Senjata Om Gun

Antara tahun 2001-2003, anak lelaki ini hanya berteman gitar. Dia bukan tipe yang sibuk atau suka cari perhatian sebagaimana anak baru gede. Setiap sore, dia habiskan waktu di teras rumahnya saja: main gitar. Kakaknya yang perempuan, nyaris tak pernah berlama-lama di luar rumah kecuali jika diundang belajar kelompok. “Anak rumahan,” kata anak muda saat ini.

Yang ketiga, hanyalah anak SMP yang sekilas tidak terlalu istimewa, biasa saja. Sementara yang sulung, masih belum genap lima tahun. Anak-anak itu, utamanya si sulung sangat manja pada ayahnya. Mereka sangat kompak. Di rumah itu, mereka ada enam orang. Rumahnya ada di sebelah timur Kota Benteng, Selayar. Rumah yang sederhana. read more

Advertisements

Merawat Spirit Kelautan dari UNHAS

Maxi T. Tjoadi, Muchsin Situju, Iqbal Burhanuddin adalah tiga alumni pertama Program Studi Ilmu dan Teknologi Kelautan (ITK) Universitas Hasanuddin yang diwisuda pada tahun 1993. Sebelumnya, sejak pertengahan tahun 1988, UNHAS bersama IPB di Bogor, UNPATTI di Ambon, UNRI di Riau, UNDIP di Semarang, dan UNSRAT di Manado dirangkai dalam satu program nasional “Proyek Pendidikan Ilmu Kelautan” atau Marine Science Education Project MSEP yang dibiayai oleh Bank Pembangunan Asia (ADB). Milyaran dana dibelanjakan untuk persiapan hingga evaluasinya.

Pemerintah sadar bahwa potensi kelautan yang besar adalah modal utama. Lalu beragam program peningkatan kapasitas sumberdaya manusia di bidang kelautan pun dibesut. Setelah membangun fasilitas perkuliahan di Tamalanrea, marine station di Pulau Barrang Lompo serta infrastruktur penelitian yang standar, minat para siswa menengah atas dari berbagai wilayah Indonesia pun semakin tinggi, utamanya dari belahan timur Indonesia. read more

Dampak Global Warming dan Pentingnya Proteksi Pesisir

Pesisir yang telah direklamasi di selatan Makassar

Daeng Rurung, cucu pemilik Pulau Samalona, Makassar, Sulawesi Selatan gelisah, lapangan sepak bola di pulau itu telah lenyap karena terjangan ombak dari arah barat. Lebih dari 20 meter sisi pulau telah hilang dalam kurun waktu 20 tahun terakhir. Di sepanjang pesisir Galesong, selatan Makassar puluhan meter wilayah pantai terkikis habis bahkan pekuburan warga pun mulai digerus hingga tulang-belulang manusia berserakan sebagaimana terjadi di desa Bontosunggu, Galesong Utara hanya beberapa kilometer dari Makassar.

Coba amati peta rupa bumi wilayah Gowa – Makassar utamanya pada muara sungai Je’neberang dengan meminjam google earth. Kita akan menyaksikan muara sungai yang semakin dangkal karena sedimentasi. Ada lekuk irisan ke bagian dalam wilayah kecamatan Galesong Utara di Kabupaten Takalar yang semakin dalam. Continue reading

Galau Tanakeke, Kampung dari Dahan Bakau

jadilah seperti anak bakau yang memilih lepas dari ketiak ibunya, meluncur ke lumpur payau mencari hidupnya sendiri – Nurhady Sirimorok”

***

Menyusuri Bakau Tanakeke

Perjalanan kami ke Kepulauan Tanakeke, Kabupaten Takalar, Sulawesi Selatan terasa lebih cepat dari biasanya. Hembusan angin timur di bulan Juni 2010 memacu perahu lebih kencang. Setelah menempuh perjalanan selama satu jam lebih akhirnya perahu bermuatan belasan orang tersebut merapat di dermaga Tompotana. Di dermaga sekaligus pelindung pantai dari ombak inilah perahu-perahu antar pulau pertama kali bongkar muatan sebelum satu persatu dijemput perahu yang lebih kecil sampai ke tujuan akhirnya.

Beberapa meter dari dermaga telah menunggu gerobak barang dan orang-orang. Seorang anak lelaki balita duduk di dalamnya. Dia menyita perhatian, saya mengajaknya bicara dan memotretnya. Dia gugup. Ayahnya terlihat mengangkat dua karung beras dan meletakkannya tepat di depan si anak.

Satu per satu penumpang turun. Beberapa wanita sibuk mengangkut karung. Penumpang lainnya, yang juga perempuan membantu mengangkut beban berat seperti kompor, kardus makanan, dan sayur-sayuran. Ada yang bawa jerigen. Menurut cerita mereka, hampir setiap hari mereka membeli air di daratan seberang seharga Rp. 2.500 perjerigen ukuran 30 liter. Hidup yang dinamis.

Setelah kami mengaso beberapa menit, tumpangan pun datang. Perahu lancip panjang, warga setempat menyebutnya jollorok dan terkenal laju.

“Kita akan menuju kampung Lantangpeo,” Kata Darwis, anak muda setempat yang menemani kami. Selain Darwis ada Basri Daeng Rangka, warga desa Cambaya berumur 23 tahun. Dia mengaku masih kuliah. Juga Bahar, warga Lantangpeo. Bersama Rahman, Nurlinda, Salma, Iwan dan dua warga, kami pun melaju. Kami ada sepuluh orang.

***

Perahu pun bertolak dari Tompotana, pulau yang dicirikan oleh rumah warna-warni. hijau, oranye, kuning hingga pink. Jamaknya rumah-rumah di pulau-pulau banyak rumah panggung warga menggunakan warna cat menyolok. Kami juga lewati hamparan lokasi budidaya rumput laut. Ada bentangan tali yang digantung oleh pelampung dari botol air mineral. Temali tersebut rupanya diikat pada patok yang diambil dari dahan bakau yang memang banyak ditemui di dalam kawasan.

Antara lokasi budidaya rumput laut dan pemukiman warga terdapat vegetasi bakau yang menghijau namun tidak terlalu rapat. Bakau yang mengapit permukiman warga.

Langit mendung, laut beriak. Perahu kami meliuk di antara lokasi rumput laut meninggalkan pusaran air, membuih. Bunyi mesin yang keras membatasi obrolan kami. Kami mengarah ke utara. Suasana terasa misterius karena tiba-tiba mendung tebal menghalang perjalanan kami. Darwis yang berdiri di buritan perahu terlihat aneh, dia bentangkan kedua tangannya dengan penutup kepala menyerupai tukang sulap. Dia memang beri petunjuk arah kepada juru mudi di belakang perahu. Melihatnya dari belakang terasa ada aura magis. Kami melewati laut yang dibatasi oleh tali. Semacam kotak budidaya.

“Jalur yang akan kita lalui persis di antara dua hamparan pohon bakau,” Terang Darwis. Benar saja, kami sampai di hamparan laut yang lebarnya tidak lebih tujuh meter. Dari depan kami meluncur perahu yang memuat rumput laut yang baru saja di panen. Ada tiga orang di atas. Perahu kami melambat, memberi jalan kepadanya. Dari sini saya menyaksikan beberapa bagian hamparan di sisi jalan telah ditebang. Sisa ujung batang tebangan sesekali muncul ke permukaan karena muka air laut yang berubah. Di sepanjang jalan, kami mengamati beberapa pohon bakau yang baru saja ditebang.

Tumpukan bakau depan rumah warga

Menurut Darwis, jalan yang jadi ruas lalu lintas perahu ini dulunya adalah hamparan bakau yang ditebas demi akses ke kampung sebelah. Menurutnya, selama ini kayu bakau selain digunakan sebagai patok untuk budidaya rumput laut juga digunakan untuk dijadikan kayu bakar, pagar pelindung maupun bahan bangunan rumah warga. Dan ini telah berlangsung dari waktu ke waktu. Warga nyaris tak pernah mengalami kesulitan untuk memperoleh kayu.

Asal Mula Lantangpeo

Jika selama ini kami hanya mendengar dari mulut ke mulut bahwa gugus pulau ini merupakan lokasi transmigran lokal Sulawesi Selatan maka kali ini kami benar-benar menjajalnya. Jika selama ini hanya melewati perairannya saat berlayar dari Makassar ke Taman Nasional Taka Bonerate di Laut Flores, maka kali ini saya menelusuri lekuk peraiaran pedalamannya. Kawasan Tanakeke juga dikenal sebagai kawasan yang rentan mengandaskan kapal-kapal pengangkut barang dari Makassar.

Ternyata bukan hanya itu, kawasan Tanakeke merupakan gugus pulau-pulau yang dijalin oleh hamparan vegetasi pohon bakau (mangroves), satu ekosistem yang dikenal mempunyai fungsi ekologi yang baik karena mampu meredam ombak sehingga pantai tidak mudah tergerus. Pada lokasi bakau yang padat dan subur, warga bisa mencari ikan, kepiting dan kerang-kerangan yang dapat mendatangkan nilai ekonomi.

Menurut laporan organisasi Yayasan Konservasi Laut di Makassar , organisasi swadaya masyarakat yang bertahun-tahun memfasilitasi masyarakat setempat, luas ekosistem bakau di Tanakeke antara tahun 80an dan 90an adalah 2.000 hektar. Namun kini menurut catatan aktivis Forum Peduli Tanakeke (PUKAT) luas hamparan ekosistem bakau tidak lebih 800 hektar atau telah berkurang lebih 50 persen dalam kurun waktu 20 tahun. Ada indikasi semakin berkurangnya ekosistem ini yang dikhawatirkan akan mengancam keberadaan perkampungan di dalamnya karena terjangan ombak musim barat.

Secara nasional luas ekosistem bakau Indonesia ditaksir hingga 4,5 Juta hektar atau terbesar di dunia, di atas Brazil (sumber: Wikipedia), bakau ini banyak dijumpai di di Indonesia bagian timur. Namun mencermati tren pembangunan dan meningkatnya kebutuhan warga, data ini diduga semakin berkurang, ekosistem bakau seiring makin meningkatnya populasi di sekitar wilayah pesisir dan pulau-pulau di Sulawesi, Maluku dan Papua.

***

Dinamika pemanfaatan dan perubahan luasan bakau di Kepulauan Tanakeke adalah contoh bagaimana proses ancaman keberadaan ekosistem vital di daerah pesisir ini di Indonesia. Orang-orang mesti lebih arif mencermati perubahan ekologis dan dampak ke kehidupan sosial mereka. Ancaman kerusakan ekosistem bakau ini dapat terbaca dari obervasi kami selama melewati jalur laut kali ini.

Kata Tanakeke berasal dari bahasa Makassar, bahasa warga setempat yang artinya tanah, dan keke artinya menggali, atau tanah yang digali. Menurut Darwis, nama ini bermula dari upaya warga pendatang dari daratan seberang ke kawasan ini pada awal tahun 70an. Mereka menebang pohon bakau dan menimbun beberapa lahan berlumpur, lambat laun kemudian menjadi permukiman hingga kini. Lantangpeo dan beberapa kampung dalam kawasan Tanakeke dibangun dari tumpukan batang, dahan dan ranting pohon bakau.

Cara warga menimbun laut dengan kayu bakau tebangan

Jika membuka peta rupa bumi dan kita sorot wilayah kabupaten Takalar, maka gugusan Kepulauan Tanakeke terdiri atas sembilan pulau di sisi barat kaki pulau Sulawesi. Mereka adalah Tompotana, Satangnga, Lantangpeo, Labbutallua, Rewataya, Kalukuang, Dayang-dayangan, Tanakeke dan Bauluang.

Seiring bertambahnya waktu, kini, laut di sekitar pulau telah dikapling, banyak bakau yang dibabat untuk lokasi budidaya. Ini merupakan pemandangan yang sangat mengganggu ketenangan warga walau sebagian lainnya tidak bisa menolak. Mereka tidak bisa berkutik karena kebutuhan ekonomi yang semakin meningkat dan semakin banyak tawaran usaha dari pihak luar.

Masih siang, kami sampai di Kampung Lantangpeo. Beberapa warga telah menunggu di tengah kampung yang warganya tidak lebih dua ratus jiwa ini. Beberapa gundukan potongan kayu dan kulit kayu yang masih basah dapat ditemui di kampung ini. Warga masih mengambil pohon bakau untuk bahan kayu bakar dan patok bagi usaha budidaya rumput laut mereka.

Pada beberapa kolong rumah terlihat tumpukan kayu bakau yang telah mengering. Tingginya lebih semeter. Kayu bakar bakau memang sangat digemari. Baik oleh ibu rumahtangga maupun para pengelola warung makan, seperti usaha menu ikan bakar. Beberapa halaman rumah juga dipagari dahan bakau.

“Kampung ini dulunya lumpur saja, kakek nenek kami membangunnya dengan menumpuk batang, dahan dan ranting bakau” Kata Kepala Dusun Lantangpeo. Dulu hamparan bakau masih sangat rapat, tumbuh dengan mudah. Bebas berkembang. Pak dusun ini pulalah yang menunjukkan ke kami contoh bagaimana membangun gundukan tanah dengan menempatkan kayu sebagai penyusunnya. Seperti yang terlihat di sisi barat pulau.

Perpindahan warga dari daratan utama telah memberikan kesempatan kepada mereka untuk memanfaatkan ekosistem bakau ini. Nun jauh dahulu. Dan, sejak itu pula sejarah pemanfaatan bakau menjadi catatan dalam benak setiap tetua di kampung. Ada yang berubah.

“Pada akhir tahun 90an, beberapa warga berusaha mendatangkan excavator untuk menggali dan meratakan hamparan bakau demi membuka lahan tambak. Saat itu harga udang yang tinggi membuat beberapa pengusaha dari Makassar mau datang ke sini. Utamanya saat krisis melanda Indonesia dan harga udang sangat mahal,” Kata pak dusun bersemangat.

Warna-warni pemukiman warga di Tompotana

“Begitulah, belasan tahun lalu, kami buka tambak. Namun tidak lama bertahan karena pematangnya rusak oleh ombak yang semakin kuat dari waktu ke waktu” Katanya lagi. Kali ini tekanan suaranya melemah.

“Mungkin karena tanaman bakau semakin banyak yang ditebang,” Katanya lagi. Pak Dusun pula, orang tua Bahar yang mengantar saya menuju salah satu penelitian penangkaran kuda laut di barat kampung. Di sana ada beberapa petak kolam kecil berisi kuda laut (sea horses). “Ini penelitian oleh dosen dari Universitas Hasanuddin” Katanya. Kuda laut memang sangat mudah dijumpai di perairan Tanakeke. Hewan laut istimewa ini konon dapat digunakan sebagai suplemen makanan penambah vitalitas pria.

Hampir tiga jam kami di Lantangpeo. Hujan sempat mendera Tanakeke, terlihat beberapa genangan. Setelah menikmati kopi dan kue suguhan tuan rumah, pada sore hari kami pun meneruskan perjalanan ke Kampung Cambaya. Kami pamit pada Pak Dusun, Bahar dan warga setempat yang mengantar kami sampai di dermaga.

Galau Di Cambaya

Cambaya, adalah kampung kelahiran Basri Daeng Rangka, letaknya di selatan Tompotana, jadi keduanya satu pulau. Kami meninggalkan Lantangpeo mengarah ke selatan. Dari jauh terlihat pemandangan pulau Tompotana dalam balutan langit gelap. Terlihat misterius. Warna-warna terang rumah terlihat samar. Kamera yang saya siapkan sedari tadi, nyaris tak berfungsi samasekali. Beberapa ekor burung bangau terbang jauh dari atas pucuk bakau.

Saat sampai di perairan Kampung Cambaya, surut menjemput. Perahu kami mesti perlahan untuk menembus jalur terdekat. Sekilas, pepohonan bakau di sini juga masih terlihat padat. Namun dari kejauhan bekas tebangan terlihat masih baru. Akar jenis Rhizopora terlihat seperti mengangkang dari dalam air. Di atasnya hanya batang tanpa dahan dan daun. Baru saja ditebang.

Kami merapat di Cambaya dengan terlebih dahulu menggulung kaki celana. Perahu tidak bisa merapat ke pantai. Dalam hitungan menit kami pun sampai di rumah Basri.

“Kampung ini kampung yang tenang, masih sangat asri,” Kata Linda. Kampung yang terasa nyaman karena berada di timur pulau. Di sana, matahari terbit di atas daun-daun bakau. “Saat musim timur, angin yang berhembus di antara pohon bakau sungguh mengasikkan,” Kata Linda lagi.

“Di Cambaya, awalnya hutan bakau berfungsi sebagai pelindung pantai dari terjangan ombak saban musim. Bakau pulalah yang jadi ruaya ikan, tempat berkembang-biaknya kepiting bakau, rajungan dan kerang-kerangan. Bakau adalah urat nadi warga Tanakeke,” timpal Rahman.

“Selain potensi rumput laut, Kampung ini bertahan dari pemanfaatan hasil laut seperti rajungan. Kampung kami bertahan dari modal sumberdaya alam laut” Kata Basri menegaskan. Tapi menurut Rahman, dinamisator pada Forum PUKAT ancaman ekosistem bakau di sekitar kampung ini adalah semakin dekatnya aktivitas penebangan oleh pihak luar, selain karena pertambahan penduduk pulau juga karena semakin tingginya permintaan arang kayu bakar dari Makassar. Sangat minim upaya untuk mengurangi tekanan ini.

Menurutnya, perlu adopsi pengelolaan pesisir yang telah teruji dan terbukti didukung oleh kebijakan pemerintah untuk mengantisipasi pembabatan hutan bakau ini. Sebab semua ini terjadi karena geliat komersialisasi bakau yang semakin intens untuk menghidupi anggota keluarga sementara belum ada upaya menggali potensi sumberdaya laut yang sifatnya bijaksana dan berkelanjutan. Mata pencaharian yang tidak merusak ekosistem.

Generasi muda Tanakeke menunggu perubahan

“Walau beberapa warga berinisiatif menanam pohon bakau, namun tidak sedikit pula yang tergoda menebang untuk menjual arang kayu ke Makassar. Coba bayangkan jika jumlah penduduk semakin bertambah sementara luas lahan bakau semakin menipis. Kemana nanti para anak-anak nelayan, generasi muda Tanakeke mencari ikan belanak, beronang, kakap dan rajungan jika bakau semakin langka?” Tanyanya lirih.

Makassar, Januari 2011