Jalan Hidup dan Kesedihan Suliyanto

Handshake (dok: istimewa)

“Barang siapa beriman kepada Allah dan hari akhir, hendaklah ia bersilaturahmi,” (HR. Bukhari dari Abu Hurairah).

Islam sungguh amat memperhatikan hubungan antar sesama manusia. Ada ragam syariat tentang hubungan manusia baik dengan keluarga maupun masyarakat. Continue reading

Advertisements

Ibu Susi dan Sampah Plastik di Pesisir Laut Natuna

Jangan biarkan sampah plastik merampas kehidupan laut (foto: Sukarma)

“Katanya orang Takalar, kenapa nggak berani berenang?” godanya. Saya menyengir dan mencebur diri ke laut Natuna dengan pelampung melekat di badan. Cie!

Siang itu, Si Ibu baru saja selesai mengayuh paddle, olahraga kesukaannya. Dia mengaso sembari menikmati segelas kopi. Laut mengalun. Dia bergoyang sembari mencandai kami.

Sebentar lagi Laut Natuna akan bergelora. Angin Utara yang diwaspadai nelayan-nelayan Anambas dan Natuna sebentar lagi tiba.

Sebelumnya, Si Ibu terlihat mengayun paddle-nya dengan cekatan, kami melihatnya mengayun dengan latar pemandangan batu-batu indah khas Natuna. Jika laut relatif tenang biasanya dia berdiri, tapi kali ini duduk, sesekali berbaring.

Bersama tiga orang lainnya, mereka mengarah ke utara, kami menanti di sudut tanjung.

Tak lama, dia menuntun saya dan lima orang lainnya ke tepian. Tak ada kata-kata, dia menepi ke pantai, di antara batu-batu besar. Kami mengikut. Sebagian lainnya masih di sekoci.

“Sampah plastiknya banyak banget,” katanya sembari menyisi tepi pantai.

Itu semacam kode untuk kami agar mulai bahu membahu mengumpulkan sampah yang berserak di tepi pantai. Dia juga memunguti sampah yang berserakan. Saking banyaknya, dasar laut terlihat menghitam penuh kantung kresek, sampah plastik, dan benda-benda asing lainnya.

“Ini bisa sampai setengah ton sampahnya,” imbuhnya.

Botol minuman berbahan kaca dan plastik, kantung kresek, wadah plastik, hingga baju partai berserak di tepi pantai. Di tepian laut, di kedalaman 30 meter, berlembar-lembar kantung plastik tertanam di dasar. Sebagian terlihat melambai mencipta suram.

Angin Laut Utara dan sampah-sampah kiriman dari wilayah lain disebut sebagai penyebabnya.

Kami menghabiskan waktu hingga dua jam di pantai itu sebelum kembali ke Kota Ranai dengan kesimpulan yang sama. “Laut kita telah tercemar sampah plastik yang hebat. Orang-orang harus diingatkan dampaknya.”

Kita harus mengingatkan orang-orang bahwa sampah yang dibuang ke laut telah membuat ekosistem semakin nelangsa. Jangan biarkan sampah plastik merampas dan merusak keseimbangan ekosistem laut Nusantara.

Jangan biarkan penyu makan plastik. Jangan biarkan organisme laut terganggu kehidupannya karena sampah plastik lebih banyak ketimbang lamun atau karang.

Guys, Hari Peduli Sampah Nasional yak, lindungi laut dari serbuan sampah plastik!

10 Negara dengan Angka Perbudakan Terbesar

Negara dan angka perbudakannya (foto: Forbes)

Jurnalis Forbes, Niall McCarthy, menuliskan artikel tentang negara-negara yang divonis sebagai negara dengan jumlah perbudakan terbesar di dunia.

Menurutny, di dunia yang telah sedemikian modern ini, isu perbudakan adalah persoalan, sebuah kenyataan yang brutal dan terjadi di banyak negara. Menurut Indeks Perbudakan Global tahun 2016 yang diterbitkan oleh Walk Free Foundation terdapat sekurangnya 45,8 juta orang yang terjerat tekanan perbudakan di 167 negara.

Sekitar 58% orang dari angka tersebut tinggal di lima negara yaitu India, China, Pakistan, Bangladesh dan Uzbekistan. Disebutkan pula bahwa Korea Utara memiliki prevalensi perbudakan tertinggi di dunia hingga 4,4 persen dari populasi lalu diikuti oleh Uzbekistan (4,0 persen) dan Kamboja (1,6 persen).

Perbudakan paling banyak terjadi di negara-negara yang memproduksi barang-barang konsumsi melalui tenaga kerja berbiaya rendah. Tiada yang bisa mengalahkan India, bahkan Cina sekalipun. Ada sebanyak 18,4 juta budak di India. Bandingkan dengan angka 3,4 juta di Cina dan 2,1 juta di Pakistan.

Negara-negara denga kondisi politik dalam negeri yang kondusif dan mempunyai postur ekonomi yang bagus memiliki sedikit korban perbudakan seperti Kanada, Jerman, Singapura dan Amerika Serikat.

Di mana Indonesia, coba lihat gambar di bagian awal tulisan ini.

 

Dewa Bumi Pan Ko Ong dari Galesong

Di depan Pan Ko Ong (foto: istimewa)

Suatu pagi tanggal 26 Januari 2009 di Kampung Lanna, Galesong. Pada ruas jalan berpasir dengan hamparan tipis kerikil, matahari mulai meninggi. Di lokasi yang hanya berjarak puluhan meter dari tepi pantai itu, saya awalnya hanya bermaksud mampir sejenak, memotret sebuah bangunan yang didominasi warna merah. Bangunan bertingkat dua itu tampak tak lazim.

Saya lalu mencatat nomor telepon yang tertera di pagarnya yang rapat. Terlihat menara mungil setinggi dua meter lebih di depan sebelah kiri bangunan. Warnanya kuning terang.

Setelah bertanya kepada warga di depan bangunan itu dan melihat beberapa anak-anak yang ikut bermain di halaman, saya pun memutuskan untuk masuk. Di dekat pilar bangunan yang dililt naga warna hijau, di samping wastafel dinding, saya jatuhkan pandangan pada tulisan berbunyi: “Gedung ini telah dilaksanakan purna pugar dan diresmikan pada hari Minggu, tanggal 27 Januari 2008. Kelenteng Tri Dharma Pan Ko Ong, Galesong Selatan, Kabupaten Takalar, Sulsel atas nama pengurus, Guru Hartono.”

“Kullejji antama tawwa?”, dalam bahasa Makassar saya bertanya, bisakah masuk?

“Masuk maki!” suara dari dalam menjawab ramah.

Orang tersebut mengenalkan diri sebagai Ramli. Tepatnya, Ramli Gondrong. Ramli dibantu Daeng Buang, sedang merapikan kertas-kertas berwarna merah, namanya buyang pabelo artinya kertas hiasan. Anak-anak yang berkerumun tadi menemaninya dengan sesekali bercanda satu sama lain.

Di dalam ruangan, di sebelah kiri terdapat wadah yang di depannya terdapat tulisan “na mo koang shi im phu sat” yang artinya Phu Sat yang maha penyayang dan pengasih. Di samping wadah ini terdapat buah apel yang tertata di atas nampan. Terlihat pula ada beberapa permen di piring.

Di tengah bangunan terdapat altar yang menyerupai undakan yang di atasnya terpasang dua arca kecil. Di depannya tampak lilin besar. Sementara di depannya lagi berjejer tiga bangku yang lebih menyerupai kursi rendah warna merah.

Tampak dua tingkatan ruang kecil yang terisi arca, diberi kode, 4, 2, 3. Pada bagian tengah duduk tiga arca berbaris ke belakang, itulah arca Pan Ko Ong dalam 3 wujud.

Di tempat lainnya terdapat arca warna putih dan di belakangnya arca menyerupai wanita yang dikelilingi arca anak-anak. Selain itu terdapat pula arca perak, yang di depannya terdapat arca yang terlihat gemuk. Itulah arca Buddha. Di sini tidak ada terjemahan penjelasan dari setiap tulisan dalam bahasa Mandarin.

Di dinding sebelah kanan terdapat daftar nama penyumbang renovasi klenteng, almanak berbahasa Mandari dan koleksi buku-buku bacaan agama Buddha.

Ruangan terlihat terang, karena di atasnya tergantung dua lampu indah menyerupai lampion dengan dua bola lampu besar di atasnya. Di dinding atas terdapat motif naga dua ekor sedang menyemburkan api dari lidahnya ke arah bola bumi yang diapitnya. Perpaduan warna merah dan biru muda terlihat begitu serasi. Tidak jauh dari pintu, tepatnya di bagian barat ruangan terdapat gendang tabuhan dari kulit hewan dan di sampingnya tergantung lonceng tembaga.

Rupanya, saat saya berkunjung, baru saja dilaksanakan upacara pembersihan arca Pan Ko Ong pada tanggal 18 Januari atau 23 Imlek. Adanya kesan bahwa bangunan ini terdiri dari dua lantai seperti yang terlihat dari luar rupanya tidak benar. Bangunan ini hanya satu lantai dengan langit-langit yang sangat tinggi.

***
Saya terkesan dengan keberadaan klenteng di pesisir Galesong ini. Saya penasaran dan akhirnya mengikuti papan penunjuk arah yang dijumpai di sepanjang jalan Makassar – Galesong.

Rupanya di Galesong ada Klenteng. Berbekal informasi dari Ramli dan setelah mengamati tampilan dalam, kemeriahan warna dan asap yang keluar dari hio, menjadi modal awal untuk menelisik lebih jauh. Informasi ini baru saya tahu setelah hampir empat puluh tahun mendengar kiprah para keturunan Tionghoa di Galesong Kota, pusat daerah pesisir selatan, 15 kilometer dari pusat kota Makassar.

Saya mencatat nama Baba Guru Hartono sebagai pengelola kelenteng mungil ini. Dia adalah ayah dari Sung, Gunawan dan Gunalan, teman sekolah saya di Galesong.

Ah, tiba-tiba saja, saya mengenang kakak dan adik kelas selama sekolah di SD Inpres Galesong yang berhadapan dengan kompleks rumah raja balla lompoa. Sung, adik kelas saya, sementara Gunalan dan Gunawan kakak kelas di SMP Galesong. Kami sering bermain bola di lapangan sekolah, walau tidak terlalu akrab saat itu.

Sejarah Tionghoa di Galesong

Hasrat menulis sejarah Tionghoa di Galesong, mengalir deras sejak terjalinnya perkawanan dengan salah seorang teman kelas di SMA Negeri 1 Makassar pada tahun 1986. Namanya Ho Gi Hok. Dari Ho inilah saya mendapat kesan tentang kekerabatan mereka. Saya yang bersekolah dasar hingga menengah pertama di Galesong Kota tahu bahwa di Galesong juga ada marga Ho. Galesong Kota adalah sebutan bagi ibukota Kecamatan Galesong Selatan, termasuk di dalamnya kawasan beberapa radius kilometer dari sentrum Balla Lompoa atau Rumah Kediaman Raja Galesong.

Siapa yang menyangsikan diaspora Tionghoa pada wilayah pesisir Sulawesi atau Indonesia secara umum? Mereka ada di mana-mana, utamanya di perkampungan pesisir. Sejarah dan peran mereka dalam kancah perkembangan ekonomi kawasan, sosial budaya dan politik sangat nyata dan menarik untuk dikaji. Keberanian dalam pelayaran jauh serta kemampuannya beradaptasi dengan komunitas lokal ditambah daya tahan mengarungi hidup jauh dari tanah leluhur, adalah kelebihan yang tak terbantahkan.

Dari teman bermarga Ho saya menyimpan keinginan untuk mengetahui sejarah marga Ho di Galesong. Ho Gi Hok, pernah bilang bawa marga Ho sering melaksanakan acara pertemuan di sekitar Jalan Sangir, Makassar. Sebelum bertemu dengan Baba Guru Hartono, saya berjumpa dengan Teng Niao. Wanita yang masih terlihat muda dengan kulit licin ini adalah istri Baba Guru. Pada tanggal 19 April 2009 saya bertemu di rumahnya yang juga merangkap sebagai bengkel.

Mata saya langsung tertuju pada sepasang foto dinding besar. Potret lelaki berwajah tenang, alis tebal dan mata sipit dengan sinar yang tajam. Saya teringat wajah aktor Bruce Lee. Di sampingnya, potret wanita yang terlihat sebagai wanita lokal. Wajahnya bulat dengan rambut yang tampaknya ikal. Asap dari hio mengepul dan sesekali menutup kedua wajah pasangan itu. Pasangan itu adalah orang tua Baba Guru, menantu dari Teng Niao.

Wanita yang terlihat masih awet muda ini, enggan bercerita banyak tentang sejarah klenteng itu. Dia hanya memperkenalkan anak bungsunya yang bernama Herry, 30 tahun. Saat itu tidak banyak yang diceritakan kecuali anaknya Sung yang kini bernama Suyono yang kini tinggal di Jayapura. Kemudian anak sulungnya, Gunawan, mengelola rumah makan ikan bakar di salah satu ruas jalan Wahid Hasyim di Jakarta.

Akhirnya, pada Minggu sore tanggal 26 April 2009, saya berpapasan Baba Guru yang hendak pulang ke rumahnya seusai membersihkan klentengnya. “Riballa paki accarita,” katanya. Nanti di rumah kita bercerita.

Saya pun memboncengnya menuju rumahnya. Letaknya tidak jauh dari Mesjid Raya Galesong.

Sore itu, Baba Guru Hartono masih sangat kuat dan tampan di balik kacamata tebalnya. Badannya terlihat gempal dengan senyum yang selalu terukir. Lelaki yang ramah.

“Kakek-nenek kami adalah pedagang dari negeri jauh,” katanya. Menurut cerita turun temurun, kedatangan pertama adalah di sekitar kawasan Bontoala, Kota Makassar. Lalu mereka datang dan menetap di Kampung Lanna pada tahun 1912. Tepatnya pada 12 April 1912. “Nenek moyang asal dari Desa Pa Li, kawasan Chang Co atau biasa disebut Hokkian.

“Saat tahun 1923, Oher menikah. Ia menikah dengan wanita Tionghoa setempat yang lebih dulu tinggal,” tuturnya.

Ia menyebut Oher untuk bapak. Semacam sebutan akrab untuk sang kepala keluarga.

Setelah bermukim di Kampung Lanna, yang oleh warga setempat disebut perkampungan China Tau, oleh pihak kerajaan Galesong kemudian orangtua Baba Guru, diminta bermukim di halaman Balla Lompoa, tepatnya di samping kanan bangunan. Namun beberapa tahun kemudian pindah ke depan balla lompoa, yang kini jadi lapangan sepak bola Galesong.

Jamaknya wilayah pesisir di Indonesia, Galesong merupakan salah satu kawasan yang juga dihuni oleh beberapa warga keturunan dari tanah Tiong Kok. Mereka beradaptasi dan berdekatan dengan para tokoh kunci di tanah yang ditujunya. Baba Guru bercerita tentang kedekatan hubungan keluarganya dengan keluarga kerajaan saat itu.

Saat Baba Guru masih dalam kandungan ibunya, bangsawan setempat, Haji Larigau Karaeng Galesong saat itu berjanji akan mengadopsi anaknya dan telah menyiapkan nama untuk si bayi kelak. Kalau lelaki akan diberi nama Baba Guru. Lelaki itu adalah dirinya kini. Pada tahun 1944, walau orangtuanya, memberinya nama Ho Ho Ping, namun Karaeng tetap memberinya gelaran Baba Guru.

Karena itu, walau Ho Ho Ping adalah nama yang disematkan ayahnya namun warga lebih senang memanggilnya Baba Guru. Dalam masa perkembangan kanak-kanaknya, Ho Ho Ping sempat mengecap beberapa pelajaran budaya Galesong dari keluarga Karaeng yang bermukim di Kampung Bentang. Termasuk beberapa nama sebagai kawan akrabnya adalah Razak Daeng Tutu dan Daeng Rurung, keluarga dekat kerajaan Galesong.

Baba Guru juga bersekolah di Sekolah Rakyat bersama anak-anak Karaeng di Galesong, di sekolah rakyat yang diasuh Karaeng Salle, ayahanda Prof Kaimuddin Salle dan Prof Aminuddin Salle. Kedua orang terakhir adalah tokoh penting asal Galesong yang tenar dalam bidang ilmu hukum, baik di tingkat regional maupun nasional.

Selama tinggal di Galesong, ayah Baba Guru yang bernama Ho Kim Tjui dan istrinya Tung Soak Tin atau biasa disebut Nona Tinggi, berdagang dengan membuka usaha toko kelontong kebutuhan nelayan. Belakangan kemudian mereka menggeluti bisnis ikan dan telur terbang serta pengiriman kacang hijau antarpulau.

Keberadaan warga Tionghoa di Galesong dapat ditemui di beberapa kawasan. Menurut Baba Guru Hartono, terdapat beberapa marga Tionghoa yang berdiam di pesisir Galesong. Mulai dari pesisir selatan tepatnya di Kampung Saro dihuni Marga Oey, marga Tung dan Tang di Galesong Kota termasuk kampung Lanna, Marga Yo di Kampung Lanna hingga di Kampung Soreang (Galesong Utara) yaitu marga Phie. Beberapa nama penting dan berpengaruh secara ekonomi di sana adalah Baba Lompo atau Baba Sangkala, Haji Syamsu, dan Haji Mangung di Soreang.

Baba Guru bersaudara sembilan orang. Kedelapan saudaranya sudah meninggal. Dia adalah anak ke-9 dan lahir pada tanggal 8 Agustus 1944. Ia aktif di klenteng sejak orangtuanya meninggal. Komunitas Tionghoa pernah mempunyai kuburan khusus yaitu di Kampung Sampulungan dan Kampong Beru di Kecamatan Galesong Utara namun kemudian dipindahkan ke Makassar.

Jelas sekali terbaca bahwa secara historis mereka telah diterima oleh kerajaan dengan baik bahkan diberi tempat istimewa yaitu dari lokasi kediaman Karaeng. Mereka juga diterima dan berbaur dengan warga lokal. Selama tinggal di Kampung Lanna, mereka merajut hari-hari dengan bergaul dengan warga setempat. Mereka menjalin kerjasama usaha dengan beberapa pihak. Sebagian warga memang menjadi nelayan tetapi lebih banyak yang jadi pedagang.

Sejarah Klenteng Pan Ko Ong

Klenteng ini berdiri pada tahun 1923, sejak orangtua Baba Guru menikah. Tetapi masih dalam wujud sederhana ketika berlokasi di Kampung Lanna. Tahun 1956, klenteng itu dipindahkan ke Kota Sungguminasa, yang berdekatan dengan Kompleks Balla Lompoa kediaman keluarga Raja Gowa. Tepatnya di jalan Wahid Hasyim No. 66 Sungguminasa. Klenteng yang berdampingan dengan toko ini kemudian pindah lagi ke Galesong setelah toko di Sungguminasa itu dijual oleh Baba Guru.

Baba Guru ingat bahwa pada tahun 1975, ayahnya, Ho Kim Tjui mendaftarkan klentengnya dengan nama “Cetya Pan Ko Ong” Cetya, berarti rumah ibadah kecil. Seperti kata musalah untuk tempat salat kalangan muslim. Di masa Orde Baru, penggunaan kata “klenteng” dilarang, sehingga disebut vihara saja. Hingga kemudian di era reformasi, warga Tionghoa utamanya pengikut ajaran Buddha menggunakan istilah klenteng kembali.

Klenteng Pan Ko Ong juga terdaftar sebagai anggota Perkumpulan Tri Dharma yang bermarkas di Kota Surabaya, Jawa Timur. Beberapa perwakilan dari perkumpulan ini juga sudah pernah berkunjung ke Galesong. Menurut Baba Guru Hartono, kebudayaan Tionghoa yang mereka anut bersumber dari ajaran Khonghucu atau Buddha.

Baba Guru mulai fokus dalam mengurus kegiatan ini beberapa tahun terakhir setelah melepaskan beberapa kegiatan bisnisnya. Baba Guru memang pebisnis sejati. Dia pernah berbisnis telur ikan terbang, hasil bumi seperti kacang hijau, kontraktor proyek pemerintah di Takalar dan Makassar, mengelola bioskop dekade 70 hingga 80-an di Galesong hingga mengelola kelompok Barongsai.

Tentang Barongsai, menurut Baba Guru, mulai diaktifkan sejak tahun 2003. Saat Aburrachman Wahid menjadi presiden pertama di era reformasi, warga Tionghoa diizinkan merayakan Imlek secara terbuka dan besar-besaran. Di penanggalan, Imlek adalah hari libur nasional. Di kala itulah, Barongsai marak kembali.

Klenteng Pan Ko Ong atau Klenteng Dewa Pan Ko Ong menurut Baba Guru Hartono adalah dewa bumi. Dewa yang digambarkan sebagai dewa yang memanggul bumi. Dewa inilah yang pertama mewujudkan bumi dengan segala isinya. Menurutnya, dari rambut dewa maka jadilah pohon-pohon, dari matanya kemudian jadi matahari, dari air matanya maka turunlah hujan dan mengalirlah sungai.

Di tempat terpisah, Merlin Herlina, seorang kawan keturunan Tionghoa di Makassar yang gemar menelusuri sejarah nenek moyangnya, membenarkan bahwa berdasarkan cerita dari keluarganya, Pan Ko Ong adalah orang pertama yang ada di dunia, jauh sebelum ras manusia ada dan beranak-pinak. Merlin bahkan menambahkan bahwa di dalam komik berjudul “Origins Of Chinese Festivals”, terbitan Asiapac-Singapore ada salah satu bagiannya yang bercerita tentang penciptaan dunia. Ringkasnya begini:

“Menurut kepercayaan orang Tionghoa, pada awalnya, langit dan bumi menyatu dalam sebuah telur. Di dalamnya juga terdapat seorang pria raksasa bernama Pan Gu (baca: Phan Ku). Suatu hari, Pan Gu bangun. Dia mendorong dari dalam hingga cangkang telur pecah. Bagian atas yang didorongnya menjadi langit, bagian bawahnya menjadi tanah. Pan Gu menahan langit dan memijak tanah selama hidupnya. Setelah puluhan ribu tahun, bumi menjadi lebih tebal dan langit semakin tinggi.

Sepeninggal Pan Gu, mata kirinya menjadi matahari, mata kanannya menjadi bulan. Tubuhnya menjadi gunung-gunung. Darahnya menjadi air. Rambutnya menjadi tanaman. Keringatnya menjadi hujan dan kabut. Intinya, semua tubuhnya telah dipergunakan.”

Kini Dewa itu ada di Galesong, dewa yang menitis dalam Arca Pan Ko Ong. Persis seperti yang diyakini Baba Guru Hartono di Galesong. Baba Guru berbangga karena dari peninggalan leluhurnya, Arca Pan Ko Ong ini menjadi sangat istimewa.

“Dari Makassar hingga daerah Jawa Timur tidak ada satupun Klenteng yang menggunakan Dewa Pan Ko Ong sebagai nama atau kekhasannya,” ujarnya. “Kami punya arca Pan Ko Ong. Arca Dewa Pertama yang hanya ada di Galesong. Dewa-Dewa yang lain memang ada sesuai dengan tugas dan wewenangnya di bumi,” lanjut Guru Hartono.

Klenteng adalah sebutan untuk tempat ibadah penganut kepercayaan kaum Tionghoa di Indonesia pada umumnya. Dikarenakan di Indonesia, penganut kepercayaan tradisional Tionghoa sering disamakan sebagai penganut agama Konghucu, maka klenteng dengan sendirinya disamakan sebagai tempat ibadah agama Konghucu.

Tidak ada catatan resmi bagaimana istilah “Klenteng” ini muncul, tetapi yang pasti istilah ini hanya terdapat di Indonesia karenanya dapat dipastikan kata ini muncul hanya dari Indonesia. Mungkin dari bunyi “teng…teng…teng” yang selalu terdengar setiap ada upacara ritual.

Tahun 1965, ketika perisitiwa G30S pecah, kebudayaan Tionghoa sempat dibatasi bahkan dilarang, termasuk di dalamnya penggunaan kata klenteng. Aturan ini berlaku hingga zaman Orde Baru. Klenteng banyak yang terancam ditutup. Banyak dari mereka kemudian menyebut tempat ibadah itu dengan vihara dan memeroleh surat izin dalam naungan agama Buddha.

Setelah Orde Baru berakhir, fajar Reformasi terbit, banyak vihara yang kemudian kembali ke nama semula yang berbau Tionghoa. Mereka lebih berani menyatakan diri sebagai klenteng.

Dari kunjungan saya ke klenteng Pan Ko Ong, barulah saya paham bahwa klenteng ini ternyata bukan lagi milik dari marga, suku organisasi tertentu, tapi adalah tempat umum yang dipakai bersama. Klenteng adalah juga pusat kegiatan sosial warga Buddha untuk merefleksikan keyakinan mereka. Klenteng dalam bahasa Mandarin disebut miao, dialek Hokkian disebut bio. Sejarah bio sudah sangat lama, hampir sepanjang umur kebudayaan Tionghoa.

Satu pemandangan khas ketika masuk di ruang klenteng adalah warna merah yang sangat menonjol. Itulah ciri utama bagian dalam bangunan itu. Hampir semua klenteng Tionghoa tampaknya memang dicat warna mencolok. Terutama merah terang (jenis vermillion). Orang Tionghoa menganggap warna-warna itu (khususnya merah terang), melambangkan kharisma, keagungan, serta vitalitas yang cocok dengan sosok dewa-dewi yang bersemayam di dalam klenteng.

Beberapa orang Tionghoa percaya, warna merah terang tersebut hanya bisa dipakai di klenteng. Aura ‘chi’ atau hawa dari warna ini terlalu kuat bagi kediaman manusia. Coba amati di daerah Pecinan (atau rumah-rumah orang Tionghoa lainnya), tak ada yang pagar, pintu, tembok atau gentingnya dicat merah terang,” Kata Merlin Herlina lagi.

Lalu tentang dewa bumi Pan Ko Ong, melengkapi penjelasan Baba Guru, Merlin menyebut bahwa tidak banyak yang tahu cerita tersebut, bahkan di kalangan orang Tionghoa sendiri.

Sebenarnya, dewa-dewi Tionghoa juga mengalami evolusi. Pan Gu (dalam ejaan Hanyu Pinyin) atau Pan Ko (dalam dialek Hokkian), merupakan dewa paling awal dalam kepercayaan Tionghoa yang kisahnya telah mengabur pada generasi sekarang. Pun tidak semua orang Tionghoa memuja Pan Ko Ong. “Di Sulawesi Selatan klenteng Pan Ko Ong cuma satu dan terdapat di Takalar. Saya dan keluarga juga belum pernah mengunjungi klenteng itu,” kata Merlin.

Ritual di klenteng biasanya berlangsung pada pagi jam 07.00 dan sore hari pada pukul 17.00. Selain kegiatan rutin, pengurus klenteng juga kerap membagikan sembako dan kebutuhan warga lainnya. Utamanya pada hari-hari raya. “Pemberian ini adalah wujud kepedulian kami. Bukan hanya sekarang tapi sejak puluhan tahun silam,” kata Baba Guru.

Setiap tahun selama bulan Agustus, beberapa lokasi target bakti sosial adalah dusun Tabbuncini, Suli’, Lanna.

“Tapi tahun ini, kita sudah rencanakan kegiatan bakti sosial tanggal 2 Mei”. Makanan yang dibagikan seperti sembako dan mi instan.”

Tidak ada niatan lain selain berbagi bersama, sesama umat manusia., katanya mengenai kegiatan sosial itu. Namun yang pasti wujud, proses dalam kelenteng saat ini adalah mengambil konsep ritual Taoisme, Konfusianisme dan konsep kehidupan setelah mati dari Buddhisme. Seperti yang dibaca dari kitab-kitab yang menjadi rujukan.

Kini, bersama group barongsai yang dipimpinnya, terdiri dari warga Galesong dan Makassar, Baba Guru sudah beberapa kali ikut kegiatan upacara keagamaan hingga wilayah Mamasa di Sulawesi Barat, Tuban di Jawa Timur. Mereka membawa nama Galesong.

“Kadang orang heran juga, rupanya ada Barongsai dari Galesong. Ada yang bertanya, di mana itu Galesong?” Katanya seraya menunjukkan mimik kagum, menunjukkan respons orang-orang yang ditemuinya di beberapa daerah. “Kami bangga karena dianggap mewakili daerah Galesong. Padahal biasanya barongsai hanya ada di kota-kota Pecinan maju seperti Makassar dan Jakarta.”

Sungguminasa, 27 April 2009

Mengapa Menteri Susi Tetap Ngotot Tenggelamkan Kapal Ikan Asing?

dfw-5631-jpg-5a214408cf78db5ba753d262
Jelang proses penenggelaman (foto: Kamaruddin Azis)

“Betul, bapak mau kapal-kapal ikan yang ditangkap ini diberikan ke nelayan Natuna?” dengan suaranya yang khas, Menteri Susi bertanya ke Bupati Natuna, Hamid Rizal ketika mereka bersua di atas KRI Karel Satsuitubun sebulan lalu.

***

Tidak terdengar jawaban dari Sang Bupati sebelum Susi melanjutkan bahwa keputusan yang dipilihnya saat ini adalah tetap menenggelamkannya.

“Jangan pak, biar mereka jera. Kalau diserahkan ke nelayan, nanti dibeli lagi sama pemilik kapalnya, begitu terus,” begitu penjelasan Susi ke Hamid jelang serah terima dokumen berita acara dari Kejaksaan ke KKP terkait 33 kapal ikan asing yang sudah bisa dieksekusi.

Bagi Susi, cara penenggelaman merupakan yang paling efektif untuk memberikan efek jera kepada para pelaku illegal fishing.

Argumentasinya nampaknya sebangun dengan apa yang juga dilakukan oleh Pemerintah Australia terhadap kapal-kapal ikan asal Indonesia yang tertangkap di wilayah mereka sejak tahun 90-an.

Bahkan disebutkan bahwa sejak tahun 2005, Pemerintah Australia telah meluluhlantakkan tidak kurang 1.200 kapal atau perahu asal Indonesia baik yang digunakan nelayan mencari teripang, menangkap ikan hingga sebagai moda transportasi bagi penyelundup atau penyintas.

Saya jadi ingat beberapa kapal pencari teripang asal Makassar di tahun 90an yang dibakar oleh otoritas Australia karena masuk mencari hasil laut hingga ke Ashmore Reef kala itu.

dfw-5637-jpg-5a214439756db5614f1a3162
Menunggu antrian untuk digembosi (foto: Kamaruddin Azis)

Terkait urusan menenggelamkan kapal ini dan kaitannya dengan dampak ke ekosistem perairan nampaknya tidak menjadi persoalan bagi Australia sebab hal tersebut berlangsung lama.

Tanggapan berbeda justru datang dari dalam negeri Indonesia yang menganggap bahwa penghancuran kapal ikan akan berdampak pada ekosistem laut.

Hal kedua yang juga acap diingatkan Susi adalah marwah hukum. Menurutnya, mengkaji ulang penenggelaman kapal sebab bagi sebagian kalangan, memberikannya ke nelayan lebih bermanfaat adalah pendapat yang juga keliru.

Susi nampaknya tahu bahwa sebelumnya, kapal pencuri ikan tidak semuanya dilarung ke dasar laut, beberapa di antaranya ada yang dilelang. Namun ketika lelang, kapal tersebut digunakan kembali pelaku illegal fishinguntuk melakukan hal serupa.

“Jadinya rancu kalau dibikin kayak gitu,” katanya saat bertemu penulis di Banda Neira di ujung Oktober lalu.

Kala itu Susi mencurigai beberapa kapal ikan yang berlabuh di tepian Banda Neira dan menurutnya perlu dicurigai karena lunasnya serupa model kapal asing.

Dia juga membaca gejala manipulasi baru ketika kapal dilelang atau diserahkan ke nelayan. Kapal akan digunakan untuk mencari ikan dengan memanipulasi data dan dokumen-dokumen kepemilikan.

Susi menyebutkan bahwa sudah banyak bukti bahwa modus pencuri ikan asing saat ini adalah mengelabui otoritas pengawas perikanan atau kelautan Indonesia. Menurut Susi, beberapa waktu lalu ada kapal eks Vietnam yang ditangkap dan rupanya anak buah kapalnya menggunakan KTP Batam.

“Mereka mengurus KTP Indonesia, memanipulasi data dan informasi kapal hingga status kepemilikan, Kapal-kapal asing didaftarkan sebagai buatan Indonesia,” katanya.

dfw-5724-jpg-5a21448c4548027b310bca22
Jelang karam (foto: Kamaruddin Azis)

***

Kesungguhan untuk terus menerus menegakkan marwah negara di lautan tetap menjadi prioritas Susi. Pencuri ikan adalah persoalan yang harus dibereskan dan Negara harus tetap kuat di garis depan.

Tentang semangat itu, sebulan lalu, (29/10) penulis seperti membaca perasaan tidak puas di wajah Menteri Kelautan dan Perikanan Susi Pudjiastuti terkait prosedur penenggelaman kapal maling ikan di Natuna. Dia terlihat geregetan saat melihat kapal yang seperti enggan karam.

Rencana menenggelamkan kapal pencuri ikan di perairan Natuna tak semudah yang dibayangkan. Kapal yang sedianya dibocori lambungnya itu terlihat seperti kerbau yang tak juga jatuh meski tali dan kedua kakinya telah ikat.

“Ini tidak akan bisa tenggelam dalam waktu cepat, di kiri-kanan lambung kapal itu ada gabus,” kata salah seorang perwira Angkatan Laut yang ikut mendampingi Menteri Susi.

Kala itu dilaporkan ada 33 kapal yang sudah putus ‘inkrah’ untuk ditenggelamkan sebagaimana serah terima dokumen barang bukti kapal dari kejaksaan kepada Menteri Susi untuk dieksekusi. Acara ini berlangsung di atas KRI Karel Satsuitubun di pelabuhan Selat Lampah.

Saksi dalam serah terima itu adalah Wakil Kepala Staf TNI Angkatan Laut Laksamana Madya Taufiqqoerrachman, Panglima Komando Armada TNI Bagian Barat (Koarmabar) Laksamana Muda Aan Kurnia, Hamid Rizal (Bupati Natuna) dan anggota Satgas 115.

Di atas Kapal Pengawas KKP bernama Orca II, Menteri Susi menyaksikan detik-detik penenggelaman. Ternyata tidak tenggelam dalam hitungan detik, atau menit, butuh waktu sejam lebih untuk kapal itu terlihat rata dengan muka air laut.

“Harus dengan cara yang lebih cepat, biar bisa tenggelam. Yang ini lamaaa..” katanya.

Di sekitar lokasi terlihat ada 9 kapal yang terdiri dari kapal-kapal milik nelayan Vietnam, China dan Thailand. Tidak jauh dari titik itu berjejer pula kapal yang menunggu eksekusi.

Jika sebelumnya dilaksanakan dengan diledakkan atau dibakar, kali ini dilakukan dengan membuat lubang di lambung kapal.

Penenggelaman tersebut apapun caranya adalah bukti shahih komitmen Pemerintah untuk sungguh-sungguh menegakkan aturan dan kedaulatan negara di laut. Hingga bulan Oktober 2017, disebutkan telah ada 317 kapal asing yang melakukan pencurian ikan ditangkap dan ditenggelamkan.

 

Rumput Laut, Cerita Buwun Mas dan Dimensi Kapasitas Usaha

Bisnis rumput laut itu tak jauh beda dengan bisnis kakao atau kopi. Harganya bergantung pasar internasional. Tugasmu adalah mengingatkan warga atau pembudidaya tentang bagaimana mekanisme pasar bekerja, di mana mereka saat sistem pasar berputar. Beritahu mereka, bukan untuk mengejar harga tinggi tetapi membuat mereka siap dengan segala konsekuensi.

***

Pagi ini (08/01/2017), saya ingat pesan Guru saya, Wada Nobuaki saat sedang menyigi informasi yang saya peroleh dari Lombok Barat tahun lalu kala menemani tim Joint Support Mission the International Fund for Agricultural Development (IFAD) ke Lombok Barat, Nusa Tenggara Barat.

Guru meta-fasilitasi masyarakat yang saya kenal sejak tahun 2009 itu di Makassar selalu mengingatkan tentang pentingnya seorang pendamping desa, fasilitator atau penggerak pembanguan di akar rumput memahami imbas industrialisasi dan modernisme pada lapis-lapis sosial di desa atau komunitas.

“Kita tak bisa hanya mendorong usaha produktif di tingkat desa tanpa memberi kesempatan utuk menganalisis situasi pasar itu sendiri.” Kurang lebih begitu saran Guru Wada.

Rumput laut adalah primadona komunitas pesisir di Indonesia. Dia tersebar dari Aceh hingga Papua. Meski demikian, tidak banyak kampung atau desa yang bisa menikmati manfaat rumput laut karena kadang hanya bisa memproduksi namun tak bisa memastikan harga maksimum. Tidak terhubung ke pemanfaat, pengolah atau industri. Ada situasi dimana pembudidaya tak mengetahui akan seperti apa dan di mana ujung nasib produknya.

Pusat data KKP menyebutkan bahwa untuk 2015, produksi rumput laut mencapai 9,9 juta ton. Ada kenaikan kenaikan 18,84 persen per tahun dibandingkan tahun 2011 yang produksinya hanya 5,2 juta ton.

Rumput laut telah menjadi andalan sumber mata pencaharian masyarakat pesisir. Budidaya ini juga tergolong mudah dan pasarnya terbuka lebar. Oleh sebab itu wajar ketika KKP menjadikan rumput laut sebagai primadona ekonomi pesisir ke depannya dengan berfokus pada pembenahan rantai produksi hulu-hilir.

Jika ada persoalan terkait rumput laut maka itu adalah pilihan pasar nasional kita yang masih mengharapkan ekspor ketimbang diolah dalam negeri. Kementerian Perindustrian bahkan mendukung penghentian ekspor rumput laut secara bertahap.

Rumput laut yang melimpah ruah di negeri ini hanya bisa terserap pasar di dalam negeri sebesar 25% saja. Sisanya, 75% diekspor dalam bentuk bahan mentah. Inilah yang menjadi alasan mengapa terjadi banyak ketidakpastian sebab pasar internasionallah yang menontrol grafik harga.

20160901_112007
Sumarni (foto: Kamaruddin Azis)

***

Siang 1 September 2016 sedang terik di Pantai Nambung, Desa Buwun Mas, Kabupaten Lombok Barat. Seorang perempuan tua bertopi caping maju mundur di bibir pantai tersebut. Matanya awas pada rumput laut hanyut yang dibawa ombak. Di tangannya ada jaring penangkap bertangkai. Hap! Rumput laut masuk jaring, siap dijemur.

Kegiatan berburu rumput laut tanggal dari tali ini adalah salah satu aktivitas warga setelah maraknya budidaya rumput laut di salah desa di Kecamatan Sekotong, Lombok Barat tersebut.

Buwun Mas dalam bahas Sasak berarti sumur emas. Nama ini menurut cerita warga hasil usulan Haji Mustafa, tokoh masyarakat dari Dusun Pengantap, salah satu bagian dari desa tersebut. Tidak kurang 200 jiwa bergantung pada budidaya rumput laut di desa itu. Lokasinya tersebar di Dusun Nambung dan Pengantap.

Tidak jauh dari pemandangan di atas, Sumarni (39) mengangkat satu ikat rumput laut seberat 20an kilo. Dia bersiap membagikan ke dua orang perempuan yang sedang mengikat bibit untuk kemudian dibawa ke laut.

“Kerja gini aja, daripada menganggur, apalagi sudah lama tak sama suami, dia ke Denpasar, sudah lama,” kata Sumarni saat dijumpai di Dusun Nambung, Buwun Mas.

Seorang perempuan muda lainnya terlihat duduk sembari mendudukkan anaknya di pangkuannya, dia mengikat bibit rumput laut. Dia terlihat serius memasang bibit di tali warna biru. Di samping bangunan tempat dimana Sumarni dan pengikat bibit terdapat lantai jemur. Tepi lantai menyatu dengan pasir pantai.

dsc_0626
Rumput laut tanggal (foto: Kamaruddin Azis)

Perempuan-perempuan di Buwun Mas ini beruntung sebab waktu yang terbuang selama ini telah diisi dengan menanam rumput laut. Jika tak ke laut, merekalah yang mengikat bibit, menata letak di tali, hingga panen.

Seingat Sumarni, uang diberikan melalui pengurus kelompok yang diketuai oleh Pak Jon. Bulan ini Sumarni menjual 100 kilogram basah. Dia punya tali bentangan 10. Menurut Sumarni jika punya 500 kilogram maka akan jadi kering hingga 200 kilogram.

“Lumayan, sekarang dapat 400ribu setelah jual 100 kilo,” kata Sumarni.

“Alhamdulillah ya,” kata Sumarni.

“Di sini ada sekitar 200 jiwa,” kata ketua RT di Nambung, Fajar. Dia adalah salah seorang ketua kelompok pembudidaya rumput laut binaan Dinas Kelautan dan Perikanan Lombok Barat. Fajar dan seratusan warga Buwun Mas mendapat bantuan tambahan modal berbudidaya dari skema proyek Pemberdayaan Masyarakat Pesisir KKP kerjasama dengan IFAD.

“Yah, dulu belum punya alat, belum bisa usaha maksimal, sekarang sudah punya. Harapan saya dari desa siap mendukung apapun program ini, mudah-mudahan tahun 2017 lebih baik,” kata Inaq Mita, perempuan penerima bantuan.

Sekretarias desa Buwun Mas, Imran mengakui bahwa ada manfaat sejak warga ikut memperoleh dukungan Pemerintah ini.

“Yang saya lihat mulai dari kelompok-kelompok yang sudah ada, alhamdulillah, terus terang aja, kelompok alat tangkap penghasilan luar biasa, ada bayi lobster, bisa 300ribu perhari, kalau dikalikan sebulan pasti banyak,” katanya.

dsc_0595
Tepian Buwun Mas (foto: Kamaruddin Azis)

Jalur pemasaran

Joni Iskandar, ketua kelompok kelompok pesisir Pantai Nambung mengatakan bahwa anggota kelompoknya ada 9 orang.  Joni adalah ketua kelompok Pesisir Pantai Nambung.  Joni Iskandar mendapat pengetahuan berbudidaya rumput laut dari orang Bali di Pantai Desa Kuranji.

Selain memahami teknik budidaya, Joni juga paham bahwa ceruk bisnis ini harus terhubung dengan pembeli, terutama pembeli di Mataram.

“Saya sekolah menengah di Lombok Tengah dan saat bersamaan juga ikut budidaya rumput laut,” kata sosok berusia 28 tahun ini. Menurut Joni, usaha rumput laut dan pengorganisasian yang ada telah membantu pembudidaya untuk lebih teratur dan kompak dalam pemasaran.

“Selain saya ada Pak Fajar mewakili kelompok Nambung Bersinar, saya ketua kelompok Pesisir Pantai Nambung, kelompok Nambung Bersatu diketuai ibu Nurlina, Nambung Barat I, Sukanin, Nambung Baru III, Kadis, Kelompok Pengantap diketuai pak Rupawan sejak tahun 2014,” katanya.

“Apa hasil sejak menjadi pembudidaya rumput laut Pak Joni?”

“Sekarang sudah bisa beli mobil pikap,” katanya.

Menurut Joni, rumput laut hasil budidaya dari Buwun Mas dijual oleh penampung ke Ampenan, ke Trasak, ke Amaq Sairah dan sebagian disimpan di Buwun Mas.

“Kalau saya, jualnya ke ke Ampenan, ke Phoenix Mas, sejak dua tahun terakhir,” kata Joni yang mengaku sebelumnya menjual rumput laut ke penjual di Grupuk.

Harga pembelian tertinggi dari pembudidaya 4ribu/kilo. “Karena sedang banyak produksi harganya segitu, kalau agak kurang bisa sampai 5ribu/kilo, pernah juga hingga 6ribu/kilo” katanya.

20160901_111756
Mengikat bibit (foto: Kamaruddin Azis)

Sepulang dari balai pertemuan di Desa Buwun Mas, penulis ikut bergabung dengan ibu-ibu kampung kembali ke rumahnya dengan naik mobil pikap milik Joni. Saya bergabung dengan ibu-ibu pembudidaya asal Nambung.

Dari obrolan dengan mereka di atas pikap terungkap bahwa budidaya rumput laut di Nambung atau Pengantap bermula pada tahun 2000.

“Waktu itu kita hanya tahunya di Kampung Kuranji, beberapa saat kemudian dibawa ke sini, dibawa oleh Pak Suare,” kata salah seorang penumpang.

Mereka sepakat mengakui bahwa saat ini karena budidaya rumput laut itu, rumah mereka yang sebelumnya beratap alang-alang kini telah beratap seng.

Joni menambahkan bahwa perairan Buwun Mas sangat bagus untuk budidaya rumput laut, selain karena jernih juga karena arus yang sangat cocok untuk tumbuhnya bibit. Hanya saja ketika sedang ombak keras, mereka harus mulai merapikan tali-tali ris budidaya. Jika masih masih tetap menanam maka risikonya ada bibit atau tanaman yang tanggal.

Menurut Joni, budidaya rumput laut di Lombok Barat cukup prospektif karena pembeli yang beragam. Mereka bisa membeli dengan baik sesuai dengan kualitas produk. Kadang harga buruk ketika kualitas bibit jemuran penuh pasir dan sampah-sampah plastik.

“Kalau produksi, produksi dari Buwun Mas relatif bagus, apalagi ada dampingan dari Dinas,” katanya. Jika ada kesulitan, itu adalah meyakinkan para anggota untuk terus giat berbudidaya, menjaga lokasi, merawat bibit dan mengeringkan dengan baik.

“Jadi tidak bisa asal dikeringkan, ada caranya,” tambah Joni. Menurut Joni, sebagaimana diiyakan oleh ibu-ibu anggota kelompok dari Nambung, pendampingan usaha merupakan hal penting bagi mereka.

Pendampingan yang dimaksudkan adalah bagaimana memperoleh informasi harga terbaru, kepastian jumlah pasokan yang dibutuhkan pasar di Mataram atau Ampenan.

Saat disampaikan ihwal pembudidaya rumput laut dari Buwun Mas ini, Kepala Dinas Kelautan dan Perikanan Lombok Barat, H. Subandi mengatakan bahwa Pemerintah Lombok Barat telah punya skema terhubungnya hulu hilir produksi rumput laut ini.

“Kita telah punya model kerjasama antara kelompok-kelompok pembudidaya rumput di sini, pembudidaya bisa menjual produknya ke Sasak Maiq di Senteluk,” katanya saat menjamu tetamu dari KKP. IFAD, Kementerian Keuangan dan tim CCDP-PMO pada malam tanggal 1 September 2016 itu.

Sasak Maiq adalah unit usaha yang memanfaatkan rumput laut untuk diolah jadi tortilla, sate rumput laut hingga es rumput laut. Beragam produk jadian berbahan rumput laut telah dihasilkan unit usaha yang terletak di Desa Senteluk, Lombok Barat.

20160901_111458
Bersuka-cita di Buwun Mas (foto: Kamaruddin Azis)

***

Dari cerita di atas, dapat disimpulkan bahwa usaha budidaya rumput laut akan berjalan sukses, baik secara sosial dan ekonomi ketika ada kapasitas yang memadai di tingkat pelaku usaha, pembudidaya hingga pembeli.

Pembudidaya, dalam hal ini warga harus punya pengetahuan tentang teknik budidaya, penentuan lokasi, pemahaman pada jenis bibit yang unggul, durasi tanam hingga penanganan pasca panen. Mereka harus terampil dalam memantau tanamannya, melepaskan dan menangani ketika ada serang penyakit hingga penanganan saat dijemur hingga didistribusikan.

Layaknya bisnis, rumput laut harus dikelola dengan baik dengan melihat kapasitas internal pembudidaya, organisasi pengelolanya serta kapasitas mitra pembeli. Dalam tradisi bisnis yang sehat, kepastian harga sangat bergantung pada kualitas barang, pada konsistensi menjaga kualitas produk.

Situasi tersebut harusnya bisa terjaga, aman secara sosial dan ekonomis, berkelanjutan, yaitu ketika Pemerintah selalu siaga memberikan perhatian, bukan semata memberi bantuan input usaha setelah itu, sayonara! Pemerintah harus menggerakkan seluruh potensi dan kapasitasnya untuk menjadi penguat kapasitas para pembudidaya dan pelaku usaha budidaya rumput laut ini.

Pengalaman dari Lombok Barat di atas bisa jadi jawaban atas upaya Pemerintah mengurangi ekspor berlebih rumput laut dengan memperbanyak model kerjasama bisnis antara pembudidaya dengan industri pengolahan lokal.

Jika demikian adanya, tugas yang dimaksudkan Wada Nobuaki di atas adalah para pendamping desa, fasilitator, para perencana Pembangunan harus menjelaskan kapasitas tersedia di tingkat pembudidaya, di tingkat warga, dan kapasitas yang dibutuhkan jika ingin menambah volume atau jenis usaha.

Nah, semakin banyak industri rumput laut lokal semakin bagus, bukan?