Menelisik Ruang Private Kawe-Kawe

Di salah satu tangga KM Kambuno, jelang Ramadan, 1998. Sirene meraung. Kapal yang saya tumpangi dari Pelabuhan Tanjung Priok, Jakarta merapat di Pelabuhan Soekarno Hatta, Makassar, pelabuhan kapal terbesar di timur Indonesia. Saat menuruni tangga kapal tua yang penuh sesak itu, saya dikejutkan oleh sapaan seorang waria (kawe-kawe, istilah lokal Makassar). Berdialek Makassar, dengan nada bicara yang sepertinya akrab di telinga saya.

”Oe, battu kemaeko?” sapanya sambil mencolek lengan. Dari mana, katanya ”battu-a ri Jakarta,” kataku terperanjat. ”Ikau iyya?” tanyaku kembali. ”Battu tonga ri Jakarta,” katanya memberitahu ia juga dari Jakarta. Cara bicara nya spontan dan genit. Penampilannya begitu berbeda. Rupanya Jakarta telah mengubah penampilannya, dandan, gaya bicara dan fisiknya! read more

Advertisements

Dewa Bumi Yang Menjaga Galesong

Suatu pagi tanggal 26 Januari 2009 di Kampung Lanna, Galesong. Pada ruas jalan berpasir dengan hamparan tipis kerikil, matahari mulai meninggi. Di lokasi yang hanya berjarak puluhan meter dari tepi pantai itu, saya awalnya hanya bermaksud mampir sejenak, memotret sebuah bangunan yang didominasi warna merah. Bangunan bertingkat dua itu tampak tak lazim.

Saya lalu mencatat nomor telepon yang tertera di pagarnya yang rapat. Terlihat menara mungil setinggi dua meter lebih di depan sebelah kiri bangunan. Warnanya kuning terang. read more

Ihwal Perrinyameng Warga Towani

Ini cerita tentang Warga Towani di Sidrap, Sulawesi Selatan.

Setelah melewati jalan rusak dan sebagian lainnya sedang dicor beton selama hampir enam, perjalanan kami sampai di Kota Pare-Pare pada pukul 03.00 dini hari, tanggal 24 Januari 2010. Karena kantuk telah menyerang dengan hebat akhirnya kami putuskan menginap di Hotel Wisata Pare. Sebelumnya, di jalur Pangkep-Barru yang rusak itu, kami saksikan satu motor bersujud di bumper mobil truk besar ruas jalan sempit di atas jembatan kecil yang menimbulkan kemacetan.

Seperti tahun lalu, kunjungan kami ini karena adanya undangan dari pemimpin Komunitas Towani Tolotang via sahabat kami Syamsurizal di Pangkejene Sidrap. Tanggal 24 Januari lalu mereka mengadakan upacara adat tahunan yang disebut “Perrinyameng”. Saat itu seperti biasanya, komunitas Towani Tolotang dari berbagai penjuru daerah datang dan mengikuti ritual yang dipimpin oleh sesepuh dan tetua mereka bertempat di daerah Perrinyameng, kawasan Amparita.

Lokasi ini dapat ditempuh setelah melewati kota Pangkajene, ibukota Sidrap lalu mengarah pasar kota Amparita. Dari Pasar Amparita yang dicirikan oleh patung Andi Sulolipu yang berdiri tegak di sisi kanan pasar kita mengarah ke selatan.

Terlambat

Kami terlambat. Waktu telah menunjukkan pukul 10.30 saat kami sampai di ruas jalan yang dipisahkan oleh satu kanal kecil. Jaraknya masih 2 kilo meter dari lokasi upacara. Di situ seorang polisi lalu lintas berjaga sementara jalan telah dipalangi oleh satu batang bambu. Harus ada izin khusus untuk bisa memasuki area itu.

“Kami dapat undangan dari Ambi, pemimpin komunitas,” kata pak Rizal.

“Mana buktinya?” kata polisi itu lalu dia mengingatkan bahwa ada larangan untuk mobil masuk karena di dalam area sudah sangat sesak.

Kami tak habis akal, saat satu mobil pick up rombongan warga Towani melintas, pada pengemudinya, kami sampaikan bahwa kami dapat undangan dari Ambi. Mereka awalnya sangsi lalu kemudian membolehkan masuk. Mobil kami akhirnya lolos. Polisi yang melarang kami, hanya pasrah dan berujar, silakan masuk saja pak, jika ada apa-apa saya tidak bertanggung jawab.

sidrap

Setelah melewati lebih kurang satu kilometer, akhirnya mobil sampai di ruas jalan yang telah disesaki mobil pengunjung. Kami parkir mobil dan mesti berjalan beberapa meter lagi. Suasana di kiri kanan jalan sangat padat. Pengunjung yang lalu lalang, penjual makanan yang sibuk melayani pembeli hingga penjual pakaian cakar juga tumpah ruah di sini.

***

Sebagaimana tahun-tahun lalu, ritual adat Towani Tolotang ini juga dimeriahkan oleh para pedagang dan pengunjung atau tamu undangan. Penjual rambutan, langsat, es putar, jagung rebus, salak hingga penjual bakso.

Lokasi yang menjadi tempat ritual mereka adalah satu kawasan dengan pepohonan yang rindang dan tinggi. Di sisi barat terdapat 5 baris bagunan semacama barak tenda memanjang yang terbuat dari tiang-tiang bambu. Di sana telah berkumpul warga, yang didominasi ibu-ibu, para gadis dan anak-anak. Bangunan ini berbanjar ke selatan.

Pada satu bangunan khusus, telah duduk berjejer para tamu undangan dan keluarga Ambi. Terlihat wakil Bupati Sidrap (Ir. Dollah Mando) dan beberapa pejabat kabupaten dan tamu khusus lainnya. Juga, anggota DPRD setempat dan beberapa elite Towani Tolotang. Terdapat dua baris yang memanjang ke timur panjangnya sekitar 25 meter. Mereka duduk bersila dan berhadap-hadapan di atas meja pendek.

Saya, Pak Rizal dan Fachrul, karena terlambat datang memilih duduk di ujung barat. Suasana terasa ramai dan pikuk.

Gadis-gadis berkebaya biru muda sibuk lalu lalang di antara para undangan. Mereka mengamati dan sesekali mempersilakan undangan untuk mencicipi makanan. Ibu-ibu yang duduk menemani suami atau keluarganya juga berkebaya. Lelaki dewasa, remaja bahkan anak-anak warga Towani saat itu hampir semuanya mengenakan kopiah hitam dan sarung. Inilah momen bertemunya para pengikuti Towani Tolotang yang datang dari berbagai wilayah.

Ihwal Towani

Saya beruntung karena dalam kunjungan ini ditemani Pak Rizal yang pernah 8 tahun menjadi penyuluh pertanian di Wilayah Amparita. Dia mengenal pemimpin Towani saat masih masih kecil. “Ambi (pemimpin komunitas) ini adalah anggota taruna tani. Saat itu di SMP ada namanya, taruna peserta perkemahan pertanian. Kami kerap bersama guru dan Ambi berkemah di tepi sungai dan masuk hutan demi mengenal lingkungan,” ungkap Pak Rizal.

“Dulu saya kerap masuk ke wilayah mereka, berkunjung ke Gunung Lowa, tempat yang selalu dikunjungi oleh pengikut mereka,” kata Pak Rizal.

Di beberapa tempat yang menjadi lokasi yang kerap dikunjungi oleh pengikut Towani itu ada sesuatu yang khas. Menurut Pak Rizal, saat ini diperkirakan ada 40ribu pengikut Towani yang tersebar di sekitar Kabupaten Sidrap seperti di daerah Kanyuara, Otting Dua Pitue, Awakaluku dan Bacukiki di daerah Pare-Pare.

Cerita sejarah yang dipahami oleh warga Sidrap termasuk pak Rizal adalah, ihwal masuknya pengikut Towani adalah semasa pemerintahan Andi Sulolipu, Arung Amparita. Towani datang dari tanah Luwu dan diberi tempat di Perrinyameng.

“Konon, di sana mereka bertahan, hidup dan beranak pinak, disebut Perrinyameng, karena kondisi suka duka kehidupan mereka.” katanya.

Cerita awal mula bertempat tinggal di Perrinyameng itu menjadi simpul kekerabatan mereka. Selain menjadi ritual tahunan dan dilindungi oleh warga Towani, seperti tahun ini di tempat ini mereka menyambung tali silaturahmi di antara mereka dan sahabat sekitar.

Selain terdapat ritual yang sangat tertutup, bertemunya warga ini sekaligus menjadi ajang hiburan dan menempa mental para anak muda mereka. Di sini terdapat lapangan yang menjadi pusat perhatian pada undangan. Tamu dihibur oleh olah raga “adu betis”. Jika dulu yang bertanding adalah orang dewasa maka kali ini adalah anak-anak.

Menurut cerita, tidak diteruskannya pertandingan adu betis orang dewasa karena kerap menyimpan bara dendam setelah eksebisi itu. Kini yang memeriahkan upacara itu adalah adu betis anak-anak. Ini mengingatkan tradisi pukul rotan di Lombok yang juga melibatkan anak-anak.

Ruas jalan masuk ke lapangan telah penuh sesak oleh penonton, di bawah rindang pohon para penonton berdesak-desakan, anak-anak dan orang dewasa. Di bawah tenda undangan, para tamu sudah mengarahkan pandangan ke lapangan.

Di sana, lima orang tua, dengan kopiah dan sarung berdiri siap menengahi pertandingan. Mereka memegang tangan peserta dan memberi pengarahan pada mereka.

Kali ini tidak ada sorak sorai yang berlebihan tapi mereka menikmati. Saat mereka masih betah berkumpul di Perrinyameng, bersama Pak Rizal dan Fachrul, kami meninggalkan tempat itu pada pukul 13.30.

Kami kembali ke Pangkajene.

Fragmen Wanita Berbaju Hitam dan Seorang Lelaki Tua

Hari Selasa, tanggal 26 Januari 2010, sekitar pukul 18.00 saya bersama istri ditemani dua “kurcaci” kami, Khalid Adam dan Aisya Sofia, baru saja menuntaskan makanan di salah satu resto franchise a la Italia di Mal Panakukang.

Sofia, 3,8 tahun, karena mengenakan sepatu tinggi bertemali tak lazim merasakan perih di sekitar tungkai kakinya. “Ma, sakit kakiku. Belikanka sandal cantik!” Tangannya menunjuk ke satu sandal warna kuning tanpa merasa riskan saat kami keluar dari tempat makan. Dia menunjuk ke satu bagian dalam mal, di depan gerai jam tangan. Mamanya setuju saja, dan segera mengenakannya. Saya berdiri tidak jauh dari mereka. Seorang wanita berbaju kaos hitam tanpa lengan baju (semacam can see?), bercelana hitam ketat dengan sandal sepatu temali warna hitam, berada tepat di belakang istri. read more

Bertemu Eno', "Eksodus" Dari Losari

Losari, ya, Pantai Losari beberapa tahun silam adalah surga bagi pengamen dan anak jalanan. Namun, sejak penataan oleh Pemkot Makassar dan kapling teramat luas oleh pihak perusahaan swasta, berbagai kegiatan di poros Jalan Penghibur mulai diatur.

Jika dulu, kita bisa menapaki Jalan Penghibur dengan leluasa dan akrab, kini nampaknya suasana itu bagai asap yang keluar dari sebatang rokok. Tiada lagi. Satu persatu pengamen, anak jalanan meninggalkan daerah itu. Hanya kendaraan mewah yang lalu lalang, kegiatan musik jalanan tak ada tempat lagi, bahkan becakpun minggir. read more

Ben, Dokter Mata Dari Sileya

Dua remaja terlihat sedang memilah t-shirt yang tertata di lemari kaca. Mereka mencari baju kaos bernuansa laut yang pas. Keduanya adalah alumni Perikanan Unhas, pemerhati konservasi terumbu karang yang sedang bertamu ke rumah, tempat praktek sekaligus toko souvenir mini di Jalan Siswomiharjo Benteng.

Melihat saya datang, tuan rumah segera berdiri dan menyalami “Eh, akhirnya ketemu juga” Sapanya. Dia, dr.Benedicta Wayan Suryani Wulandari, Sp.M, satu-satunya dokter spesialis mata yang mendarmabaktikan keahliannya di kabupaten paling selatan di Sulawesi Selatan ini. Ben, begitulah sapaannya telah tiga tahun mengabdi di RSUD Selayar.  (inzet dr. Benedicta dalam pakaian selam, koleksi pribadinya)  read more

Mengapa Hugua Sukses Membangun Wakatobi?

Suatu ketika, seorang lelaki paruh baya, memanggul gulungan poster dan brosur pariwisata dari kampung halamannya. Dia terus saja membawanya menuju pesawat. Dia harus dekat dengan barang bawaannya ini. Karena menurutnya, barang itu akan menjadi cikal bakal masa depan daerahnya”. Dialah Hugua, lelaki yang membawa sendiri lembaran promosi wisata daerahnya. Figur ini bukan sembarangan, dia adalah Bupati Kabupaten Kepulauan Wakatobi, Sulawesi Tenggara.

Kisah di atas saya kutip dari seorang sahabat yang dekat dengannya, dia juga seorang aktivias LSM di Makassar. Pada hari Jumat, 22 Januari 2010 lalu, sahabat itu pula yang mengirimkan pesan singkat saat dalam perjalanan dari Kabupaten Takalar, “saksikan Hugua malam ini di MetroTV pada acara Kick Andy”. Senang dengan kabar ini, lalu memforwardnya kepada sahabat-sahabat tercinta bahkan menjadikannya status di Facebook. read more