Foto Haedar, Saat Sudut Kota Berbicara

Poster Haedar dan Walikota Aco (Foto: Kamaruddin Azis)

Siang terik di luar kantor DPRD Kota Makassar tak membuat Haedar Majid terlihat berkeringat atau kelelahan menyambut tetamu yang silih berganti menelisik satu persatu karya fotografinya (28 Juni 2011). Di ruang terbuka halaman kantor DPRD Makassar itu, sebanyak 42 foto hasil jepretan politisi Partai Demokrat Kota Makassar ini menyita perhatian media dan publik.

Satu hari sebelumnya, tanggal 27 Juni, Walikota Makassar Ilham Arif  Sirajuddin membuka pameran fotografi  pertama oleh anggota DPRD, di kota Makassar yang digelar dengan tema, “Menangkap Wajah Membingkai Makassar” 27-28 Juni 2011. Penggunaan halaman kantor DPRD oleh anggotanya ini terbilang di luar kelaziman. Jika biasanya pameran diselenggarakan di ruang seni atau gedung kebudayaan, maka kali ini di panggung para politisi.

“Saya mau warga Makassar dapat berkunjung ke tempat yang mestinya menjadi milik publik ini”, kjata Haidar saat saya menanyakan apa motivasi penggunaan tempat istimewa ini.

Haedar, 42 tahun, adalah wakil ketua DPRD Kota Makassar. Alumni Sospol Unhas ini kelahiran Mariso, Makassar. Saat pameran, sengaja memilih sebanyak 42 koleksi fotonya yang merupakan hasil kurasi empat fotografer kawakan kota Makassar. Keempatnya merupakan fotografer dengan talenta luar biasa dan mempunyai integritas mumpuni. Mereka adalah Muhary W. Nurba, Armin Hari, Thaib Chaidar dan Junaidi Sudirman. Mereka juga tulang punggung perkumpulan fotografer Makassar atau PERFORMA.

“Ada seribuan foto yang saya setor dan hanya 42 ini yang layak dipamerkan” Kata Haedar nyengir. Dia dengan sigap menemani saya saat menelisik satu persatu fotonya. Foto yang kuat dari sisi “human interest”.  Foto yang sangat luar biasa untuk seorang Haedar yang baru enam bulan menggeluti dunia fotografi.

“Adalah Alem F. Sonni, dosen Unhas sekaligus pengurus Performa yang menantang saya untuk memamerkan foto ini” Katanya.

“Itu tiga bulan lalu. Saat ini hanya ada empat saya yang layak menurut Sonni, tetapi kemudian saya bergabung dengan Performa dan mendapat input dari teman-teman di situ. Saya juga ikut photo hunting” Lanjutnya.

Dari 42 foto yang ditampilkan, saya menemukan impresi yang kuat dari wajah, ekspresi, momen dan  potret wajah warga kota yang saat emosi. Yang bahagia, bekerja keras, bersemangat, damai dan apa adanya. Ada satu potret wajah yang oleh Haedar disebutkan diperoleh di Pasar Terong. Juga, potret wanita yang mempunyai ekspresi wajah yang kuat, dengan kain di kepala. Foto yang ditawarkan Haedar lebih menyorot ekspresi warga kota dengan latar profesi dan sudut kota yang fasih berbicara.

Dari sisi konsep saya sangat mengapresiasi gagasan mementaskan karya fotografi di gedung DPRD ini. Pun, keterlibatan beberapa fotografer profesional di ajang ini menjadi bukti bahwa karya yang dipamerkan sangat memenuhi dimensi keabsahan kreasi layaknya fotografer dengan nalar serta daya tangkap wajah sosial.

Koleksi foto yang luar biasa untuk seorang pemula sekaligus anggota legislatif yang pastinya sangat sibuk dengan urusan DPRD kota.

“Ini bapak saya” katanya saat menunjukkan satu foto lelaki tua yang mengangkat seekor ikan merah besar. Foto inilah yang menyambut kita saat mulai naik ke lantai dua kantor DPRD sebagai ruang pameran.

“Ayah saya seorang nelayan” Katanya bangga.

Sepertinya dibutuhkan lebih banyak Haedar lain yang dapat mengangkat tema sosial kota ke ruang pamer institusi pemerintah maupun non-pemerintah. Issu pesisir dan laut, misalnya?

Advertisements

Prahara Negara Maritim

“]
Agus sedang bersimpuh layu di atas pasir (Foto: Kamaruddin Azis)

Pulau Barrang Lompo hanya berjarak beberapa mil laut dari lokasi proyek mercusuar Center Point of Indonesia (CPI), proyek ambisius yang kelak akan menelan triliunan dana publik di lekuk Makassar, Sulawesi Selatan. Pada 15 Juni 2011, di pulau berpenduduk lebih lima ribu jiwa itu, Rodaan Al Galidi penyair kelahiran Irak yang berdomisili di Belanda duduk mematung. Di atas tumpukan batu karang, dia memandang lirih ke Agus, anak muda usia 20 tahun yang sedang bersimpuh layu di atas hamparan pasir. Matahari membakar punggungnya, dia dijemur dengan harapan pulih namun peluangnya sangat tipis. Dia akan kehilangan masa depannya.

 

Rodaan dan delapan penulis asal Australia, Amerika, Belanda, Ethiopia, Mesir dan Turki, berkunjung ke pulau dalam wilayah administratif Kota Makassar. Kota yang dibangun dari jejak sejarah maritim cemerlang imperium Gowa nun jauh dahulu. Para penulis datang dan berbagi cerita dengan warga, sekaligus menawarkan cermin. Rodaan menelisik, “jika benar ada ratusan Agus lain di pulau ini, mengapa tiada upaya menahan untuk mengulang tindakan yang sama?”

Ada fakta terpapar. Ada refleksi mengais luka. Luka yang selama ini tertutup oleh dusta angka-angka sukses pembangunan di wilayah pesisir dan pulau-pulau, kerlip narasi prestasi yang buat silau para penguasa hingga alpa mengakui ketimpangan perlakuan horizontal. Ada issu pembangunan yang vis-a-vis, antara pertumbuhan populasi yang melesat kencang dan daya dukung ekologi yang semakin terbatas, pelik kompetisi dan migrasi pemanfaatan sumberdaya hingga ke perairan jauh. Pulau-pulau sempit yang semakin sesak. Imbasnya, konflik pemanfaatan ruang dalam pulau serta di setiap titik perairan, tempat di mana nelayan mencari hasil laut.

Warga mengail sumberdaya laut dengan bom ikan, membius, merusak terumbu karang, hingga konflik antar nelayan bahkan konflik antar negara seperti pembakaran perahu-perahu nelayan asal pesisir Sulawesi, di Ashmore Reef, Australia beberapa waktu silam menjadi sejarah kehidupan mereka. Belum lagi krisis lingkungan pesisir seperti sedimentasi yang tinggi di muara, abrasi pantai yang menelan pemukiman, pencemaran laut dan ancaman climate changes yang menyulap tinggi air. Warga dan ekosistem sedang mengintai satu sama lain. Ada kompetisi pemanfaatan yang berujung pada penderitaan warga.

Begitulah sisi lain Indonesia, negara maritim yang hanya indah di atas kertas perencanaan dan panggung-panggung megah birokrasi yang rentan, nirdaya dan memprihatinkan. Pemerintah yang tidak sensitif krisis, juga lalai dari tanggung jawab.

Pergeseran Nilai

Prahara dan ancaman sosial masa depan pesisir Indonesia dapat ditarik linier dari kompleksitas issu di pulau Barrang Lompo serta kisah si lumpuh. Issu tanpa rencana aksi sekaligus potret ketidakmampuan warga keluar dari belitan ekonomi dan lalainya negara mengamankan warga (social safety) dan ekosistem. Spektrumnya luas dan kita bahkan tidak pernah membaca argumentasi yang pas dari pemerintah, di mana dan untuk apa mereka ada? Mengapa begitu tak peduli pada derita warga, lebih memilih membesarkan kroni dan pseudo-kuasanya sendiri?

Ekosistem pesisir (coastal ecosystem), terumbu karang (coral reefs), padang lamun (sea grass) tempat warga menangguk ikan, udang dan kekerangan sejak turun temurun kini kosong melompong. Untuk mendapatkannya lagi nelayan menempuh cara instan. Jika tidak, mereka harus jauh berkelana. Sumberdaya telah bergeser dan tergerus karena rejim “ekonomi” mengekstraksi mereka dari memberi makan sanak keluarga “subsisten” menjadi pemberi makan pengusaha perikanan, untuk pasar yang rakus. Sumberdaya lokal punah, hingga mereka merangsek bahkan menembus batas negara dan keselamatan diri. Jargon kolaborasi pengelolaan sumberdaya pesisir dan laut hanya laku di meja-meja seminar dan lokakarya.

Organisasi sosial berbasis kekerabatan lokal, seperti sistem punggawa-sawi (patron client), mengalami pembengkakan fungsi. Dari sekadar memenuhi keamanan anak buah kapal (ABK) dan keluarga (clients) kini mesti memenuhi tuntutan pengembalian modal oleh pengusaha, kreditor dan eksportir ikan.  Kerjasama sosial yang dulu efisien mengurangi biaya produksi kini bergeser menjadi padat kapital. Kekerabatan dan jaminan sosial khas pesisir lambat laun sirna.

Di kepulauan Selayar, tradisi Panglima Menteng yang membatasi penangkapan kerang dan lola, tiada lagi. Di Maluku, tradisi Sasi perlahan dilupakan, di Aceh struktur organisasi Panglima Laot yang sejatinya mengutamakan solidaritas sosial di laut bergeser menjadi alat memobilisasi dukungan politik praktis. Di pesisir terjadi pergeseran fungsi sumberdaya-organisasi-norma, terjadi perubahan kualitas dan kuantitas yang ekstrim. Bukti bahwa pemerintah belum memberikan apa-apa. Sementara pada tingkat entitas warga, mereka terlena untuk keluar dari sengkarut yang berkelindan dalam ragam dimensi kehidupannya.

Pesisir dan laut sebagai wahana kebudayaan, interaksi sosial, tabungan masa depan generasi di ambang konflik pemanfaatan. Tuntutan untuk bertahan hidup membuat warga pesisir tak punya banyak alternatif lain. Organisasi masyarakat sipil pun nyaris tak punya strategi. Wilayah pesisir yang kompleks dan rentan itu sejatinya membutuhkan kolaborasi pengelolaan, sesuatu yang mudah diucapkan tapi sulit diejawantahkannya.

Karena 70 persen rakyat Indonesia berdiam di wilayah pesisir, maka sangat penting bagi penentu kebijakan plus perencana, untuk merujuk ke fakta fundamental seperti terpapar di atas, sebagai bahan kritik atas pendekatan pembangunan pesisir dan laut selama ini yang simplistik dan kehilangan substansi. Mestinya, anggota rumah tangga (household), harus jadi unit analisis pembangunan, bukan misi periodik rejim yang kerap bias dan karikatif.

Karena keselamatan setiap lapis warga adalah tangggung jawab negara maka pendekatan pembangunan pesisir dan pulau-pulau haruslah komprehensif. Mengumbar janji anggaran pembangunan yang besar dan kemegahan prasasti maritim tanpa merujuk ke orang perorang seperti korban lumpuh penyelaman itu, pasti omong kosong belaka.

Penulis Asing di Barrang Lompo, yang Terkesan dan yang Prihatin

Rodaan Al Galidi penulis jangkung asal Irak yang berdomisili di Belanda duduk mematung di atas tumpukan batu karang. Dia memandang lirih ke Agus yang bersimpuh layu. Remaja berumur 20 tahun ini lumpuh muda. Itu adalah salah satu pemandangan dari rangkaian “Makassar International Writers Festival, MIWF” di Barrang Lompo (15 Juni 2011). Satu hari sebelumnya para penulis ini mengunjungi Galesong, salah satu kawasan pesisir di selatan Makassar.

***
Selain Rodaan Al Galidi, si penyair berkebangsaan Irak yang bermukim di Belanda yang mempunyai proyek pribadi, “Menghibur orang dengan puisi”; hadir pula penulis Ethiopia yang kini tinggal di Amerika Serikat, Maaza Mengiste yang dijuluki “The Young Idol in Literature”, Abeer Soliman dari Mesir, blogger dan penjaja cerita sekaligus penulis Best Seller di negaranya, dan Gunduz Vassaf, kolumnis terkenal dari Turki, John McGlynn, otak di belakang Lontar Foundation yang menerjemahkan buku-buku top Indonesia ke dalam bahasa Inggris, dan beberapa penulis lokal Makassar lainnya, seperti Shinta Febriany, Hendra Gunawan, Erni Aladjai dan Hamran Sunu.

Khrisna Pabicara penyair Makassar menemai Rodaan Al Galidi di dermaga Barrang Lompoa 

Mereka menjadi bagian dari “Coastal Community Program” kerjasama Rumah Budaya Rumata’ dengan Ikatan Sarjana Kelautan (ISLA) Universitas Hasanuddin serta Writers Unlimited The Hague. Rumata’ adalah organisasi kebudayaan yang dikelola oleh sutradara beken Riri Riza dan penulis kawakan asal Makassar yang kini berdomisili di Australia, Lily Yulianti Farid.

Kunjungan penulis tersebut didampingi oleh Andi Januar Jaury Darwis, Ketua persatuan olah raga selam POSSI Sulawesi Selatan, Lurah Barrang Lompo, S.B Kadir, Ketua ISLA Unhas, beberapa warga dan dua orang alumni Kelautan Unhas, yaitu Irma Sabriany (Kla 2004) dan Ismawan AS (Kla 2003).

Rombongan berangkat ke pulau dengan menggunakan dua unit speedboat milik Pemkot Makassar dan sesepuh olah raga bahari Sulawesi Selatan Andi Ilham Mattalatta di dermaga Popsa. Tujuan kunjungan ini adalah untuk melihat kehidupan dan dinamika warga pulau dalam wilayah adminsitratif Kota Makassar.

Irma Sabriany (Kla 2004), menemani para tamu 

Sebagaimana diketahui bahwa terdapat 11 pulau dalam wilayah Kota Makassar. Peserta menyusuri jalan pulau dan memandang pemukiman warga yang sangat sempit dan padat, mengamati Marine Station Unhas, mesjid besar Barrang Lompoa, hingga ke pekuburan tua. Beberapa dari mereka mengabadikan kuburan yang unik dalam area itu.

Selama observasi pulau tersebut diantar oleh ketua RW setempat. Mereka terkesan dengan insiatif perpustakaan yang dikelola oleh Ima Saleh, warga pulau yang didukung oleh “Books for Women”. Selain itu para tamu juga takjub pada wujud mesjid di Barrang Lompo yang sangat megah, serta semangat kerja warga pulau berpenghuni lebih 5irbu jiwa ini.

Para penulis asing di perpustakaan “Books for Women” didampingi Lily Yulianti Farid (Rumata’) 

Penulis Gunduz asal Turki di depan warga bercerita tentang Turki. “Turki adalah negeri dominan Muslim namun juga sukses di sepakbola. Jika warga bisa memperbaiki mesjid mestinya bisa juga memberpaiki lapangan bola menjadi pusat olah raga dan kemajuan pulau. Warga tidak perlu menunggu bantuan pemerintah, silakan patungan untuk membangun stadion bola” Katanya kepada dua orang warga Barrang Lompo.

***
Oleh pak RW kami diantar ke salah sisi barat pulau. Rombongan melewati jalan sempit yang telah dipaving block. Di sana, rombongan mendapati Agus. Anak muda ini tanpa baju dan duduk memandang laut. Dia pucat. Matahari memanasi punggungnya yang hitam pekat.

Agus adalah korban dekompresi penyelaman. Dia lumpuh karena terlalu lama menyelam di dalam laut. Sudah beberapa hari ini selalu dibawa ke sana untuk berjemur. Konon, untuk menyembuhkannya.

“Jika ada 20 nelayan di blok kampung ini telah lumpuh karena penyelaman, kenapa pula belum ada inisiatif untuk mencegahnya?” kata Rodaan dengan nada prihatin.

“Ini terkait kebutuhan ekonomi” kata Januar. Butuh waktu dan upaya kerja keras untuk menyadarkan warga apalagi jumlah penduduk semakin bertambah dan butuh menghidupi keluarga, katanya. Rombongan kemudian bertolak ke Lorong Janda dan menemui Mama’ Mima’. Di lorong itu terdapat delapan janda yang kehilangan suami karena penyelaman, juga karena kecelakaan di laut.

Dialog Amma’ Mima’ dengan penulis asal Mesir, Abeer Soliman dan penulis wanita asal Ethiopia, Mangiste tentang bagaimana para wanita mengisi waktunya memancing gelak dari para tamu dan warga lokal. Mereka terkesan dengan kerja keras para wanita Barrang Lompo untuk meneruskan hidup.

Sebelum bertolak ke Makassar, para tamu menikmati sajian makan siang di rumah Pak Saleh, seorang sepuh di Barrang Lompo. Sajian sayur kelor, racikan mangga (raca’ mangga) dan ikan bakar beronang, kakap dan ikan karang lainnya membuat para tetamu berdecak kagum.

Para tetamu saat berkeliling pulau Barrang Lompo 

Kejutan tidak berhenti di situ. Pukul 12.30, saat rombongan ke dermaga, rupanya para penumpang juga baru datang dari Kayu Bangkoa. Satu persatu mereka turun dari kapal penumpang. Sontak, Khrisna Pabicara segera mendaulat Rodaan untuk naik ke kursi dermaga untuk baca puisi. Suasana menjadi riuh. Tepuk tangan dan pujian warga berdatangan.

“Kami sangat senang sekali dan akan datang lagi,” janji Wendy Miller, fotografer asal Melbourne Australia dengan mantap.

Galesong, Di Kilas Sejarah

Para nelayan di Galesong. Tangguh di laut (Foto: Kamaruddin Azis)

Kawasan Galesong, membentang dari wilayah Bontomarannu di pesisir selatan hingga Desa Aeng Batu-Batu yang bersebelahan dengan Kelurahan Barombong, Kota Makassar. Di timur berbatasan dengan wilayah kecamatan Bajeng. Jika hendak menuju pusat daerah Galesong dari Makassar dapat ditempuh dari daerah Limbung, dari jalan raya negara Makassar – Takalar sejauh 25 kilometer ke barat. Atau dari Kota Makassar melewati Barombong dan melewati jembatan diatas sungai Jeneberang.

Dua penanda strategis kawasan ini adalah dibangunnya tiga benteng pertahanan Kerajaan Gowa yaitu, Benteng Sanrobone, Galesong dan Barombong. Dari ketiga benteng ini hanya Benteng Sanrobone yang masih tersisa.

Di dalam sejarah, Galesong adalah salah satu wilayah kekuasaan kerajaan Gowa. Terdapat satu catatan yang menjelaskan bahwa pada tanggal 13 Juni 1635, saat itu Sultan Alauddin (Raja Gowa ke -14) berada di Beba (kini adalah salah satu desa dimana terdapat Tempat Pendaratan Ikan yang ramai), salah satu daerah di utara Galesong di dekat pantai (yang menurut lontarak) kepunyaan Andi Mappanyukki, peristiwa ini dikatakan terjadi pada tanggal 18 Juni 1635.

Karaeng Galesong putra Sultan Hasanuddin dari istri keempatnya bernama I Hatijah I Lo’mo Tobo yang berasal dari kampung Bonto Majannang. Karaeng Galesong bernama lengkap I Mannindori Kare Tojeng Karaeng Galesong yang lahir pada 29 Maret 1655. Pada masa pemerintahan Sultan Hasanuddin, ia diangkat sebagai Karaeng Galesong (Galesong, termasuk bawahan kerajaan Gowa) dan kemudian menjadi panglima perang kerajaan Gowa.

Tidak banyak lagi kisah yang berasal dari Kawasan ini hingga periode kemerdekaan. Namun sempat pula bergejolak ketika banyak warga setempat yang ikut bersama Kahhar Muzakkar pada saat pemberontakan DI/TIII. Banyak dari mereka yang melarikan diri hingga Palopo dan Mamuju.

Pasca perang kemerdekaan, ketika beberapa kawasan strategis di pesisir pantai disiapkan untuk jadi kabupaten atau wilayah afdelling, para tokoh kunci dari Galesong termasuk H Bostan Daeng Mama’ja, salah seorang garis kuat keturunan Karaeng ikut membidani lahirnya Kabupaten Takalar dan menjadikan Pattallassang sebagai ibukota kabupaten pada tahun 1959.

Tahun 2008, Kawasan Galesong dimekarkan menjadi tiga kecamatan yaitu, Kecamatan Galesong Selatan, Galesong dan Galesong Utara. Kecamatan Galesong adalah kecamatan baru dan merupakan perpaduan beberapa desa dari dua kecamatan sebelumnya. Di Kecamatan inilah atau tepatnya di Desa Galesong, terdapat Balla Lompoa atau kediaman raja Galesong dari turun temurun.

*) Dari berbagai sumber. Sebagian tulisan di atas dikutip dari Buku Suriadi Mappangara dalam “Ensiklopedi Sejarah Sulawesi Selatan sampai tahun 1905” (2004)

I Mannindori, Karaenga Ri Galesong

Kerajaan Gowa yang mahsyur berabad di kaki pulau Sulawesi itu, akhirnya takluk di moncong meriam Kompeni Belanda. Di daerah Bungaya, dalam tahun 1667 Sultan Hasanuddin alias I Mallombassi Daeng Mattawang bersimpuh pada klausul Bungaya walau sangat merugikan kerajaan. 15 benteng di sepanjang pesisir selatan runtuh, petinggi kerajaan ramai-ramai tunduk pada Belanda.

Namun, Kompeni tidak serta merta menguasai jalur pelayaran Indonesia barat ke timur. Di laut Spermonde (kini, meliputi perairan kabupaten Takalar hingga Pangkajene Kepulauan di utara) mereka menyebut adanya gangguan dari “Macassarsche zee rovers”, lanun dari Makassar. Mereka adalah prajurit Kerajaan Gowa yang dipimpin oleh I Mannindori, penguasa wilayah Galesong di selatan Somba Opu.

I Mannindori, Raja Galesong atau Karaenga ri Galesong enggan tunduk pada isi Perjanjian Bungaya. Dia sesak pada isi perjanjian yang menurutnya tidak adil. Bulat tekadnya untuk melawan dan memilih meninggalkan tanah leluhurnya, berlayar ke barat menyusun strategi dan melanjutkan perlawanan.

***

Kualleangna tallanga natoalia” lebih baik kupilih tenggelam dari pada kembali, begitulah barangkali isi benak Karaeng ketika memutuskan bersiasat ke laut. Dari pada tinggal tapi hanya jadi pemimpin tanpa pengikut, dari pada jadi panglima tanpa prajurit. Dari pada jadi Karaeng tanpa pengikut.

Bersama prajuritnya nan setia mereka mengembara di Selat Makassar dan mengganggu kepentingan pelayaran Belanda. Dalam buku-buku sejarah disebutkan bahwa Karaeng Galesong akhirnya diterima dan dilindungi oleh Trunojoyo di Jawa Timur.  Bersama Trunojoyo, bara perlawanan kepada Kompeni tak jua padam. Mereka bersatupadu melanjutkan perlawanan.

Dalam pengembaraannya ini,  terjadi kemelut di kerajaan Banten, dan ia turut bergabung bersama Sultan Ageng Tirtayasa (Raja Banten) dan disaat Trunojoyo (Pangeran dari Madura) melakukan perlawaanan di kerjaan Mataram terhadap Belanda pada tahun 1676-1679, Karaeng Galesong turut mendukungnya. Dalam beberapa kali pertempuran dengan kerajaan Belanda yang membantu Mataram, akhirnya pasukan Madura dan Makassar berhasil merebut Karta (Keraton Plered) ibukota Mataram pada 12 Juli 1676. Kemuduian I Mannindori Karaeng Galesong memindahkan ibukota itu ke Kediri.

Di Banten, Karaeng Galesong kawin dengan salah seorang putir Trunojoyo, yang bernama Suratna dan melahirkan seorang anak bernama Karaeng Naba, dan Karaeng Naba kawin dengan salah seorang putri Mataram. Kawin mawin secara turun temurun itu akhirnya melahirkan Dr.Wahidin Sudirohusodo,  Ir Wardoyo Daeng Majarre, Budiarjo Karaeng Naba, Dr.Ir Siswono Yudo Husodo, sampai ke Setiawan Jodi.

Kini, Sultan Hasanuddin tersenyum bangga, namanya abadi dalam kenangan, dia pahlawan, pada lukisan, pada papan nama universitas, hingga billboard bandar udara. Sosok Karaeng yang satu ini kasat dan namanya mewangi dimana-mana. Dia pejuang. Nun jauh di sana, ribuan kilometer dari tanah leluhurnya, Karaeng Galesong yang pantang surut ke pantai itu, memilih tenang tanpa medali di desa Ngantang, Malang, Jawa Timur. Sendiri.

***

*) Dari berbagai sumber. Sebagian tulisan di atas dikutip dari Buku Suriadi Mappangara dalam “Ensiklopedi Sejarah Sulawesi Selatan sampai tahun 1905” (2004)

Kentut, Tamparan dari Deddy Mizwar

Kentut (Gambar by Google)

Tanggal 3 Juni 2011, sambil menunggu istri yang ngobrol dengan temannya saya memilih ngacir ke Sinema 21, Mall Panakukang. Ada empat film yang akan tayang saat itu. Kentut jadi pilihan saya.

Kentut? Rasanya, ini kali pertama saya membaca judul film itu. Di posternya pun tidak banyak yang bisa menjelaskan mengenai genre film itu namun setelah melihat bahwa ada Deddy Mizwar sebagai pelakon utama. Saya pun memilihnya.

Selain Deddy, ada Keke Suryo, Cok Simbawa, Ira Wibowo, dan beberapa pelakon tenar.

***

Melihat satu menit pertama saya jadi paham. Film ini ingin mengentuti politik Indonesia. Sosok itu ada Patiwa dan Jasmera. Dua rival yang coba perebutkan kursi pemimpin Kabupaten Kuncup Mekar. Film parodi ini sarkas dan menggelitik.

Benar saja. Adegan dimulai saat Jasmera yang diperankan oleh Deddy Mizwar melakukan kampanyedengan gaya yang nyeleneh. Persis gaya beberapa politisi Indonesia jika mau jadi Bupati atau Walikota. Melamar artis penyanyi sebagai calon wakilnya yang diperankan oleh Iis Dahlia, si penyanyi dangdut.

Film ini cenderung terlihat sebagai “film asal-asalan”, setting lokas tidak terlalu bagus. Mungkin karena melibatkan banyak orang, sehingga banyak adegan yang tidak seirama. Ada sosok yang dipanggil Greg dengan aksen Madura sebagai si tukang kentut. Pada beberapa adegan terlihat secara jelas “pesan sponsor” semisal koran bernama Le Lembut, Kompos, hingga nama Rumah Sehat – Sakit, iklan Promaag, dan lain sebagainya”.

Kata kentut merujuk ke kondisi Ibu Patiwa si calon yang terkena rentetan peluru dari orang tak dikenal dan menurut analisa dia akan sembuh jika telah mengeluarkan angin alias kentut.

Menampar Perilaku Politisi

Banyak dialog yang tanpa perlu penjelasan lanjut membuat kita berkesimpulan film ini menerabas semua sendi dan hal-hal prinsip. Semisal: “Antar penganut agama mengharamkan dzikir bersama”. “Kepercayaan titik langit”, “Setiap rombongan, memperoleh bantuan pulsa, 100ribu, dan ketua rombongan 200”, kata Ira Wibowo, yang berlagak sebagai “master champaign” Ibu Patiwa.

“Wartawan, tidak boleh dimusuhi. Masyarakat butuih info” kata sebagian yang lain yang sudah sangat jelas apa maunya.

“Bupati, tertembak atau ditembak?” dan masih banyak lagi. Memaksakan Kehendak Film menyorot dilema antara politisi baik dan buruk namun kerap berkelindan sebagai satu “sampul baik-baik saja”. Saling curiga dan saling mengintai.

“Bencana!” Kata Jasmera saat mendengar janji Patiwa jika terpilih kelak. Dia mau mengubah daerahnya dengan “positif” dengan tegas memaksakan gagasannya. “Rakyat tidak perlu banyak rencana Bu,” Kata Jasmera terkekeh. “

Rakyat kita mau pesta” katanya.

Program saya, kata Jasmera, adalah melegalkan perjudian.

“Anda keterlaluan” Kata Patiwa yang tersulut emosinya sebagai pemimpin baik-baik.

“Inilah yang selalu saya tentang. Itu namanya munafik” Kata Jasmera ngotot.

“Jika perjudian dilegalkan maka pelacuran pun akan jadi legal?” Kata Patiwa.

“Iya, dari pada mereka ngetem di jalanan” katanya terbahak-bahak.

Dialog dalam film berdurasi 90 menit ini sangat kocak dan norak. Persis gaya sebagian besar politisi kita saat ini.

MIWF 2011, Mengapa Galesong dan Barrang Lompo?

Tiga kontributor Rumata' (Foto: Kamaruddin Azis)

Tanggal 14-15 Juni 2011, delapan (8) penulis internasional asal Mesir, Belanda, dan Australia serta 4 penulis lokal Makassar peserta Makassar International Writers Festival (MIWF 2011) akan berkunjung ke Galesong dan Pulau Barrang Lompo.

MIWF merupakan festival kebudayaan yang terlaksana atas kerjasama Rumah Budaya Rumata’ yang kerjasama dengan beragam pihak termasuk Ikatan Sarjana Kelautan (ISLA) Unhas. Rumata’ dibesut oleh sutradara beken Riri Riza dan penulis kawakan asal Makassar, Lily Yulianti Farid.

Para penulis itu mengadakan kunjungan ke wilayah pesisir untuk melakukan kontak dengan warga, utamanya generasi muda melalui dialog dan pembacaan karya sastra. ISLA UNHAS mengusulkan kedua lokasi itu dengan pertimbangan sebagai berikut:

Galesong

Satu kawasan pesisir penting di selatan Kota Makassar. Dapat dijangkau melalui dua jalur, via Barombong dan Kota Sungguminasa,Gowa.  Galesong merupakan wilayah dengan catatan sejarah heroik yang mengagumkan jika dikaitkan dengan epos perlawanan Raja Gowa terhadap VOC.

Di Galesonglah muncul nama Karaeng Galesong yang meneruskan perlawanan pada Belanda meski pun Sultan Hasanuddin di Gowa telah takluk pada perjanjian Bungaya.  Inilah yang menjadi ciri perlawanan sosial yang menjadi kebanggaan warga Galesong hingga kini. Di Galesong ada “rumah keluarga kerajaan, Balla Lompo”, serta kuburan raja-raja.

Kawasan pesisir ini berubah dalam waktu cepat sejak jalur transportasi dari Makassar ke Takalar dibuka via Jembatan Barombong.  Di samping itu, banyak tokoh kerajaan Galesong yang menjadi bidan lahirnya pemerintahan Kabupaten Takalar di Sulawesi Selatan.  Galesong adalah penopang ekonomi kabupaten Takalar dan merupakan wilayah pesisir yang sangat dinamis secara budaya, sosial, ekonomi dan ekologi dari waktu ke waktu.

Barrang Lompo

Satu pulau paling modern dibanding 11 pulau dalam wilayah administratif Kota Makassar. Dapat dijangkau dengan kapal kayu reguler dari Makassar dengan tarif Rp. 10ribu. Berangkat setiap hari dari Kayu Bangkoa, Makassar pada pukul 11.00 am.  Barrang Lompo adalah potret pulau yang sangat berubah dalam waktu cepat karena mempunyai hubungan sosial-ekonomi yang kuat dengan daratan Kota Makassar.

Nelayan Barrang Lompo dikenal dengan pola eksploitasi yang sangat massif dengan alat tangkap modern. Mereka menyisir perairan timur Indonesia bahkan sampai ke Perairan Australia. Dari kegiatan ekonomi berbasis Kelautan ini, di Barrang Lompo banyak janda karena suaminya jadi korban bom ikan, atau meninggal karena penyelaman teripang. Di Barrang Lompo ada “Lorong Janda”.

Di pulau ini pula terdapat Marine Station yang dikelola oleh Universitas Hasanuddin dalam meningkatkan kapasitas pendidikan Kelautan.