Assirondo-rondoang, Kebersamaan Menaklukkan Bukit Cadas

Perempuan paruh baya berkacamata tebal dan berjilbab abu abu itu melangkah begitu ringan. Sementara saya yang berjalan bersamanya, beberapa kali berhenti menyeka keringat, memandang ke puncak bukit yang kami tuju dan bertanya setengah putus asa, “Masih jauh?”. Ia terlihat perkasa dengan sepatu boot karet. Dengan gesitnya ia terus melangkah ke arah kebun di bukit Tandaera,Continue reading “Assirondo-rondoang, Kebersamaan Menaklukkan Bukit Cadas”

Safitri Yang Tak Lagi Menggendong

“Dengan menjual jamu berarti membuat keluarga saya senang, karena dapat uang,” ujar si Mba dari balik sepeda mininya yang dijejali botol-botol besar. Dia menjawab sambil terkekeh ketika saya bertanya tentang pilihannya menjual jamu. Seperti biasa pada setiap pagi, demi alasan kebugaran saya selalu memesan satu gelas kecil pada Dwi Safitri. Jamu Safitri adalah jamu pahitContinue reading “Safitri Yang Tak Lagi Menggendong”

Menengok Jejak Bugis di Tano Niha

Kekaguman dan gairah mencari informasi tentang jejak Bugis ini terjawab juga dengan banyaknya nama-nama warga Nias yang berfam Bugis. Beberapa nama seperti Amiruddin Bugis, Mirwan Bugis dan sebagainya. Mereka menggunakan fam Bugis mengikuti jejak warga lokal yang menggunakan nama Zebua, Sarumaha, Zega, Gee, Zai, dan sebagainya. Ketika saya bertanya pada beberapa warga Gunung Sitoli, desaContinue reading “Menengok Jejak Bugis di Tano Niha”

Di Simeulue, Menghayati Pantun Tsunami dan Bertemu Orang Gowa

Simeulue adalah pulau seluas 198.021 hektar yang terletak di Samudra Hindia, dengan jumlah total penduduk 78.000 jiwa. Saat gempa dan tsunami Desember 2004 terjadi, dilaporkan “hanya tujuh orang” yang meninggal dunia di pulau ini, sementara di Aceh daratan ratusan ribu orang tewas dihantam gelombang air laut. Jumlah korban yang relatif amat kecil itu disebabkan karenaContinue reading “Di Simeulue, Menghayati Pantun Tsunami dan Bertemu Orang Gowa”

Menelisik Ruang Privat Para Kawe-Kawe

Di salah satu tangga KM Kambuno, jelang Ramadan, 1998. Sirene meraung. Kapal yang saya tumpangi dari Pelabuhan Tanjung Priok, Jakarta merapat di Pelabuhan Soekarno Hatta, Makassar, pelabuhan kapal terbesar di timur Indonesia. Saat menuruni tangga kapal tua yang penuh sesak itu, saya dikejutkan oleh sapaan seorang waria (kawe-kawe, istilah lokal Makassar). Berdialek Makassar, dengan nadaContinue reading “Menelisik Ruang Privat Para Kawe-Kawe”