Bincang Bupati Pinrang: ‘Pelan Itu Bagus’

Bersama DR. Andi Aslam (dok: pribadi)

Kreativitas dan inovasi sejatinya lahir dari bauran pikiran, hati dan tangan. Ketiganya harus terbuka agar ide-ide kreatif dan inspiratif bisa lahir, dijalankan atau diaktualisasikan bagi sekitar. Itu pula yang saya petik dari hasil perbincangan dengan Bupati Pinrang, DR. H. Andi Aslam Patonangi, SH, MH pada suatu sore yang hangat di lantai 2 Gedung Kementerian Pendayagunaan Aparatur dan Reformasi Birokrasi di Jakarta, 11/07.

***

Latar obrolan kami pada realitas kelangkaan pasokan daging sapi yang dialami saban tahun sebagai tantangan sekaligus peluang bagi Pemerintah Daerah untuk kreatif.

Awal tahun ini, Pemerintah mencatat kebutuhan daging sapi dalam negeri mencapai 663 ribu ton sementara prediksi produksi di tahun yang sama sekitar 400 ribu ton saja.

Sebuah ironi di tengah realitas bahwa Indonesia mempunyai hamparan lahan peternakan nan luas. Demikian pula jumlah peternak yang mencapai 4 juta jiwa. Ada gap sengit antara kebutuhan dan kemampuan produksi. Faktanya, kebutuhan daging sapi nasional baru terpenuhi 60,9% dari daging sapi dalam negeri.

“Itu yang menjadi alasan mengapa Pemerintah Kabupaten Pinrang masuk ke isu peternakan dan perbaikan layanan publik ini,” kata Bupati DR. H. Andi Aslam Patonangi, SH, M.Si (54) saat ditemui di Kantor KemenPANRB, (11/7).

Aslam ada di sana untuk mempresentasikan sekaligus menjawab pertanyaan panelis terkait program inovasi pelayanan publik peternakan ‘Pelan Itu Bagus’ yang diapresiasi Pemerintah Pusat melalui kompetisi Top 99 yang ditangani Kementerian Pendayagunaan Aparatur Negara dan Reformasi Birokrasi (KemenPANRB), (11/7).

Pelayanan Berkelanjutan Inseminasi Buatan dan Gangguan Reproduksi Sapi atau disingkat ‘Pelan Itu Bagus’ adalah inovasi pelayanan publik andalan Dinas Pertanian dan Peternakan, dari kabupaten di ujung utara Sulawesi Selatan yang lolos sebagai Top 99.

Top 99 adalah nama kompetisi Inovasi pelayanan publik tingkat nasional yang diselenggarakan oleh Kementerian Pendayagunaan Aparatur Negara dan Reformasi Birokrasi (KemenPANRB) setiap tahun. Kompetisi dihelat demi mewujudkan One Agency One Innovation demi percepatan peningkatan kualitas pelayanan publik di Indonesia.

‘Pelan Itu Bagus’ adalah satu dari 8 inovasi yang lolos mewakili Sulawesi Selatan.

Masuknya kedelapan inovasi ini adalah buah dari fasilitasi Jaringan Inovasi Pelayanan Publik (JIPP) Sulsel yang terbentuk pada Maret 2018. Buah kerja sama antara Pemerintah Provinsi Sulsel, KemenPAN-RB dan Transformasi-GIZ Jerman.

Pelan Itu Bagus dari Pinrang melenggang ke Jakarta setelah bersaing dengan 2.824 Proposal inovasi pelayanan publik melalui Sistem Informasi Inovasi Pelayanan Publik (SINOVIK). Sebanyak 1.689 lolos seleksi administrasi kemudian 1.463 yang maju ke tahap penilaian proposal sebelum terpilih 99 program inovatif.

Dari Sulawesi Selatan, Pelan Itu Bagus menjadi unik di antara 7 bidang lainnya yang berkaitan dengan isu kesehatan, perikanan, pendidikan dan lingkungan.

Disebut unik sebab Pemerintah Pinrang menyasar bidang yang selama ini sering diperbincangkan namun tidak banyak Pemerintah Daerah yang bersedia mengalokasikan anggaran dan memperbaiki kualitas pelayanan maupun penanganannya.

Mengapa ‘Pelan itu Bagus’?

Dengan luas wilayah 1961,77 persegi Pinrang mempunyai peluang besar. Terdapat hamparan penggembalaan yang sangat luas. JuJmlah ternak sapi di Pinrang hanya ada sekitar 25 ribuan. Angka yang cukup kecil untuk lahan sedemikian luas.

“Di sisi lain, Pemerintah kita masih mengimpor karkas 800 ribu ton pertahun,” sebut Aslam. Karkas adalah bagian dari ternak setelah disembelih, terdiri dari daging dan tulang, tanpa kepala, kaki, kulit dan jeroan.

“Masak ndak bisa substitusi dengan peningkatan produksi?” tanya sosok yang menjabat Bupati sejak tahun 2009 ini. Maksudnya, seharusnya ada cara untuk mengisi gap itu dengan inovasi di bidang peternakan.

“Kami melihat peluang besar untuk mengisi gap itu, memaksimalkan potensi sumber daya alam. Yang kami lakukan adalah memperbaiki pelayanan di bidang peternakan untuk menopang suplai daging ternak sapi nasional melalui inseminasi buatan (IB),” katanya optimis.

“Untuk itulah inovasi ‘Pelan Itu Bagus’ ini didorong. Kami yakin inovasi IB ini tak hanya menawarkan kebaruan tapi kepedulian pada kepentingan bangsa. Tentu dengan dukungan teman-teman di Dinas Pertanian dan Peternakan dan aparatur lainnya. Tidak main-main, mereka tongkrongi selama 21 hari masa birahi sapi,” katanya dengan senyum menyungging.

“Jadi tidak sekadar inseminasi buatan tapi kesungguhan untuk memantau situasi ternak, apakah tidak ada gangguan reproduksi, apakah ada penyakit, perlu tidaknya disuntik hormon, termasuk mengecek birahi tidaknya. Kalau birahi lagi, berarti harus diinseminasi kembali,” papar sosok yang belum lama ini meraih gelar Doktor administrasi publik ini

Apa yang dijalankan oleh satuan kerjanya di Pinrang merupakan refleksi pengalokasian sumber daya daerah untuk mendukung inovasi dan niat luhur membangun bidang peternakan nasional.

“Kami alokasikan sumber daya manusia yang kompeten, penguatan peternak, kami anggarkan APBD untuk ide ini, hasilnya dapat dilihat dari capaian tahunan. Di tahun 2016 kami peroleh 300-an lebih sapi dari program ini, tahun 2017 ada seribu ekor lebih. Hasilnya sudah kelihatan,” tambah peraih ‘Parasamya Purnakarya Nugraha’ (PPN) ini.

“Terkait peternakan ini kan persoalan klasiknya karena kita kurang kompetitif. Perlu intervensi teknologi dan tentu saja inovasi,” ucapnya.

Kalau berharap penambahan populasi dari grazing saja tidak cukup. Itupun banyak kendalanya seperti anak sapi yang kerdil atau cacat,” tambahnya.

***

Inseminasi Buatan (IB) atau kawin suntik adalah suatu cara atau teknik untuk memasukkan mani (sperma atau semen) yang telah dicairkan dan telah diproses terlebih dahulu yang berasal dari ternak jantan ke dalam saluran alat kelamin betina dengan menggunakan metode dan alat khusus yang disebut ‘insemination gun’.

Tujuannya untuk perbaikan mutu genetika ternak, menghemat biaya pemeliharaan ternak jantan, mengatur jarak kelahiran ternak dengan baik, mencegah terjadinya kawin sedarah pada sapi betina (inbreeding).

Istimewa

“Untuk menjamin keberlanjutannya, kita perkuat kelompok. Mereka juga ikut berkontribusi seperti pada dukungan IPR atau Instalasi Pemeliharaan Rakyat, kandang jepit, lahan dan ternak. Kami juga bekerjasama dengan Balai Latihan Ternak Bogor, Jawa Barat, yang berada di bawah Kementerian Pertanian,” imbuhnya.

“Jadi inovasi ini lahir dari kolaborasi dan berjalannya mekanisme kerjasama teknis dan manajemen. Ada pengalokasian sumber daya, dana, aparatur dan sistem pengendalian termasuk peran serta masyarakat,” tegasnya.

“Kami menyadari bahwa meski Pinrang mempunyai padang penggembalaan sangat luas namun kapasitas sumber daya manusia, dalam hal ini pertenak juga perlu mendapat perhatian, makanya kami juga dorong teaching farm. Metode sharing dan evaluasi bersama,” imbuhnya.

Aslam menyatakan bahwa pendekatan sistem berkelompok bidang peternakan akan memberikan banyak manfaat.

“Dengan inseminasi buatan, dengan penanganan ternak yang baik kita bisa dorong juga dusun atau desa mandiri energi. Atau paling tidak, pupuk kandang. Dengan instalasi tambahan kita bisa hasilkan biogas atau substitusi pupuk organik, bisa urea, KCL atau ZA,” imbuhnya.

Menurut Aslam, pertanian yang terintegrasi dengan peternakan adalah hal yang bagus dan perlu didorong. Dia memberikan dampak istimewa.

“Kita punya 12 kecamatan, ada 6 yang kita dorong sebagai areal peternakan dan bisa mengadopsi ini. Sementara 6 kecamatan lainnya bisa ke usahan perikana pantai,” katanya.

Bagi Aslam, ‘Pelan itu Bagus’ sejatinya menawarkan terobosan dan kebaruan. Memberikan dampak ekonomi dan kerjasama di antara peternak.

“Harapan kita ini bisa menginspirasi semua pihak termasuk Pemerintah Pusat sebab jika ini didukung secara luas pasti akan berdampak signifikan ke masa depan Indonesia juga.” sebut Bupati yang mengaku pernah diundang lembaga PBB ke Colombia, Amerika Selatan di tahun 2016 terkait keberhasilannya dalam mengendalikan urusan kependudukan ini.

“Perbaikan layanan untuk bidang peternakan hingga mendorong proses teaching farm. Ada dana APBD untuk operasional dan pembelian semen,” tambahnya lagi.

“Misalnya pembelian sperma (semen) ternak. Kita harus beli semen unggul. Selebihnya, terkait kandang, sapi, lokasi, itu partisipasi masyarakat,” ucapnya.

“Ada dana 178 juta di 2017. Kalau 2016 sebanyak 120-an juta. Itu untuk penyediaan semen,” sebutnya.

Bagi Aslam, inseminasi buatan yang ditangani dengan telaten, disiplin, kerjasama, akan dapat meningkatkan nilai jual sapi dan pendekatan inovtif Pelan Itu Bagus ini merupakan wahananya.

“Ada income, ada tambahan 4 juta rupiah dengan gain seperti itu. Masyarakat mulai merasakan manfaatnya, saya yakin akan semakin banyak yang tertarik menerapkan metode yang kita dorong ini,” katanya lagi.

Untuk mendukung program inovasi ini, Pemerintah Pinrang membangun kerjasama dengan Universitas Hasanuddin di Makassar melalui Jurusan Peternakan. “Untuk konsultasi manajemen dan teknis, kami kerjasama dengan Unhas. Untuk pengadaan bibit kami juga kerjasama dengan Balitnak Bogor. Sekarang kita kembangkan kambing Ettawa, kemudian kambing Boer, kambing pedaging,” katannya.

“Bagi peternak, kami mendorong supaya mereka pahami dulu pola dan teknik budidaya, penekanan pada penguasaan teknik,” tambah Aslam.

Inspirasi untuk masa depan

Dari pertanyaan reflektif tentang apa yang bisa dikontribusikan oleh Pemerintah Pinrang terkait isu daging nasional kemudian muncul ide inovasi layanan inseminasi buatan khas Pinrang ini, pujian memang pantas diberikan.

Aslam optimis apa yang telah dilakukan selama tiga tahun terakhir terkait inovasi bidang peternakan ini dapat menjadi alternatif dalam membangun industri peternakan nasional.

Harapan Pemerintah Pinrang untuk meningkatkan produksi sapi dari yang selama ini hanya 2-3 ekor untuk 5 tahun bisa dicapai seekor pertahun. “Harapan kita bisa seekor pertahun, dan kalau ini berhasil harga jual daging di tingkat peternak juga membaik, kualitas dan volume daging sudah terjamin. Kita tidak perlu heboh lagi karena daging langka,” katanya.

Aslam memetik hikmah bahwa yang mendasar adalah para peternak mengerti dulu sejak awal sebab selama ini sudah banyak program tidak jalan karena persiapan lemah, ketidaksiapan masyarakat. Apa yang dipikirkan oleh Aslam adalah pentingnya adopsi teknologi dalam menjamin ketersediaan pangan dari daging sapi ini.

“Tantangannya adalah kualitas fasilitasi metode kerja, mendorong kreasi dari perangkat Pemerintahan yang ada adalah niscaya sebagaimana ‘Pelan Itu Bagus’ ini,” ucapnya.

“Ketika tema-teman kreatif, pasti akan lahir inovasi, ada manfaat di sana,” tambahnya. Menurutnya, Pemerintah harus ada di sana memberi kejelasan, memberi pengetahuan, melayani telaten. “Selama ini banyak program gagal karena kita lemah di persiapan, waktu diburu-buru, kasip, tidak sabar,” tambah Aslam.

“Padahal untuk transformasi nilai atau ide perubahan harus dijalankan secara perlahan. Pelan-pelan itu bagus,” pungkas Bupati dua periode ini sebelum masuk ke ruang sidang wawancara penilaian Top 99 di Gedung KemenPANRB.

Rawajati, 11/7.

 

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.