Tambak Sehat Perlu Kerjasama Sosial

Demi menggenjot pertumbuhan ekonomi, ketika banyak lahan tambak kolaps dan kering kerontang, pemerintah mencari terobosan baru. Ragam strategi telah dicoba, salah satunya menawarkan spesies udang baru namanya jenis Vannamei. Tentang udang, setelah gencarnya serangan penyakit pada budidaya udang windu (Penaeus monodon), ada kecenderungan udang bawaan dari luar negeri, seperti L. Vannamei, menjadi komoditas alternatif pada budidaya udang di tambak.

Udang vannamei merupakan udang asli dari negeri jauh di bagian barat pantai Amerika Latin,  Peru dan Meksiko. Udang ini diyakini dapat dibudidayakan di daerah tropis, seperti Indonesia.  Walau muncul kekhawatiran bahwa jenis ini tidak akan bertahan lama. Sudah banyak pengalaman menunjukkan bahwa spesies dari luar (non endemik) kerapkali menjadi sumber penyakit baru. Mengadopsi spesies lain untuk menutupi ketidakproduktifan spesies sebelumnya merupakan jalan pintas yang banyak terjadi di Indonesia.

Dilema Bisnis Udang

Di Sulsel, udang dan kakao adalah dua komoditi yang bersanding dengan nikel sebagai tiga besar penghasil devisa. Kini, tetap menjadi tumpuan namun ada dilema menggelayut. Kedua komoditi dirundung duka, digerogoti hama dan penyakit ganas. Banyak pelaku bisnis ini meninggalkan lahannya. Luasnya hamparan kakao dan tambak udang seakan-akan hanya cerita sisa kekayaan belaka. Sebagian besar telah susut produksi.

Banyak yang paham penyebabnya namun selama 20 tahun terakhir,  praktis tidak ada kemajuan berarti dalam memberantas serangan hama penyakit pada primadona ekspor tersebut. Berbagai metode dan teknologi pencegahan topdown tidak berhasil. Dimanakah letak persoalannya? Dan upaya apa yang layak ditempuh? Pertanyaan ini diajukan untuk memberi kesadaran baru karena selama ini, jauh sebelum terobosan di atas, perkembangan sektor perikanan dan perkebunan kita jalan di tempat jika dibandingkan kemajuan negara tetangga. Bisnis udang di Sulsel sedang di persimpangan jalan.

Banyak hasil penelitian menyebutkan bahwa maraknya atau meluasnya penyakit ini, dikarenakan sistem usaha yang tidak higienis. Jika ini benar, maka akar penyebabnya adalah sikap pekebun atau petambak dalam memandang jenis komoditi yang dikelolanya. Banyak yang masih tak acuh, karena masih mengadopsi cara pandang tradisional. Masih menggantungkan pada sikap baik alam. Nampaknya, petambak (termasuk petambak) kita tanpa inovasi dan semangat telaten dalam merawat.

Pada beberapa kasus, tambak-tambak semi intensif atau tradisional jauh dari penanganan “best management” yang memadai. Petambak, nyaris tidak punya waktu untuk melakukan perawatan, kontrol kualitas air, pengapuran atau tindakan preventif lainnya. Mereka lebih mendahulukan bahan-bahan kimia dan pestisida sebagai pembasmi hama dan penyakit.

Pada usaha tambak, sistem tana guna air yang tidak menggunakan filter, sistem perpipaan yang buruk, lemahnya kontrol kualitas air kerap menjadi pemicu masuknya hama. Hal ini kerap dialami pada tambak-tambak tradisional, usaha dimana sebagian warga pedesaan menggantungkan harapannya. Jumlah tambak tradisional inilah yang banyak di Indonesia. Mereka juga kerap tidak taat musim tebar.  Seringkali, ada yang baru menyebar benur sementara di petak lain, sedang panen. Ketika tambak lain sedang mengeringkan arealnya, petak lain sedang mengisi. Di sinilah kerap terjadi kontaminasi penyakit atau hama.

Solusi Alternatif

Selain menyiapkan anggaran, pemerintah perlu menstimulus atau memberi contoh praktik kerjasama antara petambak, tidak sekadar menyiapkan skema bantuan dana. Salah satunya dengan melibatkan pihak ketiga atau pekerja sosial yang akan mamfasilitasi komunikasi dan penguatan kapasitas pelaku usaha. Karena dengan melakukan hal itu, upaya pengelolaan tambak yang lebih baik akan mengarah pada pencegahan meluasnya penyakit mematikan tersebut.

Pihak ketiga dapat mendorong kesepakatan di antara pelaku usaha misalnya, jadwal bersama di tambak seperti pengapuran tambak, tebar serentak, membeli benur atau bibit dari hatchery atau penyuplai bibit terakreditasi, sistem pengelolaan air dan sebagainya.  Dukungan teknis dari perguruan tinggi, instansi terkait, memang tetap diutamakan namun tidak bisa melupakan kerja-kerja kolektif pada tingkat akar rumput demi merevitalisasi komoditas penyumbang dollar tersebut. Diperlukan peningkatan kapasitas, pengetahuan dan skill petani/petambak mengelola arealnya secara dialogis dan transformatif.

Hal lain adalah bahwa selama ini telah banyak pelatihan yang diberikan kepada petambak dianggap tidak efektif karena cara penyampaiannya tidak sesuai dengan kapasitaspeserta.  Selama ini rendahnya implementasi inovasi hasil penelitian dan praktek best management practices (BMP) baik di usaha tambak, pada tingkat lapang karena kurang mempertimbangkan preferensi petani terhadap karakteristik inovasi dan metode petani belajar dalam perencanaan usaha. Banyak yang lalai dengan karakteristik teknologi yang mesti mereka anut misalnya bagaimana mengetes kualitas air, pemupukan dan sebagainya.

Akhirnya, jelas sekali bahwa alokasi dana pemerintah dan dukungan infrastruktur bukanlah segalanya, merangsang daya kritis petambak untuk belajar secara mandiri dan bekerjasama di antara mereka lebih penting, dengan kata lain, pemerintah mesti merefleksi kembali strategi dan metodologi peningkatan kapasitas petambak selama ini.

Advertisements