Pak Bi: “Mungkin CT Saja Tanpa I”

Sore, sepulang dari acara ShowCase Yayasan BaKTI di Societeiet de Harmonie (26/08), di Jalan Ribura’ne Makassar, secarik kabar masuk ke aplikasi Whatsapp saya. “Johannes Subijanto, meninggal dunia di Bangkok.”

“Oh, no!”

Kabar kepulangan yang amat mengejutkan. Pak Bi, begitu panggilannya, bagi siapapun yang dekat atau pernah bekerja dengannya pasti tak keberatan kalau saya menyebut dia sebagai ‘sosok santun, rendah hati dan pengayom’.

Untuk saya yang newbie di tema LGN, dia pantas disebut sebagai ‘ayah pengayom’. Pengalaman selama berinteraksi, bersama, berkomunikasi, bekerja dengannya sarat tuntunan. Dia telaten.

Salah satunya, bagaimana dia menuntun saya untuk berkomunikasi profesional dengan bahasa Inggris yang santun. Dia mengedit laporan saya yang dalam bahasa Inggris. Dia membetulkan dan membuahkan respek yang tinggi. No doubt!

Pak Bi adalah supervisor saya dalam mendorong menggeliatnya Local Government Network, sebuah upaya mendorong kerjasama Pemerintah Daerah untuk pengelolaan sumberdaya kelautan dan perikanan yang lebih baik pada payung proyek Sustainable Ecosystem Advance (SEA). Sebuah proyek yang didukung oleh USAid untuk WPP 715, di wilayah Maluku, Maluku Utara dan Papua Barat.

***

Pertemuan pertama dengannya berlangsung di Wakatobi, sekira di tahun 2014. Yang kedua adalah ketika berlangsung kegiatan yang difasilitasi Kemenkomar di Makassar untuk pengecekan status P3D di beberapa provinsi dan kab/kota.

Dia mengajak saya bertemu di salah satu hotel di Makassar pada acara yang dihadiri para pihak dari ketiga provinsi di atas. Semacam mediasi perkenalan saya ke mitra dimaksud. Pada hari yang sama saya juga diperkenalkan dengan dua orang dari core team SEA di Jakarta.

Berikutnya ketika saya samperin di GMB II KKP pada hari yang sama, ketika saya mengikuti acara penyerahan penghargaan Wadonna Pinunjul untuk Menteri Susi Pudjiastuti dari masyarakat adat Jawa Barat, (19/08).

Ketika tahu bahwa saya akan bertemu Ibu Menteri sore itu, dia mengatakan bahwa saat ini dia dapat info tentang banyaknya kekuatan politik dan pengusaha yang sedang menggoyang MKP, salah satunya adalah adanya demonstrasi terkait cantrang itu, demonstrasi yang menurut Pak Bi tidak sepenuhnya murni dari nelayan.

Saya membaca komitmennya di sini untuk sebuah pengelolaan perikanan yang lestari dan bertanggungjawab, pada alam, pada manusia dan masa depan bangsa. Dia ingatkan saya bahwa urusan terumbu karang sangat strategis bagi Indonesia dan Pemerintah harus diberi pemahaman secara perlahan.

Saya kira, dia sangat concern upaya mengelola program konservasi dengan pendekatan organisasi yang profesional dan transparan.

“Ingatkan Ibu saja kalau ada banyak kapal-kapal dari Jawa yang sedang berlabuh di Merauke. Kalau perlu fotonya, nanti saya kirimkan via WA,” kurang lebih begitu katanya saat kami bersua. Foto-foto yang kemudian saya tunjukkan ke Ibu MKP perihal kapal-kapal ikan dari luar Papua yang memadati pelabuhan perikanan Merauke.

Beberapa waktu lalu, dia menyapa via WA, menanyakan keberadaan saya sebab dia sedang ada di Makassar untuk acara yang dihelat BPSPL.

“Saya ada di Makassar, bapak posisi mana?” begitu pesannya.

Kemarin siang (25/08) saat saya di Gorontalo, dia mengirim pesan via WA perihal undangan rapat di Jakarta (28/08).

Dia tak lupa menuliskan, “Terima kasih banyak.”

***

IMG-20170805-WA0018
Johannes Subjianto, Hugua, Iswari, penulis (foto: istimewa)

Sore ini, kabar kepulangan pria rendah hati ini sampai. Dia pergi untuk selamanya.

Info saya dapat dari Iswari Subekti, di grup WA yang juga ada dia. Dari info tersebut sampai pula pernyataan kantor Coral Triangle Center (CTC) melalui direktur eksekutifnya, Rili Djohani yang berkabar resmi atas berpulangnya Senior Advisor CTC tersebut.

Terkabar, Pak Bi meninggal di Bangkok, Thailand, pagi ini (07.30 waktu Bangkok) setelah sempat melakukan olahraga renang di areal hotel tempatnya menginap di Hotel Miracle Vibhavadi. Olah raga yang kerap dilakukannya sebagaimana tanggapan sahabat saya salah seorang alumni Kelautan Unhas yang tinggal di Bali dan mengenal Pak Bi, sosok yang sangat dihormati di CTC dan tentu saja organisasi sekaliber TNC dan pejuang konservasi kelautan.

Tak hanya sebagai Senior Advisor CTC sejak 2016-2017, Pak Bi adalah juga Wakil Direktur CTC sejak 2010-2016. Dia adalah juga anggota Dewan Pengurus Yayasan CTC sejak berdiri di 2010.

Menurut Rili, Pak Bi bergabung CTC ketika masih menjadi bagian dari The Nature Conservancy tahun 2000 sebagai Komodo Project Leader dan Senior Policy Advisor. Per 2005, dia mengawasi portfolio situs kelautan di Taman Nasional Komodo, Wakatobi, Derawan, dan Savu, serta mengelola jejaring Kawasan Perlindungan Laut Nusa Tenggara (Sunda Kecil).

Masih menurut Rili, Pak Bi mempunyai pengalaman luar biasa dalam bidang konservasi perairan selama 25 tahun. Sebelum bekerja untuk CTC, dia adalah PNS dan pernah menjabat sebagai Kepala Sub-Direktur Taman Nasional Komodo untuk Konservasi Spesies di bawah Direktorat Jenderal Perlindungan Hutan dan Konservasi Alam di Jakarta.

***

Kesan sederhana, rendah hati dan mengayomi saya simpulkan setelah pertama kali mengenalnya pada satu momen di Wakatobi di tahun 2014 itu hingga kini.

Saya merasa bisa begitu akrab sebab dia memboyong pengalaman sebagai Pamong Konservasi Laut sementara saya datang berbekal pengalaman 20 tahun bekerja untuk pesisir dan laut di Taka Bonerate, Aceh-Nias, Selat Makassar hingga berinteraksi dengan pelaku program terkait KKP dua tahun terakhir.

Di salah satu tanggal di bulan Maret 2017, Pak Bi menelpon saya, lalu berlanjut komunikasi via Skype.

Pertemuan terakhir kami pada malam tanggal 5 Agustus 2017 di Hotel Sari Pan Pacific, Jakarta. Dia mengabarkan akan mengikuti acara yang akan digelar oleh SEAFDEC dan USAid DOI di Bangkok pada minggu ketiga Agustus 2017.

Meski belum diperoleh informasi pasti penyebab meninggalnya, pada saat kami menikmati makan malam, suami dari ibu Katarina Catri Erliana dan ayah dari Matheus Prayogo, Cecilia Wiranti, Elisabeth Astari, dan Albertus Kristanto mengakui kalau ada pengalamannya akan gangguan jantung.

Obrolan jantung ini bermula ketika kami membahas pola makan yang sehat untuk kaum yang tak lagi muda.

“Saya nggak lagi makan daging merah, kalau ikan boleh,” begitu katanya kepada saya, Ir, Hugua dan Iswari.

Malam itu, sebelum saya bertolak ke kawasan Tebet untuk persiapan perjalanan ke Natuna, kami berfoto bareng. Foto terakhir bersama Pak Bi, sosok yang sangat ingin melihat peran signifikan Indonesia dalam mendorong bergeraknya Jaringan Kerjasama Pemerintah Daerah (Local Government Network) secara fungsional di segitiga terumbu karang dunia, Coral Triangle.

Pagi ini, dia masih sempat memberi masukan opsi nama organisasi yayasan yang amat diidamkannya, yang diharapkan dapat mengoperasionalkan dan mengawal gagasannya terkait berjalannya mekanisme LGN dalam pengelolaan terumbu karang di segitiga karang dunia itu.

“Yayasan Masyarakat Maritim Segitiga Karang Dunia – Coral Triangle Maritime Community Foundation,” tulisnya.

Dia melanjutkan. “Atau Yayasan Masyarakat Maritim Segitiga Karang Dunia – Coral Triangle Maritime Society Foundation,”tambahnya.

“Mungkin CT (Coral Triangle) saja tanpa I (Initiatives) agar tidak terikat pada birokrasi CTI,” begitu harap pamungkasnya.

Dia, seperti kita, ingin posisi strategis Indonesia di Segitiga Terumbu Karang Dunia untuk terus menerus kontributif, tak terbelenggu hal bertele-tele.

Pak Bi, selamat jalan, our tears up, we love you, we proud of you

Makassar, 26/08

Advertisements

One comment

  1. Selamat jalan Pak Bi, bagi saya waktu yang amat singkat untuk bisa mengenal dan ‘berpetualang’ bersama di CTC. You’ll be missed, our legend 😢😢

    Like

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.