Jalan Hidup dan Kesedihan Suliyanto

Handshake (dok: istimewa)

“Barang siapa beriman kepada Allah dan hari akhir, hendaklah ia bersilaturahmi,” (HR. Bukhari dari Abu Hurairah).

Islam sungguh amat memperhatikan hubungan antar sesama manusia. Ada ragam syariat tentang hubungan manusia baik dengan keluarga maupun masyarakat.

Silaturahmi memiliki kedudukan amat penting dalam hubungan bermasyarakat. Selarik hadis bahkan melukiskan orang yang senantiasa silaturahmi akan dipanjangkan umur, pun diperluas rezekinya.

Narasi berikut adalah situasi dan cara penulis membangun silaturahmi dengan seorang penumpang yang sedang menunggu penerbangan dari Cengkareng. Penumpang yang nampak letih karena berangkat sedari pukul 02.00 dinihari di Kalimantan Tengah dan harus menunggu penerbangan berikutnya ke Lampung.

***

Bandara Soeta, Selasa, 9 Februari 2016.

Saya tiba di bandara terbesar di tanah air ini sekira pukul 11 siang atau terpaut 2 jam dari jadwal keberangkatan 13.00 Wib destinasi Makassar.

Sebelumnya, saya ber-gojek ria dari mulut stasiun Tebet mengarah Gambir. Beruntung, baru tiba dan bus segera berangkat.  Setelah segala macam urusan buka dompet, jam tangan, ikat pinggang di pintu X-ray selesai saya bergegas ke ruang tunggu A2.

Karena terlalu ramai, saya bergeser ke ruang A1.

Sepasang tua sedang tidur pulas saat saya duduk di samping tangga menuju toilet. Yang perempuan tidur searah barat-timur, kepala di ke barat, yang pria mengikutinya.

Di sayap kiri A1 itu hanya ada 5 orang, dua lainnya sibuk dengan gadget. Pada kedua yang tidur itu saya menduga-duga. “Mereka baru pulang jenguk sanak famili di Tanah Betawi. Hendak pulang ke tanah Jawa,” batinku.

Saat si pria terbangun dan hendak ke toilet, saya menatapnya dengan senyum. Dia teruskan langkahnya seraya membalas senyuman. Tak lama, si pria duduk di hadapanku. Kami bersitatap.

Saya menyambung rasa ingin tahu tentangnya dengan tanya, tentang asal dan destinasi penerbangannya.  Melihatnya tidur dan membaca penampilannya yang sederhana membuat saya ingin mengetahui lebih banyak.

“Baru pulang dari pelayanan. Di Katingan, Palangkaraya, Kalimantan Tengah,” katanya.

Siang itu Dia mengenakan sweater hitam dengan garis putih tebal melintang di depan plus celana denim biru muda.

Buku “Presence, Hurman Purpose and the Field of the Future” tulisan Peter Senge, Otto Scharmer, J. Jaworski dan Betty S. Flowers yang ada di genggaman saya masukkan kembali ke tas.

Saya mulai berpraktik membangun pertemanan.

***

Suliyanto. Begitu namanya. Tubuhnya ramping. Kerutan di wajahnya menandakan usianya. Dia lahir di pengujung 40-an, tepatnya tahun 1949 saat desa-desa di Jawa sedang paceklik multidimensi, sosial, ekonomi dan budaya. Sisa perang dan intrik politik nasional telah berimbas pada desa-desa di Jawa Tengah.

Suliyanto muda merasakan kesulitan sosial ekonomi. Situasi ini menuntunnya ke Jakarta pada tahun 70an.

Menurut pengakuannya, Suliyanto gamang pada realitas budaya di lingkungannya. Dia selalu bertanya, pada dirinya, tentang jalan kemakmuran dan kedamaian.

“Saya lahir tahun 1949 di salah satu desa di Wonogiri, Jawa Tengah,” katanya.

Dia mengaku bersaudara delapan orang. Ayah Suliyanto adalah seorang warga biasa yang berprofesi sebagai tabib, bisa mengobati.

Dari keluarganya yang muslim, Suliyanto kemudian memilih berkeyakinan lain. Pilihannya itu setelah dia merenung dan mencari arah jalan pikirannya.

“Berubah setelah saya membaca salah satu majalah, namanya Sangkakala,” ungkap pria yang pernah menjadi office boy di Kedutaan Belgia ini.

Bagi Suliyanto, suasana kala itu adalah panggilan membayangkan jalan kesejahteraan, tentang kedamaian, tentang visi manusia. Dia banyak berpikir tentang kehidupan di desa-desa dan ragam aspeknya seperti tradisi, budaya.

“Saya merenung, menuju jalan keselamatan itu,” katanya, tangan kanannya memegang dadanya. Latar pengalaman hidup di desa dengan segala pernak-pernik, klenik dan tradisi membuatnya berpikir berbeda.

Begitulah cerita pria yang telah mendarmabaktikan dirinya dengan memberi pelayanan rohani di daerah transmigran Kalimantan.

“Katingan nama tempatnya,” jawabnya saat saya menanyakan domisili di Kalimantan. Pengabdiannya di Katingan adalah pengabdian terakhir setelah berpindah-pindah lokasi.

“Per 1 Januari tahun ini saya sudah pensiun, ini mau pulang ke Lampung.”

Kata pria yang mengaku akan kembali ke rumah dan tempat tinggalnya di Lampung Selatan. Usia jualah yang mengantar Suliyanto kembali ke Lampung Selatan.

***

Melihat saya yang getol bertanya, dan menyampaikan kalau saya senang menulis, dia pindah ke samping kanan saya. Saya bilang akan mengambil hal-hal baik dan akan menuliskannya. Meski beliau mengatakan tak semua yang diomongkannya harus ditulis, termasuk mengabadikan wajahnya melalui kamera.

Pria berusia 67 tahun ini mengaku sebagai pendeta, telah lama mengabdi. Dia memberikan pelayanan rohani pada peserta trasmigran dari berbagai daerah.

Selama menjalankan tugas itu dia membangun pertemanan dengan siapa saja terutama di sekitar kompleks gereja dimana dia bertugas.

“Saya kerap ke kebun, bertemu para transmigran yang datang dari banyak wilayah,” katanya.  Menurut Suliyanto di lokasi transmigran di Kalimantan Tengah itu banyak ragam orang, ada Jawa, Dayak juga dan Flores,” katanya.

Suliyanto mengakui bahwa saat ini tantangan baginya, bagi kita semua adalah masih maraknya kebiasaan buruk yang susah dihilangkan seperti minum minuman keras, mabuk-mabukan.  Tradisi lama yang susah hilang padahal agama sudah ada sejak lama pula.

“Saya biasa sedih dan hanya bisa berdoa kalau lihat orang-orang masih mabuk-mabukan,” katanya dengan mimik serius.

Saya lalu menimpali, bahwa sebagai muslim, benar bahwa saat ini meskipun telah dengan jelas dilarang dalam kitab suci praktik minum minuman keras dan mabuk-mabukan itu masih marak.

“Sudah banyak korban tapi orang-orang belum sepenuhnya sadar,” kataku. Banyak yang minum oplosan lalu sekarat, berkelahi di bar, saling tikam, saling ancam karena mabuk.

Perbincangan kami, antara seorang muslim usia 45 tahun dan seorang pendeta usia 67 tahu ini kemudian sampai bahasan perubahan-perubahan historis keagamaan pada rentang 40 tahun terakhir.

Suli mengatakan bahwa saat dulu bahkan hingga kini, tantangan dan godaan beragama sangat kuat, karenanya dibutuhkan kekuatan dan daya tahan untuk kembali ke pesan agama. Praktik-praktik tidak sehat, merusak, tidak adil harus selalu dibuang jauh.

Bagi Suli, pendidikan adalah modal penting dalam memahami agama. Logika dan keyakinan harus disucikan dari tingkah laku tak terpuji.

Di usia pensiunnya ini Suli akan menghabiskan sisa hidupnya di Lampung Selatan bersama istrinya. Seorang anaknya tinggal di Kalimantan, seorang lainnya ada di Jawa Barat. Dia menyatakan bahwa banyak hal yang telah berubah namun tetap saja ada yang kurang.

Menurutnya, kebiasaan-kebiasaan lampu, tradisi, kadangkala berpotensi menjadi  perusak rohani ketika tidak segera dibenahi dengan baik. Pendeta Suli kembali mengambil contoh mabuk-mabukan.

“Sedih saya kalau lihat ada yang masih begitu. Saya hanya bisa berdoa,” katanya.

***

Saya yang lahir di daerah pesisir Kabupaten Takalar, Sulawesi Selatan menimpali. Saya menceritakan bahwa tahun 70an, masih banyak warga utamanya nelayan yang masih minum tuak, masih banyak yang datang ke kuburan bahkan meminta doa di sana.

Meski demikian, saya menceritakan bahwa dalam praktik ber-Islam, ke kuburan tak dilarang oleh nabi kami Rasulullah Muhammad SAW sepanjang itu mengingatkan kita pada kematian dan memotivasi kita untuk menyiapkan bekal amalan. Tradisi seperti ke kuburan minta ‘didoakan’ oleh orang yang telah meninggal itu merusak hati sehingga harus ada panduan atau rujukan.

Saya bilang bahwa organisasi-organisasi kuat seperti Muhammadiyah dan NU sangat getol mendorong warga untuk secara perlahan meninggalkan hal-hal bersifat tradisi seperti minum arak, terutama di kampung nelayan. Lambat laun mereka menyadari bahwa itu dilarang, bukan hanya oleh negara tetapi oleh agama Islam. Himbauan seperti ini harus terus disuarakan. Negara memang harus mengontrol peredaran minuman haram ini.

Menyambung temali pertemanan melalui perbincangan dengan pendeta Suliyanto itu bermuara pada kegalauan bersama akan masih maraknya kebiasaan buruk sebagai pemeluk agama, mabuk-mabukan atau minum minuman keras.

Perbincangan ini kian menyadarkan kita betapa besarnya tantangan untuk menjadi pemeluk agama yang utuh, bahwa menjadi Muslim, Kristen atau agama lain sekalipun butuh kesungguhan, kesungguhan untuk kembali ke jalan sesungguhnya, salah satunya tidak mabuk-mabukan.

Saya lalu memeriksa hadis Rasulullah yang dikuitip dari Sunan Ibnu Majah-I-Volume 3, Kitab Minuman keras, Bab 30 Hadis No. 3371.

“Alkohol (minuman keras) adalah induk dari segala kejahatan dan ini adalah kejahatan yang paling memalukan.”

Sebagaimana Pendeta Suliyanto, rasanya kita bisa sepakat untuk urusan ini, agama melarang kita minum minuman keras dan mabuk-mabukan.

Saat petugas bandara memanggil para penumpang JT 0892 tujuan Makassar untuk boarding, bergeser dari ruang A2 ke A11, saya mohon pamit ke Bapak Suliyanto, saya menyalaminya dan berterima kasih atas kesediannya berbagi pengalaman dan pandangan.

Pesan perbincangan dari ruang tunggu A2 tersebut amat penting untuk diperhatikan bukan?

Jakarta-Makassar, 09/02/2016

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.