Penulis Asing di Barrang Lompo, yang Terkesan dan yang Prihatin

Rodaan Al Galidi penulis jangkung asal Irak yang berdomisili di Belanda duduk mematung di atas tumpukan batu karang. Dia memandang lirih ke Agus yang bersimpuh layu. Remaja berumur 20 tahun ini lumpuh muda. Itu adalah salah satu pemandangan dari rangkaian “Makassar International Writers Festival, MIWF” di Barrang Lompo (15 Juni 2011). Satu hari sebelumnya para penulis ini mengunjungi Galesong, salah satu kawasan pesisir di selatan Makassar.

***
Selain Rodaan Al Galidi, si penyair berkebangsaan Irak yang bermukim di Belanda yang mempunyai proyek pribadi, “Menghibur orang dengan puisi”; hadir pula penulis Ethiopia yang kini tinggal di Amerika Serikat, Maaza Mengiste yang dijuluki “The Young Idol in Literature”, Abeer Soliman dari Mesir, blogger dan penjaja cerita sekaligus penulis Best Seller di negaranya, dan Gunduz Vassaf, kolumnis terkenal dari Turki, John McGlynn, otak di belakang Lontar Foundation yang menerjemahkan buku-buku top Indonesia ke dalam bahasa Inggris, dan beberapa penulis lokal Makassar lainnya, seperti Shinta Febriany, Hendra Gunawan, Erni Aladjai dan Hamran Sunu.

Khrisna Pabicara penyair Makassar menemai Rodaan Al Galidi di dermaga Barrang Lompoa 

Mereka menjadi bagian dari “Coastal Community Program” kerjasama Rumah Budaya Rumata’ dengan Ikatan Sarjana Kelautan (ISLA) Universitas Hasanuddin serta Writers Unlimited The Hague. Rumata’ adalah organisasi kebudayaan yang dikelola oleh sutradara beken Riri Riza dan penulis kawakan asal Makassar yang kini berdomisili di Australia, Lily Yulianti Farid.

Kunjungan penulis tersebut didampingi oleh Andi Januar Jaury Darwis, Ketua persatuan olah raga selam POSSI Sulawesi Selatan, Lurah Barrang Lompo, S.B Kadir, Ketua ISLA Unhas, beberapa warga dan dua orang alumni Kelautan Unhas, yaitu Irma Sabriany (Kla 2004) dan Ismawan AS (Kla 2003).

Rombongan berangkat ke pulau dengan menggunakan dua unit speedboat milik Pemkot Makassar dan sesepuh olah raga bahari Sulawesi Selatan Andi Ilham Mattalatta di dermaga Popsa. Tujuan kunjungan ini adalah untuk melihat kehidupan dan dinamika warga pulau dalam wilayah adminsitratif Kota Makassar.

Irma Sabriany (Kla 2004), menemani para tamu 

Sebagaimana diketahui bahwa terdapat 11 pulau dalam wilayah Kota Makassar. Peserta menyusuri jalan pulau dan memandang pemukiman warga yang sangat sempit dan padat, mengamati Marine Station Unhas, mesjid besar Barrang Lompoa, hingga ke pekuburan tua. Beberapa dari mereka mengabadikan kuburan yang unik dalam area itu.

Selama observasi pulau tersebut diantar oleh ketua RW setempat. Mereka terkesan dengan insiatif perpustakaan yang dikelola oleh Ima Saleh, warga pulau yang didukung oleh “Books for Women”. Selain itu para tamu juga takjub pada wujud mesjid di Barrang Lompo yang sangat megah, serta semangat kerja warga pulau berpenghuni lebih 5irbu jiwa ini.

Para penulis asing di perpustakaan “Books for Women” didampingi Lily Yulianti Farid (Rumata’) 

Penulis Gunduz asal Turki di depan warga bercerita tentang Turki. “Turki adalah negeri dominan Muslim namun juga sukses di sepakbola. Jika warga bisa memperbaiki mesjid mestinya bisa juga memberpaiki lapangan bola menjadi pusat olah raga dan kemajuan pulau. Warga tidak perlu menunggu bantuan pemerintah, silakan patungan untuk membangun stadion bola” Katanya kepada dua orang warga Barrang Lompo.

***
Oleh pak RW kami diantar ke salah sisi barat pulau. Rombongan melewati jalan sempit yang telah dipaving block. Di sana, rombongan mendapati Agus. Anak muda ini tanpa baju dan duduk memandang laut. Dia pucat. Matahari memanasi punggungnya yang hitam pekat.

Agus adalah korban dekompresi penyelaman. Dia lumpuh karena terlalu lama menyelam di dalam laut. Sudah beberapa hari ini selalu dibawa ke sana untuk berjemur. Konon, untuk menyembuhkannya.

“Jika ada 20 nelayan di blok kampung ini telah lumpuh karena penyelaman, kenapa pula belum ada inisiatif untuk mencegahnya?” kata Rodaan dengan nada prihatin.

“Ini terkait kebutuhan ekonomi” kata Januar. Butuh waktu dan upaya kerja keras untuk menyadarkan warga apalagi jumlah penduduk semakin bertambah dan butuh menghidupi keluarga, katanya. Rombongan kemudian bertolak ke Lorong Janda dan menemui Mama’ Mima’. Di lorong itu terdapat delapan janda yang kehilangan suami karena penyelaman, juga karena kecelakaan di laut.

Dialog Amma’ Mima’ dengan penulis asal Mesir, Abeer Soliman dan penulis wanita asal Ethiopia, Mangiste tentang bagaimana para wanita mengisi waktunya memancing gelak dari para tamu dan warga lokal. Mereka terkesan dengan kerja keras para wanita Barrang Lompo untuk meneruskan hidup.

Sebelum bertolak ke Makassar, para tamu menikmati sajian makan siang di rumah Pak Saleh, seorang sepuh di Barrang Lompo. Sajian sayur kelor, racikan mangga (raca’ mangga) dan ikan bakar beronang, kakap dan ikan karang lainnya membuat para tetamu berdecak kagum.

Para tetamu saat berkeliling pulau Barrang Lompo 

Kejutan tidak berhenti di situ. Pukul 12.30, saat rombongan ke dermaga, rupanya para penumpang juga baru datang dari Kayu Bangkoa. Satu persatu mereka turun dari kapal penumpang. Sontak, Khrisna Pabicara segera mendaulat Rodaan untuk naik ke kursi dermaga untuk baca puisi. Suasana menjadi riuh. Tepuk tangan dan pujian warga berdatangan.

“Kami sangat senang sekali dan akan datang lagi,” janji Wendy Miller, fotografer asal Melbourne Australia dengan mantap.

%d bloggers like this: