Tugu Ingatan dan Perayaan Abdul Rasyid Idris

Abdul Rasyid Idris pasti menyadari apa bahwa apa yang ditulisnya telah pergi. Itu sebabnya, segenap esai yang ditulisnya dalam Anging Mammiri, Jejak Makassar Tempo Dulu ini, sejatinya diterima sebagai aksi perayaan dan penghormatan terhadap masa lalunya. Demikian tulis Alwy Rahman, di salah satu helai.

***

Pria berkacamata dan bersuara khas ini saya kenal dua puluh tahun lalu. Pada satu Training of Trainers Participatory Rural Appraisal Unicef di Hotel Adelia Orchid Park, Malino dan Kanreapia yang dikelola FIK ORNOP Sulsel. Belakangan saya tahu kalau dia adalah juga pendahulu di LSM berbasis di Ujung Pandang, Lembaga Pengkajian Pedesaan, Pantai dan Masyarakat (LP3M) sebelum saya bergabung. Dari LP3M, dia bergabung Lembaga Mitra Lingkungan, membentuk organisasi JATI sebelum bekerja untuk program CSR di Luwu Timur. Tentu saja banyak fragmen dalam hidup pria jebolan HMI ini yang tak saya ketahui, namun saya bisa menyimpulkan bahwa dia punya cita rasa sosial dan pemihakan yang kuat. Setidaknya kala untuk kesekian kalinya dia kembali menyodorkan buku hasil pengembaraannya ke masa lalunya di Ujung Pandang, menemui angin kesiur kenangannya di ‘Anging Mamiri’, begitu judul buku yang diterbitkan Nala Cipta Litera, Makassar ini.

“Saya terpengaruh dengan bukunya Daeng Nuntung, Semesta Galesong itu,” katanya menunjuk saya. Saat saya bertemu dengannya, di Sabtu (09/04/2017) di bilangan Pa’nakkukang, Makassar. Rasyid rupanya membaca buku yang saya hasilkan bersama Panyingkul di tahun 2009 itu. Buku yang dia maksud adalah buku kecil yang berisi pengalaman saya tinggal di Galesong, Takalar . Malam itu, berrsama saya, hadir Muhary Wahyu Nurba, penulis komplit yang ikut membidani lahirnya buku menarik Anging Mammiri bersampul Losari tempo dulu itu.

Terkait cita rasa merawat kenangan pada Ujung Pandang, buku ini menjadi istimewa karena mendapat endorse dari sutradara beken Riri Riza ini dengan kalimat, “Kumpulan tulisan Abdul Rasyid Idris mencatat bagaimana kota begitu dekat dengan warganya, sentimentil dan mengundang senyum, namun juga kritis mencatat betapa banyak yang hilang di Makassar hari ini, semoga pemimpin kota dapat membacanya.”  Sebagaimana upaya Riri yang acap ditunjukkannya dalam menjaga keunikan Makassar, Rasyid juga ingin menggugah kita semua tentang pentingnya menjaga kenangan, merawat ragam dimensi properti sosial budaya kota, pada laku santun, kerjasama sosial, atraksi seni kebudayaan.

Tulisan ini bolehlah disebut resensi assala’, sebuah hasrat yang lahir terlalu dini karena saya bertemu penulisnya semalam ditemani tiga sahabat yang supersibuk. Yang satu akademisi, penulis tenar, dan penyuka Rhoma Irama serta sarung, satunya perempuan cantik berambut ikal dengan kulit putih setara usia 17an. Satunya lagi adalah penulis komplit tadi—penyair, ustadz (merujuk ke janggutnya yang rebah), bintang pelleng juga.  Kak Rasyid, begitu saya memanggilnya, baru saja kembali dari utara Sulawesi, dia bekerja sebagai konsultan program CSR, sementara Muhary lebih banyak bermukim di Kota Mataram, kota yang disebutnya sebagai kota tenang, kota tempat dimana hatinya tertambat erat.   Sudahmi deh, panjangna..

Kembali ke buku Anging Mammiri. Di buku ini, saya merasakan suasana batin ketika mulai merangkai kata membahasakan Galesong (selatan Makassar) tahun 70an hingga 80an dalam buku Semesta Galesong itu. Selebihnya saya memberikan apresiasi ke Kak Rasyid, betapa ia telah mengalokasikan sumber daya sebegitu nyata dan tak mudah, apalagi di timeline hidupnya yang sungguh padat, keluarga, pekerjaan, jarak, kesempatan. Pada Rasyid, waktu, uang, pikiran, tenaga, demi sebuah buku menjadi sebuah keniscayaan. Menurutku ini yang luar biasa dan tak banyak aktivis LSM yang berani mengambil konsekuensi, menghabiskan sumber daya untuk sebuah buku. Saya mengatakan demikian sebab sejak tahun 2009, belum ada buku yang serupa Semesta Galesong kecuali buku ‘proyek’ pesisir dan bersponsor. Ah, kini saya yang kembali tertantang.

Jujur saja saya belum membaca semuanya, masih sebagian kecil, terutama pada judul yang menggoda namun saya bisa sampaikan suasana batin dan motif Kak Rasyid pada buku ini dengan mengutip puisinya.

…untuk menjalani hidup, berbagi cinta kepada apa dan siapa saja. Hingga semesta tersipu menikmati, keluguan kita yang ternyata mengabadi.  Di puisi yang bersemayam di ruas buku Mimbar Penyair Makassar – Wasiat Cinta (2013) itu, rasanya sudah menjawab mengapa pria berkacamata, bersuara khas ini rela menetak waktu, membiarkan jemari menari siang malam menuliskan pemihakan sosialnya untuk kesekian kalinya. Keluguan kita yang ternyata mengabadi, sebangun penggalan kalimat Pram, menulis adalah matra keabadian. Saya baru saja membaca beberapa judul seperti Daeng Torro yang mengurai sepak terjang seorang jagoan sekaligus pakappala tallang di Pasar Butung, selain jagoan dia juga punya kedekatan humanis dengan A Pui. Ada pula Tanta Gode’ yang hendak menghantar kita pada keberadaan becak di Ujung Pandang, demikian pula Baba Kammbussulu’ yang bikin geli.

Lalu Pacato’,

Kaddo’ Minynya’,

Tujua Ri Karebosi,

Katedral dan Perpustakaan Tua,

D.K.M,

Pantai Losari,

Makassar Lakekomae…

Tentang Angin Mammiri, rasanya betul yang disebutkan Alwy Rahman, akademisi Unhas bahwa buku ini seperti Tugu Ingatan, memori kolektif bagi siapa saja yang pernah tinggal dan merasakan pesona Ujung Pandang. Tugu yang mematri ragam kenangan, menghantar kita ke Ujung Pandang Tempo dulu, seperti judulnya, pada bumi Anging Mammiri. Begitulah, jadi bagi Sosodara yang pernah tinggal di Kota Makassar atau Ujung Pandang rasanya harus memiliki buku ini untuk memantik dan menemukan kembali remah kenangan yang mungkin saja saat ini seperti gambar-gambar atau kata-kata asing yang tak jelas asal usulnya. Ba, tojenga, buku ini membantu Anda menyatukannya sebagai mozaik tugu kebanggaan di tengah kondisi kota kontemprer yang sungguh ngadat ini.

Tamarunang, 09/04.

Advertisements

Surgaisme Hugua, Menggelitik Para Ahli

Hugua bersama para pembedah buku (Foto: Kamaruddin Azis)

Hugua, sosok yang dijuluki Bupatinya Ikan-Ikan dari Kabupaten Kepulauan Wakatobi, Sulawesi Tenggara itu terlihat santai. Sore, tanggal 26 September 2011 itu, dia diapit lima pengamat mumpuni di bidang yang digelutinya. Hugua berbaju hitam dengan garis oranye. Lengan pendek. Dia siap menunggu aksi bedah dari para ahli asal Universitas Hasanuddin.

Berlatar spanduk bedah buku: “Surgaisme, Landasan Dunia Baru” karya Hugua telah duduk, Prof dr. Irawan Yusuf, P.hD (Dekan Kedokteran), Dr. Tadjuddin Parenta, MA (pengamat ekonomi), Prof Dr.Jamaluddin Jompa, M.Sc ketua pusat kajian pesisir dan pulau-pulau. Ada pula Prof Dadang Ahmad, P.hD, Pembantu 1 Rektor, Dr. Nunding Ram, M.Ed (Kapus Kebudayaan). Ada ahli filsafat ilmu, lingkungan, kesehatan, kebudayaan dan ekonomi. Formasi yang komplit, jika melihat latar para pembedah.

***

Dengan berdiri, Hugua menjelaskan alasan lahirnya buku itu karena adanya refleksi pada kegagalan dua pendekatan, liberalisme dan sosialisme. Pada ranah ekonomi, dia menyebut telah terjadi gagal pasar, yang oleh Adam Smith, invisible hands karena melibatkan tangan Tuhan dan telah membawa ketidakberaturan di duna yang berujung pada kerusakan lingkungan. Menurutnya, ada kecenderungan bahwa kalau tidak punya uang, manusia pasti merampok. Atau kedua, pasti meminjam.

Ada dua kutub yang tarik menarik dan membuat hubungan alam dan perilaku manusia menjadi tidak koheren. Dan ini membutuhkan mediasi. Mediasi ini yang oleh Hugua dia sebut Surgaisme, kata kuncinya kebahagian dan hakikat kemanusiaan.

“Adalah sifat manusia untuk selalu punya keinginan, punya istri lebih satu, dari bupati, mau jadi pemimpin provinsi, bahkan negara” papar Hugua yang telah mendapat anugerah sebagai tokoh Inspirasi Indonesia tahun 2010 dari Majalah Bisnis & CSR dan La Tofi Enterprise.

Tapi menurut Hugua itu harus diekstrak secara benar dan diraih di jalur yang benar pula.

Di Buku itu, Hugua menceritakan eksistensi cinta, kerjasama sosial, ikatan-ikatan sosial, termasuk sifat dasar manusia kaitannya dengan eksistensi alam, ada sifat tamak, sifat cinta dan sosial. Ada dua kutub, antara liberalisme dan sosialisme, ada utara, ada selatan.

Buku Surgaisme, secara sederhananya memadukan beberapa pendekatan maupun teori yang telah pernah ada walau tidak dibahas secara detil. Hugua menawarkan satu kompromi dengan pesan kunci, sayangi diri dan sekitar. Bahagiakan diri dan bahagiakan sekitar. Dia menjelaskan kunci kesuksesan dan kebahagian yang datang dari jiwa bahagia,  senang. Kesejahteraan datang dari perasaan dan pikiran, jadi jiwa bahagia lahirkan ragawi bahagia. Intinya penting untuk menyiapkan jiwa bahagia.

Menurutnya, kebahagiaan, adalah fungsi dua variable, and how your spiritual quotions, kepada pembicaraan aspek khilafiah, tingkat tinggi, dan ketika kita bermanfaat pada sekitar.  Itulah esensi buku Surgaisme ini. Termasuk di dalamnya mengesampingkan muatan kapitalisme, dengan banyak bersyukur dan menikmati apa yang ada.

“Sesederhana itu” katanya.

“Jadi ketika anda telah membahagiakan, maka anda akan menjadi terhormat. apapun yang anda lakukan akan menjadi berbeda. Hugua tidak menciptakan Wakatobi, tetap masa depan Hugua. Leadership adalah percontohan”. Katanya.

Menurutnya, penampakan fisik, pakaian bagus adalah dimensi spiritual dan dimensi lainnya adalah thanks to people. Ketika berterima kasih ke orang maka sesungguhnya kita berterima kasih ke alam,  Thank to nature hingga thank to God.

“JIka itu diterima maka tentu kita tidak akan suka membunuh. Apapun” katanya.

Memberi buku dengan cinta (Foto: Kamaruddin Azis)

“Pelaku bom Solo itu adalah gambaran orang-orang yang tidak punya masa depan” katanya.  Padahal sejatinya manusia sebagai individu harus mencintai diri dan lingkungannya.

Buku ini sekilas terlihat rumit dan sulit dipahami bagi pemula atau yang kurang familiar dengan ideologi atau paham yang yang telah ada. Sehingga oleh Hugua disarankan untuk dibaca secara perlahan dan berulang.

Para Pembedah

Prof dr. Irawan Yusuf, P.hD menyebut paparan Hugua mengenai diri, lingkungan, kebahagian dan hakekat kehidupan ini sebagai satu inisiatif global movement. Yang menjadi pemberian alam dan sikap global manusia. Ada peluang untuk kembali ke situ. Dalam prinsip biodiversity, memang ada kecenderungan untuk merusak ekosistem keseluruhan.

Namun demikian, menurutnya sesuatu yang tidak dikonkritkan hanya akan menjadi utopis. Mengapresiasi atau tidak diapresiasi apakah itu pikiran dan berevoluasi jangka panjang namun mengubah masyarakat secara aplikatif, maka itu baru benar. Jika tidak, dia hanya akan jadi utopia.

“Kalau prinsip Surgaisme dipertahankan dengan baik dan dijabarkan atau dimanifestasikan maka itu sangat positif. Jika terperangkap dalam birokrasi saja maka itu akan utopia” tandasnya.

“Secara substantif gagasan ini merujuk pada upaya memperbaiki kondisi alam dengan bercermin pada dua kondisi dasar. Ideologi kapitalisme bisa bertahan tapi tidak pernah bertahan dan berasal dari sifat dasarnya. Prof Mubyarto menyebut ekonomi pancasila, karena tidak rakus, dia mahluk sosial. Tapi itu persepsi kita”

“Tapi bagi saya, mau kapitalis, mau sosialis, silakan pemerintah atur, sebaik mungkin. Toh, di China, pun sangat maju. Lebih bagus jelas jenis kelamin daripada hermaprodit” kata prof Irawan.

Di mata Dr. Nunding Ram, di buku ini ada beberapa “kontradiksi interminis”, ada beberapa pernyataan yang kontradiktif.  Secara spesifik dia menyebutkan bahwa seungguhnya cinta itu memberi, not to take. Kita mencintai termasuk ketika menerima ketidaksempurnaan. To give, not to take. Bukan menikmati kecantikan. Tapi mensyukurinya.

Bagi saya yang penting adalah “Moral is the key thing”. Tentang Surgaisme, kita ini sudah berpasang-pasangan. Jika ada Surgaisme maka mestinya ada Nerakaisme, Ada, hedonism, liberalism, sebagai misal, Amerika itu kaya, tapi miskin. Visi Amerika itu salah, terbaik, jangan yang selalu mengacaukan dunia. Terkaya, terbaik, tapi ambil minyaknya orang. Rakus” tandas Nunding.

“Berterima kasih ke Tuhan itu ibadah. Sehingga Tuhan tidak membutuhkan kita, tapi sebaliknya. Itulah mengapa saya mempertanyakan tulisan di halaman 112 yang menyebut kata Tuhan yang bermakna Tuhan butuh kita” katanya.

“Kita sudah melihat banyak fakta, banyak orang kaya tetapi mengalami “kemiskinan spiritual”, merasa kosong jiwanya. Steven Covey, ternyata mengalami emotional touch dengan keluarga yang semakin berkurang. Inilah nilai-nilai kemanusiaan” terang Nunding.

Sementara di mata, Dr. Tadjuddin Parenta, kegagalan ekonomi pasar yang dimaksudkan oleh Hugua melalui penjelasan The Invisible Hands itu tidak pas, karena sesungguhnya dalam ekonomi ada faktor lain yang juga tidak bisa dikesampingkan yaitu ketika ada asumsi-asumsi pada prinsip ekonomi.

Dia menyebut bahwa sejauh ini telah ada modifikasi atau penyesuaian sistem ekonomi liberal di beberapa negara sehingga dianggap tidak pernah final atau hilang.

“Kapitalisme tidak akan hilang karena akan beradaptasi” katanya. Banyak hal-hal yang berkembang bahkan dianggap paham baru semisal Ekonomi kerakyatan, ekonomi Pancasila namun ini pun tidak bisa berjalan dengan baik.

Dr. Tadjuddin Parenta, MA membedah buku Hugua (Foto: Kamaruddin Azis)

“Mengenai isi paparan di buku itu, saya sebutkan teori Mindset, apakah betul realitas itu ada? Atau jangan-jangan common perception? Atau sekadar ilusi, menceritakan, apakah itu ada? Hidup ada mainan-mainan?” tanyanya.

Menurut Tadjuddin, ketidakpuasan pada ilmu ekonomi, bahkan saat merujuk ke saintifik, yang melahirkan filsfat materialsme adalah semacam upaya untuk yang bisa dipersepsi oleh pancaindera.

“Teori Adam Smidth yang disebutkan oleh pak Hugua, menyatakan bahwa alam semesta persis arloji raksasa. Pemerintah, kau bisa atur itu, lalu di manami itu Tuhan? Tidak boleh kita memahaminya secara linier” Katanya lagi.

“Bagi saya manusia itu sudah lengkap dan dia menjadi khalifah” ujarnya.

Dia menambahkan pula bahwa banyak contoh yang mestinya menjadi pelajaran bagi kita bahwa yang berlaku di mikro belum tentu berlaku di makro. Pak Tadjuddin kemudian mengambil contoh, para perilaku menabung.

“Ajakan menabung benar pada tingkat mikro tapi tidak berlaku pada makro. Apa jadinya jika semua orang, semuanya menabung?” kuncinya.

“Namun demikian, terlepas dari beberapa hal yang masih perlu dilengkapi, buku pak Hugua ini saya sangat apresiasi karena sangat mencerahkan” paparnya.

Komentar Hugua

Komentar para penanggap yang nyaris menghabiskan waktu hingga dua jam itu diterima dengan sukacita oleh Hugua. Tidak banyak yang ditanggapinya, karena dia sadar poin-poin yang disampaikan itu sangat relevan.

Dia juga tidak menampik adanya kesalahan pengetikan dan tidak tepatnya pemilihan dan penempatan kata di buku setelah 142 halaman ini, walau dia sendiri menyebut bahwa tidak banyak teori yang dipaparnya sebab hanya ingin menggelitik pada pemikir atau ahli yang ada.

Paham Surgaisme hadir untuk melengkapi ideologi yang telah ada sebelumnya seperti kapitalisme dan sosialisme. Menurut Hugua, secara sederhana buku ini menggabungkan variabel kecerdasan material dan kecerdasan spiritual demi rangka meraih kesejahteraan dan kebahagiaan. Sebaba nilai spiritual merupakan penentu nilai material.

Secara teoritikal Hugua mengkombinasikan spritual Quotient (SQ) atas tiga indikator dasar, yakni syukur, thanks to God, terima kasih pada sesame, thanks to people, pada alam, thanks to nature.

“Itulah yang mesti kita konkritkan ke lingkungan atau sekitar” katanya.

“Saya ingin mendengar komentar para ahli mengenai letupan pemikiran melalui buku Surgaisme ini. Saya masih berharap berdiskusi dengan beberapa ahli dari Unhas tersebut. Sangat menarik” tandasnya saat meninggalkan Hotel Sahid Jaya Makassar, tempat bedah buku itu terlaksana.

 

Makassar, 29 September 2011