Jalan Pulang Diblokir, Pengalaman dari Mallengkeri

Sudah seminggu ini saya harus antar jemput anak saya Intan Marina (12 tahun) yang bersekolah di SMP 1 Makassar. Saya harus menjemputnya di rumah neneknya di Jalan Kakatua II, hanya sekitar satu kilometer dari sekolah. Maraknya demo membuat saya khawatir jika dia pulang ke rumah naik pete-pete (kendaraan umum).

“Jemput anakta di rumah. Jangan lupa” pesan istri saya via BBM dari Tamarunang, Gowa. Dia khawatir saya lupa karena sehari sebelumnya, saya nyaris masuk Gowa sebelum diingatkan untuk jemput Intan.

***

Suasana kantor Gubernur adem saja. Beberapa anggota TNI bersenda gurau saat saya bersiap pulang, ada yang menuju arah mesjid. Saya mengarah barat di Jalan Urip Sumoharjo.

Suasana depan kampus UMI dan 45 penuh asap. Beberapa kendaran roda dua meliuk di antara barikade, ada batu besar, ban terbakar, mobil kanvas (box) yang sedang dipalang di depan UMI. Perlahan akhirnya saya lolos hingga menanjak Jembatan Layang. Lampu-lampu mulai mengerlip di sepanjang Pettarani sampai jalan tol.

“Amankah di depan?” batinku.

Butuh sekitar 20 menit untuk sampai di jalan Kakatua II. Intan sudah bersiap. Saya berpikir, apakah mesti lewat jalan Sultan Alauddin atau lewat Mallengkeri?

“Bimbang, Kakatua II – Sungguminasa, apakah lewat Alauddin atau Mallengkeri” itu status di twitter.

Sehari sebelumnya, bersama Intan saya berencana melewati Alauddin, namun sesampai di lampu merah pertigaan Pettarani, saya memutar. Di depan, mahasiswa memblokir jalan. Kami melewati jalan Andi Tonro lalu berputar di Mallengkeri. Kami sampai di rumah tanpa halangan berarti.

Malam ini, saya memilih jalur itu lagi.

Melewati jalan Kumala, kami kemudian keluar di jalan Mallengkeri. Lancar. Namun, saat beberapa meter dari depan kampus UNM, api berkobar. Ada barikade dan api yang besar di depan kampus yang dulu bernama IKIP Parangtambung itu.

Saya orang ke 6 yang berkendaraan roda dua yang sampai di situ. Kami berhenti, suasana semakin kacau, beberapa pengendara yang hendak memilih lorong lain ternyata buntu.

Seorang ibu mengiba, “pak, dimana jual bensin?” katanya kepada warga setempat.

Dia kehabisan bensin sementara antrian semakin panjang. Beberapa pengendaraan yang membawa anak kecil mulai tidak tenang, dilihatnya kiri-kanan.

Intan tenang saja. Dia malah minta penutup hidung warna hitam dan kacamata modis. Saya memutar kendaraan saat seseorang memberi tahu ada lorong lain. Saya mengikuti anjurannya.

“Lewat sanaki, ada lorong kecil, terus saja” katanya.

Saya mengikuti anjurannya. Saya berada di baris kelima. Lorong yang kami lewati kecil sekali, hanya pas untuk satu motor.

Kami belok kanan, ambil kiri melewati hamparan rawa lalu belok kiri. Kami terus dan mendapat jalan penuh kerakal besar, suasana menjadi chaos karena di depan ternyata terjadi tumpukan pengendara.

Kami berpapasan di satu tenda pesta. Ramai sekali, debu beterbangan. Tidak lama kemudian, kami lolos dan harus menaiki jalan setapak, tanggul besar.

“Naik saja, di depan belok kanan kalau mau ke terminal” kata warga setempat.

Ada pengalaman berharga, ternyata di sekitar tanggul sungai ditemui banyak pemukiman warga yang a la kadarnya. Bangunan berpetak dan gelap. Saya tidak ingat persis di titik mana percabangan yang kami lewati setelah menyusur puncak tanggul itu.

“Belok kananki, itu tembus ke terminal Mallengkeri” kata seorang pemuda.

Waktu menunjukkan pukul 20.00 wita saat saya melewati poros yang mengarah ke terminal Mallengkeri. “Yes!” kata Intan saat dia melihat jalan percabangan mengarah pusat kota Sungguminasa.

Dua jam mengikuti jalur tikus, ditemani anak belia saya, tak satupun sumpah serapah, yang ada, “demo terus, sampai kapan kita harus seperti ini?”.

Sesampai rumah, Intan menukas ketus, “Oh pak, jengkelku itu sopir pete-pete tadi, dia gangguka, dia kasih naik matanya ke saya”.

Perasaan saya campur aduk.

Advertisements

Setelah Duka Terbitlah Terang (Mengenang 8 Tahun Tragedi Lengkese’)

“Baru pulang dari bangkenna (kakinya) Bawakaraeng” katanya. Biu’ punya tiga ternak. Itulah yang dijaga dan dirawat. Ternak dari orang tuanya itu menjadi modal penyambung hidupnya setelah lolos dari terjangan maut.

“Saat longsor datang saya sedang di rumah. Saya kena tipes. Saya sakit selama tujuh bulan. Kalau tidak begitu mungkin saya kena juga,” katanya. Senyumnya mengembang kecil. Rumah Biu’ aman dari terjangan tanah tumbang karena berada di sisi selatan kampung.

Setelah kejadian itu, Lengkese terus menggeliat. Warga semakin bersemangat walau ada desakan dari pemerintah setempat untuk pindah tempat tinggal. Beberapa warga bahkan telah berpindah, sebagian bertahan termasuk Daeng Biu’.

Di situ, saya menyapa dengan Daeng Singara’, seorang wanita paruh baya. Dia mengenakan topi lebar dan berbaju kaos dia bergerak naik turun ke sawah yang berundak yang dibatasi pematang menyerupai batas batu besar. Serupa beton.

Sudah dua bulan ini Daeng Singara’ menaruh harapan pada hamparan sawah yang luasnya sekitar setengah hektar ini.

“Adami dua bulan, ini jenis pare lapang (maksudnya beras Lapan). Insyah Allah panen dalam waktu 6 bulan,” kata Singara’. Bukan hanya menunggu padi, Singara’ juga menamam kedelai di pematang.

saya menapak sisi belakang rumah warga yang ditumbuhi kopi, ada kandang itik. Juga sapi. Melewati saluran air yang mengalir deras, kami melepaskan pandangan ke selatan. Hamparan sawah mereka berundak dan terlihat kokoh dengan pematang batu besar. Dibentengi Bukit Tinra’balia, warga bertahan dan meneruskan hidup di sini.

Cara warga mempertahankan hidup di Lengkese, ternyata tidak melulu membahas ketangguhan individu. Mereka berbagi sumberdaya untuk menolong sesama. Ada itikad baik dan kerjasama sosial yang langgeng.  Lengkese’ kaya varietas padi, ada jenis padi “pare uhe”, pare eja, pare punu, pare lapang, dll.

“Sejak banyak lahan sawah dan ternak tertimbun tanah tumbang, kami giatkan kerjasama melalui sistim “attesang,” yaitu sistem bagi hasil dengan meminjamkan ternak atau sawah untuk dikelola” kata Daeng Tika, warga setempat.

Warga Lengkese’ terus menggeliat walau tanggal 26 Maret 2004, tanah tumbang di kaki Bawakaraeng meluluhlantakkan perkampungan mereka. 32 warga terkubur hidup-hidup terjangan bencana dahsyat itu.

Praktek Fasilitasi Petapa Untuk Pembangunan Desa

Mahlil Borahima di depan peserta pertemuan PMD, Depdagri (Foto: Kamaruddin Azis)

Praktek pembangunan daerah terkendala pada kecenderungan masyarakat yang makin skeptis. Masyarakat kehilangan inisiatif untuk berkreasi berdasarkan kapasitas tersedia, masyarakat dikondisikan untuk tergantung pada asupan pihak luar. Inilah tantangan bagi fasilitator untuk mencari celah bagaimana melahirkan inisiatif. read more

Realitas Di Balik Bom Takalar

Tempat pendaratan ikan paling sibuk di Takalar (Foto: Kamaruddin Azis)

“Teror menggunakan bom ikan harus dicari motifnya, kalau pelakunya nelayan motifnya apa?” demikian Dr. M. Darwis, sosiolog Unhas di Harian Tribun Makassar, menanggapi dua ledakan berbeda ruang dan waktunya. Bom meledak di desa Bontosunggu, Takalar pada dinihari Minggu, pukul 02.00 Wita. Beruntung, tiada korban jiwa. Modus bom di Takalar yang hampir bersamaan kejadiannya pada lokasi berbeda, kuat dugaan karena ada skenario.

Penelusuran penulis selama bekerja pada program COREMAP tahun 1999-2003 di Selayar, bom meledak sebelum dilempar ke laut, sudah jamak.  Korban berjatuhan karena; 1. Salah rakit,  bom meledak di tangan karena sumbu terlalu pendek, 2. Pelaku tergelincir dan bom meledak di genggaman, ke-3, iseng atau sekadar show of force, dengan menggunakan botol minuman suplemen dan ditanam di pasir. Yang ketiga ini terjadi jika mereka merasa mendapat back-up.

Saya tidak menyoal jika itu berkorelasi dengan suhu politik di Takalar, tapi kejadian itu terkait realitas lain:  Pertama, betapa peredaran ‘handak’ masih marak (nelayan menyebutnya pupuk). Pupuk dicampur minyak tanah kemudian dikeringkan agar daya ledaknya bertambah ini diduga datang dari Malaysia. Di sana, bebas diperjualbelikan. Ada celah yang luput perhatian aparat penegak hukum termasuk otoritas kepelabuhanan.

Kedua, maraknya praktek penangkapan ikan dengan bom, menunjukkan belum adanya opsi yang pas dalam eksploitasi laut. Padahal, risiko kehilangan nyawa sangat besar, daya ledaknya pun luar biasa. Ketiga, tantangan bagi aparat pengamaman, Dinas Kelautan dan Perikanan dan tentu saja organisasi masyarakat sipil semakin kuat dalam meningkatkan kesadaran masyarakat tentang pelestarian laut.

Walau motifnya ekonomi, penggunaan bom untuk menangkap ikan selain melanggar UU Darurat No. 12/DRT/1951 dapat merusak eksosistem laut, modal masa depan anak cucu. Namun yang pasti, bom akan menyulut ketakutan jika digunakan sebagai senjata menyerang pihak lain demi popularitas politik temporer.

Selayar, Gusung, Taka Bonerate: Luar Biasa!

Pada perjalanan berbekal semangat, persahabatan dan toleransi yang sungguh-sungguh tak sulit menyepakati alur dan pemberhentian. Semua tunduk pada tujuan dan alur yang telah disepakati: meluluskan asa, melonggarkan rasa, bebas kemana dia mau.

“Pada perjalanan ke Pulau Selayar, pulau terpisah dari daratan utama Sulawesi, di bulan Oktober yang basah, di kalender 2011, beberapa orang terikat akan selera dan gairah yang sama: melayari angan, menantang angin, melabuhkan rencana dan memuaskan diri dengan cerita yang berseliweran tentang keindahan pulau Selayar!”

Mereka memulainya di Oktober yang bersahabat, pada bulan peralihan yang masih lembab. Antara gairah meluap-ruap dengan tantangan pasang-surut yang berkelindan. Kadang hujan, kadang panas, kadang rendah, kadang mual, kadang memelas meminta atensi, yah, mungkin pada sekulum senyum dari salah seorang di antara mereka. Anda pasti tahu siapa dia…

Bersiap melakukan perjalanan laut (Foto: Kamaruddin Azis)

Foto 1: Inilah anggota rombongan, seperjalanan yang hendak menjajal asa yang telah diperamnya selama bertahun-tahun.

Menunggu tumpangan (Foto: Kamaruddin Azis)

Mengapa Selayar?

Selayar, karena mereka telah mendengar dan terbius pesona keindahan yang didegung-dengungkan. Mereka percaya, tetapi mereka ingin membuktikannya. Atol ketiga terbesar di dunia, terumbu karang dan pantai berpasir putih. Adakah yang berbeda?

Gusung pada Suatu Siang (Foto: Kamaruddin Azis)

Foto 2: Keadaan Gusung, pulau di seberang kota Benteng, ibukota Selayar yang menyita perhatian mereka. Di balik terik yang membelenggu semangat, pemandangan ini seperti oase keindahan. Sesiapa yang mampu menolak?

Pulau Idaman di Negeri Sendiri (Foto: Kamaruddin Azis)

Foto 3: Kita berkelana dan berkenalan dengan pemandangan laut, pulau, percik air, deru mesin dan pesan perjalanan yang membius ingatan. Mari menikmati pemandangan dan pesona bawah laut pulau luar biasa di dalam rongga Taman Nasional Taka Bonerate, kabupaten Kepulauan Selayar ini. Namanya pulau Tinabo. Pulau yang paling siap menunggu kedatangan anda jika hendak pelesiran bahari.

Welcome to Rajuni Island (Foto: Kamaruddin Azis)

Foto 4: Sempatkan untuk mampir di Pulau Rajuni Kecil, pulau tertua dan paling dinamis kehidupan warganya. Di sana, anak Bajo seperti di atas akan memberi anda pandangan berbeda namun bersahabat.

Yang Berbahagia (Foto: Kamaruddin Azis)

 Foto 5: Jump baby Jump! (Foto: Kamaruddin Azis)

Sebagaimana asa yang terpuaskan, ada kala dimana terbang dan mengamati jejak dibutuhkan. Seperti itulah pilihan si dia walau suhu melumat cream di wajah nan mulus

Berbagi cerita dengan otoritas setempat (Foto: Kamaruddin Azis)

Foto 6: Memuaskan dahaga informasi tentang cara mengejawantahkan kesukaan dan kecintaan pada laut, ikan,karang dan segala pernik keindahan bukti kemahaagungan sang Khalik.

Berharap Datang Lagi (Foto: Kamaruddin Azis)

  Foto 7: Good bye, kami akan datang lagi…Sebab asa selalu dapat diperbaharui. Membayangkan perjalanan baru dan menantang rasanya layak diteruskan…

Fotografi: "Menakar Wajah Sekitar, Meraup Senyum"

Kembali ke Darat (Desa Bontosunggu, Takalar)

Foto 1: Sebagai pekerja pada lembaga sosial yang kerap melakukan perjalanan ke desa-desa pesisir di Sulawesi, saya menemukan oase yang lapang ketika melihat geliat warga di tepi pantai. Di sana ada kerjasama, senyum, bahagia dan tentu saja modal sosial. Seorang nelayan yang kembali melaut tidak bisa meneruskan kegiatannya jika hanya menggantungkan pada dirinya sendiri.

Demi Nabi (Desa Punaga, Takalar)

Foto 2: Kerap kali untuk urusan menghias atau mempercantik diri, perempuan ahlinya. Urusan mendekorasi, merawat dan menjaga penampilan, wanita ahlinya. Apa yang saya lihat di Desa Punaga, Kabupaten Takalar ini menjadi berbeda, sebab momen yang seperti ini jarang terlihat, momen ketika seorang lelaki rela berpanas ria demi memperbaiki wadah berhias untuk kegiatan Maulid Nabi.

Sampai Pagi (Galesong, Takalar)

Foto 3: Mereka, di foto di atas adalah sebagian besar keluarga saya di Galesong, Takalar. Mereka baru pulang dari operasi “purse sein” atau rengge’. Mereka melepas senyum saat saya menyapa dengan satu bidikan kamera. Awesome!

Memuaskan Dahaga (Galesong, Takalar)

Foto 4: Suasana ceria anak-anak di Galesong, bermain seraya menunggu para nelayan pulang dari melaut. Dunia bertabur senyum dan kedamaian: bermain di laut!