Surgaisme Hugua, Menggelitik Para Ahli

Hugua bersama para pembedah buku (Foto: Kamaruddin Azis)

Hugua, sosok yang dijuluki Bupatinya Ikan-Ikan dari Kabupaten Kepulauan Wakatobi, Sulawesi Tenggara itu terlihat santai. Sore, tanggal 26 September 2011 itu, dia diapit lima pengamat mumpuni di bidang yang digelutinya. Hugua berbaju hitam dengan garis oranye. Lengan pendek. Dia siap menunggu aksi bedah dari para ahli asal Universitas Hasanuddin.

Berlatar spanduk bedah buku: “Surgaisme, Landasan Dunia Baru” karya Hugua telah duduk, Prof dr. Irawan Yusuf, P.hD (Dekan Kedokteran), Dr. Tadjuddin Parenta, MA (pengamat ekonomi), Prof Dr.Jamaluddin Jompa, M.Sc ketua pusat kajian pesisir dan pulau-pulau. Ada pula Prof Dadang Ahmad, P.hD, Pembantu 1 Rektor, Dr. Nunding Ram, M.Ed (Kapus Kebudayaan). Ada ahli filsafat ilmu, lingkungan, kesehatan, kebudayaan dan ekonomi. Formasi yang komplit, jika melihat latar para pembedah.

***

Dengan berdiri, Hugua menjelaskan alasan lahirnya buku itu karena adanya refleksi pada kegagalan dua pendekatan, liberalisme dan sosialisme. Pada ranah ekonomi, dia menyebut telah terjadi gagal pasar, yang oleh Adam Smith, invisible hands karena melibatkan tangan Tuhan dan telah membawa ketidakberaturan di duna yang berujung pada kerusakan lingkungan. Menurutnya, ada kecenderungan bahwa kalau tidak punya uang, manusia pasti merampok. Atau kedua, pasti meminjam.

Ada dua kutub yang tarik menarik dan membuat hubungan alam dan perilaku manusia menjadi tidak koheren. Dan ini membutuhkan mediasi. Mediasi ini yang oleh Hugua dia sebut Surgaisme, kata kuncinya kebahagian dan hakikat kemanusiaan.

“Adalah sifat manusia untuk selalu punya keinginan, punya istri lebih satu, dari bupati, mau jadi pemimpin provinsi, bahkan negara” papar Hugua yang telah mendapat anugerah sebagai tokoh Inspirasi Indonesia tahun 2010 dari Majalah Bisnis & CSR dan La Tofi Enterprise.

Tapi menurut Hugua itu harus diekstrak secara benar dan diraih di jalur yang benar pula.

Di Buku itu, Hugua menceritakan eksistensi cinta, kerjasama sosial, ikatan-ikatan sosial, termasuk sifat dasar manusia kaitannya dengan eksistensi alam, ada sifat tamak, sifat cinta dan sosial. Ada dua kutub, antara liberalisme dan sosialisme, ada utara, ada selatan.

Buku Surgaisme, secara sederhananya memadukan beberapa pendekatan maupun teori yang telah pernah ada walau tidak dibahas secara detil. Hugua menawarkan satu kompromi dengan pesan kunci, sayangi diri dan sekitar. Bahagiakan diri dan bahagiakan sekitar. Dia menjelaskan kunci kesuksesan dan kebahagian yang datang dari jiwa bahagia,  senang. Kesejahteraan datang dari perasaan dan pikiran, jadi jiwa bahagia lahirkan ragawi bahagia. Intinya penting untuk menyiapkan jiwa bahagia.

Menurutnya, kebahagiaan, adalah fungsi dua variable, and how your spiritual quotions, kepada pembicaraan aspek khilafiah, tingkat tinggi, dan ketika kita bermanfaat pada sekitar.  Itulah esensi buku Surgaisme ini. Termasuk di dalamnya mengesampingkan muatan kapitalisme, dengan banyak bersyukur dan menikmati apa yang ada.

“Sesederhana itu” katanya.

“Jadi ketika anda telah membahagiakan, maka anda akan menjadi terhormat. apapun yang anda lakukan akan menjadi berbeda. Hugua tidak menciptakan Wakatobi, tetap masa depan Hugua. Leadership adalah percontohan”. Katanya.

Menurutnya, penampakan fisik, pakaian bagus adalah dimensi spiritual dan dimensi lainnya adalah thanks to people. Ketika berterima kasih ke orang maka sesungguhnya kita berterima kasih ke alam,  Thank to nature hingga thank to God.

“JIka itu diterima maka tentu kita tidak akan suka membunuh. Apapun” katanya.

Memberi buku dengan cinta (Foto: Kamaruddin Azis)

“Pelaku bom Solo itu adalah gambaran orang-orang yang tidak punya masa depan” katanya.  Padahal sejatinya manusia sebagai individu harus mencintai diri dan lingkungannya.

Buku ini sekilas terlihat rumit dan sulit dipahami bagi pemula atau yang kurang familiar dengan ideologi atau paham yang yang telah ada. Sehingga oleh Hugua disarankan untuk dibaca secara perlahan dan berulang.

Para Pembedah

Prof dr. Irawan Yusuf, P.hD menyebut paparan Hugua mengenai diri, lingkungan, kebahagian dan hakekat kehidupan ini sebagai satu inisiatif global movement. Yang menjadi pemberian alam dan sikap global manusia. Ada peluang untuk kembali ke situ. Dalam prinsip biodiversity, memang ada kecenderungan untuk merusak ekosistem keseluruhan.

Namun demikian, menurutnya sesuatu yang tidak dikonkritkan hanya akan menjadi utopis. Mengapresiasi atau tidak diapresiasi apakah itu pikiran dan berevoluasi jangka panjang namun mengubah masyarakat secara aplikatif, maka itu baru benar. Jika tidak, dia hanya akan jadi utopia.

“Kalau prinsip Surgaisme dipertahankan dengan baik dan dijabarkan atau dimanifestasikan maka itu sangat positif. Jika terperangkap dalam birokrasi saja maka itu akan utopia” tandasnya.

“Secara substantif gagasan ini merujuk pada upaya memperbaiki kondisi alam dengan bercermin pada dua kondisi dasar. Ideologi kapitalisme bisa bertahan tapi tidak pernah bertahan dan berasal dari sifat dasarnya. Prof Mubyarto menyebut ekonomi pancasila, karena tidak rakus, dia mahluk sosial. Tapi itu persepsi kita”

“Tapi bagi saya, mau kapitalis, mau sosialis, silakan pemerintah atur, sebaik mungkin. Toh, di China, pun sangat maju. Lebih bagus jelas jenis kelamin daripada hermaprodit” kata prof Irawan.

Di mata Dr. Nunding Ram, di buku ini ada beberapa “kontradiksi interminis”, ada beberapa pernyataan yang kontradiktif.  Secara spesifik dia menyebutkan bahwa seungguhnya cinta itu memberi, not to take. Kita mencintai termasuk ketika menerima ketidaksempurnaan. To give, not to take. Bukan menikmati kecantikan. Tapi mensyukurinya.

Bagi saya yang penting adalah “Moral is the key thing”. Tentang Surgaisme, kita ini sudah berpasang-pasangan. Jika ada Surgaisme maka mestinya ada Nerakaisme, Ada, hedonism, liberalism, sebagai misal, Amerika itu kaya, tapi miskin. Visi Amerika itu salah, terbaik, jangan yang selalu mengacaukan dunia. Terkaya, terbaik, tapi ambil minyaknya orang. Rakus” tandas Nunding.

“Berterima kasih ke Tuhan itu ibadah. Sehingga Tuhan tidak membutuhkan kita, tapi sebaliknya. Itulah mengapa saya mempertanyakan tulisan di halaman 112 yang menyebut kata Tuhan yang bermakna Tuhan butuh kita” katanya.

“Kita sudah melihat banyak fakta, banyak orang kaya tetapi mengalami “kemiskinan spiritual”, merasa kosong jiwanya. Steven Covey, ternyata mengalami emotional touch dengan keluarga yang semakin berkurang. Inilah nilai-nilai kemanusiaan” terang Nunding.

Sementara di mata, Dr. Tadjuddin Parenta, kegagalan ekonomi pasar yang dimaksudkan oleh Hugua melalui penjelasan The Invisible Hands itu tidak pas, karena sesungguhnya dalam ekonomi ada faktor lain yang juga tidak bisa dikesampingkan yaitu ketika ada asumsi-asumsi pada prinsip ekonomi.

Dia menyebut bahwa sejauh ini telah ada modifikasi atau penyesuaian sistem ekonomi liberal di beberapa negara sehingga dianggap tidak pernah final atau hilang.

“Kapitalisme tidak akan hilang karena akan beradaptasi” katanya. Banyak hal-hal yang berkembang bahkan dianggap paham baru semisal Ekonomi kerakyatan, ekonomi Pancasila namun ini pun tidak bisa berjalan dengan baik.

Dr. Tadjuddin Parenta, MA membedah buku Hugua (Foto: Kamaruddin Azis)

“Mengenai isi paparan di buku itu, saya sebutkan teori Mindset, apakah betul realitas itu ada? Atau jangan-jangan common perception? Atau sekadar ilusi, menceritakan, apakah itu ada? Hidup ada mainan-mainan?” tanyanya.

Menurut Tadjuddin, ketidakpuasan pada ilmu ekonomi, bahkan saat merujuk ke saintifik, yang melahirkan filsfat materialsme adalah semacam upaya untuk yang bisa dipersepsi oleh pancaindera.

“Teori Adam Smidth yang disebutkan oleh pak Hugua, menyatakan bahwa alam semesta persis arloji raksasa. Pemerintah, kau bisa atur itu, lalu di manami itu Tuhan? Tidak boleh kita memahaminya secara linier” Katanya lagi.

“Bagi saya manusia itu sudah lengkap dan dia menjadi khalifah” ujarnya.

Dia menambahkan pula bahwa banyak contoh yang mestinya menjadi pelajaran bagi kita bahwa yang berlaku di mikro belum tentu berlaku di makro. Pak Tadjuddin kemudian mengambil contoh, para perilaku menabung.

“Ajakan menabung benar pada tingkat mikro tapi tidak berlaku pada makro. Apa jadinya jika semua orang, semuanya menabung?” kuncinya.

“Namun demikian, terlepas dari beberapa hal yang masih perlu dilengkapi, buku pak Hugua ini saya sangat apresiasi karena sangat mencerahkan” paparnya.

Komentar Hugua

Komentar para penanggap yang nyaris menghabiskan waktu hingga dua jam itu diterima dengan sukacita oleh Hugua. Tidak banyak yang ditanggapinya, karena dia sadar poin-poin yang disampaikan itu sangat relevan.

Dia juga tidak menampik adanya kesalahan pengetikan dan tidak tepatnya pemilihan dan penempatan kata di buku setelah 142 halaman ini, walau dia sendiri menyebut bahwa tidak banyak teori yang dipaparnya sebab hanya ingin menggelitik pada pemikir atau ahli yang ada.

Paham Surgaisme hadir untuk melengkapi ideologi yang telah ada sebelumnya seperti kapitalisme dan sosialisme. Menurut Hugua, secara sederhana buku ini menggabungkan variabel kecerdasan material dan kecerdasan spiritual demi rangka meraih kesejahteraan dan kebahagiaan. Sebaba nilai spiritual merupakan penentu nilai material.

Secara teoritikal Hugua mengkombinasikan spritual Quotient (SQ) atas tiga indikator dasar, yakni syukur, thanks to God, terima kasih pada sesame, thanks to people, pada alam, thanks to nature.

“Itulah yang mesti kita konkritkan ke lingkungan atau sekitar” katanya.

“Saya ingin mendengar komentar para ahli mengenai letupan pemikiran melalui buku Surgaisme ini. Saya masih berharap berdiskusi dengan beberapa ahli dari Unhas tersebut. Sangat menarik” tandasnya saat meninggalkan Hotel Sahid Jaya Makassar, tempat bedah buku itu terlaksana.

 

Makassar, 29 September 2011

Advertisements

Menyimak Hugua

Hugua di samping Ilham Arif Sirajuddin

Masih tiga puluh menit sebelum acara dimulai. Hugua, Bupati Kabupaten Kepulauan Wakatobi memilih berdiri di pojok ruangan. Para tamu anggota Ikatan Sarjana Oseanologi Indonesia (ISOI) yang dijamu Walikota Makassar Ilham Arif Sirajuddin (IAS) duduk rapi. Hugua tetap berdiri, dia mengenakan baju lengan pendek hitam oranye yang juga dikenakannya sore sebelumnya.

Sebelumnya, di Hotel Sahid Jaya, antara pukul 16.00-18.00 Hugua membagikan pokok pikirannya, untuk kembali ke lingkungan dan alam semesta melalui bedah buku “Surgaisme, Landasan Tata Dunia Baru”. Itu bukunya. Lima dosen senior dari Unhas menguji buku itu. Kelimanya, Dr. Nunding Ram, Prof Dadang Ahmad, Prof Jamaluddin Jompa, Prof Irawan, Dr. Tadjuddin Parenta. Dari hotel dia langsung bergegas ke ruang jamuan milik Pemerintah Kota Makassar di sekitar pantai Losari.

“Eh kita belum ganti baju ini. Tapi tidak apa” katanya dengan senyum lebar. Di sampingnya, berdiri Ahmad Bahar, mantan wartawan Harian Republika yang kini jadi dosen di Fakultas Ilmu Kelautan dan Perikanan (FIKP) Unhas. Beberapa alumni Ilmu Kelautan Unhas juga ada di dekatnya. Mereka terlihat akrab.

Malam 26 September 2011, pengurus Komda ISOI Makassar bersama Panitia Pertemuan Ilmiah tahunan (PIT) dan Kongres VIII mengadakan “Gala Dinner dan Diskusi Panel Pemerintah Daerah di Kabupaten Wakatobi dan Kota Makassar”, (26 September 2011). Hugua didaulat sebagai pembicara bersama Ilham Arif. Mereka panelis pada diskusi pengalaman pemerintah daerah dalam pengelolaan sumberdaya Kelautan di depan puluhan tamu. Bupati Bantaeng, Prof Nurdin Abdullah, salah satu panelis berhalangan hadir.

Atraksi menyulut Hugua (Foto: Kamaruddin Azis)

Menangguk Gelak

Hugua berbagi kabar dan prestasi pembangunan Wakatobi di bawah kendali pemerintahannya. Mulai dari keadaan umum Wakatobi, potensi dan tren kunjungan wisatawan dan peneliti kelautan. Sail Wakatobi hingga cerita mati lampu di Wakatobi saat Direktur PLN Dahlan Iskan berkunjung ke sana.

“Nyatakan kemerdekaan baru kita isi” kata Hugua menyitir kalimat Soekarno. Hugua menyebut ini untuk menunjukkan semangatnya saat dia melobi Jakarta untuk ngotot memasukkan Wakatobi sebagai salah satu kabupaten peserta Sail, satu upaya promo Kelautan seperti Sail Bunaken, Morotai, Belitong.

“Saat itu kami butuh dukungan regulasi. Dengan regulasi itu Wakatobi pun masuk sebagai lokasi Sail bersama Belitong. Rumit juga prosesnya”. Pemerintah pun menyetujui untuk memasukkan Wakatobi dan Belitong sebagai peserta Sail Belitong dan Wakatobi. Sail kembar.

“Sebenarnya, kekuatan APBD kita 1,3 Trilliun. Pada pelaksanaan Sail Wakatobi kita perkirakan ada 100 kali travel turisme dan itu menangguk 15 Milyar” Katanya.

“Saat meeting malam, lampu mati” Katanya terkekeh. Tapi itu tidak disengaja. Dan, benar saja perencanaan PLN untuk Wakatobi, tahun 2011 seluruh Wakatobi harus menyala. Dahlan Iskan akhirnya merasakan sendiri mati lampu di Wakatobi.

Mengenai kerjasama regional, Hugua menceritakan keinginannya untuk bergelutnya parawisata melalui dukungan transportasi udara. “Saya membayangkan jalur wisata hebat, bayangkan jika jalur Saumlaki di Maluku, masuk Wakatobi, lalu Taka Bonerate, Bira, dan Makassar. Bagaimana pak Walikota?” katanya bersemangat.

Hugua dikenal sebagai pemimpin luar biasa dengan segudang prestasi. Sosok ini dikenal luas hingga ke luar negeri karena inovasi pembangunan daerah. Ragam terobosan program dan kemampuan networkingnya telah mengangkat kabupaten kepulauan pecahan Buton ini sukses sebagai kabupaten baru. Dia rela memanggul brosur, poster dan dokumen untuk promowisata Wakatobi ke luar negeri.

“Saat mengikuti satu pertemuan di Jepang beberapa waktu lalu, Saya dijuluki Bupatinya Ikan-ikan. Betapa tidak 97 persen Wakatobi adalah laut, dan hanya 13% daratan” Kata Bupati pertama Wakatobi hasil pemekaran kabupaten Buton. Wakatobi adalah akronim dari Pulau Wangi-wangi, Kaledupa, Tomia, Binongko. Penduduknya berjumlah 111Jiwa.

“Saya jadi Bupati, tahun 2006, Saat ditanya sebagai nakhoda, hendak ke mana perahu anda bawa? Hendak ke mana perahu Wakatobi, saat itu masih euforia demokrasi. Haluan sudah ada. Pendekatan berkaitan dengan visi, kemudian saya bilang, ke SKPD dan Badan kemudian, mari lihat biodiversity” paparnya.

“Jika Laut Merah mempunyai 300 hard and soft coral,  Wakatobi punya 750 jenis terumbu karang. 90% Biodiversity terumbu karang available in Wakatobi. Jadi wajar kita sepakat mewujudkan “Surga Wakatobi di Segitiga Karang Dunia” tandasnya mengenai visi dan arah pembangunan Wakatobi di bawah kendalinya. Dia sangat fasih berbahasa Inggris.

“Tapi saya percaya bahwa terlalu banyak aktivitas ekonomi pasti akan menguras alam semesta” papar lelaki penulis buku “Kaya Miskin adalah Pilihan”. Bukunya ini telah rilis sebanyak 100ribu di Gramedia. Buka lainnya, Lelaki itu Hugua. Semuanya telah habis.

Warga Wakatobi menggantungkan hidupnya pada perikanan dan parawisata laut, itu adalah The living room masyarakat dan ini harus dijaga keseimbangannya.

“Sejauh ini telah ada ratusan peneliti kelautan ke Wakatobi, telah ada 3-4 Doktor yang berhasil karena menjadikan Wakatobi sebagai lokasi penelitian. Kita perlu payung kerjasama mengawal Wakatobi. Itulah mengapa tadi siang kami menandatangani MoU dengan Unhas untuk mendukung Wakatobi. Bukan hanya itu, kami juga menjalin kerjasama dengan Haluuleo, beberapa universitas di Irlandia dan banyak lagi” kata aktvis LSM ini.

Di acara itu sukses menangguk pujian, gelak tawa dan tepuk tangan. Malam itu adalah malam Hugua. Betapa tidak, ada momen yang membuat peserta berdecak kagum. Kisahnya tentang pelaksanaan Belitong dan Wakatobi yang berliku, kupasan mengenai buku yang ditulisnya, hingga penolakannya pada usulan eksplorasi minyak di Wakatobi.

“Nanti, saat cadangan minyak di Indonesia habis baru bisa menambang minyak di Wakatobi” katanya dengan berapi-api. Peserta bertepuk tangan.

Paparan IAS

Kepada para tamu, Walikota Makassar yang duduk disamping Ir. Bachrianto Bachtiar, M.Si moderator diskusi yang juga dosen Fakultas Ilmu Kelautan dan Perikanan, Unhas memberikan apresiasi kepada ISOI yang menjadikan Makassar sebagai tuan rumah PIT dan Kongres VIII.

IAS dapat cinderamata dari Prof Indroyono Soesilo (Foto: Kamaruddin Azis)

“Selamat datang di Makassar. Makassar yang aman. Tidak seperti yang diberitakan media. Yang digambarkan itu hanya seukuran layar televisi” katanya. Sebagai tuan rumah, Walikota Makassar menyinggung pula SDM, semua dari Makassar atas kandidat ketua ISOI yang akan berkompetisi pada kongres keesokan harinya.

“Kepemimpinan baru dan semangat baru untuk ISOI” kata pak Walikota, hadirin bertepuk tangan. Ketua ISOI Pusat Prof Dr. Indroyono Soesilo ketua umum ISOI sebelumnya memberikan cinderamata berupa plakat dan topi kepada Walikota Makassar. Pak Ilham pun mengenakan topi putih biru yang diserahkan oleh Prof Indroyono.

Seakan tidak mau kalah dengan pemaparan Hugua, Ilham Arif juga memaparkan bahwa Makassar punya pantai sejauh 35 km, ada 11 pulau dan banyak jenis biota laut.

“Kita ingin Makassar memiliki posisi yang sama pada masa lalu sebagai kota utama. Mencoba mewujudkan menjadi kota dunia dan melihat potensi dan muatan lokal yang ada. Walau berbeda kultur namun kita mendorong Makassar sebagai ibukota Sulawesi Selatan dan mampu melayani semua pihak”.

“Baru saja kami melaksanakan Festival bahari an rata-rata pengunjung mendekati 50 ribu. Pada saat penutupan diperkirakan 150irbu pengunjung. 4 jam pantai Losari stagnan, semua ikut meramaikan” tandas IAS.

Pada gala dinner dan diskusi panel itu, Hugua memberikan kado tiga buku hasil tulisannya kepada Walikota Makassar. IAS menghibur para tamu dengan atraksi “pepe-pepeka ri Makka”, satu hiburan yang ditampilkan dengan membawa suluh api yang siap membakar.

Mendebarkan karena Prof Indroyono Soesilo, didaulat naik untuk disulut lengannya. Setelah Indroyono, kemudian disusul Hugua dan seorang tamu wanita berkulit putih. Semuanya sukses disulut api namun tidak terbakar.

Latihan Perdana di SSB Bagantara

Khalid "Donnie" Adam bersama teman latihannya

Walau telah bermunculan sekolah sepakbola di Makassar dan Sungguminasa namun Khalid Adam, anak saya yang berumur 9 tahun mesti menunggu setahun untuk mewujudkan cita-citanya. Ia ingin masuk sekolah sepakbola sejak lama. Keinginannya itu terwujud setelah saya mendaftarkannya untuk bergabung dengan “Bagantara Football Academy (BFA)” yang berbasis di Jalan Pengayoman, Makassar.

Salah satu pertimbangan ketertarikannya adalah hadirnya pelatih asal Chile yang bernama Simon Ellestche Correa. Simon, 38 tahun adalah mantan asisten pelatih di klub sepakbola Kendari Utama, Sulawesi Tenggara dan telah mengeyam pendidikan kepelatihanan bersertifikat di Argentina dan Amerika Serikat.

Saya menemuinya saat sedang memandu belasan anak muridnya di lapangan sepakbola Kompleks AURI, di Panaikang, Makassar. Salah satunya anak saya. Ini latihan pertamanya.

“Hingga kini telah terdaftar 40an murid” kata Ir. Muhammad Ikhsan Kudus, salah satu owner sekolah sepakbola ini bersama Muhajir , SE seusai mendampingi latihan anak muridnya (Jumat, 9 September 2011).

Sebelumnya, beberapa anak sedang berlatih mengumpan bola, mengontrol bola dan melaksanakan dua kali “game”. Walau terlihat kelelahan dan wajah bercucuran keringan, mereka sangat menikmati latihan sore itu.

“Anak saya sebenarnya suka main bola namun selama ini lebih banyak menghabiskan waktunya di depan komputer.  Sesekai main bola bersama teman-temannya. Lapangannya sempit. Dengan adanya SSB ini anak saya bisa lebih menikmati latihannya” Kata Surya salah seorang orang tua siswa yang tinggal di Panukakang saat mendampingi anaknya.

“Sepakbola adalah kedisiplinan dan kerjasama. Saya ingin anak-anak ini bahagia dan enjoy dengan sepakbola. Itu yang penting” tandas Simon yang sangat fasih berbahasa Indonesia ini seusai menemani beberapa murid berfoto bareng.