduduk yang sudah tidak berlaku, maupun yang masih baru. Juga, kartu tanda pemilih saat pemilu lalu. Tapi, saya tidak melihat tahun lahir yang sama pada ketiga kartu itu. Ada yang menulisnya tahun 1928 ada pula yang tertulis tahun 1938 sebagai tahun lahirnya. read more

Daeng Ngewa, Kini Bisa Mengayuh Becak Lagi

Beberapa minggu lalu, saya menceritakan di FB tentang Daeng yang setiap pagi mengantar anak saya ke sekolah. Namanya Daeng Ngewa, umur 42 tahun. Saat itu saya membesuknya karena menurut cerita tetangga dia sedang merana oleh hasil diagnosa dokter. Dokter menyebut ada penyumpatan di “vesica urinarianya”, atau bahasa sederhananya ada penyumbatan oleh benda asing di saluran kencingnya.

Kesimpulan itu juga saya baca setelah melihat surat rujukan dan hasil “scan” pada area di sekitar organ intimnya. Saya membaca catatan dokter dan memeriksa gambarnya. Kesimpulannya, Daeng Ngewa harus dirujuk ke rumah sakit umum Wahidin Sudirohusodo di Tamalanrea,Makassar, rumah sakit yang konon, merupakan terlengkap di Sulawesi. read more

Kisah Sedih Para Pencari Rajungan di Kassi Lompo

Anto adalah pemuda piatu yang bekerja sebagai pencari kepiting rajungan. Kini, dia terlihat murung. Perahu sampannya yang terbuat dari fiberglass seharga empat juta raib tak tahu dimana rimbanya. Bersama sampannya, mesin tempel berdaya 5 tenaga kuda juga hilang.

Ini bukan kejadian pertama kali, sebelumnya dalam dua bulan terakhir, 3 mesin tempel dan satu bodi perahu dikabarkan hilang. Pagi ini, saya menyambanginya saat dia sedang menyulam jaring nilon bersama Daeng Nya’la. Menyulam jaring adalah pekerjaan saat mereka kembali ke darat. Karena yang mereka sasar kepiting, maka dampaknya adalah jaring yang selalu robek saat di angkat.

“Kampung kami semakin tak aman. Kami seakan tak percaya bahwa pencuri semakin berani bertingkah,” kata Daeng Nya’la.

“Bukan hanya itu, mereka bisa dengan leluasa mengambil pukat yang dijemurdi pekarangan rumah warga,” katanya saat saya berbincang di kolong rumahnya. Anto dan Daeng Nya’la adalah pencari kepiting rajungan dan udang yang tinggal di Kampung Kassi Lompo, Desa Boddia, Kecamatan Galesong.

Mereka menggantungkan ekonominya pada keramahan laut. Mereka kerap berhari-hari di laut bermodalkan sampan bermesin. Mereka menyebutnya sampan fiber, sampan yang semakin diminati warga karena semakin sulitnya memperoleh batang kayu besar. Mereka juga dilengkapi mesin tempel berdaya 5 PK dan pukat sebagai alat tangkap udang dan kepiting dengan mata jaring 5 sentimeter.

Selain itu, mereka melengkapinya dengan alat tangkap khas bernama “rangkang-rangkang”, semacam jebakan yang terbuat dari besi melingkar berdiameter 30 meter dengan jaring jebakan yang kelak saat di laut akan dijejali ikan rucah sebagai umpan kepiting. “Butuh modal sampai 7 juta untuk satu unit sampan fiber lengkap dengan alat tangkapnya,” kata Daeng Nya’la.

“Banyak dari kami yang mesti menjaminkan rumah demi memperoleh kredit dari BRI Galesong. Untuk nelayan seperti kami dana antara 5 sampai 10 juta dari Bank sudah cukup untuk kami bisa melaut,” katanya.

Bagi Daeng Nya’la, apa yang dialami Anto adalah penanda bahwa kehidupan mereka mulai terancam.

Sayangnya, mereka belum melapor ke polisi.

“Mallakki kattemange ri polisi,” kata seorang ibu tua yang ikut di perbincangan kami yang artinya, kami takut ke polisi.

“Laporkan saja, siapa tahu polisi di Polsek bisa berkordinasi dengan polsek lain di sekitar wilayah pesisir dan kepulauan. Itu lebih baik dari pada tidak berbuat sama sekali,” kataku menimpali.

Ribuan nelayan kecil seperti Daeng Nya’la mendiami pesisir Galesong, mereka mencari hasil laut secara turun temurun dan dalam beberapa tahun terakhir semakin ketat dalam berkompetisi memenuhi kebutuhan hidupnya. Secara umum, hasil tangkapan semakin berkurang

“Musim produktif kepiting rajungan antara bulan Maret hingga Mei, kami menjualnya ke pembeli lokal, harganya variatif antara 20ribu hingga 30ribu perkilo. Pada musim kepiting, kami bisa menangkap hingga sepuluh kilo namun setelah itu kami mulai susah,” kata Daeng Nya’la.

Kesulitan bukan hanya di jumpai di laut saat mereka menghabiskan waktu berhari-hari di laut, pada daerah tangkapan yang semakin menyempit, cuaca yang kerap tak bersahabat, jumlah nelayan yang semakin bertambah. Tentu akan semakin menyedihkan jika sampai di darat ancaman lainnya seperti pencurian, ketaknyamanan, dan saling curiga di antara mereka juga datang mengancam.

Nelayan oh nelayan…

sajak pada gerbong kereta

sajak pada gerbong kereta

pada kereta yang sebenarnya datang terlambat
yang membelah dusun dan kelok sungai purba
yang dikuasai segenap yang bertulang belakang
para primata dan reptil melata

menyesaki ruang ekonomi dan eksekutif
padat merayap hingga pintu keluar
mereka bebas bunyikan peluit bersahutsahutan
memanjati tiangtiang dan umbulumbul

kami datang, para satwa rimba raya
dari kecebong hingga macan kumbang
yang datang dari kegelapan yang terlupa oleh jaman

gerbong kian kencang melaju deru
menuju gerbang kemenangan di alunalun kota
entah siapa lagi yang belum tertera di manifes

makassar 06112009